Anda di halaman 1dari 178

M. Nurrochmat Affandi Nadjib.

MNA 1
MATA KULIAH FARMAKOLOGI
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER AKADEMI KEPERAWATAN AL-IKHLAS, BOGOR

Mata Kuliah : Farmakologi Dosen : Nurrochmat Nadjib Affandi

Kode Mata Kuliah : IAD-4

Beban Studi : 3 SKS (2 SKS=T; 1 SKS=P)

Pertemuan Pokok Bahasan/ Metode/


No. Waktu Pengajar
Hari/Tanggal/Jam Sub Pokok Bahasan Media

01/ Kamis, 07 Februari 2019 Ceramah/


1 150' Dasar-Dasar Farmakologi NA
08.00-10.30 WIB LCD

02/ Kamis, 07 Februari 2019 Ceramah/


2 150' Farmakokinetika NA
13.00-15.30 WIB LCD

03/ Kamis, 14 Februari 2019 Ceramah/


3 150' Farmakodinamika NA
08.00-10.30 WIB LCD

04/ Kamis, 14 Februari 2019 Ceramah/


4 150' Penggolongan Obat NA
13.00-15.30 WIB LCD

05/ Kamis, 21 Februari 2019 * Cara Pemberian Obat Ceramah/


5 150' NA
08.00-10.30 WIB * Prinsip Pemberian Obat LCD

06/ Kamis, 21 Februari 2019


6 180' Cara Pemberian Obat Praktikum NA
13.00-16.00 WIB

07/ Kamis, 28 Februari 2019


7 180' Prinsip Pemberian Obat Praktikum NA
08.00-11.00 WIB
MNA 2
UTS (Dijadwalkan pada hari Kamis, 1 Maret 2018)
MATA KULIAH FARMAKOLOGI
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER AKADEMI KEPERAWATAN AL-IKHLAS, BOGOR
Mata Kuliah : Farmakologi Dosen : Nurrochmat Nadjib Affandi
Kode Mata Kuliah : IAD-4
Beban Studi : 3 SKS (2 SKS=T; 1 SKS=P)

Pertemuan Pokok Bahasan/ Metode/


No. Waktu Pengajar
Hari/Tanggal/Jam Sub Pokok Bahasan Media
08/ Kamis, 14 Maret 2019 Ceramah/
8 150' Bentuk Sediaan Obat NA
08.00-10.30 WIB LCD
09/ Kamis, 14 Maret 2019 Peran Perawat dalam Ceramah/
9 150' NA
13.00-15.30 WIB pemberian obat LCD

10/ Kamis, 21 Maret 2019 Konsep dan Prinsip Pemberian Obat Ceramah/
10 150' NA
08.00-10.30 WIB Oral, Topikal, Parentera, Rectal dan Vaginal LCD
11/ Kamis, 21 Maret 2019 Bentuk Obat Kapsul, Tablet, Pil, Larutan,
11 180' Praktikum NA
13.00-16.00 WIB Suppositoria, Inhalasi, Ekstrak, Salep
12/ Kamis, 28 Maret 2019 Bentuk Obat Serbuk, Suspensi,, Solution,
12 180' Praktikum NA
08.00-11.00 WIB Sirup, Effervescent
13/ Kamis, 28 Maret 2019 Prinsip Pemberian Obat
13 180' Praktikum NA
13.00-16.00 WIB Oral
14/ Kamis, 04 Maret 2019 Prinsip Pemberian Obat
14 180' Praktikum NA
08.00-11.00 WIB Topikal
15/ Kamis, 04 Maret 2019 Prinsip Pemberian Obat
15 180' Praktikum NA
13.00-16.00 WIB Parenteral
16/ Kamis, 11 April 2019 Prinsip Pemberian Obat
16 180' Praktikum NA
08.00-11.00 WIB Rectal, Vaginal (Suppositoria)
UAS (Dijadwalkan padaMNA
hari Kamis, 12 April 2018) 3
MATA KULIAH FARMAKOLOGI
AKADEMI KEPERAWATAN
AL – IKHLAS
SEMESTER GENAP 2019

3 SKS
TEORI : 2 SKS --> 75%
UTS 25%, UAS 35%
Kehadiran, Sikap dan Tugas 15%
PRAKTIKUM : 1 SKS --> 25%

Drs. Nurrochmat Nadjib. MM. Apt.


MNA 4
Sessi 1 : 08.00 – 10.30
Sessi 2 : 13.00 – 15.30
5
MNA
PERAWAT

MNA 6
MEMELIHARA DIRI AGAR SEHAT DAN
SEJAHTERA

dengan kembali ke alami


MNA 2
“PERJALANAN OBAT”
(Dalam tubuh)
Absorpsi Biotransformasi Distribusi

Ikatan
Protein
Mukosa Plasma Ikatan
Organ
Lemak

Limfe
Cairan
im Sirkulasi Ekstra Sel
Obat im, inj. Darah
Cairan
CCS Intra
sel
Lambung
Resorpsi
Metabolit
tubuli
Lambung
Letak Kerja
Siklus = efek
entero Hati Ginjal
hepatik
Air seni

Skema perjalanan obat dalam tubuh dengan proses-proses farmakokinetik


MNA 22
MAKANAN

PROTEIN ASAM AMINO


20% tubuh

GLISERIN
LEMAK ASAM LEMAK
Larut dalam air MELALUI DINDING
Larut dalam lemak
MONOSAKARIDA USUS HALUS,KEMUDIAN
KARBO GLUKOSA DISERAP OLEH
HIDRAT LAEVULOSA SERABUT-SERABUT
GALAKTOSA PEMBULUH KAPILER
DARAH, SELANJUTNYA
AIR 70% tubuh
DIBAWA KE HATI,
UNTUK DIPROSES
VITAMIN

MINERAL ENZIM

SUPPLEMENT
ANTI KAROTENOID
OKSIDAN
ALKALOID
HAK – HAK TUBUH
 Hak yang utama : berinteraksi kepada Allah SWT
 Hak berikutnya :
 Diberi makan/minum ketika lapar/haus
 Diistirahatkan ketika lelah
 Dibersihkan ketika kotor
 Diobati ketika sakit
 Tidak di”forceer” atau terbebani
ketika tidak mampu melakukan aktivitasnya
Jika tidak dijaga & dipelihara -----> Sakit
Sakit: merupakan salah satu bentuk cobaan dari Allah SWT
untuk manusia sebagai akibat dari perbuatan manusia itu sendiri
Setiap penyakit ada obatnya, kecuali tua dan…………maut

MNA 3
KAIDAH-KAIDAH
MENJAGA KESEHATAN TUBUH
Dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan Hadits:

a. Menjaga kesehatan dan kondisi tubuh


agar selalu optimal
b. Menjaga diri dari hal-hal yang
membahayakan tubuh
c. Membuang dan menghindari zat-zat
yang dapat merusak tubuh

MNA 4
PENYAKIT
Penyakit  Penyakit tubuh:
Suatu keadaan dimana terjadi gangguan terhadap
bentuk, susunan dan fungsi tubuh manusia,
sehingga berada dalam keadaan yang tidak semestinya
Gangguan terhadap tubuh diwujudkan oleh seperangkat gejala
atau tanda yang berupa:
- etiologi (penyebab penyakit)
- patologi (kelainan)
- prognosis (prakiraan,yang dapat diketahui
atau tidak dapat diketahui

Penyakit dipengaruhi oleh faktor-faktor:


> keturunan > pekerjaan
> mekanisme pertahanan tubuh > kebiasaan hidup
> usia > pola makan
> gender > ras
> status perkawinan > lingkungan
MNA 5
JENIS PENYAKIT
Ada 2 (dua) jenis:
(a). Penyakit hati
(b). Penyakit badan
(a). Penyakit hati:
a.1. Penyakit syubhat dan keragu-raguan
a.2. Penyakit syahwat dan kesesatan/dosa

(b). Penyakit badan:


b.1. Bersifat fitrah: lapar, haus, letih/lelah
b.2. Bersifat membutuhkan analisis & diagnosis;
yang menjadikan tubuh tidak dalam kondisi
semestinya; contohnya: demam, sesak napas,
gatal-gatal, dsb.

MNA 7
MEKANISME PERTAHANAN;
Tubuh manusia pada dasarnya dilengkapi dengan mekanisme
pertahanan yang berlapis-lapis;

Sebagai gambaran :

• Saluran Pernapasan, dilengkapi dengan bulu-bulu getar yang siap


menangkap benda asing yang masuk
• Di dalam tubuh manusia dilengkapi sistim pertahanan yaitu leukosit
(sel darah putih) yang berperanan melawan kuman atau sel-sel
makrofag yang disebut juga sel-sel pemangsa
• Sistim pertahanan “humoral”, kekebalan terhadap Hepatitis B,
Polio, Campak
• Vaksin yang disuntikkan kedalam tubuh untuk merangsang
tumbuhnya kekebalan (body immune)
• Hati sebagai organ detoksifikasi, merupakan organ yang bertugas
menetralkan racun dan zat yang dianggap racun yang masuk
kedalam tubuh dan berada dalam aliran darah.
Adalah suatu keadaan jaringan/organ tubuh yang mengalami
infeksi, sehingga sel / jaringan menjadi rusak atau organ
tidak berfungsi secara normal

PENYEBAB;

Iklim Ekosistim  Mikroba  Demam Berdarah


Fisik Radiasi, Bising, Tegangan Tinggi  SUTET
Bahan Kimia Cairan, Gas, Logam  Paru-Paru
Binatang Kera, Anjing  Rabies
Kebiasaan Makan Ikan  Ikan tercemar Hg  Minamata Disease
Hubungan Seks  PHK
Pola Hidup Penyakit Kemakmuran : Jantung & Pembuluh Darah,
Kanker, Infeksi Saluran Pernapasan

PENYAKIT DEGENERATIF ;

Seiring dengan beranjaknya seseorang menjadi tua, banyak penyakit


yang menghinggapinya,terutama Penyakit Degeneratif seperti :
- Penyakit Jantung Koroner - Diabetes
- Stroke - Hipertensi
- Kanker dan lain-lain
PENYAKIT
Infeksi (Peradangan);
yang diserang adalah Sel atau Jaringan  Ilustrasi :

Zat asing (Virus)

Membentuk
kapsul

Menempel &berusaha
Menembus dinding Sel

Melepaskan diri
dari kapsul &
menyebar
Menembus dinding Sel
Memperbanyak diri Mencari Sel lain yang akan
Merusak Inti Sel dirusak
MNA 6
KAIDAH PENGOBATAN YANG WAJIB
DIPERHATIKAN OLEH SETIAP MUSLIM
“Bahwa obat, apoteker dan dokter hanya merupakan sarana
kesembuhan terhadap suatu penyakit”
“Dalam berusaha mencari obat/pengobatan, tidak boleh dilakukan
dengan cara-cara yang syirik dan diharamkan oleh syari’at-syari’at
Islam (baik yang berhubungan dengan teknik pengobatan maupun
obat-obatannya).”
“Pengobatan yang diusahakan harus dengan teknik yang
telah ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW.”
Tazkiyatun nufus (Pensucian jiwa) adalah inti dari
pengobatan penyakit-penyakit hati pada manusia.
Tidak ada sarana-sarana khusus bagi pensucian jiwa selain syi’ar-
syi’ar Islam sendiri secara keseluruhan, yang secara umum meliputi
thoharoh (pembersihan diri),shalat, zaka,puasa dan haji.
Pengobatan penyakit-penyakit hati pada manusia dapat dilakukan
dengan beberapa cara yang telah ditentukan Al-Qur’an dan Hadits,
yaitu memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an, memperbanyak
Bertaubat (istighfar), memperbanyak berdo’a. MNA 9
KAIDAH PENGOBATAN YANG WAJIB
DIPERHATIKAN OLEH SETIAP MUSLIM
Pengobatan penyakit syahwat,
adalah meningkatkan ibadah kepada Allah SWT (terutama shalat),
segera menikah,perbanyak berpuasa, menjauhi perkara-perkara yang
menuju kepada berzina & homoseks/lesbian.

Pengobatan penyembuhan penyakit badan, menurut


syari’ah, dianjurkan dengan menggunakan obat-obatan
non-kimiawi dan non-sintetik
Beberapa contoh zat-zat obat-obatan dan cara pengobatan untuk
menyembuhkan penyakit-penyakit yang menyerang manusia,
diantaranya adalah menggunakan habbatus sauda (syuniz), madu,
cendana India/kapu akar bahari (Qusth al-Bahri), keluarga jahe-
jahean, pacar (khidhab), air zam-zam, kurma (kurma ajwah), minyak
zaitun dan lain-lain.

MNA 10
PENGOBATAN
Fenomena;
Obat, pada dewasa ini merupakan suatu kebutuhan
pokok dalam kehidupan sehari-hari.
Hampir setiap orang sudah pernah meminum obat,
ibarat prajurit di medan perang yang bersenjata
tetapi tanpa peluru.
Obat atau Pharmacon (Yunani), dalam arti luas:
adalah zat yang mempengaruhi proses hidup,

Obat merupakan semua zat, baik kimiawi, hewani, nabati;


yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan
atau mencegah penyakit berikut gejala-gejalanya.

Pengobatan sudah dikenal sejak zaman dahulu dan para nabi


pun mempunyai cara-cara tersendiri dalam hal pengobatan.
Kaidah-kaidah Thibbun Nabawiy al Wiqa’i (

Penyembuhan manusia dari suatu penyakit yang dideritanya


adalah mutlak kekuasaan Allah SWT. Manusia hanya berusaha.
MNA 11
Tanki gas ada dua…..
Tidak banyak warnanya
Biru hijau semata…..
Alternative Hanya beda harganya…..
Tabung Gas Aman Meletus tanki hijau…. Dorrrr…
CARI LAGI……
MNA
KATEGORI OBAT
Menurut SK. MenKes.RI, ada 5 kategori obat dengan definisi masing-masing:
1. Obat:
yakni suatu bahan atau panduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk
digunakan dalam menetapkan diagnosa, mencegah, mengurangkan,
menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau
kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia atau hewan, memperelok
badan atau bagian badan manusia.
2. Obat jadi:
yakni obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk serbuk, cairan,
salep, tablet, pil, suppositoria atau bentuk lain yang mempunyai nama teknis
sesuai dengan Farmakope Indonesia atau buku-buku lain yang ditetapkan oleh
Pemerintah
3. Obat patent:
yakni obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama si pembuat atau
yang dikuasakannya dan dijual dalam dalam bungkus asli dari pabrik yang
memproduksinya
4. Obat baru:
yakni obat yang terdiri atau berisi suatu zat, baik sebagai bagian yang berkhasiat
misalnya lapisan,pengisi, pelarut, bahan pembantu (vehiculum) atau komponen
lain yang belum dikenal, sehingga tidak diketahui khasiat atau kemanannya
5. Obat asli:
yakni obat yang didapat langsung dari bahan-bahan alamiah Indonesia, terolah
secara sederhana atas dasar pengalaman dan digunakan dalam pengobatan
MNA 12
tradisionil.
KATEGORI OBAT
Selanjutnya; dari Obat-obat yang beredar , ada 2 kategori:

(1). Obat Patent atau specialite;


adalah obat milik suatu perusahaan dengan nama khas yang
dilindungi hukm, yaitu merek terdaftar atau propietary name.
di Indonesia dikenal obat dengan nama dagang.
(2). Obat Generik atau obat dengan nama resmi (official) berdasarkan
daftar yang telah disusun oleh WHO, yang dapat diguakan
diseluruh dunia. Dengan kata lain berdasarkan zat berkhasiatnya.
Contoh:

Nama Kimia Nama Generik Nama Patent


Asam asetilsalisilat Asetosal Aspirin (Bayer)
Naspro (Nicholas)
Aminobenzil penisilin Ampisilin Penbritin (Beecham)
Ampifen (Organon)
MNA 13
KATEGORI OBAT
Berdasarkan terapinya (efek pengobatan):

(1). Obat farmakodinamis,


yang bekerja terhadap tubuh manusia dengan jalan
mempercepat atau memperlambat proses fisiologi atau
fungsi biokimia dalam tubuh.
Misalnya: hormon, diuretika, hipnotika dan obat otonom.
(2). Obat kemoterapeutis,
yang dapat membunuh parasit & kuman di dalam tubuh
manusia.
Misalnya: cacing, bakteri, dsb).
(3). Obat diagnostika,
merupakan obat pembantu untuk melakukan diagnosa
(pengenalan penyakit).
Misalnya: saluran lambung-usus, saluran empedu

MNA 14
KATEGORI OBAT
Berdasarkan Pasal 6, UU Farmasi:

(1). Obat berkhasiat keras;


produk obat-obatan dengan bahan-bahan yang terkandungnya
selain berkhasiat menyembuhkan, menguatkan, membunuh
kuman atau mempunyai khasiat pengobatan lainnya terhadap
tubuh manusia, juga dianggap berbahaya terhadap kesehatan
dan kehidupan manusia, serta tidak dimaksudkan untuk
keperluan teknik.
Terbagi 2 golongan, yaitu Daftar G (keras) dan Daftar W (keras
terbatas)
(2). Obat bebas;
produk obat-obatan yang dapat dibeli & digunakan tanpa R/
(3). Obat narkotika;
produk obat-obatan yang mengandung zat atau bahan yang
berasal dari tanaman atau bukan tanaman, sintetik maupun semi
-sintetik, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan
MNA 15
OBAT NABATI
Adalah obat yang berasal dari tanaman, dapat berupa daun, akar,
dsb, untuk mengobati penyakit.
Pengetahuan tentang obat yang berasal dari tanaman, secara turun
temurun disimpan, dikembangkan; seperti halnya pengobatan
tradisional jamu di Indonesia.
Tidak semua obat memulai riwayatnya sebagai obat untuk penyakit,
ada yang pada awalnya digunakan sebagai ilmu sihir, untuk
kecantikan/kosmetika atau racun untuk membunuh musuh
(curare=racun panah); obat kanker nitrogen mustard, semula
sebagai gas racun (mustard-gas)
Obat nabati digunakan sebagai rebusan atau ekstrak, dengan
aktivitas & efek yang berbeda-beda tergantung asal tanaman dan
cara pembuatannya.
Teknologi bertambah maju,memotivasi para ahli kimia untuk
mengembangkan teknik mengisolasi zat-zat aktif dari tanaman.
Misalnya: kinin dari kulit pohon kina, morfin dari candu, genistein
dari kacang kedele, dsb). Penisilin ditemukan Dr. Alexander Fleming
MNA 16
FARMASI
Farmasi,
adalah ilmu yang mempelajari tentang kefarmasian, yaitu
cara membuat, mencampur, meracik, formulasi obat, teknologi
pembuatan obat, stabilitas dan penyimpanan obat.
Farmakope.
adalah buku resmi yang ditetapkan hukum dan memuat standar-
disasi obat-obat penting serta persyaratannya akan identitas, kadar
kemurnian dan sebagainya, begitu juga metode analisa dan resep
sediaan farmasi
Farmakope Indonesia;
adalah buku resmi farmakope yang diterbitkan oleh pemerintah RI
cq Kementrian Kesehatan RI; sebagai buku standar obat. Bertujuan
untuk menjamin kemurnian dan kualitas zat-zat dan alat-alat yang
dipakai dalam pembuatan obat. Memberikan keterangan umum
mengenai bahan-bahan obat, sifat kimia, sifat fisika, dosis lazim,
dosis maksimum obat dan khasiatnya.

MNA 17
FARMAKOLOGI
Adalah ilmu khasiat obat; yang mempelajari pengetahuan obat dengan
seluruh aspeknya, baik sifat kimiawi maupun fisika, kegiatan fisiologi,
resorpsi, dan nasibnya dalam organisme hidup.
Pengetahuan & pengenalan obat
Farmakognosi yang berasal dari tanaman,
mineral & khewan

Pengaruh formulasi obat terhadap


Biofarmasi efek terapeutiknya

Perjalanan obat mulai dari saat


Farmakokinetika pemberian, absorpsi, distribusi
Biotransformasi, s/d ekskresinya
Farmakologi Kegiatan obat terhadap organis-
me hidup, cara kerja, mekanisme
Farmakodinamika kerja, reaksi fisiologis & efek tera-
peutisnya

Pengetahuan efek racun obat


Toksikologi terhadap tubuh

Penggunaan obat untuk mengobati


Farmakoterapi penyakit atau gejalanya
MNA 18
PEMBAGIAN OBAT-OBATAN

Berdasarkan Farmakoterapi

1. Antiinfektikum 9 . Psikotropikum 17. Obat Kulit

2. Antineoplastikum 10. Anti Sistim Syaraf lain 18. Obat Telinga

3. Imunologikum 11. Relaksan Otot 19. Obat Mata

4. Obat Bantuan & Penolong 12. Obat Kardiovaskulus 20. Obat Mulut & Gigi

5. Obat Metabolisme 13. Obat Darah 21. Obat Antiparasit

6. Obat Sistem Endokrin 14. Obat Saluran Napas 22. Obat Lain-lain

7. Depresan Sist.Syaraf Pst 15. Obat Saluran Cerna 23. Suplemen Gizi

8. Antiradang,Antireumatik 16. Obat Sal.Urogenital

MNA 19
MASUKNYA ZAT BERKHASIAT
KE DALAM TUBUH
Intrakutan
Subkutan
Intramuskuler
Intravena
ORAL
Intraspinal
Epidural
Intraperitonial
PARENTERAL
suntikan
Inhaler
ZAT Vaporizer
INHALASI Atomizer
BERKHASIAT Nebulizer
Aerosol
Squeeze
MEMBRAN MUKOSA
Spray
Lozenges
KULIT Oculenta
Nasal Solution
Otic Solution
Suppositoria
Bacilla
(Salep. Krim, Pasta Jelly) Ovula
Tablet Sublingual MNA 20
PROSES FARMAKOKINETIK
ABSORPSI DISTRIBUSI EKSKRESI

CARA CAIRAN CAIRAN CARA


PEMBERIAN INTRA-VASKULAR INTERSTITIAL INTRASELULER

O.Pr O.Pr O.Pr

Pr Pr Pr
+ + +
O O O O +R OR --- Efek

1. ENTERAL
1.1. Sublingual
1.2. Oral
1.3. Rektal
2. PARENTERAL O M
2.1. Subkutan
2.2. Intramuskular
2.3. Intravena EKSKRESI
2.4. Intra-arteri
3. TOPIKAL
4. INHALASI

4% 13 % 41 %

Proses Absorpsi, Distribusi, Biotransformasi dan Ekskresi Obat Dalam Tubuh MNA 21
KEMBALI KE ALAMI
(Back to Nature)
Fakta yang terjadi:
Obat tradisional di Indonesia semakin banyak diminati oleh
masyarakat. Penggunaannya tidak lagi terbatas pada lapisan
masyarakat tertentu yang kebanyakan hidup di kampung, tetapi
sudah menyebar ke hampir semua strata masyarakat.
Bahkan, mereka yang biasa menggunakan obat modern pun banyak
yang mencari jalan alternatif untuk pengobatan sendiri dengan
mencoba menggunakan obat tradisional.

Pergeseran pola penyakit yang diderita oleh masyarakat kelas


menengah ke atas, dari penyakit infeksi ke penyakit degeneratif
sebagai akibat perubahan pola konsumsi makanan, merupakan salah
satu faktor penyebab terjadinya peningkatan penggunaan obat alami
di kalangan masyarakat modern.

Fenomena ini telah menempatkan obat tradisional pada kedudukan


yang semakin penting & strategis dalam sistem penyelenggaraan
kesehatan
MNA 22
TUMBUHAN SEBAGAI SUMBER OBAT
Tumbuhan diketahui sebagai sumber penghasil senyawa organik
yang berguna bagi tumbuhan itu sendiri ataupun bagi kehidupan
mahluk lain, seperti manusia dan hewan.
Senyawa organik tersebut dapat dibagi ke dalam dua kelompok,
yaitu kelompok metabolit primer dan kelompok metabolit sekunder.

Metabolit primer, seperti karbohidrat, protein, dan lemak,


diproduksi dan digunakan untuk pertumbuhan dan kelangsungan
hidup tumbuhan itu sendiri, sedangkan

Metabolit sekunder dikenal sebagai senyawa yang berperan dalam


memberikan efek fisiologis atau farmakologis suatu tumbuhan.

Senyawa organik yang termasuk metabolit sekunder antara lain


alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, dan kuinon.

Khasiat suatu tumbuhan sangat ditentukan oleh jenis dan struktur


metabolit sekunder yang terdapat dalam tumbuhan tersebut.
MNA 22
OBAT DARI TUMBUHAN
Tumbuhan Obat/Za Khasiat Tahun ditemukan

Papaver somniferum Morfin Analgesik narkotik 1806


Noskapin Antitusif 1817
Kodein Antitusif, analgesik 1832
Papaverin Relaksan otot polos 1848
Strychnos nux-vomica Striknin Stimulan SSP 1817
Cinchona ledgeriana Kina Antimalaria 1819
Kinidin Antiaritmia 1833
Coffea arabica Kafein Stimulan SSP 1819
Colchicum autumnale Kolsicin Antiinflamasi 1820
Atropa belladona Atropin Antikolinergik, midriatik 1831
Theobroma cacao Teobromin Relaksan otot polos 1842
Erythroxylon coca Kokain Anestetik lokal 1860
Physostigma venenosum Fisostigmin Kolinergik 1864
Pilocarpus jaborandi Pilokarpin Antiglukoma, miotik 1875
Datura metel Skopolamin Antikolinergik 1881
Hyoscyamus niger Hiosiamin Antikolinergik 1881
Ephedra sinica Efedrin Simpatomimetik 1897
Digitalis purpurea Digoksin Kardiotonik 1930
Rauwolfia serpentina Reserpin Antihipertensi 1952
Catharantus roseus Vinblastin Vasodilator koroner 1952
Vinkristin Antitumor 1958
Silybum marianum Silibin Liver protector 1968:

MNA 22
PENGEMBANGAN OBAT TRADISIONAL
Kebijakan untuk meningkatkan penggunaan obat tradisional di sisi
lain akan memacu upaya peningkatan kualitas obat tradisional
Indonesia untuk mampu bersaing dengan obat tradisional asing yang
saat ini sudah mulai membanjiri pasar dalam negeri.

Selain itu, upaya pengembangan obat tradisional ke arah produk obat


alami yang lebih rasional atau dikenal dengan nama fitofarmaka akan
lebih terstimulasi, khususnya bagi mereka yang sudah lama terobsesi
untuk menjadikan obat tradisional sebagai obat pilihan yang
kedudukannya sejajar dengan obat modern.

Penggunaan obat yang berasal dari alam sampai saat ini belum dapat
diterima dalam sistem pengobatan formal.
Hal ini disebabkan oleh masih kurangnya bukti-bukti ilmiah yang
mendukung kebenaran informasi yang diperoleh dari hasil
pengalaman empiris .

MNA 22
PENGEMBANGAN OBAT TRADISIONIL
Untuk tujuan tersebut, ada dua strategis yang harus dilakukan, yaitu upaya
standardisasi dan evaluasi khasiat dan keamanan melalui kajian ilmiah.
Obat tradisional harus terstandarisasi, artinya bahwa obat tersebut harus
memenuhi persyaratan kualitas standar yang telah ditetapkan, mulai dari
kualitas bahan baku sampai produk jadi. Hal ini dapat dilakukan melalui
pengujian parameter-parameter kimia, fisik, dan mikrobiologi. Dengan
standarisasi kualitas yang menyangkut aspek-aspek tersebut, jaminan khasiat
dan keamanan obat tradisional diharapkan dapat terpenuhi.
Selain itu, proses pelaksanaan produksi juga dapat mempengaruhi kualitas
produk jadi, harus dilakukan dengan menerapkan pedoman Cara Pembuatan
Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dengan selalu memperhatikan faktor
higienis dan sanitasi.
Evaluasi khasiat dan keamanan melalui kajian ilmiah, paling tidak secara
pra-klinik terhadap hewan percobaan, mempunyai arti penting dalam
memberikan dukungan dan jaminan terhadap kebenaran khasiat dan
keamanan obat tradisional yang secara empiris sudah terbukti.
Upaya pengembangan obat tradisional menjadi bentuk sediaan baru yang
lebih rasional atau yang disebut dengan fitofarmaka diharapkan dapat
menghasilkan produk baru yang dapat dijadikan obat alternatif dalam sistem
pengobatan formal. MNA 22
HERBAL MEDICINE
SEBAGAI “ CAM “
CAM = Complimentary Alternantive Medicine; atau
pengobatan alternatif sebagai bagian dari pengobatan komplementer.

Herbal Medicine;
Pengobatan dengan menggunakan ramuan berasal dari tumbuh-
tumbuhan/tanaman obat, dapat dikatakan pengobatan tradisional.
Jika dilihat dari segi pengobatan modern atau konvensional,
merupakan bagian dari pengobatan komplementer.

Manfaat;
Sebagai upaya untuk mengembalikan dan memperkuat proses
penyembuhan secara alami dan tercapainya keadaan sehat serta
dapat memperbaiki gangguan hubungan yang terjadi antara pasen
dengan lingkungan di sekitarnya.

MNA 22
HERBAL MEDICINE
SEBAGAI “ CAM “
CAM = Complimentary Alternantive Medicine; atau
pengobatan alternatif, banyak digunakan dengan
berbagai alasan; antara lain:
- akupunktur - naturopathy
- homeopathy - chiropractic
- pijat - pengobatan tradisional lain
(chineese medicine, jamu, ayurveda, pengobatan dengan
program dsb)
Dari fakta & studi:
Khasiat pengobatan herbal, berfungsi sebagai vitamin, zat anti
oksidan, zat modulator (dapat meningkatkan sistim imun tubuh)

Namun,
Studi-studi, uji klinis mengenai efektifitas & keamanan penggunaan
CAM pada manusia masih terbatas. Perlu disusun desain penelitian
untuk herbal medicine & penerapan Cara Pembuatan Obat
Tradisional yang Baik (CPOTB) . MNA 23
KENDALA PENGGUNAAN
OBAT-OBAT HERBAL
1. Keseragaman dosis belum dapat dijamin, karena kandungan
zat berkhasiatnya dapat berbeda-beda.
2. Masa kadaluwarsa, pada umumnya 3-4 bulan, karena serbuk bahan
obat herbal bersifat higroskopis (mudah menjadi lunak dan
lengket, serta mudah ditumbuhi jamur).
3. Pencemaran bentuk obat jadi, karena proses produksi masih
dilakukan secara manual

MNA 24
SOLUSI KENDALA PENGGUNAAN
OBAT-OBAT HERBAL
1. Studi, penelitian dan uji klinis & studi untuk dapat memperoleh
keseragaman dosis sehingga dapat menjamin khasiat produk
meskipun kandungan zat berkhasiat nya berbeda-beda.
2. Penelitian dan uji klinis, serta bentuk kemasan untuk mengatasi
sifat higroskopis & mencegah tumbuhnya jamur.
3. Mengembangkan sistim produksi yang lebih baik mencegah
terjadinya pencemaran, toksisitas, dsb.
4. Mensosialisasikan obat-obat herbal tidak hanya terbatas di
kalangan menengah ke bawah

STANDARDISASI
 1. Proses dan Metodologi
 2. Produk termasuk Bahan Baku
 3. Label termasuk Klaim

MNA 25
SOLUSI
STANDARDISASI PRODUK DAN BAHAN BAKU

BAHAN BAKU EXTRACT PRODUK AKHIR

• Serbuk
• Tumbuhan • Cair/Tincture • Pil
• Simplisia • Kental • Tablet
• Powder • Kering • Kapsul
• dll

Safety, Quality dan Efficacy


CONTOH:
ASPEK EFEKTIFITAS DAN
KEAMANAN C.A.M.
Prevalence of CAM use in Cancer patiens

Sample Cancer
Study Country CAM use
size type
Werneke et al,2004 UK 318 All 52 %

Ashikaga et al,2002 USA 148 Breast 72 %

Berstein&Grasso,2002 USA 100 All 80 %

Rees,2000 UK 1.023 Breast 32 %

Richardson et al,2000 USA 453 All 63 %

Sparber et al, 2000 USA 100 All 75 %

Ernst&Cassileth,1998 13 Countries All 7 % to 64 %

Risberg et al,1998 Norway 252 All 45 %

MNA 26
UNTUK DIKETAHUI :

1.AIR SENI
Warna air seni sangat dipengaruhi oleh
makanan & minuman
Warna air seni dipengaruhi karena adanya
gangguan pada saluran air kencing (infeksi,
tumor,batu,dsb) atau gangguan sistemik
(hepatitis,gangguan empedu,dsb)

Solusi :
Minum air bening banyak-banyak,
jika air seni masih berwarna segera
lakukan test air seni ke laboratorium
UNTUK DIKETAHUI :

2.BERAT BADAN
Wanita yg berat badannya bertambah 10 Kg
setelah usia 18 thn memiliki resiko mengidap
kanker payudara 40% dibandingkan
wanita yang bertambahnya 3 Kg

Solusi :
Batasi konsumsi karbohidrat
olahraga yang teratur
UNTUK DIKETAHUI :

3.BENJOLAN DI TANGAN
Jika ada benjolan pada telapak tangan
tanda2 kekurangan Omega-3, yaitu zat yang
bermanfaat mengurangi resiko sakit jantung
dengan melindungi pembuluh darah dari
pengerasan

Solusi :
Untuk meningkatkan Omega-3, dianjurkan
mengkonsumsi minyak ikan 1g/hari dan
makan ikan salmon 1-2 x/minggu
YANG ANDA HARUS KETAHUI :
RADIKAL BEBAS
Dr. Denham Harman (1954);

Radikal Bebas adalah suatu elektron dalam


tubuh yang tidak memiliki pasangan,sehingga
akan berusaha mencari elektron pasangannya agar
stabil.
Sebelum mempunyai pasangan, radikal bebas akan
terus menghantam sel-sel tubuh, guna memperoleh
pasangannya,menyerang sel-sel tubuh yang normal
Akibatnya, sel-sel menjadi rusak, bahkan
mempercepat timbulnya kanker.
Diakui atau tidak,Oksigen sendiri merupakan salah-
satu sumber radikal bebas
PENUTUP
Pada akhirnya beberapa ilmu yang terkandung dalam ayat-ayat
Al-Qur’an telah membimbing dan menunjukkan semua hal
mengenai penyakit yang diciptakan Allah SWT (beserta kaidah-
kaidah pengobatannya), yang dapat terjadi pada manusia.

Jika seorang muslim/mukmin melakukan penyembuhan dengan


kaidah-kaidah pengobatan yang telah ditunjukkan dalam Al-
Qur’an secara baik dan benar (menurut ketentuan syari’at Islam);
insya Allah, yang bersangkutan akan melihat pengaruh yang
menakjubkan dan penyembuhan yang cepat terhadap penyakit
tubuhnya.

MNA 27
MNA 57
PERAN DAN FUNGSI PERAWAT F
 Pemberi Perawatan
 Pembuat Keputusan Klinis
 Pelindung Dan Advokat Klien
 Manajer Kasus
 Rehabilitator
 Pemberi Kenyamanan
 Komunikator
 Penyuluh
 Peran Karier
MNA 58
PEMBERI PERAWATAN
 Memberikan asuhan keperawatan
secara langsung dengan menggunakan
pendekatan proses keperawatan

 Memfokuskan asuhan pada kebutuhan


kesehatan klien secara holistik, meliputi
upaya mengembalikan kesehatan emosi,
spiritual dan sosial.
MNA 59
PEMBERI PERAWATAN

 Memberikan bantuan kepada klien dan


keluarganya dalam menetapkan tujuan
dan mencapai tujuan tersebut dengan
menggunakan energi dan waktu yang
minimal

MNA 60
PEMBUAT KEPUTUSAN KLINIK

 Menggunakan keahlian berfikir klitis


melalui proses keperawatan untuk
memberikan perawatan yang efektif

 Rencana tindakan disusun dengan


menetapkan pendekatan terbaik bagi
setiap klien

MNA 61
PEMBUAT KEPUTUSAN KLINIK
 Perawat membuat keputusan untuk
melakukan tindakan keperawatan tersebut
sendiri atau berkolaborasi dengan klien
dan keluarga

 Perawat bekerjasama dan berkonsultasi


dengan tim kesehatan profesional yang
lain

MNA 62
PELINDUNG DAN
ADVOKAT KLIENK
 Membantu mempertahankan lingkungan
yang aman bagi klien dan mengambil
tindakan untuk mencegah terjadinya
kecelakaan

 Melindungi klien dari kemungkinan efek


yang tidak diinginkan dari suatu tindakan
diagnosa atau pengobatan
MNA 63
PELINDUNG DAN
ADVOKAT KLIENK
 Melindungi hak klien sebagai manusia
dan secara hukum serta membantu klien
dalam menyatakan hak-haknya bila
dibutuhkan

 Melindungi hak klien dengan menolak


aturan atau tindakan yang mungkin
membahayakan kesehatan klien atau
menentang hak-hak klien
MNA 64
MANAGER KASUS
 Mengkoordinasi aktivitas anggota tim
kesehatan lain, misalkan ahli gizi dan ahli
terapi fisik.

 Mengatur waktu kerja dan sumber yang


tersedia di tempat kerja

MNA 65
MANAGER KASUS
 Menentukan peran perawat sebagai
manager asuhan keperawatan atau
sebagai manager,perawat mengkoordinasi
dan mendelegasikan tanggung jawab
serta mengawasi tenaga kesehatan yang
lainnya

MNA 66
SEBAGAI REHABILITATOR
 Rehabilitator

MNA 67
PEMBERI KENYAMANAN
 Pemberi Kenyamanan

MNA 68
SEBAGAI KOMUNIKATOR
 Komunikator

MNA 69
SEBAGAI PENYULUH
 Penyuluh

MNA 70
PERAN KARIER
 Peran Karier

MNA 71
MNA 72
MNA 117
BAGAIMANA JIKA PERAWAT
SALAH MEMBERIKAN OBAT?
 Segera mengakui kesalahan
 Hubungi Dokter dan laporkan kepada
institusi terkait
 Evaluasi (pribadi maupun institusi) untuk
mencari kesalahan atau tindakan
pencegahan agar tidak terjadi kesalahan
yang sama, atau kesalahan lainnya
MNA 118
BAGAIMANA JIKA PERAWAT
SALAH MEMBERIKAN OBAT?
 Dokumentasikan dengan benar pada MR
atau form khusus kekeliruan :
penjelasan atau khronologis terjadinya
kesalahan dan langkah-langkah yang
sudah diambil untuk mengatasinya

MNA 119
MNA 120
PCC
(Paracetamol, Caffeine, Carisoprodol)
Di Indonesia beredar dengan merk dagang
Somadril, yang berkhasiat sebagai penghilang
rasa sakit, obat ini termasuk Golongan Obat Keras
(OK) yang hanya dapat diperoleh dengan resep
dari dokter.
Penyalahgunaannya dilakukan oleh oknum untuk
menghilangkan kesadaran korban.
UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan pasal
197 ancaman pidana hingga 15 tahun penjara
bagi yang menjual PCC secara ilegal
MNA 121
VITAMIN F
Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal Vitamin-
vitamin A, B (1,3,6,12), C, D, E dan K. baik dalam
kemasan makanan maupun minuman, juga dijumpai
dalam daftar nilai gizi.
Namun pernahkan Anda menjumpai label vit. F dalam
kemasan makanan atau minuman ?
Vit. F sering disebut dalam namanya yang lain,
meskipun tidak sepopuler vitamin lain vit. F memiliki
manfaat yang tidak kalah besar.
Apa itu vitamin F ? Terdiri dari 2 jenis , yaitu:
-- Asam Linoleat (Linoleic acid /LA)
-- Asam Alfa-linoleat (Alpha-linoleic acid /LNA)
MNA 122
VITAMIN F
Apa yang terjadi jika kekurangan vitamin F ?
1. Gangguan kerusakan jantung
2. Ginjal
3. Hati
4. Kerontokan rambut
5. Penyakit kulit
6. Gangguan penglihatan
7. Produksi keringat berlebihan

MNA 123
VITAMIN F
Dimana mendapatkan vit, F ?
Vit. F banyak terkandung dalam biji-bijian (bunga
matahari, wijen, kacang-kacangan (walnut, almon),
padi-padian (havermut, beras merah, sereal).
Terutama yang tidak terlalu banyak mengalami proses
secara kimia.
-Para ahli gizi berpendapat bahwa kemajuan industri
pengolahan pangan adalah penyebab menurunnya
kandungan vit. F pada beberapa bahan pangan.

MNA 124
MNA 125
MNA 126
CARA PEMBERIAN OBAT

(PRAKTIKUM)

MNA 127
PRINSIP PEMBERIAN OBAT
(PRAKTIKUM)

MNA 128
BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO)
Faktor yg mempengaruhi pemilihan BSO
1. Faktor obat
- rasa obat pahit, amis, tidak enak → kapsul, emulsi,
dragee.
- obat dirusak asam lambung (terutama jika diberikan
per oral) → tablet salut enterik, parenteral,
suppositoria, tablet sublingual, tablet buccal.

2. Faktor penderita
- bayi & anak → sirup, pulveres (p.o)
- tidak sadar/pingsan, tidak kooperatif/gila →parenteral,
rektal (suppositoria, enema).
- tingkat ekonomi →harga tablet/kapsul berbeda dgn
sirup. Contoh: Peny. Jantung (SR, oros, CR).
MNA 129
BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO)
Faktor yg mempengaruhi pemilihan BSO

3. Faktor obat
- rasa

4. Faktor penyakit
- gawat/emergency →parenteral, aerosol, nebulizer.
- letak penyakit → mis: mata (TT, ZM), telinga (TT).
- penyakit kronis & frekuensi pemakaian yg sering
→ misal: peny. Jantung (SR, oros, CR).

MNA 130
Fungsi BSO dari sisi Biofarmasetika
1. Melindungi agar zat aktif tidak rusak oleh udara,
kelembaban/cahaya → tablet salut.
2. Melindungi zat aktif tidak dirusak asam lambung jk
digunakan per oral → tablet salut enterik, tablet sub
lingual, tablet buccal.
3. Menutupi / menghilangkan rasa pahit, rasa & bau yang
tidak enak dari obat → kapsul, tablet salut, sirup.
4. Membuat serbuk yang tidak larut / tidak stabil dalam
larutan dibuat serbuk yang tidak larut & terdispersi dalam
air (suspensi).
5. Mencampur cairan seperti minyak agar terdispersi dalam
larutan air menjadi emulsi, melindungi rasa & bau tak enak
dari minyak (emulsi minyak ikan).
6. Memudahkan penggunaan obat untuk pengobatan
setempat shg diperoleh efek maksimal di tempat yg diobati
→ TM/ZM, TT, tetes hidung, salep/cream untuk kulit.
MNA 131
Fungsi BSO dari sisi Biofarmasetika

7. Agar obat mudah masuk dalam lubang badan, yaitu :


- rektum → suppositoria, enema.
- vaginal →cinsert/suppositoria vaginal, douche
- mata →cTM,ZM, dll.
8. Mengatur pelepasan obat yang teliti, tepat, aman shg
diperoleh efek yg lama & teratur (tab/kaps SR,CR,Oros).
9. Agar obat dapat segera masuk dalam peredaran darah /
jaringan badan (injeksi i.v. ; i.m.)
10. Memperoleh aksi obat yang optimal dalam saluran
pernapasan (inhalasi / aerosol)
11. membuat sediaan obat yg berupa larutan, dimana
obatnya larut dalam zat pembawa yg dinginkan.
MNA 132
Klasifikasi BSO berdasarkan konsistensinya
1. BSO Padat
pulvis, pulveres, tablet, tablet salut (gula, film, enteric),
tablet lepas lambat, tablet effervescent, tablet sublingual.
tablet buccal, tablet kunyah, tablet hisap, kapsul, tablet
vaginal, suppositoria, ovula, pil, implan.
2. BSO Semi Padat
salep, cream, jel, pasta, oculenta, linimenta, sabun.
3. BSO Cair
larutan, eliksir, sirup, suspensi, emulsi, obat tetes, infusa,
kolutorium, gargarisma, lotio, enema, vaginal douche,
vaksin, imunoserum, infus i.v., injeksi, inhalasi, aerosol.

MNA 133
Bentuk Sediaan Obat Padat (BSO Padat)
1. Pulvis (serbuk tidak terbagi)
Campuran homogen & kering bahan obat yang
dihaluskan, untuk pemakaian dalam/p.o.
Contoh: lacto-b, smecta.

2. Pulveres (puyer, serbuk yang terbagi)


Serbuk yang dibagi dalam bobot sama (300-500 mg),
dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok
untuk sekali minum, digunakan untuk obat dalam / p.o.
Kelebihan: berupa unit dose (sekali minum), dosis untuk
bayi/anak > tepat, disolusi > cepat dibanding tab./kaps.,
mudah diberikan untuk bayi/anak.
Kekurangan: rasa obat tidak enak/pahit, dapat
merangsang mukosa mulut/saluran Gastro Intestinal.
MNA 134
Hal-hal yang diperhatikan pada pembuatan pulveres :
(1). Assesment resep , tepat pasien, diagnosa, obat,
indikasi,
dosis & waspada Efek Samping.
(2). Hitung kembali dosis obat
(3). Jika ada interaksi obat, hubungi prescriber (dokter).
(4). Obat yg seharusnya tidak boleh digerus :
- sediaan lepas lambat (SR, CR, Oros).
- tablet salut, terutama salut enterik.
- obat dengan IT sempit.
5. Mortir & stamfer untuk menggerus obat dalam (p.o)
tidak boleh untuk meracik obat luar.
6. Jika obat yg dicampur lebih dari 2, gerus satu-persatu,
obat yg jumlahnya lebih sedikit gerus dulu.
7. Selalu menjaga kebersihan.
MNA 135
3. Pulvis adspersorius (serbuk tabur):
serbuk bebas dari butiran kasar , untuk penggunaan luar
(diracik = pulvis).
contoh: serbuk luka (nebacetin powder, enbatic), deodorant
tabur (MBK, harum sari), anti gatal (herocyn, purol,
caladin powder), douche powder, insufflation.
4. TABLET (compressi)
sediaan padat, mengandung 1 jenis obat/>, dengan tanpa
zat tambahan.
5. Tablet Salut Gula (sugar coated tablet) = “dragee”
tablet yang disalut dg larutan gula, untuk estetika &
identifikasi zat penyalut bagian luar diberi warna.
tujuan: - menutupi rasa & bau yg tidak enak
- melindungi zat aktif yang mudah rusak oleh udara
MNAan 136
lembab, cahaya.
6. Tablet salut selaput (film coated tablet)
tablet disalut dg lapisan yg dibuat dg cara pengendapan zat
penyalut dari pelarut yg cocok. lapisan selaput umumnya
tidak lebih dari 10% berat tablet.
tujuan: - menutupi rasa & bau yg tidak enak.
- melindungi zat aktif yg mudah rusak oleh
udara, lembab, cahaya.

7. Tablet salut enteric (enteric coated tablet) = lepas tunda


Tablet disalut dg zat penyalut yg relatif tidak larut dalam
asam lambung, tapi larut & hancur dalam lingkungan basa
(usus halus).
alasan tablet dibuat salut enteric:
> obat rusak / inaktif oleh asam lambung
> obat mengiritasi mukosa lambung
> obat dikehendaki berefek di usus
 Tujuan: menunda pelepasan obat sampai tablet melewati
MNA 137
 lambung.
8. Tablet lepas lambat
Tujuan: tablet dibuat sedemikian untuk melepaskan obatnya
secara perlahan-lahan sehingga zat aktif akan tersedia
selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan.
Tipe kerja: controlled-release, delayed-release, sustained-
release, sustained-action, prolonged-release, prolonged-
action, timed-release, slow-release, extended-release,
extended-action.
Contoh: Isoptin SR. (Isoptin Sustained Release)

9. Tablet effervescent
Tablet berbuih yang dibuat dg cara kompresi granul yg
mengandung garam effervescent (Na-bikarbonat & asam
organik: sitrat, tartrat) atau bahan lain yg mampu melepaskan
gas CO2 ketika bercampur MNA dg air. 138
10. Tablet vaginal vaginal insert/suppositoria vaginal
Tablet yang dimasukkan dalam vagina dg alat penyisip
khusus, di dalam vagina obat dilepaskan & berefek lokal.
Contoh: flagystatin tablet vaginal.

11. Tablet sublingual & tablet buccal


Tablet sublingual: tablet yg disisipkan di bawah lidah.
Tablet bukal: tablet yg disisipkan diantara gusi & pipi.
Keduanya tablet oral yg larut dalam kantung pipi/bawah
lidah untuk diabsorpsi melalui mukosa oral.
Tujuan: - menghindari absorpsi obat dirusak oleh cairan
lambung
- memperbesar absorpsi obat (absorpsi mukosa
oral >>> saluran MNA
pencernaan). 139
12. Tablet hisap/Lozenges
Adalah tablet yg dapat melarut/hancur perlahan dalam
mulut. Dibuat dengan bahan dasar beraroma dan manis.
Tujuan: untuk pengobatan iritasi lokal / infeksi mulut /
tenggorokan, dapat juga mengandung bahan aktif untuk
absorpsi sistemik setelah ditelan.
Sinonim: - pastiles (lozenges dg zat tambahan gelatin &
gliserin / tablet hisap tuang)
- Troches (tablet hisap kempa).
13. Tablet Kunyah
Penggunaannya harus dikunyah, memberikan residu dgn
rasa enak dalam rongga mulut, mudah ditelan, tidak
meninggalkan rasa pahit/tidak enak. Biasanya digunakan
dalam formulasi tablet untuk anak, multivitamin, antasida,
MNA 140
antibiotika tertentu.
14. Kapsul
Adalah sediaan padat yg terdiri dari obat dalam cangkang
keras/lunak yg dapat melarut.
Cangkang kapsul dibuat dr gelatin dg/tanpa zat tambahan lain.
Kapsul cangkang keras diisi : serbuk, butiran/granul, bahan
semi padat/cairan, kapsul, tablet kecil.
Kapsul cangkang lunak diisi : cairan, suspensi, pasta.
15. Pil / Pillulae
Sediaan padat berupa massa bulat, mengandung satu /lbh
bahan obat, untuk pemakaian oral, berat ≤ 60 mg (granul),
≥ 300 mg (boli).
16. Ovula
Sediaan padat yg digunakan melalui vagina , umumnya
berbentuk telur , dapat melarut, melunak / meleleh pada suhu
tubuh.
Contoh: Vagistin ovula. MNA 141
17. Suppositoria
Bentuk sediaan padat yg digunakan dg cara dimasukkan
melalui lubang / celah pd tubuh (rektum, vagina, saluran
urin), umumnya berbentuk terpedo, dpt melarut, melunak/
meleleh pd suhu tubuh, memberikan efek lokal / sistemik.

16. Implan/Pellet
tablet dengan diameter= 2-3 mm, bentuk kecil, silindris,
steril, panjang 8 mm, berisi obat dg kemurnian tinggi (dgn
atau tanpa bahan eksipien), dibuat secara pengempaan
atau pencetakan, pemakaian secara implantasi dalam
jaringan tubuh (s.c / dg bantuan injektor khusus / sayatan
bedah), untuk memperoleh pelepasan obat secara
berkesinambungan dalam jangka waktu lama, digunakan
untuk pemberian hormon (testosteron / estradiol).
Contoh: Implanon
MNA 142
Bentuk Sediaan Obat Semi Padat
1. Salep/Unguenta
Sediaan setengah padat yg mudah dioleskan & digunakan
sbg obat luar, utk pemakain topikal pd kulit selaput lendir).

2. Krim/Cremores
Sediaan setengah padat, berupa emulsi, mengandung 1 / >
bahan obat terlarut/terdispersi dalam bahan dasar yang
sesuai , digunakan sebagai emolien / untuk pemakain luar
pada kulit.

3. Jelly/Gel
Salep yg lebih halus, umumnya cair, mengandung sedikit
lilin / tanpa lilin, digunakan pada membran mukosa,
sebagai pelicin / dasar salep campuran sederhana minyak
& lemak dg titik lebur rendah. MNA 143
4. Pasta
(1). Sediaan berupa massa lembek, untuk pemakaian luar,
digunakan sebagai antiseptic / pelindung kulit, cara pakai:
dioleskan lebih dulu pada kain kasa.
(2). Sediaan semi padat yg mengandung 1 / > bahan obat,
untuk pemakaian topikal (kulit luar). Perbedaan dg salep:
persentase bahan padat pada pasta > besar shg pasta >
kaku daripada salep. Contoh: pasta Zink oksida.
5. Oculenta = Salep Mata
Salep steril untuk pengobatan mata , menggunakan dasar
salep yg cocok.
6. Linimenta
 Sediaan yang dipakai dg dioles & digosok dgn penekanan
agar bahan obat menembus kulit.
MNA 144
7. Sabun
Sediaan setengah padat yang diperoleh melalui reaksi
saponifikasi (reaksi penyabunan alkali dengan asam lemak
rantai panjang).
Konsistensi sabun tergantung dari alkali yang digunakan :
KOH (lunak), NaOH (keras).

MNA 145
Bentuk Sediaan Obat Cair
(1). Potio: bentuk sediaan cair yang diminum.
(2). Lotio: bentuk sediaan cair untuk pemakaian luar.

1. Larutan/Solutions
> Sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut.
> Zat padat + cairan, dipanaskan 37°C menjadi larutan.
> Pelarut: air suling, kecuali disebutkan lain.
> Zat pelarut larutan:
- air suling
- spiritus, untuk melarutkan : champora, iodium, mentholum.
- aether: champhora
- minyak lemak : champora, mentholum, bromoform.
- parafin liquidum : champhora, mentholum, ephedrin.
MNA 146
- glycerium : phenolum, borax.
Penyimpanan larutan:
- Untuk larutan yg mudah terurai/bereaksi karena
cahaya, harus disimpan dalam botol gelap/coklat.
- Wadah/kemasan: harus mudah dikosongkan,
volume boleh lebih dari 1 liter.
- Larutan dapat digunakan sbb:
-- Obat dalam (larutan oral): eliksir, sirup.
-- Obat luar: larutan topikal, larutan irigasi.

Dimasukkan dalam rongga tubuh: larutan otik, larutan


nasal, larutan inhalasi, larutan ophtalmik, larutan
parenteral, larutan dialisis peritonial.
MNA 147
2. Eliksir
Larutan yang mempunyai rasa & bau sedap, selain
mengandung obat juga zat tambahan seperti: gula
(sirup gula, sorbitol, gliserin, sakarin), zat warna, zat
pewangi, zat pengawet; untuk obat dalam; pelarut
utama: etanol (5 - 10%) untuk mempertinggi
kelarutan obat.

3. Sirup
Sediaan cair berupa larutan, mengandung sakarosa
dengan kadar tidak kurang dari 64% dan tidak lebih
dari 66,0%.
contoh: sirup simpleks (sirup bukan obat)

MNA 148
4. Suspensi
Sediaan yang mengandung bahan obat padat dlm bentuk
halus & tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa.
Syarat suspensi:
- zat yg terdispersi halus tdk boleh cepat mengendap.
- suspensi tdk boleh terlalu kental,shg mudah dikocok,
endapan cepat terdispersi kembali & mudah dituang.
- mengandung suspending agent sbg stabilisator.
Suspensi digunakan sebagai:
- suspensi oral, contoh: amoxicilin dry sirup.
- suspensi tetes telinga (bagian luar).
- suspensi steril untuk injeksi, contoh: suspensi
kortison asetat steril, ampisilin steril untuk suspensi.
MNA 149
5. Emulsi
Sediaan yang mengandung bahan obat cair/larutan obat,
terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat
pengemulsi/surfaktan yang cocok.
6. Obat Tetes/Guttae
Sediaan cair berupa larutan suspensi/emulsi, untuk obat
dalam/luar, digunakan dgn cara meneteskan menggunakan
penetes yang menghasilkan tetesan setara dgn tetesan
yang dihasilkan penetes baku Farmakope Indonesia (FI).
7. Guttae (tanpa penjelasan lanjut),
untuk obat dalam, digunakan dgn cara meneteskan obat
ke dalam makanan/ minuman.
8. Guttae oris/Tetes mulut
 obat tetes untuk mulut dgn cara mengencerkan lebih dulu
dgn air, untuk dikumur-kumur, bukan untuk ditelan.
MNA 150
9. Guttae auriculars/Tetes telinga
Obat tetes untuk telinga dipakai dgn meneteskan obat ke
dalam telinga
10. Guttae nasals/Tetes hidung
Dipakai dg cara meneteskan obat ke dalam rongga
hidung
11. Guttae opthalmicae/Tetes mata
Sediaan steril berupa larutan/suspensi, digunakan untuk
mata dgn cara meneteskan obat pada selaput lendir mata
disekitar bola mata & kelopak mata.
12. Infusa
Sediaan cair yg dibuat dgn cara menyari/mengekstraksi
simplisia nabati dgn air pada T=90°C selama 15 menit.
13. Kolutorium/Obat cuci mukut
Larutan pekat dalam air yang mengandung bahan
deodorant, antiseptik, analgetik
MNA
lokal/adstringen. 151
14. Gargarisma = Gargle = Obat kumur
Sediaan berupa larutan, dalam pekat yg harus diencerkan
sebelum digunakan,sebagai pengobatan /pencegahan
infeksi tenggorokan,
ujuan: obat yang terkandung di dalamnya dapat langsung
terkena selaput lendir sepanjang tenggorokan dan tidak
dimaksudkan agar obat tersebut menjadi pelindung
selaput tenggorokan.
15. Lotio / Losio
Preparat cair untuk penggunaan luar pada kulit, sebagai
pelindung /obat, dapat digunakan secara merata dan
cepat pada permukaan kulit yang luas, setelah dipakai di
kulit cepat kering & meninggalkan lapisan tipis dari
komponen obatnya pd permukaan
MNA
kulit. 152
16. Enema
Sediaan larutan yg dimasukkan dalam rectum dan usus
besar dan akan merangsang pengeluaran feses, volume
enema 500 ml-1.500 ml.
Sediaan larutan yang dimasukkan ke dalam rektum untuk
memperoleh efek lokal /absorpsi sistemik dari obatnya.
17. Vaginal Douche
Larutan dalam air yang disemprotkan ke dalam vagina
(dgn alat khusus), sebagai antiseptic / pembersih.
18. Infus Intravena/Infundibilia
Sediaan steril berupa larutan / emulsi, bebas pirogen,
isotonis terhadap darah, disuntikkan langsung ke dalam
vena dalam larutan / volume relatif banyak.
MNA 153
19. VAKSIN
Sediaan mengandung antigen dapat berupa kuman mati,
kuman inaktif / kuman hidup yg dilumpuhkan virulensinya
tanpa merusak potensi antigennya, untuk kekebalan aktif &
khas terhadap infeksi kuman / toksinnya.
20. IMUNOSERUM
Sediaan cair / kering beku,mengandung immunoglobulin khas
dari pemurnian serum hewan yg telah dikebalkan, khasiat :
menetralkan toksin kuman / bisa ular / mengikat kuman / virus
/ antigen lain yg sama dg yg digunakan pada pembuatannya.
21. WATER FOR INJECTION
Air yang disuling 2x, untuk melarutkan sediaan injeksi yang
berupa serbuk.
22. INJEKSI
Sediaan steril yg disuntikkan dgn cara merobek jaringan ke
dalam kulit / melalui selaput lendir.
MNA 154
Sediaan steril (mnrt F.I.), untuk parenteral dapat berupa :
1. Larutan / emulsi yang dapat langsung diinjeksikan.
contoh: injeksi aminofilin.
2. Serbuk steril / cairan pekat yg tidak mengandung dapar,
pengencer / bahan tambahan lain shg harus diencerkan
dulu dg pelarut yg sesuai persyaratan injeksi.
contoh: ampicillin Na-steril.
3. Sediaan sepertino.2. mengandung 1 / > dapar, pengencer
& bahan tambahan lain shg dapat langsung digunakan.
con toh: siklofosfamid untuk injeksi.
4. Sediaan berupa suspensi serbuk dlm medium cair yang
sesuai, tidak disuntikkan i.v. atau ke dalam saluran spinal.
contoh: suspensi kortison asetat steril.
5. Sediaan serbuk steril yg harus disuspensikan lebih dulu
dgn bahan pembawa yg sesuai MNA
untuk injeksi. 155

contoh: ampicillin steril untuk suspensi.


23. Inhalasi
Sediaan obat / larutan / suspensi terdiri dari 1 / > bahan obat
yg diberikan melalui saluran nafas hidung (mulut), disedot dg
memakai alat semprot mekanik, untuk memperoleh efek lokal
/ sistemik. Sediaan obat biasanya dalam bentuk butiran kabut
yg sangat halus & seragam shg dapat mencapai bronkioli.
Contoh: ventolin nebules
24. Aerosol
Sediaan yg mengandung 1 / > zat berkhasiat dalam wadah
bertekanan, berisi propelan / campuran yg cukup untuk
memancarkan isinya hingga habis, dapat untuk obat luar /
untuk obat dalam. jika untuk obat dalam / inhalasi aerosol
dilengkapi dg pengatur dosis. Contoh: kenalog spray (untuk
obat luar, anti-inflamasi topikal).
25. Bentuk sediaan lainnya: Plester
Bahan yg digunakan untuk pemakaian luar terbuat dari bahan
yg dapat melekat pd kulit & menempel pd pembalut. Tujuan :
melindungi & menyangga / memberikan daya perekat & daya
maserasi & memberikan pengobatan jika melekat pd kulit.
Cnth: plester estraderm TTSMNA50. TTS = transdermal terapeutic156
system
Rute/Cara Pemberian Obat
Pemilihan rute/cara pemberian obat tergantung pada:
1. Tujuan terapi/efek yang diinginkan
a. efek lokal: topikal, intravaginal, rektal, intranasal,
intraokuler, inhalasi / intrapulmonal.
b. efek sistemik: oral, sublingual, bukal, parenteral,
implantasi s.c., rektal.
2. Sifat obat
a. obat merangsang mukosa mulut / mudah rusak oleh
asam lambung / obat menjadi inaktif oleh asam lambung
dan saluran. G.I. → sublingual (ISDN), parenteral (inj.
Insulin), rektal (aminofilin rektal).
b. obat tidak diabsorpsi oleh usus (mis : streptomisin) →
parenteral (injeksi i.m.).
MNA 157
3. Kondisi pasien & penyakit
- pasien tidak sadar/tidak kooperatif → parenteral /
rektal.
- pasien kondisi gawat → parenteral (i.v.).
- pasien sulit / tidak mampu menelan → hindari p.o.
- penyakit kronis yg memerlukan efek obat cepat
→ sublingual pada serangan angina.

Catatan:
pemilihan Bentuk Sediaan Obat (BSO) dan rute / cara
pemberian sebaiknya didiskusikan dgn pasien/
keluarganya shg dapat meningkatkan compliance /
ketaatan pasien.
Dengan demikian tujuan terapi dapat dicapai.
MNA 158
Klasifikasi Rute / Cara Pemberian Obat
BerdasarkanTujuan Terapi / Efek Yang Diinginkan
I . Efek Sistemik
A. Oral
Disebut juga cara interal (intran = usus, melibatkan usus).
Tempat pemberian: mulut
Tempat absorpsi: mukosa usus (duodenum)

Keuntungan pemberian oral:


a. mudah dilakukan oleh pasien sendiri
b. relative aman & murah
- aman, jika toksis obat dapat : dimuntahkan
langsung
- digunakan emetic / carbo adsorben
- murah
- pasien dapat melakukan sendiri tanpa alat khusus
MNA 159
c. efektif / praktis
Kerugian pemberian p.o. :
- absorpsi obat tidak teratur & tidak maksimal.
misal: tetrasiklin & digoksin ± 80%.
- setelah diabsorpsi, obat melalui hati dan mengalami FPE
shg BA rendah.
- tidak efektif untuk pasien : muntah, diare, tidak sadar,
tidak kooperatif / gila.
- obat dapat merangsang mukosa mulut (misal: aminofilin),
dapat diberikan d.c.
- obat dapat diuraikan oleh asam lambung sehingga inaktif
(misal: benzilpenisilin, insulin, oksitosin, hormon steroid).

MNA 160
Perkecualian :
jika pemberian p.o. ditujukan untuk efek lokal di usus,
maka obat tidak boleh diabsorpsi oleh pembuluh darah
disepanjang saluran G.I. (contoh : obat cacing, antibiotika
untuk pengobatan infeksi lambung – usus / digunakan
sebelum pembedahan, yakni : streptomisin, kanamisin,
neomisin, beberapa sulfonamid, dan zat-zat kontras
rontgen untuk foto lambung-usus).

Bentuk Sediaan Obat (BSO) yang bisa diberikan oral / p.o :


tablet, kapsul, larutan, sirup, eliksir, suspensi, gel, serbuk.

MNA 161
B. Sublingual
Tempat pemberian : obat diletakkan di bawah lidah.
BSO (Bentuk Sediaan Obat): tablet, troches / lozenges
C. Buccal (Bukal)
Tempat pemberian : obat diselipkan diantara gusi & pipi.
BSO : tablet, troches / lozenges (tablet hisap).

Keuntungan Sublingual dan Buccal:


a. efek cepat & sempurna karena obat langsung masuk ke
peredaran darah besar tanpa melalui hati.
b. untuk menghindari kerusakan obat dari saluran cerna

Kerugian Sublingual dan Buccal:


jika digunakan terus-menerus, kurang praktis karena
merangsang mukosa mulut.
 Sublinual dan Buccal, absorpsi obat melalui membran
mukosa mulut (obat sedikit sekali diabsorpsi melalui
saluran cerna), memberi efek
MNA
sistemik. 162
D. Parenteral
Artinya pemberian obat yg tidak melibatkan usus/sal. GI.
Tempat pemberian: selain melalui saluran GI (melalui injeksi).
Macam-macam cara pemberian parenteral / injeksi
Istilah rute pemberian Tempat pemberian Tempat absorpsi
Intravena Vena Langsung masuk ke pemb. Vena
Intraarteri Arteri Langsung masuk ke pemb. Arteri
Intrakardiak Jantung Langsung masuk ke pemb. Jantung
Intraspinal / intrathecal Tulang gelakang / Kapiler vena pd dinding ruang sub-
punggung arachnoid
Intraosseous Tulang Langsung masuk ke pemb. Tulang
Intraarticular Sendi Langsung masuk ke pemb. Sendi
Intrasinovial Area cairan sendi Langsung masuk ke pemb.cairan
sendi
Intrakutan/intradermal Di dalam kulit Kapiler kecil kulit scr inbibisi
Subkutan/hipodermal Di bawah kulit Idem
intramuskular Otot Langsung masuk ke pemb. Otot
MNA 163
intraperitonial Rongga perut Langsung masuk ke pemb. Rongga
perut
Keuntungan pemberian parenteral :
> menghindari obat dirusak / menjadi inaktif dalam
saluran G.I
> bila obat sedikit diabsorpsi dalam sal. G.I hingga
obat tidak cukup untuk meninggalkan respon
> dikehendaki efek obat yg cepat, kuat, & sempurna
dalam keadaan gawat
> diperoleh kadar obat yg sudah ditentukan (i.v),
karena sedikit sekali dosis obat yg berkurang
> dapat diberikan pada pasien yg sulit menelan / tidak
suka diberi obat melalui oral.

MNA 164
Kerugian pemberian parenteral :
> efek toksiknya sukar dinetralkan bila terjadi
kesalahan pemberian obat
> karena dikehendaki steril, sediaan injeksi lebih
mahal
> pasien tidak dapat memakai sendiri, perlu bantuan
tenaga ahli & peralatan khusus (tidak ekonomis)
> dibutuhkan cara aseptis, timbul rasa nyeri
> ada bahaya penularan hepatitis serum

BSO (Bentuk Sediaan Obat): larutan, suspensi

MNA 165
II. EFEK LOKAL
A. Topikal / Epikutan / Transdermal
Tempat pemberian : permukaan kulit
Keuntungan : memberi efek lokal, aksinya lama pada
tempat yang sakit, sedikit diasorpsi
Jika terjadi absorpsi dapat melalui :
> transeluler : menembus sel
> difusi : masuk melalui celah sel
> kelenjar minyak

BSO : ointment, krim, pasta, plester, serbuk, aerosol,


lotion, sediaan transdermal (transdermal patches, discs,
solution).
MNA 166
B. Konjungtival
Tempat pemberian : konjungtiva / selaput mata
Cara pemberian : dioleskan pd membran mukosa mata,
efek lokal.
BSO : contact lens insert, ointment.
C. Intraokular
Tempat pemberian : mata
Cara pemberian : diteteskan pd membran mukosa
mata, efek lokal.
BSO : suspensi, larutan.
D. Intra nasal
Tempat pemberian : hidung
Cara pemberian : diteteskan pd lubang hidung, efek
lokal.
BSO : larutan, semprot, inhalan, salep.
MNA 167
E.Aural / intraselulaer
Tempat pemberian : telinga
Cara pemberian : diteteskan pd lubang telinga, efek
lokal.
BSO : suspensi, larutan.
F. Vaginal
Tempat pemberian : vagina
Cara pemberian : dimasukkan ke dalam lubang
vagina, efek lokal
BSO : larutan, ointment, busa emulsi,
gel, tablet, insert, suppositoria.
G. Rektal
Tempat pemberian : rektum / anus
Tujuan : memperoleh efek lokal
(antihemoroid) & sistemik (asma).
BSO : larutan, ointment, suppositoria,
enema.
MNA 168
Keuntungan pemberian rektal :
> rectum & colon menyerap banyak obat perrektal (untuk
efek sistemik) menghindari kerusakan obat / obat
menjadi tidak aktif karena pengaruh lingkungan perut
dan usus.
> mudah diberikan untuk pasien muntah, sulit menelan,
tidak sadar
> obat yg diabsorpsi melalui rectal beredar dalam darah
tidak melalui hati sehingga tidak mengalami detoksikasi
/ biotransformasi yg mengakibatkan obat terhindar dari
tidak aktif.

Kerugian pemberian rektal :


> tidak menyenangkan
> absorpsi obatnya tidak teratur dan sukar ditentukan
MNA 169
H. Uretral
Tempat pemberian : uretra
Cara pemberian : dimasukkan ke dalam saluran
kencing, efek lokal.
BSO : larutan, suppositoria.
I. Intrarespiratori
Tempat pemberian : paru-paru
Cara pemberian : disemprotkan dg kanister /
inhalasi gas/cairan masuk paru-
paru, efek lokal.
BSO : aerosol
Keuntungan :
absorpsi cepat ,terhindar dari FPE di hati, pd penyakit paru
- paru (asma bronchial),obat dapat diberikan langsung pada
bronkus.
Kerugian :
diperlukan alat & metoda khusus yg sulit dikerjakan, sukar
mengatur dosis, obatnya mengiritasi
MNA epitel paru-paru 170
MNA 171
BENTUK OBAT
KAPSUL, TABLET EFFERFESCENT,
CAIRAN, SUPPOSITORIA, SPRAY,
EKSTRAKS, SALEP,

(PRAKTIKUM)

MNA 172
BENTUK OBAT
SERBUK, SUSPENSI/LARUTAN,
SIRUP, TABLET

(PRAKTIKUM)

MNA 173
PRINSIP PEMBERIAN OBAT
ORAL

(PRAKTIKUM)

MNA 174
PRINSIP PEMBERIAN OBAT
TOPIKAL

(PRAKTIKUM)

MNA 175
PRINSIP PEMBERIAN OBAT
PARENTERAL

(PRAKTIKUM)

MNA 176
PRINSIP PEMBERIAN OBAT
SUPPOSITORIA

(PRAKTIKUM)

MNA 177
MNA 178
Emir Abusaffan
MNA 180
TENTANG PENGAMPU

Nama : Muhammad Nurrochmat Nadjib Affandi.


(Emir Abusaffan).
Alumni : Jurusan Farmasi, Fakultas MIPA, Universitas
Padjadjaran, Bandung (Sarjana Farmasi,
Profesi Apoteker)
Program General Management, Asian Institute
Management, Manila, (Inti Salim Corpora).
Program Magister Manajemen, Universitas
Muhammadiyah, Prof. Dr. HAMKA, Jakarta
Alamat : Jl. Duri Mas Barat I Blok C No. 26, Rt. 007,
Rw. 0100, Kel. Duri Kepa, Kec. Kebon Jeruk,
Kota Jakarta Barat 11510.
Email : nurrochmatnadjib@yahoo.com
emiraffandi8751@gmail.com
HP : 087876772377, MNA081210108857 181
PENGALAMAN DAN KEGIATAN :

1. NaSuha Herbs Laboratory, sejak 2018 – sekarang


2. Mitra Adhi Karya, Consultants Associates, sejak 2016 –
sekarang
3. General Marketing, Sales & Distribusi, PT. Sinar Perkasa
Sukses, Jakarta, 2011 – Oktober 2018.
4. Dosen Luar Biasa, Akademi Perawat Al-Ikhlas, Cisarua,
Bogor, Februari 2017 - sekarangDosen Luar Biasa, Program
Studi Magíster Manajemen,
Pascasarjana, Universitas YARSI, Jakarta, 2009-2010.
5. Dosen Luar Biasa, Fakultas Ilmu Sosial, Ilmu Politik,
Universitas YARSI, Jakarta, 2009-2010.
6. Dosen Tamu, Program Pendidikan Profesi Apoteker,
Fakultas Farmasi, Universitas Pancasila, Jakarta.
7. Dosen Tamu, Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam, Al-
Musaddadiyah, Garut., 2009-
MNA
2011. 182
8. Konsultan Pemasaran, PT. Aneka Sehat Makmur,
Produsen Minuman Kesehatan
9. Pemrasaran dan Moderator dalam Seminar yang
diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Ikatan
Apoteker Indonesia cabang Garut, 2009.
10.Dosen Luar Biasa, Sekolah Tinggi Farmasi Bandung,
Program Pendidikan Profesi Apoteker, 2006-2010.
11.Dosen Luar Biasa, Fakultas Farmasi, Universitas
Padjadjaran, Bandung, Program Pendidikan Profesi
Apoteker 2006-2010
12.Dosen Luar Biasa, Prodi Analis, Politeknik Kesehatan
Departemen Kesehatan. Bandung, tahun 2007-2008
13.Dosen Tamu di Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia,
Bandung, Program Pendidikan Profesi Apoteker, 2007
14.Dosen Tamu di Akademi Farmasi, Lembaga Farmasi
Angkatan Laut (LAFIAL), Jakarta,
MNA
2007 183
15.Dosen Tamu, Akademi Kebidanan Widya Karsa Jayakarta,
Cipayung, Jakarta Timur 2009
16. Trainer, Pusat Pendidikan Latihan Pertamina, di UP
Pertamina Bandung dan Cirebon, 2009
17. Internal Audit Operasional, PT. Anggada Rekso Mulya,
Group Teh Sosro. Jakarta, 2006-2009
18. Food Division Head, PT. Ekacita Dian Persada, Distributor
Food & Pharmaceutical Ingredients, Jakarta, 2004-2006
19 General Sales Manager, P.T. Pacific Indomas, Marketing &
Trading Company, Hayel Saeed Annam Group, Republik
Yaman, Jakarta, 1998-2004
20.National Sales & Distribution Manager, PT. Episenta
Utama, Knorr Product Indonesia, Bestfoods Group
Company, Switzerland, Jakarta, 1997-1998
21.National Sales Manager, SmithKline Beecham Consumer
Health, (PT.Sterling Products
MNA
Indonesia), Jakarta, 184
1996-1997.
22.Product and Market Development Manager; National Sales
Distribution & Sales Promotion Manager; PT. Australia
Indonesian Milk Industries (PT.Indomilk), Jakarta,
1988-1996
23.Product Manager; PT. Bernofarm Indonesia, Jakarta,
tahun 1986-1988
24.National Product Supervisor, Knoll-Nordmark, Division of
PT. Tunggal Pharmaceutical Enterprises, Jakarta,
1984-1986
25.Area Sales Supervisor (West Java), PT. Nattermann
Indonesia, di Bandung 1979-1984
26.Medical Representative (Bandung), PT. Abbott Indonesia,
1977-1978.
27.Sales Representative, American Grolier, Bandung,
1976-1977
MNA 185
KARYA TULIS :
1. Manajemen Pemasaran, Buku Ajar, Program Pendidikan
Profesi Apoteker, Sekolah Tinggi Farmasi, Bandung Dan
Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, Bandung.
2. Teknologi Sediaan Farmasi, Buku Ajar, Strata I, Sekolah
Tinggi Farmasi, Bandung.
3. Manajemen Pemasaran Jasa, Buku Ajar, Prodi Analis,
Politeknik Kesehatan. Bandung
4. Pola Distribusi Di Pasar Tradisional Di Indonesia.
5. Berbagi Fatwa, Edisi I s/d VIII, Kumpulan Tausiyah.
6. Himpunan Khutbah Jum’at Edisi I s/d III
7. Farmakologi, Buku Ajar, Akademi Keperawatan Al-Ikhlas,
Cisarua, Bogor.
8. Khamr, Narkoba dan HIV-AIDS, Buku Ajar, Akademi
Keperawatan Al-Ikhlas, Cisarua, Bogor.
9. Kewirausahaan Untuk Perawat, Buku Ajar, Akademi
Keperawatan Al-Ikhlas, Cisarua,
MNA
Bogor. 186

10.Pendidikan Dasar Pancasila, Buku Ajar, IBEK, Jakarta


PENGALAMAN ORGANISASI :

1. Wakil Ketua, Himpunan Mahasiswa Farmasi, Fakultas


Farmasi (HIMAFAR), Universitas Padjadjaran, Bandung.
2. Ketua Senat XIV, Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS),
Bandung.
3. Anggota, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).
4. Anggota, Ikatan Keluarga Alumni Universitas Padjadjaran
(IKA-UNPAD)
5. Anggota, Asosiasi Manager Indonesia (AMA).

MNA 187
MNA 188