Anda di halaman 1dari 38

TRAUMA

TUMPUL
ABDOMEN
DIBACAKAN OLEH :
A.A. CHRIS TEDY PERMANA
DEFINISI TRAUMA ABDOMEN

• Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan


terhadap struktur yang terletak diantara diafragma
dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul atau
yang menusuk (Ignativicus & Workman, 2006).
• Trauma tumpul abdomen paling sering
mengakibatkan cedera pada lien (40-45%),
kemudian diikuti cedera pada hepar(35-45%) dan
usus halus (5-10%). Sebagai tambahan 15%
mengalami hematoma retroperitoneal.
ANATOMI
LIEN, HEPAR, USUS HALUS
TRAUMA
KOMPRESI
• terjadi bila bagian depan dari
badan berhenti bergerak,
MEKANISME sedangkan bagian belakang dan
CEDERA bagian dalam tetap bergerak ke
depan. Organ-organ terjepit dari
belakang oleh bagian belakang
thorakoabdominal dan kolumna
vetebralis dan di depan oleh
struktur yang terjepit.
 TRAUMA SABUK PENGAMAN
(SEAT BELT)
Karena pemakaian sabuk pengaman
yang salah. Bila dipakai terlalu tinggi
(di atas SIAS) maka hepar, lien,
pankreas, usus halus, diodenum, dan
MEKANISME ginjal akan terjepit di antara sabuk
CEDERA pengaman dan tulang belakang, dan
timbul burst injury atau laserasi.
Hiperfleksi vetebra lumbalis akibat
sabuk yang terlalu tinggi
mengakibatkan fraktur kompresi
anterior dan vetebra lumbal.
CEDERA
AKSELERASI /
DESELERASI.
• Trauma deselerasi terjadi bila
MEKANISME bagian yang menstabilasi organ,
CEDERA seperti pedikel ginjal,
ligamentum teres berhenti
bergerak, sedangkan organ
yang distabilisasi tetap
bergerak.
ANAMNESIS

• fatalitas dari kejadian ?


• tipe kendaraan dan kecepatan ?
• apakah kendaraan terguling ?
• bagaimana kondisi penumpang lainnya ?
• lokasi pasien dalam kendaraan ?
• tingkat keparahan rusaknya kendaraan ?
• apakah korban menggunakan sabuk
pengaman? Tipe sabuk pengaman?
• apakah airbag di samping dan depan korban
berfungsi ketika kejadian?
• apakah ada riwayat pengunaan alkohol dan
obat-obatan sebelumnya?
PERIKSA TANDA-TANDA VITAL

• Initial resuscitation dan penatalaksanaan


pasien trauma berdasarkan pada protokol
Advanced Trauma Life Support. Penilaian awal
(Primary survey) mengikuti pola ABCDE, yaitu
Airway, Breathing, Circulation, Disability (status
neurologis), dan Exposure.
PEMERIKSAAN FISIK

Inspeksi
 Perut depan dan belakang, dan juga bagian
bawah dada dan perineum, harus diperiksa
apakah ada goresan, robekan, ekimosis, luka
tembus, benda asing yang tertancap, keluarnya
omentum atau usus halus, dan status hamil
pada pasien perempuan.
• Seat belt sign, dengan tanda konstitusi atau
abrasi pada abdomen bagian bawah, sangat
berhubungan dengan cedera intraperitoneal.
• Perhatikan adanya distensi abdominal, yang
biasanya berhubungan dengan
pneumoperitoneum, dilatasi gaster, atau ileus
sebagai akibat dari iritasi peritoneal
• Adanya kebiruan yang melibatkan region flank,
punggung bagian bawah (Grey Turner sign)
menandakan adanya perdarahan retroperitoneal
yang melibatkan pankreas, ginjal, atau fraktur pelvis.
• Kebiruan di sekitar umbilicus (Cullen sign)
menandakan adanya perdarahan peritoneal
biasanya selalu melibatkan perdarahan pankreas,
akan tetapi tanda-tanda ini biasanya baru didapati
setelah beberapa jam atau hari
• Fraktur costa yang melibatkan dada bagian
bawah, biasanya berhubungan dengan cedera
lien atau hepar.
Auskultasi
• Penurunan bising usus dapat berasal dari
adanya peritonitis kimiawi karena perdarahan
atau ruptur organ berongga.
• Adanya bising usus pada thorax menandakan
adanya cedera pada diafragma.
Perkusi
• dapat menunjukkan adanya peritonitis yang
masih meragukan
• dapat menunjukkan adanya bunyi timpani di
kuadran atas akibat dari dilatasi lambung akut
atau bunyi redup bila ada hemoperitoneum.
Palpasi
• Tujuan → Apakah didapati nyeri serta
menentukan lokasi nyeri tekan superficial, nyeri
tekan dalam, atau nyeri lepas tekan
• Nyeri lepas tekan biasanya menandakan
adanya peritonitis yang timbul akibat adanya
darah atau isi usus.
• Untuk menilai stabilitas pelvis, yaitu dengan
cara menekankan tangan pada tulang-tulang
iliaka untuk membangkitkan gerakan abnormal
atau nyeri tulang yang menandakan adanya
fraktur pelvis.
• Walaupun tidak ditemukan tanda dan gejala, adanya
perubahan sensoris atau cedera extraabdominal yang
disertai nyeri pada pasien trauma tumpul abdomen
harus lebih mengarahkan kepada cedera intrabdominal.

• Pada pasien sadar tanpa cedera luar yang terlihat,


gejala yang paling terlihat dari trauma tumpul abdomen
adalah nyeri dan peritoneal findings. Pada 90% kasus,
pasien dengan cedera visceral datang dengan nyeri
lokal atau nyeri general.
• cedera intrabdominal bisa didapati pada pasien
sadar dan tanpa nyeri.

• Hipotensi pada trauma tumpul abdomen sering


sebagai akibat dari perdarahan organ padat
abdomen atau cedera vasa abdominal
LIEN

• Merupakan organ yang paling sering terkena kerusakan yang


diakibatkan oleh trauma tumpul. Sering terjadi perdarahan masif yang
berasal dari lien yang ruptur sehingga semua upaya dilakukan untuk
memperbaiki kerusakan di lien

•Trauma limpa dibagi 3 :

1)
Cedera simpai
2)
Cedera parenkim
3)
Cedera hilus
•Diagnosis :

- anamnesis
- Tanda kekerasan di pinggang kiri / perut kiri atas
- Patah tulang iga kiri bawah
- Tanda umum perdarahan (hipotensi, takikardi, anemia)
- Tanda massa di perut kiri atas
- Tanda cairan bebas di dalam rongga perut
- Tanda Kehr
•Penatalaksanaan :
- Transfusi darah
- Splenorafi
- Splenektomi
HEPAR

• Karena ukuran dan letaknya, hati merupakan organ yang paling sering terkena
kerusakan yang diakibatkan oleh luka tembus dan sering kali kerusakan
disebabkan oleh trauma tumpul. Hal utama yang dilakukan apabila terjadi
perlukaan dihati yaitu mengontrol perdarahan dan mendrainase cairan empedu.

•Jenis kerusakan hepatobilier :


- Parenkim
- Pembuluh darah
- Sistem empedu (hemobilia)
ESOFAGUS DAN LAMBUNG

• Kadang-kadang perlukaan esofagus bawah


disebabkan oleh luka tembus. Karena lambung
fleksibel dan letaknya yang mudah berpindah,
sehingga perlukaan jarang disebabkan oleh
trauma tumpul tapi sering disebabkan oleh luka
tembus langsung.
USUS HALUS :

•Kerusakan dapat berupa robekan usus, perforasi, kontusio memar, terlepasnya


usus dari mesentrium, atau cedera mesentrium, hematom / udem pada
mesentrium, dan hematom dinding usus

•Gejala :

- Nyeri
- Defans muskular
- Ileus paralitik
- Leukositosis
- Udara bebas di bawah diafragma pada foto polos abdomen
 Lakukan pemeriksaan endoskopi diagnostik
 Tindak bedah segera bila tanda perdarahan / peritonitis
menjadi jelas
GINJAL :

 American Association for Surgery of Trauma membagi 5 grade :


• Grade I : kontusio ginjal ; terdapat perdarahan di ginjal tanpa adanya kerusakan jaringan,
kematian jaringan, maupun kerusakan kaliks. Hematuria dapat mikroskopik / makroskopik,
pencitraan normal.
• Grade II : hematom subkapsular / perineal yang tidak meluas, tanda kelainan parenkim
• Grade III : laserasi ginjal tidak melebihi 1 cm dan tidak mengenai pelviokaliks dan tidak
terjadi ekstravasasi
• Grade IV : laserasi lebih dari 1 cm dan tidak mengenai pelviokaliks / ekstravasasi urin.
Laserasi yang mengenai korteks, medula, dan pelviokaliks
• Grade V : cedera pembuluh darah utama, avulsi pembuluh darah yang mengakibatkan
gangguan perdarahan ginjal, laserasi luas pada beberapa tempat/ginjal yang terbelah
• Gambaran klinis :
- Jejas di daerah lumbal
- Riwayat trauma kostovertebra disertai nyeri dan jejas di daerah
kostovertebra
- Palpasi : nyeri tekan, ketegangan otot pinggang
- Hematuria makroskopik/mikroskopik merupakan tanda utama
cedera saluran kemih
• Diagnosis : pemeriksaan IVP
VESICA URINARIA :

• Gambaran Klinis :
- Umumnya fraktur tulang pelvis, anemia –
syok
- Nyeri tekan daerah suprapubik
- Penderita mengeluh tidak bisa BAK
- Kadang keluar darah dari uretra
PEMERIKSAAN LABORATORIUM

• Blood typing
• Hematocrit/Darah lengkap
Serial
• Urinalisis
PEMERIKSAAN PENUNJANG
KHUSUS
• Radiologi
• CT-scan
• USG dengan metode FAST (Focused
Abdominal Sonogram for Trauma)
• Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL)
• Laparatomi (Gold Standard)
ALGORITMA PROSEDUR PEMERIKSAAN
TRAUMA TUMPUL ABDOMEN
INDIKASI LAPARATOMI

Berdasarkan Evaluasi Klinik :


1. Trauma tumpul dengan hasil DPL dan
USG adanya internal bleeding
2. Trauma tumpul dengan hipotensi
terus menerus walaupun dilakukan
resusitasi adekuat
3. Adanya tanda-tanda peritonitis dini
atau lanjut
PENATALAKSANAAN

 Bed rest, puasa


 IVFD
 Antibiotik profilaksis
 Pasang NGT, DC
 Monitoring : KU, Tanda-tanda vital, lingkar abdomen, isi NGT, produksi
urine, Hb serial tiap 1 – 2 jam
 Bila dalam 2 x 24 jam keadaan baik (stabil) :
NGT di klem, dengan kelanjutan diet halus, dan mobilisasi
 Bila terdapat tensi turun, nadi meningkat, suhu meningkat, RR meningkat,
muntah kita harus memikirkan adanya perforasi atau peritonitis
 Bila ada tanda – tanda peritonitis, perforasi, internal bleeding maka harus
dilakukan laparotomi.
DAFTAR PUSTAKA

1.American College of Surgeon. 2004. Advanced Trauma Life Support. Terjemahan


IKABI (Ikatan Ahli Bedah Indonesia). First Impression :USA

2.Jong, Wim de. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2 . EGC : Jakarta
3.King, Maurice . 2002. Bedah Primer Trauma. EGC : Jakarta
4.Marijata. 2006. Pengantar Dasar Bedah Klinis. Unit Pelayanan Kampus fakultas
Kedokteran Universitas Gajah Mada : Yogyakarta
5.Richard A Hodin, MD. 2007. General Approach to Blunt Abdominal Trauma in
Adult. UpToDate
6.Sabiston, David C. 1994. Buku Ajar Bedah Bagian 1. EGC : Jakarta
7.Sandy Craig, MD. 2006. Abdominal Blunt Trauma. E-Medicine
TERIMA KASIH