Anda di halaman 1dari 57

Presentasi kasus

Bronkopneumonia
OLEH: SASKIA RENO 01073170005
PEMBIMBING: DR. IRENE AKASIA OKTARIANA, Sp.A
NAMA: AN. G
JENIS KELAMIN: LAKI-LAKI
TANGGAL LAHIR: 5 JULI 2017 ANAMNESIS DILAKUKAN SECARA
UMUR: 1 TAHUN 5 BULAN ALLOANAMNESIS KEPADA IBU
AGAMA: KRISTEN PASIEN DI BANGSAL DAHLIA PADA
TANGGAL 7-12-18
ALAMAT: KOMP RUSUNAWA MARINIR
NO. REKAM MEDIS: 39-98-55
TANGGAL MASUK RS: 6-12-18
TANGGAL PEMERIKSAAN: 7-12-18

2
Keluhan utama
SESAK NAFAS SEJAK 1 HARI
SMRS
3
ANAMNESIS DILAKUKAN SECARA ALLOANAMNESIS
KEPADA IBU PASIEN DI IGD/BANGSAL DAHLIA PADA
Riwayat penyakit
sekarang
TANGGAL 7-12-18 PUKUL 08.00

Anak laki-laki berusia 1 tahun 5 bulan keluhan sesak sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit.

Ibu pasien mengatakan sesak nafas terasa semakin memberat hingga anak menangis terus-menerus dan
tidak bisa tidur. Sesak nafas disertai dengan bunyi ngik-ngik.

Disertai dengan batuk berdahak terus menerus disertai dengan bunyi grok-grok.

Ada pilek, anak menjadi rewel, gelisah dan nafsu makan menurun.

Tidak mengalami demam, tidak ada mual, tidak ada muntah, tidak ada diare, dan kejang disangkal oleh Ibu
pasien.

4
Riwayat penyakit Riwayat penyakit
Dahulu keluarga
• Mengalami gejala yang serupa • Keluhan serupa di keluarga saat ini (-)
sebelumnya (-) Riwayat keluarga dengan cacat
• riwayat asma (-), alergi makanan (-), bawaan, batuk lama (-)
alergi obat (-), sakit kuning (+), kejang • alergi makanan (-), alergi obat (-),
demam (-), riwayat operasi kejang demam (-), hepatitis (-) dan TB
sebelumnya(-) (-)
• Pernah dirawat di RS Marinir Cilandak • Ibu pasien mempunyai riwayat alergi
karena hyperbilirubinemia dan pada asma (+)
bulan Oktober 2018 karena diare akut
tanpa dehidrasi.

5
Riwayat
Riwayat persalinan dan
KEHAMILAN IBU masa perinatal
• An. G merupakan anak kedua dari dua • Lahir secara section caesarea di
saudara dengan usia kehamilan 39 minggu. RS Marinir Cilandak. Ketika lahir,
• Kontrol kehamilan (ANC) ke puskesmas dan pasien menangis spontan,
rumah sakit sebanyak 5x. berwarna pink kemerahan,
• Ibu dalam kondisi sehat, tidak merokok ketuban jernih, skor APGAR 8/9,
maupun minum alkohol dan rutin berat badan lahir 3400 gram dan
mengkosumsi tablet asam folat, besi, dan jenis kelamin laki-laki, dengan
kalsium selama kehamilan. Panjang badan 47 cm. Bayi
• Tidak ada keluhan mual dan muntah yang langsung minum ASI, tidak ada
berlebihan, kejang, diabetes, perdarahan, kelainan bawaan, dan tidak pucat.
tekanan darah tinggi dan demam pada saat
kehamilan.
6
Riwayat nutrisi Riwayat tumbuh
kembang
• ASI eksklusif selama 6 bulan.
• Makanan pendamping ASI (MPASI) Pasien mulai dapat membalikkan badan
setelah usia 6 bulan seperti bubur dari tengkurap ke terlentang pada usia 4
saring, nasi tim, biskuit bayi serta bulan. Pasien mulai dapat duduk sendiri,
buah contohnya pisang yang bersandar, dan mulai mengoceh pada
dihaluskan. usia 6 bulan. Pasien lancar merangkak
• Orang tua pasien menyangkal pada usia 9 bulan dan pada usia 12 bulan
pernah terdiagnosa gizi kurang atau pasien sudah bisa berjalan sendiri.
buruk.

7
Riwayat Riwayat
imunisasi sosioekonomi dan
lingkungan
• Tinggal bersama kedua
Pasien telah mendapatkan imunisasi orangtua dan kakaknya.
hepatitis, polio, BCG, DPT, DT, dan • Keluarga pasien memiliki
campak. kondisi ekonomi menengah
keatas.
• Ayah pasien: anggota dan Ibu:
manajer di sebuah restoran.
• Hubungan antar anggota
keluarga baik.
• Ayah pasien memiliki kebiasaan
merokok
8
× Keadaan Umum: Tampak × Tinggi Badan: 81,7 cm
sakit sedang × Berat Badan: 14 kg
× Kesadaran: Compos Mentis × Status Gizi: Gizi baik –
overweight
× Tanda-tanda vital;
× Suhu: 37,9 C
× Nadi: 114 x/menit
× Laju nafas: 50 x/menit
× SpO2: 99% dengan nasal
canule 1 LPM

9
Status generalis

10
Pemeriksaan penunjang Ro Thoraks tanggal 6/12/18
Pemeriksaan Lab tanggal 6/12/18

11
resume
Pada pemeriksaan fisik
didapatkan pasien tampak sakit
sedang dengan kesadaran
Anak laki-laki 1 tahun 5 bulan compos mentis, dan tanda-
datang dengan keluhan sesak tanda vital ditemukan suhu
nafas sejak satu hari SMRS. 37,9℃, nadi 114x/menit, laju
Sesak nafas semakin memberat
Mempunyai riwayat nafas 50x/menit, dan SpO2 99% Pemeriksaan
hingga anak menangis terus- hiperbilirubinemia dengan nasal canule 1 LPM. penunjang, hasil
menerus dan tidak bisa tidur. dan pernah dirawat Status gizi pasien berat badan laboraturium
Sesak nafas disertai dengan bunyi bulan Oktober 2018 14 kg dengan tinggi 81,7 cm,
status gizi baik – overweight.
didapatkan Hb 12,5
ngik-ngik. Keluhan juga disertai karena diare akut
dengan batuk berdahak terus g/dL, Ht 39%, leukosit
tanpa dehidrasi. Pada status generalis
menerus disertai dengan bunyi ditemukan adanya sekret pada 13,100, dan trombosit
grok-grok. Ibu pasien juga Pasien tidak hidung, pada inspeksi paru 343,000. Serta dari
mengatakan bahwa ada pilek, mempunyai alergi, ditemukan adanya retraksi pemeriksaan rontgen
anak menjadi rewel, gelisah dan namun ibu pasien subkostal dan interkostal, serta toraks didapatkan
nafsu makan menurun. Pasien ini memiliki riwayat terdapat pernapasan cuping
tidak mengalami demam, tidak hidung. Pada auskultasi
adanya infiltrat difus di
ada mual, tidak ada muntah, tidak asma. ditemukan suara nafas vesikular basal paru.
ada diare, dan kejang disangkal meningkat di basal paru, suara
oleh Ibu pasien. ronki di basal paru, dan ada
wheezing. Pada pemeriksaan
genitalia ditemukan preputium
tidak dapat diretraksi (fimosis +).

12
Diagnosa kerja:
Bronkopneumonia

Diagnosa banding:
-Bronkiolitis

13
Tatalaksana
× Non- medikamentosa:
× Rawat Inap
× Tirah baring
Prognosis
× Puasa × Ad vitam: Ad bonam
× Stop oral sementara
× Medikamentosa: × Ad Functionam: Ad bonam
× IVFD KAEN 1B 13 TPM × Ad sanationam: Dubia ad
× Inj Seftriakson 1x600 mg bonam
dalam NaCl 50 cc
× PCT drip 3x175 mg
× Inhalasi 2x1 dengan velutin 1
ampul
× Oksigen 1 LPM
14
Tanggal 7/12/18

15
Tanggal 8/12/18

16
Tanggal 9/12/18

17
Tanggal 10/12/18

18
Tanggal 11/12/18

19
Tanggal 12/12/18

20
Analisa
kasus

21
Anak laki laki berusia 1 tahun 5 bulan
datang dengan keluhan sesak nafas
dengan bunyi ngik-ngik, disertai batuk
berdahak, dan pilek sejak satu hari
sebelum masuk rumah sakit. Bila kita
melihat dari keluhan utamanya, kita
dapat memikirkan bahwa ada masalah
di saluran pernapasannya.

22
Infeksi respiratori Infeksi laring
atas merupakan kebawah disebut
Mulai dari infeksi infeksi primer infeksi respiratori
respiratori atas respiratori di atas bawah, terdiri dari
dan adneksanya laring, terdiri dari epiglottitis,
hingga parenkim rhinitis, faringitis, laringotrakeobronki
tonsillitis, tis, bronkitis,
paru
rhinosinusitis, dan bronkiolitis, dan
otitis media pneumonia.

23
24
BRONKIOLITIS

BRONKOPNEUMONIA

25
× Anamnesis: usia × PF: Suhu 37,9C, nafas × Pemeriksaan
50x/menit, nadi penunjang:
< 2 tahun, pilek
114x/mnt, pada
ringan, batuk, auskultasi terdapat × Lab: leukosit
demam, dan vesikuler meningkat di
13.100
sesak nafas, basal dan rhonki +/+ di
basal, wheezing -/+ × Xray thorax:
serta rewel dan memanjang saat Terdapat
penurunan ekspirasi, adanya infitrat difus
nafsu makan penggunaan otot di basal paru
bantu nafas, serta
retraksi subkostal dan
interkostal (+)

26
Yang tidak mendukung:
× Puncak usia biasanya 2-8 bulan
× Tidak ada peningkatan suhu diatas 38,5 C
× Pada hasil laboraturium, biasanya pada bronkiolitis
terdapat normal atau adanya penurunan dari leukosit
(leukopenia), namun pada pasien ini justru leukositnya
meningkat (leukositosis) dimana kita lebih curiga kearah
adanya infeksi bakterial.
× Dari hasil x-ray thorax pun tidak spesifik, karena
gambaran seperti ini masih bisa ditemukan pada
pneumonia.
27
× Usia 2-24 bulan,
× Penyakit IRA bawah yang
puncaknya usia 2-8 bulan.
ditandai dengan adanya
inflamasi pada bronkiolus × 95%  < 2th
× Disebabkan oleh virus RSV × 75% diantaranya pada
anak
× 1,25 x lebih banyak laki
dari perempuan

28
× Anamnesis: × PF: × Penunjang:
- Gejala awal (pilek - Takipnea - Pemeriksaan darah
ringan, batuk, - Takikardi kurang bermakna
karena jumlah leukosit
demam) - Suhu > 38,5 C normal atau turun
- Nafas berbunyi, - Konjungtivitis dan faringitis - Foto toraks 
sianosis, merintih, - Ekspirasi memanjang  hiperinflasi dan infiltrat
muntah setelah wheezing  tidak spesifik.
batuk, rewel, - Pernapasan cuping hidung
Penebalan peribronkial
penurunan nafsu dan atelectasis
- Retraksi intercostal subsegmental
makan
- Ronki

29
× Bronkodilator
- Masih kontroversial × Kortikosteroid × Antivirus

- Penelitian: Perbaikan - Prednison, - Ribavirin


klinis jangka pendek 0,6 – 6,3 - Kontroversial
(salb, teofilin,
ipapropium, beta -
mg/kgbb/ hari
PO, IM, IV
- Harga mahal,
resiko toksisitas
adrenergik) - Efektif
- Oral; salb 0,05-0,1 Menurut American Academy of Pediatrics/AAP (1996), ribavirin
mg/kgBB setiap 6-8 jam hanya direkomendasikan pada bronkiolitis dengan kondisi spesifik

- Inhalasi: 100 mcg per


yaitu mempunyai penyakit jantung bawaan, pasien dengan dysplasia
bronkopulmoner, kistik fibrosis, defisiensi imun, bayi prematur, usia
bayi kurang dari 6 minggu, dan pasien yang membutuhkan ventilasi
hirupan mekanik.

30
× Anamnesis: usia < 2 × PF: Suhu 37,9 C, nafas
tahun, terdapat
× Pemeriksaan penunjang:
50x/menit, pada × Lab: leukosit 13.100
trias pneumonia auskultasi terdapat × Xray thorax:
(demam, sesak, vesikuler meningkat di Terdapat infitrat
dan batuk), anak basal dan rhonki +/+ di difus di basal paru
rewel, gelisah, dan basal, wheezing -/+
memanjang saat
terdapat
ekspirasi, adanya
penurunan nafsu penggunaan otot bantu
makan. Ayah nafas, serta retraksi
pasien memiliki subkostal dan
kebiasaan interkostal (+)
merokok
31
Dari anamnesis, pemeriksaan fisis,
dan pemeriksaan penunjang dapat
disimpulkan bahwa An.G mengarah
ke Bronkopneumonia

32
× Rencana Terapi:
× Pemberian oksigen 1 LPM
× Pemberian cairan (IVFD KAEN 1B 13 tpm)
× Pemberian inhalasi 2x1 velutin 1 ampul
× Pemberian antibiotik seftriakson 50 mg/kgbb/hari,
(dosis 1x600 mg dalam NaCl 50 cc)
× Pemberian parasetamol untuk menurunkan
demam (PCT drip 3x175 mg)

33
× Inflamasi yang
× Masalah × 27,6%  kematian mengenai
kesehatan bayi dan 22,8%  parenkim paru
utama pada kematian balita
anak di negara × Disebabkan
× Faktor resiko pada oleh
berkembang bayi: BBLR, tidak virus/bakteri.
× Kurang lebih 2 mendapat imunisasi
juta anak balita lengkap, ASI kurang, × Bakteri (S.
meninggal malnutrisi, pajanan pneumoniae,
setiap tahun terhadap asap rokok S.aureus,
H.influenzae)

34
× Etiologi: - Bayi lebih besar × 32% virus, 30%
- Neonatus dan dan anak balita: bakteri dan
bayi kecil: S.pneumoniae, virus, 22%
Strepto group B, H.influenzae, bakteri
E.Colli, S.aureus
Pseudomonas - Anak lebih
sp, Klebsiella sp. besar dan
remaja:
M.pneumoniae

35
36
× Gejala infeksi × Gejala gang × PF: pekak
umum: demam, respiratori: perkusi, suara
sakit kepala, batuk, sesak nafas melemah,
gelisah, malaise, nafas, retraksi dan ronki
penurunan nafsu dada, takipnea,
makan, keluhan GI nafas cuping
(mual, muntah hidung,
atau diare), merintih,
kadang ada gejala sianosis
ekstrapulmoner

37
× Terjadi
× Kontaminasi × Penularan transplasenta
akibat
dari infeksi RS dapat terjadi (TORCH,
transmisi
(perawat, varisela)
vertikal ibu-
dokter, pasien × Gambaran klinis: serangan
anak.
lain, alkes apnea, sianosis, merintih,
× Sumber seperti
infeksi dari nafas cuping hidung, takipnea,
ventilator) letargi, muntah, tidak mau
ibu (aspirasi
× Kontaminasi minum, takikardi/bradikardi,
mekonium,
dari infeksi retraksi submukosa, demam.
cairan
masyarakat
amnion)
38
× Keluhan: × Klinis gejala × Anak besar
demam, respiratori: lebih suka
menggigil, takipnea, berbaring pada
batuk, sakit retraksi sisi yang sakit
kepala, subkosta, nafas dengan lutut
anoreksia, dan cuping hidung, tertekuk karena
kadang keluhan ronki, dan nyeri dada
GI (muntah, sianosis
diare)

39
× M.pneumoniae >5 th  20% × K.trakomatis  40%
× Dari droplet dan kontak dekat × Gejala awal batuk
× Masa inkubasi 3 minggu kering, mialgia, sakit
× Gejala menyerupai influenza kepala, malaise, pilek, dan
(demam > 38,5, malaise, sakit demam tidak tinggi
kepala, myalgia, tenggorokan × Ro Toraks  infiltrate
gatal, batuk) difus
× Berlanjut  bronchitis,
bronkiolitis, pneumonia

40
× Darah perifer × CRP
lengkap × Uji serologis
(leukositosis
× Pemeriksaan mikrobiologis
15.000-
40.000/mm3 × Ro toraks (BP gambaran difus merata
dengan pada kedua paru, bercak infiltrat yang
predominan dapat meluas hingga daerah perifer
PMN) paru, disertai peningkatan corakan
peribronkial

41
× Pneumonia virus  × Infiltrat alveolar berupa
penebalan peribronkial, konsolidasi segmen/lobar, BP,
infiltrat interstisial dan air bronchogram  bias
merata, dan hiperinflasi karena bakteri

42
× Bayi dan anak usia 2 bulan – 5 thn × Bayi usia < 2 bulan
- Pneumonia berat (bila ada sesak nafas, - Pneumonia (bila ada
harus dirawat dan diberikan AB) nafas cepat >60x,
- Pneumonia (bila ada sesak nafas, ada sesak nafas, harus
nafas cepat dengan laju nafas; > 50x usia dirawat dan butuh AB)
2 bln-1 thn, >40x usia >1-5 th, tidak perlu
dirawat, diberikan AB oral ) - Bukan Pneumonia
(tidak ada nafas cepat
- Bukan pneumonia (bila tidak ada nafas
cepat dan sesak nafas, tidak perlu atau sesak nafas,
dirawat dan tidak butuh AB) tidak perlu dirawat)

43
× Indikasi ranap: × Pengobatan
- Toksis suportif:
× Untuk nyeri dan
- Distress - Pemberian demam
pernapasan cairan IV analgetik/
- Tidak mau - Terapi Oksigen antipiretik
makan/minum - Koreksi gang
asam-basa,
elektrolit, gula
darah

44
× Gol beta lactam/kloramfenikol. × Pneumonia ranap:
Bila tidak responsif dengan beta - Neonatus dan bayi kecil AB IV kombinasi
lactam  gentamisin, amikasin, beta laktam dengan aminoglikosid, atau
sefalosporin. sefalosporin generasi 3
× Diberikan 7-10 hari - Balita dan anak lebih besar  AB IV beta
× Pneumonia rawat jalan: laktam dengan/tanpa klavulanat
- Amoksilin 25 mg/kgbb - Penisilin G IV 25.000 U/kgbb setiap 4 jam
- Kotrimoksazol 4 mg/kgbb TMP – - Kloramfenikol 15mg/kgbb setiap 6 jam
20 mg/kgbb sulfametoksazol - Seftriakson IV 50 mg/kgbb setiap 12 jam

45
Menurut teori
– tatalaksana

46
× Komplikasi:
- Empiema torasis (tersering pada pneumonia
bakteri)
- Perikarditis purulenta
- Pneumothoraks
- Infeksi ekstrapulmoner (meningitis purulenta)

47
× Watts KD, Goodman DM. Wheezing in infants: Bronchiolitis. In: Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM,
editors. Nelson textbook of pediatrics. 19th ed. Philadelphia: WB Saunders; 2011. p. 1456-9.
× World Health Organization. Pocket book of hospital care for children: Guidelines for the management of
common childhood illnesses. 2nd ed. 2013.
× Welliver RC. Bronchiolitis and infectious asthma. In: Feigin RD, et al. Feigin Textbook of Pediatric
Infectious Disease. 6th ed. Philadelphia: WB Saunders; 2009. p. 277-85
× Houben ML, Bont L, Wilbrink B, et al. Clinical prediction rule for RSV bronchiolitis in healthy newborns:
prognostic birth cohort study. Pediatrics 2011;127:35-41.
× Stensballe LG, Kristensen K, Simoes EA, et al. Atopic disposition, wheezing, and subsequent respiratory
syncytial virus hospitalization in Danish children younger than 18 months: a nested case-control study.
Pediatrics 2006;118:e1360-1368.
× Bulkow LR, Singleton RJ, Karron RA, Harrison LH. Risk factors for severe respiratory syncytial virus
infection among Alaska native children. Pediatrics 2002;109:210-216.

48
× Zachariah P, Ruttenber M, Simoes EA. Hospitalizations due to respiratory syncytial virus in children
with congenital malformations. Pediatr Infect Dis J 2011;30:442-445.
× Kristensen K, Hjuler T, Ravn H, Simoes EA, Stensballe LG. Chronic diseases, chromosomal
abnormalities, and congenital malformations as risk factors for respiratory syncytial virus
hospitalization: a population-based cohort study. Clin Infect Dis 2012;54:810-817.
× Belderbos ME, Houben ML, Wilbrink B, et al. Cord blood vitamin D deficiency is associated with
respiratory syncytial virus bronchiolitis. Pediatrics 2011;127:e1513-1520.
× Qymar K, Skjerven HO, Mikalsen IB. Acute bronchiolitis in infant : a review
× Lin YJ, Lin CH. Recent literature review on repiratory syncytial virus infection in infants and children.
J Pediatr Resp Dis 2014;9(6):6-10.
× Meisser C. Viral Bronchiolitis in children. N Engl J Med 2016; 37(4): 62-72.
× Supriyatno B. Infeksi respiratorik bawaan akut pada anak. Sari Pediatri 2006; 8(2): 100-6.
× Piedra P, Stark Ann. Bronchiolitis in infant and children. Uptodate. 2018.
× Kliegman RM, Stanton BMD, Geme J St., Schor NF. Pneumonia. In: Nelson Essentials of Pediatrics. 7th
ed. Philadelphia: Elsevier; 2015. p. 358–64.

49
× IDAI. Pedoman Pelayanan Medis Jilid I. 2009. 250-4
× Factors R. Pneumonia : Review of Guidelines. 2012;60(January):25–8.
× Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB. .Buku ajar respirologi anak edisi
pertama. Jakarta: IDAI; 2008: p. 300-330.
× Samuel A. Bronchopneumonia on Pediatric Patient. 2014;1. Av
× Basuki B Purnomo. Dasar-dasar Urologi. Edisi Kedua. Jakarta: Sagung Seto;
2009.
× Santoso A. Fimosis dan Parafimosis. Tim Penyusun Panduan
Penatalaksanaan Pediatric Urologi di Indonesia. Jakarta: Ikatan Ahli Urologi
Indonesia; 2005.
× Sjamsuhidajat, R , Wim de Jong. Saluran kemih dan Alat Kelamin Lelaki. Buku-
Ajar Ilmu Bedah.Ed.2. Jakarta : EGC, 2004. p 801
× Tanagho, EA and McAninch, JW. Smith’s General Urology. Sixteen edition. USA:
Appleton and Lange; 2004.
50
× Spilsbury K, Semmens JB, Wisniewski ZS, Holman CD.
"Circumcision for phimosis and other medical indications in
Western Australian boys". Med. J. Aust. 178 (4): 155–8; 2003.
Diunduh dari URL:
http://www.mja.com.au/public/issues/178_04_170203/spi1
0278_fm.html
× Hina Z, Ghory MD. Phimosis and Paraphimosis. Diunduh dari
URL: (http://emedicine.medscape.com/article/777539-
overview)
× Brunicardi FC, et al. Schwartz’s Principle of Surgery Eight
Edition Volume 2. USA: Mc Graw Hill.

51
Terima kasih!

52
× (10 x 100) + (4x50) = 1200 cc/hari =
50cc/jam
× Kec = (Vol x fx) : time
50 x 15 : 60 = 12,5 TPM = 13 TPM

53
× 10-15 cc/kgbb
× BB = 14 kg
× Dosis: 140cc -210cc
× Pada pasien ini diberikan 1x175 mg

54
× Diberikan untuk mengurangi edem
bronkus dan produksi mukus
× Dosis yang diberikan: 3 x 3,5 mg

55
× Diberikan untuk bronkodilatasi dan
mengencerkan mukus
× Dosis yang diberikan: 3 x1 bungkus

56
× Isi: Salbutamol Sulfate
× Manajemen dan pencegahan serangan asma
× Penanganan rutin untuk kronik
bronkospasme yang tidak respon dengan
terapi konvensional
× Dosis anak awal 2,5 mg dapat diulangi 4x/hr
dengan nebu
57