Anda di halaman 1dari 22

DEPARTEMEN ILMU ANESTESI, MANAJEMEN NYERI DAN PERAWATAN INTENSIF

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN 2019

A Review article by : Rashid M. Khan, Pradeep K Sharma, Naresh Kaul

Henny Apriani
C014172071

Supervisor: Residen Pembimbing :


Dr. dr. Hisbullah, Sp. An-KIC- Dr. Hasmirah
KAKV
Hipoksia dan kesalahan tatalaksana jalan napas napas
ikut berkontribusi hingga 34% dari penyebab kematian
pra-rumah sakit pada pasien trauma

Kecurigaan akan adanya obstruksi jalan napas harus


diasumsikan pada semua pasien trauma

Teknik sederhana : jaw thrust manuver dan/atau


penggunaan oro- dan nas-opharyngeal airway -->
Manajemen saluran napas definitif
WHO 7-28 % pasien trauma
125.000 Kematian akibat
kecelakaan lalu lintas Memerlukan tatalaksana jalan napas
definitif dan ETI atau surgical airway

78 %
Usia 20-44 tahun (produktif)
TUJUAN :
34% pre hospital deaths Meninjau informasi terbaru dan
Disebabkan karena praktis pada tatalaksana jalan
kesalahan tatalaksana jala napas
napas dan hipoksia
1. Kegagalan untuk mengenali jalan napas yang tidak
memadai pada korban trauma.
2. Kegagalan untuk mempertahankan jalan napas dengan
atau tanpa perangkat saluran napas.
3. Kesalahan dalam menggunakan perangkat saluran
napas
4. Kegagalan untuk mengenali kebutuhan akan ventilasi.
5. Aspirasi isi lambung
“Kesalahan tatalaksana jalan napas akan
menyebabkan asfiksia yang dapat
berkembang menjadi hipoksia serebral,
kerusakan otak dan akhirnya kematian”
LOKASI KECELAKAAN
1. Kondisi yang tidak menguntungkan (misalnya,
kegelapan, ruang yang tidak memadai,
terbatasnya akses jalan napas pasien).
2. Posisi pasien yang buruk yang mungkin
tergeletak di jalan, mobil dan kereta yang hancur
berantakan di sekitarnya.
3. Personil penolong yang tidak dikenal dengan
tingkat pengetahuan penatalaksanaan jalan
napas yang berbeda-beda.
PUSAT TRAUMA
1. Perdarahan paru dan / atau trauma wajah menutupi
jalan napas pasien.
2. Imobilisasi tulang servikal dengan cervical collar
3. Kemungkinan lambung penuh dan asisten
menerapkan tekanan krikoid yang salah (manuver
Sellick ).
4. Dilema tentang penggunaan farmakologis
tambahan.
5. Pasien yang tidak kooperatif atau agresif
1. Penurunan kesadaran akibat cedera kepala, obat-
obatan atau alkohol.
2. Trauma langsung ke saluran napas
(faciomaxillary, leher, laring dan tenggorokan).
3. Pasien terluka parah dan mengalami perdarahan
hebat atau koma.
4. Kegagalan pernapasan akibat ledakan atau
cedera inhalasi, atau paparan bahan kimia
Cara mengidentifikasi adanya gangguan jalan napas

Look - Listen - Feel


Selama mencoba menilai jalan napas yang tidak adekuat,
tanyakan SAMPLE jika kondisi memungkinkan
• Sign (Tanda / gejala)
• Allergy (Alergi)
• Medicine ( Obat)
• Past Medical Hystory (Riwayat medis)
• Last Meal ( makanan terakhir), dan
• Events, (Peristiwa sebelum cedera)
NECK
N MOBILITY

Menilai kesulitan O OBSTRUCTION

intubasi
M MALLAMPATI GRADE

E EVALUATE 3-3-2 RULE

L LOOK EXTERNALLY
B
• BEARD (Janggot)

O
• OBESITAS (IMT > 26 kg/m2)
Antisipasi
kesulitas ventilasi N
• NO TEETH
jika terdapat ≥ 2
E
• ELDERLY (Age > 55 Tahun)

S
• SNORING
Head Tilt and Chin Lift Jaw thrust
Indikasi untuk strategi saluran napas definitif meliputi
berikut ini:
1. Adanya apnea.
2. Kebutuhan untuk perlindungan jalan napas berupa aspirasi:
muntahan, perdarahan.
3. Tidak sadar: Glasgow Coma Scale <8.
4. Fraktur faciomaxillary yang parah.
5. Risiko untuk obstruksi: leher hematoma, laring / trakea cedera.
6. Kemungkinan akan atau berpotensi mengalami gangguan jalan
napas: cedera inhalasi.
7. Ketidakmampuan untuk mempertahankan SpO2> 90% dengan
oksigenasi menggunakan facemask.
1. INTUBASI TRACHEAL
• Laringoskopi direct dan intubasi trakea.
• Video laringoskopi dan intubasi.
• Intubasi trakea fiberoptic
• Intubasi trakea Lightwand-guide
• Intubasi LMA / C-Trach ™ berbantuan komputer
• Bullard ™ -, UpsherScope ™ - atau WuScope ™ berbantuan
komputer intubasi.
• Intubasi trakea teknik Retrograde.
• Blind nasal intubasi.
2. TATALAKSANA PEMBEDAHAN (CRICOTHYROTOMI)

Tidak danjurkan untuk melakukan Tracheostomy Percutaneus pada


kondisi trauma
1.Cricoid pressure
2.Imonilisasi servikal
3.Berurusan dengan pasien agresif
4.Intubasi sadar
5.Intubasi cepat