Anda di halaman 1dari 43

Anatomi dan Fisiologi

Kulit dan Jaringan


Penunjang

Andrias Hermansyah Amd, Kep


Klasifikasi Kulit, Antara Lain :
Kulitterdiri atas dua lapisan, lapisan
dermis luar (epidermis) dan lapisan
dermis dalam (dermis).
Luas kulit pada orang dewasa 1,5 m2
dengan berat kira-kira 15% berat badan.
Normalnya sel pada lapisan ini akan terus
mengalami regenerasi setiap 2 ½ bulan.
Epidermis tidak disuplai pembuluh darah
secara langsung, makanan dan oksigen
melalui difusi dari jaring pembuluh darah
di lapisan dermis.

Epidermis
Terdiri atas
beberapa lapis
sel-sel gepeng
yang mati, tidak
berinti, dan
protoplasmana
telah berubah
menjadi keratin
(zat tanduk).
Lapisan sel-sel
gepeng tanpa inti
dengan protoplasma
yang berubah
menjadi protein
yang disebut eleidin.
Lapisan tersebut
tampak lebih jelas di
telapak tangan dan
kaki.
Terdiri 2 atau 3 lapis
sel-sel gepeng
dengan sitoplasma
berbutir kasar dan
terdapat inti di
antaranya. Butir-
butir kasar ini
terdiri atas
keratohialin.
sel yang berbentuk
poligonal, Proto
plasmanya jernih
karena banyak
mengandung
glikogen dan inti
terletak di tengah-
tengah. Diantara sel
spinosum terdapat
pula sel Langerhans.
•sel berbentuk
kubus (kolumnar)
•selalu aktif
mengadakan
pembelahan diri
Lapisan epidermis mengandung empat
jenis sel yang berbeda
1. Melanosit
2. keratinosit
3. sel Langerhans dan
4. sel Granstein
ditambah sel limfosit T transien yang
tersebar di lapisan epidermis dan dermis.
Melanosit
Memproduksi pigmen
melanin dibantu oleh enzim
tyrosinase.
Berfungsi melindungi kulit
dari sinar ultraviolet
matahari.
Keratinosit
•Memproduksi keratin.
•Ketika sel ini mati, keratin yang
dihasilkan melapisi kulit terluar.
•Sel ini juga dapat membentuk kuku dan
rambut.
Sel langerhans berasal dari sumsum
tulang, berperan sebagai antigen
presenting cells kepada sel limfosit T
Helper, rentan rusak akibat terpajan
radiasi UV matahari.
Sel granstein sebagai rem bagi respon
pertahanan tubuh di kulit.

Sel pertahanan tubuh lainnnya


yang berada di kulit
Dermis : lapisan jaringan ikat
yang mengandung banyak
serabut elastin yang lentur dan
serabut kolagen yang kuat serta
banyak pembuluh darah dan
ujung saraf.
1. Pars papillare,
berisi ujung
serabut saraf
dan pembuluh
darah.
2. Pars retikulare ,
terdiri atas
serabut
penunjang
seperti kolagen
elastin dan
retikulin.
Kelenjar keringat
Kelenjar sebasea
Kelenjar eksokrin
kulit dan folikel
rambut
Kelenjar keringat tersebar di
sebagian besar permukaan tubuh
mengeluarkan larutan garam
Kelenjar sebasea menghasilkan sebum,
membantu rambut kedap air dan
mencegah rambut kering dan retak
Hipodermis/sub kutan :
Berisi jaringan ikat longgar dan
jaringan adiposa
1. Proteksi
2. Sensori
3. Absorbsi
4. Ekskresi
5. Thermoregulasi
6. Metabolisme
7. Komunikasi sosial

FUNGSI
KULIT
Sintesis vitamin D oleh kulit
Epidermis juga dapat mensintesis
vitamin D dengan bantuan sinar
matahari.
Jenis sel yang memproduksi vitamin D
belum diketahui.
Terkait dengan hormon, ginjal, kalsium
Asal Panas Pada Tubuh
Manusia
Tubuh manusia merupakan organ yang mampu menghasilkan
panas secara mandiri dan tidak tergantung pada suhu
lingkungan.  mahluk berdarah panas

Suhu tubuh dihasilkan dari :


1. Laju metabolisme basal (basal metabolisme rate, BMR)
2. Laju cadangan metabolisme yang disebabkan aktivitas otot
(termasuk kontraksi otot akibat menggigil).
3. Metabolisme tambahan akibat pengaruh hormon tiroksin dan
sebagian kecil hormon lain, misalnya hormon pertumbuhan
(growth hormone dan testosteron).
4. Metabolisme tambahan akibat pengaruh epineprine,
norepineprine, dan rangsangan simpatis pada sel.
5. Metabolisme tambahan akibat peningkatan aktivitas kimiawi di
dalam sel itu sendiri terutama bila temperatur menurun.
Sistem Pengaturan Suhu
Tubuh
 Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan fluktuasi suhu
tubuh
 Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti
konstan pada 37°C.
 Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu
tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan
mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini
terjadi bila suhu inti tubuh telah melewati batas
toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang
disebut titik tetap (set point).
 Tubuh manusia memiliki seperangkat sistem yang
memungkinkan tubuh menghasilkan, mendistribusikan,
dan mempertahankan suhu tubuh dalam keadaan
konstan.
Berdasarkan distribusi suhu di dalam
tubuh, dikenal suhu inti (core
temperatur), yaitu suhu yang terdapat
pada jaringan dalam, seperti kranial,
toraks, rongga abdomen, dan rongga
pelvis. Suhu ini biasanya dipertahankan
relatif konstan (sekitar 37°C).
Selain itu, ada suhu permukaan (surface
temperatur), yaitu suhu yang terdapat
pada kulit, jaringan sub kutan, dan lemak.
Suhu ini biasanya dapat berfluktuasi
sebesar 30°C sampai 40°C.
Sistem Pengaturan Suhu
Tubuh
 Lokasi pengukuran temperatur tubuh : ketiak
(aksila), sub lingual (dibawah lidah) atau rektal
(dubur)
 Temperatur dubur lebih tinggi 0,3 – 0,5 oC daripada
temperatur aksila
 Suhu rektal agak konstan bila dibandingkan
dengan suhu-suhu di daerah lain

 Temperatur rata-rata kulit : 0,07 T kepala + 0,14 Tlengan


+ 0,05 Ttangan + + 0,07 Tkaki + 0,13 Tbetis + 0,09 Tpaha
+ 0,35 Tbatangtubuh
 Temperatur tubuh rata-rata : Mean Body
Temperatur
= (0,69 x temp rektal) + (0,33 x temp kulit rata-
rata)
Sistem Pengaturan Suhu
Tubuh
Tabel Perbedaan derajat suhu normal
pada berbagai kelompok usia
Usia Suhu (oC)
3 bulan 37,5
6 bulan 37,7 • Hipotermi, bila suhu tubuh
1 tahun 37,7
kurang dari 36°C
• Normal, bila suhu tubuh
3 tahun 37,2 berkisar antara 36 - 37,5°C
5 tahun 37,0 • Febris / pireksia, bila suhu
7 tahun 36,8 tubuh antara 37,5 - 40°C
• Hipertermi, bila suhu tubuh
9 tahun 36,7
lebih dari 40°C
11 tahun 36,7 (Tamsuri Anas, 2007)
13 tahun 36,6
Dewasa 36,4
> 70 tahun 36,0
1. Kecepatan metabolisme basal
2. Rangsangan saraf simpatis
3. Hormon pertumbuhan
4. Hormon tiroid
5. Hormon kelamin
6. Demam ( peradangan )
7. Status gizi
8. Aktivitas
9. Gangguan organ
10. Lingkungan
Faktor Yang Mempengaruhi Suhu
Tubuh
Mekanisme Kehilangan Panas
Melalui Kulit
Panas dapat hilang dan masuk ke dalam tubuh
manusia dengan cara konveksi, konduksi, radiasi
dan evaporasi,

1. Radiasi
Radiasi adalah mekanisme kehilangan panas
tubuh dalam bentuk gelombang panas
inframerah. Gelombang inframerah yang
dipancarkan dari tubuh memiliki panjang
gelombang 5 – 20 mikrometer. Tubuh manusia
memancarkan gelombang panas ke segala
penjuru tubuh. Radiasi merupakan mekanisme
kehilangan panas paling besar pada kulit (60%)
atau 15% seluruh mekanisme kehilangan panas.
2. Konduksi
 Proses perpindahan kalor secara konduksi bila
dilihat secara atomik merupakan pertukaran
energi kinetik antar molekul (atom), dimana
partikel yang energinya rendah dapat meningkat
dengan menumbuk partikel dengan energi yang
lebih tinggi.
 Konduksi terjadi melalui getaran dan gerakan
elektron bebas.
 Konduksi adalah perpindahan panas akibat
paparan langsung kulit dengan benda-benda yang
ada di sekitar tubuh.

Mekanisme Kehilangan Panas Melalui


Kulit
3. Konveksi
 Apabila seceret kopi diletakkan di atas kompor
listrik yang panas maka enegi dalam ceret akan
meningkat yang disebabkan oleh konveksi
 Apabila kalor berpindah dengan cara gerakan
partikel yang telah dipanaskan dikatakan
perpindahan kalor secara konveksi
 Aliran konveksi dapat terjadi dikarenakan massa
jenis udara panas sangat ringan dibandingkan
massa jenis udara dingin

Mekanisme Kehilangan Panas Melalui


Kulit
4. Evaporasi
 Evaporasi ( penguapan air dari kulit ) dapat
memfasilitasi perpindahan panas tubuh. Setiap satu
gram air yang mengalami evaporasi akan
menyebabkan kehilangan panas tubuh sebesar 0,58
kilokalori.
 Pada kondisi individu tidak berkeringat, mekanisme
evaporasi berlangsung sekitar 450 – 600 ml/hari. Hal
ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus
dengan kecepatan 12 – 16 kalori per jam.
 Evaporasi ini tidak dapat dikendalikan karena
evaporasi terjadi akibat difusi molekul air secara
terus menerus melalui kulit dan sistem pernafasan.

Mekanisme Kehilangan Panas Melalui


Kulit
Enegi panas mula-mula akan penetrasi
kedalam jaringan kulit dalam bentuk
berkas cahaya (dalam bentuk radiasi
atau konduksi) kemudian akan
menghilang didalam jaringan yang lebih
dalam berupa panas, panas tersebut
kemudian diangkut ke jaringan lain
dengan cara konveksi yaitu diangkut ke
jaringan seluruh tubuh melalui cairan
tubuh, dan energi panas akan
dikeluarkan melalui evaporasi (keringat)
Mekanisme Kehilangan Panas Melalui
Kulit
LUKA BAKAR KIMIA
TERIMA KASIH