Anda di halaman 1dari 50

STANDAR YANFAR DAN

AKREDITASI RS
21 September 2018
DASAR HUKUM
Undang-Undang No 44 Tahun 2009 Tentang Rumah
Sakit
Undang-Undang No 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga
Kesehatan
Peraturan Pemerintah No 51 Tahun 2009 Tentang
Pekerjaan Kefarmasian
Peraturan Menteri Kesehatan No 56 Tahun 2014
Tentang Klasifikasi Rumah Sakit
Peraturan Menteri Kesehatan No 72 Tahun 2016 Tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
Standar Kompetensi Apoteker Indonesia
Undang- undang no 5 tahun 1997 ttg Psikotropika

Permenkes no 3 tahun 2017 Tentang Perubahan


Penggolongan Psikotropika
Undang-Undang no. 35 tahun 2009 tentang
Narkotika
Permenkes no. 2 tahun 2017 tentang Perubahan
Penggolongan Narkotika
Peraturan Menteri Kesehatan No 56 Tahun 2014
Tentang Klasifikasi Rumah Sakit
Peraturan Menteri Kesehatan No 11 tahun 2017
tentang Keselamatan Pasien
PENDAHULUAN

Masalah Kesehatan di Indonesia

• Tahun 1990: PENYAKIT INFEKSI (ISPA, TB, Diare) menjadi penyebab kematian dan kesakitan
• Sejak Tahun 2010: PENYAKIT TIDAK MENULAR (stroke, kecelakaan, jantung, kanker, diabetes) menjadi
penyebab terbesar kematian dan kecacatan

Penyebab Utama dari Beban Penyakit, 1990 - 2015

1990 2000 2010 2015

Cedera Cedera Cedera


8% 9% Penyakit Cedera
7% Penyakit
Penyakit Menular 13%
Menular
Menular 33% 30%
Penyakit
43% Penyakit Penyakit
Penyakit Tidak
Menular Menular Tidak Tidak
56% 37% Menular Menular Penyakit
49% 58% Tidak
Menular
57%

Sumber: Double Burden of Disease & WHO NCD Country Profiles (2014)
Keterangan: Pengukuran Beban Penyakit dengan Disability-adjusted Life Years (DALYs) hilangnya hidup dalam tahun akibat kesakitan dan kematian prematur

4
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN

Deaths attributable to AMR every year


Compared to other major couses of death
DAMPAK RESISTENSI ANTIMIKROBA

 Mengancam upaya pencegahan dan pengobatan efektif untuk


berbagai infeksi yang terus meningkat, yang disebabkan oleh
bakteri, parasit, virus dan jamur

 Secara global 480,000 orang mengalami MDR


TB/tahun
 Mempersulit
 Mutu pelayanan pemberantasan
kesehatan menurun, infeksi
karenaHIV danperawatan
lama malaria
memanjang, resiko kematian tinggi
 Mengancam upaya pengobatan modern (seperti operasi open
heart, transplantasi organ)
 Meningkatkan beban ekonomi, karena perpanjangan lama
rawat inap, penggunaan antimikroba yang lebih mahal dan
lebih lama

 Angka kematian lebih tinggi dibandingkan dengan akibat kanker*




Perkiraan kematian akibat AMR saat ini sebesar 700.000/ thn
Tahun 2050- ada 10 juta kematian/tahun karena AMR
ANCAMAN KESELAMATAN PASIEN
PENGUATAN PELAYANAN KESEHATAN
PENDAHULUAN

KOMPETENSI FASKES
AKSES
DAN
PELAYANAN SUMBER ALAT

KESEHATAN
SARANA PRASARANA DAYA
KESEHATAN
KESEHATAN
FARMASI
AKREDITASI
SISTEM
RUJUKAN MUTU

KEPIMPINAN KLINIS

KEMAMPUAN TEKNIS MEDIS

DISTRIBUSI
HARAPAN FASILITAS KESEHATAN 2019
PENDAHULUAN

Akses dan Mutu

UHC 2019 KOMPETENSI FASKES

Sarana Prasarana Sumber Daya Alat Kesehatan Mutu Sistem


Kesehatan melalui Rujukan
Akreditasi
UU Tenaga Kesehatan

Definisi Tenakes
Tenaga Kefarmasian
Kompetensi
Tugas dan peran Apt di RS (profesional dan akreditasi)
Definisi

Tenaga Kesehatan
Adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/
ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan
yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan
untuk melakukan upaya kesehatan
Tenaga Kesehatan

Tenaga di bidang kesehatan :


1. Tenaga kesehatan
2. Asisten tenaga kesehatan
Tenaga kesehatan

1. Tenaga medis 6. Tenaga kesehatan


lingkungan
2. Tenaga psikologi klinis
7. Tenaga gizi
3. Tenaga keperawatan 8. Tenaga keterapian fisik
4. Tenaga kebidanan 9. Tenaga keteknisian medis
5. Tenaga kefarmasian 10. Tenaga teknik biomedika
6. Tenaga kesehatan 11. Tenaga kesehatan
tradisional
masyarakat
12. Tenaga kesehatan lain
PPA (Profesi Pemberi Asuhan)
Kompetensi Apoteker
2010 2016
1. Mampu melaksanakan praktik kefarmasian 1. Praktik kefarmasian secara
secara profesional & etik professional & etik
2. Mampu menyelesaikan masalah terkait
penggunaan sediaan farmasi
2. Optimalisasi penggunaan
3. Mampu melakukan dispensing sediaan sediaan farmasi
farmasi & alat kesehatan 3. Dispensing sediaan farmasi &
4. Mampu memformulasi dan memproduksi alat kesehatan
sediaan farmasi & alat kesehatan sesuai
standar yang berlaku
4. Pemberian informasi sediaan
5. Mempunyai ketrampilan komunikasi dalam farmasi & alat kesehatan
pemberian informasi sediaan farmasi dan 5. Formulasi & produksi sediaan
alat kesehatan farmasi
6. Mampu berkontribusi dalam upaya preventif
& promotif kesehatan masyarakat
6. Upaya preventif & promotif
7. Mampu mengelola sediaan sesuai kesehatan masyarakat
standar yang berlaku 7. Pengelolaan sediaan farmasi
8. Mempunyai ketrampilan organisasi dan & alat kesehatan
mampu membangun hubungan
8. Komunikasi efektif
interpersonal dalam melakukan praktek
profesional kefarmasian 9. Ketrampilan organisasi &
9. Mampu mengikuti perkembangan ilmu hubungan interpersonal
pengetahuan dan teknologi yang 10. Peningkatan kompetensi diri
berhubungan dengan kefarmasian
1. Praktik kefarmasian secara professional & etik
2. Optimalisasi penggunaan sediaan farmasi
3. Dispensing sediaan farmasi & alat kesehatan
4. Pemberian informasi sediaan farmasi & alat kesehatan
5. Formulasi & produksi sediaan farmasi
6. Upaya preventif & promotif kesehatan
masyarakat
7. Pengelolaan sediaan farmasi &
alat kesehatan
8. Komunikasi efektif
9. Ketrampilan organisasi &
hubungan interpersonal
10. Peningkatan kompetensi diri

20166
Standar Pelayanan Kefarmasian RS

PMK 1197/2004 PMK 72/2016


Pengkajian Resep Pengkajian & Pelayanan Resep

Identifikasi masalah terkait obat (DRP) Penelusuran Riwayat Pemberian Obat

Mencegah & Mengatasi DRP Rekonsiliasi Obat

Pelayanan Informasi Obat (PIO) Pelayanan Informasi Obat (PIO)

Konseling Konseling

Memantau efektivitas & keamanan obat Visite

Pencampuran Obat Suntik Pemantauan Terapi Obat (PTO)

Penyiapan Nutrisi Parenteral Monitoring Efek Samping Obat (MESO)

Penanganan Obat Kanker Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)

Pemantauan Kadar Obat dlm Darah Dispensing Sediaan Steril

Pencatatan & Pelaporan Pemantauan Kadar Obat dlm Darah


Standar Pelayanan Kefarmasian di RS
2016
Rumah Sakit adalah institusi Pelayanan Kefarmasian
pelayanan kesehatan yang adalah suatu pelayanan
menyelenggarakan langsung yang bertanggung
pelayanan kesehatan jawab kepada pasien yang
perorangan secara berkaitan dengan sediaan
paripurna yang farmasi dengan maksud
menyediakan layanan rawat mencapai hasil yang pasti
inap, rawat jalan dan rawat untuk meningkatkan mutu
darurat. kehidupan pasien
Resep : permintaan tertulis dari
dokter atau dokter gigi kepada
apoteker baik dalam bentuk
paper maupun electronic untuk
menyediakan dan menyerahkan Instalasi Farmasi adalah
obat bagi pasien sesuai peraturan unit fungsional yang
yang berlaku
menyelenggarakan
seluruh kegiatan
Sediaan farmasi adalah obat,
kefarmasian di rumah
bahan obat, obat tradisional dan sakit
kosmetika
Standar Yanfar sesuai Permenkes
72/2016
Pelayanan kefarmasian di rumah sakit :
1. Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan
bahan medis habis pakai, meliputi :
a. Pemilihan
b. Perencanaan kebutuhan
c. Pengadaan
d. Penerimaan
e. Penyimpanan
f. Pendistribusian
g. Penarikan dan pemusnahan
h. Pengendalian
i. Admnistrasi
2. Pelayanan farmasi klinik
a. Pengkajian dan pelayanan resep
b. Penelusuran riwayat penggunaan obat
c. Rekonsiliasi obat
d. PIO
e. Konseling
f. Visite
g. PTO
h. MESO
i. EPO
j. Dispensing sediaan steril
k. PKOD
Tujuan Pelayanan Farmasi di RS
1. Menjamin mutu, manfaat, keamanan dan khasiat
sediaan farmasi dan alat kesehatan
2. Menjamin kepastian hukum bagi tenaga
kefarmasian
3. Melindungi pasien, masyarakat dan staf dari
penggunaan obat yang tidak rasional dalam rangka
keselamatan pasien (patient safety)
4. Menjamin sistem kefarmasian dan penggunaan obat
yang lebih aman (medication safety)
5. Menurunkan angka kesalahan penggunaan obat
Akreditasi Rumah Sakit

 Pelayanan terintegrasi dari PPA (Profesional


Pemberi Asuhan):
Dokter-Perawat-Nutrisionis-Apoteker
 Dokter  Asuhan Medis  PPK (Panduan
Praktek Klinik)
 Perawat  Asuhan Keperawatan  PAK
 Ahli Gizi  Asuhan Gizi  PAG
 Apoteker  Asuhan Kefarmasian  PAKf
PKPO
PKPO 19 standar, 80 elemen penilaian 
(MPO 21 standar 84 elemen penilaian)

Fokus area :
1. Pengorganisasian
2. Seleksi dan pengadaan
3. Penyimpanan
4. Peresepan dan penyaluran
5. Persiapan dan penyerahan
6. Pemberian (administrasi) obat regulasi obat yang
dibawa pasien
7. Pemantauan (monitoring)
Standar Akreditasi 2017

Standar PKPO 6 :
Pelayanan kefarmasian adalah
pelayanan langsung &
bertanggung jawab kepada
pasien yang berkaitan dengan
sediaan farmasi dan alat
kesehatan dengan maksud
mencapai hasil yang pasti
untuk meningkatkan mutu
kehidupan pasien
APA YANG BARU DALAM SNARS
ED 1
 STANDAR PENGELOLAAN PENGENDALIAN RESISTENSI
ANTIMIKROBA (PPRA)
 PELAYANAN GERIATRI
 INTEGRASI PENDIDIKAN KESEHATAN DALAM PELAYANAN
(UNTUK RS PENDIDIKAN)
I. KELOMPOK
STANDAR (ARK,HPK,AP,
PELAYANAN PAP,PAB,PKPO, MKE)
BERFOKUS PADA
PASIEN (7 BAB)

II. KELOMPOK (PMKP,PPI,TKRS,


STANDAR MFK, KKS, MIRM)
STANDAR
NASIONAL MANAJEMEN RS (6 BAB)
AKREDITASI
RUMAH SAKIT III. SASARAN
ED 1 KESELAMATAN SKP
PASIEN
2017 PONEK
HIV/AIDS
IV. PROGRAM TB
NASIONAL PPRA
GERIATRI
V. INTEGRASI
PENDIDIKAN
KESEHATAN DALAM
IPKP
PELAYANAN
PENGELOMPOKAN BAB
1. STANDAR PELAYANAN BERFOKUS PASIEN
1. Akses ke Rumah Sakit dan Kontinuitas Pelayanan (ARK)
2. Hak Pasien dan Keluarga (HPK)
3. Asesmen Pasien (AP)
4. Pelayanan dan Asuhan Pasien (PAP)
5. Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB)
6. Pelayanan Kefarmasian dan Penggunaan Obat (PKPO)
7. Manajemen Komunikasi dan Edukasi (MKE)
2. STANDAR MANAJEMEN RUMAH SAKIT
8. Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)
9. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
10. Tata Kelola Rumah Sakit (TKRS)
11. Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK)
12. Kompetensi dan Kewenangan Staf (KKS)
13. Manajemen Informasi dan Rekam Medis (MIRM)
LANJUTAN…
3. SASARAN KESELAMATAN PASIEN
1. SASARAN 1 : Mengidentifikasi pasien dengan benar
2. SASARAN 2 : Meningkatkan komunikasi yang efektif
3. SASARAN 3 : Meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus
diwaspadai (High Alert Medications)
4. SASARAN 4 : Memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur
yang benar, pembedahan pada pasien yang benar.
5. SASARAN 5 : Mengurangi risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
6. SASARAN 6 : Mengurangi risiko cedera pasien akibat terjatuh
4. PROGRAM NASIONAL
4. Program Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi.
5. Program Menurunan Angka Kesakitan HIV/AIDS.
6. Program Menurunan Angka Kesakitan TB
7. Penyelenggaraan Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA)
8. Penyelenggaraan Pelayanan Geriatri
5. INTEGRASI PELAYANAN DALAM PENDIDIKAN KLINIS DI RUMAH SAKIT
SKP

1. Mengidentifikasi pasien dengan benar


2. Meningkatkan komunikasi efektif
3. Meningkatkan keamanan obat- obat yang harus
diwaspadai (HAM)
4. Memastikan lokasi pembedahan yang benar,
prosedur yang benar, pembedahan pada pasien
yang benar
5. Mengurangi resiko infeksi terkait pelayanan
kesehatan
6. Mengurangi resiko cidera pasien akibat terjatuh
SKP 3

SKP 3
Rumah sakit menetapkan regulasi untuk
melaksanakan proses meningkatkan keamanan
obat yang perlu diwaspadai
SKP 3.1.
Rumah sakit menetapkan regulasi untuk
melaksanakan proses mengelola penggunan
obat keonsentrasi tinggi
Obat yang perlu diwaspadai
Adalah obat yang mengandung resiko yang meningkat bila
kita salah menggunakan dan dapat menimbulkna kerugian
yang besar pada pasien
Obat yang perlu diwaspadai :
1. Obat resiko tinggi, yaitu obat yang bila terjadi kesalahan
(error) dapat menimbulkan kecacatan atau kematian
(heparin, insulin, kemoterapetik)
2. LASA atau Norum
3. Elektrolit konsentrat seperti :
- KCl (konsentrasi = atau > 2 mEq/mol)
- NaCl konsentrasi > 0.9%
- MgSO4 dengan konsentrasi 20%, 40% atau lebih
Kesalahan akibat LASA atau Norum

1. Pengetahuan tentang nama obat yang tidak


memadai
2. Adanya produk baru
3. Kemasan dan label sama
4. Indikasi klinik sama
5. Bentuk, dosis, aturan pakai sama
6. Terjadi salah pengertian waktu memberikan
perintah
PROGRAM NASIONAL
Standar 4 Penyelenggaraan Pengendalian Resistensi Antimikobra
Regulasi pengendalian resistensi antimikoba di RS meliputi :
1. Pengendalian resistensi antimikroba
2. Panduan penggunaan untuk terapi dan profilaksis bedah
3. Organisasi pelaksana, tim/ komite PPRA terdiri dari tenaga
kesehatan yang kompeten terdiri dari unsur :
 Staf medis
 Staf keperawatan
 Staf instalasi farmasi
 Staf laboratorium yang melaksanakan mikrobiologi klinis
 KFT
 Komite PPI
PMKP
Permenkes no 11 tahun 2017 tentang Keselamatan
Pasien

Keselamatan Pasien adalah suatu sistem yang membuat


asuhan pasien lebih aman, meliputi asesmen risiko,
identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, pelaporan
dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden
dan tindak lanjutnya, serta implementasi solusi untuk
meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah
terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan
akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil
Insiden Keselamatan Pasien atau Insiden (IKP) adalah
setiap setiap kejadian yang tidak disengaja dan
kondisi yang mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan
cedera yang dapat dicegah pada pasien
Insiden :
1. KPC (Kondisi Potensial Cedera)
2. KNC (Kejadian Nyaris Cedera)
3. KTC (Kejadian Tidak Cedera)
4. KTD (Kejadian Tidak Diharapkan)
12 Indikator Mutu Pelayanan RS

1 Kepatuhan penggunaan Clinical 7 Kepuasan Pasien dan Keluarga


Pathway EFFECTIVE ACCEPTABLE

2 Kepatuhan Cuci Tangan 8 Emergency Respon Time


SAFE SAFE - EFFECTIVE

Kepatuhan Penggunaan Waktu Lapor Hasil Tes Kritis


3 9 SAFE
Formularium Nasional (Fornas)EFFICIENT Laboratorium

4 Waktu Tunggu Operasi Elektif 10 Kepatuhan Upaya Pencegahan Jatuh SAFE


ACCESSIBLE

5 Waktu Tunggu Rawat Jalan 11 Kepatuhan Identifikasi Pasien SAFE


ACCESSIBLE

Ketepatan Jam Visite dokter 12 Kecepatan Respon terhadap


6 Spesialis ACCESSIBLE - ACCEPTABLE Komplain ACCEPTABLE

DIMENSI MUTU MENURUT WHO “: EFFECTIVE - EFFICIENT - ACCESSIBLE - ACCEPTABLE/ PATIENTS-CENTERED – EQUITABLE - SAFE
PEMILIHAN, PENGUMPULAN, ANALISIS DAN VALIDASI DATA INDIKATOR MUTU
DALAM PENGUKURAN PELAYANAN KLINIS YANG AKAN DIEVALUASI, (, (PMKP 4,
5, 5.1, 6, 7,7.1,7.2, 8. )

Maksud dan Tujuan PMKP 6


Sebagai contoh, unit pelayanan farmasi, pengendalian infeksi
dan penyakit menular mungkin masing-masing memilih prioritas
yang terkait dengan pengurangan penggunaan antibiotik di
rumah sakit. Program mutu dan keselamatan pasien yang
dijabarkan dalam standar-standar PMKP ini mempunyai peran
yang penting dalam membantu unit pelayanan untuk menyetujui
pendekatan bersama terhadap pengukuran dan memudahkan
pengambilan data untuk pengukuran yang ditetapkan.
Setiap indikator yang sudah dipilih agar dilengkapi dengan profil
indikator sebagaimana diatur di maksud dan tujuan di PMKP 5

Final 23 juli 36
PELAPORAN DAN ANALISIS INSIDEN KESELAMATAN PASIEN
(PMKP. 9, 9.1, 9.2, 9.3, 10)

STANDAR PMKP 9
Rumah sakit menetapkan sistem pelaporan insiden
keselamatan pasien baik internal maupun eksternal

Final 23 juli 37
PELAPORAN DAN ANALISIS INSIDEN KESELAMATAN PASIEN
(PMKP. 9, 9.1, 9.2, 9.3, 10)

Maksud dan Tujuan PMKP 9


Rumah sakit perlu menetapkan sistem pelaporan insiden antara
lain meliputi:
a)kebijakan,
b)alur pelaporan,
c) formulir pelaporan
d)prosedur pelaporan
e)insiden yang harus dilaporkan yaitu kejadian yang sudah
terjadi, potensial terjadi ataupun yang nyaris terjadi
f) siapa saja yang membuat laporan
g)batas waktu pelaporan
Final 23 juli 38
PELAPORAN DAN ANALISIS INSIDEN KESELAMATAN PASIEN
(PMKP. 9, 9.1, 9.2, 9.3, 10)
Maksud dan Tujuan PMKP 9.2
Ketika rumah sakit mendeteksi atau mencurigai adanya
perubahan yang tidak diinginkan atau tidak sesuai dengan
harapan, rumah sakit memulai analisis mendalam untuk
menentukan perbaikan paling baik focus di area mana (lihat
juga PKPO.7.1). Secara khusus, analisis mendalam dimulai jika
tingkat, pola, atau tren yang tak diinginkan bervariasi secara
signifikan dari:
 Apa yang diharapkan
 Apa yang ada di rumah sakit; dan
 Standar-standar yang diakui

Final 23 juli 39
PELAPORAN DAN ANALISIS INSIDEN KESELAMATAN PASIEN
(PMKP. 9, 9.1, 9.2, 9.3, 10)
Maksud dan Tujuan PMKP 9.2
Analisis dilakukan untuk semua hal berikut ini:
a) Semua reaksi transfusi yang sudah dikonfirmasi, jika sesuai untuk rumah sakit
(lihat AP.5.11)
b) Semua kejadian serius akibat efek samping obat, jika sesuai dan sebagaimana
yang didefinisikan oleh rumah sakit
c) Semua kesalahan pengobatan yang signifikan jika sesuai dan sebagaimana
yang didefinisikan oleh rumah sakit
d) Semua perbedaan besar antara diagnosis praoperasi dan diagnosis
pascaoperasi
e) Efek samping atau pola efek samping selama sedasi moderat atau
mendalam dan pemakaian anestesi
f) Kejadian-kejadian lain; misalnya,
 Infeksi yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan atau wabah penyakit
menular
 Pasien jiwa yang melarikan diri dari ruang perawatan keluar lingkungan RS
yang tidak meninggal/ tidak cedera serius. (Khusus untuk RS Jiwa dan RS
Final 23 juli
Umum yang mempunyai ruang perawatan
40
jiwa)
PELAPORAN DAN ANALISIS INSIDEN KESELAMATAN PASIEN
(PMKP. 9, 9.1, 9.2, 9.3, 10)
Elemen penilaian PMKP 9.2
1. Rumah sakit mempunyai regulasi jenis kejadian yang tidak diharapkan,
proses pelaporan dan analisisnya (Lihat juga PMKP 9 EP 1) (R)

2. Semua reaksi transfusi yang sudah dikonfirmasi, jika sesuai yang


didefinisikan untuk rumah sakit, sudah dianalisis (Lihat juga PAP.3.3)
(D,W)

3. Semua kejadian serius akibat efek samping obat (adverse drug event),
jika sesuai dan sebagaimana yang didefinisikan oleh rumah sakit, sudah
dianalisis (Lihat juga PKPO.7) (D,W)

4. Semua kesalahan pengobatan (medication error) yang signifikan jika


sesuai dan sebagaimana yang didefinisikan oleh rumah sakit, sudah
dianalisis (Lihat juga PKPO.7.1) (D,W)

Final 23 juli 41
PELAPORAN DAN ANALISIS INSIDEN KESELAMATAN PASIEN
(PMKP. 9, 9.1, 9.2, 9.3, 10)

Standar PMKP 9.3


Rumah sakit menetapkan regulasi
untuk analisis Kejadian Nyaris Cedera
(KNC) dan Kejadian Tidak Cedera (KTC)

Final 23 juli 42
PELAPORAN DAN ANALISIS INSIDEN KESELAMATAN PASIEN
(PMKP. 9, 9.1, 9.2, 9.3, 10)

Maksud dan Tujuan dan Tujuan PMKP. 9.3

Rumah sakit menetapkan definisi KNC dan sistem pelaporan,


proses mengumpulkan dan analisis data untuk dilakukan kajian
untuk perubahan dari proses agar dapat mengurangi atau
menghilangkan KNC dan KTC (Periksa juga, PKPO.7.1).

Final 23 juli 43
PELAPORAN DAN ANALISIS INSIDEN KESELAMATAN PASIEN
(PMKP. 9, 9.1, 9.2, 9.3, 10)

Maksud dan Tujuan dan Tujuan PMKP. 9.3

Rumah sakit menetapkan definisi KNC dan sistem pelaporan,


proses mengumpulkan dan analisis data untuk dilakukan kajian
untuk perubahan dari proses agar dapat mengurangi atau
menghilangkan KNC dan KTC (Periksa juga, PKPO.7.1).

Final 23 juli 44
PELAPORAN DAN ANALISIS INSIDEN KESELAMATAN PASIEN
(PMKP. 9, 9.1, 9.2, 9.3, 10)

Elemen Penilaian PMKP. 9.3

1. Rumah sakit menetapkan definisi, jenis yang dilaporkan dan


sistem pelaporan dari KNC dan KTC (lihat juga PMKP 9 EP1)
(R)
2. Ada analisis data KNC dan KTC (D,W)

Final 23 juli 45
Kompetensi dan Kewenangan Staf

PROFESIONAL PEMBERI ASUHAN LAINNYA DAN STAF


KLINIS LAINNYA

Standar KKS 16.


Rumah sakit mempunyai proses yang efektif untuk
mengumpulkan, verifikasi dan mengevaluasi
kredensial profesional pemberi asuhan (PPA)
lainnya dan staf klinis lainnya (pendidikan,
registrasi, izin, kewenangan, pelatihan dan
pengalaman.
Standar KKS 17

Rumah sakit melaksanakan identifikasi


tanggungjawab pekerjaan dan penugasan
klinis berdasarkan kredensial profesional
pemberi asuhan (PPA) lainnya dan staf klinis
lainnya sesuai peraturan perundang-
undangan.
Elemen Penilaian KKS 17

1. Ada penetapan rincian kewenangan klinis


profesional pemberi asuhan (PPA) lainnya dan staf
klinis lainnya berdasarkan pendidikan, registrasi,
sertifikasi, izin, pelatihan dan pengalaman anggota
staf klinis lainnya . (R)
2. Ada pelaksanaan proses pembuatan rincian
kewenangan klinis sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.(D,W)
3. Ada berkas kredensial yang dipelihara dari setiap
profesional pemberi asuhan (PPA) lainnya dan staf
klinis lainnya (D,W)
Standar KKS 18
Rumah sakit melaksanakan identifikasi
tanggungjawab pekerjaan dan penugasan klinis
berdasarkan kredensial profesional pemberi
asuhan (PPA) lainnya dan staf klinis lainnya sesuai
peraturan perundang-undangan.

49
Elemen Penilaian KKS 18
1. Ada dokumentasi penilaian mutu profesional pemberi
asuhan (PPA) lainnya dan staf klinis lainnya
berpatisipasi di dalam program peningkatan mutu
rumah sakit. (D,W)
2. Kinerja individual profesional pemberi asuhan (PPA)
lainnya dan staf klinis lainnya dikaji bila ada temuan
dalam aktivitas peningkatan mutu. (D,W)
3. Seluruh data proses review kinerja profesional
pemberi asuhan (PPA) lainnya dan staf klinis lainnya
didokumentasikan dalam kredesial profesional
pemberi asuhan (PPA) lainnya dan staf klinis lainnya
atau dokumen lainnya. (D,W)

50