Anda di halaman 1dari 68

KONSEP DASAR RESPON IMUN

 I. Sejarah Perkembangan.

1. Tahap Empirik.
a. Mitridatisme: pada bangsa Yunani abab 3 SM
Dengan meminum berbagai jenis racun yg berbahaya sedikit
demi sedikit sehingga akhirnya tidak menimbulkan efek
merugikan apabila terminum racun dalam dosis besar.

b. Variolasi : pada bangsa Cina dan Timur Tengah.


Mengoleskan atau menggoreskan pd kulit orang sehat cairan
atau kerak kulit penderita cacar yang tidak begitu parah agar
diharapkan nantinya terlindung dari serangan penyakit cacar.

c. Vaksinasi : Edward Jenner.


menggunakan bibit penyakit cacar dari sapi untuk ditularkan
pada manusia.

 2. Tahap Ilmiah.
Vaksinasi oleh Louis Pasteur yaitu menyuntikan kedalam
tubuh bibit penyakit yang telah dilemahkan dahulu.
contoh :
Penyakit kolera pd ayam yg disebabkan Pasteurella aviseptika
Peny kolera pada manusia yang disebabkan oleh Vibrio
cholera
Elie Metchnikoff.
dapat mengungkapkan bagaimana mekanisme sel
efektor (sel leukosit) berkerja thd benda asing
(antigen) bekerja yang berbentuk seluler. Yaitu
benda asing/bakteri berada dalam sel leukosit
melalui proses fagositosis.
Sel-sel leukosit disebut juga sel fagosit.
Mekanisme efektor bekerja thd serangan luar
berbentuk seluler.
Antigen

Konfigurasi diri (Self) Konfigurasi Asing (Non self)

Respon Imun Toleransi

R.I.Alamiah/Non Spesifik R.I. Adaptif/Spesifik

R.I.Al. Seluler R.I.Al.Humoral R.I.Ad.Seluler R.I.Ad.Humoral


SISTEM IMUN

 A. Respon Alamiah.
Respon alamiah ialah respon imun yang secara
alamiah sudah ada pada setiap individu. Antara lain :
o Pertahanan fisik/mekanik : (merupakan pertahanan
pertama) dapat dilakukan oleh :
1. Kulit tubuh yang utuh.
2. Sekresi kelenjer sebacea pada kulit yang meng
andung antimikroba. Seperti asam lemak dan pH
rendah.
3. Aliran air liur, air mata dan air seni.
4. Silia (rambut getar) pada trakea
5. Reflek batuk/bersin.
6. Cairan mukus dgn faktor antimikroba, seperti
lisozim, asam lambung, laktoferin, asam neurominik.
7. Suhu tubuh : banyak bakteri tidak bisa tumbuh pada
suhu > 37o C (suhu tubuh).
8. Umur : umur < 3 tahun atau>70 thn kurang peka thd
serangan kuman.
9. Komplemen, inteferon, protein sitotoksik (C-reactive
protein = CRP).
o Pertahanan Seluler.

Respon imun ini dilakukan oleh PMN, Monosit


dengan karakteristiknya :
1. Pergerakan amuboid.
2. Respon kemotaktik: gerakan ke arah sel target.
Rangsangan kemotaktik oleh bahan kimia
tertentu seperti komplemen jaringan.
3. Diapedesis.
Pergerakan dari sel efektor (PMN dan Monosit)
yang mampu bergerak dari kapiler ke sel target.
4. Fagositosis
Kemampuan efektor dapat menelan dan meng
hancurkan sel target.
5. Sitopepsis.
kemampuan utk membunuh sel target melalui
agen/bahan yang terdapat pd lisosom. Seperti:
a. Mieloperoksidase, H2O2, dan Halida (Cl- atau I-)
efektif dan dapat menghancurkan dinding sel
kuman.
b. Lisozim (enzim pada lisosom).
menyerang dinding sel kuman sehingga lisis,
baik thd bakteri gram negatif maupun gram
positif.
c. Asam lemak.
d. Enzim-enzim yg aktif pada pH rendah seperti
katepsin, pospatase dll.
 Respon Imun Spesifik/Adaptif.

Respon imun yang dibangkitkan setelah tubuh


terdedah/dimasuki oleh antigen.
Contoh vaksinasi

1. Respon Imun Adaptif seluler.


dilakukan oleh limfosit T & B.

2. Respon Imun Adaptif Humoral.


Dilakukan oleh kerjasama antara antigen,
komplemen dan antibodi.
 Sel yang bertugas mengenali benda asing adalah limfosit yang
merupakan imunokompeten dalam sistem imun yaitu MHC
(Mayor histocompability Compleks) pada hewan.
pada manusia namanya HLA (human limposit antigen) yang
ada pada limfosit.
 Konfigurasi asing disebut antigen atau imunogen

Konfigurasi Asing

Respon Imun Toleransi

R.I.Alamiah/Non Spesifik R.I. Adaptif/Spesifik

R.I.Al. Seluler R.I.Al.Humorah R.I.Ad.Seluler R.I.Ad.Humoral


 Respon imun alamiah:
1. Humoral : antigen akan dihadapi oleh berbagai enzim,
komplemen dan interferon
2. Seluler : antigen akan dihadapi oleh sel-sel fagosit.
misalnya netrofil (PMN) dan sel makrofag.

 Respon imun Adaptif.:


1. Humoral : antigen akan dihadapi oleh antibodi.
2. Seluler : Antigen akan dihadapi oleh limfosit T`dan B.

 Perbedaan Respon adaptif dengan respon imun alamiah.


dimana respon imun adaptif:
a. bersifat spesifik.
b. heterogen.
c. memiliki memori (daya ingat).

 Komponen sistem imun : ttd


1. komponen genetik.
2. komponen molekuler.
3. komponen seluler.

o Komponen Molekuler yaitu:


1. Antibodi yg berbentuk globulin yang jenis sangat heterogen
2. Antigen. Misalnya antigen HLA.

o Komponen seluler.
komponen seluler utama seluler dr sistim imun yaitu makrofag
dan limfosit
 Molekul-molekul protein pd permukaan (membran)
limfosit berfungsi:

1. Mediator : berfungsi menyampaikan komunikasi antar sel.

2. Reseptor : berfungsi membedakan berbagai macam


konfigurasi asing.

3. Marka : berfungsi sebagai tanda atau marka.

 Fungsi Respon Imun.

a. Pertahanan : pertahanan thd antigen dr luar tubuh.


misalnya invasi bakteri atau parasit.

b. Homeostatis : menjaga keseimbangan sel dalam tubuh.


untuk menjaga keseimbangan tersebut terjadi proses
degradasi dan katabolisme yang bersifat normal agar unsur
-unsur sel yg telah rusak dapat dibersihkan dr tubuh.

c. Perondaan (surveilance).
untuk selalu waspada dan mengenal adanya perubahan
dan selanjutnya secara cepat membuang dan mengeliminir
konfigurasi yang timbul pada permukaan sel abnormal.
PENYIMPANGAN SISTEM IMUN.

Yaitu terjadinya proses penyimpangan pd seluruh jaringan


baik morfologis maupun gangguan fungsional.

1. Gangguan Morfologis.
misalnya tidak berkembangnya secara normal kelenjer
timus sehingga mengakibatkan defesiensi pd limfosit T.

2. Gangguan Fungsional.
Misalnya gangguan fungsi homostatis pada sistem imun
sehingga dapat menimbulkan kelainan yang dinamakan
autoimun. Sistem melihat konfigurasi tubuh sendiri (self)
sebagai asing akibatnya respon imun ditujukan kepada
jaringan tubuh sendiri sehingga merugikan tubuh sendiri.
misalnya penyakit Lupus eritmatosus.

3. Gangguan Surveilance (perondaan).


Misalnya gangguan akan tidak berkerjanya sistem
pemantauan terhadap perubahan-perubahan sel tubuh
sehingga akhirnya sel-sel abnormal berkembang biak diluar
kendali yang menimbulkan penyakit yang bersifat
pertumbuhan ganas.
Misalnya tumor dan kanker.
FAKTOR PENGUBAH MEKANISME IMUN

 Faktor metabolik.
1. Misalnya pada keadaan hipoadrenal dan hipotiroidisme
akan mengakibatkan daya tahan thd infeksi menurun.
2. Misalnya pada pengobatan yang menggunakan steroid
akan mudah mendapat infeksi bakteri maupun virus karena
steroid dapat menghambat fagositosis dan produksi
antibodi.

 Faktor Lingkungan.
Masyarakat yang hidup pd lingkungan kumuh lebih mudah
terserang infeksi dari pada masyakat lingkungan bersih.

 Faktor Gizi.
Gizi yang cukup dan sesuai sangat penting untuk
berfungsinya sistem imun secara normal.

 Faktor Anatomi.
Adanya kerusakan pada permukaan kulit dan selaput lendir
akan mudah terjangkit penyakit.

 Faktor Fisiologi.
misalnya.
1. getah lambung akan menghambat bakteri patogen.
2. air seni yg normal akan membilas saluran kemih sehingga
sehingga menurunkan kemungkinan infeksi bakteri.
3. didalam darah ditemukan “natural antibodi” yang bersifat
non spesifik.
 Faktor Umur.
ini disebabkan kemunduruan biologis secara umum yang juga
kemunduran timus.

 Faktor Mikroba.
ORGANISASI SISTEM IMUN
ORGANISASI SISTEM IMUN

 Stem sel (sel batang) yang diproduksi oleh sumsum


merupakan sel multipoten. Dalam perkembangannya sel ini
dpt menjadi promonosit dan prelimfosit (limfosit primitif).
 Promonosit kemudian menjadi monosit didalam pembuluh
darah dan bila memasuki jaringan akan menjadi makrofag.
 Perkembangan prelimfosit tergantung organ yg
mempengaruhi.
 bila masuk di Timus akan menjadi limfosit T (sel T) yang
nantinya bertanggung jawab pada sistem imunitas seluler
(cell-mediated immun responses/CMI).
 bila di organ yg ekivalen dengan bursa of fabricus pd unggas
atau gut-associated limphoid tissues (GALT), seperti tonsil,
umbai cacing, limfa, atau berkas Peyer’s didalam usus akan
berubah menjadi limfosit B (sel B) yang akan bertindak
sebagai mediator imunitas humoral (humoral-mediated
immunresponses / HMI).
 Begitu masuk kedalam jaringan, antigen difagositosis oleh
makrofag diproses menjadi superantigen. Kemudian makrofag
akan bertindak sebagai sel penyaji antigen (Antigen-
Presenting Cell/APC), yaitu mempresentasikan antigen yg
sudah diproses kepada sel T dan sel B. Sel dendritik dan sel
Langerhans juga dpt bertindak sebagai APC.
 Sel T dan B yg telah tersensitasi antigen akan mengalami
proliferasi menjadi blas dan mengalami diferensiasi.
1. sel T menjadi Tmemori, T efektor dan T regulator
sel T efektor ttd :
Tk (killer/sitotoksik)
Tdh (delayed hypersensitivity).
sel T regulator ttd:
Th (helper).
Ts (supresor).

 Sel Tk dan sel Ts dikelompokan menjadi sel T sitotoksik-


supresor atau sel T8 karena mengekpresikan antigen CD4-8+
pada permukaan selnya.
 Sedangkan sel Th (helper) dikenal sel T4 karena
mengekspresikan antigen CD4+8- pada permukaan selnya.
 Sel Th akan membantu sel plasma memproduksi antibodi.
Mekanisme Respon imun.

 Titik sentral mekanisme ini terletak pada peran dan fungsi


limfosit T terutama T CD 4 (Sel Th).
 Setelah antigen diproses oleh APC (antigen Presenting Cell)
yakni makrofag, sel langerhans dan sel Dendritik, maka
antigen akan disajikan ke sel Th oleh APC. Akibatnya Th akan
teraktifasi dan mengakibatkan bangkitnya respon seluler
maupun humoral.
 Untuk mengaktifkan Sel Th (T4) dibutuhkan 2 sinyal.
1. MHC (mayor Histocompability Complex) atau HLA. Suatu
protein yang terletak pada permukaan APC yang berfungsi
untuk mengidentifikasi apakah Self (diri sendiri) atau non
self (asing).
2. Inteleukin (IL-1) suatu protein terlarut yang dihasilkan oleh
APC
 Sel T4 sudah tersensitasi antigen akan mengaktifkan sel T8
dengan melepaskan sitotoksin yang berfungsi menghancurkan
sel target atau sel asing.
 Aktifasi sel B memerlukan sinyal tambahan dari T4 berupa
mediator limfokin yaitu :
1. B Cell Growth Factor (BCGF) → akan merangsang
proliferasi sel B
2. B Cell Differentiation Factor (BCDF) → akan menginduksi
sel B menjadi sel plasma → menghasilkan antibodi

 Sebagian sel B yang terproliferasi mengalami diferensiasi


akan menjadi sel B memory.

 Bila kebutuhan antibodi cukup, maka sel plasma akan ditekan


oleh Ts. Dengan demikian jelas bahwa produksi antibodi oleh
sel plasma diatur oleh salah satu sel T regulator.
ANTIGEN DAN IMUNOGENITAS

 Antigen :
adalah bahan/molekul yang dapat menimbulkan respon imun
baik humoral maupun seluler dan dpt bereaksi dengan produk
respon tadi dan merupakan sasaran / target dari respon imun.

 IMUNOGENITAS
Adalah kemampuan untuk menginduksi respon imun dengan
membentuk antibodi dan /atau membangkitkan respon imun.

Imunogenitas = (keasingan)(kompleksitas)(ukuran molekul).

 Keasingan dapat dibagi:

o Autolog
bahan / material dari individu yg sama.

o Singgenik.
bahan / material dari saudara kandung atau kembar
identik sehingga secara genetik sama atau hampir sama.

o Alogenik (homolog).
bahan / material berasal dari spesies yg sama tetapi beda
individu.
ex.
transplantasi ginjal dari ibu ke anak.
cangkoknya disebut alograf.
o Xenogenik (heterolog).
bahan / material dari spesies yg berbeda.
misalnya.
transplantasi ginjal dari monyet ke manusia.
cangkoknya disebut xenograf.

 Otak, ginjal dan lensa mata tidak mempunyai kelenjer


limfatik shg tidak mempunyai sel yg memproduksi
antibodi karena itu jarang sekali terjadi reaksi penolakan
pada transplantasi lensa mata.
 FAKTOR-FAKTOR YG MEMPENGARUHI IMUNOGENITAS

o Keasingan.

o Ukuran molekuk.

BM < 10.000 imunogenik lemah & tidak ada


BM > 100.000 imunogenik potensial.

o Kerumitan struktur kimia.


misalnya asam amino aromatik (ex. Tirosin) lebih imunogenik dari
asam amino non aromatik.

o Konstitusi genetik.

o Metoda Pemasukan.

o Dosis.
dosis tinggi (besar) lebih imunogenik dari dosis rendah.

 Epitop.
bagian dari antigen yang akan berikatan dengan antibodi.

 Beberapa Jenis Imunogen.


1. Protein
2. polisakarida peptidoglikan
3. polipeptida sintestis.
4. Asam nukleat.
5. Hapten :
zat kimia molekul kecil yang tidak imunogenik tetapi dapat bereaksi
dgn antibodi spesifik.
ex. Hapten dr senyawa meta sulfonat lebih imunogenik >orto>para
Mekanisme Respon Imun Alamiah
Mekanismenya adalah dengan memobilisasi unsur
fagositik ke daerah tempat beradanya konfigurasi asing
atau bagian dari reaksi radang, disusul adanya
kerusakan jaringan. Selanjutnya terjadi peristiwa seluler
yang sistimik sebagai usaha hospes untuk proses
penyembuhan.

Humoral : dengan menggunakan enzim, komplemen,


interferon
Respon Imun Spesifik (adaptif)

 Apabila terjadi rangsangan Imunogenik (masuk


antigen) maka terjadi serangkaian perubahan pada sel
limfosit T dan limfosit B.

 Respon Imun Spesifik melibatkan :


- limfosit T
- limfosit B
- Sel makrofag (sel pelengkap)
 Cara Limfosit mengenali Antigen

Dalam proses pengenalan antigen bakteri atau


parasit, limfosit B dapat melaksanakan sendiri dengan
bantuan reseptor. Tapi limfosit T reseptornya bersifat
blind (buta) untuk perlu adanya rantai α dan β yang
membentuk Dimer dengan molekul CO3 sedangkan
limfosit B sebagai molekul imunoglobulin (antibodi)
[gambar C]

o Jadi limfosit T memerlukan sel lain yakni makrofag


sebagai sel asesoris (pelengkap) untuk menyajikan
antigen pada limfosit T

o Sel penyaji disebut Antigen Presenting Cell (APC)


yaitu sel makrofag .
Sebelum disajikan ke limfosit T, antigen harus diproses
oleh sel T helper (Th).

• Respon Imun Sekuder (Respon Anamnesik)


Apabila host mengalami pengenalan terhadap
Imunogen yang sama untuk kedua kalinya beberapa
waktu kemudian setelah respon imun primer.
Yang berperan di sini adalah sel memory
LIMFOSIT DAN JARINGAN LIMFOID

 Perkembangan Sistem Imun


Differensiasi sel-sel untuk melaksanakan fungsi imunologis
baik non spesifik maupun spesifik berasal jaringan
hemopoietik.

 Hemositoblas thymus Limposit T

bursa fabricus Limposit B

Limposit T Imunokompeten
Limposit B

Thymus dan Bursa Fabricus (ekivalen) merupakan tempat


diferensiasi sel-sel limfosit imunokompeten disebut
jaringan limfoid sentral atau jaringan limfoid primer

 Jaringan limfoid lain seperti limfa, tonsil, kelenjar limfa dan


lainnya disebut jaringan limfoid sekunder atau jaringan
limfoid perifer.

 Populasi Limfosit :
- limfosit T
- limfosit B
- sel pembunuh ( killer cell = k cell )
- sel pembunuh alam ( Natural Killer Cell = NK Cell) →
membunuh sel-sel tumor
MHC (Major Histocompatibility Compleks)
 Pada manusia disebut HLA (Human Leucocyte Antigen).

 Molekul MHC adalah suatu molekul ( polipeptida pada


limfosit T yang berfungsi untuk menentukan apakah
antigen itu asing (non self) atau bukan asing (self).

 Antigen hanya dapat dikenali oleh sel T bila berhubungan


dengan molekul MHC.

MHC dibagi 2 :
1. MHC kelas I : akan dikenali oleh sel T8
2. MHC kelas II : akan dikenali oleh sel T4 (T help )

Selama proses pematangan atau imunokompetensi sel T


dalam timus, sel T yang mengenal antigen self akan
dibuang,sedangkan yang mengenal non self akan
dipertahankan.

Kesalahan dalam mengeliminasi sel T mengenal antigen self


akan mengakibatkan kelainan autoimun sedangkan
kegagalan mempertahankan pengenal non self (asing) akan
menyebabkan imunodefisiensi sehingga mudah terserang
infeksi dan kemungkinan terjadi penyebaran tumor.
 Antigen HLA dibagi 2: berdasarkan struktur,
distribusi dalam jaringan dan fungsinya yaitu:

1. Molekul HLA kelas I : terdiri dari 1 rantai


berdasarkan gen pengkode pada lengan pendek
kromosom 6. HLA kelas I dibagi:
HLA-A
HLA-B
HLA-C
agar dikenali oleh Sel T8 (CD8) yang umumnya
sitotoksik, antigen harus berkombinasi dengan
molekul kelas I.

2. Molekul HLA kelas II : terdiri dari 2 rantai.


berdasarkan gen pengkode pada lengan pendek
kromosom 6. HLA kelas II dibagi:
HLA-DR
HLA-DP
HLA-DQ
gambar 7.
Regio hidrofilik ekstra seluler:
α1 : asam amino 1-84
α 2 : asam amino 85-178

β1 : asam amino 1-91


β2 : asam amino 92-192

HLA-DR : α 229 asam amino.


β 237 asam amino

HLA-DP : α 229 asam amino.


β 229 asam amino.

HLA-DQ : α 234 asam amino


β 229 asam amino

Agar dapat dikenali oleh T4 (CD4) yang umumnya T helper


antigen harus berkombinasi dengan HLA kelas II.
STRUKTUR DAN FUNGSI IMUNOGLOBULIN
(ANTIBODI)

Imunoglobulin (antibodi =Ig)


merupakan sekelompok protein yang berperan dalam
mengantarkan tanggapan kekebalan (respon imun) pada
organisme tingkat tinggi.

o Ig dihasilkan oleh sel-sel plasma.

o Sebahagian besar Ig terdapat dalam serum dan berbagai


cairan sekresi dan bertanggung jawab dlm sistem kekebalan
humural.

o Ig dapat dibedakan berdasarkan keanekaragaman


antigeniknya:

1. Keanekaragaman Alotipik.
keaneragaman Ig yang dikontrol secara genetis dr individu/
spesies bersangkutan.

2. Keanekaragaman Idiotipik.
keanekaragaman berdasarkan sifat unik dari daerah
pengikatannya
Sintesa imunoglobulin:
Sintesa imunogloulin dilakukan oleh sel plasma.
Sel plasma berasal dari sel B.
 Struktur Imunoglobulin (Antibodi = Ig).

Struktur imunoglobulin (Ig) memiliki struktur yg


khas seperti huruf Y.

Imunoglobulin berupa glikoprotein yang terdiri


(mengandung) 82-96 % polipeptida dan 4-18 %
karbohidrat.

tiap-tiap Ig berupa unit monomer yang serupa


yaitu empat (4) rantai polipeptida yaitu:

sepasang rantai berat (H2) = molekulnya besar.


sepasang rantai ringan (L2 ) = molekulnya kecil.

keempat polipeptida ini digabungkan oleh ikatan


disulfida, karena adanya asam amino sistein.

NH2—_HS—CH2—CH—COOH
sistein
 Rantai H dan L (gambar 2&3).

o polipeptida rantai H memiliki BM 50.000-70.000


polipeptida rantai L memiliki BM 22.000

o rantai H ttd : Vh, Ch1, Ch2, Ch3, Ch4 dan selanjutnya


rantai L ttd : VL dan CL

o Ada 5 macam rantai H.


1. rantai γ untuk IgG
2. rantai α untuk IgA
3. rantai μ untuk IgM
4. rantai δ untuk IgD
5. rantai ε untuk IgE

o Ada 2 macam rantai L


1. rantai κ
2. rantai λ

o Ig tersusun ada yang:


1. monomer
2. dimer
3. trimer
4. pentamer
Daerah dan bagian khusus rantai H dan L

 Fragmen Fab dan Fc


Fab bagian antibodi tempat mengikat antigen pada
daerah epitop.
Fc bagian yang menempel pada permukaan sel.

bila Ig dipecah dengan enzim papain, akan menjadi 3


keping molekul yaitu:

2 keping Fab
1 keping Fc

bila dipecah dengan pepsin akan menjadi 2 keping.


1 keping Fab
1 keping Fc

 Daerah V dan C
daerah V (variabel) yaitu ujung amino
daerah C (konstan) yaitu ujung karboksil
Rantai J dan komponen sekresi.

 Beberapa Ig ttd lebih satu unit monomer tunggal misalnya


IgA dapat dijumpai berupa dimer atau trimer
IgM berupa pentamer.

 Untuk membentuk struktur dimer, trimer atau pentamer


diperlukan suatu molekul peptida yang disebut rantai J.

 Rantai J menghubungkan monomer-monomer Ig melalui


ikatan disulfida.

 Pada Ig sekresi seperti IgAs dijumpai suatu komponen


yang disebut komponen sekresi yg merupakan suatu
polipeptida tunggal dengan BM 70.000 yang diikat dengan
molekul Ig melalui ikatan disulfida
Fungsi Ig (Imunoglobulin).

 Fungsi utama yaitu sebagai antibodi mengikat


antigen pada epitop penyebab timbulnya respon
imun. Fungsi ini dilakukan pada daerah Variabel
dari rantai H dan L.

 Fungsi lainnya dilaksanakan oleh Vc misalnya ;

1. Mengikat reseptor pada membran mastosit shg


timbul degranulasi yg menimbulkan gejala alergi.
2. Mengaktifkan komplemen.
karena dapat mengikat molekul komplemen.
3. Membawa Ig.
kemampuan IgG menembus plasenta diduga juga
karena aktifitas Vc tersebut.
Fungsi Kelas IgG

 Merupakan imunoglobulin utama dalam serum


manusia kira-kira 80-85 %.
 Pada tanggapan primer diproduksi sedikit tetapi
pada reaksi sekunder (rangsangan) ulang akan
diproduksi sangat banyak.
 Mrpk pertahanan utama pada infeksi bakteri.
 Sangat penting bagi bayi karena mrpk satu-satunya
antibodi yg dpt melewati plasenta dan memberi
kekebalan pd bulan-bulan pertama sesudah
kelahiran.
 Bersama IgA dpt dijumpai pada kolustrum shg
berguna sebagai pelindung alami bayi menyusui.
Fungsi sIgA

 Berbentuk monomer, dimer dan trimer.

 IgA trimer dijumpai pada cairan sekresi. Seperti


sekresi seromukosa, sekresi air ludah, sekresi
tracheobrankial, kolustrum, susu, dan sekresi
saluran kemih.

 Komponen sekresi disintesa oleh epitel.


Fungsi IgM

• Terbatas dijumpai dalam darah berbentuk pentamer


dengan BM 950.000 – 1.000.000.

• Merupakan imunoglobulin utama dalam serum pada


minggu-minggu awal setelah infeksi.
Fungsi IgE.
 Merupakan antibodi reagenik yg berperan
sebagai perantara dalam reaksi alergi
(hipersensitifitas tipe cepat).

 Reagin adalah antibodi terhadap alergen yg


berperan dalam reaksi alergi.
 Antibodi reagenik adalah antibodi yg mempunyai
kemampuan mengikat diri secara erat pada
jaringan. Bila alergen masuk lewat kulit atau
inhalasi, maka terjadi ikatan antara reagenik
dengan alergen dipermukaan sel terutama sel
Mast menyebabkan menghasilkan histamin dan
dapat menyebabkan vasodilatasi, kontraksi otot
polos, peningkatan permiabilitas pembuluh darah.
 Diperlukan sebagai respon imun humoral thd
infeksi parasit cacing.

Fungsi IgD.
 Fungsinya sampai saat ini belum jelas
Fungsi Biologis Sistem Imun Sekresi (sIgA).

o 1. Aktifitas Antiviral.
misal : vaksinasi folio
peran Ig sekretori sebagai proteksi thd infeksi virus telah
diketahui dan induksi antibodi sekretori yang spesifik terhadap
virus tergantung pada virus dan dosis imunisasinya.

Vaksinasi folio

virus hidup lemah melalui mulut Virus mati dgn suntikan


(sabin) (salk)

Menghasilkan antibodi
IgM, IgG dan IgA dalam
serum

Ditemukan antibodi Dapat meningkatkan IgG dlm


Sekretori dlm saluran serum dan tidak mempunyai
Pencernaan, tenggorokan antibodi dlm selaput lendir.
Dan bertahan 5 tahun. Dan Bila terjadi infeksi pada usus
Apabila terinfeksi virus polio akan bertindak sebagai carier
Melalui makanan dpt
dilumpuhkan oleh sIgA
o 2. Aktifitas Antitoksin.
mikroorganisme menghasilkan eksotoksin. Adanya antibodi
sekretori dpt melindung tubuh terhadap perkembangan
penyakit.

o 3. Aktifitas Antibakterial.
misalnya pencegahan karies.
pembentukan koloni bakteri pada permukaan gigi (plak)
merupakan awal dari terjadinya karies gigi, karena didalamnya
terdapat Streptococcus mutans. Dengan vaksinasi bakteri
penyebab karies akan dihasilkan sIgA yg dapat mencegah
penempelan bakteri (bentukan plak gigi)
FAGOSITOSIS

 Makrofag adalah sel yg mempunyai kemampuan


melakukan fagositosis partikel atau sel asing.

 Fagositosis adalah proses pemasukan dan


penghancuran benda asing oleh sel makrofag
melalui reseptor spesifik atau non spesifik pada
permukaan membran sel dengan cara membentuk
gelembung yang berasal dari membran selnya.
 dilakukan oleh :
1. Fagosit Mononuklear atau makrofag.
Misalnya monosit.
2. Fagosit Polimorfonuklear.
Misalnya netrofil dan eusinofil

 Opsonisasi adalah proses fagositosis dengan cara


menyelimuti dulu benda asing dengan antibodi atau
dengan C3 (unsur komplemen) kemudian
difagositosis.

 Endositosis adalah proses pemasukan benda asing


oleh sel makrofag dalam bentuk gelembung-
gelembung.

 Pinositosis adalah proses pemasukan benda asing


oleh sel makrofag dalam bentuk gelembung-
gelembung kecil.
Proses Fagositosis dan Autofagosiss
SITOKIN.

 Sitokin adalah suatu mediator polipeptida yang dihasilkan oleh


sel dalam reaksi radang yang berfungsi sebagai isyarat antara
sel-sel untuk mengatur respon setempat atau kadang-kadang
juga secara sistemik.

 Sitokin berfungsi mengatur naik turunnya respons imunologik


melalui pengaturan pertumbuhan dan mobilitas dan
diferensiasi leukosit , inflamasi dan penyembuhan akibat
cedera.

 Sitokin terdiri dari monokin, limfokin, interferon dan faktor


pertumbuhan (transforming-groth factor).

 Beberapa sitokin diberi nama sesuai aktifitas biologisnya.


misalnya:
1. MIF (macrophage inhibition factor).
2. MAF (macrophage activation factor).
3. OAF (osteoclast activation factor).
4. TNF (tumor necrosis factor).
5. IFN (interferon)
6. dan lain-lain

 Sitokin disintesa dan disekresikan dlm bentuk peptida atau


glikoprotein dengan BM rendah yakni 6.000-60.000.

 Berdasarkan sel penghasilnya sitokin dibedakan atas:


1. Monokin yaitu sitokin yang dihasilkan monosit/makrofag
2. Limfokin yaitu sitokin yang dihasilkan limfosit.

 Interleukin (IL) mrpk sitokin dan sudah ada 12 jenis interleukin.


Monokin.
 Suatu mediator yang dihasilkan daerah infeksi. Mediator ini
akan dibawa ke otak dgn menghasilkan efek pengaturan
panas sebagai demam suatu infeksi.
contoh:
demam tsb dihasilkan oleh 4 jenis sitokin yaitu ;
a. IL-1
b. TNF (tumor necrosis factor).
c. IFN-α (interferon- α)
d. IL-6

Limfokin.
 Suatu mediator yang muncul didaerah infeksi yg dihasilkan
oleh limfosit T.
Limfokin ada 8 jenis:
1. γ-IFN (gamma interferon)
2. IL-2
3. IL-3
4. IL-4
5. IL-5
6. IL-6 (IFN-β2)
7. IL-7
8. GM-CSF (Granulocyte-Macrophage Colony Stimulating
Factor)
INTERFERON.
 Interferon suatu protein yang pembentukannya diinduksi oleh
sel-sel yg terinfeksi virus dan berperan menghambat replikasi
virus.

 Interferon dibagi berdasarkan sel yang menghasilkannya:


1. Interferon - α (IFN-α) diproduksi oleh sel leukosit.
2. Interferon – β (IFN-β) diproduksi oleh sel fibroblast.
3. Interferon – γ (IFN-γ) diproduksi oleh Sel T dan sel NK.

gambar
Sistem Komplemen.

 Komplemen (C) suatu kelompok protein plasma


dan protein membran sel yg berperan dlm proses
pertahanan humoral.

 Fungsi komplemen :
1. Melisis : pada sel bakteri dan virus.
2. Opsonisasi : sel bakteri atau virus beramplop
akan dilapisi protein komplemen spesifik
sehingga dikenali oleh reseptor sel fagosit dan
dilakukan fagositosis.
3. Mengatur respon inflamasi dan respon imun.
protein komplemen adalah penghasil fragmen
peptida yang mengatur respon inflamasi dan
imun.
protein ini menyebabkan :
a. vasodilatasi pada daerah inflamasi.
b. Pelekatan fagosit pada daerah endotel
pembuluh darah menuju daerah inflamasi
yang kemudian membersihkan agen infeksi.
AKTIVASI KOMPLEMEN.

 Aktivasi komplemen dapat melalui;


a. Jalur klasik
b. Jalur alternatif.

 Baik jalur klasik maupun alternatif kuncinya


adalah C3 yang diikat dan dipecah oleh komplek
imun (komplek Ag-Ab).

 Melibatkan 11 macam peptida yaitu C1q, C1r,


C1s, C2,C3,C4, C5,C6,C7,C8 dan C9.

 Hasil akhir sistem komplemen ini adalah


membran kuman yg diikat oleh antibodi (Ab) akan
dilobangi dan terjadinya lisis sel kuman.
MEKANISME SISTEM KOMPLEMEN

 Jalur Klasik.
Kombinasi IgM dan IgG dgn permukaan sel, mengakibatkan
C1q membentuk komplek C1r dan C1s melalui kalsium akan
mengaktifkan C1r menjadi enzim C1r aktif yg berfungsi
memecah C1s sehingga komplemen ini mempunyai aktifitas
enzim esterase yg akan memecah C4 menjadi C4a dan C4b.

Dengan dibantu oleh ion Magnesium, C4b pd sel target


berintereaksi dan mengikat C2 dan memecah C2 menjadi C2a
dan C2b dan membentuk enzim C3-konvertase C1 4b(2b) 2a
yang akan mengubah C3 menjadi C3a dan C3b.

C3b dan C1 4b(2b) 2a menbentuk enzim (C1 4b(2b) 2a 3b)


yang akan mengubah C5 menjadi C5a dan C5b. Selanjutnya
C5b akan menbentuk komplek dengan C6 dan C7 yaitu
(C5b 67) pada permukaan sel target.
Komplek ini (C5b67) dengan C8 dan C9 membentuk C5b6789
yang akan melisis sel target dan mengakibatkan sel target
mati.

 Jalur Alternatif.
didalam plasma juga terdapat C3 (H2O) dan dengan bantuan
ion Magnesiun akan berintereaksi dgn properdin dan faktor B
membentuk enzim C3bB6P mengubah mengubah C3 menjadi
C3b.
C3b berubah menjadi enzim konvertase (Cb3n)BbP. Enzim ini
mengubah C5 menjadi C5b. Selanjutnya C5b akan menbentuk
komplek dengan C6 dan C7 yaitu (C5b 67) pada permukaan
sel target.
Komplek ini (C5b67) dengan C8 dan C9 membentuk C5b6789
yang akan melisis sel target dan mengakibatkan sel target
mati.
Gambar jalur Klasik dan alternatif kerja Komplemen.

Lisisnya Sel Target (bakteri)


REAKSI HIPERSENSITIVITAS

 Sistem imunitas spesifik seperti pisau bermata dua:


disatu pihak merupakan sistem pertahanan tubuh,
dilain pihak dapat menimbulkan kerusakan jaringan
(reaksi imun patologis) sebagai akibat respon imun
yang berlebihan.

 Reaksi hipersensitivitas dibagi 4 :


a. Type I (reaksi anafilaktik)
Merupakan reaksi hipersensitivitas tipe cepat
b. Type II (reaksi sitotoksik)
c. Type III (reaksi komplek Imun)
d. Type IV (reaksi hipersensitivitas tipe lambat)
R.H. TIPE I(REAKSI HIPERSENSITIVITAS ANAFILATIK)

 Reaksi type I merupakan reaksi hipersensitivitas tipe cepat


yang disebabkan antigen dengan IgE yang terikat pada sel
mast atau basofil didalam sirkulasi melalui FC.
 Akibatnya terjadi degranulasi dan pelepasan bahan-
bahan vasoaktif yang akan bertindak sebagai
mediator reaksi hipersensitivitas tipe cepat.
 Bahan-bahan vasoaktif itu adalah:
1.Histamin → dapat meningkatkan permeabelitas
kapiler, kontraksi otot polos, vena
dan eritema (respon kulit)
2. Brakinin → kontraksi otot polos, meningkatkan
permeabelitas vaskuler,
Menimbulkan udema.
3. α2 makroglobulin → aktifasi kolagenase
4. SRA (Slow Reacting Substance of Braphylakis).
memperlama kontraksi otot polos
 Anafilaksis dapat berakibat fatal pada manusia
karena kontraksi otot polos brankiolar dan edema
pada sistem saraf pusat.
 Gambar RH I
R.H. II (REAKSI SITOTOKSIK)

 Merupakan reaksi sitotoksik yang tergantung antibodi.


 Reaksi ini terjadi karena antibodi IgG atau IgM dalam
keadaan bebas bereaksi dengan antigen yang berada
dipermukaan sel atau jaringan.
 Antigennya dapat berupa bagian dari sel atau jaringan.
 Interaksi antigen dan antibodi akan mengakibatkan :
a. Fagositosis sel melalui opsonik
b. Sitotoksivitas ekstra seluler oleh sel K
c. Aktivasi sistem komplemen secara lengkap sampai C8
dan C9 sehingga melisis sel.

Gambar RH II
R.H. III (REAKSI KOMPLEK IMUN)

 Ag – Ab → disebut komplek imun


 Terjadi bila komplek imun ditemukan dalam jaringan
atau sirkulasi dinding pembuluh darah dan
mengaktifkan komplemen. Antibodi disini biasanya IgM
atau IgG
 Komplemen yang diaktifkan kemudian melepaskan
makrophage chemotactic faktor. Makrofag yang
dikerahkan ke tempat tersebut akan melepas enzim
yang dapat merusak jaringan sekitarnya.

 Manifestasi reaksi tipe III tidak hanya tergantung pada


banyaknya komplek imun yang terbentuk tetapi juga
tergantung pada perbandingan relatif antigen dan
antibodi.

 Bila antibodi > antigen mengakibatkan terjadinya


presipitasi pada jaringan setempat karena terbentuk
komplek yang tidak larut dalam pembuluh darah.
 Bila antigen > antibodi mengakibat terbentuk komplek
yang larut yang akan mengikuti sirkulasi darah dan
membentuk deposit di berbagai bagian tubuh terutama
ginjal, persendian dan kulit sehingga mengakibatkan
reaksi sistemik.
Gambar R.H. III
R.H. IV. (REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE LAMBAT)

 Reaksi ini terjadi karena respon sel T yang sudah


disensitifasi terhadap antigen akan melepaskan
limfokin antara lain : MIF, MAF dan mengaktifkan sel
Tkiller (Tk).
 Makrofag yang akan diaktifkan dapat menimbulkan
kerusakan jaringan .
 Reaksi berkembang 12 – 24 jam
 Gambar RH IV