Anda di halaman 1dari 42

PRESENTASI

MANAJEMEN PERKREDITAN BNI

GUNAWAN TEGUH PRASETYO / P019537


BREVET KREDIT PIMPINAN CABANG BATCH 2 -2017

KANTOR CABANG MADIUN


OUTLINE
LATAR BELAKANG
 Bank sebagai lembaga keuangan mempunya peran yang sangat penting bagi
perekonomian suatu negara. Oleh karena itu, keberadaan aset bank dalam
bentuk kepercayaan masyarakat sangat penting dijaga guna meningkatkan
efisiensi penggunaan bank dan efisiensi intermediasi serta untuk mencegah
terjadinya bank rugi dan tutup. Kepercayaan masyarakat sangat diperlukan
dengan mengedepankan layanan prima kepada masyarakat/debitur dan
tetap memperhatikan aspek-aspek pemberian kredit yang sehat. Industri
perbankan di Indonesia sangat dinamis dan pernah mengalami masalah-
masalah yang apabila diamati akar penyebabnya adalah tidak diterapkannya
tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).
 Sebagai bank besar, BNI mempunyai tugas berat dalam menyiapkan pegawai-
pegawainya agar mampu bersaing merebut pasar dalam dunia perbankan.
Peningkatan kualitas yang terus dilakukan, antara lain dengan: pelatihan,
perbaikan sistem reward dan punishment, sehingga para staf yang berada di
ujung tombak dapat memberikan pelayanan prima, dapat melihat usaha
mana yang layak dibiayai dan melakukan mitigasi risiko dengan baik serta
bisa memenangkan persaingan.

3
TUJUAN PENULISAN
 Untuk lebih mendalami dan memahami proses pemberian kredit sehingga
mengoptimalkan profitabilitas dengan mempertahankan portepel
perkreditan yang sehat dan operasional perkreditan yang efisien dan efektif

 Untuk lebih mengetahui dan meningkatkan risk awareness terhadap risiko


kredit yang ditimbulkan atas pemberian kredit.

 Untuk lebih memahami pengendalikan NPL tidak hanya dari saat pemberian
saja (Analisa Kredit), tetapi yang lebih penting adalah memahami proses
perjalanan kredit sejak diberikan sampai kredit tersebut lunas.

 Untuk lebih mengetahui NPL yang di restrukturisasi sering mengalami


kegagalan karena kurang/tidak memahami masalah yang dialami debitur,
yang pada akhirnya solusi yang dilakukan tidak tepat.

4
DASAR HUKUM
 UU NO 10 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN ATAS UU No. 7 TAHUN 1992
TENTANG PERBANKAN .
 UU NO 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS
 UU NO 4 TAHUN 1996 TENTANG HAK TANGGUNGAN ATAS TANAH BESERTA
BENDA-BENDA YANG BERKAITAN DENGAN TANAH
 UU NO 42 TAHUN 1999 TTG JAMINAN FIDUSIA
 PERATURAN KEPALA POLRI NO 8 TH 2011 TTG PENGAMANAN
EKSEKUSI JAMINAN FIDUSIA
 KUHPERDATA (Burgerlijk Wetboek voor Indonesie)
 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
 Peraturan BI No.15 /PBI/2012 Tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum
 PERATURAN LAINNYA.

5
Kepercayaan/Kesepakatan/Jangka Waktu/Balas Jasa, Risiko
Pengertian kredit menurut
Undang-Undang Perbankan jenis kredit :
Nomor 10 Tahun 1998: jangka waktu
pendek, menengah, panjang
Kredit adalah penyediaan uang
sifat penggunaan
atau tagihan yang dapat produktif, konsumtif
disamakan dengan itu, Keperluannya
berdasarkan persetujuan atau modal kerja, investasi
kesepakatan pinjam-meminjam sifat penarikan
antara bank dengan pihak lain cash loan, non cash loan
yang mewajibkan pihak sifat pelunasan
aflopend, revolving
peminjam untuk melunasi
Bank pemberi
utangnya setelah jangka waktu Onshore, offshore
tertentu dengan pemberian Valuta
bunga. IDR, USD, sesuai kebutuhan

6
PRINSIP 5 C
CHARACTER Penilaian atas karakter, integritas, kejujuran, dan itikad baik dari debitur
bersangkutan. Penilaian dilakukan melalui analisa aspek manajemen dan
legal.
C
CAPITAL Penilaian atas kemampuan debitur untuk memenuhi
kewajibannya atas modal sendiri. Penilaian dilakukan melalui
analisa aspek keuangan.

CAPACITY Penilaian kemampuan debitur menjalankan usahanya sehingga


menghasilkan laba yang optimal. Penilaian dilakukan melalui
analisa keuangan, pemasaran, teknis produksi, dan lainnya.

CONDITION Penilaian atas hal-hal yang berada di luar kontrol debitur, seperti
prospek sektor / sub sektor ekonomi, persaingan, pengaruh
tingkat suku bunga, kondisi politik, bencana alam dan lainnya.
Penilaian dilakukan melalui analisa aspek lingkungan bisnis dan
industri.

COLLATERAL penilaian jaminan yang diserahkan oleh debitur, baik jaminan


perorangan maupun jaminan kebendaan. Penilaian jaminan
kebendaan khususnya dilakukan melalui analisa aspek agunan.
.

7
Sarana analisa kredit yang efektif dan efisien dalam rangka
pengambilan keputusan kredit yang sehat

Untuk memberi petunjuk kepada


pejabat kredit Menciptakan kegiatan
perkreditan yang prudent,
menguntungkan dan tetap
dalam batas toleransi
risiko yang ditetapkan.
MANAGEMENT
PERKREDITAN
Mencegah kemungkinan Keputusan dari Pemutus Kredit untuk menempatkan
timbulnya kerugian lebih lanjut dana dan modal Bank pada aktiva yang berisiko
atas suatu kredit yang tidak
lancar

Sejauh mana perkembangan usaha nasabah dan


perkembangan kredit sejak diberikan sampai lunas.

PROSES ANALISA KREDIT perputaran modal


kerja, cash flow,
wawancara dan OTS, BI checking, Industry Risk konstruksi, DSC (KI
data rekanan, pihak III Business Risk & aflopend)

jenis, bentuk, jumlah,


rencana, ratio keuangan, umum, hubungan asumsi & jangka waktu faskri,
pelaksanaan, dgn bank, manajemen, teknis proyeksi agunan, syarat2
seleksi produksi, pemasaran, jaminan
3. PEMBAHASAN
ANALISA KREDIT
Analisa Kredit merupakan langkah awal pemberian kredit
yang dimulai dengan, Pre Sreening,Pengumpulan Data,
Verifikasi Data, Analisa Keuangan & Aspek Lainnya,
Penilaian Risiko, Proyeksi Keuangan, Evaluasi Kebutuhan
Kredit dan Menetapkan Struktur Fasilitas Kredit.

Tujuan Analisa Kredit adalah:


•Memperoleh keyakinan bahwa calon debitur memiliki
kemauan/itikad dan kemampuan memenuhi
kewajibannya sejak kredit diberikan sampai lunas.
•Memprediksi risiko yang terjadi ditengah perjalanan
kredit, baik yang disebabkan faktor internal dan ekstenal
perusahaan/debitur.
•Memitigasi risiko apabila debitur wanprestasi atau
pengakhiran hubungan sebelum kredit lunas..

9
8 LANGKAH ANALISA KREDIT
1 2 3 4 5 6 7 8

Menilai secara sederhana prospek debitur yang


akan dibiayai berdasarkan hasil wawancara dan
data-data yang diperoleh di lapangan

No Kriteria Pre Screening Ya Tidak

1 Jenis usaha termasuk yang dilarang cfm. ketentuan eksternal (Pusat maupun daerah) X
2 Jenis usaha termasuk yang dilarang cfm. Ketentuan internal X
Perusahaan dan Pemilik tercatat dalam kredit bermasalah (non performing loan) dalam Informasi
3 x
Debitur Individual (IDI) BI minimal dalam 2 tahun terakhir.
Perusahaan dan Pemilik tercantum dalam Daftar Hitam Nasional (DHN) dari BI dalam waktu 1
4 X
tahun terakhir.

Perusahaan belum beroperasi selama minimal 3 (tiga) tahun untuk pembiayaan segmen korporasi
5 & menengah, atau 2 (dua) tahun untuk pembiayaan segmen kecil, dan/atau bagian dari group X
perusahaan yang belum beroperasi selama minimal 3 (tiga) tahun

6 Terdapat informasi mengenai adanya kasus hukum terkait debitur/calon debitur. X

Tingkat risiko industri tidak sesuai dengan kriteria Industry Risk Rating (IRR) yang diterbitkan Divisi
7 X
ERM.
1 2 3 4 5 6 7 8

 Menyusun rencana pengumpulan data,  On the spot


(jenis, sumber & cara memperolehnya)  Informasi BI / lembaga
 Melaksanakan pengumpulan data pembiayaan lainnya
 Menyeleksi data yang perlu / tidakperlu  Checking kpd pihak ketiga
 Verifikasi penting
dilakukan untuk
menjamin dan
meyakini kebenaran
dan keakuratan
data / informasi
Data Kualitatif Data Kuantitatif Data Umum  Verifikasi harus
 Debitur  visit lokasi didokumentasikan :
 Dokumen  legalitas JT  Laporan Keuangan
usaha & rumah call memo, FKS,
 Usaha  bisnis proses (L/R & neraca)
 Stock  kesesuaian  Akun2 =  Pesaing dsb.
(kualitas & jumlah) stock/AR/AP/  Asosiasi  Pastikan telah
 Pihak 3  supplier, buyer modal/Kas/dll  Lingkungan sekitar dilakukan verifikasi
 Data Transaksi Rek  Info BI  karakter Ybs
(invoice / PO / SPK / data sebelum
 Rek di BNI  Internet  informasi
kontrak / nota) memproses lebih
 Jaminan  lokasi, pasar dan persaingan
 Internet  ttg Debitur lanjut permohonan
legalitas, marketabilitas
kredit calon debitur
1 2 3 4 5 6 7 8

 Menyusun rencana pengumpulan data,  On the spot


(jenis, sumber dan cara memperolehnya)  Informasi BI / lembaga
 Melaksanakan pengumpulan data pembiayaan lainnya
 Menyeleksi data yang perlu / tidakperlu  Checking kepada pihak ketiga Tanggungjawab
ADC

Mandatory checklist verifikasi meliputi :


Difile khusus
Legalitas dalam file CDP
Untuk meyakini validitas dokumen legalitas calon debitur
Track Record
Melakukan evaluasi track record calon debitur berdasarkan data File CDP
diperiksa
yang tersedia sampling SPI

Operasional Usaha
Untuk meyakini kebenaran dan kesesuaian skala usaha
Tempat Tinggal
Meyakini tempat tinggal calon debitur.
Jaminan
Melakukan penilaian dan verifikasi kondisi jaminan
1 2 3 4 5 6 7 8

A
LAPORAN
LABA/RUGI

B
 Syarat CR <1 kali
NERACA  Syarat DER > 2,1kali

Analisa Rekonsiliasi
Modal & Harta Tetap

Analisa Pernyataan
Pengadaan Kas
1 2 3 4 5 6 7 8

• CRR (Customer Risk rating) merupakan suatu alat untuk mengukur seberapa besar tingkat kemungkinan (likelihood) suatu
nasabah akan gagal (default) dalam memenuhi kewajibannya kepada Bank,
• CCR (Customer Credit Rating) merupakan suatu ukuran yang menyatakan tingkat risiko kerugian (probability of loss) yang akan
dihadapi oleh Bank dalam hal nasabah gagal memenuhi kewajibannya (in the event of default) :
o Tingkat risiko kerugian dimaksud telah memperhitungkan jaminan sebagai unsur pembayaran kembali (recovery rate).
o CCR ini sudah memperhitungkan baik first way out maupun second way out

CRR

CCR
1 2 3 4 5 6 7 8

Menyusun asumsi-
asumsi, menyesuaikan /
mengubah asumsi

Proyeksi Arus Kas


skenario
wajar/Perputaran

Proyeksi Laba / Rugi


dan Neraca
1 2 3 4 5 6 7 8

Perputaran Modal Kerja Menetapkan kebutuhan kredit berdasarkan proyeksi arus kas,
perputaran modal kerja dan metode / sumber lainnya.
Cash Cycle
Working Capital Cycle

Collection
ARDOH …..days Hutang Dagang
APDOH …..days

Delivery TOTAL ... days Production

Stock
Sales INVDOH ….. days
Cash Cycle Days X Pejualan/hari = Kebutuhan Modal Kerja
Cash Cycle Days = Inventory Days + A/R Days – A/P Days
1 2 3 4 5 6 7 8

Jenis, bentuk/sifat, jumlah, dan jangka waktu fasilitas kredit harus


ditetapkan sesuai kebutuhan pembiayaan debitur

Penetapan Struktur Fasilitas dituangkan dalam Ikhtisar Pengusulan Kredit (IPK) adalah
penetapan:
Jenis
Tujuan  Bunga, Propisi, Biaya Administrasi
Jumlah / Maksimum Kredit  Agunan dan Pengikatannya
JenisValuta  Penutupan Asuransi
Bentuk / Sifat Fasilitas Kredit  Syarat Pencairan (Condition)
Jangka Waktu Fasilitas / Tenor / Pembayaran  Syarat-syarat lainnya(Security)
1. Pre Screening
UNIT BISNIS & 2. Pengumpulan Data
RISIKO 3. Verifikasi Data

Evaluasi pemberian kredit


Surat dan perkembangan serta
UNIT BISNIS Penolakan TTD SKK adanya perubahan risiko
1. Analisa FWO & kredit debitur
SWO
2. Assessment &
mitigasi risiko
TOLAK
UNIT RISIKO kredit Overview perkembangan
risiko debitur maupun industri

C 2R
&
CDP
Komite NK3
UNIT BISNIS Kredit
YA
UNIT RISIKO
ANG.KOMITE
ADM KREDIT
Adm Kredit :
Menyusun SKK & PK
Menyiapkan TTD PK
SECOND WAY
SECOND WAY
FIRST WAY OUTOUT
OUT
KINERJA PERUSAHAAN JAMINAN

Penggunaan Riwayat Prestasi/ Rating Nilai & Kondisi Pengikatan


Kredit Pembayaran Nasabah
• Aktivitas mutasi • Kesempurnaan
• Pembayaran • Manajemen • Nilai Jaminan
rekening kredit pengikatan
bunga dan/atau Debitur
• Kondisi Jaminan
• Berapa banyak pokok • Integritas dokumen
• Risiko Indutri
fasilitas kredit jaminan
• Kolektibilitas • Rasio
langsung / tidak
langsung yang • Tunggakan Vs keuangan
digunakan Kriteria Rating • Realisasi
• Realisasi Vs • Frekuensi cashflow (arus
Plafond Tunggakan kas)
A 1
Penggunaan Kredit Kesempurnaan
EARLY
Pengikatan Agunan
WARNING
SIGNAL

B 2
Riwayat Pembayaran Kelengkapan
(Pokok, Bunga, Denda, dll) Dokumen Agunan

C 3
Hasil Prestasi Integritas
Keuangan Dokumentasi Agunan
Integritas / kredibilitas manajemen, sumber
risiko sektor / sub sektor usaha
debitur, rasio / perkembangan informasi
keuangan debitur dan arus kas

Rekening koran pinjaman & giro Laporan Keuangan


Daftar registrasi fasilitas kredit tidak Perjanjian Kredit (PK)
langsung Rasio keuangan
Laporan kunjungan setempat dan Industry Risk Rating (IRR)
informasi agunan Informasi BI melalui SID
Call memo
Analisa secara menyeluruh 3 PILAR ANALISA :
dan mendalam I. KREDIBILITAS MANAJEMEN PENYELAMATAN  Jangka waktu kredit
 Integritas  Schedule angsuran
o Kejujuran  Pembayaran bunga
o Kerjasama
 Kecakapan 1. Integritas tinggi
o Kemampuan 2. Prospek Usaha  Syarat kredit
o Judgement  Bunga, denda, ongkos
3. Kemampuan
II. KEMAMPUAN MEMBAYAR Keuangan
 Penambahan kredit
KEMBALI
 Hasil Prestasi
o Lingkungan
o Aktivitas Usaha
 Likuiditas PENYELESAIAN
o Sumber Dana
o Penggunaan Dana
III.JAMINAN
 Persuasif :
 Kontrol Jual aset, setoran
o Kesempurnaan investor
o Mudah/tidak dicairkan
 CEV / Taksasi  Non Persuasif :
o Nilai Likuidasi Lelalng, Litigasi,
o Lama Likuidasi kepailitan
Penilaian Pilar Kelayakan Debitur

Pilar Variabel Masalah


Kejujuran
Integritas
Kredibilitas Variabel Penentu
Kerjasama
Manajemen Kemampuan
Kecakapan Kerjasama
Kerjasama

Hasil Prestasi
Kemampuan Variabel Penentu
Aktivitas Usaha/Operasi
Membayar Kembali Sumber Dana
Likuiditas
Penggunaan Dana

Kesempurnaan
Kontrol
Variabel Penentu Mudah Tidaknya Dicairkan
Jaminan
Nilai Likuiditas
CEV
Lama Penjualan /
Pencairan 30
PELAKSANAAN
OJT OJT 1 DAN 3 DI SKC SEMARANG
CASE : PT TRIJAYA SELALU ABADI
BISNIS :PERDAGANGANGAN SEPEDA

OJT 2 DI LNC YOGYAKARTA

CASE : GRIYA AN ARNOLD WIRAKUSUMA


BISNIS SALON NEW TOPSY DAN
MINUMAN MR SHAKE TEA.
1 2 3 4 5 6 7 8

 Proses yang penting dan sangat berpengaruh pada Kredit yang Berkualitas.
 Tahapan ini mudah tetapi memerlukan waktu, kemauan, konfirmasi dan ketelitian/kejelian.
Study case
VERIFIKASI DAN ANALISA KREDIT

a. Pengumpulan Data:
 Data yang dikumpulkan atau diminta kurang relevan atau tidak
berkaitan dengan bisnis yang dibiayai.
 Data tidak akurat, misalnya; dokumen berupa foto copy al. rekening
koran, laporan keuangan, legalitas usaha, akte-akte, KTP, SPT, SIUP,
IMB dll (di beberapa kasus terjadi pemalsuan).
 Data perkembangan perusahaan tidak berurutan misalnya nama
pemegang saham ber-ganti2 dan Akte Perubahan terputus tidak
bersambungan.
 Penyerahan data dari debitur relatif lama/sulit, hal ini menunjukkan
calon debitur tidak tertib dalam administrasi.

27
Study Case
VERIFIKASI DAN ANALISA KREDIT
b. Verifikasi Data:
 Verifikasi dokumen tidak dilakukan kepada pihak yang berkompeten
antara lain :
 Legalitas Usaha mestinya di lakukan verifikasi ke Instansi yang
mengeluarkan dokumen mis Dinas Perdagangan, Kantor Pajak,
KumHam, Notaris
 SHM/SHGB/SHU ke BPN, tidak hanya diserahkan ke Notaris.
 BPKB/Bukti Kepemilikan lainnya, harus diverifikasi ke Instansi
Penerbit Dokumen misalnya POLRI, Syahbandar dll.

• Verifikasi phisik tidak mendalam antara lain :

 Tanah dan Bangunan tidak sesuai baik lokasi, luas dan nilainya.
 Mesin/Peralatan ternyata isi didalamnya palsu, hanya cover/cassingnya yang
asli.
 Stock Material tidak diminta bukti pembelian atau dokumen asal. Kasus yg
terjadi di salah satu Unit, stock beras dalam jumlah besar ternyata barang
titipan pihak lain yang disimpan di gudang debitur.
28
VERIFIKASI DAN KONFIRMASI Study Case

Verifikasi : salah satu bentuk pengujian terhadap dokumen


secara administratif (validitas) dengan cara antara lain:
•Meminta keterangan tentang kebenaran dokumen kepada pihak
kompeten terkait.
•Membandingkan validitas dokumen dengan informasi dari
dokumen resmi lainnya.
•Membandingkan kebenaran keterangan dalam dokumen dengan
phisik/barangnya.

Konfirmasi adalah salah satu penegasan kembali atas


data/dokumen kepada pihak yang berkaitan/berkepentingan
(bukan dalam hal validasi) dengan cara antara lain:
•Call kepada pihak yang berkaitan.
•Melalui surat dll
29
Study Case
VERIFIKASI DAN ANALISA KREDIT
c. Laporan Keuangan Debitur:
 Laporan Keuangan yang disampaikan tidak konsisten
dibanding periode sebelumnya serta tidak disertai
data pendukung yang memadai.
 Pos dalam Kas, Piutang dan Stock dalam Laporan
Keuangan tidak disertai bukti pendukung antara lain
rekening koran, bukti pembelian/penjualan dan
tagihan kepada pihak lain.
 Terdapat hutang kepada pihak lain (afiliasi) yang
tidak didukung dengan bukti otentik, sehingga
menimbulkan permasalahan bila perusahaan akan
dipailitkan.
 Terdapat pos dalam neraca yang tidak ada
kaitannya dengan bisnis.
 Rasio-rasio keuangan yang diluar kewajaran dan
tidak konsisten dibanding industri.

30
Study Case
VERIFIKASI DAN ANALISA KREDIT
d. Aspek Lainnya (Manajemen, Teknis Produksi,
Pemasaran dll):
 Pengurus Perusahaan sebenarnya bukan pengendali dan
tidak berkompeten, namun hanya sebagai pegawai/boneka.
 Potensi konflik antar pengurus perusahaan.
 Teknis Produksi/Bisnis proses debitur tidak dikuasai dengan
baik oleh analis/RM, al. Lokasi Usaha, Kapasitas produksi,
mesin2 dan teknologi, SDM, ketersediaan bahan baku dan
kondisi lingkungan.
 Tingkat persaingan dan daya saing perusahaan. Kondisi
atau potensi market yang hendak dituju, bonafiditas
pembeli, syarat pembayaran dll.

31
e. PENILAIAN RISIKO y Case
Stud
Cash Circle Risk dalam pemberian kredit:
COLLECTION RISK: SUPPLY RISK:

• Syarat Pembayaran (Cash/Kredit) • Ketersediaan bahan baku/material

• Lama Pembayaran (Piutang) • Kemudahan distribusi

• Sudah diikat sbg jaminan/belum • Kesesuaian Lokasi usaha


• Stabilitas harga material

RISIKO
PRODUCTION RISKS :
DEMAND RISK:
• Ketersediaan dan kompetensi
• Kontinuitas permintaan SDM.
• Bonafiditas buyer/bowheer • Keamanan . Keselamatan dan
• Buyer Behavior (musiman/rutin) Kesehatan Kerja

• Kemudahan distribusi/pengiriman • Kapasitas Produski vs


permintaan
• Stabilitas harga (atas dasar kontrak,
harga pasar dll) • Ketersediaan Power Suply dan
Teknologi

32
f. Proyeksi Keuangan
Proyeksi Keuangan adalah perkiraan posisi keu debitur pada
beberapa waktu tertentu dimasa yang akan datang, yang
menunjukkan jumlah aktiva, utang, modal dan laba/rugi.

Kelemahan Proyeksi Keuangan:


 Proyeksi tidak berdasarkan data yang valid baik historical
performance dan prakiraan kondisi kedepan.
 Dasar asumsi untuk menetapkan proyeksi kurang
mendalam.
 Proyeksi hanya disesuaikan dengan permintaan debitur
sehingga proyeksi keuangan yang disusun dalam
perjalanannya tidak konsisten.
 Tidak memperhitungkan risiko yang akan timbul selama
kredit berjalan, misalnya risiko kurs valas, ketidakstabilan
harga, waktu produksi atau selesainya proyek dll.

y C ase
S tud
33
g. Evaluasi Kebutuhan Keuangan

Evaluasi kebutuhan keuangan tertinggi dan


terendah tidak akurat, karena penyusunan cash flow
disaat awal juga lemah.
Untuk Modal Kerja Perdagangan dapat dilakukan
test ulang dengan metode Perputaran Modal Kerja.
Akibatnya yang ditimbulkan adalah kesulitan
likuiditas (kekurangan modal) atau sebaliknya
kelebihan pemberian kredit. Kedua kondisi tersebut
beriksiko bagi kelangsungan kredit.

34
h. Menetapkan Struktur Fasilitas Kredit:
Struktur Fasilitas berikut syarat-syarat kredit sangat penting
sebelum didudukkan secara legal dalam Perjanjian Kredit.
Beberapa kelemahan dalam penyusunan atau penetapan
Struktur Fasilitas Kredit adalah sbb:
 Target penjualan/proyek yang ditetapkan kepada debitur
tidak jelas.
 Syarat2 pencairan kredit tidak jelas dan tegas sehingga
bank sulit untuk melakukan penolakan terhadap
permohonan debitur yang diketahui tidak memenuhi
syarat.
 Kewajiban debitur yang penting tidak termuat dalam
syarat2 kredit misalnya kewajiban penyampaian Lap
Keuangan dll.
 Syarat pemutusan hubungan dengan debitur tidak
dijelaskan secara rinci, akibatnya bank sulit mengakhiri
hubungan dengan debitur.
35
2. PERSETUJUAN KREDIT
Persetujuan kredit merupakan Keputusan Pemutus Kredit
untuk menempatkan dana dan modal Bank pada aktiva
yang berisiko. Oleh karena itu debitur yang disetujui
permohonan kreditnya adalah debitur yang dinilai sebagai
berikut :
1. Usahanya layak untuk dibiayai.
2. Telah sesuai dengan kebijakan dan prosedur pemberian
kredit.
3. Tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan limit
kredit.
4. Telah dipertimbangkan mengenai keamanan kreditnya.
5. Diputus sesuai dengan kewenangan memutus kredit.

C ase
Stu dy
36
KELEMAHAN PERSETUJUAN

√ Memecah kredit dg tujuan tidak diproses secara


group.
√ Pemutus melanggar kewenangan baik segmentasi
maupun nominal kewenangan pejabat pemutus.
√ Pencairan Kredit tidak sesuai dengan disposisi yang
sudah ditetapkan.
√ Aspek Legalitas belum clear dan clean ( (Pengikatan
Jaminan, Dokumentasi belum lengkap/jt tempo dll)
√ Pencairan Kredit melampaui kebutuhan atau
ketentuan (sharing proporsional, Cost to complete
atau Reimbursment)

y C ase
Stud
37
3. PEMANTAUAN KREDIT
Pemantauan/monitoring Kredit merupakan langkah yang secara terus menerus
dilalukan selama kredit belum lunas. Tujuannya adalah untuk memastikan
antara lain apakah Kredit yang diberikan telah sesuai dengan peruntukannya
dan syarat-syarat yang ditentukan.
KELEMAHAN
 Monitoring Riwayat Pembayaran (FRP) dan SWO (Belum menyentuh substansi/hanya
formalitas).
 Penetapan Kolektibiliti hanya berdasarkan tunggakan (tidak melihat prospek dan
kinerja keuangan cf. Ketentuan)
 Syarat yang ditetapkan dalam PK tidak ditegakkan (Lap. Keu deb sering terlambat,
transaksi tdk disalurkan ke rekg BNI, Target yang ditetapkan tidak tercapai,
pelanggaran covenant dll, namun tdk diberikan teguran/sanksi
 Penilaian jaminan tidak up to date (barang tetap/bergerak, stock, piutang/termin dll),
verifikasi kurang memadai.
 Pejabat kredit kurang peka thd perubahan ekonomi, hukum dan sosial shg
berdampak negatif pada debitur.

38
4. PENYELAMATAN KREDIT
Penyelamatan Kredit adalah upaya melancarkan kembali kredit sejak debitur tidak
dapat memenuhi kewajibannya dengan penuh atau diproyeksikan tidak dapat
memenuhi kewajibannya sesuai dengan syarat awal yang ditentukan. Penyelamatan
Kredit dikenal juga dengan istilah Restrukturisasi Kredit .

KELEMAHAN
 Kurang mendalami permasalahan debitur.
 Analisa Kemampuan Membayar debitur tidak
dilakukan secara komprehensif/mendalam, shg
RESTRUKTURISASI yang diusulkan GAGAL.
 Kemampuan NEGOSIASI dengan debitur lemah.
 Kurang tegas menghadapi debitur yang
melanggar kesepakatan.

y C ase
Stud
39
5. PENYELESAIAN KREDIT
Penyelesaian Kredit merupakan langkah terakhir apabila
Kredit sudah tidak dapat diselamatkan. Tindakan penyelesaian
kredit antara lain penjualan jaminan baik dibawah tangan,
lelang dan tindakan hukum lainnya. Misalnya Eksekusi Hak
Tanggungan, Gugatan Pailit dan lain-lain.

KELEMAHAN
 Petugas kredit kurang memahami ketentuan hukum yang
berkaitan dengan penyelesaian kredit (UU HT, UU Fidusia,
KUHPerd, UU Kepailitan dll).
 Dokumentasi kredit lemah (janji/kesepakatan dengan
debitur tdk terdokumentasi dengan baik)
 Kurang tegas dlm menghadapi debitur bermasalah
(eksekusi jaminan lambat)
 Kemampuan Negosiasi dengan debitur lemah.
 Kurang tegas menghadapi debitur yang melanggar
kesepakatan.
 Kurang e kreatif dalam mencari cara penyelesaian kredit.
as
yC
Stud 40
 Menjadikan dan terus berusaha mewujudkan BNI sebagai Bank yang terkemuka dan
terpercaya di Indonesia dengan terus menjaga dan meningkatkan kualitas
perkreditan serta memberikan pelayanan yang baik dalam pemberian kredit.

 Pendapatan Bunga Kredit (interest Income) sampai saat ini masih merupakan sumber
utama pendapatan perbankan di Indonesia termasuk BNI. Untuk itu setiap insan
perbankan harus berkontribusi positif peningkatan kredit yang berkualitas.

 Manajemen Perkreditan bertujuan untuk menciptakan kegiatan perkreditan yang


prudent, menguntungkan dan tetap dalam batas toleransi risiko yang ditetapkan.

 Meningkatkan risk awareness terhadap risiko kredit yang ditimbulkan atas


pemberian kredit, salah satunya yaitu pentingnya verifikasi dalam proses pemberian
kredit.

 Mengendalikan NPL tidak hanya dari saat pemberian saja (Analisa Kredit), tetapi
yang lebih penting adalah memahami proses perjalanan kredit sejak diberikan
sampai kredit tersebut lunas.

41
42