Anda di halaman 1dari 12

TEORI AKUNTANSI

KERANGKA KONSEPTUAL
Kelompok 6 [Kelas K] :
• Ni Made Dita Puspitayanti (03)
• Ni Komang Dwi Mirandani (07)
• I Gedes Agus Okayana (16)
• I Made Dwipayana (27)
• Ni Komang Ayu Tri Astuti (29)
• Ni Nyoman Putu Manarawisa (30)
Pengertian Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual adalah suatu sistem koheren yang terdiri dari
tujuan dan konsep fundamental yang saling berhubungan, yang
menjadi landasan bagi penetapan standar yang konsisten dan
penentuan sifat, fungsi, serta batas-batas dari akuntansi keuangan
dan laporan keuangan.
Secara lengkap, kerangka kerja konseptual adalah :
• Petunjuk FASB (Financial Accounting Standards Board) dalam menetapkan
standar akuntansi.
• Menyediakan kerangka acuan untuk menyelesaikan pertanyaan sebelum
ada standar khusus yang mengaturnya.
• Menentukan batasan pertimbangan dalam penyusunan laporan keuangan
• Mempertinggi komparabilitas dengan menurunkan jumlah alternatif
metode akuntansi.

Ada beberapa pihak yang memandang kerangka konseptual sebagai “konstitusi”


(Undang Undang Dasar), yang merupakan landasan dalam proses penentuan standar
akuntansi.
Apakah Kerangka Konseptual Diperlukan?
Dalam membahas kerangka konseptual, kita dihadapkan pada masalah
berikut:

1 Komite dari New York Stock Exchange tahun 1934 mengatakan


bahwa “Semakin banyak alternatif praktik akuntansi, akan
menyebabkan perusahaan memiliki kebebasan untuk memilih
metode akuntansi mereka sendiri dalam batas-batas yang sangat
luas sesuai dengan referensi yang dibuat”. Namun kebebasan
akhirnya mengarah pada suatu yang membingungkan.

2 Gallein, mantan anggota APB dan FASB, berkomentar bahwa tidak


ada kerangka konseptual yang jelas, yang telah menyebabkan
berlakunya hukum Gresham dalam akuntansi: “Praktik yang jelek
menyingkirkan/mengganti praktik yang baik”. Ketidakkonsistenan
dalam praktik tersebut menimbulkan suatu masalah.
Dari uraian tersebut dapat dirumuskan bahwa meskipun kerangka
konseptual belum dapat memecahkan semua masalah, sebenarnya
ada beberapa manfaat yang dapat diambil dari pendekatan kerangka
konseptual dalam menentukan standar akuntansi.

FASB mengidentifikasi 5 manfaat yang diperoleh dari


kerangka konseptual, antara lain :
1. Sebagai pedoman dalam menentukan standar akuntansi
2. Sebagai kerangka referensi untuk memecahkan masalah
akintansi apabila standar yang sekarang ada tidak
mengatur isu-isu baru yang muncul.
3. Sebagai dasar membuat pertimbangan (judgmen) dalam
menyajikan laporan keuangan.
4. Meningkatkan daya banding dengan cara mengurangi
berbagai alternatif metode akuntansi yang ada.
Perumusan Kerangka Konseptual
Proses perumusan kerangka konseptual pada dasarnya merupakan proses
evolusi yang dihasilkan dari pekerjaan/proyek sebelumnya. Kerangka
konseptual dimulai dari penentuan tujuan, yang merupakan landasan
untuk menyusun elemen yang lain seperti karakteristik kualitatif dari
informasi, elemen laporan keuangan dan pengakuan/pengukuran.

Hasil kerja dan tulisan tersebut akhinya dihasilkan kerangka konseptual


sebagai berikut :
1. Tujuan pelaporan keuangan oleh perusahaan bisnis (SFAC no.1)
2. Karakteristik kualitatif dari informasi akuntansi (SFAC no. 2)
3. Element-element dari laporan keuangan perusahaan bisnis (SFAC
no.3)
4. Tujuan-tujuan pelaporan keuangan oleh organisasi non bisnis (SFAC
no. 4)
5. Pengakuan dan pengukuran dalam laporan keuangan perusahaan
bisnis (SFAC no. 5)
6. Element-element dari laporan keuangan
Kerangka konseptual laporan keuangan ini dipengaruhi oleh lingkungan
tempat kerangka tersebut dikembangkan. Setidaknya, kerangka ini bisa
dibagi menjadi tiga level:
Level 1 :Tujuan Utama Pelaporan Keuangan
Pelaporan keuangan dibuat dengan tujuan tertentu dan pasti yaitu sebagai
media pemberi informasi yang diharapkan memiliki manfaat terhadap para
pembuat keputusan

Level 2 :Konsep Fundamental


Dalam level dua ini, konsep fundamental merupakan dasar yang
menjembatani antara permasalahan tujuan akuntansi serta bagaimana
dengan akuntansi yang menyangkut masalah pengakuan serta pengukuran.

Level 3 :Konsep Pengakuan dan Pengukuran


Konsep pengakuan dan pengukuran terdiri dari :
• Asumsi Dasar
• Prinsip
• Batasan
Kerangka Konseptual di Indonesia
Di Indonesia, kerangka konseptual dikenal pada bulan September 1994,
dalam hal ini Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) mengambil kebijakan
untuk mengadopsi kerangka konseptual yang disusun oleh International
Accounting Standards Committee (IASC) sebagai dasar penyusunan dan
penyajian laporan keuangan.
. IAI menanamkan kerangka konseptual Indonesia dengan istilah
“Kerangka Dasar Penyusunan dan penyajian Laporan Keuangan”.

Adapun bagian-bagiannya sebagai berikut :


1 Tujuan dan Ruang Lingkup
Kerangka konseptual dimaksudkan untuk merumuskan konsep yang
mendasari penyusunan dan penyajian laporan keuangan
Tujuan kerangka konseptual (kerangka dasar) adalah untuk membantu
berbagai pihak dalam mencapai tujuan tertentu berkaitan dengan masalah
akuntansi yang muncul.
2 Tujuan dan Pemakai Laporan Keuangan
Menurut IAI tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi
yang berkaitan dengan posisi keuangan, prestasi (hasil usaha) perusahaan,
serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi
pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Para pemakai laporan keuangan meliputi : Investor, Kreditor, Pemasok,
Karyawan, Pelanggan, Pemerintah, Masyarakat

3 Asumsi Dasar
Dalam kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan
disebutkan bahwa ada dua asumsi dasar yag digunakan dalam akuntansi,
yaitu :
1. Dasar Akrual
Atas dasar asumsi ini, pengaruh peristiwa atau transaksi diukur dan
diakui/dicatat dalam laporan keuangan pada saat terjadinya, bukan pada
saat diterima/dikeluarkannya kas.
2. Kelangsungan Hidup
Dalam penyusunan laporan keuangan diasumsikan bahwa perusahaan akan
hidup terus dan akan melanjutkan usahanya dimasa mendatang.
4 Karakteristik Kualitatif dan Kendala Informasi
Karakteristik yang digunakan IAI adalah :
• Dapat dipahami (understandability)
• Relevan
• Keandalan (reability)
• Daya banding (comparability).

5 Elemen Laporan Keuangan


Agak berbeda dengan FASB, IAI hanya mengakui 5 elemen laporan
keuangan, yaitu : Aktiva, Kewajiban, Ekuitas , Penghasilan (income), dan
Beban (expense).

6 Pengakuan dan Pengukuran


Pengakuan merupakan proses pembentukan pos yang memenuhi definisi
elemen laporan keuangan serta kriteria pengakuan.
Berbagai dasar pengukuran tersebut adalah : Biaya Historis, Biaya Terkini,
Nilai Realisasi/Penyelesaian , dan Nilai Sekarang
Kritik terhadap Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual dikritik karena masih ada masalah
pendefinisian dan pengukuran. Di dalam pengukuran masih ada hal
yang tidak jelas seperti persediaan yang diukur berdasarkan
beberapa metode, atau IFRS yang menyarankan pengukuran
berdasarkan current cost bukan historical cost.

Berikut beberapa permasalahan dari kerangka konseptual, yaitu :


1. Masalah interpretasi : beberapa metode menghasilkan hasil yang
berbeda-beda.
2. Hanya tergantung pada pengamatan yang terjadi atau tidak disusun
secara terstruktur sehingga tidak memenuhi standar.
3. Kelemahan rule based antara lain :
a) Dipengaruhi kelompok dominan (sesuai dengan lingkungan dimana
kelompok itu berada) sehingga standarnya tidak berlaku umum.
b) Kelemahan dalam pendefinisian yaitu pendefinisian elemen-elemen
tertentu yang sulit ditentukan kepastiannya.
TERIMAKASIH