Anda di halaman 1dari 49

Mata Kuliah: Bisnis & Regulasi

TIK

K
PROGRAM PASCA SARJANA S2-TEKNIK, SEMESTER GANJIL 2015/2016
MINGGU ke !! :
PENGERTIAN TENTANG BISNIS DAN REGULASI TELEKOMUNIKASI
TELECOMMUNICATION REGULATORY FRAMEWORK
NATIONAL TELECOMMUNICATION AUTHORITY
DOSEN :DR. (HC) KOESMARIHATI

BANDUNG, SEPTEMBER 2015


Pendahuluan
• Pertumbuhan telekomunikasi (internet + wireless) saat
ini sangat pesat dan diikuti oleh perkembangan aplikasi
pendukungnya misalnya untuk sosial media.
• Perkembangan ICT khususnya di negara-negara
berkembang tidak terlalu dipengaruhi oleh krisis
ekonomi yang terjadi.
• Perkembangan ICT meliputi issue emerging seperti
VOIP, IPTV dan sosial media mengharuskan dibuatnya
regulasi yang bisa mengatur layanan konvergensi yang
merupakan gabungan dari informasi dan komunikasi.
Grafik Pertumbuhan ICT
Perkembangan TIK Global (2000-2014)

http://www.itu.int/en/ITU-D/Statistics/Pages/stat/default.aspx
Perkembangan telekomunikasi /ICT
• Sebagaimana terjadi secara
global, telekomunikasi telah
Lingkungan berkembang dari lingkungan
Lingkungan
Kompetisi monopoli menjadi
Monopoli kompetisi.

Dibutuhkan suatu regime regulasi yang efektif yang dapat mendukung lingkungan
sehingga industri telekomunikasi/ICT dapat cepat berkembang, menawarkan
beragam layanan, meningkatkan kualitas dengan harga tejangkau dan menjadi enabler
pertumbuhan tidak hanya terhadap sector itu sendiri tetapi ekonomi negara secara
keseluruhan.
TUJUAN REGULASI

Regulation not end in itself

Why regulate?

- Avoid market failure


- Ensure consumer interests are protected
- Safeguards to create effective competition
- Prevent anti-competitive practices

End Goal

Sumber : ictregulation toolkits

Effective Competition Increase ICT Access and


Protect Consumers
KEBUTUHAN AKAN REGULASI

Source : ITU Regulatory handbook 2011


DAMPAK PERTUMBUHAN TELEKOMUNIKASI

Sumber :
Hasil studi Bank Dunia
berdasarkan analisa
econometric pertumbuhan
telepon tetap, Seluler,
Internet dan Broadband
dari 120 negara antara
tahun 1980 sd 2006 (Qiang
2007)

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh World Bank berdasarkan analisa econometric
pertumbuhan telepon tetap, seluler, internet, dan broadband dari 120 negara antara
tahun 1980 sampai dengan tahun 2006, untuk negara-negara berkembang, setiap
peningkatan penetrasi broadband sebesar 10% maka akan terjadi peningkatan
pertumbuhan ekonomi sebesar 1,38%. Peningkatan ini lebih tinggi bila dibandingkan
dengan yang dialami oleh negara maju (1,21%) serta lebih baik bila dibandingkan
dengan pertumbuhan layanan telekomunikasi lainnya (tetap, bergerak maupun internet).
ICT sebagai Penggerak Sosial - Ekonomi
 ICT menawarkan transformasi global untuk meningkatkan
produktivitas, kompetisi di berbagai bidang baik sosial
maupun ekonomi.
 Sekjen ITU (2009) : Akses broadband ke jaringan internet
menjadi sarana yang vital bagi pekembangan bidang
kehidupan, sebagaimana transport, air dan listrik
 Presiden World Bank : ICT adalah kunci penggerak
produktivitas dan pencetus kesempatan kerja.
 Tiga hal utama sebagai efek positif adanya ICT adalah :
 Lapangan kerja
 Pertumbuhan ekonomi
 Peningkatkan produktivitas
PERAN TIK
In 2009, ITU Secretary-General Dr Hamadoun I. Touré stated:
[I]n the 21st century, affordable broadband access to the Internet is becoming as vital to social
and economic development as networks like transport, water and power. Broadband access –
and the next generation broadband network infrastructure which underpins it – is a key enabler
for economic and social growth... Broadband changes everything. It enables not just great new
enabling applications, such as VoIP and IPTV, but also the delivery of essential services – from e-
health to e-education to e- commerce to e-government. And broadband is helping us make
great progress towards meeting the Millennium Development Goals – and improving the
quality of life for countless people around the world.

World Bank President Robert B. Zoellick in a speech to the African Union Summit in 2010:
ICT is a key enabler of productivity and creator of jobs. It can help farmers, small
businesses, and those excluded from traditional banking services. It can extend and
speed up government services. In Ghana, the introduction of IT systems and
Business Re- engineering resulted in a drop in average customs clearance time from
2-3 weeks to 1-2 days and a 50% increase in revenue. In Kenya, ICT slashed the
number of days it took to register a vehicle from 30 to 1.
PERKEMBANGAN KOMPETISI
Kompetisi adalah cara terbaik dan effisien untuk pengembangan industri, peningkatan penetrasi,
beragam layanan dan tarif yang terjangkau. Terdapat tingkat perbedaan dalam perkenalan
kompetisi dari berbagai layanan dan dampaknya terhadap pengembangan sektor tersebut , Kita
bedakan jenis layanan :
 Layanan tetap lokal

 Layanan sambungan jarak jauh Domestik (SLJJ)

 Layanan Sambungan Langsung Internasional

 Layanan Jaringan Bergerak Seluler (Handphone)

 Layanan Internet

 Sewa Jaringan ( Leased Line)


PERKEMBANGAN KOMPETISI

Persaingan di Telepon Bergerak Seluler dan Layanan internet layanan


sudah sangat umum - 90 persen dari negara-negara memiliki kompetisi
baik sebagian atau penuh dalam sektor seluler dan 93 persen di internet
sektor jasa
Menurut data ITU, pada akhir tahun 2009, lebih dari 65 persen dari
negara-negara di seluruh dunia memiliki kompetisi penuh atau parsial
dalam layanan dasar (lokal, SLJJ dan SLI).
Namun di Afrika dan negara Arab masih lebih dari 40% dari negara
tersebut masih menerapkan monopoli untuk untuk Layanan Jaringan
Tetap Lokal dan SLJJ sedangkan di Eropah dan negara Commonwealth
lebih dari 80% sudah memiliki kompetisi penuh atau partial
WTO Reference Paper

• Indonesia sebagai “SIGNATORY” telah menyetujui dan


committed untuk melaksanakan ketentuan:
• WTO Agreement on Basic Telecommunications-
February 1998
• Hal ini menunjukkan bahwa mau atau tidak mau
Indonesia harus merencanakan untuk membuka pasar
telekomunikasi
WTO REFERENCE PAPER (1)
• Lingkup : definisi, dan prinsip framework pengaturan untuk
jasa telekomunikasi
• Definisi :
Major Supplier atau Penyelenggara Dominan :
Penyelenggara yang mempunyai kemampuan secara nyata
mempengaruhi persyaratan untuk perpartisipasi pada
pasar jasa telekomunikas dasar , dikarenakan :
(a) pengendalian terhadap “essensial facilities”- sarana
utama
(b) kedudukannya dipasar
WTO REFERENCE PAPER (2)
• Definisi (lanjutan) :
Essential facilities atau Sarana Utama
Adalah sarana telekomunikasi umum jaringan
maupun jasa yang :
(a) secara eksklusif atau pada umumnya
disediakan oleh sebuah atau secara terbatas
jumlah penyelenggara dan
(b) secara ekonomis maupun teknis tidak layak
dilaksanakan oleh penyelenggara lain.
WTO REFERENCE PAPER (3)

1. Pengamanan dalam berkompetisi


2. Interkoneksi ( lihat lanjutan)
3. Pengaturan USO-diatur secara transparan, tanpa
diskriminasi, dan tidak memberatkan melebihi kelayakan
oleh penyelengara,
4. Kriteria pemberian lisensi yang terbuka untuk publik
5. Badan Regulasi yang tidak memihak salah satu pelaku
pasar
6. Alokasi dan pengunaan sumber daya yang langka
NATIONAL REGULATORY
AUTHORITY- OTORITAS
REGULASI NASIONAL
Pilihan Kelembagaan (2)

Design Option Kelembagaan :

Single Sector Regulator


“Converged” Regulator
Multi-Sector Regulator
General Competition Authority
Pilihan Kelembagaan (1)
Menurut hasil survai ITU yang dipublikasikan dalam GENERAL
TRENDS IN TELECOMMUNICATIONS REFORM, secara garis
besar terdapat empat model kelembagaan badan regulasi :
1) sebagai bagian dalam departemen atau kementerian yang membawahi
telematika (contoh: Jepang );
2) sebagai lembaga negara yang mandiri dan terpisah dari eksekutif
(pemerintahan) meskipun pimpinannya diangkat oleh pemerintah
(contoh: USA, Belanda);
3) sebagai lembaga pemerintah non-organik yang sehari-harinya
mempunyai kemandirian meskipun pimpinannya diangkat oleh dan
bertanggung jawab pada menteri yang menbawahi telekomunikasi
(contoh: Australia, Hongkong, Malaysia, Jerman dan beberapa negara
Uni Eropa);
4) tanpa lembaga regulasi dan undang-undang tentang telekomunikasi,
(New Zealand)
Pilihan kelembagaan (3)
Model 3) merupakan kerangka yang paling sesuai
untuk dikembangkan lebih lanjut :
 telah ada contohnya di Indonesia, seperti Komisi Persaingan Usaha,
Komisi Perlindungan Konsumen
 memberi keluwesan dalam merekrut tenaga-tenaga professional
 memberikan numerasi yang setara kepada para profesional
 memberikan imunitas terhadap kepentingan tekanan dan
perubahan politik,
 bisa mandiri dalam pendanaan
 lebih transparan dalam membuat regulasi untuk kepentingan
konsumen
Badan Regulasi ini harus secara jelas diuraikan dalam Undang
Undang
Sumber : PRINCIPLE OF TELECOMMUNICATIONS REGULATION
KEWENANGAN BADAN REGULASI

Sumber : Telco Regulation Handbook 2011


NUMBER OF REGULATORS
WORLDWIDE, 2009
Jumlah negara dengan Regulator terpisah -2009

Dari 153 negara yang mempunyai


Badan Regulasi yang terpisah,
125 adalah Independe
(autonomous)
Dimensi Efektivitas Badan Regulasi

Sumber : Telco Regulation Handbook


Lanjutan :
Independensi Struktural
struktural yang independen terhadap pelaku pasar. Dan
dibeberapa negara independen terhadap pelaku kebijakan, namun
melakukan kebijakan yang telah ditetapkan. Dengan demikian
ketetapan yang dibuat objektif dan tidak memihak

Independensi Finansial
Sumber dana dan proses wewenang penganggaran memiliki
dampak penting bagi efisiensi dan biaya regulasi. Anggaran regulator
bisa berasal dari pemerintah ataupendapatan melalui biaya lisensi,
denda, dan biaya administrasi lainnya. Dana harus bebas dari
pengaruh kepentingan politik dan pribadi.

Fungsionalitas
Fungsi dan tanggung jawab Regulasi yang jelas, mempunyai
kewenangan membuat keputusan yang tepat, penegakan hukum
dan sengketa. Menjamin konsistensi, ketepatan waktu, dan
bertanggung jawab. Menjamin transparansi dan partisipasi publik
dalam proses pengawasan.
Prinsip Badan Regulasi yang Efektif
• Regulator harus dipercaya oleh pelaku usaha, harus
transparan dan akuntabel.
• Regulator harus memiliki cukup tenaga ahli dalam
menganalisa masalah dan memberikan ketetapan ,
• Regulator harus mendengarkan perkembangan yang
ada pada masyarakat, termasuk ekonomi, sosial dan
politik
• Regulator harus dapat merespon keadaan dan
perubahan pasar
Kementerian,Regulator, dan
Operator
FUNGSI INSTITUSI YANG

BERWENANG
KEBIJAKAN Pemerintah,
Menteri yang
berwenang
REGULASI Badan Regulasi
yang terpisah
PENYELENGGARAAN Penyelenggara/
JARINGAN/ JASA Operator
telekomunikasi

Sumber: Telco Regulation Handbook 2011


Sumber : POTR
Pembagian Tanggung Jawab antara KEMENTERIAN dan
Otoritas Regulasi

Principle of Telecom
Regulation
Industri Forum

• Industri forum adalah forum para pelaku


industri ( penyelenggara, manufaktur), sebagai
pendamping otoritas regulasi nasional dalam
menyusun regulasi, standar maupun kode etik
antar penyelenggara. Hal ini ditujukan untuk
menciptakan regime industry self regulation
Usulan Organisasi Kelembagaan KOMINFO

KEMENTERIAN
KOMUNIKASI
Kebijakan
DAN
INDUSTRI INFORMASI OTORITAS
FORUM REGULASI
Regulasi
NASIONAL

Penyelenggaraan
OPERATOR
STATUS KELEMBAGAAN
REGULASI DI INDONESIA
Kompetisi Penyelenggaraan Telekomunikasi

Restrukturisasi Industri Penyempurnaan


Sektor Telekomunikasi Cetak Biru

Terminasi Pengawas
Mekanisme Dukungan Penguatan
dini hak an
Kompetisi regulasi Regulator
ekslusifitas Kompetisi

• Percepatan pembangunan telekomunikasi


• Peningkatan layanan masyarakat
• Peningkatan kualitas layanan
• Kompetisi yang sehat
• Efisiensi industri
Kelembagaan Badan Regulasi TIK
di Indonesia saat ini
BRTI- Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia
UU no 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi

KPI-Komisi Penyiaran Indonesia


UU no 32 tahun 2003 tentang Penyiaran

KIP- Komisi Informasi PubliK


UU no 14 tahun 2008 tentang keterbukaan
Informasi Publik
Otoritas Regulasi Nasional
• Dapat menjadi bab khusus dalam UU
Konvergensi ( Afrika Selatan )
• Ada UU khusus mengenai Otoritas Regulasi
Nasional ( Malaysia, Australia)
• Dibentuk dengan Peraturan Presiden

Untuk praktisnya sekaligus masuk dalam Revisi UU


Konvergensi, yang nyatanya masih Revisi UU
Telekomunikasi dan UU Penyiaran.
Muatan Bab Otoritas Regulasi Nasional

• Organisasi
• Tugas, Fungsi dan Kewenangan
• Keanggotaan
– Jumlah anggota
– Persyaratan
– Cara pemilihan
• Sumber pendanaan
• Hubungan dengan organisasi lain
Restrukturisasi Industri Telekomunikasi (1)

• Pemisahan peran Pemerintah , Regulator dan


Operator
• Terminasi hak eksklusifitas dari TELKOM dan INDOSAT
• Menjadikan TELKOM dan INDOSAT , penyelenggara
jaringan dan jasa tetap lengkap (FNSP- SLI,SLJJ,Lokal) –
Duopoly
• Menghilangkan kepemilikan silang
Restrukturisasi Industri Telekomunikasi (2)
• Perkuatan peran regulator
• SDM yang berkompetensi
• Berdirinya BRTI, menjamin transparansi, independensi
dan rasa keadilan,
• Melalui proses pertimbangan yang memperhatikan
masukan berupa pendapat dan pemikiran yang
berkembang dalam masyarakat.
• Melaksanakan compliance monitoring:
• RECON (Regulators Compliance Monitoring System)
• AFMS (Automated Frequency Management System) &
RMS (Radio Monitoring System)
BADAN REGULASI
TELEKOMUNIKASI INDONESIA (1)

I. DASAR HUKUM
– Undang-Undang No. 36/1999
– Keputusan Menteri No 31 tahun 2003 tentang Pembentukan BRTI (Badan Regulasi
Telekomunikasi Indonesia) yang telah dirubah menjadi Keputusan Menteri No. 31 tahun
2009.

II. TUJUAN
– Untuk lebih menjamin:
• transparansi
• independensi dan
• prinsip keadilan
Dalam fungsi pengaturan, pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan jaringan
telekomunikasi dan penyelenggaran jasa telekomunikasi.
– Untuk meningkatkan kinerja pelayanan dalam penyelenggaraan jaringan telekomunikasi
dan penyelenggaraan jasa telekomunikasi
STRUKTUR ORGANISASI
BRTI terdiri dari:
A. Direktorat Jenderal PPI, Direktorat Jenderal SDPPI, dan Komite Regulasi
Telekomunikasi
B. Komite Regulasi Telekomunikasi, terdiri dari 9 orang Anggota dengan
komposisi:
1. 1 (satu) orang Ketua merangkap Anggota yakni Direktur Jenderal PPI ,
2. Direktur Jenderal SDPPI sebagai Anggota
3. 1(satu) tambahan wakil Pemerintah sebagai Anggota
4. 6 (empat) orang tenaga ahli dari masyarakat, sedikit-dikitnya terdiri dari :
1) Bidang Telekomunikasi & IT
2) Bidang Hukum
3) Bidang Ekonomi dan
4) Bidang Sosial lainnya.
5) Bidang Public Policy
 Keenam orang (ahli) Anggota Komite dipilih melalui seleksi yang ketat oleh Tim Seleksi independen.
 Masa kerja Anggota Komite selain Ketua Komite adalah selama 3 tahun dan dapat
diangkat kembali untuk 1 kali masa kerja.

 BRTI dalam melaksanakan tugasnya BEBAS dari pengaruh kekuasaan dan atau
kepentingan pihak lain (bersifat independen).
Pengambilan Keputusan
KM 31/2003 dirubah dengan KM33 dan KM39 /2008 dan
KM 31/2009
Kesepakatan Komite
 Melalui proses pertimbangan yang memperhatikan
masukan berupa pendapat dan pemikiran yang
Harus berkembang dalam masyarakat.

 Menjamin transparansi, independensi dan memenuhi


rasa keadilan.

 Dilaksanakan secara kolegial diantara Anggota


Komite, masing-masing Anggota Komite memiliki
hak suara yang sama dalam pengambilan setiap
Keputusan yang dihasilkan oleh BRTI.
Keputusan
 Apabila tidak tercapai kesepakatan musyawarah
BRTI
mufakat, keputusan diambil dengan suara terbanyak
melalui pemungutan suara (voting).

 Dihasilkan dalam bentuk Keputusan Menteri atau


Keputusan Dirjen.
Dampak Regulasi terhadap
pertumbuhan telekomunikasi
Starting of
Interconnect
180.000.000 Rezim
160.000.000
Start of
140.000.000
Duopoly in
120.000.000 Fixed line

100.000.000
FWA
80.000.000 FWA is
allowed Cellular
60.000.000 PSTN
IPO
40.000.000 TELKOM
20.000.000

Telecom Law 3GSMA


No. 3/89 Telecom Law
License BRTI 3G Auction
Private JOS Implementation No. 36/1999
s established SLJJ Access
Participation Full
issued IPO Code
Competition
INDOSAT Implementation

43
Masa Transisi
• Sebagai konsekwensi UU konvergensi, hanya ada
satu Otoritas Regulasi Nasional, pembentukan
Otoritas Regulasi Komunikasi dan Informasi
Nasional, tidak ada lagi BRTI dan KPI
• Dalam tahapan berikutnya sebagian besar staff
Direktorat Jenderal Kominfo yang mengelola
regulasi menjadi bagian dari Otoritas regulasi
yang terpisah dari Penentu Kebijakan
Fixed and Mobile Telephony

Fixed and Mobile Telephone Subscriber


250,000,000

200,000,000

Cellular
150,000,000
Subscriber

100,000,000

Fixed Wireless Access


50,000,000
PSTN

-
2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 (Q-2)
Cellular 30,336,607 46,992,118 63,803,015 93,386,881 140,578,243 163,676,961 178,778,531
Fix Wireless Access 1,673,081 4,683,363 6,014,031 10,811,635 21,703,843 26,385,654 27,319,069
PSTN 8,703,218 8,824,467 8,806,702 8,717,872 8,674,228 8,423,973 8,429,180
Internet Internet Subscribers
18,000,000 NAP 200

16,000,000
ISP 180

160
14,000,000
140
Internet Subscriber

12,000,000
120
10,000,000 Mobile Internet
100
8,000,000 Fix Internet
80
6,000,000
60
4,000,000
40

2,000,000 20

- 0
2004 2005 2006 2007 2008 2009
Internet Service Provider 28 48 84 114 165 178
Network Access Provider 2 10 17 22 36 39
Mobile Internet Subscriber 656,578 1,110,945 1,429,121 3,137,634 5,538,262 14,059,137
Fix Internet Subscriber 689,746 742,049 884,320 1,594,385 1,745,235 1,937,942
Materi Pokok Regulasi (1/2)

Jaringan

• Jenis licensing akan horizontal Jasa


Perizinan • Perizinan yg transparan
• Modern licensing Konten

IP
• IP Interconnect Interconnect
Interkoneksi • Masa transisi, diperlukan 2 regime
TDMA
Interconnect
• ITU E
Penomoran • ENUM – ITU-T 164
• Number Portability
Ditjen PPI Study Group
Materi Pokok Regulasi (2/2)
• Diserahkan ke pasar
Pentarifan • Regulator tetap bisa mengintervensi

Quality of • Network performance


Service • Non-network performance

Infrastructure • Penggunaan infrastruktur secara bersama


Sharing • Efiensi nasional

• Model bisnis
Open Access • Standar layanan
• Arsitektur layer, bagian mana yang di share,
serta batasan-batasannya
Daftar Referensi
• Telecom Regulation Handbook, InfoDev, 2000
• Telecom Regulation
Handbook,InfoDevITU,2011
• www.ictregulationtoolkit.org
• WTO Reference paper
• POTR – Principle of Telecommunication
Regulation
• www.itu.int/en/ITU-D/statistic