Anda di halaman 1dari 25

Studi Kasus

Penggunaan CARTA
Ade Meidian Ambari

Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular, Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia. Pusat Jantung Nasional. Rumah
Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita
Studi Kasus 1
 Kasus pertama seorang laki-laki berusia 70
tahun.
 Datang ke puskesmas dengan keluhan pusing
sejak 3 hari yang lalu. Pusing dirasakan hilang
timbul.
 Sesak nafas dan nyeri dada di sangkal.
 Pasien diketahui memiliki hipertensi sejak 10
tahun yang lalu.
 Merokok satu bungkus per hari.
Studi Kasus 1

 Dari pemeriksaan fisik di dapatkan: TD 170/100 mmHg,


nadi 90 x/mnt, pernafasan 20 x/mnt dan Suhu 37,2 °C .
 Pemeriksaan jantung, paru, abdomen dan ekstrimitas
dalam batas normal.
 Dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan hasil
sebagai berikut: Kolesterol total pasien 305 mg/dl, gula
darah puasa 180 mg/dl dan gula darah 2 jam PP 250
mg/dl.
Studi Kasus 1

Pertanyaan?
 Apakah faktor risiko Kardiovaskular pada pasien
ini?
 Berapakah resiko kejadian penyakit
kardiovaskular pasien tersebut?
 Apakah tatalaksana yang harus dilakukan untuk
mengurangi risiko kejadian Kardiovaskular
beserta target terapinya?
Kasus 1.
Apakah faktor risiko Kardiovaskular pada
pasien ini?
 Laki-laki 70 tahun
 Merokok
 Hipertensi
 Diabetes Melitus
 Dislipidemia
CARTA prediksi Kardiovaskular

Subyek dengan Diabetes Melitus


Berapakah resiko kejadian penyakit
kardiovaskular pasien tersebut?

 Merah tua: Very high risk


 Resiko terjadinya infark miokardium dan
stroke dalam 10 tahun yang akan datang
adalah Lebih dari 40 persen
Apakah tatalaksana yang harus dilakukan untuk
mengurangi risiko kejadian Kardiovaskular beserta
target terapinya?
Risiko > 30% :
 Perlu konsultasi diet, aktifitas fisik, berhenti merokok (alur konseling)
 Tekanan darah menetap = 130/90 mmHg harus diberikan salah
satu dosis rendah obat : thiazide, ACE inhibitor beta-blocker atau
calcium channel blocker, perlu konsultasi diet, aktifitas fisik, berhenti
merokok (alur konseling FR PTM))
 Tekanan darah menetap = 130/80 mmHg : pertimbangkan salah
satu dosis rendah obat : Hydrochlorthiazide 25-50 mg perhari,
Enalapril 5-20 mg perhari, Atenolol 50-100 mg perhari atau
Amlodipine 5-10 mg perhari, Berikan statin (Check teratur tiap 3
bulan)
Studi kasus 2

 Kasus kedua seorang perempuan berusia 47 tahun.


 Datang ke puskesmas dengan keluhan dada tidak enak
sejak 5 hari yang lalu.
 Nyeri dada pasien tidak khas. Sesak nafas di sangkal.
 Pasien diketahui memiliki hipertensi sejak 15 tahun yang
lalu.
 Tidak merokok.
Studi kasus 2

 Dari pemeriksaan fisik di dapatkan TD 160/90 mmHg,


nadi 88 x/mnt, pernafasan 20 x/mnt. Suhu 36,8 °C .
 Pemeriksaan jantung, paru, abdomen dan ekstrimitas
dalam batas normal.
 Dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan hasil
sebagai berikut: Kolesterol total pasien 280 mg/dl, gula
darah puasa 90 mg/dl dan gula darah 2 jam PP 140
mg/dl.
Studi Kasus 2

Pertanyaan?
 Apakah faktor risiko Kardiovaskular pada pasien
ini?
 Berapakah resiko kejadian penyakit
kardiovaskular pasien tersebut?
 Apakah tatalaksana yang harus dilakukan untuk
mengurangi risiko kejadian Kardiovaskular
beserta target terapinya?
Kasus 2.
Apakah faktor risiko Kardiovaskular pada
pasien ini?
 Perempuan 47 tahun
 Hipertensi
 Dislipidemia
Subyek Tanpa Diabetes Melitus
Berapakah resiko kejadian penyakit
kardiovaskular pasien tersebut?

 Kuning: Moderate risk ■


 Resiko terjadinya infark miokardium dan
stroke dalam 10 tahun yang akan datang
adalah 10% s/d <20%
Apakah tatalaksana yang harus dilakukan untuk
mengurangi risiko kejadian Kardiovaskular beserta
target terapinya?

Risiko < 20% :


 Perlu konsultasi diet, aktifitas fisik, berhenti
merokok (alur konseling faktor risiko PTM)
 Tekanan darah 160/100 mmHg harus diberikan
obat anti hipertensi
 Bila risiko 10 - < 20% check kembali tiap 3 bulan
hingga target tercapai, selanjutnya tiap 6-9
bulan
Studi kasus 3

 Seorang laki-laki berusia 40 tahun.


 Datang ke puskesmas dengan keluhan berdebar sejak 3 hari yang
lalu. Berdebar timbul sejak ayahnya meninggal 3 hari yang lalu.
 Ayah pasien seorang penderita penyakit jantung koroner sejak
berusia 42 tahun dan di usianya yang 54 tahun sudah mengalami
Bedah Pintas Arteri Koroner.
 Sesak nafas dan nyeri dada di sangkal. Pasien tidak memiliki
hipertensi tetapi ibunya seorang penderita hipertensi. Tidak
merokok.
Studi kasus 3

 Dari pemeriksaan fisik di dapatkan TD 130/80


mmHg, nadi 65 x/mnt, pernafasan 20 x/mnt.
Suhu 37 °C .
 Pemeriksaan jantung, paru, abdomen dan
ekstrimitas dalam batas normal.
 Dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan
hasil sebagai berikut: Kolesterol total pasien 160
mg/dl, gula darah sewaktu 160 mg/dl.
Studi Kasus 3

Pertanyaan?
 Apakah faktor risiko Kardiovaskular pada pasien
ini?
 Berapakah risiko kejadian penyakit
kardiovaskular pasien tersebut?
 Apakah tatalaksana yang harus dilakukan untuk
mengurangi risiko kejadian Kardiovaskular
beserta target terapinya?
Kasus 3.
Apakah faktor risiko Kardiovaskular pada
pasien ini?
 Laki-laki 40 tahun
 Family history
Subyek Tanpa Diabetes Melitus
Berapakah resiko kejadian penyakit
kardiovaskular pasien tersebut?

 Hijau: Low risk


 Resiko terjadinya infark miokardium dan
stroke dalam 10 tahun yang akan datang
adalah kurang dari 10 persen
Apakah tatalaksana yang harus dilakukan untuk
mengurangi risiko kejadian Kardiovaskular beserta
target terapinya?

Risiko < 20% :


 Perlu konsultasi diet, aktifitas fisik, berhenti
merokok (alur konseling faktor risiko PTM)

 Bila
risiko < 10% check kembali dalam
waktu 12 bulan
Terima Kasih