Anda di halaman 1dari 214

Hukum Pajak

Materi:

1. Filosofi Pemungutan Pajak


2. Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan
3. Pengadilan Pajak
4. Pajak Penghasilan (PPh)
5. PPN dan PPn BM
6. PBB
7. BPHTB & Bea Materai
8. UU Pajak Daerah
Materi - 1
Filosofi Pemungutan Pajak :

• Pengertian dan fungsi pajak


• Pengertian hukum pajak
• Pengelompokan pajak
• Perlawanan terhadap pajak
• Azas-azas pemungutan pajak
• Cara-cara pemungutan pajak
• Tarif
• Hapusnya Utang pajak
Pengertian Pajak

Kontribusi wajib kepada negara yang terutang


oleh orang pribadi atau badan yang bersifat
memaksa berdasarkan Undang-Undang,
dengan tidak mendapatkan imbalan secara
langsung dan digunakan untuk keperluan
negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat.
Tinjauan Pajak Berbagai Aspek
Aspek Ekonomi
Dari sudut pandang ekonomi, pajak merupakan penerimaan negara yang
digunakan untuk mengarahkan kehidupan masyarakat menuju
kesejahteraan.

Aspek Hukum
Pajak merupakan masalah keuangan negara, karena itu dasar yang
digunakan adalah UUD 1945 bahwa pajak dan pungutan lain yang bersifat
memaksa untuk keperluan negara diatur dengan UU.

Aspek Keuangan
Pajak dipandang bagian yang sangat penting dalam penerimaan negara.

Aspek Sosiologi
Pajak ditinjau dari segi masyarakat yaitu yang menyangkut akibat atau
dampak terhadap masyarakat atau pugutan dan hasil apakah yang dapat
disampaikan kepada masyarakat.
Perbedaan Pajak Dan Jenis Pungutan Lainnya

Retribusi
Retribusi pada umumnya mempunyai hubungan langsung dengan
kembalinya prestasi, karena pembayaran tersebut ditunjukkan
semata-mata untuk mendapatakan suatu prestasi dari pemerintah,
misalnya karcis masuk terminal, kartu langganan dll.

Sumbangan
Pada sumbangan, seseorang mendapatkan prestasi justru tidak dapat
ditunjuk, tetapi golongan tertentu yang dapat menikmati
kontraprestasi, contoh sumbangan bencana alam.

Iuran
Yaitu pungutan yang dikenakan sehubungan dengan suatu jasa atau
fasilitas yang diberikan pemerintah secara langsung dan nyata
kepada kelompok atau golongan pembayar
Fungsi Pajak
Fungsi Penerimaan (Budgeteir)
Pajak berfungsi sebagai sumber dana yang
diperuntukkan bagi pembiayaan pengeluaran –
pengeluaran pemerintah. Contoh, dalam APBN,
pajak sebagai sumber penerimaan dalam
negeri.

Fungsi Mengatur (Reguler)


Pajak berfungsi sebagai alat mengatur atau
melaksanakan kebijakan dibidang sosial dan
ekonomi. Contoh, minuman keras dan barang
mewah dikenakan pajak yang lebih tinggi.
Hukum pajak
adalah keseluruhan peraturan-peraturan yang
meliputi kewenangan pemerintah untuk
mengambil kekayaan seseorang dan
menyerahkan kembali kepada masyarakat
melalui kas negara.

Hukum terbagi dalam dua kelompok besar yaitu:


• Hukum Publik: Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi,
Hukum Pajak (Hukum Pajak Materiil dan Hukum Pajak Formil),
Hukum Pidana

• Hukum Perdata
Teori yang mendukung pemungutan pajak antara lain:

•Teori asuransi, menyamakan pembayaran premi dengan pembayaran pajak;

• Teori kepentingan, pembebanan ini harus didasarkan pada kepentingan


setiap orang pada tugas pemerintah termasuk perlindungan jiwa dan
hartanya;

• Teori gaya pikul, dasar keadilan pemungutan pajak terletak dalam jasa-
jasa yang diberikan oleh negara kepada masyarakat berupa
perlindungan jiwa dan harta bendanya;

• Teori bakti disebut juga teori kewajiban pajak mutlak, yaitu negara
mempunyai hak mutlak untuk memungut pajak;

• Teori asas daya beli, penyelenggaraan kepentingan masyarakat yang


dianggap sebagai dasar keadilan pemungutan pajak yang bukan
kepentingan individu atau negara.
Pajak dapat dikelompokkan ke dalam kelompok:

Menurut golongan
Pajak langsung adalah pajak yang pembebanannya tidak dapat dilimpahkan pihak
lain, tetapi harus menjadi beban langsung Wajib Pajak yang bersangkutan.
Contoh, Pajak Penghasilan.
Pajak tidak langsung adalah pajak yang pembebannya dapat dilimpahkan ke pihak
lain. Contoh, Pajak Pertambahan Nilai.

Menurut sifat
Pajak subjektif, adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya
yang selanjutnya dicari syarat objektifnya, dalam arti memperhatikan keadaan
dari Wajib Pajak. Contoh, Pajak Penghasilan.
Pajak objektif, adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada objeknya, tanpa
memperhatikan keadaan diri WP. Contoh, PPN & PPnBM

Menurut pemungut dan pengelolanya


Pajak Pusat, adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk
membiayai rumah tangga negara. Yaitu, PPh, PBB, PPN dan PPn BM, BPHTB
dan Bea Materai.
Pajak Daerah, adalah pajak yang dipungut oleh Pemerintah daerah dan digunakan
untuk membiayai rumah tangga daerah. Contoh, Pajak Hotel, Pajak Reklame
dan Pajak hiburan.
Cara pemungutan pajak dilakukan berdasarkan 3 (tiga) stelsel, yaitu:

1.Stelsel nyata (riil stelsel), pengenaan pajak didasarkan pada objek


(penghasilan) yang nyata, sehingga pemungutannya baru dapat
dilakukan pada akhir tahun pajak, yakni setelah penghasilan yang
sesungguhnya telah dapat diketahui;

2.Stelsel anggapan (fictive stelsel), pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan
yang diatur oleh undang-undang. Sebagai contoh, penghasilan suatu tahun
dianggap sama dengan tahun sebelumnya sehingga pada awal tahun pajak
telah dapat ditetapkan besarnya pajak yang terutang untuk tahun pajak
berjalan;

3. Stelsel campuran, Merupapakan kombinasi antara Stesel nyata dan Stelsel


anggapan. Pada awal tahun, besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu
anggapan, kemudian pada akhir tahun besarnya pajak disesuaikan dengan
keadaan yang sebenarnya. Apabila besarnya pajak menurut kenyataannya
lebih besar daripada pajak menurut anggapan, maka Wajib Pajak harus
menambah kekurangannya. Demikian pula sebaliknya, apabila lebih kecil
maka kelebihannya dapat diminta kembali.
Asas pemungutan pajak dapat dibagi menjadi:
Asas Domisili (Asas tempat tinggal) yaitu pengenaan pajak atas
seluruh penghasilan Wajib Pajak yang bertempat tinggal di
wilayahnya;

Asas Sumber, yaitu pengenaan pajak atas penghasilan yang


bersumber di wilayahnya tanpa memperhatikan tempat
tinggal Wajib Pajak;

Asas Kebangsaan, yaitu pengenaan pajak dihubungkan dengan


kebangsaan suatu negara.
Sistem pemungutan pajak dapat dibagi menjadi:
Official Assesment System, Sistem ini merupakan sistim
pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada
Pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang
terutang;

Self Assesment System, Sistem ini merupakan pemungutan


pajak yang memberi wewenang, kepercayaan, tanggung
jawab kepada Wajib Pajak untuk menghitung,
memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri
besarnya pajak yang harus dibayar;

Withholding System, Sistem ini merupakan sistem pemungutan


pajak memberi wewenang kepada pihak ketiga untuk
memotong atau memungut besarnya pajak yang terutang
oleh Wajib Pajak.
Timbulnya Utang Pajak

• Ajaran Materiil
sesuai dengan penerapan self assesment

• Ajaran formil
sesuai dengan penerapan official assesment
Berakhirnya Utang Pajak

• Pembayaran/Pelunasan;

• Kompensasi;

• Daluwarsa;

• Pembebasan/ Penghapusan
Perlawanan terhadap pajak dapat
dibedakan menjadi:

Perlawanan Pasif
Perlawanan pasif berupa hambatan yang mempersulit pemungutan
pajak dan mempunyai hubungan erat dengan struktur ekonomi.

Perlawanan Aktif
Perlawanan aktif secara nyata terlihat pada semua usaha dan
perbuatan yang secara langsung ditujukan kepada pemerintah
(fiskus) dengan tujuan untuk menghindari pajak.
Tarif pajak dikenal 4 macam yaitu:

• Tarif pajak proporsional / sebanding


(mis. PPN tarif 10%, PPh Psl 26 20%)

• Tarif Pajak Progresif


* Tarif Progresif Proporsional (mis tarif PPh yang berlaku 1983
s/d 1994)
* Tarif Progresif Progresif (mis tarif PPh yang berlaku 1995 s/d
2000)
* Tarif Progresif Degresif

• Tarif Pajak Degresif

• Tarif Pajak Tetap (misalnya Bea Materai)


MATERI II

KETENTUAN UMUM
DAN
TATA CARA PERPAJAKAN
UNDANG-UNDANG Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana diubah terakhir
dengan Nomor 28 Tahun 2007

17
INTI PERSOALAN PERPAJAKAN

Siapa Subjek
+ Wajib Pajak
Inti Objek
Tarif
Berapa x Pajak Terutang
Dasar
Pengenaan
Pajak
• Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi
pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut
pajak,yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan.

• Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal


yang merupakan kesatuan baik yang melakukan
usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang
meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer,
perseroan lainnya, BUMN atau BUMD dengan nama
dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi,
dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan,
organisasi massa, organisasi sosial politik, atau
organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan
lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk
usaha tetap.
19
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

adalah
nomor yang diberikan oleh DJP kepada
Wajib Pajak sebagai sarana administrasi
perpajakan yang dipergunakan sebagai
tanda pengenal diri atau identitas WP
dalam melaksanakan hak dan kewajiban
perpajakannya.

20
NPWP memiliki beberapa fungsi, antara lain:
 Sebagai identitas Wajib Pajak;
 Sebagai sarana dalam administrasi perpajakan;
 Dipergunakan dalam semua dokumen yang terkait
kewajiban perpajakan. Dengan demikian, pada semua
dokumen ini NPWP harus selalu dicantumkan. Contoh
dokumen tersebut antara lain faktur pajak, pemberitahuan
ekspor barang, pemberitahuan import barang, dll.
 Untuk memenuhi kewajiban perpajakan.
 Untuk mendapatkan pelayanan dari instansi-instansi
tertentu yang mewajibkan mencantumkan NPWP dalam
dokumen-dokumen yang diwajibkan.
 Untuk keperluan pelaporan SPT masa dan SPT tahunan
SYARAT-SYARAT UNTUK MENDAPATKAN NPWP/ PPKP
WP BADAN & PEMUNGUT/PEMOTONG DAN JANGKA
WAKTU PENERBITAN
KEP-161/PJ./2001 JO PER-160/PJ./2007

WAJIB PAJAK

PEMUNGUT/
BADAN OP
PEMOTONG
MENGISI DAN MENANDATANGANI SENDIRI/
KUASA KHUSUS
FORMULIR PENDAFTARAN
Dilampiri Fotocopy :
Dilampiri Fotocopy : Dilampiri Fotocopy :
• Akte pendirian;
penunjukan dari Kantor • Perjanjian Kerja sama • Surat penunjukan
Pusat (Untuk BUT). sebagai OP sebagai bendaharawan ;
• KTP/Paspor salah seorang • NPWP masing-masing • Tanda bukti diri
pengurus; dan anggota OP bendaharawan
• Surat Ijin Usaha/
Keterangan Tempat
Usaha.

• UNTUK NPWP, PALING LAMA PADA HARI KERJA BERIKUTNYA


• UNTUK NPPKP PALING LAMA 3 HARI KERJA
NPWP yang diberikan berjumlah 15 digit.
Sembilan digit pertama merupakan kode Wajib Pajak.
Sedangkan enam digit berikutnya merupakan kode
administratif dari wajib Pajak tersebut. Kode administratif
ini terdiri atas tiga digit menunjukkan kode KPP, sedangkan
tiga digit terakhir menunjukkan kode pusat atau cabang.
Contoh NPWP adalah sebagai berikut:

Kode Wajib Pajak Kode KPP Kode Pusat/Cabang


Penghapusan NPWP
• WP Orang Pribadi meninggal dunia dan tidak
meninggalkan warisan
• Wanita kawin tidak dengan perjanjian
pemisahan harta dan penghasilan
• Warisan yang telah terbagi
• WP Badan yang dibubarkan secara resmi
berdasarkan UU
• BUT yang kehilangan statusnya sebagai BUT
• WP orang pribadi yang tidak memenuhi syarat
lagi sebagai WP
PENGHAPUSAN NPWP
Kep. Dirjen No. KEP-161/PJ./2001

PERUBAHAN PROYEK
ORGANISASI TELAH SELESAI

PERMOHONAN TERTULIS/
MENGISI FORMULIR
KP.PDIP.4.1-00

KPP

NPWP DIHAPUSKAN

Catatan :
Bila terjadi penggantian Pejabat Bendaharawan, NPWP
tidak perlu diganti/ meminta NPWP baru, tetapi cukup
dilaporkan secara tertulis kepada KPP
Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak
(NPPKP)

• Setiap Wajib Pajak sebagai Pengusaha


yang dikenakan pajak berdasarkan
Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai
1984 dan perubahannya, wajib melaporkan
usahanya pada kantor Direktorat Jenderal
Pajak yang wilayah kerjanya meliputi
tempat tinggal atau tempat kedudukan
Pengusaha, dan tempat kegiatan usaha
dilakukan untuk dikukuhkan menjadi
Pengusaha Kena Pajak
Yang Wajib Menjadi PKP
• Pengusaha yang bukan pengusaha kecil
yang menyerahkan Barang Kena Pajak/
Jasa Kena Pajak
• Pengusaha kecil yang menyerahkan
Barang Kena Pajak / Jasa Kena Pajak dan
memilih menjadi PKP
Fungsi NPPKP
• Untuk mengetahui identitas Pengusaha
Kena Pajak
• Untuk melaksanakan hak dan kewajiban di
bidang PPN dan PPnBM
• Untuk pengawasan terhadap administrasi
perpajakan
Pencabutan NPPKP
• Pengusaha Kena Pajak pindah alamat ke
wilayah kerja KPP lain
• Suatu badan yang dimiliki PKP telah
dibubarkan
• PKP tidak lagi memenuhi syarat sebagai
PKP
PEMBAYARAN, PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN
DAN PELAPORAN PAJAK

Pembayaran Pajak:
1. Membayar sendiri pajak yang terutang, yaitu:
a. Pembayaran angsuran setiap bulan (PPh Pasal 25).
b. Pembayaran pada akhir tahun (PPh Pasal 29)
2. Melalui pemotongan dan pemungutan oleh pihak lain ( PPh Psl 4 (2), PPh Pasal 15,
PPh Pasal 21, 22 , 23 serta PPh Pasal 26)
3. Pemungutan PPN oleh pihak penjual atau pihak yang ditunjuk pemerintah
4. Pembayaran pajak-pajak lainnya, terdiri atas:
a. Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), yaitu berdasarkan Surat
Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)
b. Pembayaran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yaitu
pelunasan pajak atas perolehan hak atas tanah dan bangunan.
c. Pembayaran Bea Materai, yaitu pelunasan pajak atas dokumen yang dapat
dilakukan dengan cara menggunakan benda materai berupa materai tempel
dan kertas bermaterai atau dengan cara lain seperti menggunakan mesin teraan.
 Surat Setoran Pajak (SSP) standar digunakan untuk
pembayaran semua jenis pajak, baik yang final maupun
bukan final kecuali setoran PBB dan BPHTB. SSP standar
dibuat dalam rangkap lima yang peruntukannya sebagai
berikut.
Lembar ke-1 : untuk arsip pajak
Lembar ke-2 : untuk KPP melalui KPPN (Kantor
Pelayanan Perbendaharaan Negara)
Lembar ke-3 : untuk dilaporkan WP ke KPP
Lembar ke-4 : untuk arsip kantor penerima
Pembayaran (bank atau kantor pos).
Lembar ke-5 : untuk arsip wajib pungut atau pihak lain.
Surat Setoran Pajak
Bentuk SSP
SE-01/PJ.24/2006

SSP Baru 6 Digit Masih dapat digunakan


sampai 30 Juni 2006
 SSP khusus dicetak oleh kantor penerima
pembayaran yang telah mengadakan kerjasama
Monitoring Pelaporan Pembayaran Pajak (MP3)
dengan DJP.
1. SSP khusus dicetak saat transaksi
pembayaran/penyetoran pajak sebanyak
dua lembar, yang berfungsi sama dengan
lembar-1 dan lembar-3 SSP standar.
2. SSP khusus dicetak terpisah sebanyak satu
lembar yang berfungsi sama dengan lembar
ke-2 SSP standar untuk diteruskan ke
KPPN sebagai lampiran Daftar Normatif
Penerimaan (DNP).
Tempat Pembayaran
Pembayaran pajak dapat dilakukan di mana
pun di seluruh Indonesia. Tempat pembayaran
sesuai Pasal 10 UU KUP adalah :
a. Kantor pos dan bank-bank yang ditunjuk oleh Dirjen
Pajak dengan menggunakan Surat Setoran Pajak
(SSP);
b. Untuk pembayaran fiskal luar negeri selain tempat-
tempat tersebut di atas dapat dilakukan pada loket-
loket pembayaran yang telah disediakan di
pelabuhan pemberangkatan.
Batas Waktu Pembayaran
Batas waktu pembayaran dan penyetoran pajak yang
terutang untuk suatu saat atau Masa Pajak ditetapkan oleh
Menteri Keuangan dengan batas waktu tidak melampaui 15
(lima belas) hari setelah saat terutangnya pajak atau
berakhirnya Masa Pajak. Keterlambatan dalam pembayaran
dan penyetoran tersebut berakibat dikenai sanksi
administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan.
TANGGAL JATUH TEMPO PEMBAYARAN ATAU PENYETORAN
PAJAK
PASAL 9 AYAT (1) UU KUP JIS.
NO. 541 /KMK.04/2000 JO 326/KMK.03/2003

TANGGAL JATUH TEMPO


JENIS PAJAK
(paling lambat)
01. PPh Pasal 4 ayat (2)
a. penjualan saham dibursa efek tgl. 20 bulan takwim berikutnya
b. penghasilan bunga/diskonto tgl. 10 bulan takwim berikutnya
obligasi dibursa efek
02. PPh Pasal 21 tgl. 10 bulan takwim berikutnya
03. PPh Pasal 23/26 tgl. 10 bulan takwim berikutnya
04. PPh Pasal 25 tgl. 15 bulan takwin berikutnya
05. Pasal 22, PPN/PPn BM atas impor  tanggal yg sama pada saat pembayaran Bea Masuk

dilunasi sendiri  tanggal yg sama dgn saat penyelesaian dokumen impor


bila bea masuk ditunda/dibebaskan
06. PPN/PPn BM atas impor dipungut 1 hari setelah pemungutan pajak dilakukan
DJBC
07. PPh Pasal 22, pemungutan pada hari yg sama pada saat pembayaran
bendaharawan APBN
08. PPh Pasal 22, Produk Pertamina, dilunasi sendiri oleh WP sebelum SPPB/DO ditebus
Bulog
09. PPh Pasal 22 oleh bdn-bdn tertentu tgl. 15 bulan takwim berikutnya
10. PPN/PPnBM tgl. 15 bulan takwin berikutnya
11. PPN/PPn BM oleh bendaharawan
Pemerintah/instansi pemerintah tgl. 7 bulan takwim berikutnya setelah masa pajak
PPN/PPn BM selain bendaharawan berakhir
12 pemerintah/instansi pemerintah tgl. 15 bulan takwim berikutnya

Catatan :
Apabila tanggal jatuh tempo pembayaran/penyetoran bertepatan dengan hari libur, maka pembayaran/penyetoran dapat dilakukan
pada hari kerja berikutnya
Pelaporan

Pelaporan pajak yang telah dipotong/dipungut


menggunakan surat pemberitahuan (SPT) dengan
format yang telah ditentukan oleh keputusan
menteri keuangan.
Batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan adalah:
a. untuk Surat Pemberitahuan Masa, paling lama 20
(dua puluh) hari setelah akhir Masa Pajak;
b. untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi, paling lama 3
(tiga) bulan setelah akhir Tahun Pajak; atau
c. untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan Wajib Pajak badan, paling lama 4
(empat) bulan setelah akhir Tahun Pajak.

Wajib Pajak dapat memperpanjang jangka waktu


penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan untuk paling lama 2 (dua) bulan dengan
cara menyampaikan pemberitahuan secara tertulis
atau dengan cara lain kepada Direktur Jenderal Pajak
yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan.
TANGGAL JATUH TEMPO PELAPORAN PAJAK
PASAL 9 AYAT (1) UU KUP JO.
NO. 541/KMK.04/2000 JO NO.326/KMK.03/2003

NO. JENIS PAJAK JATUH TEMPO PELAPORAN

1 PPh Pasal 25
2 PPh Pasal 21 SPT Masa paling lambat 20 hari setelah Masa Pajak berakhir.
3 PPh Pasal 23/26
4 PPN/PPnBM
5 PPh Pasal 4 ayat (2):
a. Penjualan saham di Bursa Efek Paling lambat tanggal 25 bulan yang sama
b. Penghasilan bunga atau Paling lambat tanggal 20 dengan bulan penyetoran
diskonto obligasi di Bursa Efek
SPT Masa secara mingguan paling lambat 7 hari setelah batas waktu penyetoran
6 PPN/PPnBM atas impor dipungut pajak berakhir.
DJBC SPT Masa paling lambat 14 hari setelah Masa Pajak berakhir

7 PPh Pasal 22, pemungutan


SPT Masa paling lambat 20 hari setelah Masa Pajak berakhir
Bendaharawan APBN/D

8 PPh Pasal 22, Pertamina,atau SPT Masa paling lambat 14 hari setelah Masa Pajak berakhir
Badan tertentu Pemungut pajak
SPT Masa paling lambat 20 hari setelah Masa Pajak berakhir.
9 PPN/PPnBM oleh Bendaharawan
Pemerintah/instansi Pemerintah

10 PPN/PPnBM selain Bendaharawan Pemerintah


/instansi Pemerintah

Catatan : KEP.543/PJ./2000
Apabila tanggal jatuh tempo pelaporan bertepatan dengan hari libur, maka pelaporan harus
dilakukan pada hari kerja sebelumnya
SANKSI PERPAJAKAN

SANKSI SANKSI
ADMINISTRASI PIDANA

K
E ALPA SENGAJA
D B
N
E U
A KURUNGAN PENJARA
N N
I DAN DAN
D G
K DENDA DENDA
A A
A
N
SANKSI ADMINISTRASI

DENDA BUNGA KENAIKAN


Ps. 7 UU KUP Ps.8(2), 13(2), 14(3), 19(2)&(3) UU KUP Ps. 13(3), 15(2) UU KUP

Rp 50.000 50%
2%/BULAN
SPT TIDAK
maks 24 BULAN
DISAMPAIKAN
• SPT MASA PPh • PEMBETULAN SENDIRI SETELAH DITEGUR
Ps.21/22/23/26 dan SPT TERTULIS
PPN/PPn BM
TERLAMBAT/ TIDAK • HASIL PENELITIAN SPT
DISAMPAIKAN AKIBAT SALAH TULIS
DAN/ATAU SALAH
HITUNG 100%
• HASIL PEMERIKSAAN TIDAK MEMENUHI
Rp 100.000 (SKPKB) KETENTUAN PSL 28 &
29 UU KUP
• IZIN PENUNDAAN
• SPT TAHUNAN PPh Ps. 21 PENYAMPAIAN SPT
TERLAMBAT/ TIDAK • IZIN MENGANGSUR ATAU
DISAMPAIKAN MENUNDA PEMBAYARAN 100%
KARENA
DITERBITKAN SKPKBT

DARI

PAJAK YANG TIDAK/


KURANG DIBAYAR
5. SANKSI ADMINISTRASI BERUPA
DENDA (PASAL 7)
KETENTUAN SEKARANG:
Denda keterlambatan atau tidak menyampaikan SPT:
1. SPT Masa Rp 50 ribu;
2. SPT Tahunan Rp 100 ribu.

PERUBAHAN:
Denda keterlambatan menyampaikan SPT:
1. SPT Tahunan PPh orang pribadi Rp 100 ribu;
2. SPT Tahunan PPh badan Rp 1 juta;
3. SPT Masa PPN Rp 500 ribu;
4. SPT Masa Lainnya Rp 100 ribu.
6. SANKSI ADMINISTRASI BERUPA KENAIKAN (PASAL 13A)

KETENTUAN SEKARANG:
Sanksi administrasi untuk kealpaan yang pertama dilakukan
Wajib Pajak, tidak diatur.

PERUBAHAN:
Kealpaan tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan
SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap dan dapat
merugikan negara yang dilakukan pertama kali tidak dikenai
sanksi pidana tetapi dikenai sanksi administrasi berupa
kenaikan sebesar 200% dari pajak yang kurang dibayar.
TINDAK PIDANA DI BIDANG PERPAJAKAN

ALPA PERCOBAAN

SENGAJA PENGULANGAN
TINDAK PIDANA
KARENA ALPA
Pasal 38 UU KUP

WAJIB PAJAK
 TIDAK MENYAMPAIKAN SPT
 MENYAMPAIKAN SPT TIDAK BENAR

BERAKIBAT
DAPAT MENIMBULKAN KERUGIAN PADA PENDAPATAN NEGARA DAN PERBUATAN
TERSEBUT MERUPAKAN PERBUATAN SETELAH PERBUATAN YANG PERTAMA KALI
SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 13A

 DIDENDA PALING SEDIKIT 1 KALI JUMLAH PAJAK TERUTANG YANG


TIDAK ATAU KURANG DIBAYAR DAN PALING BANYAK 2 KALI JUMLAH
PAJAK TERUTANG YANG TIDAK ATAU KURANG DIBAYAR, ATAU

 DIPIDANA KURUNGAN PALING SINGKAT 3 BULAN ATAU PALING LAMA


1 TAHUN
TINDAK PIDANA
KARENA SENGAJA
PASAL 39 AYAT (1) UU KUP

WAJIB PAJAK :
 TIDAK MENDAFTARKAN DIRI UNTUK DIBERIKAN NOMOR POKOK WAJIB PAJAK ATAU TIDAK
MELAPORKAN USAHANYA UNTUK DIKUKUHKAN SEBAGAI PENGUSAHA KENA PAJAK;
 MENYALAHGUNAKAN ATAU MENGGUNAKAN TANPA HAK NOMOR POKOK WAJIB PAJAK ATAU
PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK;
 TIDAK MENYAMPAIKAN SURAT PEMBERITAHUAN;
 MENYAMPAIKAN SURAT PEMBERITAHUAN DAN/ATAU KETERANGAN YANG ISINYA TIDAK
BENAR ATAU TIDAK LENGKAP;
 MENOLAK UNTUK DILAKUKAN PEMERIKSAAN SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 29;
 MEMPERLIHATKAN PEMBUKUAN, PENCATATAN, ATAU DOKUMEN LAIN YANG PALSU ATAU
DIPALSUKAN SEOLAH-OLAH BENAR, ATAU TIDAK MENGGAMBARKAN KEADAAN YANG
SEBENARNYA;
 TIDAK MENYELENGGARAKAN PEMBUKUAN ATAU PENCATATAN DI INDONESIA, TIDAK
MEMPERLIHATKAN ATAU TIDAK MEMINJAMKAN BUKU, CATATAN, ATAU DOKUMEN LAIN;
 TIDAK MENYIMPAN BUKU, CATATAN, ATAU DOKUMEN YANG MENJADI DASAR PEMBUKUAN
ATAU PENCATATAN DAN DOKUMEN LAIN TERMASUK HASIL PENGOLAHAN DATA DARI
PEMBUKUAN YANG DIKELOLA SECARA ELEKTRONIK ATAU DISELENGGARAKAN SECARA
PROGRAM APLIKASI ON-LINE DI INDONESIA SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 28
AYAT (11); ATAU
 TIDAK MENYETORKAN PAJAK YANG TELAH DIPOTONG ATAU DIPUNGUT

BERAKIBAT
MENIMBULKAN KERUGIAN PADA PENDAPATAN NEGARA
TINDAK PIDANA
KARENA SENGAJA
PASAL 39 AYAT (1),(2), (3) UU KUP

• DIPIDANA DENGAN PIDANA PENJARA PALING


SINGKAT 6 (ENAM) BULAN DAN PALING LAMA 6
(ENAM) TAHUN DAN
• DENDA PALING SEDIKIT 2 (DUA) KALI JUMLAH
PAJAK TERUTANG YANG TIDAK ATAU KURANG
DIBAYAR DAN PALING BANYAK 4 (EMPAT) KALI
JUMLAH PAJAK TERUTANG YANG TIDAK ATAU
KURANG DIBAYAR.

BERLAKU JUGA BAGI WAKIL, KUASA, PEGAWAI DARI WAJIB PAJAK,


ATAU PIHAK LAIN YANG MENYURUH MELAKUKAN, YANG TURUT
SERTA MELAKUKAN, YANG MENGANJURKAN, ATAU YANG MEMBANTU
MELAKUKAN TINDAK PIDANA DI BIDANG PERPAJAKAN
PASAL 43 AYAT (1)
TINDAK PIDANA
KARENA SENGAJA
PASAL 39A UU KUP

SETIAP ORANG YANG DENGAN SENGAJA:

MENERBITKAN DAN/ATAU MENGGUNAKAN FAKTUR PAJAK, BUKTI


PEMUNGUTAN PAJAK, BUKTI PEMOTONGAN PAJAK, DAN/ATAU BUKTI
SETORAN PAJAK YANG TIDAK BERDASARKAN TRANSAKSI YANG
SEBENARNYA; ATAU
MENERBITKAN FAKTUR PAJAK TETAPI BELUM DIKUKUHKAN SEBAGAI
PENGUSAHA KENA PAJAK

DIPIDANA DENGAN PIDANA PENJARA PALING SINGKAT 2 TAHUN DAN PALING


LAMA 6 TAHUN SERTA DENDA PALING SEDIKIT 2 KALI JUMLAH PAJAK DALAM
FAKTUR PAJAK, BUKTI PEMUNGUTAN PAJAK, BUKTI PEMOTONGAN PAJAK,
DAN/ATAU BUKTI SETORAN PAJAK DAN PALING BANYAK 6 KALI JUMLAH PAJAK
DALAM FAKTUR PAJAK, BUKTI PEMUNGUTAN PAJAK, BUKTI PEMOTONGAN
PAJAK, DAN/ATAU BUKTI SETORAN PAJAK
TINDAK PIDANA
KARENA PENGULANGAN
PASAL 39 AYAT (2) UU KUP

APABILA SESEORANG MELAKUKAN LAGI TINDAK


PIDANA DI BIDANG PERPAJAKAN SEBELUM LEWAT 1
TAHUN, TERHITUNG SEJAK SELESAINYA MENJALANI
PIDANA PENJARA YANG DIJATUHKAN

ANCAMAN PIDANA
(PASAL 39 AYAT (1) )
SANKSI DILIPATKAN DUA
TINDAK PIDANA
KARENA PERCOBAAN
PASAL 39 AYAT (3) UU KUP

SETIAP ORANG YANG MELAKUKAN PERCOBAAN UNTUK MELAKUKAN


TINDAK PIDANA
 MENYALAHGUNAKAN ATAU MENGGUNAKAN TANPA HAK NPWP PAJAK ATAU
PENGUKUHAN PKP, ATAU
 MENYAMPAIKAN SURAT PEMBERITAHUAN DAN/ATAU KETERANGAN YANG ISINYA
TIDAK BENAR ATAU TIDAK LENGKAP

DALAM RANGKA MENGAJUKAN PERMOHONAN RESTITUSI ATAU


MELAKUKAN KOMPENSASI PAJAK ATAU PENGKREDITAN PAJAK

DIPIDANA DENGAN PIDANA PENJARA PALING SINGKAT 6 BULAN DAN PALING


LAMA 2 TAHUN DAN DENDA PALING SEDIKIT 2 KALI JUMLAH RESTITUSI YANG
DIMOHONKAN DAN/ATAU KOMPENSASI ATAU PENGKREDITAN YANG
DILAKUKAN DAN PALING BANYAK 4 KALI JUMLAH RESTITUSI YANG
DIMOHONKAN DAN/ATAU KOMPENSASI ATAU PENGKREDITAN YANG
DILAKUKAN
DALUWARSA TINDAK PIDANA DI BIDANG PERPAJAKAN

PASAL 40 UU KUP

SETELAH LAMPAU
10 TAHUN

Sejak :
Saat terutangnya pajak;
Berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak atau tahun
pajak ybs
DELIK ADUAN

PASAL 41 UU KUP

ALPA SENGAJA
TIDAK MEMENUHI KEWAJIBAN TIDAK MEMENUHI KEWAJIBAN
MERAHASIAKAN SEGALA MERAHASIAKAN SEGALA
SESUATU YG DIKETAHUI / SESUATU YG DIKETAHUI /
DIBERITAHUKAN KEPADANYA DIBERITAHUKAN KEPADANYA
OLEH WAJIB PAJAK DALAM OLEH WAJIB PAJAK DALAM
RANGKA JABATAN ATAU RANGKA JABATAN ATAU
PEKERJAANNYA PEKERJAANNYA
( SEPERTI TERSEBUT DLM ( SEPERTI TERSEBUT DLM
PASAL 34 ) PASAL 34 )

SANKSI SANKSI
 DIPIDANA DENGAN PIDANA KURUNGAN  DIPIDANA DENGAN PIDANA PENJARA PALING
PALING LAMA 1 (SATU) TAHUN DAN LAMA 2 TAHUN DAN
 DENDA PALING BANYAK RP25.000.000,00  DENDA PALING BANYAK RP50.000.000,00
SANKSI PIDANA
TERHADAP PIHAK KETIGA
PASAL 41 A DAN 41B UU KUP

Sanksi maksimal :
Sanksi maksimal :
 Pidana penjara paling lama 3 (tiga)
 Pidana Kurungan paling lama 1 (satu)
tahun, dan
tahun, dan
 Denda paling banyak
 Denda paling banyak Rp25.000.000,00
Rp75.000.000,00

Pihak ke 3 (Ps 35) yg dengan sengaja : Pihak ke 3 yang dengan sengaja :

Tidak memberikan keterangan /  Mempersulit penyidikan tindak


 Menghalangi
bukti atau pidana di bidang
Memberikan keterangan / bukti perpajakan
yang tidak benar
(Pasal
Pasal 41
41 A)
A Pasal 41 B

Termasuk yang menyuruh / menganjurkan / membantu melakukan tindak


pidana perpajakan
Pasal 43 Ayat ( 2 )
SANKSI PIDANA
TERHADAP PIHAK KETIGA
PASAL 41C UU KUP

SETIAP ORANG YANG DENGAN SENGAJA TIDAK MEMENUHI KEWAJIBAN


SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 35A AYAT (1) DIPIDANA DENGAN
PIDANA KURUNGAN PALING LAMA 1 TAHUN ATAU DENDA PALING BANYAK RP
1.000.000.000,00
SETIAP ORANG YANG DENGAN SENGAJA MENYEBABKAN TIDAK TERPENUHINYA
KEWAJIBAN PEJABAT DAN PIHAK LAIN SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL
35A AYAT (1) DIPIDANA DENGAN PIDANA KURUNGAN PALING LAMA 10 BULAN
ATAU DENDA PALING BANYAK RP 800.000.000,00
SETIAP ORANG YANG DENGAN SENGAJA TIDAK MEMBERIKAN DATA DAN
INFORMASI YANG DIMINTA OLEH DIREKTUR JENDERAL PAJAK SEBAGAIMANA
DIMAKSUD DALAM PASAL 35A AYAT (2) DIPIDANA DENGAN PIDANA KURUNGAN
PALING LAMA 10 BULAN ATAU DENDA PALING BANYAK RP 800.000.000,00

SETIAP ORANG YANG DENGAN SENGAJA MENYALAHGUNAKAN DATA DAN


INFORMASI PERPAJAKAN SEHINGGA MENIMBULKAN KERUGIAN KEPADA NEGARA
DIPIDANA DENGAN PIDANA KURUNGAN PALING LAMA 1 TAHUN ATAU DENDA
PALING BANYAK RP 500.000.000,00
PELAKU TINDAK PIDANA DI BIDANG
PERPAJAKAN

PEJABAT WAJIB PAJAK PIHAK KETIGA


Pasal 38,
Pasal 39
Wakil, kuasa atau
pegawai WP
Pasal 43 ayat (1) Pasal 43 ayat (2)

 Yang menyuruh
Pasal 41  Yang menganjurkan
 Yang membantu melakukan
Surat Pemberitahuan (SPT)

Direktur Jenderal Pajak

Penelitian Pemeriksaan Penyidikan

Benar Kesalahan Sesuai Penuntut


Lebih
Lengkap Formil/ Kriteria Umum
Jelas Bayar
Materiil

File STP SKPLB SKPN SKPKB pengadilan


Tegoran Restitusi
Data baru Hukum kurungan/
Surat Paksa Kompensasi Penjara & SKPKB/
Sita Lelang
SKPKBT
SKPKBT
STP Tidak dilunasi
Pasal 25 ayat (1) KUP

• Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar


(SKPKB)
• Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan (SKPKBT)
• Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB)
• Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN)
• Pemotongan atau Pemungutan oleh pihak
ketiga berdasarkan ketentuan perundang-
undangan perpajakan
(Pasal 25 ayat (2) dan (3) KUP)

1. Keberatan diajukan secara tertulis dlm bhs Indonesia dgn


mengemukakan jml pajak yg terutang at/ jml pajak yg
dipotong at/ dipungut jml rugi menurut perhitungan Wajib
Pajak dgn disertai alasan-alasan yg jelas;

2. Keberatan hrs diajukan dlm jangka wkt 3 (tiga) bulan


sejak tgl surat, tgl pemotongan at/ pemungutan, kecuali
apabila WP dpt membuktikan bahwa jangka waktu itu tdk
dpt dipenuhi krn keadaan diluar kekuasaannya;

3. Satu keberatan hrs diajukan u/ satu Jenis Pajak & satu


Tahun Pajak
PENGERTIAN PEMBUKUAN

Proses Pencatatan secara teratur untuk mengumpulkan DATA dan


INFORMASI KEUANGAN

MELIPUTI
 Harta
 Kewajiban
 Modal
 Penghasilan dan Biaya
 Harga Perolehan dan Penyerahan Barang/Jasa

Dengan menyusun LAPORAN KEUANGAN


(NERACA & LABA RUGI)
pada setiap tahun pajak berakhir
KEWAJIBAN PEMBUKUAN

WAJIB PAJAK ORANG


PRIBADI YG MELAKUKAN
WAJIB PAJAK
KEGIATAN USAHA
BADAN
ATAU PEKERJAAN
BEBAS

DI INDONESIA

WAJIB
MENYELENGGARAKAN
PEMBUKUAN
DIKECUALIKAN DARI
KEWAJIBAN PEMBUKUAN

TIDAK WAJIB PEMBUKUAN TETAPI


WAJIB MELAKUKAN PENCATATAN

WP ORANG PRIBADI
YG MELAKUKAN
KEGIATAN USAHA/ WP ORANG PRIBADI
PEKERJAAN BEBAS YG TIDAK MELAKUKAN
KEGIATAN USAHA
ATAU
PEKERJAAN BEBAS
YG DIPERBOLEHKAN MENGHITUNG
PENGHASILAN NETO DGN MENGGUNAKAN
NORMA PENGHITUNGAN
PENGHASILAN NETO
SYARAT PEMBUKUAN

 Harus memperhatikan itikad baik


 Mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha sebenarnya
 Diselenggarakan di Indonesia
 Huruf latin
 Angka Arab
 Satuan mata uang Rupiah
 Bahasa Indonesia atau Bahasa Asing yang diizinkan Menteri
Keuangan yaitu bahasa Inggris
 Diselenggarakan dgn prinsip taat asas dan dgn stelsel akrual
atau stelsel kas
 Sekurang-kurangnya terdiri dari catatan mengenai harta,
kewajiban, modal, penghasilan & biaya, serta penjualan &
pembelian (sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang
terutang)
PERUBAHAN TAHUN BUKU
DAN ATAU
METODE PEMBUKUAN
PERUBAHAN

METODE PEMBUKUAN,
misal :
 Pengakuan Penghasilan & biaya
 Metode Penyusutan Aktiva Tetap
 Metode Penilaian Persediaan
TAHUN BUKU

- Harus mendapat persetujuan Direktur Jenderal Pajak


- Diajukan sebelum dimulainya tahun buku yang bersangkutan dengan alasan-
alasan perubahan
PEMBUKUAN DLM BAHASA ASING
dan MATA UANG SELAIN RUPIAH

PEMBUKUAN DENGAN BAHASA ASING dan MATA UANG SELAIN RUPIAH

WP DALAM RANGKA
 PMA
 KONTRAK KARYA
 KONTRAK BAGI HASIL
 BUT
 WP yang mempunyai afiliasi dengan perusahaan di LN

SETELAH MENDAPAT IZIN MENTERI KEUANGAN


KECUALI WP DALAM RANGKA KONTRAK KARYA ATAU
KONTRAK BAGI HASIL CUKUP PEMBERITAHUAN

Pemberian ijin dilimpahkan kepada Direktur Jenderal Pajak


PENGERTIAN PENCATATAN

PENGUMPULAN DATA
SECARA TERATUR
tentang
 Peredaran atau penerimaan bruto dan atau;
 Penghasilan bruto

SEBAGAI DASAR UNTUK


MENGHITUNG JUMLAH PAJAK TERUTANG,
(termasuk Penghasilan yg bukan objek pajak
dan atau yg dikenakan pajak yg
bersifat final)
PENGECUALIAN dari
WAJIB PEMBUKUAN & WAJIB
PENCATATAN

WAJIB PAJAK
ORANG PRIBADI

YANG TIDAK WAJIB


SPT Tahunan PPh
KEWAJIBAN PENYIMPANAN
BUKU/CATATAN/DOKUMEN
PENYIMPANAN BUKU/CATATAN/DOKUMEN YANG MENJADI DASAR
PEMBUKUAN ATAU PENCATATAN & DOKUMEN LAIN

SELAMA 10 TAHUN
DI INDONESIA

BADAN ORANG PRIBADI

Tempat Kegiatan
Tempat Kedudukan atau
Tempat Tinggal
KEGIATAN PENCATATAN
1. WP OP YANG MELAKUKAN KEGIATAN USAHA ATAU
PENCATATAN PEKERJAAN BEBAS YANG DIPERBOLEHKAN MENGHITUNG
PENGHASILAN NETO DENGAN NORMA PENGHITUNGAN
WAJIB PENGHASILAN NETO
DILAKUKAN
2. WP OP YANG TIDAK MELAKUKAN KEGIATAN USAHA ATAU
PEKERJAAN BEBAS

SYARAT PENCATATAN

1. PENCATATAN HARUS DIBUAT LENGKAP DAN BENAR


2. DIDUKUNG DENGAN DOKUMEN ;
* YANG MENJADI DASAR PENGHITUNGAN PEREDARAN ATAU PENERIMAAN BRUTO
DAN ATAU PENGHASILAN BRUTO
* PENGHASILAN YANG BUKAN OBJEK PAJAK DAN ATAU
* PENGHASILAN YANG DIKENAKAN PAJAK SECARA FINAL
3. JANGKA WAKTU PENCATATAN MELIPUTI JANGKA WAKTU 12 BULAN, MULAI
TANGGAL 1 JANUARI SAMPAI DENGAN TANGGAL 31 DESEMBER
MATERI III

PENGADILAN PAJAK
UU. NOMOR 14 TAHUN 2002
SEJARAH PENGADILAN PAJAK
1. Di Indonesia untuk pertama kalinya dibentuk institusi yg menangani
sengketa Pajak, yaitu Institusi Pertimbangan Pajak yang dibentuk pada
Tahun 1915 (Stbl No. 707) yg berkedudukan di Batavia (Jakarta);

2. Kemudian disempurnakan Dengan stbl Nomor 29 Tahun 1927 tentang


Ordonantie tot Regeling van het Bereop in Belasting zaken yg
berkedudukan di Batavia (Jakarta);

3. Pada Tahun 1950 badan ini berganti nama menjadi Majelis Pertimbangan
Pajak (MPP) yang bertugas memberi keputusan atas surat permohonan
banding tentang pajak-Pajak negara dan pajak-pajak daerah;

4. Kemudian sejak awal Tahun 1998 ditetapkan Undang-undang Nomor 17


Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak. Dengan
ditetapkannya UU ini maka penangan banding pajak beralih ke Badan
Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP);

5. Kemudian dengan berlakunya UU Nomor 14 Tahun 2002 tanggal 12 April


2002 maka penyelesaian sengketa Pajak dilakukan di Pengadilan pajak
PENJELASAN UMUM
1. Pengadilan Pajak adalah badan peradilan yang melaksanakan
kekuasaan kehakiman bagi Wajib Pajak atau penanggung pajak
yang mencari keadilan terhadap sengketa pajak.

2. Sengketa adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara


WP/PP dgn Pejabat yg berwenang sbg akibat dikeluarkannya keputusan
yg dpt diajukan Banding atau Gugatan kpd Pengadilan Pajak berdasarkan
peraturan per-UU-an perpajakan termasuk Gugatan atas pelaksanaan
penagihan berdasarkan UU Penagihan Pajak dengan Surat Paksa

3. Banding adalah upaya hukum yang dilakukan oleh WP atau Penanggung


Pajak terhadap suatau keputusan yg dpt diajukan banding berdasarkan
peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

4. Gugatan adalah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh Wajib Pajak at/
Penanggung Pajak terhadap pelaksanaan penagihan atau terhadap
keputusan yg dpt diajukan gugatan berdasarkan peraturan perundang-
undangan perpajakan yang berlaku.
PENGAJUAN BANDING

Permohonan Banding diajukan oleh :

1. Ahli waris.
2. Wajib Pajak sendiri.
3. Seorang Pengurus.
4. Kuasa Hukum.
5. Pengampu (dalam hal pailit).
6. Pihak yang menerima pertanggungjawaban
(dlm hal, Peleburan, pemekaran, liquidasi, dll).
SYARAT-SYARAT BANDING
Persyaratan Banding :

1. Banding diajukan dengan Surat Banding dlm Bhs Indonesia kpd Pengadilan
Pajak.
2. Banding diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterima
Keputusan yang dibanding, kecuali diatur lain dalam peraturan per-UU-an pajak.
3. Jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak mengikat apabila
jangka waktu dimaksud tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaan
pemohon Banding.
4. Terhadap 1 (satu) Keputusan diajukan 1 (satu) Surat Banding.
5. Banding diajukan dengan disertai alasan-alasan yang jelas, dan dicantumkan
tanggal diterima surat keputusan yang dibanding.
6. Pada Surat Banding dilampirkan salinan Keputusan yang dibanding.
7. Selain dari persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan
ayat (3) serta Pasal 35, dalam hal Banding diajukan terhadap besarnya
jumlah Pajak yang terutang, Banding hanya dapat diajukan apabila jumlah
yang terutang dimaksud telah dibayar sebesar 50% (lima puluh persen).
8. Melampirkan data dan bukti-bukti pendukung
PENGAJUAN GUGATAN
Permohonan Gugatan diajukan oleh :

1. Ahli waris.
2. Wajib Pajak sendiri.
3. Seorang Pengurus.
4. Kuasa Hukum.
5. Pengampu (dalam hal pailit).
6. Pihak yang menerima pertanggungjawaban
(dlm hal, Peleburan, pemekaran liquidasi, dll).
SYARAT-SYARAT GUGATAN

Persyaratan Gugatan :

1. Gugatan diajukan dengan Surat Gugatan dlm Bhs Indonesia ke Pengadilan


Pajak.
2. Gugatan diajukan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal
pelaksanaan penagihan pajak.
3. Gugatan diajukan dalam jangka waktu 30 (tigapuluh) hari sejak tanggal
keputusan diterima (selain gugatan point 2 di atas).
4. Jangka waktu tsb di atastidak mengikat apabila jangka waktu dimaksud tidak
dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaan penggugat.
5. Perpanjangan jangka waktu tsb adalah 14 hari terhitung sejak berakhirnya
keadaan di luar kekuasaan penggugat tersebut.
6. Terhadap 1 Keputusan atau 1 pelaks penag diajukan 1 (satu) Surat Gugatan.
7. Gugatan diajukan dengan disertai alasan-alasan yang jelas.
8. Surat Gugatan dilampirkan salinan Keputusan/pelaksn penagihan yg digugat.
DENGAN ACARA BIASA
JIKA : DENGAN ACARA CEPAT
JIKA :
 Memenuhi Persyaratan Formal
DENGAN ACARA CEPAT
JIKA :

a. Sengketa Pajak tertentu;


b. Gugatan yang tidak diputus dalam jangka waktu sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 81 ayat (2).
c. tidak dipenuhinya salah satu ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 84 ayat (1) atau putusan yg terdpt kesalahan tulis dan/
atau kesalahan hitung, dalam putusan Pengadilan Pajak;
d. sengketa yang berdasarkan pertimbangan hukum bukan merupakan
wewenang Pengadilan Pajak.
e. Sengketa Pajak tertentu sebagaimana dimaksud dalam point (a)
adalah Sengketa Pajak yang Banding atau Gugatannya tidak
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1)
dan ayat (2), Pasal 36 ayat (1) dan ayat (4), Pasal 37 ayat (1), Pasal 40
ayat (1) dan/atau ayat (6).
PENINJAUAN KEMBALI
(1) Permohonan peninjauan kembali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77
ayat (3) hanya dapat diajukan 1 (satu) kali kepada Mahkamah Agung
melalui Pengadilan Pajak.

(2) Permohonan peninjauan kembali tidak menangguhkan atau


menghentikan pelaksanaan putusan Pengadilan Pajak.

(3) Permohonan peninjauan kembali dapat dicabut sebelum diputus, dan


dalam hal sudah dicabut permohonan peninjauan kembali tersebut
tidak dapat diajukan lagi.
ALASAN PENINJAUAN KEMBALI

Permohonan peninjauan kembali hanya dapat diajukan


berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut:
a. Apabila putusan Pengadilan Pajak didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu
muslihat pihak lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus atau didasarkan
pada bukti-bukti yang kemudian oleh hakim pidana dinyatakan palsu;
b. Apabila terdapat bukti tertulis baru yang penting dan bersifat menentukan, yang
apabila diketahui pada tahap persidangan di Pengadilan Pajak akan menghasilkan
putusan yang berbeda;
c. Apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih dari pada yang
dituntut, kecuali yang diputus berdasarkan Pasal 80 ayat (1) huruf b dan c;
d. Apabila mengenai suatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan
sebab-sebabnya; atau
e. Apabila terdapat suatu putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
JANGKA WAKTU PENINJAUAN KEMBALI

Jangka Waktu Permohonan peninjauan kembali :

(1) Pengajuan permohonan peninjauan kembali berdasarkan alasan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 91 huruf a dilakukan dalam jangka waktu paling lambat
3 (tiga) bulan terhitung sejak diketahuinya kebohongan atau tipu muslihat atau
sejak putusan Hakim pengadilan pidana memperoleh kekuatan hukum tetap.
(2) Pengajuan permohonan peninjauan kembali berdasarkan alasan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 91 huruf b dilakukan dalam jangka waktu paling lambat
3 (tiga) bulan terhitung sejak ditemukan surat-surat bukti yang hari dan tanggal
ditemukannya harus dinyatakan di bawah sumpah dan disahkan oleh pejabat
yang berwenang.
(3) Pengajuan permohonan peninjauan kembali berdasarkan alasan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 91 huruf c, huruf d, dan huruf e dilakukan dalam jangka
waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sejak putusan dikirim.
JANGKA WAKTU PUTUSAN
PENINJAUAN KEMBALI OLEH MA

(1) Mahkamah Agung memeriksa dan memutus permohonan peninjauan kembali


dengan ketentuan :
a. dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak permohonan peninjauan kembali
diterima oleh Mahkamah Agung telah mengambil putusan, dalam hal
Pengadilan Pajak mengambil putusan melalui pemeriksaan acara biasa;
b. dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak permohonan peninjauan kembali
diterima oleh Mahkamah Agung telah mengambil putusan, dalam hal
Pengadilan Pajak mengambil putusan melalui pemeriksaan acara cepat.

(2) Putusan atas permohonan peninjauan kembali sebagaimana dimaksud dalam


point (1) di atas harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.
MATERI IV
PAJAK PENGHASILAN (PPh)

- PPh Pasal 21
- PPh Pasal 22
- PPh Pasal 23
- PPh Pasal 24
- PPh Pasal 25
- PPh Pasal 28a
- PPh Pasal 29
Penghasilan
PPh dibaya dari PPh Ps
Pekerjaan
sendiri oeh WP 21/26
Pemotongan

Penghasilan
PPh dibayar dari
Melalui PPh Ps 23
pihak ketiga sendiri&oleh
Modal jasaWP

KP (angsuran pajak Pemungutan Penghasilan dari


yang dibayar dalam PPh Ps 22
Usaha
tahun berjalan)

PPh
dibayar/terutang PPh Ps 24
di Luar Negeri

PPh dibayar PPh Ps 25


sendiri oleh WP
Dasar Hukum
Perpajakan

UU No. 6 Tahun UU No. 7 Tahun UU No. 8 Tahun


1983 KUP 1983 PPh 1983 PPN
s.d.t.d UU No. 28 s.d.t.d UU No. 17 s.d.t.d UU No. 18
Tahun 2007 Tahun 2000 Tahun 2000

Keppres / Inpres

KMK

Kep Dirjen
Jenis – Jenis Pajak Bagi Bendaharawan

PPh 21 / 26
Objek Pajak
PPh 22

Dasar Perkiraan
PPh 23
Penghasilan Netto
PPh Final
Tarif
PPN / PPnBM
PPh 21 / 26 Gaji, Tunjangan DN = PPh 21
dan Honor
LN = PPh 26

Lapisan PKP Tarif Pajak


Kep 545/PJ.2000 s.d Rp. 25 Juta 5%
Per 15/PJ/2006
> Rp. 25 Juta – 50 Juta 10 %
137 / PMK.03 / 2005
138 / PMK.03 / 2005 > 50 Juta – 100 Juta 15 %
30 Desember 2005
> 100 Juta – 200 Juta 25 %
Peraturan Dirjen Pajak
15/PJ/2006 diatas 200 Juta 35 %
23 Februari 2006
Berlaku Januari 2006
PPh 21 / 26 Pegawai Tetap
PTKP Setahun Sebulan

Untuk diri Pegawai Rp. 13.200.000,- Rp.1.100.000,-


Tambahan Wajib Pajak Rp. 1.200.000,- Rp. 100.000,-
Kawin

Istri yg penghasilannya Rp. 13.200.000,- Rp.1.100.000,-


Kep 545/PJ.2000 digabung
Per 15/PJ/2006
Tambahan untuk Rp. 1.200.000,- Rp. 100.000,-
137 / PMK.03 / 2005 setiap anggota
138 / PMK.03 / 2005 keluarga Max. 3
30 Desember 2005
Biaya Jabatan = 5% (Maks Rp. 108.000/bulan)
Peraturan Dirjen Pajak
15/PJ/2006
23 Februari 2006
Berlaku Januari 2006
PPh 21 / 26 Pegawai Tidak Tetap

Sehari Sebulan Dibayar Keterangan


> 110.000 > 1.100.000 Bulanan
Tidak Tidak Tidak No PPh
Tidak Tidak Ya PTKP Real
Ya Tidak - Sehari :
5% x (bruto – 110.000)
Kep 545/PJ.2000 - Ya - PTKP = PTKP / 360
Per 15/PJ/2006
Pegawai Tidak Tetap Tidak Mendapat Pengurangan Biaya Jabatan

137 / PMK.03 / 2005 Tenaga ahli (Dokter, Pengacara, Akuntan, Arsitek, Konsultan, Notaris,
138 / PMK.03 / 2005 Penilai dan Aktuari ) = 50% x Penghasilan Bruto x 15%
30 Desember 2005
Honorarium untuk setiap kegiatan PNS (diatas IId) dikenakan PPh 21 15%
dan bersifat Final
Peraturan Dirjen Pajak
15/PJ/2006
23 Februari 2006
Berlaku Januari 2006
PER 15/PJ/2006 – KEP 545/PJ/2000
Pasal 9 ayat (6) - PER 15/PJ/2006
Atas penghasilan berupa bea siswa yang diterima atau diperoleh pegawai, setelah
digabungkan dengan penghasilan sebagai pegawai dilakukan pengurangan PTKP yang
sebenarnya sesuai dengan ketentuan Pasal 8 ayat

Pasal 15
Tarif sebesar 15% (lima belas persen) dan bersifat final diterapkan atas
penghasilan bruto berupa honorarium dan imbalan lain dengan nama apapun yang
diterima oleh Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, anggota TNI/POLRI yang
sumber dananya berasal dari Keuangan Negara atau Keuangan Daerah, kecuali
yang dibayarkan kepada Pegawai Negeri Sipil golongan II d ke bawah dan anggota
TNI/POLRI berpangkat Pembantu Letnan Satu ke bawah atau Ajun Inspektur
Tingkat Satu ke bawah.

BEA SISWA dan Penghasilan Lain


PER 15/PJ/2006 – KEP 545/PJ/2000
BEA SISWA / Penghasilan Lain

APBN / APBD NON APBN / APBD

II.d Kebawah Digabung secara total


PTKP
No Tax

III.a Keatas 15 % Final


PENGHITUNGAN PPh PASAL 21
PENGHASILAN BRUTO

- GAJI KEHORMATAN - UANG PENSIUN - HONORARIUM


- GAJI - TUNJANGAN YG TERKAIT - IMBALAN LAIN DGN NAMA
- TUNJANGAN YG TERKAIT APAPUN YANG DTERIMA PEJABAT
NEGARA, PNS, ANGGOTA TNI/POLRI

DIKURANGI: DIKURANGI: DIBEBANKAN KPD


- BIAYA JABATAN, 5% DARI PENGH. BIAYA PENSIUN, 5% DARI KEUANGAN NEGARA/
BRUTO MAKS PENGH.RUTO (UANG PENSIUN)
DAERAH
Rp 1.296.000,-/ THN ATAU MAKS Rp 432.000,00/THN ATAU
Rp 108.000,-/BLN Rp 36.000,00
- IURAN YG TERIKAT DGN
PENGH. TETAP DIPOTONG PPh Ps. 21 :
15% DARI PENGH. BRUTO
(FINAL)

PENGHASILAN
NETO
Dikurangi
PTKP

TARIF PS.17 UU PPh


PENGHASILAN KENA
PAJAK

PAJAK TERUTANG
DITANGGUNG OLEH PEMERINTAH
Ali status menikah dengan anak dua (K/2). Gaji
PPh 21 / 26 Perbulan Rp. 4.800.000,- dan iuran pensiun Rp
250.000,- / bulan serta mendapat Gaji Ketiga Belas
Rp. 4.800.000,-

Gaji 4.800.000 x 12 = 57.600.000


Gaji ke - 13 4.800.000
Lapisan PKP Tarif Total Penghasilan 62.400.000
5 % x 62.400.000
s.d Rp. 25 Juta 5% Biaya Jabatan (5 %) - Max 108.000 / bulan (1.296.000) = 3.120.000
Iuran Pensiun (3.000.000)
> Rp. 25 Juta – 50 Juta 10 %
Penghasilan Netto 58.104.000
> 50 Juta – 100 Juta 15 %
PTKP (K/2) - 16.800.000
> 100 Juta – 200 Juta 25 % Penghasilan Kena Pajak 41.304.000
diatas 200 Juta 35 % PPh 21 25.000.000 x 5% 1.250.000
16.304.000 x 10% 1.630.400
- x 15% 0
2.880.400
PPh 21 / 26 Ketentuan Khusus

Pajak Kenaikan PTKP


Ditanggung DTP menjadi Nihil
Pemerintah
Honor,
Tunjangan Dikecualikan dari
untuk IId pemotongan
kebawah dan PPh 21
Peltu Kebawah

Orang Indonesia
II Asing :: :
d kebawah
Orang
PPh
PPhPs.
2621
Honor bukan Objek PPh 21
TATA CARA PENYETORAN
PPh PASAL 21/26

TDK
DITANGGUNG
DITANGGUNG
PEMERINTAH PEMERINTAH

DGN SSP KE : TDK ADA


- BANK PERSEPSI, PENYETORAN
ATAU
- KANTOR POS GIRO

BILA JATUH PD
PALING LAMBAT HARI LIBUR
TGL 10 BLN PENYETORAN
BERIKUTNYA PADA HARI
KERJA BERIKUTNYA
TATA CARA PELAPORAN
PPh PASAL 21/26

TDK DITANGGUNG
DITANGGUNG PEMERINTAH
PEMERINTAH

DGN SPT MASA PPh MELAPORKAN


PASAL 21 PENGHITUNGAN
KE KPP/KAPENPA PPh PSL 21
DLM
DAFTAR GAJI
PLG LAMBAT TGL 20
BULAN TAKWIM
BERIKUTNYA
KPKN

JIKA JATUH PD PD HARI KERJA


HARI LIBUR SEBELUMNYA
PPh Pasal 22
PPh 22
PPh 22 = Berkenaan dengan Pembayaran
KMK :
254/KMK.03/2001 s.d.t.d Pengecualian
236/KMK.03/2003 1. Penyerahan barang < Rp 1 Juta dan tidak dipecah
2. Pembayaran BBM, Listrik, Gas, PDAM dan Benda Pos
3. Pencairan dana JPS oleh KPKN
4. Pembayaran karena penyerahan barang untuk
proyek Pemerintah yang dibiayai hibah / pinjaman
luar negeri

Tarif : 1,5 % dari Harga / Nilai


Pembelian Barang
TATA CARA
PEMUNGUTAN DAN PENYETORAN

PPh PASAL 22

DIPUNGUT
PADA SETIAP PELAKSANAAN PEMBAYARAN

DISETOR
PADA HARI YG SAMA

KE BANK PERSEPSI/KANTOR
POS DAN GIRO

SSP

DIISI OLEH DAN ATAS NAMA


REKANAN

DITANDATANGANI OLEH
BENDAHARAWAN
TATA CARA PELAPORAN

PELAPORAN
PPh PASAL 22

SPT MASA
KP.PPH…..

KE KPP/KAPENPA

SELAMBAT-LAMBATNYA
14 HARI SETELAH
BULAN TAKWIM BERAKHIR

JIKA JATUH PD
HARI LIBUR

PD HARI KERJA
SEBELUMNYA
PPh Pasal 23

PPh 23 Objek Pajak :


1. Dividen
2. Sewa Kecuali Tanah dan Bangunan
3. Jasa Tehnik, Jasa Manajemen, Jasa Konsultan
4. Jasa Lain yang Belum Dipotong PPh 21
Perkiraan Penghasilan
Netto :
Kep Dirjen Kep – 170 /
PJ / 2002
tentang Tarif Efektif :
Jenis Jasa Lain dan
Perkiraan Penghasilan
15 % x Perkiraan Penghasilan Netto
Netto

Contoh :
Jasa Perbaikan (Perk. Pengh. Netto = 40%)
PPh Pasal 23 = 15% x 40% x Bruto
= 6% x Bruto
TARIF DAN DASAR PEMOTONGAN

PPh PASAL 23

HADIAH DAN SEWA


PENGHARGAAN, DEVIDEN, DAN
BUNGA DAN ROYALTI JASA LAINNYA

TARIF
15 %

PERKIRAAN
PENGHASILAN
PENGHASILAN
BRUTO
NETO
DASAR PEMOTONGAN
PERKIRAAN PENGHASILAN NETO

Sewa Dan Penghasilan Lain Sehub. Dgn Penggunaan


Harta khusus Kendaraan Angkutan Darat 10 %

Sewa Dan Penghasilan Lain Sehubungan Dengan


Penggunaan Harta, Kecuali Sewa Dan Penghasilan Lain
Sehubungan Dengan Persewaan Tanah Dan Atau
Bangunan Yang Telah Dikenakan Pajak Penghasilan
Yang Bersifat Final Berdasarkan Peraturan Pemerintah 30 %
Nomor 29 Tahun 1996 Dan Sewa Dan Penghasilan Lain
Sehubungan Dengan Penggunaan Harta Khusus
Kendaraan Angkutan Darat.

Jasa Profesi.
Jasa Konsultan, Kecuali Konsultan Konstruksi.
Jasa Akuntansi Dan Pembukuan.
Jasa Penilai. 30 %
Jasa Aktuaris.
a. Jasa teknik dan jasa manajemen
b. Jasa perancang/ desain:
Jasa perancang interior dan jasa perancang pertamanan;
Jasa perancang mesin dan jasa perancang peralatan;
Jasa perancang alatalat transportasi/ kendaraan;
Jasa perancang iklan/ logo;
Jasa perancang alat kemasan.
c. Jasa instalasi/ pemasangan:
Jasa instalasi/ pemasangan mesin, listrik/ telepon/ air/ gas/ AC/ TV kabel, kecuali 30
dilakukan Wajib Pajak yang ruang lingkup dan pekerjaannya di bidang konstruksi dan
mempunyai izin/ sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi; %
jasa instalasi/ pemasangan peralatan;
D . Jasa perawatan/ pemeliharaan/ perbaikan:
Jasa perawatan/ pemeliharaan/ perbaikan mesin, listrik/ telepon/ air/ gas/ AC/ TV kabel
Jasa perawatan/ pemeliharaan/ perbaikan peralatan;
Jasa perawatan/ pemeliharaan/ perbaikan alatalattransportasi/ kendaraan;
Jasa perawatan/ pemeliharaan/ perbaikan bangunan, kecuali yang dilakukan oleh Wajib
Pajak yang ruang lingkup pekerjaannya di bidang konstruksi dan mempunyai izin/
sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;
e. Jasa pengeboran (jasa drilling) di bidang Penambangan minyak dan gas bumi
(migas) , kecuali yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap.
f. Jasa penunjang di bidang penambangan migas.
g. Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan selain migas.
h. Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara.
i. Jasa penebangan hutan, termasuk land clearing.
j. Jasa pengolahan/ pembuangan limbah.
k. Jasa maklon.
l. Jasa rekruitmen/ penyediaan tenaga kerja.
m. Jasa perantara.
30%
n. Jasa di bidang perdagangan suratsurat berharga, kecuali yang dilakukan oleh
BEJ, BES, KSEI dan KPEI.
o. Jasa kustodian/ penyimpanan/ penitipan, kecuali yang dilakukan KSEI dan tidak
termasuk sewa gudang yang telah dikenakan PPh final berdasarkan Peraturan
Pemerintah Nomor 29 Tahun 1996.
p. Jasa telekomunikasi yang bukan untuk umum.
q. Jasa pengisian sulih suara (dubbing) dan atau mixing film.
r. Jasa pemanfaatan informasi di bidang teknologi, termasuk jasa internet.
s. Jasa sehubungan dengan software komputer, termasuk perawatan, pemeliharaan
dan perbaikan
Jasa pelaksanaan konstruksi, termasuk jasa
perawatan/ pemeliharaan/ perbaikan bangunan,
jasa instalasi/ pemasangan mesin, listrik/ telepon/
air/ gas/ AC/ TV kabel, sepanjang jasa tersebut 13 1/3 %
dilakukan Wajib Pajak yang ruang lingkup
pekerjaannya di bidang konstruksi dan mempunyai
izin/ sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi.

Jasa perencanaan konstruksi.


26 2/3 %
Jasa pengawasan konstruksi.

Jasa pembasmian hama dan jasa pembersihan.


Jasa Catering.
Jasa selain jasajasa tersebut di atas yang
10 %
pembayarannya dibebankan pada Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah
Jenis – Jenis Pajak Bagi Bendaharawan
PPh 23

&
PPh 22

Jasa Barang

PPh 23 PPh 22
PPh Final (PPh Pasal 4 ayat (2))
PPh Final Objek Pajak :
Sewa Bumi dan Bangunan
PP 140 / 2000 Jasa Konstruksi (kriteria tertentu)
KMK : 559/KMK.04/2000

Tarif :
10 % dari Nilai Sewa + Service Charge

Jasa Pelaksana Konstruksi = 2 % x Bruto


Jasa Perencanaan & Pengawasan Konstruksi :
= 4 % x Bruto
PPh Final Jasa Konstruksi

Nilai Jenis Rekanan Jenis Pajak

& ≤ 1 Miyar
≤ 1 Milyar
Pengusaha Kecil
Non Pengusaha Kecil
PPh 4(2) – Final
PPh 23 – Non Final
> 1 Milyar Semua PPh 23 – Non Final

PPh 23
Jasa Pelaksana Konstruksi = 2 % x Bruto

Jasa Perencanaan & Pengawasan Konstruksi :


= 4 % x Bruto
MATERI V

PPN dan PPn BM


PPN dan PPn BM
PPN dan Objek Pajak
PPn BM 1. Penyerahan BKP dan atau JKP oleh PKP Rekanan
2. Pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah
Pabean didalam daerah Pabean
3. Pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean didalam
Daerah Pabean

Dikecualikan dari pemungutan PPN dan PPn BM


1. Pembayaran ≤ Rp. 1 Juta termasuk PPN dan PPn BM dan
tidak dipecah
2. Pembayaran untuk pembebasan Tanah
3. Pembayaran atas Penyerahan BKP dan atau JKP yang
menurut perundangan – undangan PPN men-dapat
fasilitas PPn tidak dipungut atau dibebaskan dari
pengenaan PPN
4. Penyerahan BBM / Non BBM oleh Pertamina
5. Pembayaran Rekening Telepon
6. Jasa Angkutan Udara oleh Perusahaan Penerbangan
7. Pembayaran lain yang tidak dikenakan PPN
KELOMPOK BARANG
YANG TIDAK DIKENAKAN PPN

BARANG HASIL PERTAMBANGAN ATAU HASIL PENGEBORAN YANG DIAMBIL


LANGSUNG DARI SUMBERNYA, YAITU :
MINYAK MENTAH (CRUDE OIL), GAS BUMI, PANAS BUMI, PASIR DAN KERIKIL,
BATUBARA SEBELUM DIPROSES MENJADI BRIKET BATUBARA DAN BIJIH BESI, BIJIH
TIMAH, BIJIH EMAS, BIJIH TEMBAGA, BIJIH NIKEL, DAN BIJIH PERAK SERTA BIJIH
BAUKSIT

BARANG-BARANG KEBUTUHAN POKOK YANG SANGAT DIBUTUHKAN OLEH RAKYAT


BANYAK, YAITU :
BERAS, GABAH, JAGUNG, SAGU, KEDELAI, DAN GARAM BAIK YANG BERYODIUM
MAUPUN YANG TIDAK BERYODIUM

MAKANAN DAN MINUMAN YANG DISAJIKAN DI HOTEL, RESTORAN, RUMAH MAKAN,


WARUNG, DAN SEJENISNYA, TIDAK TERMASUK MAKANAN DAN MINUMAN YANG
DISERAHKAN OLEH JASA BOGA ATAU CATERING

UANG, EMAS BATANGAN, DAN SURAT-SURAT BERHARGA


KELOMPOK JASA
YANG TIDAK DIKENAKAN PPN

JASA DI BIDANG
PELAYANAN KESEHATAN MEDIK, MELIPUTI :
• JASA DOKTER UMUM, DOKTER SPESIALIS, DAN DOKTER GIGI, DAN DOKTER HEWAN;
• JASA AHLI KESEHATAN SEPERTI AKUPUNTUR, AHLI GIGI, AHLI GIZI, DAN FISIOTERAPI;
• JASA KEBIDANAN DAN DUKUN BAYI;
• JASA PARAMEDIS DAN PERAWAT DAN
• JASA RUMAH SAKIT, RUMAH BERSALIN, KLINIK KESEHATAN, LABORATURIUM KESEHATAN, DAN
SANOTARIUM

PELAYANAN SOSIAL, MELIPUTI :


• JASA PELAYANAN PANTI ASUHAN DAN PANTI JOMPO;
• JASA PEMADAM KEBAKARAN KECUALI YANG BERSIFAT KOMERSIAL;
• JASA PEMBERIAN PERTOLONGAN PADA KECELAKAAN;
• JASA LEMBAGA REHABILITASI KECUALI YANG BERSIFAT KOMERSIAL;
• JASA PEMAKAMAN TERMASUK KREMATORIUM; DAN
• JASA DIBIDANG OLAHRAGA KECUALI YANG BERSIFAT KOMERSIAL

PENGIRIMAN SURAT DENGAN PERANGKO

• PERBANKAN, KECUALI JASA PENYEDIAAN TEMPAT UNTUK MENYIMPAN BARANG DAN SURAT
BERHARGA, JASA PENITIPAN UNTUK KEPENTINGAN PIHAK LAIN BERDASARKAN SURAT KONTRAK
(PERJANJIAN), SERTA ANJAK PIUTAN;
• JASA ASURANSI, TIDAK TERMASUK BROKER ASURANSI; DAN
• JASA SEWA GUNA USAHA (SGU) DENGAN HAK OPSI

KEAGAMAAN, MELIPUTI :
• JASA PELAYANAN DI RUMAH IBADAH;
• JASA PEMBERIAN KHOTBAH ATAU DAKWAH; DAN
• JASA LAINNYA DIBIDANG KEAGAMAAN
KELOMPOK JASA
YANG TIDAK DIKENAKAN PPN

JASA DI BIDANG
PENDIDIKAN, MELIPUTI :
• JASA PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN SEKOLAH ; DAN
• JASA PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI LUAR SEKOLAH, SEPERTI KURSUS

KESENIAN DAN HIBURAN YANG TELAH DIKENAKAN PAJAK TONTONAN, TERMASUK JASA DIBIDANG
KESENIAN YANG TIDAK BERSIFAT KOMERSIAL

PENYIARAN YANG BUKAN BERSIFAT IKLAN DAN TIDAK DIBIAYAI OLEH SPONSOR YANG BERTUJUAN
KOMERSIAL

ANGKUTAN UMUM DI DARAT DAN DI AIR, YAITU : JASA ANGKUTNA DI DARAT, LAUT, DAN DI SUNGAI YANG
DILAKUKAN OLEH PEMERINTAH ATAU SWASTA

TENAGA KERJA

PERHOTELAN, MELIPUTI :
• JASA PERSEWAAN KAMAR TERMASUK TAMBAHANNYA DI HOTEL, RUMAH PENGINAPAN, MOTEL,
LOSMEN, HOSTEL SERTA FASILITAS YANG TERKAIT DENGAN KEGIATAN PERHOTELAN UNTUK TAMU
YANG MENGINAP; DAN
• JASA PERSEWAAN RUANGAN UNTUK KEGIATAN ACARA ATAU PERTEMUAN DI HOTEL, RUMAH
PENGINAPAN, MOTEL, LOSMEN, DAN HOSTEL

JENIS JASA YANG DISEDIAKAN OLEH PEMERINTAH DALAM RANGKA MENJALANKAN PEMERINTAHAN
SECARA UMUM
PPN dan PPn BM
PPN dan
Pembayaran termasuk PPN : Rp. 1.100.000
PPn BM PPN harus dipungut 10/110 x Rp. 1.100.000 : Rp. 100.000
Jumlah yang dibayarkan : Rp. 1.000.000

PPn BM 20 %
Pembayaran : 1.300.000
PPN dipungut 10/130 x Rp. 1.300.000 : 100.000
PPn BM dipungut 20/130 x Rp. 1.300.000 : 200.000
Jumlah dibayar : 1.000.000
PPN dan Harga Jual Rp. 900.000
PPn BM PPN 10 % x 900.000 Rp. 90.000
PPn BM 20% x 900.000 Rp. 180.000
Harga Jual termasuk PPN/PPn BM Rp. 1.170.000

Meskipun harga jual Rp. 900.000, namun karena


pembayaran termasuk PPN dan PPnBM > Rp. 1 Juta maka
yang terhutang harus dipungut oleh Bendaharawan

Bila Pembayaran termasuk PPN dan PPnBM < Rp. 1 Juta


maka PPN dan atau PPn BM disetor sendiri oleh
rekanan dan Faktur Pajak tetap dibuat
TATA CARA PENYETORAN

PPN/PPn BM YANG DIPUNGUT


BENDAHARAWAN
DISETOR

1 PKP REKANAN
SSP KPP MELALUI BANK/POS
2
3 LAMPIRAN SPT MASA PPN
4 BANK PERSEPSI/POS & GIRO
5
ARSIP BENDAHARAWAN

BANK PERSEPSI/
KANTOR POS DAN GIRO

DLM HAL TGL 7 SELAMBAT-LAMBATNYA


BERTEPATAN DGN HARI LIBUR, TGL 7 BULAN TAKWIM
MAKA PENYETORAN DILAKUKAN BERIKUTNYA SETELAH
PD HARI KERJA BERIKUTNYA
MASA PAJAK BERAKHIR
TATA CARA PELAPORAN

PPN DAN PPn BM YANG DIPUNGUT


OLEH BENDAHARAWAN

KPP DGN DILAMPIRI


1
LAPORAN FP LEMBAR KE-3
PEMUNGUTAN PPN/PPn 2 ATASAN BENDAHARAWAN)*
BM 3
ARSIP BENDAHARAWAN*)
*) DLM HAL PEMUNGUT PPN/PPn BM
ADALAH BENDAHARAWAN PEMERINTAH
PUSAT, LEMBAR KE-2 ADALAH ARSIP
BENDAHARAWAN

DALAM HAL TANGGAL 14


SELAMBAT-LAMBATNYA JATUH PADA HARI LIBUR
14 HARI SETELAH PELAPORAN DILAKUKAN
MASA PAJAK BERAKHIR PADA HARI KERJA
SEBELUMNYA

DLM HAL BANK PEMERINTAH ATAU BANK PEMBANGUNAN DAERAH BERTINDAK SBG “KASIR” DARI
BENDAHARAWAN PEMERINTAH (MIS: PROYEK INPRES), MAKA FAKTUR PAJAK DAN SSP DITERUSKAN
KE BANK YBS MELALUI BENDAHARAWAN. YG DIWAJIBKAN UTK MEMUNGUT DAN MELAPOR ADALAH
BANK YBS
Kewajiban Bendaharawan

No Kewajiban PPh 21/ 26 PPh 23 / 26 PPh 22 PPN dan


dan 4(2) PPn BM

Memotong /
1 Memungut dan X
Menyetorkan

2 Melaporkan
X X

X = Setiap Bulan

= Jika terjadi transaksi


Pelaporan Perpajakan

Pemotongan
Langsung Dipotong KPPN
Pajak

Biaya Gaji
Operasional

Disetor ke Bank Dipotong KPPN


Pelaporan Perpajakan

Bendaharawan

Langsung Dipotong KPPN

Disetor ke Bank

Dilaporkan Ke KPP Setempat


MATERI VI

Pajak Bumi Bangunan (PBB)


DASAR HUKUM

UU No. 12 Tahun 1985 jo


UU No. 12 Tahun 1994

PP No. 74 Tahun 1998

KMK No. 523/KMK.04/1998

KEP-16/PJ.6/1998
PAJAK
BUMI DAN BANGUNAN
(PBB)

ADALAH

PAJAK KEBENDAAN ATAS


BUMI DAN/ATAU BANGUNAN

DIKENAKAN TERHADAP
SUBJEK PAJAK

ORANG PRIBADI ATAU BADAN


SECARA NYATA:
• MEMPUNYAI HAK DAN/ATAU MEMPEROLEH MANFAAT ATAS BUMI,
DAN/ATAU
• MEMILIKI, MENGUASAI, DAN/ATAU MEMPEROLEH MANFAAT ATAS
BANGUNAN
Objek PAJAK
Pasal 2 ayat (1)

BUMI BANGUNAN

ADALAH : ADALAH :

PERMUKAAN BUMI YG KONSTRUKSI TEKNIK


MELIPUTI TANAH DAN YG DITANAM ATAU
PERAIRAN PEDALAMAN DILEKATKAN SECARA
SERTA LAUT WILAYAH TETAP PADA TANAH
INDONESIA, DAN/ATAU PERAIRAN
DAN TUBUH BUMI YG Pasal 1 angka 2
ADA DIBAWAHNYA
Pasal 1 angka 1
Objek PAJAK
Pasal 2 ayat (1)

BANGUNAN

 TERMASUK DALAM PENGERTIAN BANGUNAN ADALAH (Penjelasan


Pasal 1 angka 2) :
Jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan seperti
hotel, pabrik, dan emplasemennya, dan lain-lain yang merupakan satu
kesatuan dengan kompleks bangunan tersebut;
Jalan tol;
Kolam renang;
Pagar mewah;
Tempat olah raga;
Galangan kapal, dermaga;
Taman mewah;
Tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa minyak;
Fasilitas lain yang memberikan manfaat.
FAKTOR YANG MENENTUKAN
KLASIFIKASI Objek PAJAK
Pasal 2 ayat (2)

BUMI/TANAH BANGUNAN
- Letak - Bahan bangunan
- Peruntukan - Rekayasa
- Pemanfaatan - Letak
- Kondisi lingkungan - Kondisi lingkungan
- Dan lain-lain - Dan lain-lain
Objek PAJAK
YANG TIDAK DIKENAKAN PBB
Pasal 3 ayat (1)

ADALAH Objek PAJAK YANG :

§ Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang


ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional, yang
nyata-nyata tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan;
§ Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang sejenis
dengan itu;
§ Merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman
nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah
negara yang belum dibebani suatu hak;
§ Digunakan oleh perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan asas
perlakuan timbal balik;
§ Digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi Internasional yang
ditentukan oleh Menteri Keuangan.
OBJEK PAJAK
YANG DIGUNAKAN UNTUK PENYELENGGARAAN
PEMERINTAHAN
Pasal 3 Ayat (2)

PENGENAAN PAJAKNYA DIATUR


LEBIH LANJUT DENGAN
PERATURAN PEMERINTAH
SUBJEK PAJAK
Pasal 4 ayat (1)

ORANG ATAU BADAN

Memperoleh Memperoleh
manfaat manfaat
atas bangunan atas bumi

Memiliki, Mempunyai
menguasai suatu hak
bangunan atas bumi
Pasal 4 ayat (2)

Dikenakan
SUBJEK kewajiban WAJIB
PAJAK membayar PAJAK
pajak
SUBJEK PAJAK
Pasal 4 ayat (3)

Dirjen Pajak menetapkan Subjek Pajak

Objek Pajak yang belum jelas Wajib


Pajaknya
NILAI JUAL Objek PAJAK
TIDAK KENA PAJAK
(NJOPTKP)
Pasal 3 Ayat (3)

NJOPTKP

Rp 8.000.000,00
untuk setiap Wajib Pajak

 Per Wajib Pajak;


 Diberikan untuk bumi dan/atau bangunan;
 Apabila seorang Wajib Pajak mempunyai beberapa Objek pajak,
yang diberikan NJOPTKP hanya salah satu Objek pajak yang
nilainya terbesar.
DASAR PENGENAAN
Pasal 6 Ayat (1), (2)

NJOP
(Nilai Jual Objek Pajak)

Adalah harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli


yang terjadi secara wajar

Bilamana tidak terdapat transaksi jual beli, Nilai Jual


Objek Pajak ditentukan melalui :
- perbandingan harga dengan Objek lain yang sejenis;atau
- nilai perolehan baru; atau
- Nilai Jual Objek Pajak pengganti.

NJOP ditetapkan setiap tiga tahun oleh Menteri Keuangan, kecuali untuk daerah tertentu
ditetapkan setiap tahun sesuai perkembangan daerahnya
DASAR PENGHITUNGAN
Pasal 6 ayat (3) dan (4)

NILAI JUAL KENA PAJAK

SERENDAH-RENDAHNYA 20 %
DAN
SETINGGI-TINGGINYA 100 %

PERSENTASE NJKP
DITETAPKAN DENGAN
PERATURAN PEMERINTAH
PENETAPAN BESARNYA
NILAI JUAL KENA PAJAK
(PP No. 74 TAHUN 1998)

NILAI JUAL KENA PAJAK

1. OBJEK PAJAK PERUMAHAN


YANG WP-NYA PERSEORANGAN DGN NJOP > 1(SATU) MILIAR
RUPIAH;
2. OBJEK PAJAK PERKEBUNAN
YANG LUAS LAHANNYA > 25 Ha YANG DIMILIKI, DIKUASAI ATAU
OBJEK PAJAK
DIKELOLA OLEH BUMN, BADAN USAHA SWASTA, MAUPUN
BERDASARKAN KERJASAMA OPERASIONAL ANTARA PEMERINTAH LAINNYA
DAN SWASTA;
3. OBJEK PAJAK KEHUTANAN
TERMASUK AREAL BLOK TEBANGAN DLM RANGKA
PENYELENGGARAAN KEGIATAN PEMEGANG HPH, HPHH DAN IPK

40% X NJOP 20% X NJOP


OBJEK PAJAK PERUMAHAN DENGAN NJOP > 1 (SATU) MILYAR YANG DIMILIKI,
DIKUASAI, DIMANFAATKAN OLEH PNS, ANGGOTA ABRI DAN PENSIUNAN TERMASUK
JANDA DAN DUDA YANG PENGHASILANNYA SEMATA-MATA DARI
GAJI/UANGPENSIUN
TARIF
Pasal 5

TARIF TUNGGAL

0,5 %
CARA MENGHITUNG

PBB = TARIF x NJKP

= 0,5% x 20% x NJOP


= 0,5% x 40% x NJOP

NJOP = (NJOP BUMI + NJOP BANGUNAN) 


NJOPTKP
TAHUN PAJAK, SAAT, DAN
TEMPAT YANG MENENTUKAN
PAJAK TERUTANG
Pasal 8 ayat (1), (2), (3)

Tahun Pajak
Adalah jangka waktu satu tahun takwim, yaitu dari tanggal 1
Januari s/d 31 Desember.

Saat yang menentukan pajak terutang


Adalah menurut keadaan Objek pajak pada tanggal 1 Januari.

Tempat Pajak Terutang :


 untuk daerah Jakarta, di wilayah DKI Jakarta;
 untuk daerah lainnya, di wilayah Kabupaten Dati II atau Kota Dati II;
yang meliputi letak Objek pajak.
PENDATAAN
Pasal 9 ayat (1), (2), (3)

WAJIB PAJAK MENGISI SPOP


(Surat Pemberitahuan Objek Pajak)

• JELAS
• BENAR
• LENGKAP
• DITANDATANGANI
PENERBITAN KETETAPAN
Pasal 10

SPOP

tidak disampaikan dalam waktu disampaikan dalam waktu 30


30 hari hari

Setelah ditegor secara tertulis SPPT

BERDASARKAN PEMERIKSAAN/ DATA LAIN


SKP SPOP TIDAK BENAR
TATA CARA PEMBAYARAN
DAN PENAGIHAN
Pasal 11, 12, 13, dan 14

DASAR PENAGIHAN

SEJAK
6 bulan
SPPT D
I
T TEMPAT
1 bulan
SKP E PEMBAYARAN
R - Bank,
I - Kantor Pos ,
1 bulan M
STP - Tempat lain
A
yg ditunjuk

MENTERI KEUANGAN DAPAT MELIMPAHKAN


KEWENANGAN PENAGIHAN PAJAK KEPADA :

- GUBERNUR KDH. TK.I DAN/ATAU


- BUPATI/WALIKOTAMADYA KDH. TK. II
PENDAFTARAN, PENAGIHAN,
DAN SANKSI ADMINISTRASI
Pasal 9 dan 10

30 hr DIKEM- TIDAK
SPOP SKP
BALIKAN + denda 25%
dari pokok
YA pajak
SPPT Ternyata SPOP
tdk benar SKP
(Ketetapan + denda 25%
6 bulan kurang) dari selisih
pajak terutang
JATUH
1 bulan
TEMPO
Segera
1 bln JATUH stlh. 21 hr SURAT
STP TEMPO
TEGORAN
PAKSA
+ bunga 2%
7 hr
sebulan
(maks 24 bulan) 2 X 24 JAM
Paling
cepat
PERMINTAAN JADWAL SURAT PERINTAH
KLN 10 hr
WAKTU & TEMPAT PELELANGAN MELAKUKAN PE- NYITAAN
KEBERATAN DAN BANDING
Pasal 15 dan 16

 Keberatan diajukan atas :


 Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT);
 Surat Ketetapan Pajak (SKP).
 Jangka waktu pengajuan keberatan adalah 3 (tiga) bulan setelah SPPT atau SKP
diterima oleh WP kecuali WP dalam keadaan di luar kekuasaannya.
 Direktur Jenderal Pajak harus memberikan keputusan atas keberatan WP paling lama
12 bulan sejak tanggal Surat Keberatan diterima.
 Atas keberatan yang diajukan, Direktur Jenderal Pajak dapat menerima seluruhnya
atau sebagian, menolak, atau menambah jumlah pajak terutang.
 Keberatan dapat diajukan dalam hal terjadi perbedaan persepsi antara Wajib Pajak
dan Fiskus
 Wajib Pajak dapat mengajukan banding atas keberatan terhadap keputusan Direktur
Jenderal Pajak kepada Badan Penyelesaian Sengketa Pajak.
 Ketentuan banding PBB mengikuti ketentuan Pasal 27 UU No. 6 Tahun 1983
tentang KUP sebagaimana telah diubah dengan UU No. 9 Tahun 1994.
 Pengajuan keberatan atau banding tidak menunda pembayaran pajak.
PEMBAGIAN
HASIL PENERIMAAN PBB
Pasal 18

DATI I I
DATI I
16,2 % 64,8 %

PEM. PUSAT BIAYA PEMUNGUTAN


10 % 9%

- Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan


Nomor 83/KMK.04/1994 tanggal 19 Maret
1994, 10% bagian pemerintah pusat
dibagikan kepada seluruh Daerah Tingkat II
- SKB DJA-DJP
KEP. 56/A/44/1996
KEP. 50/PJ.6/1996
ALUR PENERIMAAN PBB

Pelimpahan BANK
TEMPAT PERSEPSI/
PEMBAYARAN KANTOR POS

Pembayaran

WAJIB
PAJAK Pelimpahan

Pembayaran
BANK/
OPERASIONAL V
PETUGAS Pembagian
PEMUNGUT

10% 9% 16,2% 64,8%

PEM. BIAYA DATI I DATI II


PUSAT PEMUNGUTAN
PENGENAAN PBB TERHADAP Objek PAJAK
YANG DINILAI SECARA INDIVIDUAL
KMK No. 523/KMK.04/1998

OBJEK PAJAK YANG BERSIFAT KHUSUS DAPAT


DITENTUKAN BERDASARKAN PENILAIAN SECARA
INDIVIDUAL
KEP. DIRJEN PAJAK NO. KEP. 16/PJ.6/1998

Objek Pajak yang bersifat khusus adalah sebagai berikut :


 Jalan tol
 Pelabuhan laut/sungai/udara
 Lapangan golf
 Industri semen/pupuk
 PLTA, PLTU, PLTG
 Pertambangan
 Tempat rekreasi
 Dan lain-lain sejenisnya
MATERI VII - a
UNDANG-UNDANG
NO. 21 THN 1997
TENTANG
BEA PEROLEHAN HAK ATAS
TANAH DAN BANGUNAN
(UU BPHTB)
SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN
UNDANG-UNDANG
NO. 20 THN 2000
DASAR HUKUM

UU NO.21 TAHUN 1997


Sebagaimana diubah dgn
UU UU NO.20 TAHUN 2000
No. 34/1997
No. 111 /2000
PP No. 112/ 2000
No. 113/2000
No. 114/ 2000

630/KMK.04/97 517/ KMK.04/2000


631/KMK.04/97 518/ KMK.04/2000
632/KMK.04/97 519/ KMK.04/2000
KMK 633/KMK.04/97
636/KMK.04/97
514/KMK.04/2000
515/KMK.04/2000
516/KMK.04/2000

21/PJ.6/97
22/PJ.6/97
KEP. DJP 23/PJ.6/97
24/PJ.6/97
531/PJ/2000
Ordonansi Bea Balik Nama
Stbl. 1924 No. 291

Objek Pajak :
Dipungut antara lain atas Barang-barang tetap dan hak-hak
pemindahan hak termasuk hibah kebendaan atas tanah yang
wasiat atas harta tetap pemindahan haknya dilakukan
dengan akta

kecuali : Hak Agraris Eigendom


(Pasal 51 ayat 7 Ind. Staatsregeling)

Objeknya terbatas pada hak-hak


atas tanah dengan titel hukum barat
TANAH

Memenuhi kebutuhan Alat investasi yg


Lahan usaha
dasar untuk papan menguntungkan

WAJAR

bagi yang memperoleh hak atas tanah

memberikan kontribusi kepada Negara


dengan membayar pajak (BPHTB)
Prinsip-prinsip yang diatur
dalam UU BPHTB

 Pemenuhan kewajiban berdasarkan sistem “Self Assessment”.


 Tarif sebesar 5% dari Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak (NPOPKP).
 Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) ditetapkan secara
regional paling banyak Rp60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah), dan Rp
300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) atas waris atau hibah wasiat .
 Pengenaan sanksi terhadap Wajib Pajak dan pejabat-pejabat umum yang
melanggar ketentuan atau tidak melaksanakan kewajibannya.
 Penerimaan BPHTB merupakan penerimaan Negara yang sebagian besar
diserahkan kepada Pemerintah Daerah.
 Semua pungutan atas perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan di luar
ketentuan UU ini tidak diperkenankan.
OBJEK PAJAK
Pasal 2

PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN/ATAU


BANGUNAN

Pemindahan Hak Pemberian Hak Baru


Jenis Perolehan Hak atas Tanah
dan/atau Bangunan
Pasal 2 ayat (2)

Pemindahan Hak, karena :


1. jual beli; 2. tukar-menukar;
3. hibah; 4. hibah wasiat;
5. waris;
6. pemasukan dalam perseroan atau
badan hukum lainnya;
7. pemisahan hak yang mengakibatkan
peralihan;
8. penunjukan pembeli dalam lelang;
9. putusan hakim yang mempunyai
kekuatan hukum tetap;
10. penggabungan usaha;
11. peleburan usaha;
12. pemekaran usaha;
13. hadiah.
Pemberian Hak Baru, karena :
 kelanjutan pelepasan hak;
 di luar pelepasan hak.
JENIS HAK-HAK ATAS TANAH
Pasal 2 ayat (3)

Diatur dlm UUPA Diatur dlm UU Rumah Susun


(UU No. 5 / 1960) (UU No. 16 / 1985)

hak milik hak milik atas satuan rumah


hak guna usaha susun
hak guna bangunan hak pengelolaan
hak pakai
OBYEK PAJAK
YANG TIDAK DIKENAKAN BPHTB
Pasal 3 ayat (1) jo Kep.Men.Keu No.630/KMK.04/1997

Objek Pajak yang diperoleh :


 perwakilan diplomatik (asas timbal balik) :
 Negara untuk kepentingan umum
 badan / perwakilan organisasi internasional
 orang pribadi/badan karena konversi hak / perbuatan hukum lain tanpa
perubahan nama
 orang pribadi/badan karena wakaf
 untuk kepentingan ibadah

Ditpenpa 2000 bphtb 10


OP yang diperoleh karena waris, hibah wasiat dan hak
pengelolaan diatur dengan PP
Pasal 3 ayat (2) jo. PP No.111/2000 dan PP No.112/2000
Kep. Men. Keu No.514/KMK.04/2000 dan 515/KMK.04/2000

Untuk lebih memberikan rasa Hak pengelolaan merupakan


keadilan hak di luar UUPA

 Saat pewaris meninggal dunia pada hakikatnya pengenaannya


telah terjadi pemindahan hak dari pewaris kepada perlu diatur dengan PP
ahli waris
 mengingat ahli waris memperoleh hak secara
cuma-cuma, maka adalah wajar apabila perolehan
hak karena waris termasuk objek pajak
 hibah wasiat merupakan penetapan wasiat yg
khusus yg berlaku pada saat pemberi wasiat
meninggal dunia
 pada umumnya penerima hibah wasiat adalah
orang pribadi yg masih dalam hubungan keluarga
yg tidak mampu atau badan sebagai penghargaan
SUBJEK PAJAK
(Pasal 4)

“Orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas


tanah dan atau bangunan”

dikenakan kewajiban membayar pajak

Wajib Pajak
TARIF PAJAK
Pasal 5

Untuk kesederhanaan dan kemudahan


penghitungan pajak

Tarif Tunggal

5%
DASAR PENGENAAN
Pasal 6

Nilai Perolehan Objek Pajak


(NPOP)

Nilai Pasar
Harga Transaksi Apabila NPOP tidak
1) tukar-menukar
2) hibah diketahui atau lebih
- jual beli 3) hibah wasiat rendah dari NJOP PBB
- penunjukan 4) waris
5) pemasukan dalam perseroan atau
pembeli badan hukum lainnya
dlm lelang 6) pemisahan hak yang mengakibatkan
peralihan NJOP PBB
7) peralihan hak karena putusan hakim
yg tetap
8) pemberiah hak baru karena pelepasan
hak
9) pemberian hak baru diluar pelepasan
Besarnya NJOP PBB
hak ditetapkan oleh Menteri
10)penggagungan, peleburan dan Keuangan dalam hal
pemekaran usaha. belum diketahui
11)hadiah.
Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak
(NPOPTKP)
Pas al 7

Ditetapkan oleh Kakanwil dengan


pertimbangan Pemda dan
perekonomian daerah

paling banyak
Rp 300.000.000,00 paling banyak
untuk waris atau hibah Rp 60.000.000,00
wasiat bagi orang pribadi selain perolehan
yg masih dalam hubungan hak dari waris
keluarga sedarah dalam & hibah wasiat
garis keturunan lurus

Dapat diubah dengan PP


CARA PENGHITUNGAN PAJAK
Pasal 8

BPHTB = ( NPOP - NPOPTKP ) x Tarif

atau

Bila NJOP digunakan sebagai dasar pengenaan

BPHTB = ( NJOP - NPOPTKP ) x Tarif

Ditpenpa 2000
SAAT PAJAK TERUTANG
( Pasal 9 )

 jual beli
 tukar-menukar
 hibah
 pemasukan dlm perseroan/ badan
hukum lainnya sejak tgl dibuat
 pemisahan hak yang mengakibatkan dan ditandatanganinya
peralihan akta
 hadiah
 penggabungan usaha, peleburan
usaha, pemekaran usaha

 waris sejak tgl pendaftaran peralihan hak


 hibah wasiat
 putusan hakim sejak tgl putusan pengadilan yg tetap

 lelang sejak tgl penunjukan


pemenang lelang

 pemberian hak baru sbg


sejak tgl diterbitkannya
kelanjutan pelepasan hak & di surat keputusan
luar pelepasan hak pemberian hak
PELUNASAN PAJAK TERUTANG
Pasal 9 ayat 2

Dilunasi pada saat terjadinya


perolehan hak
TEMPAT TERUTANG
PAJAK
Pasal 9 ayat 3

Di Wilayah:
1. Kabupaten
2. Kota
3. Propinsi

Yang meliputi letak tanah


dan atau bangunan
PEMBAYARAN PAJAK TERUTANG
( Pasal 10 )

Wajib Pajak wajib membayar pajak yang terutang dengan tidak


mendasarkan pada adanya surat ketetapan

Dibayar ke Kas Negara melalui Kantor Pos dan atau Bank


BUMN atau Bank BUMD atau tempat pembayaran lain yang
ditunjuk oleh Menteri Keuangan

Tata cara pembayaran pajak diatur lebih lanjut dengan


Keputusan Menteri
Pembayaran Bea Perolehan Hak Atas
Tanah atau/Bangunan
Kep. Men. Keu no.631/KMK.04/1997
jo Kep. DJP No. Kep-21/PJ.6/1997

Wajib Pajak
Setor
ke
Bank Persepsi / Kantor Pos
Operasional V
Sebelum:
a. Akta pemindahan hak atas tanah dan atau bangunan
ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)
/Notaris;
b. Risalah lelang untuk pembeli ditandatangani oleh Kepala
Kantor Lelang / Pejabat Lelang;
c. dilakukan pendaftaran hak oleh Kepala Kantor Pertanahan
Kabupaten /Kotamadya dalam hal:
1) pemberian hak baru;
2) pemindahan hak karena pelaksanaan Putusan Hakim, warisan
atau Hibah Wasiat
Dengan
menggunakan

Surat Setoran
Bea
Surat Ketetapan BPHTB Kurang Bayar
( SKBKB )
Pasal 11

Dalam jangka Waktu 5 tahun berdasarkan hasil pemeriksaan /


keterangan lain

Pajak kurang dibayar

SKB KB + bunga 2% / bln maksimum 24 bln


sejak saat pajak terutang s/d diterbitkan SKBKB

Dasar penagihan Wajib Pajak


Pasal 14
Surat Ketetapan BPHTB
Kurang Bayar Tambahan ( SKBKBT )
Pasal 12

Dalam jangka Waktu 5 tahun berdasarkan hasil pemeriksaan di


temukan data baru dan/atau yang semula belum terungkap

Pajak kurang dibayar

SKB KBT + kenaikan 100%; kecuali Wajib Pajak


melapor sendiri sebelum dilakukan tindakan
pemeriksaan

Dasar penagihan Wajib Pajak


Pasal 14
SURAT TAGIHAN BPHTB ( STB )
Pasal 13

menagih pajak yang tidak/


kurang dibayar
+ bunga2%/bln
maks 24 bln sejak saat
menagih pajak yang kurang pajak terutang
dibayar karena
salah tulis/hitung
pada SSB

menagih sanksi adm.berupa


bunga dan/ataudenda
DASAR PENAGIHAN PAJAK
Pasal 14

Surat Ketetapan BPHTB Kurang Bayar, Surat Ketetapan


BPHTB Kurang Bayar Tambahan, Surat Tagihan BPHTB, dan
Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan
maupun Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak
yang harus dibayar bertambah

Harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu)


bulan sejak diterima oleh Wajib Pajak

Tata Cara Penagihan Pajak diatur dengan Keputusan


Menteri
SURAT PAKSA
Pasal 15

JUMLAH PAJAK TERUTANG

BERDASARKAN

SKBKB, SKBKBT, SURAT TAGIHAN BPHTB, DAN SURAT KEPUTUSAN


PEMBETULAN, SURAT KEPUTUSAN KEBERATAN DAN SURAT KEPUTUSAN
BANDING

TIDAK ATAU KURANG DIBAYAR PADA


WAKTUNYA

DAPAT DITAGIH DENGAN SURAT PAKSA


KEBERATAN
Pasal 16 dan 17

SKBKB, SKBKBT, SKBLB, SKBN

Maksimum 3 bulan sejak diterimanya


SKB

DIRJEN PAJAK

Keputusan maksimum 12 bulan


• Ditolak
• Diterima seluruh/sebagian
• Menambah
KEPUTUSAN KEBERATAN
Pasal 20
Kep. DJP N0.Kep-22/PJ.6/1997

SKB.KB SKB.KB
s/d Rp 2.500.000.000,00 › Rp 2.500.000.000,00

Kantor Pelayanan
Pajak Bumi dan Bangunan Kantor Wilayah
BANDING
Pasal 18

Surat Keputusan Keberatan

WAJIB PAJAK
WAJIB PAJAK (MENOLAK)
(MENERIMA)

BANDING
Apabila SK Keberatan Diajukan secara tertulis dalam
menambah jumlah pajak Bahasa Indonesia dengan alasan yg
jelas, dalam jk waktu maksimum 3
terutang
bulan sejak SK Keberatan diterima
(merupakan dasar penagihan)
Pasal 14

BADAN PERADILAN PAJAK


PEMBAYARAN
PEMBAGIAN HASIL PENERIMAAN
Pasal 23
Kep. Men. Keu No.519/KMK.04/2000

BPHTB merupakan pajak pusat yang dibagikan kepada:

Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah 80%


20%

Dibagikan kepada
- 16% untuk propinsi
pemerintah
- 64% untuk pemerintah
kabupaten/kota
kabupaten
secara merata
MATERI VII - b

BEA METERAI
DASAR HUKUM
BEA METERAI

UU Nomor 13 Tahun 1985 ttg Bea


Meterai

Nomor 24 Tahun 2000 ttg


PP
Pelaksanaan UU BM

No. 133/KMK.04/2000 No.


KMK 133a/KMK.04/2000 No.
133b/KMK.04/2000 No.
133c/kmk.04/2000

No. 122a/PJ./2000 Tgl. 1-5-2000 No.


KEP. DJP 122b/PJ./2000 Tgl. 1-5-2000 No. 122c/PJ./2000
Tgl. 1-5-2000 No. 122d/PJ./2000 Tgl. 1-5-2000
PENGERTIAN UMUM TENTANG
BEA METERAI

BEA METERAI ADALAH PAJAK ATAS DOKUMEN-


DOKUMEN TERTENTU YANG DISEBUTKAN DALAM
PASAL 2 UNDANG-UNDANG BEA METERAI YANG
DIPAKAI OLEH MASYARAKAT DALAM LALU LINTAS
HUKUM
PENGERTIAN-PENGERTIAN

DOKUMEN ADALAH KERTAS YG BERISIKAN TULISAN YG MENGANDUNG ARTI


& MAKSUD TENTANG : PERBUATAN ; KEADAAN, ATAU KENYATAAN BAGI
SESEORANG DAN ATAU PIHAK- PIHAK YG BERKEPENTINGAN

BENDA METERAI ADALAH METERAI TEMPEL & KERTAS METERAI YG


DIKELUARKAN OLEH PEMERINTAH RI

TANDA TANGAN ADALAH TANDA TANGAN SEBAGAIMANA LAZIMNYA


DIPERGUNAKAN, TERMASUK : PARAP; TERAAN ATAU CAP TANDA
TANGAN /CAP PARAP; TERAAN CAP NAMA ATAU TANDA LAINNYA SEBAGAI
PENGGANTI TANDA TANGAN

PEMETERAIAN KEMUDIAN ADALAH SUATU CARA


PELUNASAN BEA METERAI YG DILAKUKAN OLEH
PEJABAT POS ATAS PERMINTAAN PEMEGANG
DOKUMEN YG BEA METERAINYA BELUM DILUNASI SEBAGAIMANA
MESTINYA
OBJEK BEA METERAI

1. Surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai
perbuatan, kenyataan/ keadaan yang bersifat perdata (a.l. Surat Kuasa, Surat Hibah, Surat Pernyataan)

2. Akta-akta Notaris termasuk salinannya


3. Akta-akta yang dibuat oleh PPAT termasuk rangkap-rangkapnya
4. Surat yang memuat jumlah uang :
1) yg menyebutkan penerimaan uang
2) yg menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dlm rekening di Bank
3) yg berisi pemberitahuan saldo rekening di Bank
4) yg berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya atau sebagian telah
dilunasi atau diperhitungkan
5. Surat berharga seperti wesel, promes, aksep
6. Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun
7. Sekumpulan Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tercantum dalam surat kolektif
8. Dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan
1) surat-surat biasa dan surat kerumah tanggaan
2) surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain atau
digunakan oleh orang lain, lain dari maksud semula
TARIF BEA METERAI

BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NO. 24 TAHUN


2000 TARIF BEA METERAI DITETAPKAN Rp 3.000,00 DAN
Rp 6.000,00 BERLAKU MULAI 1 MEI 2000
DOKUMEN YANG TERUTANG BEA METERAI DENGAN
TARIF Rp 6.000,00

OBJEK ( BENTUK BEA METERAI


DOKUMEN)
1. Surat perjanjian dan surat-surat lainnya (a.l. Surat Kuasa, Surat Hibah, Surat Pernyataan) yg
dibuat dg tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan Rp 6.000,00
atau keadaan yg bersifat perdata
2. Akta notaris termasuk salinannya Rp 6.000,00
3. Akta yang dibuat ole PPAT termasuk rangkap-rangkapnya Rp 6.000,00
4. Surat yang memuat jumlah uang yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp 1.000.000,00
(atau dalam mata uang asing dengan jumlah nominal yang sama)
1) yg menyebutkan penerimaan uang
2) yg menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di Bank Rp 6.000,00
3) yg berisi pemberitahuan saldo rekening di Bank
4) yg berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya atau sebagian telah dilunasi atau
diperhitungkan
5. Surat berharga seperti wesel, promes, aksep yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp
1.000.000,00 Rp 6.000,00

6. Efek / Sekumpulan Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang mempunyai harga nominal Rp 6.000,00
lebih dari Rp 1.000.000,00
7. Dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan seperti surat-surat Rp 6.000,00
biasa, surat kerumah tanggaan, dan surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai
DOKUMEN YANG TERUTANG BEA METERAI DENGAN
TARIF Rp 3.000,00

OBJEK ( BENTUK
BEA METERAI
DOKUMEN)
1. Surat yang memuat jumlah uang yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp
250.000,00 sampai dengan Rp1.000.000,00
1) yang menyebutkan penerimaan uang
2) yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di
Bank
3) yang berisi pemberitahuan saldo rekening di Bank, atau Rp 3.000,00
4) yang berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya atau sebagiannya telah
dilunasi atau diperhitungkan

2. Surat berharga seperti wesel, promes, aksep yang mempunyai harga nominal
lebih dari Rp 250.000,00 sampai dengan Rp1.000.000,00 Rp 3.000,00

3. Efek / Sekumpulan Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang
mempunyai harga nominal sampai dengan Rp 1.000.000,00 Rp 3.000,00

4. Cek dan Bilyet Giro tanpa batas pengenaan besarnya harga nominal Rp 3.000,00
DOKUMEN YANG TIDAK TERUTANG BEA METERAI

OBJEK ( BENTUK
BEA METERAI
DOKUMEN)
1. Surat yang memuat jumlah uang yang mempunyai harga nominal
sampai dengan Rp 250.000,00 :
1) yang menyebutkan penerimaan uang
2) yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang
dalam rekening di Bank -
3) yang berisi pemberitahuan saldo rekening di Bank, atau
4) yang berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya atau
sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan

2. Surat berharga seperti wesel, promes, aksep yang


mempunyai harga nominal sampai dengan Rp 250.000,00 -
DOKUMEN YANG TIDAK DIKENAKAN BEA
METERAI

a. DOKUMEN BERUPA :
1) SURAT PENYIMPANAN BARANG;
2) KONOSEMEN;
3) SURAT ANGKUTAN PENUMPANG & BARANG;
4) KETERANGAN PEMINDAHAN YG DITULISKAN DI ATAS
DOKUMEN SEBAGAIMANA DIMAKSUD DLM ANGKA 1),
ANGKA 2) & ANGKA 3);
5) BUKTI UNTUK PENGIRIMAN & PENERIMAAN BARANG;
6) SURAT PENGIRIMAN BARANG UNTUK DIJUAL ATAS
TANGGUNGAN PENGIRIM
7) SURAT-SURAT LAINNYA YG DAPAT DISAMAKAN DGN
SURAT- SURAT SEBAGAIMANA DIMAKSUD DLM
ANGKA 1) SAMPAI ANGKA 6)
b. SEGALA BENTUK IJAZAH;
c. TANDA TERIMA GAJI, UANG TUNGGU, PENSIUN,
UANG TUNJANGAN, & PEMBAYARAN LAINNYA
YG KAITANNYA DGN HUBUNGAN KERJA SERTA
SURAT-SURAT YG DISERAHKAN UNTUK
MENDAPATKAN PEMBAYARAN ITU;

d. TANDA BUKTI PENERIMAAN UANG NEGARA DARI


KAS NEGARA & KAS PEMERINTAH DAERAH
DOKUMEN YANG TIDAK DIKENAKAN BEA
METERAI

e. KUITANSI UNTUK SEMUA JENIS PAJAK & UNTUK


PENERIMAAN LAINNYA YG DAPAT DISAMAKAN
DGN ITU DARI KAS NEGARA, KAS PEMERINTAH
DAERAH & BANK;

f. TANDA PENERIMAAN UANG YG DIBUAT UNTUK


KEPERLUAN INTERN ORGANISASI;

g. DOKUMEN YG MENYEBUTKAN TABUNGAN,


PEMBAYARAN UANG TABUNGAN KEPADA
PENABUNG OLEH BANK, KOPERASI & BADAN-
BADAN LAINNYA YG BERGERAK DI BIDANG TSB.;

h. SURAT GADAI YG DIBERIKAN OLEH PERUSAHAAN


UMUM PEGADAIAN;

i. TANDA PEMBAGIAN KEUNTUNGAN ATAU BUNGA


DARI EFEK, DGN NAMA & DLM BENTUK APAPUN.
SAAT TERUTANGNYA BEA METERAI

SAAT TERUTANGNYA BEA METERAI DITENTUKAN OLEH


KEADAAN SEBAGAI BERIKUT :

a. DOKUMEN YG DIBUAT OLEH SATU PIHAK

TERUTANGNYA BEA METERAI ADALAH PADA SAAT DOKUMEN DISERAHKAN


DAN DITERIMA OLEH PIHAK UNTUK SIAPA DOKUMEN ITU DIBUAT;

b. DOKUMEN YG DIBUAT OLEH LEBIH DARI SATU PIHAK


TERUTANGNYA BEA METERAI ADALAH PADA SAAT SELESAINYA
DOKUMEN DIBUAT YANG DITUTUP DENGAN PEMBUBUHAN TANDA TANGAN
DARI YANG BERSANGKUTAN;

c. DOKUMEN YG DIBUAT DI LUAR NEGERI :

TERUTANGNYA BEA METERAI ADALAH PADA SAAT DOKUMEN ITU AKAN


DIGUNAKAN DI INDONESIA.
PIHAK YANG TERUTANG
BEA METERAI

BEA METERAI TERUTANG OLEH PIHAK YANG MENERIMA ATAU


PIHAK YANG MENDAPAT MANFAAT DARI DOKUMEN KECUALI
PIHAK-PIHAK YANG BERSANGKUTAN MENENTUKAN LAIN

DOKUMEN YANG DIBUAT SEPIHAK, BEA METERAI TERUTANG OLEH PIHAK


YANG MENERIMA DOKUMEN
CONTOH : KUITANSI

DOKUMEN YANG DIBUAT OLEH DUA PIHAK, BEA METERAI TERUTANG OLEH
MASING-MASING PIHAK
CONTOH : SURAT PERJANJIAN DIBAWAH TANGAN

UNTUK AKTA NOTARIS, BEA METERAI TERUTANG OLEH PIHAK YANG


MENDAPAT MANFAAT DARI AKTA TERSEBUT
CARA PELUNASAN
BEA METERAI

DGN CARA LAIN YG


DGN BENDA METERAI
DITETAPKAN MENKEU

Ò METERAI TEMPEL Ó MESIN TERAAN METERAI

Ò KERTAS METERAI Ó TEKNOLOGI PERCETAKAN

Ó SISTEM KOMPUTERISASI
CARA PELUNASAN BEA METERAI
DGN METERAI TEMPEL

1. METERAI TEMPEL DIREKATKAN SELURUHNYA DENGAN UTUH DAN TIDAK RUSAK


DI ATAS DOKUMEN YANG DIKENAKAN BEA METERAI;
2. METERAI TEMPEL DIREKATKAN DI TEMPAT DIMANA TANDA TANGAN AKAN
DIBUBUHKAN;
3. PEMBUBUHAN TANDA TANGAN DISERTAI DGN PENCANTUMAN TGL, BULAN, DAN
THN, DILAKUKAN DGN TINTA ATAU YANG SEJENIS DGN ITU, SEHINGGA SEBAGIAN
TANDA TANGAN ADA DI ATAS KERTAS DAN SEBAGIAN LAGI DI ATAS METERAI
TEMPEL;
4. JIKA DIGUNAKAN LEBIH DARI SATU METERAI TEMPEL, TANDA TANGAN HARUS
DIBUBUHKAN SEBAGIAN DI ATAS SEMUA METERAI TEMPEL DAN SEBAGIAN DI
ATAS KERTAS;
CARA PELUNASAN BEA METERAI
DGN KERTAS METERAI

1. KERTAS METERAI HANYA DAPAT DIGUNAKAN UNTUK SEKALI


PEMAKAIAN, MESKIPUN HANYA DIGUNAKAN SEBAGAIAN

2. KERTAS METERAI YANG SUDAH DIGUNAKAN TIDAK BOLEH DIGUNAKAN


LAGI;

3. JIKA ISI DOKUMEN YANG DIKENAKAN BEA METERAI TERLALU PANJANG


UNTUK DIMUAT SELURUHNYA DI ATAS KERTAS METERAI YANG
DIGUNAKAN

MAKA

UNTUK BAGIAN ISI YANG MASIH TERTINGGAL DAPAT DIGUNAKAN


KERTAS TIDAK BERMETERAI

BILA KETENTUAN PENGGUNAAN DAN CARA PELUNASAN BEA METERAI


TIDAK DIPENUHI, DOKUMEN YBS DIANGGAP TIDAK BERMETERAI
TATA CARA MENDAPATKAN IZIN PELUNASAN BEA
METERAI
DGN MESIN TERAAN METERAI

1. PENERBIT DOKUMEN HARUS MENGAJUKAN PERMOHONAN IJIN SECARA TERTULIS


KEPADA KEPALA KPP SETEMPAT DENGAN MENCANTUMKAN JENIS, MEREK, TAHUN
PEMBUATAN MESIN TERAAN METERAI YANG DIMINTAKAN IJIN PENGGUNAAN
2. MELAMPIRKAN SURAT PERNYATAAN TTG JUMLAH RATA-RATA DOKUMEN YANG HARUS
DILUNASI BEA METERAI-NYA SETIAP HARI
3. MENYETOR DI MUKA BEA METERAI MINIMAL SEBESAR Rp. 15.000.000,-- DGN SSP
4. MELAMPIRKAN SURAT KETERANGAN LAIK PAKAI ATAS MESIN TERAAN METERAI YANG
DIMINTAKAN IJIN
5. IJIN PENGGUNAAN MESIN TERAAN METERAI DITERBITKAN OLEH KEPALA KPP YANG
BERLAKU SELAMA JANGKA WAKTU 2 (DUA) TAHUN
6. SEBELUM MESIN TERAAN METERAI DIGUNAKAN, DILAKUKAN PENGISIAN DEPOSIT
SEBESAR JUMLAH BEA METERAI YANG DISETOR DI MUKA DAN PEMASANGAN SEGEL
PADA MESIN TERAAN METERAI TSB. OLEH KPP SETEMPAT
7. DIBUATKAN BERITA ACARA PEMASANGAN SEGEL UNTUK PEMAKAIAN YANG PERTAMA
KALI, DAN BERITA ACARA PEMBUKAAN DAN PEMASANGAN SEGEL UNTUK
PERPANJANGAN PEMAKAIAN MESIN TERAAN METERAI
TATA CARA MENDAPATKAN IZIN PELUNASAN BEA
METERAI
DGN TEKNOLOGI PERCETAKAN

PELUNASAN BEA METERAI DGN TEKNOLOGI PERCETAKAN HANYA


UNTUK CEK, BILYET GIRO DAN EFEK

1. PENERBIT DOKUMEN MENYETOR DI MUKA BEA METERAI KE KAS NEGARA


SEBESAR JUMLAH DOKUMEN YG HARUS DILUNASI BEA METERAINYA
2. PENERBIT DOKUMEN HARUS MENGAJUKAN PERMOHONAN IJIN SECARA TERTULIS
KEPADA DIREKTUR JENDERAL PAJAK DENGAN MENCANTUMKAN JENIS DOKUMEN
YG AKAN DILUNASI BEA METERAINYA DAN JLH BM YANG TELAH DIBAYAR
3. APABILA PERMOHONAN IJIN YANG DIAJUKAN OLEH PENERBIT DOKUMNEN TELAH
MEMENUHI SYARAT, DIREKTUR JENDERAL PAJAK MENERBITKAN SURAT IJIN
PENCETAKAN TANDA LUNAS BEA METERAI
4. PELAKSANAAN PENCETAKAN TANDA LUNAS BEA METERAI HANYA DAPAT
DILAKUKAN OLEH PERUM PERURI
TATA CARA MENDAPATKAN IZIN PELUNASAN BEA
METERAI
DGN SISTEM KOMPUTERISASI

PELUNASAN BM DGN SISTEM KOMPUTERISASI HANYA ATAS DOKUMEN YG BERBENTUK


SURAT YANG MEMUAT JUMLAH UANG DGN JUMLAH RATA-RATA PEMETERAIAN 100
DOKUMEN SETIAP HARI

1. PENERBIT DOKUMEN HARUS MENGAJUKAN PERMOHONAN IJIN SECARA TERTULIS


KEPADA DIREKTUR JENDERAL PAJAK DENGAN MENCANTUMKAN JENIS DOKUMEN
DAN PERKIRAAN JUMLAH ARATA-RATA DOKUMEN YG AKAN DILUNASI BEA
METERAINYA
2. MENYETOR DI MUKA BEA METERAI SEBESAR PERKIRAAN JUMLAH DOKUMEN YG
HARUS DILUNASI BEA METERAINYA SETIAP BULAN
3. DIREKTUR JENDERAL PAJAK MENERBITKAN IJIN PELUNASAN BEA METERAI DGN
MEMBUBUHKAN TANDA BEA METERAI LUNAS DENGAN SISTEM KOMPUTERISASI,
APABILA PERMOHONAN PENERBIT DOKUMEN TELAH MEMENUHI PERSYARATAN.
4. IJIN DARI DIREKTUR JENDERAL PAJAK, BERLAKU SELAMA SALDO BEA METERAI
YANG TELAH DISETOR DI MUKA MASIH MENCUKUPI KEBUTUHAN PEMETERAIAN 1
BULAN BERIKUTNYA
PEMETERAIAN KEMUDIAN

DILAKUKAN THD.

1. DOKUMEN YG AKAN DIGUNAKAN SEBAGAI ALAT PEMBUKTIAN


DI MUKA PENGADILAN

2. DOKUMEN YG BEA METERAINYA TIDAK ATAU KURANG DILUNASI


DITAMBAH DENGAN DENDA 200% DARI BEA METERAI YANG
KURANG ATAU TIDAK DIBAYAR

3. DOKUMEN YG DIBUAT DI LUAR NEGERI DAN AKAN DIGUNAKAN


DI INDONESIA TANPA DIKENAKAN DENDA
(APABILA DOKUMEN YG DIBUAT DI LUAR NEGERI,
DIMETERAIKAN SESUDAH DIGUNAKAN, DIKENAKAN DENDA
200% DARI BEA METERAI YANG TIDAK ATAU KURANG DIBAYAR)
BEA METERAI ATAS DOKUMEN YG DIBUAT DI LUAR
NEGERI

DOKUMEN YG DIBUAT DI LUAR NEGERI

SAAT DIGUNAKAN DI INDONESIA

HARUS DILUNASI BEA METERAINYA DENGAN CARA


PEMETERAIAN KEMUDIAN
DENDA ADMINSTRASI

1. DOKUMEN YG TERUTANG BEA METERAI


TETAPI BEA METERAINYA TIDAK ATAU
KURANG DILUNASI SEBAGAIMANA
MESTINYA DIKENAKAN DENDA SEBESAR
200 % DARI BEA METERAI YG TIDAK ATAU
KURANG DIBAYAR

2. CARA PELUNASAN BEA METERAI YG


TERUTANG BERIKUT DENDANYA
DILAKUKAN DGN CARA PEMETERAIAN
KEMUDIAN
KETENTUAN KHUSUS

PEJABAT PEMERINTAH, HAKIM, PANITERA, JURU SITA, NOTARIS DAN PEJABAT


UMUM LAINNYA, MASING-MASING DLM TUGAS DAN JABATANNYA

TDK DIBENARKAN

1. MENERIMA MEMPERTIMBANGKAN ATAU MENYIMPAN DOKUMEN YG BEA METERAINYA


TIDAK/KURANG DIBAYAR;
2. MELEKATKAN DOKUMEN YG BEA METERAINYA TIDAK/KURANG DIBAYAR SESUAI DGN
TARIFNYA PADA DOKUMEN LAIN YG BERKAITAN;
3. MEMBUAT SALINAN, TEMBUSAN, RANGKAPAN ATAU PETIKAN DARI DOKUMEN YG BEA
METERAINYA TIDAK/KURANG DIBAYAR;
4. MEMBERIKAN KETERANGAN ATAU CATATAN PADA DOKUMEN YG TIDAK/KURANG DIBAYAR
SESUAI DGN TARIF BEA METERAINYA.
AYAT (1)

PELANGGARAN TERHADAP KETENTUAN INI, DIKENAKAN SANKSI ADMINISTRATIF SESUAI


DENGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERLAKU
AYAT (2)
DALUWARSA BEA METERAI

KEWAJIBAN PEMENUHAN BEA METERAI DAN DENDA ADMINISTRASI YG TERUTANG


MENURUT UNDANG-UNDANG BEA METERAI

DALUARSA

SETELAH LAMPAU WAKTU 5 TAHUN

SEJAK

TANGGAL DOKUMEN DIBUAT


KETENTUAN PIDANA

DIPIDANA DGN KETENTUAN DLM KUHP

BARANGSIAPA

1. MENIRU ATAU MEMALSUKAN METERAI TEMPEL, KERTAS METERAI ATAU MENIRU DAN
MEMALSUKAN TANDA TANGAN YG PERLU UNTUK MENSAHKAN METERAI;

2. DGN SENGAJA MENYIMPAN DGN MAKSUD UNTUK DIEDARKAN ATAU MEMASUKKAN KE


NEGARA INDONESIA METERAI PALSU, YG DIPALSUKAN ATAU YG DIBUAT DGN MELAWAN
HAK;

3. YG SENGAJA MENGGUNAKAN, MENJUAL, MENAWARKAN, MENYERAHKAN, MENYEDIAKAN


UNTUK DIJUAL ATAU DIMASUKKAN KE NEGARA INDONESIA METERAI YG MEREKNYA,
CAPNYA, TANDATANGANNYA, TANDA SAHNYA ATAU TANDA WAKTUNYA MEMPERGUNAKAN
TELAH DIHILANGKAN SEOLAH-OLAH METERAI ITU BELUM DIPAKAI DAN ATAU MENYURUH
ORANG LAIN MENGGUNAKANNYA DGN MELAWAN HAK;

4. MENYIMPAN BAHAN-BAHAN ATAU PERKAKAS-PERKAKAS YG DIKETAHUINYA DIGUNAKAN


UNTUK MELAKUKAN SALAH SATU KEJAHATAN UNTUK MENIRU DAN MEMALSUKAN BENDA
METERAI
KETENTUAN PIDANA

DIPIDANA DGN PIDANA PENJARA


SELAMA-LAMANYA 7 TAHUN
(TINDAK PIDANA KEJAHATAN)

BARANGSIAPA

DENGAN SENGAJA MENGGUNAKAN CARA LAIN PELUNASAN BEA


METERAI ATAS DOKUMEN

TANPA IZIN MENTERI KEUANGAN


MATERI VIII
UU No. 18 Th. 1997 tentang
PAJAK DAERAH
sebagaimana telah diubah terakhir dengan
UU No. 34 Th. 2000
OBJEK PAJAK DAERAH
Ditentukan dengan Peraturan daerah

SUBJEK PAJAK DAERAH


Orang pribadi atau badan yang dapat dikenakan
pajak daerah

WAJIB PAJAK
Orang pribadi atau badan yang menurut peraturan
perundang-undangan perpajakan daerah diwajibkan
untuk melakukan pembayaran pajak yang terutang,
termasuk pemungut atau pemotong pajak tertentu
Macam-macam Pajak Daerah :
 Pemerintah Propinsi
* Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air
* Pajak Bea Balik Kendaraan Bermotor & Kendaraan di Atas Air
* Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan
* Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor

 Pemerintah Kabupaten/Kota
* Pajak Hotel
* Pajak Restoran
* Pajak Hiburan
* Pajak Reklame
* Pajak Penerangan Jalan
* Pajak Galian Gol C
* Pajak Parkir
Jenis Pajak Daerah

NO JENIS PAJAK U R A I A N
1. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Pajak atas kepemilikan dan/atau
penguasaan kendaraan bermotor
2. Bea Balik nama Kendaraan Pajak atas penyerahan hak milik
Bermotor (BBNKB) kendaraan bermotor
3. Pajak Bahan Bakar (PBB) Pajak atas bahan bakar kendaraan
yang digunakan untuk kendaraan
bermotor
4. Pajak Air Permukaan Pajak atas pengambilan dan
pemanfaatan air permukaan untuk
digunakan bagi pribadi atau badan,
kecuali untuk keperluan dasar rumah
tangga dan pertanian rakyat
5. Pajak Hotel Pajak atas pelayanan hotel

6. Pajak Restoran Jumlah pembayaran yang dilakukan


kepada restoran
Jenis Pajak Daerah, lanjutan….

NO JENIS PAJAK U R A I A N
7. Pajak Penerangan Jalan Pajak atas penggunaan tenaga listrik dengan
ketentuan bahwa di daerah tersebut tersedia
penerangan jalan, yang rekeningnya dibayar
oleh pemda
8. Pajak Hiburan Pajak atas penyelenggaraan hiburan

9. Pajak Reklame Pajak atas penyelenggaraan reklame

10. Pajak Bahan Galian Bukan Pajak atas kegiatan pengambilan bahan galian
Strategis dan Bukan Vital
11. Pajak Parkir Pajak yang dikenakan atas penyelenggaraan
tempat parkir di luar badan jalan
12. Pajak Pengambilan Air Bawah
Tanah
13. Pajak Sarang Burung Walet

14. Pajak Lingkungan


Tarif
NO JENIS PAJAK TARIF MAKSIMUM (%)
1. Pajak Kendaraan Bermotor
-Bukan umum 1,5
-Umum 1
-Alat-alat berat dan besar 0,5
2. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
a. BBNKB penyerahan pertama
- Bukan umum 10
- Umum 10
- Alat-alat berat dan besar 3
b. BBNKB penyerahan kedua, dst
- Bukan umum 1
- Umum 1
- Alat-alat berat dan besar 0,3
a. BBNKB penyerahan warisan
- Bukan umum 0,1
- Umum 1
- Alat-alat berat dan besar 0,003
Tarif, lanjutan….
NO JENIS PAJAK TARIF MAKSIMUM (%)
3. Pajak bahan bakar kendaraan bermotor 10

4. Pajak Pengambilan air bawah tanah 20

5. Pajak pengambilan air permukaan 10

6. Pajak hotel 10

7. Pajak restoran 10

8. Pajak hiburan 35

9. Pajak reklame 25

10. Pajak penerangan jalan 10

11. Pajak pengambilan bahan galian 20

12. Pajak parkir 20

13. Pajak sarang burung walet

14. Pajak lingkungan


Tabel : Dasar Pengenaan Pajak Daerah

NO JENIS PAJAK DASAR PENGENAAN


1. PKB -Nilai jual kendaraan bermotor
-Bobot yang mencerminkan secara relatif kadar
kerusakan jalan dan pencemaran lingungan akibat
penggunaan kendaraan bermotor
2. PBBNKB Nilai jual kendaraan bermotor

3. PBB-KB Nilai jual bahan bakar kendaraan bermotor

4. PP dan PABTP Nilai perolehan air

5. Pajak Hotel Jumlah pembayaran yang dilakukan kepada hotel

6. Pajak Restoran Jumlah pembayaran yang dilakukan kepada restoran


Dasar Pengenaan Pajak Daerah, lanjutan…..

NO JENIS PAJAK DASAR PENGENAAN


7. Pajak hiburan Jumlah pembayaran atau yang
seharusnya dibayar untuk menonton
dan/atau menikmati hiburan
8. Pajak Reklame Nilai sewa reklame

9. Pajak Penerangan Jalan Nilai jual tenaga listrik

10 Pajak Pengambilan Bahan Nilai jual hasil pengambilan bahan galian


Galian
11. Pajak Parkir Jumlah pembayaran atau yang
seharusnya di bayar untuk pemakaian
tempat parkir
CARA PERHITUNGAN PAJAK

PAJAK TERUTANG

ADALAH

TARIF PAJAK X DPP


PERATURAN DAERAH
tentang
PAJAK DAERAH

Mengatur

Setiap jenis pajak daerah harus ditetapkan


dengan peraturan daerah.
Isi

• nama, objek, dan subjek pajak;


• dasar pengenaan,tarif & cara penghitungan pajak;
• wilayah pemungutan;
• masa pajak;
• penetapan pajak;
• tata cara pembayaran & penagihan pajak
• kadaluarsa penagihan pajak;
• sanksi administrasi, dan
• tanggal mulai berlakunya pajak.
SISTEM PEMUNGUTAN PAJAK DAERAH

Terdiri

1. Dibayar sendiri oleh wajib pajak. Sistem ini merupakan perwujudan


dari sistem self assessment, yaitu sistem pengenaan pajak yang
memberi kepercayaan kepada wajib pajak untuk menghitung,
memperhitungkan, membayar & melaporkan sendiri pajak yang
terutang dengan menggunakan SPTPD.
2. Ditetapkan oleh kepala daerah. Sistem ini merupakan perwujudan
dari sistem official assessment, yaitu sistem pengenaan pajak yang
dibayar oleh wajib pajak setelah terlebih dahulu ditetapkan oleh
kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk melalui Surat Ketetapan
Pajak Daerah atau dokumen lain yang dipersamakan.
3. Dipungut oleh pemungut pajak. Sistem ini merupakan perwujudan
dari sistem with holding, yaitu sistem pengenaan pajak yang
dipungut oleh pemungut pajak pada sumbernya, antara lain PLN
yang telah ditetapkan berdasarkan PP No. 65 Thn 2001 tentang
Pajak Daerah, sebagai pemungut Pajak Penerangan Jalan atas
penggunaan tenaga listrik yang disediakan oleh PLN.
TEMPAT PEMBAYARAN/
PENYETORAN PAJAK

BANK ATAU TEMPAT LAIN KAS DAERAH


YANG DITUNJUK OLEH
KEPALA DAERAH
PELAKSANA PENAGIHAN PAJAK DAERAH

Penagihan Pajak Daerah

PROVINSI Kota/Kabupaten
Gubernur Walikota/Bupati
Pejabat untuk penagihan – Dispenda-
Berwenang

1. mengangkat dan memberhentikan Jurusita Pajak.


2. menerbitkan :

a. Surat Teguran, Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis


b. Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus;
c. Surat Paksa;
d. Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan;
e. Surat Perintah Penyanderaan;
f. Surat Pencabutan Sita;
g. Pengumuman Lelang;
h. Surat Penentuan Harga Limit;
i. Pembatalan Lelang; dan
j. surat lain yang diperlukan untuk pelaksanaan penagihan pajak.
TERIMA KASIH