Anda di halaman 1dari 98

DEPUTI BIDANG KOORDINASI PERCEPATAN INFRASTRUKTUR DAN PENGEMBANGAN WILAYAH

ASISTEN DEPUTI INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA AIR

BUKU SAKU
IRIGASI

KEMENTERIAN KOORDINATOR
BIDANG PEREKONOMIAN
REPUBLIK INDONESIA
The most precious gift
you can give to others is
your time and attention
Kata Pengantar
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah swt. karena atas rahmatnya Buku Saku
Irigasi 2018 telah selesai di susun. Penyusunan Buku Saku Irigasi 2018 adalah
untuk bahan informasi tentang irigasi dan kegiatan yang ada di Bidang
Pendayagunaan Sumber Daya Air, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian,
sehingga dapat menambah informasi kepada staf Asisten Deputi Infrastruktur
Sumber Daya Air. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak
yang telah berperan serta dalam penyusunan Buku Saku Irigasi 2018 ini dari awal
sampai akhir.

Jakarta, Desember 2018

Mohammad Zainal Fatah


Asisten Deputi Infrastruktur Sumber Daya Air
Happy people focus
on what they have.
Unhappy people focus
on what’s missing.
Daftar Isi (1/4)
Pendayagunaan Sumber Daya Air 1
Pengertian Irigasi 2
Sistem Irigasi 3
Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Tanaman 4
Contoh Pola Tanam (1 tahun) 5
Sistem Golongan 6
Klasifikasi Jaringan Irigasi 7
Cara Pemberian Air Irigasi 8
Tahap Perencanaan Irigasi 9
Jenis Bangunan Ukur 10
Anjuran Pemakaian Bangunan Ukur 11
Komposisi Luas Lahan Pertanian dan Irigasi Indonesia 12
Perkembangan Luas Layanan Irigasi Indonesia 13
Luas Lahan Baku Sawah Nasional 14
Ratio Sawah Beririgasi Terhadap Total Lahan Sawah 15
Ratio Sawah Berigasi Terhadap Luas Baku Daerah Irigasi 16
Sawah Beririgasi dan Produktivitas Sawah 17
Luas Panen Nasional 18
Produktivitas Lahan Nasional 19
Produksi Padi Nasional 20
Potensi Sumber Daya Air di Indonesia 21
Tantangan (Perubahan Iklim) 22
Tantangan (Degradasi Lingkungan) 23
Korelasi Curah Hujan dan Luas Tanam 24
Kapan Irigasi harus dilakukan? 25
Daftar Isi (2/4)
Koordinasi Lintas Kementerian Dalam Sistem Irigasi Untuk Kedaulatan Pangan 26
Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Irigasi 27
Permasalahan Kedaulatan Pangan 28
Kebijakan & Strategi Peningkatan Sistem Irigasi 29
Modernisasi Irigasi 30
45 Langkah Tingkatan Modernisasi Irigasi (1/5) 31
45 Langkah Tingkatan Modernisasi Irigasi (2/5) 32
45 Langkah Tingkatan Modernisasi Irigasi (3/5) 33
45 Langkah Tingkatan Modernisasi Irigasi (4/5) 34
45 Langkah Tingkatan Modernisasi Irigasi (5/5) 35
Sebaran Irigasi Permukaan di Indonesia 36
Sebaran Irigasi Rawa di Indonesia 37
Daerah Irigasi Rawa (DIR) 38
Sebaran Irigasi Air Tanah di Indonesia 39
Sebaran Irigasi Pompa di Indonesia 40
Sebaran Irigasi Tambak di Indonesia 41
Sebaran Rehabilitasi Irigasi Tahun 2015-2019 42
Potensi Pengembangan Irigasi di Indonesia sampai dengan 2020 43
Irigasi Premium Eksisting 44
Rencana Irigasi Premium 45
Irigasi Yang Masih Perlu Jaringan Tersier 46
Kondisi dan Kinerja Sistem Irigasi-2018 47
Aset Irigasi Kewenangan Daerah-2016 48
Aset Irigasi Kewenangan Daerah-2017 49
SDM Irigasi 50
Daftar Isi (3/4)
SDM Irigasi Provinsi, Kabupaten/Kota-Tenaga OP Irigasi & Rawa 51
SDM Irigasi Provinsi, Kabupaten/Kota-Tenaga OP Irigasi/ Rawa/ Tambak/ Air Tanah 52
Modernisasi Prasarana/ Infrastruktur Irigasi 53
Capaian Renstra Tahun 2018 54
Kriteria Pemilihan Proyek Prioritas 55
Kriteria Pemilihan Proyek Strategis Nasional 56
Jaringan Irigasi D.I. Lhok Guci Tahap - I (Paket 1) 57
Jaringan Irigasi D.I. Lhok Guci Tahap - I (Paket 2) 58
Jaringan Irigasi D.I. Lhok Guci Tahap - II 59
Jaringan Irigasi D.I. Jambo Aye Kanan 60
Jaringan Irigasi D.I. Lematang 61
Jaringan Irigasi D.I. Umpu Sistem (Way Besai) 62
Jaringan Irigasi D.I. Leuwigoong Kiri (19 C) 63
Jaringan Irigasi D.I. Leuwigoong Kiri (19 D) 64
Jaringan Irigasi D.I. Baliase Kanan 1 (Paket III) 65
Jaringan Irigasi D.I. Baliase Kanan 2 (Paket IV) 66
Jaringan Irigasi D.I. Gumbasa 67
Kenapa Perlu One Map ? 68
Struktur Tim Percepatan Kebijakan Satu Peta 69
Satu Peta (Daerah Irigasi & Sawah Beririgasi) 70
Target Kebijakan Satu Peta Daerah Irigasi 71
Business Process Kebijakan Satu Peta Sawah Beririgasi Nasional 72
Proses Validasi, Integrasi, Verifikasi dan Sinkronisasi 73
Logical Framework Validasi, Integrasi, dan Verifikasi Lahan Sawah 74
Logical Framework Validasi, Integrasi, dan Verifikasi Daerah Irigasi 75
Daftar Isi (4/4)
Logical Framework Sinkronisasi Daerah Irigasi Dan Lahan Sawah 76
Jenis Kasus Tumpang Tindih dan Penyelesaiannya 77
Bagan Alir Penyelesaian Overlap 78
Trendline Pengiriman Data Delineasi Daerah Irigasi 79
Progres Hasil Delineasi Daerah Irigasi 80
PENGEMBANGAN &
PENGELOLAAN IRIGASI
You are never too old
to set another goal or
to dream a new dream
1

Pendayagunaan Sumber Daya Air


SUMBER AIR DISTRIBUSI PEMANFAATAN
DANAU PERTANIAN /
PERKEBUNAN

SUNGAI
PERDESAAN
BENDUNG /
BANG.
RAWA PENGAMBILAN JARINGAN
IRIGASI
PERKOTAAN

PANTAI
WADUK / PERINDUSTRIAN
AIR EMBUNG
HUJAN WATER
SUMUR AIR TREATMANT
TANAH PLAN RUMAH
MATA AIR/
(WTP) TANGGA
AIR TANAH

Sumber : Asdep ISDA, Kemenko Perekonomian


2

Pengertian
Irigasi
usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air irigasi untuk
menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi
rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak
(PP Irigasi Nomor 20 Tahun 2006)
3

Sistem Irigasi

Sumber air diambil dari air Memanfaatkan peristiwa Biaya eksploitasi besar,
yang ada di permukaan burni pasang-surut air laut. Air sumber air dapat diambil dari
(sungai, waduk dan danau di genangan yang berupa air sungai atau air tanah.
dataran tinggi). Pengaturan tawar dari sungai akan Sistem irigasi ini
dan pembagian air irigasi menekan dan mencuci dipertimbangkan, apabila
menuju ke petak-petak yang kandungan tanah sulfat pengambilan secara gravitatif
membutuhkan, dilakukan masam dan akan dibuang ternyata tidak layak dari segi
secara gravitatif pada saat air laut surut ekonomi maupun teknik

Gravitasi Pasang surut Pompa

Sumber : Sidharta, 1997


4

Faktor Yang Mempengaruhi


Kebutuhan Tanaman
Topografi
lahan miring membutuhkan air lebih banyak dari pada lahan datar, karena air akan
lebih cepat mengalir menjadi aliran permukaan dan hanya sedikit yang mengalami
infiltrasi, kehilangan air di lahan miring akan lebih besar.

Hidrologi
Makin banyak curah hujan, makin sedikit kebutuhan air tanaman, hal ini
dikarenakan hujan efektif akan menjadi besar.

Klimatologi
Tanaman tidak dapat bertahan dalam cuaca buruk. Dengan memperhatikan
keadaan cuaca dan cara pemanfaatannya, maka dapat dilaksanakan penanaman
tanaman yang tepat untuk periode yang tepat dan sesuai dengan keadaan tanah.

Tekstur tanah
Tanah yang baik adalah tanah yang mudah dikerjakan dan bersifat produktif serta
subur. Tanah yang baik akan memberikan kesempatan pada akar tanaman untuk
tumbuh dengan mudah, menjamin sirkulasi air dan udara serta baik pada zona
perakaran dan secara relatif memiliki hara dan kelembaban tanah yang cukup.
Sumber : Sidharta, 1997
5

Air Banyak
Padi - Padi - Palawija

Contoh
Pola Air Cukup
Tanam Padi - Padi – Bera*
Padi - Palawija - Palawija

(1 tahun)
Air Kurang
Padi - Palawija – Bera
Palawija - Padi - Bera

*Bera adalah tanah yang dibiarkan tidak ditanami agar kembali kesuburannya Sumber : Sidharta, 1997
6

Sistem
Golongan
Pada saat-saat dimana air
tidak cukup untuk memenuhi Timbulnya komplikasi
Berkurangnya kebutuhan
kebutuhan air tanaman sosial
dengan pengaliran menerus, pengambilan puncak
Eksploitasi lebih rumit
maka pemberian air tanaman Kehilangan air akibat
dilakukan secara bergilir. Kebutuhan pengambilan
ekspoitasi sedikit lebih
Dalam sistem pemberian air bertambah secara
secara bergilir ini, permulaan tinggi
berangsur-angsur pada
tanam tidak serentak, tetapi Jangka waktu irigasi
awal waktu pemberian air
bergiliran menurut jadwal untuk tanaman pertama
irigasi (pada periode
yang ditentukan, dengan lebih lama, akibatnya
maksud penggunaan air lebih penyiapan lahan)
lebih sedikit waktu
efisien. Sawah dibagi tersedia untuk tanaman
menjadi golongan-golongan
kedua
dan saat permulaan
pekerjaan sawah bergiliran Daur/siklus gangguan
menurut golongan masing- serangga, pemakaian
masing insektisida
Sumber : Sidharta, 1997
7

Klasifikasi Jaringan Irigasi


Uraian Jaringan Irigasi Sederhana Jaringan Irigasi Semi Teknis Jaringan Irigasi Teknis

Bangunan permanen atau


Bangunan Utama Bangunan sementara Bangunan permanen
semi permanen
Kemampuan bangunan dalam
Jelek Sedang Baik
mengukur dan mengatur debit
Sal. Irigasi dan pembuang jadi Sal. Irigasi dan pembuang Sal. Irigasi dan pembuang
Jaringan saluran
satu tidak terpisah sepenuhnya terpisah
Belum dikembangkan
Belum ada jaringan yang
Petak tersier sepenuhnya/ bang. Tersier Dikembangkan sepenuhnya
dikembangkan
jarang

Efisiensi secara keseluruhan < 40% 40-50% 50-60%

Ukuran < 500 ha Sampai 2.000 ha Tidak ada batasan

Jalan usaha tani Tidak ada Hanya sebagian areal Ada keseluruhan areal

Kondisi O&P Tidak ada Belum teratur Ada

Sumber : KP 01 – Jaringan Irigasi, 2013


8

Cara Pemberian Air Irigasi


Cara pemberian air irigasi tergantung pada kondisi tanah, keadaan topografi,
ketersediaan air, jenis tanaman, iklim, kebiasaan petani dan pertimbangan lain

Permukaan tanah
pemberian air irigasi melalui permukaan tanah

Bawah permukaan tanah


pemberian air irigasi yang menggunakan pipa dengan sambungan terbuka atau
berlubang-lubang, yang ditanam 30 - 100 cm di bawah permukaan tanah

Pancaran
cara pemberian air irigasi dalam bentuk pancaran dari suatu pipa berlubang yang
tetap atau berputar pada sumbu vertikal. Air dialirkan ke dalam pipa dan areal diairi
dengan cara pancaran seperti pemancaran pada waktu hujan

Tetesan
pemberian air melalui pipa, dimana pada tempat-tempat tertentu diberi
perlengkapan untuk jalan keluarnya air agar menetes pada tanah

Sumber : Sidharta, 1997


9

Tahap Perencanaan Irigasi


S – Survey (Pengukuran/Survei)

I – Investigation (Penyelidikan)

D – Design (Perencanaan Teknis)

La – Land acquisition (Pembebasan Tanah)

C – Construction (Pelaksanaan)

O – Operation (Operasi)

M – Maintenance (Pemeliharaan)
Sumber : KP 01 – Jaringan Irigasi, 2013
10

Jenis Bangunan Ukur


Tipe Mengukur dengan Mengatur
Bangunan ukur ambang lebar Aliran Atas Tidak

Bangunan ukur Parshall Aliran Atas Tidak

Bangunan ukur Cipoletti Aliran Atas Tidak

Bangunan ukur Romijn Aliran Atas Ya

Bangunan ukur Crump-de Gruyter Aliran Bawah Ya

Bangunan sadap pipa sederhana Aliran Bawah Ya

Constant-Head Orifice (CHO) Aliran Bawah Ya

Cut Throat Flume Aliran Atas Ya

Sumber : KP 01 – Jaringan Irigasi, 2013


11

Anjuran Pemakaian
Bangunan Ukur Untuk mengatur dan
mengukur aliran dipakai alat
ukur Romijn atau jika fluktuasi
di saluran besar dapat dipakai
alat ukur Crump-de Gruyter.
Di petak-petak tersier kecil
disepanjang saluran primer
dengan tinggi muka air yang
Pintu Romijn dan pintu bervariasi dapat
Crump-de Gruyter dipakai dipertimbangkan untuk
untuk mengukur dan mengatur memakai bangunan sadap
aliran. Bila debit terlalu besar, pipa sederhana, di lokasi yang
Untuk aliran besar alat ukur maka alat ukur ambang lebar petani tidak bisa menerima
ambang lebar dipakai untuk dengan pintu sorong atau bentuk ambang sebaiknya
pengukuran dan pintu sorong radial bisa dipakai seperti dipasang alat ukur parshall
atau radial untuk pengatur untuk saluran primer atau cut throat flume.

Hulu Bangunan bagi Bangunan


Saluran Primer bangunan sadap sadap
sekunder tersier
Sumber : KP 01 – Jaringan Irigasi, 2013
12

Komposisi Luas Lahan Pertanian dan Irigasi Indonesia

4.8 Juta Ha
SAWAH
8.1 Juta Ha
SAWAH

9.1 Juta Ha
BERIRIGASI
(4.8jt Ha)
LUAS BAKU
SAWAH IRIGASI
TADAH HUJAN LUAS SAWAH
(3.3jt Ha) (Permen BERIRIGASI =
PUPR LUAS IRIGASI
LUAS
LUAS LAHAN PERTANIAN

11.8 Juta Ha

No. 14/2015) IRIGASI FUNGSIONAL


POTENSIAL ?!?!?
TEGAL/KEBUN
39.3 Juta Ha

5.2 Juta Ha

LADANG/HUMA
14.2 Juta Ha

Penambahan Luas IRIGASI


LAHAN YANG FUNGSIONAL dilakukan melalui :
SEMENTARA
TIDAK
• Pembangunan Saluran Tersier
DIUSAHAKAN • Pencetakan Sawah
Sumber :
Statistik Lahan Pertanian (2014) dan Permen PUPR 14/2015)
13

Perkembangan Luas Layanan Irigasi Indonesia


8 Areal layanan
7 6.722 6.722 6.722 irigasi meningkat
lebih 2x lipat
6 dibanding periode
5.01 awal
5
kemerdekaan.
Juta (Ha)

4
3.38
95% produksi
3
2.41 beras Indonesia
2 berasal dari
lahan-lahan
1 beririgasi.
0
1915 1939 1998 2005 2010 2016

Sumber: BAPPENAS, diolah dari Irigasi Kelembagaan dan Ekonomi, Effendi Pasandaran & Donald C. Taylor (1988),
FAOSTAT (2016) dan Kementerian PU (2010)
14

Luas Lahan Baku Sawah Nasional


Alih fungsi lahan:
8,132,342
8,087,393
• 20122015 =
44,949 Ha
• 20152018 =
982,249 Ha
• 20122018 =
1,027,198 Ha
Ha

perlu menjaga
7,105,144 luas lahan untuk
produksi pangan,
mengacu pada
angka
pertumbuhan
penduduk yang
butuh pangan.
Audit lahan 2012 Luas lahan sawah (BPS Kepmen ATR/BPN 2018
Kementerian Pertanian 2015)
15

Ratio Sawah Beririgasi Terhadap Total Lahan Sawah


Pulau Jawa memiliki rata-rata Ratio Sawah Beririgasi terhadap Lahan Sawah tertinggi di Indonesia
(79%) sedangkan Pulau Kalimantan terendah (16%)
Pulau Sumatra Jawa, Bali, NTT, NTB Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua
Sawah irigasi/lahan sawah = 52% Sawah irigasi/lahan Sawah irigasi/ Sawah irigasi/lahan Sawah irigasi/lahan
Sawah = 76% lahan sawah sawah = 76% sawah = 82%
= 20%

97% 99.67%
91%
83% 84% 85% 86%
81% 80% 81% 83% 82%
78% 79%
72% 74%
71%
66% 66%
62%
58%
62% 60% 59% Rata-rata
54% 56%
52% Nasional

36%
30%
27%
23%
18%
14%
11% 9%

Indonesia

Provinsi dengan rasio di bawah rata-rata

Sumber : Statistik Lahan Pertanian, Kementan (2014)


16

Ratio Sawah Berigasi Terhadap Luas Baku Daerah Irigasi


Pulau Jawa memiliki rata-rata Ratio Sawah Beririgasi terhadap Luas Baku Daerah Irigasi tertinggi
di Indonesia (74%) sedangkan Pulau Kalimantan terendah (15%)
Pulau Sumatra Jawa, Bali, NTT,NTB Kalimantan Sulawesi Maluku & Pap
Sawah irigasi/DI = 40% Sawah irigasi/DI = 74% Sawah irigasi/DI Sawah irigasi/DI = ua
= 15% 55% Sawah irigasi/
DI = 28%

85% 86% 86%


78%
70% 71%
65%
60% 58%
55% 54% 56% Rata-rata
51% 49% 49% 53% Nasional
48%
47% 41% 38% 39%
32%
29%
21% 19% 21%
16% 16%
11%12%14%
6% 8% 6%

Indonesia

Provinsi dengan rasio di bawah rata-rata

Sumber : Statistik Lahan Pertanian, Kementan (2014)


17

Sawah Beririgasi dan Produktivitas Sawah


Kuadran 1 :
10 pemanfaatan lahan sub-optimal (ratio
9
1 2 DI Yogyakarta lahan beririgasi rendah dan produktivitas
tinggi)
8
Jawa
7
Banten Jawa Timur Jawa Barat Kuadran 2 :
Tengah Sulawesi Utara pemanfaatan lahan optimal (ratio lahan
Lampung
6 Sumatera Barat beririgasi tinggi dan produktivitas tinggi)
Produktivitas

Sulawesi Selatan Gorontalo Bali


Sumatera Utara Nusa Tenggara Barat
5
Aceh Maluku Kuadran 3 :
Sumatera Sulawesi Utara Maluku
4 3 Selatan Kalimantan 4 Barat pemanfaatan lahan sub-optimal (ratio
Timur NTT Bengkulu
3
Kalimantan
Sulawesi Sulawesi Tengah lahan beririgasi tinggi tapi produktivitas
Selatan
Kalimantan
Jambi Tenggara rendah)
2 Kepulauan Papua
Kalimantan Barat Papua
Kalimantan Riau Barat
Tengah
1
Riau Utara Kuadran 4 :
Kepulauan
Bangka Belitung pemanfaatan lahan tidak optimal (ratio
0 lahan beririgasi rendah dan produktivitas
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%
rendah)
Proporsi Sawah Beririgasi / Lahan Sawah

Banyak daerah dengan proporsi sawah beririgasi cukup tinggi namun produktivitas sawah rendah
 indikasi kerusakan irigasi
Sumber : Asdep Infrastruktur Sumber Daya Air, Kemenko Perekonomian (2018)
18

Luas Panen Nasional


16,000,000

14,000,000

12,000,000

10,000,000
Ha

8,000,000

6,000,000

4,000,000

2,000,000

-
2007 (ATAP) 2008 (ATAP) 2009 (ATAP) 2010 (ATAP) 2011 (ARAM II)
Jawa 5,670,947 5,742,270 6,093,603 6,358,521 6,519,771
Luar Jawa 6,476,690 6,585,155 6,789,973 6,894,929 7,046,827
Indonesia 12,147,637 12,327,425 12,883,576 13,253,450 13,566,598
Sumber: BPS
19

Produktivitas Lahan Nasional


80.00

70.00

60.00
kuintal/Ha

50.00

40.00

30.00

20.00
2007 (ATAP) 2008 (ATAP) 2009 (ATAP) 2010 (ATAP) 2011 (ARAM II)
Jawa 53.72 56.33 57.24 57.21 56.49
Luar Jawa 41.21 42.49 43.47 43.65 44.32
Indonesia 47.05 48.94 49.99 50.15 50.17
Sumber: BPS
20

Produksi Padi Nasional


80,000,000

70,000,000

60,000,000
Ton

50,000,000

40,000,000

30,000,000

20,000,000
2007 (ATAP) 2008 (ATAP) 2009 (ATAP) 2010 (ATAP) 2011 (ARAM II)
Jawa 30,466,339 32,346,997 34,880,131 36,374,771 36,831,357
Luar Jawa 26,691,096 27,978,928 29,518,759 30,094,623 31,230,358
Indonesia 57,157,435 60,325,925 64,398,890 66,469,394 68,061,715
Sumber: BPS
21

Potensi Sumber Daya Air di Indonesia


Ketersediaan Sumber Daya Pemanfaatan Sumber Daya
Air di Indonesia Air di Indonesia
(x 106 m3/th) (x 106 m3/th)
6.4

175.1 27.7

516.2
141
BARU 25% POTENSI
SUMBER DAYA AIR YANG
Termanfaatkan SUDAH DIMANFAATKAN Pertanian
Industri
Belum dimanfaatkan
Domestik
Sumber: Puslitbang SDA (2012) dan Roadmap CC Water Sector (2011)
22

Tantangan (Perubahan Iklim)


Potensi Bahaya Penurunan Ketersediaan Air
Wilayah sungai yang masuk pada kondisi “Ada
Kelangkaan (Scarcity)” yaitu wilayah sungai (WS)
Kepulauan Seribu, WS Brantas, WS Serayu-Bogowonto,
dan WS Welang-Rejoso. Wilayah sungai yang masuk pada
kondisi “Ada Tekanan (Stress)” yaitu WS Bengawan Solo,
WS Citarum, WS Jratunseluna, WS Pemali-Comal, WS
Progo-Opak-Serang, WS Wiso-Gelis, WS Kepulauan
Karimunjawa, dan WS Kepulauan Madura

Sumber: BalitbangSDA

• Terjadi penurunan dan peningkatan jumlah curah


hujan 1 – 4 % pada periode yang berbeda
• Potensi penurunan ketersediaan air di wilayah Nusa “Kinerja jaringan irigasi sangat
Tenggara, Jawa, Maluku bagian Utara dan Sumatera
bagian Utara lebih besar pada periode 2020 – 2034
tergantung wilayah sungai“
Sumber: kaji ulang Rencana Aksi Nasional Adaptasi
Perubahan Iklim (RAN-API), 2018
23

Tantangan (Degradasi Lingkungan)

RAN-GRK* INDC*
2020 2030
1,4% 26% 8,9% 29%

Perpres No. 61/2011


Paris Agreement
*Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca
**Intended Nationally Determined Contribution

• Perubahan lahan terutama di daerah hulu (hutan) Dari intervensi kebijakan yang direncanakan saat ini
yang berakibat terhadap berkurangnya sumber- untuk menurunkan emisi GRK pada tahun 2020 dan
sumber air, kondisi ini terjadi di Pulau Jawa dan Bali; 2030 belum memenuhi target 26% dan 29%. Untuk itu,
• Pembukaan lahan-lahan pertanian baru di daerah diperlukan penambahan bentuk intervensi kebijakan
hulu yang tidak sesuai dengan RTRW. lainnya untuk mencapai target penurunan emisi yang
telah ditetapkan.

Sumber: kaji ulang Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API), 2018
24

Korelasi Curah Hujan dan Luas Tanam

Apabila curah hujan Mei dan Juni di bawah normal, maka potensi penanaman akan berkurang antara 0,36 - 0,77% di bawah
rata-rata jangka panjang.
Periode Mei dan Juni puncak musim tanam padi kedua (yang menyumbang sepertiga produksi beras tahunan Indonesia)

(Sumber: Analisis 2001-2017 oleh WFP, 2018)


25

Kapan Irigasi harus dilakukan?

Jan Feb Marc h April May June July Aug Sept Oct Nov Dec
Rainy season normal c y c le Rain Dry Dry Dry Rain
Grow Harvest Sow
Delay s ------------>>
Rainy season delay ed c y c le Sow Grow Harvest Sow
Rain Dry Dry Dry Rain

Jan Feb Marc h April May June July Aug Sept Oct Nov Dec
Dry season normal c y c le Rain Dry Dry Dry Rain
Sow Grow Harvest
Delay s ------------>>
Dry season delay ed c y c le Sow Grow Harvest
Rain Dry Dry Dry Rain

Crops at risk
26
Koordinasi Lintas Kementerian
Dalam Sistem Irigasi Untuk Kedaulatan Pangan
27

Pembagian Urusan Pemerintahan


Bidang Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Irigasi
(PP 20/2006 tentang Irigasi)
100.00% 12.50%
18.75%
80.00% 12.50%
18.75%

60.00%

75.00% Kab/ Kota


40.00%
62.50% Provinsi
Pusat
20.00%

0.00%

Pengembangan (BANG)
 pembangunan jaringan irigasi baru dan/atau peningkatan jaringan irigasi yang sudah ada

Pengelolaan (KEL)
 operasi, pemeliharaan, dan rehabilitasi jaringan irigasi di daerah irigasi
28

Permasalahan Kedaulatan Pangan


1. Terbatasnya lahan 2. Produktivitas usaha tani
pertanian yang dimiliki setiap serta dukungan ketersediaan
kepala keluarga petani benih dan pupuk (hanya 20%
(rerata 0.3 ha/kk petani) lahan yang ditanami selama
dua kali setahun)

3. Teknologi yang kurang 4. Sistem irigasi belum


memadai (cara teknologi terintegrasi dan kondisi fisik
tradisional mengakibatkan jaringan irigasi cenderung
produksi masih terbatas) menurun
29

Kebijakan & Strategi Peningkatan Sistem Irigasi


Mendukung Ketahanan Pangan

KOMPONEN KEBIJAKAN STRATEGI SASARAN


1. MANAJEMEN Meningkatkan Manajemen a) Melaksanakan O & P Partisipatif. a) Program O&p Partisipastif 283
Sistem Irigasi b) Meningkatkan Kinerja Kelembagaan Daerah Irigasi Permukaan Seluas
Irigasi 2,376 Juta Ha
b) Meningkatnya kinerja komisi irigasi
di 283 daerah irigasi (DI)
c) Pemberdayaan P3A di 283 Daerah
irigasi
d) Audit kinerja irigasi 2,37 juta ha,
termasuk tersier 283 Daerah Irigasi
(2016-2018)
2. PRASARANA Meningkatkan Keandalan a) Membangun, Meningkatkan, dan a) Pembangunan Jaringan Irigasi Baru
Jaringan Irigasi Merehabilitasi Jaringan Irigasi 1 Jt Ha
b) Meningkatkan Dukungan Terhadap b) Rehabilitasi Jaringan Irigasi 3 Juta
Keandalan Jaringan Irigasi Ha
Kewenangan Daerah Melalui DAK c) Tersedianya DAK Irigasi Sesuai
c) Sinkronisasi Program Dengan Kebutuhan Nyata
Kementerian Pertanian Tentang d) Terlaksananya Cetak Sawah dan
Cetak Sawah dan Tersier Jaringan Tersier Pada Jaringan
Utama Terbangun
3. AIR Meningkatkan Keandalan Pembangunan Waduk/Embung Dalam Pembangunan waduk baru 49
Ketersediaan Air Rangka Peningkatan Kapasitas buah dan on going 16 buah
Tampungan Air (selesai s/d 2019 : 29 waduk)
Sumber : Direktorat Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum, 2018
30

Modernisasi Irigasi Indikator modernisasi irigasi di


 Peningkatan keandalan Indonesia
penyediaan air irigasi  Peningkatan produktifitas air
 Perbaikan sarana dan  Peningkatan pelayanan
prasarana irigasi irigasi (kecukupan,
MODERNISASI IRIGASI
 Penyempurnaan sistem keandalan, keadilan, dan
pengelolaan irigasi kecepatan pelayanan)
 Penguatan institusi  Peningkatan efisiensi irigasi

MANAJEMEN

KELEMBAGAAN
INFRASTRUKTUR
SUPLAI

SDM
pengelola irigasi  Pengurangan biaya OP
 Pemberdayaan sumber  Peningkatan pengembalian
daya manusia pengelola biaya OP (OM cost
irigasi recovery)
 Peningkatan keberlanjutan
pembiayaan (financial
sustainability)
 Berkurangnya perselisihan
 Berkurangnya kerusakan
lingkungan (environment
degradation)
31

45 Langkah Tingkatan Modernisasi Irigasi (1/5)

Harmonisasi
Hubungan
Hulu Hilir

Menjaga
kelestarian
Tambahan
lingkungan,
Pasokan
Pilar I DAS dan
Air
Saluran
Keandalan Irigasi
Ketersediaan
Air

Penyediaan
dan
penyimpanan Alokasi Air
air

Sumber : Tim Modernisasi Irigasi, Kementerian PUPR


32

45 Langkah Tingkatan Modernisasi Irigasi (2/5)

Identifikasi
bendungan,
reservoir,
Identifikasi waduk, long
storage Identifikasi
prasarana
bangunan
tingkat
utama
tersier

Identifikasi
Pilar II
Prasarana/ Identifikasi
fasilitas bangunan
pendukung
OP
Infrastruktur alat ukur
irigasi
Identifikasi
Identifikasi saluran
bangunan pembawa
pelengkap dan
Identifikasi pembuang
bangunan

Sumber : Tim Modernisasi Irigasi, Kementerian PUPR


33

45 Langkah Tingkatan Modernisasi Irigasi (3/5)


•Sistim operasional irigasi
•Kebutuhan air
•Alokasi dan distribusi air serta
penilaian secara periodik
•Identifikasi kehilangan air
•Periode assessment dan operasi
pintu
•Penyempurnaan system blangko
•Pembagian dan Pemberian air
Pilar III •Produktivitas air
•Monitoring pengelolaan air
Pengelolaan •Sistem kendali aliran air
•Sistem pengaliran air
irigasi •Penggunaan air
•Perhitungan modul drainase
•Identifikasi fasilitas OP
•Identifikasi peralatan, sarana
sistem manajemen informasi OP
berbasis IT
•Pengelolaan air di tingkat tersier
•Sistem pembiayaan
•Partisipasi
Sumber : Tim Modernisasi Irigasi, Kementerian PUPR
34

45 Langkah Tingkatan Modernisasi Irigasi (4/5)

Komisi irigasi

Tim Unit pengelola


Modernisasi irigasi modern
Irigasi Pusat (UPIM)

Pilar IV
P3A/
GP3A/
Kelembagaan Satuan Tugas
Penyuluhan
IP3A Pengelola pengairan
Irigasi

Satuan tugas
Satuan tugas pemelihara
pengaman khusus
irigasi (SPI) mobile
Satuan tugas (SPKM)
Knowledge
Management
Center

Sumber : Tim Modernisasi Irigasi, Kementerian PUPR


35

45 Langkah Tingkatan Modernisasi Irigasi (5/5)

Status dan
Jabatan

Pendidikan,
Pemberdayaan pelatihan,
P3A/GP3A/IP3A dan
Sertifikasi

Pilar V
SDM
Pengadaan/
Sistem Rekruitment
insentif / SDM Non
remunerasi PNS dan
Manajement

Karier
planning

Sumber : Tim Modernisasi Irigasi, Kementerian PUPR


36

Sebaran Irigasi Permukaan di Indonesia


7,12 juta Ha ; 48 ribu Daerah Irigasi Permukaan (DI)

NAD: Kaltim: Kalsel:


363,292 Ha 80,018 Ha 115,481 Ha Gorontalo:
Kalbar: 40,947 Ha
Sumut: Kaltara: Malut:
92,632 Ha
42,405 Ha 26,739 Ha 54,426 Ha
Sulteng: Sulut:
Riau: Kalteng: 158,083 Ha 81,461 Ha
24,269 Ha 15,460 Ha Papua barat:
Jambi: 30,047 Ha
49,767 Ha
Sumbar: Sumsel:
364,306 Ha 197,685 Ha
Babel:
Bengkulu: 14,069 Ha
106,606 Ha

Lampung: Sulbar:
Jateng: Jatim: 70,805 Ha Maluku:
333,201 Ha
953,804 Ha 934,683 Ha Sultra: 68,723 Ha
Banten:
198,368 Ha NTB: 148,279 Ha
Sulsel:
230,759 Ha
Jabar: 581,692 Ha
850,044 Ha Papua:
DIY: 26,056 Ha
NTT:
64,433 Ha Bali:
348,557 Ha
106,601 Ha

Sumber : Permen PUPR No. 14 Tahun 2015


37

Sebaran Irigasi Rawa di Indonesia


1,64 juta Ha ; 2,22 ribu Daerah Irigasi Rawa (DIR)

NAD: Kaltim:
5,724 Ha Kaltara:
35,257 Ha
Kalbar: 26,739 Ha
Sumut:
178,862 Ha
78,871 Ha Kalteng:
Sulteng:
Riau: 342,402 Ha
11,500 Ha
189,371 Ha Papua barat:
800 Ha
Kep. Riau:
5,724 Ha
Sumbar:
19,720 Ha
Babel:
Bengkulu: 32,017 Ha
4,389 Ha
Jambi:
50,340 Ha Jateng:
Sumsel: 1,556 Ha Kalsel:
Sultra:
326,041 Ha 238,122 Ha
27,808 Ha
Lampung: Sulsel:
52,573 Ha 4,394 Ha
Papua:
16,797 Ha

Sumber : Permen PUPR No. 14 Tahun 2015


38
Daerah Irigasi Rawa (DIR)

Best Practices Challenges

 DIR Bunga Raya (Riau)  Pemeliharaan tanggul

 DIR Telang (Sumsel)  Manajemen tata air

 DIR Blanti (Kalteng)  Pemberdayaan P3A

 DIR Sebakung (Kaltim)  Dukungan pemerintah

 DIR Danda Besar (Kalsel) berupa kebijakan dan

 DIR Merauke (Papua) pendanaan

Sumber : Direktur Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum (2018)


39

Sebaran Irigasi Air Tanah di Indonesia


113,69 ribu Ha ; 6,6 ribu Daerah Irigasi Air Tanah (DIAT)

NAD:
1,858 Ha Gorontalo:
Sumut: 3,277 Ha
1,139 Ha
Sulteng: Sulut:
1,873 Ha 13,747 Ha

Sumbar:
1,064 Ha

Lampung: Jatim: Maluku:


2,857 Ha 45,288 Ha Sultra: 57 Ha
NTB:
148,279 H
7,767 Ha Sulsel:
Jabar: a
3,135 Ha
5,722 Ha Papua:
DIY: 345 Ha
NTT:
6,550 Ha
7,413 Ha
Bali:
2,729 Ha
Sumber : Kepmen PUPR No. 293 Tahun 2014
40

Sebaran Irigasi Pompa di Indonesia


44,23 ribu Ha ; 45 Daerah Irigasi Pompa (DIP)

Jatim: Kalsel:
6,175 Ha 5,987 Ha
Banten:
1,283 Ha

Papua:
DIY: 30,740 Ha
45 Ha

Sumber : Permen PUPR No. 14 Tahun 2015


41

Sebaran Irigasi Tambak di Indonesia


189,74 ribu Ha ; 332 Daerah Irigasi Tambak (DIT)

NAD:
Kaltara: Kaltim:
19,644 Ha
Kalbar: 2,738 Ha 4,246 Ha
1,350 Ha

Kalteng:
1,000 Ha

Sulbar:
Jateng: Jatim: 17,500 Ha
6,295 Ha 13,806 Ha
Banten:
14,279 Ha Sulsel:
Jabar: 58,273 Ha
15,921 Ha

Sumber : Permen PUPR No. 14 Tahun 2015


42

Sebaran Rehabilitasi Irigasi Tahun 2015-2019


Total Sasaran: 3 juta Ha
NAD: Kaltim & Kaltara: Kalsel:
35,659 Ha 69,038 Ha 141,225 Ha Gorontalo:
Kalbar: 16,770 Ha
Sumut: Malut:
128,537 Ha
138,346 Ha 30,555 Ha
Sulteng: Sulut:
Riau: Kalteng: 36,459 Ha 35,870 Ha
33,650 Ha 109,236 Ha Papua barat:
Kep.Riau: 25,627 Ha
1,500 Ha
Sumsel:
Sumbar:
252,399 Ha
64,700 Ha
Babel:
Bengkulu: 17,179 Ha
41,252 Ha
Jambi:
85,349 Ha Sulbar:
Jateng: Jatim: 47,430 Ha Maluku:
Lampung: 272,127 Ha 274,167 Ha Sultra: 55,323 Ha
52,133Ha
176,948 Ha NTB: 24,898 Ha
Sulsel:
78,962 Ha
Jabar: 274,429 Ha
317,885 Ha Papua:
DIY: 47,939 Ha
NTT:
39,903 Ha Bali:
46,412 Ha
47,550 Ha

Sumber : Direktur Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum (2018)


43

Potensi Pengembangan Irigasi


di Indonesia s.d. 2020 10.865.200 Ha
NAD: Kaltim: Kalsel:
263.100 Ha 1.257.200 Ha 821.200 Ha Gorontalo & Sulut:
Kalbar: 68.200 Ha
Sumut: Malut & Maluku:
1.135.900 Ha
366.600 Ha Kalteng: 363.900 Ha
Sulteng:
Riau & Kepri: 478.300 Ha
135.200 Ha
875.800 Ha Papua barat & Papua:
2.160.200 Ha

Sumbar: Jambi:
283.600 Ha 500.400 Ha

Bengkulu:
117.800 Ha
Sumsel & Babel:
Lampung: 1.274.200 Ha
290.700 Ha
Sultra:
NTB: 173.600 Ha
Sulse & Sulbar:
6.400 Ha
Jabar: 146.600 Ha
62.300 Ha
NTT:
50.400 Ha

Sumber: Direktorat Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum (2011)


dari JICA - FIDP (FORMULATION OF IRRIGATION DEVELOPMENT PROGRAM-1993)
44

Irigasi Premium Eksisting


761,542 Ha

Kalimantan
1 Waduk Sulawesi
1 Daerah Irigasi 5 Waduk
Luas Irigasi 7,311 Ha 5 Daerah Irigasi
Luas Irigasi 33,564 Ha

Sumatera Nusa Tenggara


3 Waduk Bali 9 Waduk
3 Daerah Irigasi 2 Waduk 9 Daerah Irigasi
Luas Irigasi 117,751 Ha 2 Daerah Irigasi Luas Irigasi 25,971 Ha
Luas Irigasi 3,000 Ha

Jawa
18 Waduk
26 Daerah Irigasi
Luas Irigasi 573,925 Ha
Sumber : Paparan Direktur Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum (2018)
45

Rencana Irigasi Premium


65 Waduk baru, Selesai pada akhir 2022
416,961 Ha

Kalimantan
4 Waduk Sulawesi
3 Daerah Irigasi 8 Waduk
Luas Irigasi 25,479 Ha 7 Daerah Irigasi Maluku & Papua
Luas Irigasi 53,088 Ha 2 Waduk
2 Daerah Irigasi
Luas Irigasi 9,676 Ha

Sumatera
11 Waduk Bali & NT
8 Daerah Irigasi 15 Waduk
Luas Irigasi 78,388 Ha 13 Daerah Irigasi
Luas Irigasi 37,231 Ha
Jawa
25 Waduk
22 Daerah Irigasi
Luas Irigasi 213,099 Ha
Sumber : Paparan Direktur Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum (2018)
46

Irigasi Yang Masih Perlu Jaringan Tersier


Kaltim: Kalsel:
13.260 Ha 9,159 Ha Gorontalo:
Kalbar: 13,225 Ha
1.660 Ha Malut:
Kalteng: 5.003 Ha
Riau: 6,718 Ha
1.000 Ha Papua barat:
Jambi: 13.026 Ha
1,200 Ha
Sumbar: Sumsel:
8,362 Ha 1,753 Ha

Bengkulu:
4.919 Ha

Maluku:
Sultra: 13.773 Ha
NTB: 6.963 Ha
10.159 Ha
Jabar:
6,327 Ha
NTT:
DIY:
5.471 Ha
1,100 Ha

Sumber :Kementerian Pekerjaan Umum (2018)


47

Kondisi dan Kinerja Sistem Irigasi-2018

KONDISI FISIK
JARINGAN IRIGASI 1% Kinerja Sangat
1%
21% Baik
5%
30% Kinerja Baik
31% Baik Sekali
Baik
Sedang Kinerja Kurang
dan Perlu
Kurang Perhatian
63%
48% Kinerja Jelek dan
Perlu Perhatian

KINERJA
Sumber : Direktorat Jendral Sumber Daya Air, Kemen PUPR, 2018 SISTEM IRIGASI
48

Aset Irigasi Kewenangan Daerah


Kondisi dan Fungsi Prasarana Irigasi - 2016

KONDISI D.I. KEWENANGAN Kondisi DI Kewenangan Kab/Kota Luas (Ha)


PROV TAHUN 2016 Kondisi Rusak 1.293.754
Kondisi Kondisi Baik 2.369.419
Rusak total 3.663.173
340,720
31% KONDISI D.I. KEWENANGAN
KAB/KOTA TAHUN 2016
Kondisi Kondisi
Baik Rusak
764,754 1,293,754
69% 35%

Kondisi DI Kewenangan Provinsi Luas (Ha) Kondisi


Kondisi Rusak 340.720 Baik
Kondisi Baik 764.754 2,369,419
total 1.105.474 65%

Sumber : RTI SKPD Kabupaten/Kota dan Provinsi (2016)


49

Aset Irigasi Kewenangan Daerah


Kondisi dan Fungsi Prasarana Irigasi - 2017

KONDISI D.I. KEWENANGAN PROV Kondisi DI Kewenangan Kab/Kota Luas (Ha)


Kondisi Rusak 695.235
TAHUN 2017
Kondisi Kondisi Baik 2.967.938
Rusak total 3.663.173
223,143
20% KONDISI D.I. KEWENANGAN
KAB/KOTA TAHUN 2017
Kondisi
Rusak
Kondisi 695,235
Baik 19%
882,331
80%
Kondisi DI Kewenangan Provinsi Luas (Ha)
Kondisi
Kondisi Rusak 223.143
Baik
Kondisi Baik 882.331
2,967,938
total 1.105.474 81%
Sumber : RTI SKPD Kabupaten/Kota dan Provinsi (2016)
50

SDM irigasi
Kewenangan Pusat

Tenaga OP Ideal Tenaga OP yang Ada


51

SDM Irigasi Provinsi, Kabupaten/Kota


Tenaga OP Irigasi & Rawa

Tenaga OP Irigasi Permukaan

16,097

9,385
8,574

5,354
3,946
3,127

1,234 1,300

UPTD/Pengamat Juru / Mantri Petugas OP Bendung PPA

Tenaga OP Yang Ada Tenaga OP Yang Ideal

Sumber: Data RTI (2017)


52

SDM Irigasi Provinsi, Kabupaten/Kota


Tenaga OP Irigasi/ Rawa/ Tambak/ Air Tanah

Tenaga OP Irigasi Rawa/Tambak/Air Tanah

1,053

747

393
342
313 295
196

23

UPTD/Pengamat Juru / Mantri Petugas OP Bendung PPA

Tenaga OP Yang Ada Tenaga OP Yang Ideal

Sumber: Data RTI (2017)


53

Beton
 Beton Pracetak Modular
Pracetak
Modular  Keseragaman kualitas sulit

 Kualitas seragam dikontrol

 Life time cost relatif mahal


 Life time cost lebih rendah

Pasangan Batu Kali 


 Waktu pengerjaan relatif
 Waktu pengerjaan cepat
lama

Pasangan
Batu Kali

Sumber: Puslitbang Air, 2018


54

Capaian Renstra Tahun 2018


Pembangunan Jaringan Irigasi* 1,000,299
1 Juta Hektar 855,689
632,777
407,240
205,746

Rehabilitasi Jaringan Irigasi*


3,151,339
3 Juta Hektar 2,625,370
2,304,541
1,745,246
1,167,651

Capaian 2015 Capaian 2016 Capaian 2017 Capaian 2018 Sisa Target 2019
* Termasuk dengan pembiayaan DAK

Sumber: Direktorat Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum


PROYEK
STRATEGIS
NASIONAL
( PSN )
Stay away from
People who only
“give” when you
“give” first
55

Kriteria Pemilihan Proyek Prioritas


PASAL 5 PERPRES 75/2014 J.O. PERPRES 122/2016

Membutuhkan
Memiliki peran strategis dukungan
dan/atau
jaminan
Kesesuaian dengan Pemerintah
RTRW untuk proyek
Keterkaitan antara KPBU
sektor infrastruktur
dan antar wilayah

Kesesuaian dengan
RPJMN/D dan Renstra sektor
Kriteria Pemilihan
56

Proyek Strategis Nasional


Lampiran Perpres 58/2017

 Keselarasan antar sektor


 Distribusi proyek secara
 Kesesuaian dengan
regional
RPJMN/D dan Renstra  Champion proyek yang
 Memiliki studi kelayakan
sector jelas
yang berkualitas
 Kesesuaian dengan RTRW  Memiliki EIRR positif
 Nilai proyek lebih dari 100
 Pengaturan pada
miliar
PP/Perpres Khusus
 Konstruksi paling lambat
pada kuartal ke-3 2019

Kriteria Dasar Kriteria Strategis Kriteria Tambahan


& Operasional
57

Jaringan Irigasi D.I. Lhok Guci


Tahap - I (Paket 1)
 Lokasi :Kab. Aceh Barat
 Nilai Kontrak :Rp. 138,217,909,000 M
 Waktu Pelaksanaan : 2015 – 2018 (MYC)
 Luas Daerah Irigasi :18.542 Ha
 Jenis Pekerjaan :Pembangunan Jaringan Irigasi
 Tipe Bendung :Bendung Tetap, Mercu Bulat
 Penyedia Jasa : PT. Brantas Abipraya (Persero) –
PT. Pelita Nusa Perkasa (KSO)
 Saluran Primer : 4,45 Km
 Saluran Sekunder : 3,38 Km
 Jalan Inspeksi : 7,11 Km
 Bangunan : 9 Bh
 Luas Tanam : 496 Ha
 IP : Semula 100% – Menjadi 200%

Sumber : Direktorat Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum, 2018


58

Jaringan Irigasi D.I. Lhok Guci


Tahap - I (Paket 2)
 Lokasi :Kab. Aceh Barat
 Nilai Kontrak :Rp. 138,499,880,000 M
 Waktu Pelaksanaan : 2015 – 2018 (MYC)
 Luas Daerah Irigasi :18.542 Ha
 Jenis Pekerjaan :Pembangunan Jaringan Irigasi
 Tipe Bendung :Bendung Tetap, Mercu Bulat
 Penyedia Jasa : PT. Nindya Karya
 Saluran Primer : 5,74 Km
 Jalan Inspeksi : 0,21 Km
 Bangunan : 4 Bh
 Luas Tanam : 360 Ha
 IP : Semula 100% – Menjadi 200%

Sumber : Direktorat Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum, 2018


59

Jaringan Irigasi D.I. Lhok Guci


Tahap - II
 Lokasi :Kab. Aceh Barat
 Nilai Kontrak :Rp. 255.558.600.000 M
 Waktu Pelaksanaan : 2017 – 2020 (MYC)
 Luas Daerah Irigasi :18.542 Ha
 Jenis Pekerjaan :Pembangunan Jaringan Irigasi
 Tipe Bendung :Bendung Tetap , Mercu Bulat
 Penyedia Jasa : PT. Hutama Karya – Jaya Konstruksi
(KSO)
 Saluran Primer : 5,74 Km
 Jalan Inspeksi : 0,21 Km
 Bangunan : 4 Bh
 Luas Tanam : 360 Ha
 IP : Semula 100% – Menjadi 200%

Sumber : Direktorat Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum, 2018


60

Jaringan Irigasi D.I. Jambo Aye Kanan

 Lokasi :Kab. Aceh Utara dan Aceh Timur


 Nilai Kontrak :Rp. 225,143,180,000 M
 Waktu Pelaksanaan : 2016 – 2018 (MYC)
 Luas Daerah Irigasi :3.028 Ha
 Jenis Pekerjaan :Pembangunan Jaringan Irigasi
 Tipe Bendung :Bendung Tetap , Mercu Bulat
 Penyedia Jasa : PT. Selaras Mandiri Sejahtera –
PT. Nakhla Sampurna (KSO)
 Saluran Primer : 8,28 Km
 Saluran Sekunder : 34,33 Km
 Luas Tanam : 3.028 Ha
 IP : Semula 100% – Menjadi 200%

Sumber : Direktorat Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum, 2018


61

Jaringan Irigasi D.I. Lematang

 Lokasi :Kota Pagar Alam Prov. Sumsel


 Nilai Kontrak :Rp. 273.167.674.000 M
 Waktu Pelaksanaan : 2015 – 2018 (MYC)
 Luas Daerah Irigasi :3.000 Ha
 Jenis Pekerjaan :Pembangunan Jaringan Irigasi
 Tipe Bendung :Bendung Tetap , Mercu Bulat
 Penyedia Jasa : Nindya Karya – Surya JO
 Jalan Akses : 2,6 Km
 Bangunan Bendung dan Pelengkap : 30 Km
 Saluran Kantong Lumpur : 16,57 Km
 Jembatan Beton : 31,80 Km
 Saluran Induk : 10,06 Km
 Saluran Sekunder : 36,87 Km
 Luas Tanam : 400 Ha
 IP : Semula 100% – Menjadi 200%

Sumber : Direktorat Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum, 2018


62

Jaringan Irigasi D.I. Umpu Sistem


(Way Besai)
 Lokasi :Way Kanan
 Nilai Kontrak :Rp. 153.114.137.000 M
 Waktu Pelaksanaan : 2015 – 2017 (MYC)
 Jenis Pekerjaan :Pembangunan Jaringan Irigasi
 Tipe Bendung :Bendung Tetap
 Penyedia Jasa : PT. Brantas Abipraya –
PT. Punggur Kharisma (KSO)
 Luas D.I. Potensial : 7.500 Ha
 Luas Fungsional : 3.640 Ha
 Saluran Primer : 6,12 Km
 Luas Tanam : 7.500 Ha
 IP : Semula 100% – Menjadi 200%

Sumber : Direktorat Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum, 2018


63

Jaringan Irigasi D.I. Leuwigoong Kiri


(19 C)
 Lokasi :Kab. Garut
 Nilai Kontrak :Rp. 102.883.891.000 M
 Waktu Pelaksanaan : 2016 – 2018 (MYC)
 Luas Daerah Irigasi :5.313 Ha
 Jenis Pekerjaan :Pembangunan Jaringan Irigasi
 Tipe Bendung :Bendung Gerak
 Penyedia Jasa : PT. Waskita Jaya Purnama -
PT. Duta Raya Dinametro –
PT. Brahmakerta Adiwira (KSO)
 Saluran Sekunder : 35,54 Km
 Bangunan Sekunder : 205 Bh
 Luas Tanam : 1.470 Ha
 IP : Semula 100% – Menjadi 200%

Sumber : Direktorat Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum, 2018


64

Jaringan Irigasi D.I. Leuwigoong Kiri


(19 D)
 Lokasi :Kab. Garut
 Nilai Kontrak :Rp. 143,315,600,000 M
 Waktu Pelaksanaan : 2016 – 2018 (MYC)
 Luas Daerah Irigasi :5.313 Ha
 Jenis Pekerjaan :Pembangunan Jaringan Irigasi
 Tipe Bendung :Bendung Gerak
 Penyedia Jasa : PT. Fatimah Indah Utama –
PT. Karunia Guna Intisemesta (KSO)
 Saluran Sekunder : 40,51 Km
 Bangunan Sekunder : 210 Bh
 Luas Tanam : 2.205 Ha
 IP : Semula 100% – Menjadi 200%

Sumber : Direktorat Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum, 2018


65

Jaringan Irigasi D.I. Baliase Kanan 1


(Paket III)
 Lokasi : Provinsi Sulawesi Selatan
 Kabupaten : Luwu Utara
 Rencana Outcome : 4.821 Ha
 Nilai Kontrak : Rp 373.371.519.000,-
 Waktu Pelaksanaan : 2017-2019 (MYC)
 Pelaksana Konstruksi : Abipraya – Langgeng – Marinda
(KSO)
 Saluran Induk : 4.822 m
 Luas Tanam : 4.821 Ha
 IP : Semula 100% – Menjadi 200%

Sumber : Direktorat Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum, 2018


66

Jaringan Irigasi D.I. Baliase Kanan 2


(Paket IV)
 Lokasi : Provinsi Sulawesi Selatan
 Kabupaten : Luwu Utara
 Nilai Kontrak : Rp 297.965.374.000
 Waktu Pelaksanaan : 2017-2019 (MYC)
 Pelaksana Konstruksi : Hutama Karya – Citra – Entolu
(KSO)
 Luas Tanam : 5.567 Ha
 IP : Semula 100% – Menjadi 200%

Sumber : Direktorat Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum, 2018


67

Jaringan Irigasi D.I. Gumbasa

 Lokasi : Provinsi Sulawesi Tengah


 Kabupaten : Sigi
 Luas D.I. Potensial : 8.103 Ha
 Nilai Kontrak : Rp 153.237.290.000,00
 Waktu Pelaksanaan : 2016-2019 (MYC)
 Pelaksana Konstruksi : Adhi-minarta,KSO
 Luas Tanam : 8.103 Ha
 IP : Semula 100% – Menjadi 200%

Sumber : Direktorat Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum, 2018


Don’t just be
good to others,
be good to
yourself too
KEBIJAKAN SATU PETA
SAWAH BERIRIGASI
NASIONAL
Travel.
Your money will return.
Your time won’t
68

Kenapa Perlu One Map ?


Manfaat

• Mendorong percepatan penetapan


Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan (LP2B)
• Mengarahkan subsidi pada program
peningkatan produksi lahan pertanian
pangan
• Memperbaiki perencanaan lokasi
pembangunan jaringan irigasi
(termasuk tersier) dan cetak sawah
baru
• Memberikan acuan pengambilan
kebijakan pencapaian kedaulatan
pangan nasional

Sumber: Tim Percepatan Kebijakan Satu Peta


69

Struktur Tim Percepatan Kebijakan Satu Peta


Pengambilan Tim Percepatan KSP
Keputusan Ketua : Menko Perekonomian
Anggota :
1. Menteri PPN/Kepala BAPPENAS
2. Menteri Keuangan
3. Menteri Dalam Negeri
4. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
5. Menteri Agraria dan Tata Ruang
6. Sekretariat Kabinet

Koordinasi Tim Pelaksana


Ketua : Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG)
Wakil Ketua 1 : Deputi Bidang Pengembangan Regional, Kementerian PPN/BAPPENAS;
Wakit Ketua 2 : Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri;

SEKRETARIAT
Sekretaris : Deputi VI, Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian;
Wakil Sekretaris 1 : Deputi II Kantor Staf Kepresidenan;
Wakil Sekretaris 2 : Deputi IGT, BIG

Satuan Tugas 1 Satuan Tugas 2


Teknis Kompilasi dan Integrasi Sinkronisasi

POKJA &
WALIDATA

Sumber: Tim Percepatan Kebijakan Satu Peta


70
SATU PETA
(Daerah Irigasi & Sawah Beririgasi)
Mengacu pada referensi data dasar yang sama yaitu Citra terorthorektifikasi GCP
(Worldview, Pleiades) dan Citra satelit terorthorektifikasi Sistematis (SPOT 6/7)
Satu Data D
asar

Satu Datab Mengacu pada Katalog Unsur Geografi Indonesia (KUGI) terkait struktur
ase penyimpanan Data Geospasial (DG) dan Informasi Geospasial (IG)

Satu Pembangunan dokumen standar terkait Format Data, Datum &


Standar Sistem Proyeksi Peta

Dipublikasi melalui mekanisme


Satu Jaringan Informasi Geospasial Nasional (JIGN) dan
Geoportal melalui geoportal

Sumber: Tim Percepatan Kebijakan Satu Peta


71

Target Kebijakan Satu Peta


Daerah Irigasi
2017 (1 Provinsi)
2018 (14 Provinsi)
2019 (18 Provinsi)

Sumber: Tim Koordinasi Percepatan Penyusunan Peta Sawah Beririgasi


Business Process Kebijakan Satu
72

Peta Sawah Beririgasi Nasional


KOMPILASI SATGAS I

Proses pengumpulan IGT Lahan Sawah & IGT Daerah Irigasi

01 dari semua kewenangan yang dimiliki oleh K/L/Pemda saat


ini
INTEGRASI SATGAS I

Proses penyelarasan IGT, baik yang telah dimiliki oleh


02 K/L/Pemda maupun yang baru dibuat (DI Usulan)

SINKRONISASI SATGAS II

Proses penyelarasan antar IGT, termasuk didalamnya

03
penyelesaian konflik yang terjadi akibat tumpang tindih
hasil Integrasi

IGT Daerah Irigasi &


Sawah Beririgasi
Mengacu pada SOP Kebijakan Satu Peta
Proses Validasi, Integrasi, Verifikasi
73

dan Sinkronisasi

Sumber: Tim Koordinasi Percepatan Penyusunan Peta Sawah Beririgasi


74

Logical Framework Validasi, Integrasi,


dan Verifikasi Lahan Sawah

Sumber: Tim Koordinasi Percepatan Penyusunan Peta Sawah Beririgasi


75

Logical Framework Validasi, Integrasi,


dan Verifikasi Daerah Irigasi

Sumber: Tim Koordinasi Percepatan Penyusunan Peta Sawah Beririgasi


76

Logical Framework Sinkronisasi Daerah Irigasi


Dan Lahan Sawah

Sumber: Tim Koordinasi Percepatan Penyusunan Peta Sawah Beririgasi


77

Jenis Kasus Tumpang Tindih Penyelesaian Kasus Tumpang


(Overlap) Daerah Irigasi Tindih (Overlap) Daerah Irigasi
 Kesalahan delineasi/  Pembuktian data pendukung
interpretasi terhadap areal (dokumen desain daerah
luasan irigasi, peta dan skema
irigasi serta asset)
 Perpindahan kewenangan
akibat penambahan luasan  Penelusuran sejarah
lahan (interkoneksi/suplesi) pengembangan saluran
dan pengurangan luasan irigasi
lahan (alih fungsi lahan)  Pelaksanaan pengelolaan
 Pengelola daerah irigasi  Verifikasi lapangan
lebih dari 1 (satu) instansi (tinjauan bersama,
 Pemanfaatan dari saluran uji coba aliran)
pembuang

Sumber: Tim Koordinasi Percepatan Penyusunan Peta Sawah Beririgasi


78

Bagan Alir Penyelesaian Overlap


Start
Pengecekan data:
Skema jaringan, skema bangunan
DATA: irigasi, dokumen perencanaan,
Tinjauan lapangan
 Peta inventarisasi luasan/polygon overlap foto dokumentasi lapangan,
DI inventarisasi aset/PAI, &/ profil DI
 Peta jaringan & bangunan irigasi dan pengelolaannya
 Citra satelit
 Skema jaringan, skema bangunan &/
dokumen perencanaan Inventarisasi nomenklatur Diskusi & pengambilan keputusan
 Foto-foto dokumentasi lapangan bangunan/petak/saluran lokasi bersama terkait penyelesaian
 Inventarisasi aset/PAI overlap overlap
 Profil DI & pengelolaannya

Diskusi & pengambilan keputusan


Tidak bersama terkait penyelesaian
Tersedia peta jaringan overlap Tidak
&/ bangunan Overlap dapat
Uji coba aliran
diselesaikan?

Ya
Overlap dapat Ya
diselesaikan Diskusi & pengambilan keputusan
Overlay peta inventarisasi overlap bersama terkait penyelesaian
DI peta jaringan & bangunan overlap
irigasi

Daerah Pusat
Inventarisasi nomenklatur
bangunan/petak/saluran lokasi
overlap
Kewenangan luasan?

Diskusi & pengambilan keputusan


bersama terkait penyelesaian Split
Dokumentasi:
overlap  Shapefile perbaikan delineasi IGT
DI hasil sinkronisasi penyelesaian
overlap
Perbaikan delineasi IGT DI hasil  Berita acara penyelesaian overlap
sinkronisasi penyelesaian overlap
Tidak
Overlap dapat
diselesaikan

Pembuatan berita acara Penyerahan dokumentasi Finish


penyelesaian overlap
Ya

Sumber: Tim Koordinasi Percepatan Penyusunan Peta Sawah Beririgasi


79

Trendline Pengiriman Data Delineasi Daerah Irigasi

7,190

6,061

4365

3,556

2,255
2,883

639
194 904 229

Sumber: Tim Tenaga Ahli GIS, Kemenko Perekonomian


80

Progres Hasil Delineasi Daerah Irigasi


Semua Kewenangan

Kalimantan Status 23 November 2018


Aceh
Selatan
1,371 Kalimantan
1,095 Sumatera Barat 383 28.833 40.284
Utara 774 380
1.981 Sulawesi
583
79,9% 1,305
Selatan
Lampung 2.560
65,9% 1.025 1.615
945
Jawa 75,3% 99,2% 63,1%
Barat Jawa 71,6%
5.018 Timur TOTAL DARI
2,911
97,2% 92,2% 8.761 15 PROVINSI
Sumatera 6.730
Barat
2,557 49,1%
2,486 58,0%
Sumatera 33,6% 76.8% 100,0%
Selatan NTB
701 100,0% 480
480
344 67,1% 97,7%
Banten
1.353 Bali
454 689 Target Delineasi
Yogyakarta 673
Jawa Tengah 1.089 Realisasi
11.542 1.089
7.743 Sumber: Tim Tenaga Ahli GIS, Kemenko Perekonomian
Be with someone who
is good for your mental
health.
Dear,
Whoever is reading this,
Please smile,
Life is too short to be unhappy,
Drop a smile in comment.
DEPUTI BIDANG KOORDINASI PERCEPATAN INFRASTRUKTUR DAN PENGEMBANGAN WILAYAH
ASISTEN DEPUTI INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA AIR

KEMENTERIAN KOORDINATOR
BIDANG PEREKONOMIAN
REPUBLIK INDONESIA