Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

OLEH : Pattiyah

Pembimbing : dr. Rina Kriswiastiny, Sp. Pd


Pendahuluan
Diare merupakan keluhan yang sering ditemukan pada
dewasa. Diperkirakan pada orang dewasa setiap tahunnya
mengalami diare akut atau gastroenteritis akut sebanyak
99.000.000 kasus. Di USA, diperkirakan 8.000.000 pasien
berobat ke dokter dan lebih dari 250.000 pasien dirawat di
rumah sakit tiap tahunnya (1,5% merupakan pasien dewasa)
yang disebabkan diare atau gastroenteritis. Berdasarkan data
WHO, angka prevalensi diare 2-3 kali lipat lebih besar pada
negara berkembang dibandingkan negara maju.
Di Indonesia penyakit diare merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat, karena tingginya angka kesakitan dan
angka kematian terutama pada balita. Berdasarkan SDKI tahun
2002 didapatkan insidens diare sebesar 11 %, 55 % dari kejadian
diare terjadi pada golongan balita dengan angka kematian diare
pada balita sebesar 2,5 per 1000 balita. Berdasarkan data
riskesdas 2013, Insiden dan period prevalence diare untuk seluruh
kelompok umur di Indonesia adalah 3,5 persen dan 7,0 persen.
(Riskesdas, 2013)
Definisi

Gastroenteritis
didefinisikan sebagai Depkes RI (2005),
inflamasi dari membran diare didefinisikan
mukosa saluran sebagai bertambahnya
pencernaan yaitu di defekasi (buang air
lambung, usus halus dan
atau usus besar. besar) lebih dari tiga
Gastroenteritis ditandai kali sehari, disertai
dengan gejala utamanya dengan perubahan
yaitu diare, muntah, konsisten tinja
mual dan kadang (menjadi cair) dengan
disertai demam dan
nyeri abdomen (Beers H. atau tanpa darah
et. al, 2003). maupun lendir.
Etiologi
Epidemiologi
Departemen Kesehatan dari tahun 2000 s/d 2010 terlihat
kecenderungan insidens naik. Pada tahun 2000 IR (incidence rate) penyakit
diare 301/ 1000 penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374 /1000 penduduk,
tahun 2006 naik menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi
411/1000 penduduk. Berdasarkan SDKI tahun 2002 didapatkan insidens
diare sebesar 11 %, 55 % dari kejadian diare terjadi pada golongan balita
dengan angka kematian diare pada balita sebesar 2,5 per 1000 balita.
Berdasarkan data riskesdas 2013, Insiden dan period prevalence diare untuk
seluruh kelompok umur di Indonesia adalah 3,5 persen dan 7,0
persen.Kejadian Luar Biasa (KLB) diare juga masih sering terjadi, dengan
CFR yang masih tinggi. Pada tahun 2008 terjadi KLB di 69 Kecamatan
dengan jumlah kasus 8133 orang, kematian 239 orang (CFR 2,94%). Tahun
2009 terjadi KLB di 24 Kecamatan dengan jumlah kasus 5.756 orang,
dengan kematian 100 orang (CFR 1,74%), sedangkan tahun 2010 terjadi KLB
diare di 33 kecamatan dengan jumlah penderita 4204 dengan kematian 73
orang (CFR 1,64 %) dengan penyebab utama kematian akibat diare adalah
tata laksana yang tidak tepat baik di rumah maupun di sarana kesehatan.
Patofisiologi
Patogenesis
Manifestasi Klinis
Penatalaksanaan Tabel 5. Skor penilaian Klinis Dehidrasi
Klinis Skor
 Rehidrasi Rasa haus/muntah 1
Tekanan darah sistolik 60-90 1
1. BJ plasma dengan rumus :
mmHg
Tekanan darah sistolik < 60 mmHg 2

2. Metode Pierce berdasarkan klinis Frekuensi nadi > 120 kali/menit 1


Kesadaran apati 1
Dehidrasi Ringan : 5% x BB (kg)
Kesadaran somnolen, spoor atau 2
Dehidrasi Sedang: 8% x BB (kg)
koma
Dehidrasi berat : 10% x BB (kg)
Frekuensi napas > 30 kali/menit 1
3. Metode Daldiyono berdasarkan skor Facies cholerica 2
Vox cholerica 2
Turgor kulit menurun 1
Washer woman’s hand 1
Bila skor kurang dari 3 dan tidak terdapat tanda syok,
maka hanya diberikan cairan peroral (sebanyak mungkin Ekstremitas dingin 1
sedikit demi sedikit). Sianosis 2
Bila skor lebih atau sama dengan 3 disertai syok maka
diberikan cairan secara intravena. Umur 50-60 tahun -1
Umur > 60 tahun -2
Pemberian cairan rehidrasi terbagi atas:
 Dua jam pertama (tahap rehidrasi awal) : jumlah total
kebutuhan cairan menurut BJ atau Daldiyono
diberikan langsung agar tercapai rehidrasi optimal
secepat mungkin.
 Satu jam berikutnya (tahap 2) pemberian diberikan
atas kehilangan cairan selama 2 jam tahap rehidrasi
awal. Bila tidak terjadi syok atau skor Daldiyono < 3
dapat diganti cairan per oral.
 Jam berikutnya pemberian cairan berdasarkan
kehilangan cairan melalui tinja dan IWL.
 Obat Antidiare
Antimotilitas. Loperamide merupakan agen pilihan pertama
(pada dewasa 4-6 mg/hari, dan 2-4 mg/hari pada anak > 8
tahun). Obat ini merupakan derivat opioid yang tidak adiktif
dan memiliki efek samping paling kecil dibandingkan dengan
tinktur maupun difenoksilat-atropin. Sebaiknya dihindari
penggunaannya pada bloody/mucoid diarrhea atau suspek
inflamasi (dengan demam). Nyeri abdomen hebat yang
mengarahkan suatu diare inflamatif termasuk kontraindikasi
untuk pemberian loperamide.
Antisekretory.Bistmuth subsalicylate bisa menurunkan
pengeluaran BAB pada anak atau gejala seperti diare, mual dan
nyeri abdomen diare pada traveler. Bistmuth subsalisilat 30 ml
atau 2 tablet tiap 30 menit sebanyak 8 dosis bermanfaat pada
beberapa pasien.
Racecadotril merupakan enkepalinase inhibitor
(nonopiat) dengan aktivitas antisekresi yang telah
mendapatkan lisensi diberbagai negara diberikan dengan dosis
3 x 100mg terutama pada diare anak dan kolera dewasa.
Probiotik. Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang
bila diberikan dalam jumlah yang adekuat akan
menguntungkan bagi kesehatan pejamu. Berbagai
penelitian menunjukkan manfaat probiotik dalam
pengobatan diare infeksi dan diare akibat pemberian
antibiotik.. Yang umum digunakan adalah kelompok
laktobasilus dan bifidobakteria.
 Antibiotika

Tabel 4. Penggunaan antibiotika dalam


terapi diare (dosis dewasa). Sumber:
PAPDI
 Diet
Pasien dengan gastroenteritis akut dianjurkan
minum-minuman sari buah, teh, makanan yang mudah
dicerna seperti pisang, nasi dan sup,kecuali pasien
muntah hebat. Susu sapi harus dihindarkan karena
adanya defisiensi laktase transien yang disebabkan oleh
infeksi vrus dan bakteri. Minuman berkafein dan
alkohol harus dhindarkan karena akan meningkatkan
motilitas dan sekresi usus.
Pencegahan
Menurut dinas kesehatan tahun 2004, terdapat 3 cara yang
dapat dilakukan untuk mencegah diare trutama pada
anak yaitu:
 Minumlah air yang direbus hingga mendidih dan makanan yang
sudah dimasak hingga matang.
 Susuilah atau beri ASI anak anda selama mungkin, disamping
makanan lainnya yang dapat diberikan sesuai dengan umur si
kecil agar jika anak sudah besar memiliki daya taha tubuh yang
kuat.
 Tetaplah memberikan ASI walaupun anak anda menderita diare.
Selain hal di atas, menyediakan sanitas dasar yang sehat
seperti air bersih, jamban yang representatif, mencuci
tangan dengan sabun antiseptik akan mengurangi insiden
penyakit diare.
Terima kasih