Anda di halaman 1dari 55

Air dan sumber-sumber air

adalah karunia Tuhan Yang Maha


Esa.

“Air merupakan zat yg paling


esensial dibutuhkan dalam
setiap aspek kehidupan”

“Kita semua tidak dapat hidup


tanpa air”

Diamanatkan kepada
manusia untuk:

Menjaga air dan


sumber-sumber air dari
segala bentuk perbuatan
yang menimbulkan
kerusakan.
DAS Kritis
Kependudukan KEKERINGAN
Kekeringan

MASALAH SDA
Permukiman &
ehd
Pencemaran SAMPAH Banjir
BANJIR
Sampah
KONDISI SUMBER DAYA ALAM

 Pangan
Air
 Perumahan
Sumber Air
Pertumbuhan
Jumlah  Energi
Lahan
Penduduk Indonesia
>1,4% per th  Produk Industri
Udara
 Sanitasi
SDA lainnya
 Limbah

Memerlukan dukungan pengelolaan yang lebih profesional


dan infrastruktur yg handal
URGENSI DIADAKAN PENGATURAN
SISI KEBUTUHAN: SISI KETERSEDIAAN:
1. Jumlah penduduk 1. Ketersediaan air relatif
makin meningkat. konstan.
2. Peningkatan aktivitas
dan kebutuhan
2. Kualitas cenderung
ekonomi serta sosial
menurun.
budaya.

Air dan sumber-sumber air perlu:


DILINDUNGI DAN DIJAGA KELESTARIANNYA agar
dapat DIDAYA-GUNAKAN secara berkelanjutan
Pendahuluan
Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu
(PSDAT) adalah proses yang ditujukan
untuk meningkatkan pengembangan dan
pengelolaan air, lahan dan sumber daya
terkait secara terkoordinasi demi
tercapainya kesejahteraaan eknomi dan
sosial yang maksimum dengan cara yang
adil dan secara mutlak mempertahankan
keberlanjutan eksositem yang vital.
I. Prinsip Dasar PSDAT
Prinsip Dublin dan Agenda 21:
Air adalah sumber daya yang terbatas dan
rentan terhadap perubahan eksositem, harus
dikelola dengan memadai sehingga dapat
berkelanjutan keberadaan fungsinya.

• Dikelola dengan partisipasi stakeholders dan


melibatkan unit pengambilan keputusan pada
tingkat yang paling rendah
• Mengakui peran sentral perempuan dalam
pengambilan keputusan
• Air mempunyai nilai dan fungsi sosial, ekonomi,
lingkungan dan budaya
II. Rekomendasi Agenda 21
(UNCED 1992 di Rio de Janeiro)
a. PSDA direncanakan terpadu, holistik untuk
mencegah kekurangan air dan
pencemaran
b. Memenuhi kebutuhan dasar manusia dan
ekosistem yang berkelanjutan sebagai
prioritas utama
c. Pemanfaatan air seharusnya dipungut
biaya sepantasnya
III. Rekomendasi Prinsip Rio-Dublin 1992

a. Air bersih merupakan sumber daya yang terbatas dan


rentan, penting untuk kelangsungan kehidupan,
pembangunan dan lingkungan untuk dikelola secara
terpadu
b. Pengelolaan dan pembangunan sumber daya air
didasarkan atas pendekatan partisipatif melibatkan
pengguna, perencana dan pengambil kebijakan pada
setiap tingkatan
c. Perempuan mempunyai peran sentral dalam
menyediakan, mengelola dan melindungi SDA
d. Air mempunyai nilai ekonomi dan sosial pada setiap
persaingan pengguna air, sehingga harus dianggap
sebagai benda ekonomi dan sosial.
IV. Rekomendasi GWP tentang IWRM 2000
a. Pengelolaan SDA Terpadu adalah proses pengelolaan SDA yang
memadukan antara sumber daya air dengan sumber daya terkait
lainnya, antar sektor, antar wilayah secara berkelanjutan tanpa harus
mengorbankan lingkungan dan diselenggarakan dengan pendekatan
partsipatif.
b. Langkah perbaikan PSDA:
1) The enabling environment
memperbaiki kebijakan, perundangan, sistem pembiayaan SDA
2) Institutional Frameworks/Roles
memperbaiki kelembagaan, struktur, tugas-tanggung jawab,
wewenang, capacity building SDM (pusat, daerah, wilayah sungai,
masyarakat)
3) Management Instrument
melengkapi prosedur tata kerja kelembagaan
4) Sasaran: terpenuhinya keseimbangan air untuk kehidupan dan air
sebagai sumberdaya
V. Keterpaduan
a. Keterpaduan sistem alam dan sistem manusia
b. Keterpaduan sistem alam:
lahan/air, air permukaan/air tanah; kuantitas/kulaitas,
hulu/hilir, instream/offstream, dll.
c. Keterpaduan sistem manusia:
pemilik kepentingan, sasaran, kebijakan sumber daya air
terkait, antar sektor, antar generasi, pengelolaan air/limbah,
dll.
d. Kriteria keberhasilan
- keadilan
- efisiensi dalam penggunaan air
- keberlanjutan ekosistem
Apa yg diperlukan dlm PSDAT ? (1)

Integrasi dan Interaksi antara sistem alam dan sistem sosial:

1. Sistem alamiah, dengan faktor yang palaing penting adalah


ketersediaan sumber daya air, kuantitas dan kualitasnya 
siklus hidrologi

2. Sistem sosial, dengan faktor determinannya adalah


penggunaan sumber daya air, produksi limbah cair &
padat, pencemaran air & sumber air, penentuan prioritas
pembangunan
Apa yang dipadukan dalam PSDAT? (2)
Integrasi sistem alam:
• Integrasi pengelolaan air (tawar) dengan
pengelolaan daerah pantai
• Integrasi pengelolaan air dan pengelolaan
tanah
• Integrasi pengelolaan air permukaan dan air
tanah
• Integrasi aspek kuantitas dan kualitas dalam
pengelolaan SDA
• Integrasi kepentingan hulu-hilir yang
berkaitan dengan air
Apa yang dipadukan dalam PSDAT? (3)

Integrasi sistem sosial:


• Pengutamaan SDA
• Integrasi lintas sektor dalam kebijakan
pembangunan nasional
• Dampak ekonomi makro pembangunan SDA
• Dampak pembangunan sektor ekonomi yang
berpengaruh terhadap SDA
• Integrasi seluruh pemangku kepentingan dalam
proses perencanaan dan pengambilan
keputusan
• Integrasi pengelolaan air minum dan air limbah
KERANGKA PIKIR PERUBAHAN UU NO.11/1974
LATAR BELAKANG UUD 1945 Pasal 33 ayat (3)
Tap MPR No. IV/MPR/1999
UU No. 11/1974 telah memberikan tentang GBHN
andil yg besar bagi perikehidupan
ekonomi dan sosial masyarakat. VISI PENGELOLAAN SDA
Saat ini UU tsb memerlukan Terwujudnya kemanfaatan sumber daya
penyesuaian untuk antisipasi air bagi kesejahteraan seluruh rakyat
perkembangan masalah dan
perubahan paradigma, a.l:
LIMA MISI PENGELOLAAN SDA
1 Pengelolaan secara
menyeluruh dan terpadu.
1. KONSERVASI sumber daya air.
2 Keseimbangan antara 2. PENDAYAGUNAAN sumber daya UU PENGGANTI
penanganan secara fisik air. Yg lebih:
3. PENGENDALIAN daya rusak air. 1. Komprehensif
dengan non fisik. 2. Antisipatif
3 Keseimbangan antara 4. PEMBERDAYAAN dan peningkatan
3. Direktif
pendayagunaan dg peran masyarakat, dunia usaha, 4. Koordinatif
konservasi. dan pemerintah. 5. Partisipatif
4 Perlindungan thd hak dasar 5. Peningkatan ketersediaan dan
manusia atas air; keterbukaan data serta INFORMASI
5 Keterlibatan pihak yg SDA
berkepentingan dalam PSDA PERATURAN
dalam spirit demokrasi dan PERUNDANG
pendekatan koordinasi. TUJUH ASAS PENGELOLAAN SDA:
Kelestarian, Keseimbangan, -UNDANGAN
6 Mengadopsi prinsip
Kemanfaatan Umum, TERKAIT
pembangunan berkelanjutan
7 ntisipasi thd ekses Keterpaduan dan keserasian,
perkembangan nilai Keadilan, Kemandirian,
ekonomis air. Transparansi dan akuntabilitas
Perbandingan Struktur Kebijakan
No Tahapan Struktur Kebijakan Jenis Desain
Pengembangan
(UU 11/1974) (UU 7/2004)
1 Kebijakan Pengairan -Kebijakan SDA Nasional
-Kebijakan SDA Propinsi -
-Kebijakan SDA Kabupaten
2. Studi Awal
Pola PSDA WS Scheme Design
3. Studi Identifikasi
4. Studi Pengenalan Rencana Induk PSDA WS Basic Design
5. Premilinary
Studi Kelayakan Studi Kelayakan
Design
6. Program PSDA
Perencanaan Detail Design
Rencana Kegiatan
7. Pelaksanaan Pelaksanaan -
Arahan Pengelolaan SDA
menurut UU No.7/2004

VISI Terwujudnya kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan


untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat

1. Konservasi SDA
2. Pendayagunaan SDA
3. Pengendalian dan penan gulangan daya rusk air
MISI 4. Pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat,
dunia usaha dan pemerintah
5. Peningkatan ketersediaan dan keterbukaan data & informasi SDA

1. Kelestarian
2. Keseimbangan
3. Kemanfaatan umum
AZAS 4. Keterpaduan dan keserasian
5. Keadilan
6. Kemandirian
7. Transparansi dan akuntabilitas
Pengelolaan SDA adalah upaya merencanakan,
melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi
penyelenggaraan konservasi SDA, pemdayagunaan
SDA dan pengendalian daya rusak air.
(butir 7, pasal 1)

Pola Pengelolaan SDA adalah kerangka dasar dalam


merencanakan, melaksanakan, memantau dan
mengevaluasi kegiatan konservasi SDA,
pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air.
(butir 8, pasal 1)
POLA PENGELOLAAN SDA

Pola
KERANGKA DASAR Kegiatan:
Pengelolaan
dalam: KONSERVASI SDA
SDA
Merencanakan, PENDAYAGUNAAN SDA
(berbasis WS) Melaksanakan, Memantau PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR
Dan Mengevaluasi
Pasal 1 angka 8

 Penetapan WS dilakukan oleh Presiden dengan memperhatikan pertimbangan


Dewan SDA Nasional. (Pasal 13 ayat 2)
 Prinsip penyusunan Pola Pengelolaan SDA (Pasal 11 ayat 2 dan ayat 4)
1. Keterpaduan antara air permukaan danair tanah (lebih diutamakan air
permukaan Pasal 26 ayat 5)
2. Keseimbangan antara upaya Konservasi dan Pendayagunaan
 Proses penyusunan melibatkan peran masyarakat (Pasal 11 ayat 3)
Lingkup Pengelolaan SDA menurut UU

Upaya
Merencanakan Melaksanakan Memantau Mengevaluasi

Penyelenggaraan
Konservasi SDA: Pendayagunaan SDA: Pengendalian Daya
1. Perlindungan dan
Rusak Air:
1. Penatagunaan
pelestarian SA 2. Penyediaan 1. Pencegahan
2. Pengawetan air 3. Penggunaan 2. Penanggulangan
3. Pengelolaan kualitas
4. Pengembangan 3. Pemulihan
air dan pengendalian
pencemaran air 5. Pengusahaan

Menjaga kelangsungan Memanfaatkan SDA secara Mencegah,


TUJUAN:

keberadaan daya dukung, berkelanjutan dg menanggulangi, dan


daya tampung, dan fungsi mengutamakan memulihkan akibat
SDA pemenuhan kebutuhan kerusakan kualitas lingk.
pokok kehidupan masy yg diakibatkan oleh daya
secara adil rusak air
KEBIJAKAN SDA
Kebijakan: kondisi/keadaan yang diinginkan di masa datang
Memberikan arahan dalam penyusunan pola pengelolaan SDA
guna mencapai tujuan pengelolaan SDA (pasal 3)
Meliputi arahan konservasi dan pendayagunaan SDA serta
pengendalian daya rusak air untuk memecahkan masalah SDA
dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan pembangunan di
tingkat nasioanl, propinsi dan kabupaten/kota (pasal 4)
Disusun pada tingkat nasional, propinsi dan kabupaten/kota
(pasal 5)
Dirumuskan oleh wadah koordinasi SDA Nasional, propinsi dan
Kabupaten/Kota sesuai tingkatannya (pasal 6)
Ditetapkan oleh presiden, gubernur dan bupati/walikota sesuai
tingkatannya (pasal 6)
Tahapan
Rumusan Penetapan
Tingkatan

Nasional DSDAN Presiden

Wadah
Propinsi Koordinasi SDa Gubernur
Propinsi
Wadah
Kab/Kota Koordinasi SDA Bupati / Walikota
Kab/Kota
Struktur Kebijakan Pengelolaan SDA WS
Dewan SDA Nasional
Nasional
Wadah Koordinasi SDA WS/Prov.
-Dep. Pekerjaan Umum Kebijakan Nas. SDA
-Ditjen SDA
-Direktorat Bina Program WS
Pola Pengelolaan SDA WS
-Planning Unit Pusat Wewenang
- Renc. Pengelolaan SDA/ Renc. Induk (MP) Pemerintah
- Studi Kelayakan (FS) Pusat
- Program Pengelolaan SDA WS
- Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA WS

Propinsi Wadah Koordinasi Prov.


-Kantor Gubernur Wadah Koordinasi Prov.
-Dinas PSDA Kebijakan Prop. SDA
-Planning Unit Propinsi
WS
Pola Pengelolaan SDA WS)
Wewenang
- Renc. Pengelolaan SDA/ Renc. Induk (MP) Pemerintah
- Studi Kelayakan (FS) Propinsi
- Program Pengelolaan SDA WS
- Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA WS

Kab / Kota Wadah Koordinasi Kab/Prov Wadah Koordinasi Kab/Prov

-Kantor Bupati / Walikota


Kebijakan Kab / Kota SDA
-Dinas PSDA WS
Pola Pengelolaan SDA WS
-Planning Unit Propinsi Wewenang
Pemerintah
- Renc. Pengelolaan SDA/ Renc. Induk (MP)
- Studi Kelayakan (FS) Kab/Kota
- Program Pengelolaan SDA WS
- Rencana Kegiatan (Action Plan) PSDA WS
Interaksi Komponen Sistem SDA
Social & economic
Population activities & functions Resources

Comprehensive
&
Intregrated
Water Resources
Management

( Laws & Regulations) (Water Infrastructure)

Institution
Mengapa diperlukan Perencanaan Pengelolaan SDA?
 Tiga (3) masalah klasik air: too much, too little, too dirty
- terlalu berlebihan  banjir
- terlalu sedikit  kekeringan
- terlalu kotor/tercemar  gangguan kesehatan dam kerusakan tata
lingkungan

 Timbulnya masalah tersebut memberikan indikasi bahwa sistem


lingkungan yang mendukung keberlangsungan daur hidrologi sedang
atau telah menghadapi kerusakan

 Permasalahan dan tantangan bidang sda semakin berat, pada satu


pihak kebutuhan air semakin meningkat dan dipihak lain kemampuan
pasokan air menurun air menjadi sumber daya yang semakin langka
menimbulkan potensi konflik :
- Antar wilayah
- Antar sektor
- Antar kelompok pengguna
- Antar individu pengguna

 Sebagai pedoman bagi para stakeholder dalam Pengelolaan SDA.


Untuk menetapkan Pengelolaan SDA yang paling
optimum baik secara struktur maupun non-struktur
untuk:
– Konservasi: melestraikan SDA (misal: pengendalian
eksplorasi air tanah)
– Pendayagunaan SDA: memenuhi berbagai kebutuhan air
(kualitas & kuantitas)
– Pengendalian daya rusak air: memecahkan berbagai masalah
air (misal: erosi, sedimentasi dan banjir)

Melalui pendekatan sistem yang komprehensif dan


terpadu yang mengacu pada Wilayah Sungai
Pengelolaan Sumber daya air berdasarkan
pendekatan wilayah sungai
“One River, One Plan, One Integrated Management”

‘Sasu’ = Satu Wilayah Sungai


‘Saren’ = Satu Perencanaan
‘Saman’ = Satu Manajemen
KARAKTERISTIK SUMBER DAYA AIR
Air, Sumber Air & Daya Air
(Sumber Daya Air)

Dikuasai negara, UUD 45


UU 32/2004
digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat UU 7/2004

Letak geografis Penyusunan Keterkaitan Waktu antar Siklus Alam


Antar daerah Multisektor Kesatuan sistem Generasi Bagi Ekosistem

Kerjasama Berwawasan
Terpadu Menyeluruh Berkelanjutan
Lingkungan

SDAir, SDAlam vital & strategis bagi pembangunan ekonomi, kesatuan & ketahanan nasional.

SDA dikelola secara terpadu, menyeluruh, berkelanjutan, berwawasan


lingkungan dengan: pendekatan wilayah sungai & ditetapkan berdasarkan sistem administrasi pemerintah.
ACUAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

Berbasis Wil Administrasi: Pasal 14, 15, 16

KEBIJAKAN NASIONAL
KEBIJAKAN PROPINSI
KEBIJAKAN KABUPATEN

POLA Ps 11 ay 2, Ps 59 ay 3, Ps 62 ay 6

RENCANA
PROGRAM
KEGIATAN
Berbasis Wilayah Hidrologis (Wilayah Sungai)
Pengelolaan SDA diselenggarakan secara menyeluruh,
terpadu, dan berwawasan lingkungan hidup, dengan tujuan
mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang
berkelanjutan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Pengelolaan SDA didasarkan pada kebijakan pengelolaan


sumber daya air di tingkat nasional, provinsi, dan
kabupaten/kota, serta pola pengelolaan sumber daya air
yang berbasis wilayah sungai.

Kebijakan pengelolaan sumber daya air meliputi arahan


strategis konservasi dan pendayagunaan sumber daya air
serta pengendalian daya rusak air untuk memecahkan
masalah sumber daya air dan mengantisipasi
perkembangan situasi dan kondisi sumber daya air di
tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota.
Lanjutan…

Kebijakan PSDA disusun di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota dengan


memperhatikan kondisi setiap wilayah.
Kebijakan nasional sumber daya air menjadi acuan bagi Menteri, menteri, atau
kepala lembaga pemerintah nondepartemen yang terkait dengan bidang sumber
daya air dalam menetapkan kebijakan sektoral yang terkait dengan sumber daya air.

Kebijakan pengelolaan sumber daya air di tingkat nasional, yang selanjutnya disebut
sebagai kebijakan nasional sumber daya air, menjadi acuan bagi penyusunan
kebijakan pengelolaan sumber daya air di tingkat provinsi.

Kebijakan pengelolaan sumber daya air di tingkat provinsi menjadi acuan bagi
penyusunan kebijakan pengelolaan sumber daya air di tingkat kabupaten/kota.
Kebijakan pengelolaan sumber daya air dapat ditetapkan baik sebagai kebijakan
tersendiri maupun terintegrasi ke dalam kebijakan pembangunan provinsi atau
kabupaten/kota .

Kebijakan pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan secara tersendiri,


diupayakan keselarasannya dengan kebijakan pembangunan di wilayah provinsi
atau kabupaten/kota.
Lanjutan…
Kebijakan nasional sumber daya air dirumuskan oleh
Dewan Sumber Daya Air Nasional dan ditetapkan oleh
Presiden.

Kebijakan pengelolaan sumber daya air di tingkat provinsi


dirumuskan oleh wadah koordinasi pengelolaan sumber
daya air provinsi yang bernama dewan sumber daya air
provinsi atau dengan nama lain, dan ditetapkan oleh
gubernur.

Kebijakan pengelolaan sumber daya air di tingkat


kabupaten/kota dirumuskan oleh wadah koordinasi
pengelolaan sumber daya air kabupaten/kota yang
bernama dewan sumber daya air kabupaten/kota atau
dengan nama lain, dan ditetapkan oleh bupati/walikota.
(
Kebijakan nasional sumber daya air sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) menjadi acuan bagi menteri yang
terkait di bidang sumber daya air.
Pola Pengelolaan SDA

• Pola pengelolaan sumber daya air disusun dan


ditetapkan sebagai kerangka dasar dalam pengelolaan
sumber daya air di wilayah sungai dengan prinsip
keterpaduan antara air permukaan dan air tanah.

• Pola pengelolaan sumber daya air memuat:


a. Tujuan pengelolaan sumber daya air pada WS yang
bersangkutan;
b. Dasar pertimbangan yang dipergunakan dalam melakukan
pengelolaan sumber daya air;
c. Beberapa skenario pengelolaan sumber daya air;
d. Alternatif pilihan strategi pengelolaan sumber daya air untuk
setiap skenario pengelolaan sumber daya air;
e. Kebijakan operasional untuk melaksanakan strategi
pengelolaan sumber daya air.
Lanjutan…
• Pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud disusun
dengan memperhatikan kebijakan pengelolaan sumber daya air
pada wilayah administratif yang bersangkutan.

• Pola pengelolaan sumber daya air disusun dengan mengacu pada


informasi mengenai:
a. penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air yang dilakukan
oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah yang
bersangkutan ;
b. kebutuhan sumber daya air bagi semua pemanfaat di wilayah
sungai yang bersangkutan;
c. keberadaan masyarakat hukum adat setempat;
d. sifat alamiah dan karakteristik sumber daya air dalam satu
kesatuan sistem hidrologis;
e. aktivitas manusia yang berdampak terhadap kondisi sumber
daya air;
f. kepentingan generasi masa kini dan mendatang, serta
lingkungan hidup.
Lanjutan…
• Pola pengelolaan sumber daya air disusun melalui
konsultasi dengan instansi dan unsur masyarakat yang
terkait.
• Pola pengelolaan sumber daya air disusun dan ditetapkan
untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun.

• Pola pengelolaan sumber daya air yang sudah ditetapkan


dapat ditinjau dan dievaluasi sekurang-kurangnya setiap 5
(lima) tahun sekali.

• Hasil peninjauan dan evaluasi menjadi dasar


pertimbangan bagi penyempurnaan pola pengelolaan
sumber daya air.
Lanjutan…
• Rancangan Pola PSDA pada WS dalam satu kabupaten/kota disusun
oleh dinas di tingkat kabupaten/kota atau bersama Pengelola SDA di
WS melalui konsultasi dengan instansi teknis terkait.

• Bupati menetapkan rancangan pola pengelolaan sumber daya air


menjadi pola pengelolaan sumber daya air dengan memperhatikan
pertimbangan wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air pada
wilayah sungai yang bersangkutan.

• Dalam hal pada wilayah sungai tersebut tidak atau belum terbentuk
wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air, bupati/walikota
dapat meminta pertimbangan wadah koordinasi pengelolaan sumber
daya air kabupaten/kota.

• Dalam hal pada kabupaten/kota tersebut tidak atau belum


terbentuk wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air
kabupaten/kota, bupati/walikota dapat langsung menetapkan pola
pengelolaan sumber daya air sesuai dengan rancangan
(
Lanjutan…
• Rancangan Pola PSDA pada WS lintas kabupaten/kota
disusun oleh dinas di tingkat provinsi atau bersama
pengelola sumber daya air di wilayah sungai melalui
konsultasi dengan instansi teknis terkait.

• Gubernur menetapkan rancangan pola pengelolaan


sumber daya air menjadi pola pengelolaan sumber daya
air berdasarkan pertimbangan wadah koordinasi
pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang
bersangkutan.

• Dalam hal pada wilayah sungai tersebut tidak atau


belum terbentuk wadah koordinasi pengelolaan sumber
daya air, gubernur dapat meminta pertimbangan wadah
koordinasi pengelolaan sumber daya air provinsi
Lanjutan…
• Rancangan pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai lintas provinsi, lintas negara,
dan strategis nasional disusun oleh Menteri setelah berkonsultasi dengan instansi teknis
dan unsur masyarakat terkait.

• Menteri menetapkan rancangan pola pengelolaan sumber daya air menjadi pola pengelolaan
sumber daya air berdasarkan pertimbangan wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air
pada wilayah sungai bersangkutan.

• Dalam hal pada wilayah sungai lintas provinsi atau strategis nasional dimaksud tidak atau
belum terbentuk wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air, Menteri dapat meminta
pertimbangan wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air provinsi melalui gubernur
terkait.

• Pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas negara dilakukan sesuai dengan
perjanjian dengan negara terkait berdasarkan pola pengelolaan sumber daya air yang
ditetapkan oleh Menteri.

• Pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas negara digunakan sebagai
dasar penyusunan perjanjian dengan negara terkait.

• Dalam hal belum ada perjanjian dengan negara terkait, pengelolaan sumber daya air pada
wilayah sungai yang berada dalam wilayah negara kesatuan Republik Indonesia didasarkan
pada pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan oleh Menteri
Lanjutan…

Ketentuan mengenai pedoman teknis dan tata cara penyusunan


pola pengelolaan sumber daya air diatur dengan peraturan
Menteri. (Permen PU No.22/PRT/M/2009)

Perencanaan pengelolaan sumber daya air disusun sesuai


dengan prosedur dan persyaratan melalui tahapan yang
ditetapkan dalam standar perencanaan yang berlaku secara
nasional yang mencakup inventarisasi sumber daya air,
penyusunan dan penetapan rencana pengelolaan sumber daya
air.
PERENCANAAN
• Perencanaan pengelolaan SDA disusun untuk
menghasilkan rencana sebagai pedoman/arahan dlm
pelaksanaan konservasi, pendayagunaan dan
pengendalian daya rusak air
• Perencanaan disusun mengikuti pola pengelolaan SDA.
Rencana pengelolaan SDA merupakan salah satu
masukan/unsur penyusunan tata ruang.
• Penyusunan rencana pengelolaan SDA dilaksanakan dgn
koordinasi berbagai instansi yang berwenang dgn
mengikut sertakan seluruh stakeholders
• Rencana pengelolaan SDA di WS dirinci kedalam program
oleh instansi pemerintah, masyarakat dan swasta
BERBAGAI INSTANSI YG TERKAIT DGN
PENGELOLAAN SDA
• ASPEK KONSERVASI: Kehutanan, Pertanian, LH, PU
(Penataan Ruang, SDA), Perindustrian, DN, ESDM, dsb.
• ASPEK PENDAYAGUNAAN: Pertanian, PU (SDA,
Cipta Karya), ESDM, Kesehatan, DN, LH, Perindustrian,
Perhubungan,
• ASPEK PENGENDALIAN DAYA RUSAK: PU (SDA,
Penataan Ruang, Cipta Karya), DN, ESDM, LH,
Kehutanan, Pertanian, dsb.

SUBSTANSI UU-7/2004 TENTANG SUMBER DAYA


AIR TIDAK HANYA TERKAIT DGN PU/DITJEN SDA !!
PLANNING (perencanaan)
Makro Makro/Mikro Mikro KONSTRKSI OPERASI & PANTAU
Basis Spasial Basis WS Area Keg. Lokasi PMLHRN EVALUASI
N/Pr/Kab/Kt (P/Pr/Kab/Kt) dlm WS Krj dlm WS

Kebijakan Survey
Nasional Investigasi &
SDA Review
Studi WS

Kebijakan SDA Pola PSDA WS


Prop/Kab/Kota yg ditetapkan
Men/Gub/Bup

Inventarisasi
SDA WS

RTRW Renc PSDA WS tidak


N/Pr/Kab/Kt Renc.Induk:
K,DG,DR
Program
Prioritas Survey
Keg. SDA SDA &
Invstgs

Studi Detail Pelaksanaan Operasi &


Keg. Non SDA Monitoring
Kelayakan Desain Konstruksi Pemliharaan
(C) (OM) & Evaluasi
(FS)+ (D/D)
Non Dep PU
Amdl ya

*) Pola PSDA = Kerangka Dasar untuk --> merencanakan, melaksanakan, memantau & mengevaluasi (Konservasi, Daya Guna, Daya Rusak **)
Rencana PSDA merupakan keterpaduan dari Rencana Induk: Konservasi, Daya Guna, Daya Rusak
KEGIATAN PENYUSUNAN
POLA PSDA WS

Studi Mulai Menghasilkan Rancangan


(pemrakarsa) POLA PSDA WS

PKM I PKM II
A. 1. Kebijakan Lama 1.Land use 5.Perkebunan
2.Kehutanan 6.Perikanan
3.Pertanian 7.Transportasi
4.Tenaga Air 8.Perkotaan dll
2. Rancangan Revisi Kebijakan
PKM I

B. Potensi SDA
1. Data Pembangunan yang sudah ada
2. Data hidrologi
3. Data teknis Lainnya (tanah, geologi, peta dll)

C. A
Analisis Draft Renc. PKM II
B Kebijakan yang
sesuai potensi
Renc. Pola
PSDA WS
Draft Kerangka Dasar Analisis
Sesuai kebijakan
Dan potensi
Langkah – Langkah Penyusunan POLA PSDA WS
sesuai dengan PP 42/2008 Pengelolaan SDA
Langkah 1
Analisa kebijakan yang sudah ada pada wilayah dan rancangan kebijakan hasil PKM 1 dengan melihat
potensi yang ada di wilayah tersebut untuk menghasilkan Draft Rencana seuai dengan potensi Daerah
1. Kebijakan pengelolaan sumber daya air disusun di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota dengan memperhatikan
kondisi setiap wilayah.

(1) Pola pengelolaan sumber daya air disusun dengan memperhatikan kebijakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah
administratif yang bersangkutan.
(2) Pola pengelolaan sumber daya air disusun berdasarkan disusun dengan mengacu pada informasi mengenai:
a. penyelenggaraan pengelolaan SDA yg dilakukan oleh Pem. dan/atau pemda yang bersangkutan;
b. kebutuhan sumber daya air bagi semua pemanfaat di wilayah sungai yang bersangkutan;
c. keberadaan masyarakat hukum adat setempat;
d. sifat alami dan karakteristik sumber daya air dalam satu kesatuan sistem hidrologis;
e. aktivitas manusia yang berdampak terhadap kondisi sumber daya air;
f. kepentingan generasi masa kini dan mendatang, serta lingkungan hidup.

Langkah 2 Melaksanakan PKM 2


(3) Pola pengelolaan sumber daya air disusun melalui konsultasi dengan instansi dan unsur masyarakat yang terkait.

Langkah 3 Membuat Draft kerangka Dasar Sesuai kebijakan dan potensi yang ada di masing-masing wilayah
Ketentuan mengenai pedoman teknis dan tata cara penyusunan pola pengelolaan sumber daya air diatur dengan peraturan
Menteri.
Perencanaan pengelolaan sumber daya air disusun sesuai dengan prosedur dan persyaratan melalui tahapan yang ditetapkan
dalam standar perencanaan yang berlaku secara nasional yang mencakup inventarisasi sumber daya air, penyusunan dan
penetapan rencana pengelolaan sumber daya air
Hasil perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk
menyelenggarakan pengelolaan SDA
Disusun sesuai dengan Pola PSDA dengan basis WS
Merupakan rencana jangka panjang yang memuat pokok-pokok rencana
program konservasi dan pendayagunaan SDA serta pengendalian daya rusak
air di WS secara terpadu dan terarah
Mencakup upaya non-struktural dan struktural
Dilengkapi pre-FS
Untuk upaya struktural harus dilengkapi dengan :
• Outline desain (basic)
• Preliminery resettlement plan
Jangka panjang 15 – 25 th
Harus melakukan kegiatan PKM
Ditetapkan, ditinjau dan dievaluasi setiap 5 th sekali
Ditetapan oleh instansi yang berwenang
 Kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau,
dan mengevaluasi kegiatan konservasi SDA, pendayagunaan SDA,
dan pengendalian daya rusak air.

 Disusun berbasis WS dgn prinsip


- keterpaduan antara air permukaan dan air tanah
- keseimbangan antara upaya konservasi dan pendayagunaan SDA

• Time horizon: 20 tahun

• Dapat ditinjau & dievaluasi min. 5 tahun

• Melibatkan peran serta masyrakat (PKM) dan dunia usaha

• Mempunyai kekuatan hukum/ditetapkan oleh pejabat yang


berwenang

• Isi Pola PSDA :


– Tujuan umum dan arahan PSDA
– Dasar-dasar pertimbangan / Prinsip Pokok PSDA
– Prioritas dan strategi dalam mencapai tujuan
– Konsepsi kebijakan-kebijakan dasar PSDA
– Rencana pengelolaan strategis
1. Skema system Sungai
2. Peta geologi, geohidrologi, geomorfologi
3. Peta Jenis tanah
a. Tingkat Erosi dan longsor, peta
b. Peta kesesuaian lahan pertanian
4. Peta penggunaan lahan Eksisting (Peta Landsat 1 : 250.000)
5. Peta Kekritisan Lahan
6. Kondisi sedimentasi sungai. Galian C
7. Data hidrologi, klimatologi, rainfall-runoff, dapat dianalisi dengan:
a. Proses HYMOS
b. Ketersediaan air-kebutuhan air & alokasi air
 Proses DSS-RIBASIM
c. debit andalan, debit banir rencana, pengelolaan banjir
8. Lokasi danau, situ embung, waduk
9. Hasil studi terdahulu tentang potensi waduk, embung
10. Peta, data genangan dan kerugian banjir yang sudah ada
11. Prasarana pengendalian banjir yg sudah ada
12. Potensi lokasi retensi banjir
13. Peta batas administrasi Kabupaten/Kota
14. Peta Tata Ruang wilayah, kawasan pengembangan, kawasan lindung dll
15. Lokasi dan data kegiatan konservasi yang telah direncanakan dan dilakukan
16. Data sosial & ekonomi, peran tiap sektor terhadap PDRB
17. Peta Sosial-budaya, suku, dll., kebiasaan masyarakat setempat yang berpengaruh
terhadap SDA
18. Seri Data Penduduk dan perhitungan proyeksi yad
19. Perhitungan kebutuhan air RKI, saat ini dan yad
20. Data Lokasi, luas jaringan dan kondisi irigasi sederhana, teknis, air tanah
21. Hasil studi terdahulu tentang potensi pengembangan jaringan irigasi
22. Data Penggunaan dan potensi Hydropower
23. Data kualitas air dan pencemaran
24. Masalah Konflik pemanfaatan air (tata ruang, kebutuhan akan air)
25. Menentukan Tujuaan pengelolaan SDA, berdasarkan masalah
26. Asumsi, standar dan kriteria. Harus jelas, diperlukan dalam penyusunan skenario,
strategi dan evaluasi pelaksanaan
27. Menentukan beberapa skenario pengelolaan, yaitu asumsi kondisi yad yang mungkin
terjadi di luar kemampuan kendali pengelola SDA, seperti perekoniman, politik
28. Pembagian Water District dan proses RIBASIM
29. Menyusun upaya fisik pemenuhan kebutuhan air (lokasi dan jadwal)
30. Menyusun upaya fisik pendaya gunaan lainnya
31. Menyusun rencana zona pemanfaatan sumber daya air
32. Menyusun rencana peruntukan air pada sumber air Data
Kelembagaan di WS, hubungan huli-hilir, antar instansi dan data
finansial/pembiayaan daerah
33. Proses SOBEK, Hecras banjir
34. Menyusun upaya fisik pengendalian banjir dan pembuatan peta
rawan banjir
35. Menyusun upaya fisik konservasi Menyusun upaya non fisik
konservasi
36. Menyusun upaya non fisik pendaya gunaan
37. Menyusun upaya non fisik pengelolaan banjir dan kekeringan
38. Penilaian permasalahan lingkungan
39. Menyusun alternatif pilihan strategi/rangkaian upaya untuk
mencapai setiap skenario, prioritas sasaran dan urutan prioritasnya
40. Menyusun langkah operasional/rangkaian kegiatan
pendahuluan/pendukung, termasuk rekomendasi pengaturan
41. Menyusun tabel "siapa berbuat apa dan kapan“, jangka menengah
(5 Th-an), jangka panjang (20 Th)
42. PKM
KEGIATAN-KEGIATAN BERDASARKAN TAHAPAN
DALAM PEKERJAAN PERENCANAAN DAN EVALUASI
BIDANG Inventori Identifikasi Reconnaissance & Pra-Kelayakan Kelayakan Desain Konstruksi & Pemantauan
KEGIATAN Klasifikasi Implementasi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
A. Topografi Peta 1:250.000 dgn Peta daerah tangkapan 1:50.000, intvl. kontur 10m Seperti (2) ditambah Seperti (4) tambah peta Seperti (5) tambah Penyesuaian
intvl kontur 50m. Air peta 1:10.000, 2m 1:10.000, 1m intvl utk lahan peta dgn skala lebih diagram
atau lebih besar jika ada. Mengidentifikasi
hujan, Sungai, int.kontur utk saluran irigasi, 1:2.000, 1/2m intvl. besar utk bangunan berdasarkan (6)
Jalan. tambahan peta yg diperlukan. utama & waduk. utk saluran & bangunan terpilih. Bench Marks
utama. utk acuan.
B. Klasifikasi Kajian data-2 berikut: Citra LANDSAT 1 juta Seperti (1)&(2) tamabah peta smp dgn 1:25.000, Seperti (3)&(4) tambah foto Seperti (5) dgn skala Implementasi dari Pemantauan
Lahan atau lbh besar, Foto udara 1:120.000 atau lbh foto udara smp dgn 1:25.000 tambah foto- udara terkini 1:10.000 lbh besar & lbh detail. pelatihan dan kesuburan, dan
bsr, Peta Tanah 1:250.000 atau peta tata interpretasi & survey kemampuan air, tanah dan dsb.Identifikasi & hitung Biaya spesifik dari kondisi drainase
bentuk-2 tanah dan lahan. pengorganisasian tanah.
guna lahan 1:50.000. Meninjau ulang laporan-lahan, dgn observasi 1/200 ha smp 1/500 ha. wilayah kecil yg para petani.
Jenis-2 penggunaan lahan
2 dan peta-2 dari SRI Bogor dan Universitas- Contoh tanah utk analisis kimia. Termasuk dgn tanaman tertentu. terpilih pada 1 atau 2
2, konsultasi sistem-2 lahan. perbedaan-2 dari sistem lahan. Observasi 1/50 ha atau abs/ha
1/25 ha. Studi erosi,
kesuburan dan racun.
C.Pertanian, Mengetahui Seperti (1) tambah: Seperti (2) tambah: Seperti (3) tambah: Seperti (4) tambah Desain rinci dari Hasil panen
Perluasan tanaman lokal. Asumsi umum utk: Kendala-2 pada Rekomendasi pada:perkiraaan : Panen dengan perluasan lahan aktual, pola dan
Pemasaran, Kebijaksanaan Panen, Intensitas pertanian. Produksi dlm Intensitas pola tanam, pertanian. Masukan intensitas
dan tanpa proyek serta
dsb. umum utk: kaitan dengan pemupukan; dan layanan penanaman.
penanaman, penggunaan konsumtif.
Tanaman yg kekurangan permintaan; perlindungan tanaman;
beririgasi, tanaman Penggunaan air rata-2 air; perlindungan; O&P ; pemakaian air; Model-2 perkebunan dan
tadah hujan, utk tanaman. perlindungan rekomendasi lebih detail
penghutanan perkebunan; layanan
dengan tanaman perluasan. pada butir (4). Studi SDM,
berbagai jenis. pasar, penyimpanan.
D.Hidrologi Mengumpulkan dan Untuk sumber-2 yg Seperti (2) tambah Tinjau ulang data; Seperti (4) perbaikan data Membaharui butir (5) Kapasitas dari Koleksi data
membandingkan teridentifikasi pada butir kumnjungan pada rekomendasi, jika perlu; Cek penilaian; termasuk analisis pengalih aliran terkini utk proyek
data. Peta hujan (1) perkiraan gambaran stasiun-2 data terpilih; peningkatan Tinjau ulang neraca air di detail dari sungai,dsb. dan hidrologi
rata-2. Catatan dari: Daerah yg akan ter- menduga kualitas data. jaringan/pemrosesan. DAS; Model hidrologi untuk banjir/kekeringan, Selama nasional,
irigasi; potensi Membuat catatan tentang Kebijakan regional & penelususran banjir, konstruksi. perbaikan
aliran/debit rata-2 & proyek-2 serbaguna.
pembangkit listrik, dsb. ketinggian muka banjir analisis frekuensi pada sedimentasi. perkiraan
minimum yang Membangkitkan urutan
Catatan-2 banjir yg atau drainase. banjir & kekeringan. Penjernihan air utk mendatang.
tersedia. Termasuk terjadi. Memperkirakan laju kritis dari kejadian banjir & perkotaan/industri.
mengidentifikasi erosi dan sedimen. kekeringan.
sumber-2 air utama. Neraca air tahap awal di
DAS.
E.Hidrogeologi Mengumpulkan & Foto udara dasar: Peta Seperti (2) tambah Seperti (3) tambah Seperti (4) tambah Seperti (5) perbaikan Mengawasi Keluaran sumur.
membandingkan Topografi, Identifikasi mengunjungi lokasi review sumur dan pengeboran sumur uji, tes model akuifer & dan pembuatan sumur Penurunan muka
data debit & terpilih yg disiapkan utk pemompaan air yg ada. pemompaan, survey perkiraan dan menguji air sumur.
daerah, Studi lebih program pada Studi geofisik, model sederhana tamnpungan, desain produksi. Merevisi
penggunaan air Ambil sample dan tes Ketinggian
lanjut yg bermanfaat. Kelayakan. dari imbuhan pd akuifer, dinding, saringan dan perkiraan
saat ini. Identifikasi kimia air. Membuat grs tampungan, transmisivitas, pompa-2, metode piezometrik muka
wilayah-2 yg besar formasi karst dan pengeboran spesifik. air. Pembaharuan
memiliki potensi air. sedimen pada peta. model.
KEGIATAN-KEGIATAN BERDASARKAN TAHAPAN DALAM PEKERJAAN
PERENCANAAN DAN EVALUASI( Lanjutan)
BIDANG Inventori Identifikasi Reconnaissance & Pra-Kelayakan Kelayakan Desain Konstruksi & Pemantauan
KEGIATAN Klasifikasi Implementasi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
F.Geologi dan .. Data dasar dari foto Seperti (2) tambah Mengunjungi lokasi yg Pengeboran penyelidikan Analisis kestabilan Mengawasi
udara & peta topografi & mengunjungi lokasi-2 mungkin utk bangunan, utk lokasi pengambilan lereng, pondasi, tingkatan material
Mekanika Tanah catatan gempa, klasifikasi terpilih dari kriteria awal utk material struktur yg dijumpai dan
pendugaan kecocokan dinding-2 dan formasi di bendungan & desain bendungan. Uji kekuatan & perkolasi, seismik,
agregat beton. melakukan
lokasi untuk benungan, beberapa lokasi kunci. saluran, pondasi, permeabilitas tanah dari
saluran, bangunan-2 stabilitas lereng utk sample terpilih. Merevisi perubahan desain
lain dsb. persiapan program (5). kriteria desain. jika diperlukan.
G.Rancangan Membuat grs besar Menghubungkan Seperti (2) tambah Membuat garis besar Managemen air & efisiensi Desain rinci, gambar Analisis Mencatat
Teknik sumber air utama, kebutuhan saat ini atau mengunjungi lokasi-2 rancangan dan kapasitas saluran irigasi. pelelangan; program
daerah irrigasi land keb.potensial dengan alinyemen pekerjaan-2 konstruksi, BOQ. pengawasan konstruksi.
Operasi waduk (dgn model
dan wilayah lain yg sumber-2 yg mungkin. utama. Rencana Spesifikasi teknis & konstruksi; Menguji
hidrologi, ukuran
membutuhakan. Termasuk tampungan utk menyiapakan 'as kemampuan dan
mengidentifikasi penggunaan air optimal bendungan, waduk, dokumen kontrak. built drawing' & kondisi
rencana-2 yg mungkin. (dan/atau transfer antar- bangunan-2 lain). laporan. bangunan.
DAS). Manual/petunjuk
H.Biaya-biaya .. .. Mengklasifikasi proyek Perkiraan biaya-2 Biaya asing/dalam negeri & Biaya-2 rinci dan Membandingkan Mencatat
biaya rendah, menengah program pengeluaran utk jadual harga, biaya nyata Records modal
(termasuk O&P) dari
atau besar berdasarkan dengan perkiraan. dan pengeluaran
enginering. Penyiapan termasuk kompensasi
kriteria saat ini. pekerjaan teknik, layout operasional.
lahan, pertanian & & jalan keluar.
irigasi, pertanian &
kompensasi.
kompensasi.
I.Keuntungan- Perkiraan keuntungan Mengidentifikasi .. .. Pemasukan
keuntungan peningkatan pemasukan petani & rumah
Kualitatif : (lihat dibawah 'Master Plan') dari Tanaman, Industri, hasil pertanian dan tangga.
keuntungan lain jika
Perkotaan, PLTA, dsb. dimungkinkan.
J. Analisis .. .. .. Peringkat-2 alternatif Pengembalian ekonomi & Kebutuhan keuangan, Pemantauan dasar Pembayaran
Ekonomi dan berdasarkan: keuangan, jadual tunjangan pinjaman dan dan survey kembali,
Finansial Pengembalian ekonomi( keuangan, studi sensitifitas penyebaran. evaluasi. pemasukan
menggunakan kriteria pembayaran kembali & petani dan rumah
tunggal sederhana), kredit.
dimungkinkan dgn
program komputer.
Master Plan Mengumpulkan info Seperti (1) tambah Seperti (2) tambah Seperti (3) tambah Memperbaiki 'master plan'. Berkonsultasi dgn Implementasi dari Masukan balik utk
(tambahan dari tentang: Populasi, catatan ttg: Rencana kunjungan dan dugaan peramalan perkiraan Bekerjasama dgn instansi instansi lain yg terkait
aspek-2 yg terkait
memperbaiki
A - J) Kebutuhan pangan, wilayah yg ada utk thd latar blkg sosio- populasi, kebutuhan lain di wilayah tsb, atau yg dgn aspek seperti 'master plan'.
Keb. Air, produksi pangan, politik, dan kendala lain akan tenaga. Komentar terkait dgn proyek air. jalan raya, dgn instansi-2 lain.
Infrastruktur secara transmigrasi, industri, dlam pembangunan. mengenai jalan & transmigrasi, letusan
kualitatif. dsb. infrastruktur. gunung, dsb.
Kegiatan Perencanaan Skema
Keterangan
Bagian Kegiatan Pola Pengelolaan SDA WS Rencana Induk SDA WS
Produk Akhir Lokasi Lokasi
Arah Saluran Pembawa Tampak memanjang dan melintang per 1 km
Skema Infrastruktur Gambar tipe bangunan penting
Gambar Sketsa bangunan penting
Maksud Desain Gambar untuk menunjang kebijakan SDA Gambar untuk gambaran infrastruksi SDA
Topografi Peta 1:50.000 atau yang ada Peta 1: 25.000
lokasi bangunan 1 : 2.000
Penampang melintang per 1 km (1:100 & 1:2.000)
Penampang memanjang 1:2.000
Geologi Teknik & Peta Geologi lebih detail
Mekanika Tanah
Geologi Wilyah parameter geoteknik
Konfirmasi Lapangan survey material bangunan
Hidrologi Peta Hujan analisa frekuensi banjir dan kekeringan
Aliran Maks – Min sedimen, limpasan, air hujan dan erosi
Ketersediaan & Kebutuhan Air neraca air pendahuluan untuk semua sektor
Data Banjir & Penggenangan
Debit Andalan
Kunjungan ke stasiun pengamatan hujan/debit

Ukuran Kertas A3 A3 - A1
Tingkat Ketepatan 40-60% 60 - 70% Indikator
Pola PSDA
Tahapan
WS Usulan Rumusan Rekomendasi Penetapan

Wadah Koordinasi Wadah Koordinasi


Dlm satu Bupati /
Dinas Kab/Kota SDA Kab/Kota SDA Kab/Kota
Kab/Kota Walikota
atau WS atau WS
Wadah Koordinasi Wadah Koordinasi
Lintas Kab/Kota Dinas Propinsi SDA Prop. SDA Prop. Gubernur
atau WS atau WS

DSDAN + Ketua Wadah Koordinasi SDA


Lintas Propinsi Menteri Menteri
Propinsi

DSDAN / Wadah DSDAN / Wadah


Lintas Negara Menteri + Menlu Koordinasi SDA Koordinasi SDA Presiden *
Prop / Kab / Kota Prop / Kab /Kota

Strategis DSDAN + Ketua Wadah Koordinasi SDA


Menteri Menteri
Nasional Propinsi

• Dalam hal belum ada kesepahaman dari negara-negara terkait maka Pola PSDA sementara
dapat ditetapkan oleh menterii