Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH STUDI KASUS

KOMPETENSI FISIOTERAPI MUSKULOSKELETAL

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA OSTEOARTHRITIS LUTUT


BILATERAL

OLEH :

SETIAWATI PINEM
P27226018431

PROGRAM PROFESI
JURUSAN FISIOTERAPI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES
SURAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH

 Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit degenerasi yang menyerang sinovial


sendi, menyebabkan kerusakan kartilago hyalin, tumbuhnya tulang baru pada tepi
permukaan sendi dan kekakuan sendi, kebanyakan mengenai orang tua
 Dari data epidemiologik, ternyata OA menduduki urutan pertama dari golongan
rematik sebagai penyebab kecacatan
 Nyeri merupakan keluhan utama yang sering dirasakan oleh pasien OA dan nyeri
merupakan alasan utama orang untuk mencari pelayanan kesehatan.
 Nyeri akan menyebabkan penderita mengurangi aktivitasnya sehingga lama-
kelamaan akan timbul kekakuan sendi, pengurangan massa otot (atropi), dan
penurunan kekuatan otot terutama otot kuadrisep dan hamstring yang merupakan
penggerak utama sendi lutut
 Fisioterapi dapat membantu penderita OA untuk mengurangi nyeri yang
dirasakan sehingga penderita dapat beraktivitas kembali secara normal.
 MWD adalah salah satu modalitas fisioterapi yang dapat bermanfaat dalam
mengurangi nyeri. MWD cocok untuk jaringan superficial dan struktur artikuler
yang dekat dengan permukaan kulit, misalnya pada permukaan anterior
pergelangan tangan dan lutut.
 Selain MWD, TENS juga merupakan salah satu modalitas yang dapat digunakan
untuk merangsang sistem saraf melalui permukaan kulit dan terbukti efektif
untuk mengurangi berbagai tipe nyeri.
 Sedangkan latihan penguatan dan penguluran tanpa menumpu berat badan
dapat menyebabkan kontraksi atau gaya menyebar pada otot, mencegah
kerusakan sendi lebih lanjut, dan mengurangi nyeri.
B. RUMUSAN MASALAH

Apakah MWD, TENS dan terapi latihan isotonik penguatan otot kuadrisep efektif
untuk meningkatkan kemampuan fungsional pada penderita Osteoarthritis lutut?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anantomi, fisiologi, dan biomekanik sendi lutut

 Lutut terdiri dari 3 persendian yaitu :


1. Artikulasio tibiofemoralis
2. Artikulasio patellofemoralis
3. Artikulasio tibiofibularis
 Sendi lutut ditutupi oleh kapsul sendi yang berfungsi sebagai pertahanan penting
terhadap kerusakan sendi.
 Masing-masing permukaan sendi dilapisi oleh fibrokartilago berbentuk seperti
bulan yang disebut dengan meniskus.
 Meniskus berfungsi sebagai bantalan sendi (shock absorber), menyebarkan
pembebanan, dan mengurangi gesekan antar kartilago
Ada 5 ligamen yang memperkuat sendi lutut yaitu :
1. Ligamen kolateral medial, ligamen ini berfungsi mencegah tibia ke arah abduksi
(mencegah valgus stress)
2. Ligamen kolateral lateral, berfungsi mencegah tibia ke arah adduksi (mencegah
varus stress)
3. Ligamen krusiatum anterior, berfungsi melindungi gerakan tibia ke depan dari
tibial plateau dan membantu mengontrol rotasi
4. Ligamen krusiatum posterior, berfungsi mencegah pergeseran ke depan dari
femur pada kondilus tibia dan menjaga stabilisasi rotasi, ligamen krusiatum
anterior dan posterior letaknya di dalam kapsul sendi sehingga disebut ligamen
intrakapsuler
5. Ligamen patella, membentuk pada sisi tengah tendon kuadrisep, ligamen ini
panjangnya mulai dari patella sampai dengan tuberositas tibia
 Gerakan yang terjadi pada sendi lutut adalah gerakan esktensi dan fleksi yang
bergerak pada bidang sagital dengan aksis gerakan terletak di atas permukaan
sendi yaitu melewati kondilus femoris, dengan lingkup gerak sendi S 100 – 00 –
1450.
 Gerakan ekstensi lutut ini dilakukan oleh kelompok otot kuadrisep (yang terdiri
dari rektus femoris, vastus medialis, vastus lateralis, vastus intermedius), tendon
kuadrisep, dan patella.
 Gerakan fleksi dilakukan oleh kelompok otot hamstring (yang terdiri dari
semimembranosus, semitendinosus, dan bisep femoris) yang berperan sebagai
antagonis kelompok otot kuadrisep
B. PATOLOGI

Beberapa faktor resiko untuk terjadinya OA antara lain :


1. Usia
2. Jenis kelamin
3. Suku bangsa
4. Genetik
5. Kegemukan dan penyakit metabolik
6. Cedera sendi, pekerjaan, dan olahraga
7. Faktor lain seperti tingginya kepadatan tulang
 Perubahan patologi
OA dapat terjadi oleh karena dua hal :
1. Biomaterial kartilago sendi dan tulang subkhondral normal, tetapi karena beban
sendi yang terlalu besar menyebabkan jaringan akan rusak
2. Beban sendi normal tetapi material kartilago atau tulang kurang baik (Brandt,
2014).
 Gambaran klinis :
1. Subklinis, pada tingkatan ini belum ada keluhan atau tanda kilnis lainnya,
kelainan baru terbatas pada tingkat sekunder dan biokimiawi rawan sendi
2. Osteoartritis manifest, pada tingkatan itu biasanya penderita datang ke dokter,
kerusakan rawan sendi bertambah luas disertai reaksi peradangan, tanda dan
gejala yang muncul adalah nyeri setelah bergerak beberapa saat, kaku sendi
saat memulai gerakan
3. Osteoartritis dekompensasi, pada tingkatan ini rawan sendi telah rusak sama
sekali biasanya diperlukan tindakan bedah, tanda dan gejala yang muncul
adalah saat istirahat terasa nyeri, kontraktur serta deformitas sendi
 Diagnosis medis OA
Menurut Altman ( 1991 ), kriteria OA lutut dibagi berdasarkan :
1. Nyeri lutut beberapa hari sampai beberapa bulan,
2. Krepitasi,
3. Kekakuan sendi di pagi hari kurang dari 30 menit,
4. Umur lebih dari 38 tahun,
5. Pembesaran tulang,
6. Laboratorik cairan sinovial dengan 2 atau 3 temuan jernih viscous, leukosit PNM lebih
dari 2000/mm kubik,
7. Radiologik osteofit.
Dikatakan OA apabila memenuhi kriteria 1, 7 atau 1, 2, 3, 6. Kriteria ini mempunyai
sensitifitas 91% dan spesifitas 86% (Altman, 1991, dikutip oleh Darmojo, 2000).
Sedangkan menurut American Rheumatism Association kriteria OA adalah adanya
nyeri lutut dan diikuti dengan sedikitnya 3 dari 6 kriteria lain yaitu:
1. Usia di atas 50 tahun,
2. Kaku sendi pagi hari kurang lebih 30 menit,
3. Krepitasi,
4. Nyeri tekan pada tulang,
5. Pembesaran tulang,
6. Tidak teraba hangat pada sendi atau daerah di sekitar sendi.
Kriteria ini mempunyai sensitivitas 95% dan spesifitas 69%
PROBLEMATIK FISIOTERAPI
1. Impairment yaitu adanya nyeri lutut baik berupa nyeri tekan maupun nyeri gerak
sehingga menimbulkan keterbatasan gerak fleksi/ekstensi lutut, serta
penurunan kekuatan otot karena kurangnya aktivitas gerak,
2. Functional limitation yaitu aktivitas jongkok, duduk ke berdiri, berjalan, dan naik
turun tangga akan mengalami gangguan karena adanya nyeri,
3. Participation restriction yaitu penderita tidak dapat beraktivitas di lingkungannya
baik di lingkungan sekitar maupun lingkungan kerja.
TEKNOLOGI INTERVENSI FISIOTERAPI
1. MWD
 Micro Wave Diathermy (EEM 2450 Mhz) merupakan suatu pengobatan dengan menggunakan stressor fisis
berupa energi elektromagnetik yang dihasilkan oleh arus listrik bolak-balik frekuensi 2450 MHz dengan
panjang gelombang 12,25 km.
o Indikasi
a. Kelainan-kelainan patah tulang, sendi dan otot misalnya rheumatoid artritis, post traumatik, low back
pain.
b. Kelainan-kelainan pada syaraf perifer seperti neuropati dan neuralgia.
o Kontra indikasi
a. Logam dalam tubuh
b. Alat elektronis misalnya: jam tangan, alat audiovisual yang sedang dipakai.
c. Gangguan peredaran darah
d. Memakai nilon dan bahan lain yang tidak menyerap keringat
e. Jaringan dan organ yang mempunyai banyak cairan, misalnya: pada mata atau luka basah, eksim
basah yang dapat menimbulkan kebakaran di jaringan
f. Gangguan sensabilitas
g. Infeksi akut dan demam dapat memperluas infeksi bakteri melalui aliran darah.
h. Setelah menjalani terapi rontgen
i. Menstruasi dan Kehamilan
j
2. TENS
 Dalam hubungannya untuk menghilangkan nyeri, TENS mempunyai
beberapa mekanisme yaitu :
1.Mekanisme perifer, Stimulasi listrik yang diaplikasikan pada serabut saraf akan
menghasilkan impuls saraf yang berjalan dengan dua arah di sepanjang akson
saraf yang bersangkutan, peristiwa ini dikenal sebagai aktivasi antidromik
2.Mekanisme segmental, Prinsip penting dari teori ini adalah bahwa diameter
besar A beta aferen membangkitkan interneuron pada kornu dorsalis medulla
spinalis, menghasilkan inhibisi neuron nosiseptif dari diameter kecil serabut A
delta dan C
3.Mekanisme ektrasegmental, TENS yang menginduksi aktivitas aferen yang
berdiameter kecil juga menghasilkan analgesik tingkat ekstrasegmental melalui
aktivitas struktur yang membentuk jalan inhibisi desenden seperti periaquductal
grey (PAG), nucleus raphe magnus dan nucleus raphe gigantocellularis
3. Terapi Latihan
 Latihan yang digunakan adalah latihan isotonik, altihan isotonik adalah latihan
dengan gerakan-gerakan konsentrik eksentrik dengan beban konstan tapi
kecepatan sudut tidak terkontrol.
 Latihan isotonik dapat dilakukan dengan menggunakan beban bebas (barbel atau
kantong pasir), dengan menggunakan peralatan seperti sistem hidrolik, atau
menggunakan mesin seperti Cybex
 Keuntungan latihan penguatan isotonik adalah:
1. Latihan dapat dilakukan pada semua LGS,
2. Program latihan mudah diatur dan dipantau,
3. Latihan mendekati aktivitas fungsional,
4. Meningkatkan daya tahan otot
BAB III
STATUS KLINIS
Tanggal pembuatan SK : 10 Desember 2018
I. IDENTITAS PENDERITA

Nama : Ellisdar
Umur : 60 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Pensiunan Guru
Alamat : Geuce Komplek
No CM : 171553
II. SEGI FISIOTERAPI

1. Deskripsi Pasien dan Keluhan Utama


Pasien mengeluh nyeri kedua sendi lutut ± 5 tahun yang lalu. Nyeri lutut awalnya sebelah
kiri, ± 1 tahun kemudian, nyeri lutut sebelah kanan. Sebelumnya pasien berobat ke
puskesmas, karena nyeri tidak berkurang, akhirnya pasien dirujuk ke Rumah Sakit Ibu dan
Anak. Nyeri terutama untuk aktivitas duduk ke berdiri, jalan naik turun tangga, dan shalat
(saat duduk tahiyat).

2) Data Medis Pasien


Nyeri lutut kanan kiri
Tightness gastroc bilateral
OA knee bilateral
Riwayat penggunaan obat : Amlodipin, Condesartan, Glukosamin, Oscal
Rontgen tanggal 5 Juli 2018 : celah sendi genu dextra sinistra menyempit, osteofit pada
condylus, tidak tampak fraktur/dislokasi. Kesan : OA Genu D/S
III. PEMERIKSAAN FISIOTERAPI

1. Pemeriksaan Tanda Vital (Umum)


Tekanan darah : 160/90 mmHg
Nadi : 68 x/menit
Pernapasan : 24 x/menit
Tinggi Badan : 151,5 cm
Berat Badan : 68 kg
2. Inspeksi / Observasi
Statis :
o Tidak tampak oedema pada kedua lutut
o Otot Quadriceps kiri tampak atropi
o Tampak adanya deformitas genu varus
Dinamis :
o Pasien nampak menahan rasa sakit saat bangun dari posisi duduk ke berdiri
o Saat jalan, cara berjalan agak lambat karena menahan nyeri
3. Palpasi
o Tidak adanya peningkatan suhu daerah lutut
o Nyeri tekan pada kedua lutut daerah lateral dan medial
o Adanya spasme otot Quadriceps dan Hamstring kiri dan kanan
o Krepitasi pada lutut sebelah kiri

4. Joint Test
o Lutut kanan : aktif 0 – 0 – 115, pasif 0 – 0 – 125
o Lutut kiri : aktif 0 – 0 – 110, pasif 0 – 0 – 120
o Pemeriksaan Nyeri : VAS nyeri diam 0, nyeri gerak 6
o Tes laci sorong (-), Ballotement (-)

Pemeriksaan Gerak Dasar (Gerak Aktif/pasif/isometrik fisiologis)


Gerak aktif, pasif, isometrik melawan tahanan pada gerakan fleksi dan ekstensi lutut
kanan – kiri tidak full ROM karena nyeri
5. Muscle Test dan Antopometri
MMT sendi lutut kanan : fleksor nilai 5, ekstensor nilai 5 (nyeri)
MMT sendi lutut kiri : fleksor nilai 4, ekstensor nilai 4 (nyeri)
Antopometri :

Tungkai atas Tungkai

kanan atas kiri

10 cm dari 43 cm 40 cm

sendi lutut

15 cm dari 44,5 cm 44 cm

sendi lutut

15 cm dari 48 cm 48 cm

hip
6. Kemampuan fungsional dengan Skala Jette

Kriteria Nyeri Kesulitan Ketergantungan


Berdiri dari 3 4 2
posisi duduk
Berjalan 15 2 2 1
meter
Naik turun 3 4 2
tangga
KODE DAN KETERANGAN PEMERIKSAAN ICF
 Body Function
b 7158 Stability of Joint Functions, Other Specified
 Activities and Participation
d 469 Walking and Moving, Other Specified and Unspecified
 Environmental Factors
e 325 Acquaintances, peers, colleagues, neighbours, and community members
 Body Structure
s 75011 Knee Joint
DIAGNOSA FISIOTERAPI
1. Impairment
o Nyeri pada kedua lutut terutama untuk duduk ke berdiri, berjalan, sholat, dan naik
turun tangga
o Penurunan kekuatan otot fleksor dan ekstensor lutut kiri karena nyeri
o Penurunan LGS sendi lutut kiri dan kanan
o Atropi otot Quadriceps kiri
o Spasme otot Quadriceps dan Hamstring kanan kiri
2. Functional Limitation
o Adanya gangguan pada saat berjalan dan naik turun tangga karena nyeri
o Adanya gangguan pada saat duduk ke berdiri karena nyeri
o Aktivitas sholat terganggu
o Toileting terganggu pada saat jongkok
3. Disability / Participation Restriction
Gangguan dalam melakukan aktivitas sosial seperti ikut pengajian karena pasien tidak
bias duduk di lantai
PROGRAM FISIOTERAPI

 Tujuan Jangka Panjang


Mengembalikan aktivitas fungsional berjalan dan berdiri dari posisi duduk
 Tujuan Jangka Pendek
o Mengurangi nyeri
o Meningkatkan kekuatan otot fleksor dan esktensor lutut kiri
o Mengurangi spasme otot Quadriceps dan Hamstring kanan dan kiri
o Meningkatkan LGS lutut
 Teknologi Intervensi Fisioterapi
MWD
TENS
Latihan penguatan otot
RENCANA EVALUASI
 Nyeri dengan VAS
 Kekuatan otot dengan MMT
 Antopometri dengan midline
 LGS dengan Goneometer
 Spasme otot dengan palpasi
 Kemampuan Fungsional dengan Skala Jette

PROGNOSIS
 Qua ad vitam : baik
 Qua ad sanam : ragu – ragu
 Qua ad fungsionam : ragu – ragu
 Qua ad cosmeticam : buruk
HASIL TERAPI AKHIR
Setelah dilakukan terapi selama 6 kali (2 kali seminggu), nyeri gerak berkurang dari 6
ke 4 skala VAS, lingkar otot paha kiri terjadi peningkatan 1 cm, kekuatan otot
Quadriceps kiri meningkat sedikit (dari 4 ke 4+), LGS sendi lutut kanan dan kiri
terjadi peningkatan baik pasif maupun aktif yaitu yang kanan aktif 0º – 0º – 120º,
pasif 0º – 0º - 125º, lutut kiri aktif 0º – 0º - 115º, pasif 0º – 0º - 120º. Aktivitas
fungsional terjadi peningkatan sedikit, skala Jette berdiri dari posisi duduk untuk
nyeri dari nilai 8 menjadi 7, ketergantungan nilainya tetap, dan kesulitan dari nilai 10
menjadi 7.
Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai