Anda di halaman 1dari 26

ANTIBIOTIKA

Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba,


terutama fungi, yang dapat menghambat atau dapat membasmi
mikroba jenis lain, atau senyawa lain yang strukturnya mirip
atau sama dengan yang dihasilkan oleh mikroorganisme
tersebut.

 segi farmakologi, sesuatu senyawa antibakteri yang tergolong


antibiotik dapat didefinisikan sebagai senyawa yang setelah
mengalami absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi
selektif ataupun elektif, sanggup menghambat multiplikasi
mikroba atau mematikannya di berbagai daerah huninya di
dalam organisme, serta memiliki sasaran molekular yang
spesifik

. Banyak antibiotika dewasa ini dibuat secara semisintetik atau


sintetik penuh
From Gene to Screen
26 bacterial genomes compared Tests developed to reflect
to select 100 potential targets what is really happening in
the cell

Small volumes reduce costs


and save precious samples
Screening sample libraries:
Roche
synthetic
compounds
Extracts from
Robotics that antibiotic
can handle producing
many samples microbes
in parallel
From Screen to Drug
Identification Optimization Clinical candidate
Biological profiling to Selection based on
Parallel chemistry
confirm mechanism drug-like properties
Medicinal chemistry
of action defined in cellular
Biophysical tests, on physical
DNA microarrays
characterization of properties, on
interaction between pharmacology and
compound and target on toxicology

Protein expression
Improvement of Under-exploited Classes can be
OH
Achieved Mureidomycin
S
O
O O O O
GlaxoWellcome O
O O OH OH
H N
O N O O
N N N O H
OH
H H H N O
OH O NH2
N N
H H
O
O
N
R Novobiocin
HO Abbott, Aventis, Merck,

Actinonin
Roche, Versicor/Novartis, British Biotech
O
H
N N
Indolmycin HO N
H
SKB O
O O
OH
N Negamycin
Versicor
O NH H
N O
H2N N
N OH NH2 O OH
H
 Antibiotika dapat digolongkan berdasarkan:
 1. Tempat Kerja
 A. Dinding Sel
 Antibiotika yang bekerja pada dinding sel berperan dalam
menghambat proses biosintesa peptidoglikan. Contoh :
penisilin dan sefalosporin.

 B. Membran Sel
 Antibiotika ini bekerja dengan mengganggu fungsi dan
integritas membran sel. Contoh : amfoterisin

 C. Asam Nukleat
 Proses yang dihambat oleh antibiotika yang bekerja
terhadap asam nukleat adalah biosintesa DNA ataupun
mRNA. Contoh : rifampisin
 D. Ribosom
 Antibiotika yang bekerja terhadap ribosom ini
menghambat proses biosintesa protein.
Contoh : tetrasiklin

 2. Spektrum Aktivitas
 A. Antibiotika dengan spektrum luas, efektif
baik terhadap Gram-positif maupun Gram-
negatif. Contoh: penisilin

 B. Antibiotika dengan spektrum sempit..yang


aktivitasnya lebih dominan terhadap bakteri
Gram-positif. Contoh: basitrasin
Inhibition of Global Targets by
Intervention in Metabolism
Nucleoid Ribosome Cell Membrane Cell Wall
Dihydrofolate reductase Isoleucyl tRNA synthetase Enoyl reductase Alanine racemase
Dihydropteroate synthase Threonyl tRNA synthetase 3-oxo-[ACP] synthase II D-alanyl-D-alanine synthetase
Ribosylphosphate- Tryptophanyl tRNA synthetase biotin carboxyl carrier protein UDP-N-Ac–D-glucosaminyl-3-
pyrophosphokinase enoylpyruvyl transferase
Phosphoribosyl formylglycinamidine adenosine tetraphosphatase hydroxymyristoyl ACP dehydratase Fructose-1-phosphate transaminase
synthetase
Phosphoribosylpyrophosphate aspartate aminotransferase biotin carboxylase dihydropicolinate synthetase
amidotransferase
Adenylosuccinate lyase methionyl-tRNA formyltransferase acetyl-CoA carboxylase beta aspartate-semialdehyde DH
Adenylosuccinate synthetase tyrosyl t-RNA synthetase acetyl-CoA carboxylase alpha geranyltransferase
IMP dehydrogenase leucyl tRNA synthetase glyceraldehyde 3-phosphate DH UDP-Nac-pyruvoylglucosamine reductase
Guanosine deaminase valyl tRNA synthetase CDP-diacylglycerol synthetase UDP-NAM-alanine D-glutamate ligase
Dihydroorotase asparaginyl tRNA synthetase phosphatidylglycerophosphate UDP-NAG - NAM transferase
synthase
Dihydroorotate dehydrogenase histidinyl tRNA synthetase 3-hydroxy-3-methylglutaryl-CoA acetylmuramoyl peptide ligase
reductase
OMP PPK prolyl tRNA synthetase 3-oxo-[ACP] synthase III UDP-NAM-Ala-glutamyl-DAP ligase
OMP decarboxylase seryl tRNA synthetase Pantothenate kinase UDP-N-acetylglucosamine 2-epimerase
UMP kinase glycyl TRNA synthetase Malonyl CoA:ACP transacylase N-acetylglucosamine-I-phosphate
uridyltransferase
UDP kinase cysteinyl tRNA synthetase UDP-N-acetylglucosamine 4-epimerase
Thymidylate synthetase alanyl tRNA synthetase UDP-murNAc peptapeptide synthetase
Ribonucleoside diphosphate aspartyl tRNA synthetase phospho-NAM pentapeptide transfer
reductase
S-adenosyl methionine hydrolase phenylalanyl tRNA synthetase lipopolysaccharide core synthesis
S-adenosyl homocysteine hydrolase anthranilate lipopolysaccharide 1,2 glucosyltransferase
phoshoribosyltransferase
Xanthine oxidase indole-3-glycerol phosphate

5‘ nucleotidase
synthase
queuosine biosynthesis
Commercially exploited
uracil phosphoribosyltransferase lglutamate-ammonia lyase
DNA -3-methyladenine glycosidase
dihydrofolate synthase
ppGpp synthetase
tRNA (5-methylaminomethyl-2- Not (widely) exploited but used
thiouridylate)-methyltransferase
GTP cyclohydrolase queuine tRNA ribosyltransferase by Nature
Dihyroneopterin aldolase
Dihydro-6-hydoxymethylpterin
pyrophosphokinase Predicted by genomics
Cell Wall Synthesis Inhibitors
Beta Lactams
Penicillins (PCN)
Cephalosporins
Carbapenems
Monobactams
Vancomycin
Bacitracin
Polymyxin
Beta Lactams
 B-lactams inhibit
transpeptidase.
 Only effective against
rapidly growing organisms
that synthesize
peptidoglycan. (Ineffective
against mycobacteria.)
 The size, charge and
hydrophobicity of the
molecule determines the
extent of its antibacterial
activity.
Protein Synthesis Inhibitors
 Target the bacterial ribosome.
 Bacterial – 70S (50S/30S)
 Mammalian – 80S (60S/40S)
 High levels may interact with
mammalian ribosomes.
 50S binders - Macrolides,
Clindamycin, Chloramphenicol,
Streptogramins.
 30S binders - Aminoglycosides,
Tetracyclines
 Mupirocin
Miscellaneous
 Fluoroquinolones
 Rifampin
 Metronidazole
Folate Antagonists
 Bacteria must synthesize folate in order to form
cofactors for purine, pyrimidine and amino acid
synthesis.
 p-aminobenzoic acid (PABA) agonists.
 Substrates for dihydropteroate synthetase.
 Sulfonamides
 Sulfamethoxazole (SMP)
 Sulfasoxazole
 Dihydrofolate Reductase Inhibitors.
 Inhibits activation of folate to its active form,
tetrahydrofolate.
 Trimethoprim (TMP)
 3. Struktur Kimianya

 A. Antibiotika -laktam.
 Turunan Penisilin. Contoh: ampisilin
 Turunan Sefalosporin. Contoh: seftriakson

 B.Turunan Amfenikol. Contoh: kloramfenikol

 C.Turunan Tetrasiklin. Contoh: klortetrasiklin

 D.Turunan Aminoglikosida . Contoh: kanamisin

 E.Turunan Makrolida. Contoh: eritromisin stearat

 F.Turunan Polipeptida. Contoh: basitrasin

 G.Turunan Linkosamida. Contoh: klindamisin

 H.Antibiotika Polien. Contoh: amfoterisin B

 I.Turunan Ansamisin. Contoh: rifampisin

 J.Turunan Antrasiklin. Contoh: mitramisin


Hancur (lisis)

(a) (c)
(b)

(a) E. coli sebelum perlakuan (Kontrol) (TEM 4000x)


(b) E. coli setelah perlakuan dengan Lactobacillus sp. (TEM 4000 x)
(c) E.coli setelah perlakuan dengan Lactobacillus sp.. (TEM 6300 x)
RESISTENSI ANTIBIOTIKA
 Resistensi antibiotika berarti suatu sifat tidak terganggunya
kehidupan sel mikroba oleh antibiotika

 1. Resistensi Genetik
 Resistensi genetik dapat disebabkan oleh :
 Mutasi spontan
 Mutasi spontan menyebabkan perubahan gen mikroba,
yang mulanya sensitif menjadi resisten, tanpa pengaruh
ada tidaknya antibiotika tersebut.

 2. Resistensi dipindahkan
 Pada resistensi ini, mikroba berubah menjadi resisten
akibat memperoleh suatu elemen pembawa faktor resisten.
 3. Resistensi non-genetik
 Bakteri dalam keadaan istirahat (pada fase
stasioner) biasanya tidak dipengaruhi oleh
antibiotika. Keadaan inilah yang dikenal sebagai
resisten non-genetik.

 4. Resistensi silang
 Resistensi silang adalah keadaan resistensi terhadap
antibiotika tertentu yang juga memperlihatkan sifat
resistensi terhadap antibiotika yang lain.

 Resistensi ini biasanya terjadi antara antibiotika


dengan struktur kimia yang hampir sama, seperti
antara berbagai tetrasiklin, atau antara antibiotika
dengan struktur kimia yang berbeda tetapi
mekanisme kerjanya hampir sama, misalnya antara
linkomisin dan eritromisin.
MEKANISME Resistensi
Antibiotika yang dipindahkan
 1. Transduksi
 Transduksi merupakan pengalihan DNA dari sel donor
ke sel penerima yang terjadi oleh bakteriofag dan akan
dipindahkan ke sel penerima ketika bakteriofag
menginfeksi bakteri baru sebagai sel penerima
 2.Transformasi
 Transformasi berarti pengalihan gen oleh DNA bebas
yang dibebaskan dari bakteri donor atau diekstraksi
keluar dari bakteri tersebut ke suatu bakteri penerima.
Dengan transformasi, bakteri memperoleh faktor resisten
langsung dari media disekitarnya (lingkungannya).
 3.Konyugasi
 Pada konyugasi, pemindahan elemen genetik terjadi
melalui kontak langsung dari sel ke sel. Dengan
konyugasi akan terbentuk jembatan konyugasi yang
memungkinkan pemindahan elemen pembawa faktor
resisten.
Plasmid
dan Resistensi Antibiotika
 Banyak bakteri, walaupun tidak semua, dapat
mengandung unsur-unsur DNA ekstrakromosom.
Plasmid merupakan DNA helai ganda berbentuk cincin
tertutup yang terpisah dari kromosom suatu sel bakteri
dengan ukuran yang lebih kecil dari kromosom bakteri

 Plasmid bertanggung jawab terhadap resistensi


ekstrakromosom. Bakteri yang semula peka terhadap
antibiotika dapat berubah menjadi tidak atau kurang
peka akibat memperoleh elemen genetik berupa DNA
ekstrakromosom yaitu plasmid faktor R .
Plasmid faktor R terdiri atas
2 unit, yaitu:
 1.Segmen RTF (Resistance Transfer Factor)
 Segmen RTF ini mencakup semua gen yang
bertanggung jawab terhadap pemindahan faktor R dari
satu sel ke sel lain yang berlangsung secara konyugasi
(gen-tra).

 2. Unit-r
 Merupakan gen yang membawa sifat resisten terhadap
satu antibiotika. Jika pada suatu plasmid terdapat
beberapa unit-r, maka plasmid tersebut membawa sifat
resisten terhadap berbagai antibiotika sekaligus.

Uji Resistensi Antibiotika
 Uji resistensi antibiotika ini dilakukan terhadap 17 kultur Enteropathogenic
Escherichia coli yang diisolasi dari feses penderita yang terinfeksi
(Serawak, Malaysia).
 Skema untuk proses kerja uji resistensi antibiotika ini dapat dilihat pada
Gambar 4 (Lampiran 1).

 Diambil biakan yang telah diremajakan dalam botol bijou dengan kapas
lidi steril dan ditanam pada media Mueller Hinton Agar dengan cara
mengoleskannya secara merata pada permukaan media.

 Disk antibiotika ditaruh hati–hati diatas biakan bakteri tersebut dan ditekan
perlahan dengan pinset steril agar benar–benar kontak dengan bakteri.

 Kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam.

 Karakterisasi dilakukan dengan mengukur dan membandingkan diameter


daerah hambatannya terhadap tabel standar.

 Sensitif dan Resisten terhadap antibiotika, disimpulkan berdasarkan


diameter daerah bening hambatan disekitar disk antibiotika tersebut.
 Skema Uji Resistensi Antibiotika
Biakan dalam LB Broth

Tanam pada Mueller Hinton Agar (Oxoid

Taruh Disk Antibiotika

C D Inkubasi 24 jam, pada 370C

B A

Ukur Diameter Daerah Hambatan, bandingkan dengan standar


Analisa Data
Perhitungan Persentase Resistensi
Antibiotika
 Dihitung untuk setiap jenis antibiotika yang
digunakan, dengan menggunakan rumus:

Jumlah kultur yang resisten x 100

% resistensi =Jumlah kultur yang diuji


Perhitungan Indeks Multipel
Resisten

 x
M A R =---------
 N

 x = Jumlah antibiotika yang resisten


 N = Jumlah antibiotika yang digunakan
 X
 A R I =____
 NY
X = Jumlah bagian yang resisten
terhadap antibiotika dari seluruh kultur yang
digunakan
N = Jumlah antibiotika yang digunakan
Y = Jumlah kultur yang digunakan
D
C

B A