Anda di halaman 1dari 21

KEDAULATAN TERITORIAL

NEGARA

Huala Adolf
Pengertian
1. “Kekuasaan tertinggi (Summa Potestas) negara atas
wilayahnya”.

"Sovereignty in relation to a portion of the surface of the


globe is the legal condition necesary for the inclusion of
such portion in the territory of any particular state".
"Sovereignty in the relation between States signifies
independence. Independence in regard to a portion of the
globe is the right to exercise therein, to the exclusion of any
other State, the function of a State."
(Max Huber, The Island of Palmas case, 1928)

2
Prinsip Kepemilikan
I. Prinsip Efektivitas.
Kepemilikan negara atas suatu wilayah ditentukan oleh
berlakunya secara efektif peraturan hukum nasional di wilayah
tersebut. Indikator untuk mengetahui apakah suatu peraturan
efektif adalah ditaati dan dilaksanakannya peraturan hukum
nasional di suatu wilayah.
-> The control of the territory);
-> adanya pelaksanaan fungsi-fungsi negara di wilayah
tersebut secara damai (peaceful exercise of the functions of a
state).
ii. Prinsip Uti Possidetis.
Batas-batas wilayah suatu negara baru akan mengikuti batas-
batas wilayah dari negara yang mendudukinya.

3
ASAL MUASAL KONSEP KEDAULATAN
THE KING CAN DO NO WRONG
Hal yang mengurangi konsep
kedaulatan Raja/Negara?
1. Konstitusi
2. HAM
3. Negara masuk ke dalam
perniagaan
4. Lingkungan/Alam
5. Kewenangan ‘lembaga2 khusus’
internasional
4
CARA-CARA MEMPEROLEH WILAYAH
I. Pendudukan (Occupation)
II. Penaklukan (Annexation)
III. Akresi (Accretion/Avulsion)
IV. Preskripsi (Prescription)
V. Cessi (Cession)
VI. Plebisit (Plebiscite)
VII. Putusan Pengadilan/Arbitrase (Ajudikasi)

5
I. Pendudukan (Occupation)
-> Pendudukan terhadap terra nullius, yaitu
wialyah yang bukan dan belum pernah dimiliki
oleh suatu negara.

6
II. Penaklukan (Annexation)
 Merupakan bentuk pemilikan suatu
wilayah berdasarkan kekerasan
(penaklukan)
 Larangan penggunaan kekerasan
 Briand-Kellogg Pact
 Piagam PBB 1945

 Dewasa ini penggunaan kekerasan hanya


boleh dilakukan untuk maksud
dekolonisasi

7
III. Akresi/Avulsion

 Accretion (Akresi)
 Cara perolehan suatu wilayah baru melalui proses
alam (geografis)
 Misalnya: pembentukan pulau di mulut sungai,
avulsion (akibat dari letusan vulkanik)
 Plebicite (Plebisit)
 Pengalihan suatu wilayah melalui pilihan
penduduknya
 Dilaksanakan lewat pemilihan umum/ referendum
 Merupakan pencerminan dari prinsip self-determi-
nation (the East Timor Case, Portugal v.
Australia, 1995)
8
IV. Preskripsi (Prescription)
-> cara pemilikan suatu wilayah yang diduduki
suatu negara dalam jangka waktu lama dengan
sepengetahuan dan tanpa keberatan dari
pemiliknya.

9
V. Cessi

Pengalihan wilayah secara damai dari suatu


negara ke negara lain
Biasanya berlangsung dalam rangka suatu
perjanjian setelah usai perang
Contoh:
Treaty of Nanking (1842), Inggris – Cina:
penyerahan Hongkong sebagai koloni Inggris
Treaty of Utrecht (1713), Inggris – Spanyol:
penyerahan Gibraltar kepada Inggris

10
Bongaya
Agreement
1667
Agreement between
Sultan Hasanuddin
with Governor
General Cornelis
Speelman. After
Markasar war which
is Markasar had to
admit VOC's
sovereignty and give
up the Bone, Flores
and Sumbawa
territory.
Source: National Archive
of Indonesia
KEDAULATAN TERITORIAL ATAS WILAYAH DARAT

 Mencakup segala kekayaan yang berada


di bawah/ di atas tanah tersebut
 Termasuk di dalamnya:

Kedaulatan di wilayah perbatasan


Kedaulatan di wilayah sungai

12
VI. Plebisit (Plebiscites)
-> cara pemilikan suatu wilayah berdasarkan
keinginan atau kehendak penduduknya
biasanya setelah diadakannya pemilihan,
referendum atau cara-cara lainnya yang dipilih
penduduknya.

13
VII. Putusan Pengadilan/Arbitrase
-> cara pemilikan suatu wilayah berdasarkan
putusan suatu pengadilan. Biasanya didahului
oleh adanya sengketa di antara dua negara
atau lebih mengenai status suatu wilayah.

14
KEDAULATAN TERITORIAL ATAS WILAYAH LAUT
 Sejarah perkembangan hukum laut internasional
 Runtuhnya Kerajaan Romawi
 Mare Liberum (Grotius) v. Mare Clausum (Selden)
 Pendapat Pontanus
 Konferensi Kodifikasi Den Haag, 1930
 Laut Teritorial
 Hak lintas damai
 Jurisdiksi negara pantai di laut teritorial
 Pengejaran seketika (hot pursuit)
 Konferensi Hukum Laut I  menghasilkan 4 Konvensi
Jenewa 1958
 Konvensi tentang Laut Teritorial dan Jalur Tambahan;
Konvensi tentang Laut Lepas; Konvensi tentang Landas
Kontinen; Konvensi tentang Perikanan dan Perlindungan
Sumber Kekayaan Hayati di Laut Lepas
 Konferensi Hukum Laut II, 1960

15
LEGAL REGIMES OF THE OCEANS AND
AIRSPACE

8/9/01 42
KEDAULATAN TERITORIAL ATAS WILAYAH LAUT

 Konferensi Hukum Laut III


 Diwarnai oleh Perubahan peta bumi politik, kemajuan
teknologi, dan ketergantungan terhadap sumber daya alam
 Konsep dasar laut dalam sebagai “common heritage of
mankind” (Dr. Avid Pardo)
 Lahirnya Declaration of Principles, 1970
 Menghasilkan Konvensi Hukum Laut (UN Convention on the
Law of the Sea) 1982
 Menyangkut pengaturan di berbagai zona maritim, termasuk:
 Perairan Pedalaman

 Laut Teritorial

 Selat

 Jalur Tambahan

 Landas Kontinen

 Zona Ekonomi Eksklusif

 Laut Lepas

 Dasar Laut Dalam/ Kawasan


17
KEDAULATAN TERITORIAL ATAS WILAYAH UDARA

 “Cujus est solum, ejus est usque ad coelum”


 Konvensi Paris 1919:
 “The High Contracting States recognize that every Power
has complete and exclusive sovereignty over the air space
above its territory … and the territorial waters adjacent
thereto.”
 Konvensi Chicago 1944 (Convention on International
Civil Aviation)
 Jurisdiksi eksklusif dan wewenang negara atas ruang udara
di atas wilayahnya
 Five freedoms of the air
 Diatur dalam International Air Transport Agreement 1944

18
FIVE FREEDOMS OF THE AIR

 Terbang melintasi wilayah negara asing tanpa mendarat (fly


across foreign territory without landing)
 Mendarat untuk tujuan-tujuan komersial (land for non-
traffic purposes)
 Menurunkan penumpang di wilayah negara asing yang
berasal dari negara asal pesawat udara (disembark in a
foreign country traffic originating in the state of the origin
of the aircraft)
 Mengangkut penumpang pada lalu lintas negara asing yang
bertujuan ke negara asal pesawat udara (pick-up in a
foreign country traffic destined for the state of origin of the
aircraft)
 Melakukan pengangkutan antara dua negara asing (carry
traffic between two foreign countries)

19
TERIMA KASIH

20
.
.

21