Anda di halaman 1dari 31

ANALISIS INDUSTRI DAN

ANALISIS PERUSAHAAN
Amanda Viandari (165030201111108)
Yunita Savitri (165030201111106)
Ainun Oktaviani Putri (165030201111067)
Baryatul Misbah (165030200111031)
ANALISIS INDUSTRI
Pengertian Industri

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian mengatakan bahwa


industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku,
barang setengah jadi, dan atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih
tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan
perekayasaan industri.

Analisis Industri merupakan salah satu bagian dalam analisis fundamental.


Dalam analisis industri, investor mencoba membandingkan kinerja dari
berbagai industri untuk mengetahui jenis industry apa saja yang
memberikan prospek paling menjanjikan ataupun sebaliknya.
Sistem klasifikasi industri yang telah dikenal dan digunakan secara luas adalah sistem Standard
Industrial Classification (SIC) yang didasarkan pada data sensus dan pengklasifikasian perusahaan
berdasarkan produk

Standar yang dipakai untuk mengkelompokkan industri bagi perusahaan-perusahaan yang


terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah Jakarta Stock Exchange Sectoral Industry
Classfification (JASICA).

Klasifikasi JASICA ini terdiri dari 9 divisi, dan masing-masing divisi tersebut dibagi lagi menjadi
kelompok industri utama dan diberi kode dua digit
Pentingnya Analisis Industri

Analisis industri merupakan tahap penting yang perlu dilakukan investor baik untuk
meminimalkan risiko maupun untuk mengidentifikasi industri yang mempunyai prospek yang
menguntungkan.

Analisis industri perlu diikuti analisis perusahaan agar investor dapat menentukan saham
perusahaan mana saja dalam suatu kelompok industri yang mempunyai kombinasi return-
risiko yang terbaik.

Dapat disimpulkan bahwa analisis industri penting dilakukan untuk meminimalkan risiko ataupun
mengidentifikasi industri yang mempunyai prospek yang menguntungkan. Selanjutnya analisis
industri juga perlu diikuti oleh analisis perusahaan, sehingga investor dapat menentukan saham
- saham dari perusahaan mana saja dalam suatu kelompok industri yang mempunyai kombinasi
return-risiko yang terbaik
Beberapa penelitian yang terkait dengan analisis industri
menghasilkan kesimpulan:

01 Industri yang berbeda mempunyai tingkat return yang berbeda pula.

02 Tingkat return masing-masing industri berbeda di setiap tahunnya.

Tingkat return perusahaan-perusahaan di suatu industri yang sama,


03 terlihat cukup beragam.

04 Tingkat risiko berbagai industri juga beragam.

05 Tingkat risiko suatu industri relatif stabil sepanjang waktu.


Estimasi Earning Per-Share Industri

Menurut Indriyo Gitosudarmo dan Basri (2002: 7) me-maksimalkan kekayaan


pemegang saham dapat diukur dari pendapatan per lembar saham (Earning per Share
/ EPS) sehingga dalam hal ini EPS akan mempengaruhi kepercayaan investor pada
perusahaan.

Ada tiga teknik yang dapat digunakan untuk mengestimasikan tingkat penjualan melalui
EPS di suatu industri, yaitu:
• Daur hidup industri (industry life cycle).
• Analisis input-output.
• Hubungan antara industri dengan ekonomi
secara keseluruhan.
Daur Hidup industri (Industri Life Cycle)
Tahap perkembangan industri umumnya dibagi menjadi lima yaitu:

Tahap permulaan (introduction).

Tahap pertumbuhan (growth).

Tahap kedewasaan (mature).

Tahap stabil.

Tahap penurunan.
Tahap permulaan (introduction).
2. Pada tahap ini,
pertumbuhan penjualan
sangat kecil dan profit
yang dihasilkan
kemungkinan akan
menunjukkan angka
1. Tahap permulaan negatif karena
merupakan masa-masa perusahaan harus
awal perkembangan mengeluarkan dana
sebuah industri. yang cukup besar untuk
menutupi biaya promosi
dan pengembangan
produk di awal-awal
pertumbuhan industri.
Tahap Pertumbuhan (growth). Tahap kedewasaan (mature).
• Pada tahap ini, pertumbuhan
Pada tahap pertumbuhan, penjualan
tumbuh sangat cepat.. penjualan mulai menurun, karena
banyaknya pesaing yang mulai
masuk dan permintaan yang sudah
Permintaan semakin relatif stabil.
meningkat sedangkan
persaingan belum begitu • Oleh karena itu, profit pada tahap
ketat sehingga profit pada mature akan mengalami pertumbuhan
tahap pertumbuhan akan yang mulai menurun dan menuju
tumbuh tinggi. tingkat keuntungan yang normal.

Pertumbuhan industri pada • Pertumbuhan industri pada tahap


tahap ini akan cenderung ini sedikit lebih besar dari
lebih besar dari pertumbuhan pertumbuhan ekonomi secara
ekonomi secara keseluruhan. keseluruhan.
Tahap stabil. Tahap penurunan.
• Tahap stabil mungkin merupakan tahap  Tahap stabil mungkin merupakan
yang paling panjang dalam daur hidup tahap yang paling panjang dalam daur
industri. hidup industri.
• Pertumbuhan industri akan cenderung  Pertumbuhan industri akan
sama dengan pertumbuhan ekonomi secara cenderung sama dengan pertumbuhan
keseluruhan atau segmen ekonomi di mana ekonomi secara keseluruhan atau
industri tersebut berada. segmen ekonomi di mana industri
tersebut berada.
• Meskipun penjualan terkait erat dengan
kondisi ekonomi, tetapi besarnya  Meskipun penjualan terkait erat
pertumbuhan penjualan masing-masing dengan kondisi ekonomi, tetapi besarnya
perusahaan secara individual dalam suatu pertumbuhan penjualan masing-masing
industri akan berbeda-beda satu dengan perusahaan secara individual dalam
yang lain, tergantung dari kemampuan suatu industri akan berbeda-beda satu
manajerial dari masing-masing perusahaan. dengan yang lain, tergantung dari
kemampuan manajerial dari
masing-masing perusahaan.
Analisis Input-Output

Analisis input-output adalah suatu cara alternatif untuk mengetahui gambaran prospek penjualan
suatu industri di masa yang akan datang dengan cara mengidentifikasi pemasok (supplier) dan
konsumen dari suatu industri. Dengan melakukan analisis tersebut, kita dapat mengestimasi permi
ntaan konsumen di masa datang, serta kemampuan pemasok untuk menyediakan barang dan
jasa yang diperlukan dalam suatu industri. Informasi tersebut nantinya dapat digunakan untuk
memperkirakan tingkat penjualan dan keuntungan suatu industri di masa depan.
Hubungan Industri dan Ekonomi

Teknik analisis ini membandingkan tingkat penjualan industri dengan kondisi


perekonomian secara keseluruhan yang berhubungan dengan barang dan
jasa yang diproduksi oleh industri tersebut.

Teknik ini didasari oleh asumsi bahwa kondisi perekonomian di mana suatu
industri beroperasi akan terkait dengan penjualan dan keuntungan suatu
industri.
Persaingan dan Return Industri yang di Harapkan
Faktor penting lain yang mempengaruhi besarnya profit yang bisa diperoleh suatu industri adalah
intensitas persaingan dalam industri tersebut. Intensitas persaingan dalam suatu industri akan
menentukan kemampuan industri untuk tetap memperoleh tingkat return di atas rata-rata.

Daya tawar Ancaman adanya


(bargaining barang atau jasa
power) pembeli, substitusi,

Persaingan Daya tawar


Ancaman adanya (bargaining power)
diantara pemain
pemain baru yang ada, pemasok.
Porter’s Five Forces ( 5 kekuatan menurut porter)
Analisis kompetitif dengan menggunakan model Lima Kekuatan Porter adalah pendekatan yang dipakai
untuk mengembangkan strategi dibanyak perusahaan. Persaingan itu, menurut Porter adalah sebagai
berikut :

Potensi masuknya Daya tawar


pesaing baru pemasok

Persaingan Potensi Daya tawar


antar perusahaan pengembangan konsumen
pesaing produk pengganti
Estimasi Earning Multiplier Suatu Industri

Teknik untuk melakukan estimasi earning multiplier industri ada dua:


▫ Analisis Makro : Investor mempelajari hubungan antara earning multiplier industri dengan earning multiplier
pasar.
▫ Analisis Mikro. : Estimasi earning multiplier industri dilakukan dengan cara mengamati variabel-variabel
yang mempengaruhi earning multiplier industri, seperti dividend-payout ratio (DPR),
tingkat return yang disyaratkan dalam industri (k), dan tingkat pertumbuhan earning dan
dividen industri yang diharapkan (g).

• Analisis makro mengasumsikan adanya hubungan antara perubahan dalam k dan g untuk industri tertentu dengan pasar
keseluruhan.

• Asumsi ini sama halnya dengan hubungan antara perubahan dalam P/E rasio industri dan P/E pasar secara keseluruhan.

• Hubungan antara industri dan pasar tidak sama untuk setiap industri, bahkan untuk industri tertentu hubungan tidak
signifikan.

• Oleh karena itu, sebelum menggunakan analisis makro untuk mengestimasi earning multiplier untuk industri, kita perlu
mengevaluasi terlebih dahulu kualitas hubungan antara rasio P/E industri yang akan dianalisis dengan P/E pasar.
Estimasi Earning Multiplier Suatu Industri

Estimasi earning multiplier industri dengan analisis mikro dilakukan dengan cara
mengestimasi tiga variabel yang menentukan earning multiplier industri (dividend-payout
ratio, tingkat return yang disyaratkan dan tingkat pertumbuhan earning dan dividen yang
diharapkan) dan membandingkan ketiga variabel tersebut dengan P/E pasar.

Dari hasil analisis tersebut, selanjutnya dapat diketahui apakah earning multiplier industri
akan berada di atas, di bawah, ataupun sama dengan earning multiplier pasar.
Analisis Perusahaan
Analisis perusahaan terkait dengan pertanyaan-pertanyaaan:

• Saham-saham perusahaan manakah dalam industri terpilih yang paling menguntungkan


bagi investor?
• Atau, saham-saham manakah yang undervalued, sehingga layak dibeli, dan saham - saham
manakah yang overvalued, sehingga menguntungkan untuk dijual?

Pengertian Analisis Sekuritas


Analisis Sekuritas adalah cara untuk mendeteksi sekuritas mana yang nampaknya mispriced.
Bisa dilakukan dengan analisis teknikal dan analisis fundamental. Analisis teknikal menggunakan data
(perubahan) harga pada masa lalu sebagai upaya untuk memperkirakan harga sekuritas di masa yang
akan datang. Analisis fundamental berupaya mengidentifikasi prospek perusahaan (lewat analisis
terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya) untuk dapat memperkirakan harga saham di masa
yang akan datang.
LAPORAN KEUANGAN
Pengertian Laporan Keuangan
Laporan Keuangan merupakan instrumen yang sangat penting bagi pemegang
saham dan investor untuk mengetahui kemajuan dan
pencapaian perusahaan dalam mengelola keuangannya selama periode tertentu.
Menurut Sutrisno (2012:9), laporan keuangan
adalah hasil akhir dari proses akuntansi yang meliputi dua laporan utama yakni
neraca dan laporan laba-rugi.

Tujuan laporan keuangan menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.
1 (2015:3) adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan
dan arus kas entitas yangbermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan
dalam pembuatan keputusan ekonomi.
Laporan
Neraca Arus Kas
(Balance
Laporan
Sheet)
Perubahan
Laporan Modal
Laba Rugi

Jenis Laporan
Keuangan
ANALISIS RASIO KEUANGAN
1. Rasio Likuiditas 2. Rasio Leverage

Current Ratio : Current Assets Debt to Total Assets atau Debt Rasio : Total Liabilities
Current Liabilities Total Assets

Quick Ratio : (Current Assets - Inventories) Debt to Equity Ratio : Total Liabilities
Current Liabilities Total Shareholders’ Equity

Net Working Capital Ratio : Current Assets - Current Liabilities Times Interest Earned : EBIT
beban Bunga

3. Rasio Aktivitas

Inventory Turnover : Cost of Good Sold


Average Inventory

Perputaran aktiva tetap : Penjualan


Aset tetap Neto

Total Asset Turnover : Sales


Total asset
4. Rasio Profitabilitas
Return on Asset (ROA)
Return on Equity (ROE)
EBIT
Laba bersih setelah bunga dan pajak ROA 
ROE  Jumlah aset
Jumlah modal sendiri

Perhitungan ROE & ROA

Contoh:
Data laba bersih, EBIT, ekuitas, dan total
aset PT Semen Gresik pada akhir Tahun
2006 dan 2007 seperti disajikan pada tabel
berikut ini. Berapakah ROE dan ROA peru
sahaan Tersebut untuk Tahun 2006 dan
2007?
Jawab:
ROE dan ROA PT Semen Gresik untuk Tahun 2006 dan 2007 adalah

Laba bersih setelah bunga dan pajak


ROE =
Jumlah modal sendiri
1.295,52
ROE 2006   0,2356
5.499,61
ROE 2007  0,2679

EBIT
ROA 
Jumlah aset

1.779,38
ROA 2006   0,2374
7.496,42
ROA 2007  0,2815
5. Rasio Nilai Pasar
Earning per Share atau Laba per Saham
Laba per Saham atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Earning per Share yang disingkat dengan EPS
adalah bagian dari laba perusahaan yang dialokasikan ke setiap saham yang beredar. Laba per saham
adalah ukuran profitabilitas yang sangat berguna dan apabila dibandingkan dengan Laba per Saham pada
perusahaan sejenisnya, Laba per Saham ini akan memberikan suatu gambaran yang sangat jelas
tentang kekuatan profitabilitas antara perusahaan yang bersangkutan dengan perusahaan pembandingnya.

Laba bersih setelah bunga dan pajak


EPS 
Jumlah saham beredar

Kita juga bisa menghitung EPS perusahaan dengan menggunakan rumus berikut ini:

Jumlah modal sendiri


EPS  ROE X
Jumlah saham beredar
Laba bersih setelah bungadan pajak Jumlah modal sendiri
EPS  X
Jumlah modal sendiri Jumlah saham beredar
Perhitungan EPS
Contoh:
Berdasarkan data PT Semen Gresik tahun 2006 dan 2007 sebelumnya, jika jumlah saham
yang beredar di Tahun 2006 dan 2007 sama sebanyak 5,93 miliar, maka EPS dapat
dihitung dengan:

Laba bersih setelah bunga dan pajak


EPS 
Jumlah saham beredar

EPS2006 = Rp1.295,52 / 5,93 EPS PT Semen Gresik tersebut juga dapat dihitung dengan:
= Rp218

EPS2006 = (Rp1.295,52 / Rp5.499,61) x (Rp5.499,61 / 5,93)


EPS2007 = 1.775,41 / 5,93 = Rp218
= Rp299
EPS2007 = (Rp1.775,41 / Rp6.627,26) x (Rp6.627,26 / 5,93)
= Rp299
Price Earning Ratio (PER)
Price to Earning Ratio atau biasanya disingkat dengan singkatan PER (P/E Ratio) adalah rasio
harga pasar per saham terhadap laba bersih per saham. Rasio Price to Earning ini adalah rasio
valuasi harga per saham perusahaan saat ini dibandingkan dengan laba bersih per sahamnya.

Rumus :
Keterangan:
D1/E1 D1/E1 = tingkat dividend payout ratio yang diharapkan
EPS  k = tingkat return yang disyaratkan
k-g g = tingkat pertumbuhan dividen yang diharapkan

EPS dan PER

Dua komponen (earning per share, EPS dan price earning ratio, P/E) diutamakan dalam analisis
perusahaan karena tiga alasan:

1.Kedua komponen tersebut bisa dipakai untuk mengestimasi nilai intrinsik saham.
2.Dividen yang dibayarkan perusahaan pada dasarnya dibayarkan dari earning.
3.Adanya hubungan antara perubahan earning dengan perubahan harga saham.
KOMPONEN PER

1. Dividend payout ratio (DPR) merupakan perbandingan antara dividen yang dibayarkan
perusahaan terhadap earning yang diperoleh perusahaan.
2. Tingkat return yang disyaratkan (k) diperoleh dengan menjumlahkan tingkat return bebas
risiko (risk-free rate) dan premi risiko yang disyaratkan investor.
k = RF + RP = tingkat return bebas risiko + premi risiko
3. Tingkat pertumbuhan dividen yang diharapkan (g), merupakan fungsi dari besarnya ROE
dan tingkat laba ditahan perusahaaan (retention rate).
g = ROE X tingkat laba ditahan = Laba bersih setelah bunga dan pajak
X (1- DPR)
Jumlah modal sendiri
Estimasi Nilai Intrinsik Saham
• Estimasi nilai intrinsik saham dalam analisis perusahaan bisa dilakukan dengan memanfaatkan dua
komponen informasi penting dalam analisis perusahaan, yaitu EPS dan PER (earning multiplier).

• Secara matematis, hubungan tersebut tergambar sebagai berikut:


P0 = Estimasi EPS X PER
= E1 X PER

• Jika nilai intrinsik saham sudah berhasil diestimasi, langkah selanjutnya adalah membandingkan nilai
intrinsik saham dengan harga pasarnya.
Analisis Perusahaan Menggunakan Ringkasan
Laporan Keuangan

Informasi secara lengkap laporan keuangan perusahaan diperoleh pada laporan tahunan yang
dipublikasikan perusahaan. Sumber-sumber lain umumnya menyajikan laporan keuangan
perusahaan dengan format ringkasan, misalnya Indonesian Capital Market Directory (ICMD)
yang dikeluarkan oleh Institute for Economics and Financial Research (ECFIN).

Contoh: Pada tahun 2002, PT Kedaung Indah Can Tbk mempunyai total aktiva sebesar
Rp203 milyar dan total kewajiban sebesar Rp76 milyar. Berapakah ekuitas pemegang
sahamnya? Jawab: Mengikuti identitas akuntansi, ekuitas pemegang saham Kedaung
Indah Can adalah Rp203 milyar – Rp76 milyar = Rp127 milyar.
DATA PER LEMBAR SAHAM DAN RASIO KINERJA

• Earning per Share (EPS) = Laba setelah pajak / Lembar saham beredar atau
EPS = ROE x BVPS
• Book Value per Share (BVPS) = Ekuitas pemegang saham / Lembar sahan beredar
• Dividend per Share (DPS) = Dividen / Lembar saham beredar
• Price Earning Ratio (PER atau P/E) = Harga saham / EPS
• Price to Book Value (PBV atau P/B) = Harga saham / BVPS
• Dividend Payout = DPS / EPS
• Dividend Yield = DPS / Harga saham
• Net Profit Margin = Laba setelah pajak / Pendapatan.
• Return on Investment/ Return on Asset (ROI atau ROA) = Laba setelah pajak / Total aktiva.
• Return on Equity (ROE) = Laba setelah pajak / Ekuitas pemegang saham.
Thank you