Anda di halaman 1dari 9

MAFHUM MUKHALAFAH

MATA KULIAH USHUL FIKIH 2


DOSEN DR.NORCAHYONO, S PDI, M.H

DISUSUN
OLEH :

SITTI ZUBAIDAH
NIM. 17.42.018367

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA


FAKULTAS AGAMA ISLAM
JL. RTA. MILONO KM.1,5 PALANGKARAYA KALIMANTAN TENGAH
TAHUN 2018 / 2019
MAFHUM MUKHALAFAH
Mafhum (‫ ) فهم‬berarti pemahaman, pengertian, gambaran yang tidak tertulis di dalam
nash (tersirat). Sedangkan mukhalafah (‫ )خلف‬berarti berbeda.

Mafhum mukhalafah adalah ketika dalam suatu nash syar’i terdapat hukum yang tidak dibatasi
oleh suatu batasan, sifat, batas maksimal (ghayah), syarat, batasan hitungan, dan batasan nama
(laqab).

Sebagai contoh terdapat pada ayat QS An-Nisa Ayat 4

‫وآتوا النساء صدقاتهن نحلة فإن طبن لكم عن شيء منه نفسا فكلوه‬
‫هنيئا مريئا‬
Artinya : “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai
pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu
sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu
(sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa’ 4:4)

Dalam ayat tersebut suami boleh menerima maskawin isterinya dengan syarat
apabila isterinya tersebut memberikannya dengan senang hati, maka mafhum
mukhalafahnya adalah apabila tidak dengan senang hati, maka haram hukumnya.
Mafhum mukhalafah adalah proses hukum yang bertentangan dengan hukum
mantuq (yang dikatakan), maka diperlukan beberapa syarat agar hukum yang
dihasilkan menjadi shahih.

Untuk sahnya mafhum mukhalafah diperlukan empat syarat::


a. Mafhum Mukhalafah harus tidak berlawanan dengan dalil yang lebih kuat,
baik dalil mantuq maupun mafhum muwafaqah.

b. Yang disebutkan (mantuq) bukan suatu hal yang biasanya terjadi.


C Lafaz Yang Disebutkan (Mantuq) Bukan Dimaksudkan Untuk Menguatkan
Sesuatu Keadaan.

d. Dalil Yang Disebutkan Harus Berdiri Sendiri Tidak Boleh Mengikuti yang
Lain.
Ulama Ushul Fiqh membagi mafhum mukhlafah kepada 5 (lima)
1. Mafhum Al Sifat ( ‫)م ﻮﻬﻔﻣ ﺔﻔﺼﻟا‬
Mafhum al-sifat dapat didefinisikan sebagai dalalah lafaz yang diikat
dengan sesuatu sifat yang menafikan hukum ketika sifat itu tiada. Dari
sudut lain, mafhum al-sifah bermaksud penunjukan suatu lafaz yang
berkaitan dengan sesuatu sifat terhadap kebalikan hukumnya ketika tiada
sifat tersebut. Mafhum al-sifah juga dapat difahami sebagai menetapkan
sesuatu hukum bagi sesuatu yang tidak disebut berlawanan dengan yang
disebutkan nas berdasarkan sifat yang terdapat padanya.
Contohnya, firman Allah

artinya :
Dan barangsiapa di antara kamu tidak mempunyai biaya untuk menikahi
perempuan merdeka yang beriman, maka (dihalalkan menikahi perempuan) yang
beriman dari hamba sahaya yang kamu miliki ( al-Nisa’ 4:25 )

Melalui ayat ini dapat dipahami bahawa seorang lelaki Islam boleh
menikahi wanita yang beriman dari kalangan hamba ketika mereka tidak
mampu untuk mengahwini wanita merdeka. Melalui kaedah mafhum al-
mukhalafah dapat difahami bahawa lelaki Islam tidak dibenarkan dan
haram mengawini wanita dari kalangan hamba yang kafir atau tidak
beriman.
2. Mafhum al-ghayah ( ‫ ) اﻟﻐﺎﻴﺔ ﻣﻔﻬﻮم‬/ limit waktu

mafhum al-ghayah dapat didefinisikan sebagai penunjukan suatu lafaz yang terkait padanya
hukum yang dibatasi dengan had waktu atas tidak berlakunya hukum itu setelah waktunya berlalu.
Sebagai contoh, firman allah swt

Artinya : Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih
dan benang hitam yaitu fajar ( al-Baqarah 2:187 )

Dari ayat ini dapat difahami bahwa dibolehkan makan dan minum pada bulan
Ramadhan sampai terbit fajar. Secara mafhum mukhalafah ayat ini dapat diketahui bahwa
haram makan dan minum sesudah waktu habis yaitu sesudah fajar.
• 3. Mafhum syarat ( ‫) اﻟﺷﺮط ﻣﻔﻬﻮم‬

Mafhum al-shart dapat ditakrifkan sebagai dalalah lafaz yang hukumnya


bergantung kepada syarat yang menafikan hukum dengan ternafinya syarat tersebut.
Dengan kata lain, mafhum al-shart ialah menetapkan kebalikan sesuatu hukum yang
berkait dengan syarat ketika syarat tersebut tidak ada. Selain itu, mafhum al-shart dapat
difahami sebagai petunjuk nas yang difahami untuk menetapkan hukum bagi maskut
‘anhu yang merupakan sebaliknya dari mantuq bih dengan jalan mengaitkannya dengan
sesuatu syarat. Contohnya firman Allah

Artinya : Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalak) itu sedang hamil maka
berikanlah kepada mereka nafkahnya sampai mereka melahirkan kandungannya…. (al-
Talaq 65:6)

Ayat ini menegaskan bahawa suami wajib memberi nafkah terhadap isterinya yang telah
ditalak bain dalam keadaan hamil. Secara mafhum mukhalafah, dapat difahami bahawa
suami tidak diwajibkan memberi nafkah sekiranya isteri yang telah telah ditalak itu tidak
dalam keadaan hamil.
4.Mafhum al-‘adad ( ‫ ) اﻟﻌﺪﺩ ﻣﻔﻬﻮم‬/ bilangan
Yaitu berlaku ketetapan terhadap sesuatu hukum yang digantungkan
dengan bilangan tertentu bagi jumlah yang kurang atau lebih dari apa yang
dinyatakan oleh kata bilangan itu. Dalam arti lain penetapan sesuatu hukum
yang dibatasi atau qayd dengan bilangan, ketika bilangan tersebut tidak
dipenuhi, contohnya ialah, Firman Allah:

Artinya : Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik


(berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka
deralah mereka (orang yang menuduh itu) dengan 80 sebatan…. ( al-Nur 24:4 ).

Berdasarkan ayat ini, dapatlah diperhatikan bahawa hukuman bagi orang yang
menuduh wanita melakukan zina sedangkan dia tidak mampu menghadirkan
empat orang saksi bersamanya adalah dengan 80 kali sebatan. Bilangan bagi
pelaksanaan sebatan ini tidak boleh berkurangan atau bertambah dari jumlah
yang telah ditetapkan
•5. Mafhum al-laqab ( ‫ ) اﻟﻟﻗﺐ ﻣﻔﻬﻮم‬/ gelar atau sebutan
Yaitu mafhum daripada nama yang menyatakan tentang zat, sama ada untuk diri,
seperti: Rosmalina, Liana dan lainnya, ataupun berbentuk kata sifat, seperti: Yang
mencuri dan yang membunuh dan lainnya atau pun nama jenis, seperti: Emas, padi
,gandum dan lainnya. Dengan kata lain, Mafhum al-Laqab ialah menyebut sesuatu
hukum yang ia ditentukan oleh jenisnya, hinggalah hukum tersebut menjadi ijab
atau positif dalam masalah yang terdapat pada nas dan negatif atau manfi terdapat
masalah yang tidak disebutkan
contohnya, firman allah:

Artinya : (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai anakku,


sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat
semuanya sujud kepada ku.”(Yusuf12:4)

Dari ayat ini dipahami bahawa ucapan tersebut hanya berkait dengan Nabi Yusuf
kerana tidak ada kaitannya dengan orang lain dalam ayat itu.
SELESAI