Anda di halaman 1dari 39

Rabu, 26 September 2018

-Kepribadian Individu-
-Perkembangan Jiwa pada Anak-
-Pemeriksaan Jiwa pada Anak-
Izzanil Hidayati, S.Psi., M.A.
watak – temperamen spesifik, reaktivitas emotional

Yang terbentuk sejak masa anak, remaja sampai dewasa, dan


Kepribadian dipertahankan sepanjang kehidupan

terbentuk dan ada sebagai hasil interaksi antara faktor herediter


dan kontak psikososial
KEPRIBADIAN INDIVIDU
Berdasar Teori Carl Gustav Jung

• Teori psikologi kepribadian bersifat deskriptif dalam wujud


penggambaran organisasi tingkah laku secara sistematis dan
mudah dipahami.
• Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi,
tempramen, ciri-ciri khas dan perilaku seseorang.

• Kepribadian adalah bagian dari jiwa yang membangun


keberadaan manusia menjadi satu kesatuan. Memahami
kepribadian, berarti memahami diri, aku, self, diri sendiri,
sebagai manusia.
Struktur Kepribadian

• Kesadaran
Kesadaran muncul pada saat orang masih bayi, bahkan sebelum dilahirkan. Menurut Jung
hasil pertama dari proses diferensiasi kesadaran yaitu ego. Ego berperan penting dalam
menentukan persepsi, fikiran,perasaan dan ingatan yang bisa masuk ke kesadaran. Tanpa
ego, semua pengalaman akan bebas masuk.

• Ketidaksadaran Pribadi
Adalah suatu pengalaman yang tidak disetujui oleh ego untuk muncul ke kesadaran.
Memori itu tidak hilang, sehingga tak sadar pribadi berisi pengalaman yang dilupakan
namun dapat dipanggil kembali jika mau.

• Ketidaksadaran Kolektif
Yaitu kepribadian yang diturunkan secara turun temurun dari leluhur hingga sekarang yang
secara tidak disadari terbawa. Misalnya cara berpikir seseorang biasanya mirip dengan cara
berpikir leluhurnya.
• Persona
Atau disebut sebagai topeng. Adalah wajah yang dipakai dalam berhadapan dengan
publik. Itu mencerminkan persepsi masyarakat mengenai peran yang harus dimainkan
seseorang dalam hidupnya. Itu juga mencerminkan harapan bagaimana seharusnya diri
diamati orang lain.

• Anima dan Animus


Anima yaitu sisi feminim dari laki-laki.
Animus yaitu sisi maskulin dari perempuan.

• Self
Adalah arsetifitas diri yang memotivasi perjuangan orang menuju keutuhan diri yang
sesungguhnya, menjadi apa yang diinginkan, dan harapan sosial,
Mekanisme Pertahanan (Defense Mechanism)
Sigmund Freud

1. Represi. Didefinisikan sebagai upaya individu untuk menghilangkan frustrasi, konflik batin,
dan bentuk-bentuk kecemasan lain yang ada dalam dirinya. Dalam proses konseling,
seseorang yang melakukan represi biasanya tidak bersedia menceritakan permasalahan
yang membuat cemas dirinya. Hal ini dilakukan karena sebagai usaha untuk
menghilangkan kecemasan dari perasaannya.
2. Denial. Diartikan sebagai individu yang selalu menyangkal kenyataan tidak
menyenangkan yang terjadi dalam dirinya, dalam proses konseling perilaku denial sering
terjadi ketika konselor berusaha mengeksplorasi pengalaman yang dirasakan oleh konseli
tetapi karena konseli merasa tidak ingin perasaan itu diketahui oleh orang lain maka ia
berusaha menolak kenyataan yang yang dialaminya.
3. Proyeksi. Konseli melakukan proyeksi dengan mengalihkan perbuatan tidak
menyenangkan atau kekeliruan kepada orang lain. Termasuk di dalamnya segala
kegelisahan dan perasaan tidak enak yang lain sebagai akibat dari perbuatan orang lain,
dengan kata lain konseli berperilaku selalu menyalahkan pihak di luar dirinya sebagai
penyebab setiap persoalan.
4. Rasionalisasi. Merupakan upaya mencari-cari alasan yang dapat diterima secara social
untuk membenarkan atau menyembunyikan perilakunya yang buruk. Seorang konseli
akan berusaha membuat berbagai alasan dengan harapan konselor tidak mengetahui
atau menganggap dia sebagai orang yang berperilaku normal.
5. Intelektualisasi. Upaya seseorang untuk menghadapi situasi yang menekan
perasaannya dengan jalan analitik, intelektual dan sedikit menjauh dari persoalan.
Dengan analisa intelektual yang dilakukannya ia berharap tidak terganggu dengan
situasi tersebut.

6. Pembentukan reaksi. Memungkinkan seseorang untuk melarikan diri dari gangguan


perasaan atau keinginan dengan mengumpamakan kebalikan dari kejadian tersebut.
Seorang konseli yang sakit hati, reaksi yang diperbuat adalah menampakkan
kegembiraan, seolah-olah tidak terjadai apa-apa dengan dirinya.

7. Introyeksi. Terjadi ketika seseorang memperoleh pendapat atau nilai-nilai orang lain,
walaupun bertentangan dengan dengan sikap/prinsip yang dipegangnya. Konseli
dengan pertahanan ini menerima apa saja yang disarankan oleh orang lain tanpa
ada tanggapan dan argumentasi mengapa menerima pendapat tersebut.
PERKEMBANGAN JIWA PADA ANAK

• Salah satu ahli ialah Erik Erikson dengan menyebut pendekatannya “Psikososial”
atau “Psikohistoris”.

• Perilaku seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh dorongan dari dalam dirinya,
perkembangan tersebut ditentukan juga oleh kompleksitas faktor eksternal.

• Erikson menekankan perubahan perkembangan sepanjang kehidupan manusia,


bukan hanya dalam lima tahun pertama kehidupan.

• Tiap tahap terdiri dari tugas perkembangan yang unik yang menghadapkan
seseorang sebuah krisis yang harus dihadapi.
Basic Trust Vs Mistrust
Rasa Percaya VS Rasa Tidak Percaya

Tahap I usia 0-2 tahun

• Pada masa bayi atau tahun pertama adalah titik awal pembentukan
kepribadian.
• Bayi belajar mempercayai orang lain agar kebutuhan-kebutuhan dasarnya
terpenuhi.
• Peran ibu atau orang-orang terdekat seperti pengasuh yang mampu
menciptakan keakraban dan kepedulian dapat mengembangkan
kepercayaan dasar.
• Persepsi yang salah pada diri anak tentang lingkungannya karena
penolakan dari orangtua atau pengasuh mengakibatkan bertumbuhnya
perasaan tidak percaya, sehingga anak memandang dunia sekelilingnya
sebagai tempat yang jahat.

• Pada tahap ini kekuatan yang perlu ditumbuhkan pada kepribadian anak
ialah “harapan”.
Autonomy Vs Shame & Doubt
Otonomi Vs Rasa Malu - Ragu-ragu

Tahap II, usia 2-3 tahun

• Konflik yang dialami anak pada tahap ini ialah otonomi vs rasa malu serta
keragu-raguan.

• Kekuatan yang seharusnya ditumbuhkan adalah “keinginan atau


kehendak” dimana anak belajar menjadi bebas untuk mengembangkan
kemandirian.

• Kebutuhan tersebut dapat terpenuhi melalui motivasi untuk melakukan


kepentingannya sendiri seperti belajar makan atau berpakaian sendiri,
berbicara, bergerak atau mendapat jawaban dari sesuatu yang ditanyakan.
Initiative Vs Guilt
Insiatif Vs Rasa Bersalah

Tahap III, usia 3-6 tahun

• Anak pada tahap ini belajar menemukan keseimbangan antara


kemampuan yang ada dalam dirinya dengan harapan atau
tujuannya.

• Itu sebabnya anak cenderung menguji kemampuannya tanpa


mengenal potensi yang ada pada dirinya.

• Konflik yang terjadi adalah Inisiatif atau terbentuknya perasaan


bersalah. Bila lingkungan sosial kurang mendukung maka anak
kurang memiliki inisiatif.
Industry Vs Inferiority
Produktiff Vs Inferioritas

Tahap IV, usia 6-12 tahun

• Konflik pada tahap ini ialah kerja aktif vs rendah diri, itu sebabnya
kekuatan yang perlu ditumbuhkan ialah “kompetensi” atau
terbentuknya berbagai keterampilan.

• Membandingkan kemampuan diri sendiri dengan teman sebaya


terjadi pada tahap ini.

• Anak belajar mengenai ketrampilan sosial dan akademis melalui


kompetisi yang sehat dengan kelompoknya.

• Keberhasilan yang diraih anak memupuk rasa percaya diri,


sebaliknya apabila anak menemui kegagalan maka terbentuklah
inferioritas.
Identity Vs Identity Confusion
Identitas Vs Kebingungan Identitas (Peran)

Tahap V, usia 12-20 tahun

• ada tahap ini anak mulai memasuki usia remaja dimana identitas diri
baik dalam lingkup sosial maupun dunia kerja mulai ditemukan.

• Bisa dikatakan masa remaja adalah awal usaha pencarian diri


sehingga anak berada pada tahap persimpangan antara masa
kanak-kanak dengan masa dewasa.

• Konflik utama yang terjadi ialah Identitas vs Kekaburan /


Ketidakjelasan Peran sehingga perlu komitmen yang jelas agar
terbentuk kepribadian yang mantap (kuat karakternya) untuk dapat
mengenali dirinya.
Intimacy Vs Isolation
Keintiman Vs Kesendirian

Tahap VI, usia antara 20-40 tahun

• Pada tahap ini kekuatan dasar yang dibutuhkan ialah “kasih” karena
muncul konflik antara keintiman atau keakraban vs keterasingan
atau kesendirian.

• Objek sosial pada tahap ini ialah kekasih, suami atau isteri termasuk
juga sahabat yang dapat membangun suatu bentuk persahabatan
sehingga tercipta rasa cinta dan kebersamaan.

• Bila kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka muncullah perasaan


kesepian, kesendirian dan tidak berharga.
Generativity Vs Stagnation
Generativitas Vs Stagnasi

Tahap VII, usia 40-65 tahun

• Seseorang telah menjadi dewasa pada tahap ini sehingga


diperhadapkan kepada tugas utama untuk menjadi produktif dalam
bidang pekerjaannya serta tuntutan untuk berhasil mendidik
keluarga serta melatih generasi penerus

• Konflik utama pada tahap ini ialah generatifitas vs stagnasi,


sehingga kekuatan dasar yang penting untuk ditumbuhkan ialah
“kepedulian”. Kegagalan pada masa ini menyebabkan stagnasi atau
keterhambatan perkembangan.
Integrity Vs Despair
Integritas Ego Vs Keputusasaan

Tahap VIII, usia 65 tahun-kematian

• Pribadi yang sudah memasuki usia lanjut mulai mengalami


penurunan fungsi-fungsi kesehatan.

• Begitu juga pengalaman masa lalu baik keberhasilan atau


kegagalan menjadi perhatiannya sehingga kebutuhannya adalah
untuk dihargai.

• Konflik utama pada tahap ini ialah Integritas Ego vs Keputusasaan


dengan kekuatan utama yang perlu dibentuk ialah pemunculan
“hikmat atau kebijaksanaan”.

• Fungsi pengalaman hidup terutama yang bersifat sosial, memberi


makna tentang kehidupan.
PEMERIKSAAN KEJIWAAN PADA ANAK

• Diagnosis gangguan jiwa pada anak-anak dan remaja adalah perilaku yang tidak sesuai
dengan tingkat usianya, serta menyimpang bila dibandingkan dengan norma budaya, yang
mengakibatkan kurangnya atau terganggunya fungsi adaptasi (Townsend, 1999).

• Dasar untuk memahami gangguan yang terjadi pada bayi, anak-anak, dan remaja adalah
dengan menggunakan teori perkembangan.

• Gangguan spesifik dengan awitan pada masa kanak-kanak meliputi retardasi mental,
gangguan perkembangan, gangguan perkembangan, gangguan eliminasi, gangguan
perilaku disruptif, dan gangguan ansietas. Gangguan yang terjadi pada anak-anak dan juga
terjadi pada masa dewasa adalah gangguan mood dan gangguan psikotik. Gejala-gejala
gangguan jiwa pada anak-anak atau remaja berbeda dengan orang dewasa yang mengalami
gangguan serupa.
• Pemeriksaan jiwa dapat dilakukan melalui:
1.Observasi
2.Wawancara
3.Screening
4.Implementasi Alat tes Psikologi
Tes Inteligensi

Nama Alat Fungsi


WAIS Tes Intelegensi usia 16 tahun ke atas, individual
(Weschler Adult Intelligence Scale)

BINET Tes Intelegensi anak usia 2-12 tahun, individual


WPPSI Tes Intelegensi anak usia 4-6 tahun, individual
(Wechsler Preschool and Primary
School of Intelligence)
WISC Tes Intelegensi anak usia 5-15 tahun, individual
(Weschler Intelligence Scale for Children)
IST Tes Intelegensi, klasikal
(Intelligence Structure Scale)
CPM Tes Intelegensi, klasikal, non verbal, anak-anak, dewasa lemah
(Children Progressive Matrices) mental, lansia
SPM Tes Intelegensi, remaja sampai dewasa
(Standard Progressive Matrices)
APM Tes Intelegensi, mahasiswa dan sarjana, anak-anak gifted
Advanced Progressive Matrices (berbakat)
CFIT 15 tahun ke atas, orang dewasa normal. Mengukur faktor
(Culture Fair Intelligence Test) kemampuan mental
Tes Kepribadian

Nama ALat Fungsi

RMIB Minat dan Bakat

Test Grafis

DAP / Draw A Person Menggambar orang secara

BAUM / The Tree Test Menggambar orang Pohon

HTP / House Tree Person Menggambar Rumah Pohon dan


Manusia
Wartegg Menggambarkan dengan
merangkai titik-titik tertentu
Rorschah Membaca atau mendeskripsikan
kartu-kartu tertentu
Contoh Alat Tes Kepribadian

DAP
DAP
DAP
DAP
BAUM
BAUM
BAUM
HTP
HTP
HTP
WARTEG
Kartu 1

ROSCHAH
Kartu 2

ROSCHAH
Kartu 3

ROSCHAH
Kartu 6

ROSCHAH