Anda di halaman 1dari 22

Senin, 17 September 2018

PROSES TERJADINYA PERILAKU


&
MACAM-MACAM PERILAKU

Izzanil Hidayati, S.Psi., M.A.


DEFINISI

• Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia baik yang diamati langsung,
maupun yang dapat diamati oleh pihak luar.
• Dalam Kamus bahasa Indonesia, kata perilaku berarti tanggapan atau reaksi
seseorang (individu) terhadap rangsangan atau lingkungan.

• Bohar Soeharto mengatakan perilaku adalah hasil proses belajar mengajar yang
terjadi akibat dari interksi dirinya dengan lingkungan sekitarnya yang diakibatkan oleh
pengalaman-pengalaman pribadi.
• Notoatmojo (1985) menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan
suatu organisme yang dapat diamati bahkan dapat dipelajari.
• Dari segi biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme makhluk
hidup yang bersangkutan, sehingga perilaku manusia adalah tindakan atau aktifitas
manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas.
• Para psikolog, di antaranya Morgan dan King, Howard dan Kendler, Krech,
Crutchfield dan Ballachey, mengatakan bahwa perilaku seseorang
dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan hereditas.

• Faktor lingkungan yang mempengaruhi perilaku adalah beragam, di


antaranya pendidikan, nilai dan budaya masyarakat, politik, dan sebagainya.

• Sedang faktor hereditas merupakan faktor bawaan seseorang yang berupa


karunia pencipta alam semesta yang telah ada dalam diri manusia sejak lahir,
yang banyak ditentukan oleh faktor genetik.
...

• William James, seorang psikolog percaya bahwa walau instink merupakan hal yang
mempengaruhi perilaku sosial, namun penjelasan utama cenderung ke arah kebiasaan - yaitu
pola perilaku yang diperoleh melalui pengulangan sepanjang kehidupan seseorang. Hal ini
memunculkan ”nurture explanation”.

• Tokoh lain yang juga seorang psikolog sosial, John Dewey mengatakan bahwa perilaku kita tidak
sekedar muncul berdasarkan pengalaman masa lampau, tetapi juga secara terus menerus
berubah atau diubah oleh lingkungan - ”situasi kita” – termasuk tentunya orang lain.
• Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003),merumuskan bahwa perilaku
merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh
karena perilaku ini terjadi melalui proses
adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut
merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus – Organisme – Respon.

• Menurut Kurt Lewin, perilaku adalah tindakan atau perbuatan seseorang yang dapat diamati
secara langsung oleh orang lain dan timbul akibat rangsangan dari lingkungan sekitar.
PROSES TERBENTUKNYA PERILAKU MENURUT SKINNER
(Operant Conditioning Theory / Teori Operan)
KONSEP UTAMA

• Prinsip dasar dari pendekatan Skinner adalah tingkah laku disebabkan dan
dipengaruhi oleh variabel eksternal. Skinner menjadikan teori kepribadian sebagai
label dari aspek tingkah laku tertentu.

• Skinner juga menyatakan bahwa perilaku adalah kumpulan pola tingkah laku, dan
jika kita bertanya tentang perkembangan perilaku tidak lain bertanya tentang
perkembangan polapola tingkah laku ini.
...

PEMBENTUKAN PERILAKU MENURUT SKINNER,


MELALUI 4 LANGKAH BERIKUT:

1. Jadwal Penguatan (Schedule of Reinforcement):

Paling utama dalam pengkondisisan operan menunjukkan dengan jelas bahwa tingkah laku
yang diberi penguatan (reinforcement) akan cenderung diulang. Konsep penguatan yang
digunakan dalam pengkondisian operan ini menduduki peranan yang paling penting (kunci)
dalam teori Skinner. Dalam teorinya, Skinner mengatakan bahwa komponen belajar terdiri dari
stimulus, penguatan (reinforcement) dan respon.
2. Pembentukan (shaping)

• Pembentukan (shaping) adalah pengubahan tingkah laku secara berangsur-angsur yang


dilakukan menuju ke respon yang dikehendaki dan kemudian hanya memperkuat reproduksi
yang lebih cermat dari tingkah laku yang dikehendaki.
• Proses pembentukan tingkah laku dimulai dengan pertama-tama memberikan penguatan
atas respon-respon yang ditujukan. Pentingnya shaping adalah dapat membuahkan tingkah
laku yang kompleks.
• Suatu tingkah laku yang kompleks terbentuk dengan serangkaian cara pengubahan
kontingensi, yang disebut dengan program, setiap tahapan program memunculkan respon.
Dan memungkinkan mengajarkan banyak kepada manusia dengan melewati proses
pembentukan setahap demi setahap.

• Misal:
• mengajarkan anak membuat kapal dengan kertas origami, kita pertama-tama mengucapkan
“Bagus” saat mereka selesai membuatnya. Kemudian mengatakan “Benar” ketika mereka
melipat dengan sempurna. Kita terus memberikan pujian kepada mereka saat mereka
membuat dengan bagus serta menyelesaikan dengan benar, dan seterusnya secara
bertahap sampai membentuk tingkah laku yang utuh. Dengan adanya shaping perilaku agar
terbentuk dengan baik dan utuh apabila dilakukan dengan secara bertahap.
...
3. Modifikasi tingkah laku (behavior modification)

• B-mood sebutan untuk behavior modification adalah strategi untuk mengubah tingkah
laku yang bermasalah.
• Cara kerja yang digunakan oleh Skinner dalam modifikasi tingkah laku adalah
mengubah dan membentuk tingkah laku atau perilaku yang diinginkan. Kemudian
menghentikan perilaku anak yang tidak diinginkan.

• Misalanya, anak yang memukul temannya, dengan adanya pemberian modifikasi


tingkah laku maka seorang guru dengan segera menghentikan perilaku anak tersebut
yang akan menimbulkan kepribadian anak tersebut memiliki kepribadian yang buruk.

• Dengan adanya beberapa langkah yang dilakukan Skinner pada penelitiannya tentang
perilaku yang mengandung kumpulan-kumpulan pola kepribadian menjadi perhatian
para peneliti atau teoretikus kepribadian. Para peniliti dan pendidik secara langsung
dan tidak langsung menggunakan konsep teori Skinner. Karena mereka menggap
bahwasannya teori Skinner dapat juga dilakukan dalam pembentukan dan
pengembangan perilaku.
4. Generalisasi dan Dsikriminasi

• Kecenderungan untuk terulang atau meluasnya tingkah laku yang diperkuat dari satu situasi
stimulus yang lain itu disebut generalisasi stimulus.

• Menurut Skinner, generalisasi stimulus mempunyai arti penting bagi perbendaharaan dan
integritas tingkah laku individu. Fenomena dari generalisasi stimulus itu dengan mudah bisa kita
jumpai dalam kehidupan sehar-hari.

• Sebagai contoh, seorang anak yang berada di rumah diperlakukan dengan baik karena bertingkah
laku baik akan menggeneralisasikan dan mengulang tingkah laku baiknya itu di luar rumah.13 Di
samping generalisasi stimulus, individu menurut Skinner mengembangkan tingkah laku adaptif
atau penyesuaian dirinya melalui kemampuan membedakan atau diskriminasi stimulus.

• Diskriminasi stimulus merupakan kebalikan dari generalisasi stimulus, yakni suatu proses
belajar bagaimana merespon secara tepat terhadap berbagai stimulus yang berbeda.

• Sebagai contoh, seorang anak kecil belajar membedakan antara orang-orang yang termasuk
anggota keluarga. Skinner percaya bahwa kemampuan mendiskriminasi stimulus ini sama
pentingnya dengan kemampuan menggeneralisasikan stimulus. Kemampuan mendiskriminasi
stimulus ditentukan oleh pengalaman belajar individu yang khas.
Operan Conditioning
oleh B.F Skinner
• Model perilaku ABC ialah suatu model perubahan perilaku yang terdiri dari
Antecedent-Behavior-Consequence yang dapat digunakan untuk menganalisis munculnya segala
bentuk perilaku individu.

 Antecedent ialah sesuatu yang datangnya lebih dahulu sebelum terjadi perilaku atau behavior.
Antecedent dapat dikatakan sebagai pemicu suatu perilaku atau dapat dikatakan mengapa
orang berperilaku seperti itu.
 Consequence ialah sesuatu yang mengikuti perilaku atau dengan kata lain akibat dari perilaku
yang dilakukan.

• Penggunaan model perilaku ABC merupakan cara yang efektif untuk memahami mengapa perilaku bisa
terjadi dan merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan perilaku yang diharapkan karena dalam
model perilaku ini terdapat konsekuensi yang digunakan untuk memotivasi agar frekuensi perilaku yang
diharapkan dapat meningkat serta model perilaku ABC ini berguna untuk mendisain intervensi yang
dapat meningkatkan perilaku, individu, kelompok, dan organisasi. Dalam hal ini perilaku yang
diharapkan frekuensinya meningkat ialah perilaku aman (disukai) (Geller, 2005).
Faktor yang mempengaruhi perilaku

 Perilaku merupakan hasil kombinasi dari berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor
eksternal. Faktor internal merupakan karakteristik bawaan yang dimiliki oleh seseorang,
seperti kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, pengetahuan, sikap dan sebagainya.
Sedangkan faktor eksternal merupakan lingkungan sekeliling yang dapat berupa
lingkungan fisik, sosial, budaya, pendidikan, politik atau ekonomi.

 Lingkungan sebagai faktor eksternal inilah yang paling banyak mempengaruhi perilaku
seseorang sehingga terkadang seseorang mengadopsi suatu perilaku baru yang ada di
lingkungannya.Pengadopsian perilaku ini bisa memberikan dampak yang baik atau buruk
untuk diri sendiri maupun orang lain.
MACAM - MACAM PERILAKU MENURUT SKINNER

1. Respondent Behavior
• Merupakan perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus (penyebab) yang dikenali.
• Contoh : semua gerak refleks seperti menarik tangan ketika tertusuk jarum,
mengangkat kaki ketika terkena duri, menutup mata ketika terkena cahaya
yang menyilaukan, dan keluar air liur saat ada makanan.

2. Operant behavior
• Merupakan perilaku yang tidak ditimbulkan oleh stimulus (penyebab) yang
dikenali, namun dilakukan sendiri oleh individu tsb.
• Contoh : tindakan ketika hendak bersiul, berdiri lalu berjalan, anak yang
meninggalkan satu mainan dan beralih ke mainan lainnya.
• Pada umumnya: kegiatan kita sehari-hari umunya ialah perilaku operan.
PEMBENTUKAN PERILAKU MENURUT KURT LEWIN
(Field Theory / Teori Medan)
KONSEP UTAMA

• Tingkah Laku merupakan hasil interaksi (hubungan) yang terjadi antara personal
(pribadi) dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

• Topografi Kurt Lewin menyatakan :


TL = f (P, L)
TL : Tingkah Laku
P : Personal (individu)
L : Lingkungan

• Interaksi yang terjadi antara personal (individu) dengan lingkungan disebut


dengan ruang kehidupan (life-space).

• Life Space pada masing-masing individu ialah beragam, sesuai dengan


kebutuhannya. Life space sama halnya dengan ruang aktivitas sehari-hari dan
berarti (bermakna) bagi individu tersebut.
PROSES PEMBENTUKAN PERILAKU

Vektor
Tujuan
P
+++

 Perilaku terjadi dipengaruhi oleh individu dan lingkungan


 Perilaku tersebut akan dipengaruhi oleh penilaian yang dibuat oleh diri individu itu sendiri.
Setiap individu akan membuat penilaian terhadap lingkungannya.
 Penilaian tadi akan memberikan nilai (valensi) postif atau negatif.
 Apabila tujuan atau lingkungan yang dihadapi mempunyai nilai positif, maka lingkungan
tersebut mempunyai daya tarik, yang disbeut vektor atau daya yang memberikan arah.
 Apabila tujuan tsb negatif, maka lingkungan akan memberikan daya tolak (vektor menjauh)
MACAM – MACAM PERILAKU

Perilaku terjadi disebabkan oleh daya-daya yang bekerja pada diri individu yang disebut
“forces” yang bekerja ketika interaksi antara individu dengan lingkungannya.

a. Daya yang mengarahkan (driving forces) merupakan daya yang mengarahkan


tingkah laku dikarenakan adanya nilai atau valensi positif, yaitu daya yang
mengarahkan untuk mendekat pada lingkungan, sedangkan penilaian negatif akan
menghasilkan daya yang memberikan arah untuk menjauhi.

Contoh :
Albert ingin menjadi lulusan terbaik dan bertekad ingin menjadi dokter gigi ter_ngehits
di wilayah Jawa Barat. Karena tujuannya tersebut, Albert dikenal sebagai mahasiswa
yang rajin, diisplin dan bahkan telaten ketika pelaksanaan pratikum. Tidak ada
satupun kesalahan ataupun kekeliruan yang dilakukannya. Tidak hanya demikian,
Albert lebih banyak menghabiskan waktunya diperpustakaan terkait dg tugas-tugas
akademiknya, daripada hang-out dengan teman lainnya.
b. Daya Penghambat (Restraining Forces) : merupakan daya yang bersifat menghambat
perilaku seseorang ketika berusaha mencapai tujuan atau berinteraksi dengan
lingkungan. Apabila hambatan yang menghalangi itu lemah, maka individu tsb dapat
menerobos halangan atau daya penghambatnya. Tapi jika sebaliknya, hambatan itu
kuat, maka individu akan menyiasatinya dengan menghindar.

Contoh :

Alex terlambat bangun, sementara perkuliahan dimulai jam 7.00 pagi. Alex tergesa-gesa
bersiap diri, menyiapkan keperluan kuliah, sambil memanaskan motornya. Tepat pada
pukul 06.50, Alex berangkat dari kos, dan ditengah jalan (sekitar 5 menit
perjalanannya), ban motor Alex tiba-tiba saja bocor. Alex panik hingga kebingungan
untuk mengambil sikap. Jika ban motor ditambal terlebih dahulu, alex harus menerima
konsekuensi keterlambatan masuk kelas yakni absensi nya tidak dihitung. Akhirnya,
alex memutuskan untuk menitipkan motor di rumah seseorang warga dan melanjutkan
perjalanan ke kamps dengan memesan gojek.
c. Daya Pengaruh (Induced Force) : merupakan daya yang mempunyai makna tertentu
bagi seseorang. Misal : pengaruh orangtua pada anak, tokoh tertentu atau idola.

Contoh :

Alin, merupakan anak pertama dari 3 orang bersaudara. Bapaknya bekerja sebagai
buruh bangunan, dan ibunya mengurusi rumah tangga, sementara 2 adiknya masih
bersekolah SD yang masih duduk dibangku kelas 6 dan kelas 3. Saat ini, Alin
berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir di Kedokteran Gigi. Perjuangannya tinggal
sedikit lagi untuk meraih gelar dokter gigi. Dalam kesehariannya, Alin dikenal sebagai
anak yang rajin belajar, namun juga sangat membantu dalam mengerjakan pekerjaan
rumah serta mengurusi keprluan adik-adiknya. Kondisi orangtua Alin menjadi hal yang
sangat mendorongnya untuk dapat segera lulus dan bekerja sbg dokter gigi yang akan
memberikan banyak manfaat, terutama untuk orangtua dan keluarga besarnya.
d. Daya yang berkaitan dengan kebutuhan sendiri : dipengaruhi oleh kebutuhan yang
harus dipenuhi oleh diri individu itu sendiri (fokus orientasinya adalah dirinya sendiri)
bukan dari lingkungan.

Contoh :
Andin membutuhkan lahan untuk segera membuka tempat prakteknya sebagai dokter
gigi. Namun, ia tidak punya modal yang cukup untuk membeli sebuah lahan. Ketika ia
melihat lahan yang kosong tanpa ada kepemilikan yang jelas, Andin dengan cekatan
menyerobot hinggga mengklain lahan tersebut adalah miliknya hingga akhirnya ia pun
dapat membuka tempat prakter di lahan tsb.

e. Daya yang bersifat bukan manusia (impersonal forces) : daya yang berisi aturan yang
diyakini masyarakat, norma dan adat istiadat lainnya.

Contoh :
Aldo ingin sekali bekerja di berbagai instansi. Namun, saat ini Aldo sudah menjadi
pegawai tetap di sebuah rumah sakit. Peraturan rumah sakit tersebut menyatakan bahwa
karyawan tetap yang bekeraj di RS tersbut, tidak diperkenankan bekerja di tempat
lainnya, meskipun hanya bekerja paroh walktu saja. Kondisi demikian, membuat Aldo
hanya bekerja di satu rumah sakit saja.