Anda di halaman 1dari 22

MANAGEMENT & TREATMENT of

OSTEOARTHRITIS, OSTEOPOROSIS and


ANKLE TRAUMA
Yunanda, Hillary, Fawzia
OSTEOARTHRITIS (OA)
• Penyakit degeneratif pada sendi, paling prevalen →
lutut, panggul, tangan (distal interphalangeal joint)
• Tidak dapat disembuhkan → tujuan terapi :
mengatasi rasa nyeri, improvement of functional
status
• Secara umum, terapi OA dapat dibedakan menjadi :
1. Terapi nonmedika mentosa
2. Terapi medika mentosa
3. Surgical therapy
Terapi Nonmedika Mentosa
• Menurut ACR, lifestyle modification
merupakan intervensi paling vital dalam
tatalaksana OA
• Lifestyle modification dapat berupa :
1. Olahraga (olahraga akuatik, tai chi, land-
based exercise)
2. Penurunan berat badan
Terapi Medikamentosa
American College of Rheumatology
• OA pada tangan
1. Capsaicin topikal
2. NSAID topikal (termasuk trolamine salicylate)
3. NSAID oral
4. Tramadol
• OA pada lutut
1.Acetaminophen 4. Tramadol
2.NSAID oral 5. Injeksi intraartikuler
3.NSAID topikal
• OA pada panggul
1. Acetaminophen
2. NSAID oral
3. Tramadol
4. Injeksi kortikosteroid intraartikuler
Acetaminophen
• First line therapy for mild to moderate OA
• Mekanisme kerja yang pasti belum diketahui,
diduga bekerja dengan ↓ prostaglandin dan
meningkatkan threshold nyeri
• Memiliki efek antiinflamasi yang kecil
• Menurut ACR, acetaminophen digunakan lebih
dulu dibanding NSAID karena efek sampingnya
yang lebih sedikit
• Jika pasien unresponsive thd acetaminophen →
NSAID oral
NSAID oral
• Digunakan bila terapi dengan acetaminophen
tidak adekuat
• Mekanisme kerja mengahambat biosintesis
prostaglandin
• Contoh : aspirin, ibuprofen, meklofenamat
NSAID topikal
• Penggunaan NSAID oral memiliki beberapa
efek samping, utamanya berkaitan dengan
pembentukan ulkus dan toksisitas pada
saluran pencernaan
• Pada pasien dengan kontra indikasi terhadap
NSAID oral berikan NSAID topikal
• Contoh : diclofenac
Tramadol
• Analgesik golongan opioid
• Digunakan pada penderita OA dengan tingkat
nyeri moderate to severe
• Kurang dianjurkan karena efek sampingnya
Injeksi Intraartikuler
• Injeksi intraartikuler dapat berupa
kortikosteroid, sodium hyaluronat dan asam
hyaluronat
• Tujuan : meredakan nyeri dan memberikan
efek antiinflamasi
• Sebelum injeksi kortikosteroid lakukan aspirasi
pada cairan sinovial. Jika terdeteksi bakteri pd
cairan, kortikosteroid tdk boleh diberikan
Surgical Therapy
• Salah satu surgical therapy yang dapat
dilakukan adalah arthroplasty
• Mekanisme lapisan di permukaan sendi
dihilangkan lalu diganti dengan lapisan
prostetik dari logam atau plastik. Lapisan
prostetik dilekatkan dengan semen atau bone
ingrowth
• Consideration : infeksi pascaoperasi
AP radiograph shows knee replacement in
1 knee and arthritis in the other
AP radiograph obtained after knee
replacement
Anteroposterior radiograph of the pelvis and
hips shows an arthritic hip not treated surgically
and a total hip replacement.
Guideline American College of Rheumatology
(ACR) 2012
• Terapi dititikberatkan pada intervensi
nonmedika mentosa (lifestyle modification,
pengurangan berat badan, olahraga)
• Pasien > 75tahun, NSAID topikal lebih
dianjurkan dibanding NSAID oral
• Capsaicin topikal dianjurkan untuk OA pada
tangan, tp tidak untuk lutut dan panggul
• Suplemen glucosamine dan chondroitin tidak
dianjurkan
OSTEOPOROSIS
• Tujuan : mencegah kehilangan massa tulang
lebih lanjut, X fraktur, X nyeri
• Terapi didasarkan pada Bone Mineral Density
(BMD) dual x-ray absorptiometry (DXA)
• Penanganan osteoporosis dapat berupa terapi
farmakologi dan nonfarmakologi
• Terapi farmakologi dan nonfarmakologi harus
dilakukan secara berkesinambungan agar hasil
maksimal
WHO Criteria for Osteoporosis Based
on BMD
Terapi Farmakologi
Secara garis besar dapat digolongkan menjadi :
1. Pencegah berlanjutnya resorpsi tulang
2. Perangsang pembentukan tulang
3. Penghilang nyeri

Obat-obat tersebut antara lain :


Terapi sulih hormon, kalsitonin, bifosfonat, garam
florida, vitamin D dan derivatnya serta kalsium
Terapi Sulih Hormon
• Disebut juga hormone replacement therapy
(HRT)
• Gold standard dalam tatalaksana osteoporosis
• Pasien diberi supply hormon (estrogen dan/
progesteron) eksogen
• Dapat diberikan per oral (paling umum) atau
transdermal (plester reservoir, gel)
• Masih jarang dilakukan di Indonesia
Calcitonin
• Mencegah pengurangan massa tulang lebih
lanjut, mengurangi nyeri akibat fraktur
• Dapat diberikan melalui injeksi atau nasal
spray

Bifosfonat
• Meningkatkan massa tulang, mencegah fraktur
• Diminun hanya seminggu sekali atau sebulan
sekali dengan kondisi perut kosong
Sodium Fluoride
• Meningkatkan densitas tulang (pada bagian lumbal 8%,
femur proximal 4%)
• Tulangan dengan fluoride >>>>>>>, struktur abnormal
dan fragilitas meningkat
• Efektif untuk meningkatkan densitas tulang tp efek
kecil dalam pencegahan fraktur

Vitamin D dan Kalsium


• Kalsium dan Vitamin D merupakan mineral yang
penting untuk menjaga kekuatan dan keutuhan tulang
• Vitamin D dibutuhkan dalam proses absorpsi kalsium
Terapi Nonfarmakologi
• Terapi nonfarmakologi yang dianjurkan adalah
aerobik dan olahraga low-impact (bersepeda,
jogging)
• Perlu diperhatikan postur dan posisi tubuh
pasien saat berolahraga. X fleksi vertebra 
meningkatkan risiko fraktur
• Idealnya olahraga dilakukan 3-5 kali seminggu