Anda di halaman 1dari 23

1.

Latar Belakang
Gaya hidup masyarakat sekarang yang banyak
mengkonsumsi gula dan jarang melakukan olahraga
rentan sekali menyebabkan penyakit pada sitem
fisiologisnya, terutama dapat menyebabkan diabetes
melitus. Diabetes melitus (DM) sendiri adalah penyakit
yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah
akibat ketidak normalan produksi insulin, fungsi insulin,
atau keduanya (Alan Guffanti, 2014). Pasien yang
mengidap DM dapat mengalami komplikasi atau bila
tidak ditangani dengan benar pasien dapat
mengalami ulserasi, infeksi dan gangren. Pasien sering
masuk rumah sakit karena perawatan ulkus. (Lynda
Hariani & David Perdanakusuma, 2012).
Ulkus juga merupakan alasan utama orang-orang untuk
kehilangan anggota badan. (Alan Guffanti, 2014). Ulkus kaki
diabetik juga merupakan komplikasi dari diabetes yang
menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. (Karam,
2018). Ulkus kaki juga merupakan suatu keadaan umum yang
paling umum, serius dan sangat mahal, ulkus juga dapat
melumpuhkan penderita diabetes melitus. (Muhammad Tanveer
Sajid dkk, 2015) Ulkus deabetikum adalah keadaan
ditemukannya infeksi, tukak dan atau destruksi pada jaringan
kulit yang paling dalam dikaki pasien Diabetes Melitus (DM)
karena abdominal saraf dan gangguan pembulu darah arteri
perifer. (Rizky Loviana Roza, Rudy Afriant, Zulkarnain Edward,
2015). Selain itu neuropati merupakan suatu faktor utama untuk
perkembangan ulkus diabetikum, hal ini dikarenakan
hiperglikemiakronis kronis dan kerusakan sistem peredaran
darah sehingga menyebabkan kerusakan progresif terhadap
saraf-saraf sensorik yang sering menandakan kerusakan pada
kaki. Rata-rata perkembangan ulkus atau terjadinya ulkus pada
seeorang adalah 25%. (Alan Guffanti, 2014)
Menurut Health Organization (WHO) mengestimasi prevalensi
diabetes melitus pada usia 18 tahun mencapai 8,55, dimana
angka kejadian tertingi terdapat diasia tenggara. Menurut
Riskesdas 2013, proporsi DM di Indonesia mencapai 6,9%. (Nelly
Marida dan Nur Ramadhan, 2017). Dilihat dari prevalensinya
yang cukup tinggi untuk penderita Diabetes Melitus maka tinggi
pula prevalensi angka kejadian ulkus diabetikum. Ulkus
diabetikum juga dipengaruhi beberapa faktor lain seperti
lamanya mengidap diabetes melitus, kadar kolesterol, IMT,
perawatan kaki yang kurang baik dan kurangnya latihan. (Nelly
Marida dan Nur Ramadhan, 2017). Selain itu juga ada faktor
resiko lain yang dapat mempengaruhi yaitu jenis kelamin,
neuropati, PAD dan trauma. (Rizky Loviana Roza, Rudy Afriant,
Zulkarnain Edward, 2015).
Lokasi yang paling sering terjadi ulkus adalah jari-jari ekstremitas
bawah karena daerah itu adalah daerah yang paling jarang
diperhatikan. Serta terdapat beberapa penyebab lain yang bisa
meningkatkan terjadinya ulkus yakni jenis kelamin, lama penyakit
diabetes melitus, neuropati, dan Peripheral Artery Disease (PAD).
Menurut Partica dkk, laki-laki menjadi faktor predominan
berhubungan dengan terjadinya ulkus. Kedua, terlalu lamanya
tubuh dalam keadaan hiperglikemi dapat menginisialisasi bahwa
tubuh mengalami keadaan kebanjiran glukosa. Kadar glukosa
yang tinggi dalam waktu yang lama dapat menyebabkan
terbentuknya komplikasi kronik DM. Penderita ulkus ditemukan
banyak yang menderita DM lebih dari 10 tahun. Ketiga, neuropati
menyebabkan gangguan syaraf terutama pada sayraf motorik,
sendorik dan otonom. Gangguan pada syaraf motorik dapat
menyebabkan atrofi otot, deformasi kaku dan perubahan pada
biomekanika kaku sehingga distribusi tekanan kaki terganggu yang
mengakibatkan ulkus. Keempat, penyakit arteri perifer (PAD)
adalah penyakit penumbatan arteri pada ektremitas bawah.
Kondisi iskemia yang terjadi pada saat PAD jika menjadi iskemia
berat akan menyebabkan ulserasi dan gangren.
Setelah dilakukan penelitian yang dilakukan Rizky
Loviana Roza, Rudy Afriant, Zulkarnain Edward, 2015
didapat bahwa faktor yang paling mempengaruhi
adalah PAD dan Trauma. Kesimpulan ini diambil karena
hasil yang selaras dengan penelitian sebelumnya yang
dilakukan Mayfield dkk yang menunjukan bahwa PAD
berhuungan dengan terjadinya ulkus. Iskemia yang
terjadi pada kaku menyebabkan kaki kering dan
memerah seiring dengan neuropati. Terjadinya luka
ditambah dengan aliran darah yang tidak lancar
menyebabkan peningkatan resiko terjadinya ulkus
diabetikum. Penelitian yang dilakukan juga menunjukan
hubungan yang sugnifikan antara trauma dengan
kejadian ulkus, trauma yang terjadisehari-hari bukan
menjadi faktor tunggal tetapi ditambah dengan
adanya PAD danneuropati trauma dapat
mengakibatkanulkus diabetikum yag sukar untuk
disembuhkan.
untuk mengatasi ulkus kaki haruslah dilakukan perawatan pada kaki.
Pasien dan perawat harus sering memperhatikan faktor-faktor yang
dapat menebabkan ulkus dan juga harus memperhatikan kadar
glukosa dalam darah. Untuk pemriksaan dapat dilakukan oleh petugas
kesehatan, akan tetapi untuk perawatan diri pasien dan perawat harus
saling bekerjasama agar ulkus tidak terjadi dan apabila terjadi ulkus
tidak akan terjadi ulkus berulang. Pemeriksan yang dapat dilakuakan
adalah pemeriksaan kadar gula darah dan Ankle Brachial Indeks (ABI)
yaitu pemeriksaan sistolik brachial tangan kiri dan kanan kemudian nilai
sistolik yang paling tinggi dibandingkan dengan nilai sistolik yang paing
tinggi ditungkai, pemeriksaan ini agar diketahui apakah pasien memiliki
penyakit arteri perifer atau tidak. (Rizky Loviana Roza, Rudy Afriant,
Zulkarnain Edward, 2015). Selain itu karena bila terjadi ulkus maka sensai
pada kaki semakin berkurang maka pasien harus memperhatikan
keamanan kakinya agar ulkus tidak bertambah parah selain itu
perawatan pada kaki juga diperlukan agar tidak terjadi ulkus berulang.
(Suyanto, 2018). Untuk menghindari ulkus berulang juga pasien harus
menjaga kadar gula darahnya agar tidak menjadi hperglikemi atau
agar kadar gula darahnya tidak tinggi, karena kadar gula darah yang
tinggi dalam waktu yang lama dapat meningkatkan faktor resiko ulkus
berulang. (Nelly Marissa & Nur Ramadhan, 2017).
Dalam penyembuhan ulkus diabetikum pada kaku
melibatkan proses peradangan, pembentukan jaringan
granulasi dan epitelisasi, yang pada akhirnya
pematangan jaringan parut untuk memberikan
pemulihan yang baik dari kulit dan jaringan integritas.
Terapi tropikal untuk diabetes berfokus pada standar
terapi luka lembab (SMWT/ standart moist wound
therapy) yang menjadi standar pengobatan
berdasarkan studi pada tahun 1962 yang menetapkan
bahwa luka yang bersih dan lembab lebih cepat
sembuh daripada luka yang dibiarkan diudara
sehingga luka lembab menjadi standar untuk
perawatan.vacuum-assited closure (VAC) sistem (yang
merupakan salah satu jenis dari NPWT) telah
diggunakan dalam pengobatan luka terbuka sejak
1980-an. NPWT adalah melibatkan pemberian tekanan
sub-atmosfer secara terus menerus melalui pompa
khusus yang terhubung kebusa tangguh yang dapat
mengumpulkan eksudat luka. (Karam, 2018).
NPWT memberikan tekanan negatif sehingga menyebabkan
tekanan kontraksi dan deformasi dari sel-sel didasar luka
memberikan rangsangan neo-anglogenesis dan
pembentukan jaringan parut. Selain itu, tekanan negatif juga
mengeluarkan eksudat luka atau membersihkan eksudat
selain itu tekanan negatif dapat mengurangi edema.
Perawatan ini dapat dilakukan untuk perawatan akut, home
care, perawatan jangka panjang, rawat jalan, dan
pengaturan perawatan jangka panjang dengan catatan
harus dalam pengawasan oleh tenaga kesehatan, sehingga
mengurangi efeksamping bila terjadi. Selain itu perawatan
secara NPWT juga lebih murah daripada SMWT karena dapat
mengefisiensikan sumberdaya yang ada. (Vickie R. Driver,
DPM,MS , Peter A. Blume, DPM)(Alan Guffanti, 2014)(Karam,
2018). Selain itu NPWT juga pernah dibandingkan dengan
jenis intervensi yang lain yaitu AMWT, dan itu juga
menunjukan bahwa NPWT memiliki keefektifan yang lebih
baik, setelah dilakukan penelitian NPWT dapat
menyembuhkan luka kronis, biaya yang murah,
meningkatkan kualitas hidup pasien. (Muhammad Tanveer
Sajid dkk, 2015).
NPWT terdiri atas sebuah pompa, dressing steril (granu
foam), selang suction dan botol penampung cairan
(canister). Penggunaan NPWT dapat mempertahankan
perawatan luka dengan tekanan negatif pada
tekanan -125 mmHg pada permukaan luka. Eksudat
pada luka diatasi oleh dressing yang dikombinasi oleh
kelembapan dan absorbsi yang ditujukan untuk
penggunaan pada luka berukuran sangat lebar dan
menghasilkan eksudat sedang hingga berat. (Roland
Winardi Kartika, 2018) Mekanisme kerja NPWT meliputi
(Macrostrain) dan biologi (micristrain) respon jaringan.
Microstrain dapat mengurangi edema dan
menghilangkan materi penular pada luka. Manfaat
microstrain juga meningkatkan jaringan granulasi
melalui sel mikro-deformasi (reaksi pada tingkat
microscopis), yang merangsang aktivitas metabolisme
dan proliferasi sel. (Karam, 2018).
Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mengetahui keefektifan Negative Pressure Wound Theraphy
(NPWT) pada pasien dengan ulkus diabetikum pada kaki
Tujuan Khusus
Mendapatkan tingkat keefektifan penggunaan NPWT
dibandingkan SMWT.
Manfaat Penerapan EBN
› Bagi Pasien
Memberikan gambaran tindakan yang efektif untuk
penanganan pada pasien dengan ulkus diabetikum pada
kaki.
› Bagi Pelayanan Keperawatan
Hasil penerapan EBN ini dapat menjadi pengetahuan
tambahan perawat tindakan yang efektif untuk menangani
pasien dengan ulkus diabetikum pada kaki.
› Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan
Hasil penerapan EBN ini diharapkan dapat menambah
pengetahuan perawat tentang bagaimana merawat pasen
dengan keluhan ulkus diabetikum secara efektif.
PICO
Problem (DAPAT BERUPA MASALAH YANG
DITEMUKAN DI JURNAL)
 Pasien diabetes paling sering masuk ke
rumah sakit adalah karena perawatan ulkus
yaitu 25%, perawatan yang dulu dilakukan
untuk perawatan ulkus adalah perawatan
dengan SMWT atau terapi kelembapan dan
juga terapi NPWT atau terapi tekanan
negatif. Peneliti mencari perbandingan
keefektifan SMWT dan NPWT.
Intervention
 Tugas perawat dalam menangani ulkus
diabetikum adalah sebagai orang yang
merawat luka, pemberi edukasi pada pasien
apa-apa saja yang akan bisa dilakukan
pasien secaara mandiri. Salah satu tugas
perawat khususnya perawat diabetes
adalah memberikan perawatan luka pada
pasien dalam hal ini adalah perawatan
pada ulkus diabetikum kaki. Intervensi
keperawatan yang bisa dilakukan adalam
dengan memberikan terapi NPWT.
Comparasion Intervention
Perawatan luka dengan metode NPWT dalam
hal ini menggunakan cara VAC (vacuum-
assisted closure). Selain itu pasien juga
diedukasi dan dikontrol kadar gulah darah
secara ketat.
Outcome
Dengan diterapkannya Negative pressure
Wound Therapy (NPWT) pada pasien ulkus
diabetikum diharapkan pasien dapat lebih
cepat sembuh dan dengan biaya yang
lebih murah dikarenakan keefektifan dari
terapi NPWT yang digunakan.
Pertanyaan klinis
 Apakah NPWT dapat dilakukan disemua
rumah sakit yang ada diIndonesia? Apakah
tenaga sudah cukup untuk sumbedaya
tertama sumberadaya manusianya?
Unsur PICO Analisis Kata kunci
(Terapi)
P Perbandingan keefektifan NPWT dan SMWT dalam Ulkus diabetes
perawatan ulkus diabetikum Negative pressure wound
therapy
Standard moist wound
therapy
I Perawatan luka dengan Negative pressure wound Manajemen perawatan luka
therapy (NPWT) Negative pressure wound
therapy

C Edukasi perawatan luka yang akan dilakukan dan edukasi


kontrol glukosa
O Menurunkan biaya perawatan ulkus diabetikum pada Keefektifan
kaki karena keefektifan penggunaan metode Negative Biaya
Pressure Wound Therapy (NPWT) Self care
NPWT
Jurnal Database yang digunakan
 Menggunakan kata kunci dan beberapa sinonimnya
dari analisa PICO, peneliti memasukkannya ke dalam
search engine jurnal sebagai berikut :
 http://search.proquest.com
 http://www.sciencedirect.com/http://www.scopus.co
m/http://www.guideline.gov/
http://www.evidence.nhs.uk/
http://www.scholar.google.co.id didapatkan 17 judul
artikel, kemudian dipilih sebanyak 10 journal yang
relevan. Kesesuaian dengan keadaan yang
sebenarnya di rumah sakit membuat peneliti memilih 2
artikel pilihan untuk kemudian memilih 1 artikel sebagai
rujukan dan sisanya sebagai artikel pendukung.
 Abstrak
 Tujuan: untuk mencaritau keefektifan NPWT dibandingkan dengan
SMWT.
 Metode: Desain penelitian menggunakan 4 rivew jurnal. Masing masing
jurnal menggunakan 162 pasien, 342 pasien, 24 pasien, dan 24 pasien.
Masing-masing jurnal melakukan percobaan perbandingan intervensi
metode NPWT dan juga SMWT, setelah dilakukan percobaan dan
intervensi didapatkan hasil. Dari hasil yang didapat dari ke 4 jurnal
tersebut diakumulasikan dan didapatkan kesimpulan.
 Hasil : Bukti dari 4 percobaan terkontrol menunjukan bahwa NPWT yang
menggunakan sistem VAC lebih efektif daripada SMWT dalam
perawatan luka kaki diabetik. Bukti dari 4 percobaan terkontrol juga
menunjukan bahwa NPWT menggunakan sistem VAC lebih efektif
daripada SMWT dalam kecepatan perbaikan luka, luka diabetik lebih
cepat sembuh.
 Kesimpulan : kesimpulan dari jurnal ini adalah ditemukan bahwa NPWT
aman dan efektif untuk perawatan ulkus diabetik. Namun NPWT harus
diibangi dengan kontrol glukosa ketat agar lebih cepat sembuh.
 Abstrak
 Tujuan: untuk mengetahui mekanisme kerja NPWT dalam pengobatan ulkus
kaki diabetik melalui mengukur ekspresi jaringan gen yang berhubungan
dengan proses penyembuhan luka
 Metode : Penelitian ini melibatkan 40 pasien dengan kaki diabetik ulserasi, 20
dari mereka menerima NPWT dan 20 lainnya adalah kelompok kontrol
diobati dengan terapi lembab. Biopsi jaringan granulasi yang diperoleh
sebelum dan 10 hari setelah pengobatan pada kedua kelompok dan
sasaran waktu sebenarnya dari reaksi rantai polimerisasi untuk mengukur
ekspresi mRNA dari TGF-β1, VEGF, TNF-α, IL-1β, MMP-1, MMP-9 dan TIMP-1
yang terlibat dalam penyembuhan luka.
 Hasil : Setelah 10 hari pengobatan dengan NPWT, tingkat mRNA IL-1β, TNF-α,
MMP-1, dan MMP-9 yang secara signifikan menurunkan regulasi, sedangkan
kadar VEGF, TGF-β1 dan TIMP-1 meningkat secara signifikan
 Kesimpulan : penelitian ini menunjukan bahwa NPWT adalah terapi yang
sangat menjanjikan pengobatan yang secara signifikan meningkatkan
faktor pertumbuhan, menurunkan inflamasi, sitokin dan aktivitas MMP
dinormalisasi.
Pelaksanaan EBN ini mengacu pada penelitian 4 penelitian yang telah memenuhi kriteria yaitu armstrong
et al, Blume et al, etoz, dab sepulveda et al.
4.1 Subyek
Subyek dalam penerapan EBN ini adalah pasien dengan ulkus diabetikum di 4 tempat yang berbeda yang
tertulis pada 4 jurnal yang berbeda, masing masing jumlah pasien adalah 162, 342, 24, dan 24, dengan
jumlah total subyek adalah 552
Kriteria inklusi: pasien yang dirawat di rumah sakit dengan memiliki ulkus kaki diabetes yang kronis atau
akut tanpa melihat keparahan pada ulkus.
Kriteria eksklusi: pasien dalam peneltian ini yang menjadi penghalang adalah tingkat keganasan yang
bebeda, pasien dengan pengobatan dengan kortikosteroid ataupun pasien dengan pengobatan
radioterapi.
4.2 Prosedur Pelaksanaan Evidence Based PracticeProsedur pelaksanaan evidence based practice ini
adalah dengan studi kasus. Prosedur yang digunakan dalam studi kasus ini adalah dengan mencari jurnal
yang cocok dengan apa yang akan dibahas lalu mencari jurnal dengan kreteria sama yang diinginkan.
Adapun dalam studi kasus prosedur yang dilakukan adalah
Prosedur
 Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan yang akan dilakukan
 Meminta persetujuan dari pasien
 Melakukan tindakan, tindakan yang dilakukan adalah perawatan luka pada ulkus diabetikum yang
ada pada kaki. Metode tindakan perawatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah SMWT dan
NPWT.
 Setelah dilakukan tindakan SMWT dan NPWT dilakukan penilaian terhadap keefektifan 2 tindakan
tersebut
 Setelah dilakukan penilaian, lalu disimpulkan dandiperoleh kesimpulan yang dapat dijalankan untuk
melakukan tindakan yang efektif
Analisa Efektifitas Prosedural Pelaksanaan Intervensi Berdasarkan Riset
 Bukti dari penelitian ini menunjukan bahwa NPWT yang menggunakan sistem VAC
menunjukan penyembuhan ulkus diabetik. Dalam studi blume et al. Proporsi dengan
penutupan lengkap adalah secara signifikan lebih besar (P= ,007). Dalam penelitian
yang menjadi salah satu subjek peneltian menunjukan bahwa pebandingan
presentase kesembuhan menggunakan NPWT daripada SMWT adalah 56% dibanding
39%. Dalam penelitian ini juga menunjukan NPWT juga menunjukan dapat menurunkan
kolonisasi bakteri dan edema sehingga hal ini meningkatkan aliran darah kapiler dan
menghilangkan kotoran dari luka, yang dihipotesiskan untuk menunjukan pembentukan
jaringan granulasi dengan cepat untuk menutup luka. Selain itu NPWT mengurangi luas
permukaan luka dengan gaya traksi negatid dan meningkatkan aktivitas mitosis antara
sel-sel yang bertanggungjawab untuk sistesis kolagen dan resurfacing epitel. Data yang
mendukung teori dan hipotesis ini adalah pada studi akhir, rata-rata luas permukaan
menururn 20,4cm. Perbandingan NPWT dan SMWT adalah penyebuhannya 4,32cm vs
2,53 cm dan untuk waktunya 54 hari vs 84 hari. Diliht dari keefektifan untuk menghindari
komplikasi sekunder. Komplikasi sekunder yang terjadi pada ulkus diabetik pada kaki
adalah dikarenakan oleh infeksi dann kerusakan luka yang mengakibatkan amputasi.
Komplikasi yang ada pada studi ini adalah infeksi luka,selulitis, osteomielitis, edema,
dam amputasi. Pada literatur ini mencatat bahwa perbandingan kebutuhan bedah
antara SMWT dan NPWT adalah 120 banding 43 yang dapat diartikan bahwa
komplikasi terbanyak terjadi pada pasien dengan perawatan SMWT. (Alan Guffanti,
2014).
 NPWT dapat menggambarkan kerusakan, mengurangi edema
sekaligus menghilangkan zat-zat yang menjadi penular
sehingga dapat memperlancar atau mempercepat proses
granulasi penutupan luka. (Karam, 2018)
 Dari penelitian yang dilakukan telah diketahu dan dapat
disimpulkan bahwa tingkat keefektifan penggunaan NPWT lebih
besar dibandingkan penggunaan SMWT. Tingkat kecepatan
kesembuhan luka lebih cepat saat penggunaan perawatan
NPWT. (Alan Guffanti, 2014). NPWT juga merupakan terapi yang
menjanjikan penanganan yang secara signifikan
mengingkatkan faktor perumbuhan, menurunkan inflamasi
sitokin, dan aktivitas MMP didominasi. (Karam, 2018)
 NPWT terdiri atas sebuah pompa, dressing steril (granu foam),
selang suction dan botol penampung cairan (canister). Eksudat
pada luka diatasi oleh dressing yang dikombinasi oleh
kelembapan dan absorbsi yang ditujukan untuk penggunaan
pada luka erukuran sangat lebar dan menghasilkan eksudat
sedang hingga berat. dengan diatasinya eksudat yang
menyebabkan infeksi maka luka akan cepat kering dan
sembuh. (Roland Winardi Kartika, 2018)
 Alan Guffanti, 2014. Negative Pressure Wound Therapy in the Treatment of Diabetic Foot
Ulcers. American. The Wound Care
 Karam dkk, 2018. Effect of Negative Presure Wound Therapy on Molecular Markers in
Diabetic Foot Ulcers. Saudi Arabia. Elzavier.
 Lynda Hariani dan David Perdanakusuma, 2012. Perawatan Ulkus Diabetes. Surabaya.
Universitas Airlangga.
 Mukammad Tanveer Sajid ,dkk, 2015. Comparasion of Negative Pressure Wound
Therapy Using Vacum-Assisted Closure with Advance Moist Wound Therapy in the
Treatment of Diabetic Foot Ulcers. Pakistan. Journal of the College of Physicians and
Surgeons Pakistan.
 Nelly Marissa dan Nur Ramadhan, 2017. Kejadian Ulkus Berulanh Pada Pasien Diabetes
Mellitus. Aceh Besar. Loka Litbang Biomedis Aceh.
 Rizky Loviana Roza, Rudy Afriant, Zulkarnain Edward. 2015. Faktor Risiko Terjaadinya Ulkus
Diabetikum pada Pasien Diabetes Mellitus yang Dirawat Jalan dan Inap di RSUP Dr. M.
Djamil dan RSI Ibnu Sina Padang. Padang. Jurnal Kesehatan Andalas.
 Roland Winardi Kartika, 2018. Terapi ulkus Kaki Diabetes dengan NPWT (Negative
Pressure Wound Therapy). Jakarta. Kalbemed
 Suyanto, 2018. Penurunan Sensasi Kaki dan Ulkus Kaki Diabetik. Semarang. Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal.
 Vickie R. Driver, DPM, MS dan Peter A. Blume, DPM, 2014, Evaluation of Wound Care
Health-Care Use Cost in Patients with Diabetic Foot Ulcers Treated with Negative
Pressure Wound Therapy Versus Advance Moist Wound Therapy. Texas. Journal of the
American Podiatric Medical Association.