Anda di halaman 1dari 36

PERENCANAAN KOLAM RETENSI

UNTUK PENGENDALIAN BANJIR DI RSMH KOTA PALEMBANG


I GEDE PUTU INDRA ADITYA
MUHAMMAD RIZKI ARIF
M. YOGA ARIF SEMBADA
FUNGKY ANDI SATRIA
Latar Belakang
Rumah Sakit Umum Mohammad Hoesin (RSMH) adalah rumah sakit umum milik pemerintah di Kota
Palembang yang berlokasi di Jalan Sudirman. RSMH terletak di kawasan padat penduduk dengan
luas wilayah terbangun ± 20 Ha. Namun saat ini masih mengalami permasalahan lingkungan yang
sering terjadi pada saat musim penghujan yaitu banjir.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, RSMH berinisiatif untuk membangun kolam retensi yang
berfungsi sebagai tempat penampungan limpasan. Lokasi rencana kolam retensi akan dibangun
pada lahan yang terletak di bagian belakang komplek RSMH yang saat ini dimanfaatkan sebagai
perumahan karyawan. Dengan tujuan tersebut, maka dilakukan analisis hidrograf banjir melalui
pendekatan DUFLOW Modeling Studio (DMS) dan Analisis Spasial Sistem Informasi Geografis (SIG)
pada lokasi studi. Pemanfaatan metode ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bersifat
keruangan mengenai kondisi eksisting dan menganalisa kapasitas kolam retensi yang dibutuhkan
dalam usaha mencegah terjadinya banjir pada masa mendatang.
Pembahasan

A. Pengertian kolam retensi


B. Fungsi kolam retensi
C. Pnyebab banjir dan genangan air di RSMH Palembang
D. Perencanaan kolam retensi untuk pengendalian banjir di RSMH kota Palembang
A. Pengertian Kolam Retensi
Menurut Perpustakaan Kementerian PU

Kolam retensi adalah kolam yang berfungsi untuk menampung air hujan sementara
waktu dengan memberikan kesempatan untuk dapat meresap ke dalam tanah yang
operasionalnya dapat dikombinasikan dengan pompa atau pintu air.

Kolam retensi dibagi menjadi 2 macam berdasarkan bahan pelapis dinding dan dasar
kolam, yaitu kolam alami dan kolam buatan :

a). Kolam alami adalah kolam retensi berbentuk cekungan atau bak resapan yang
sudah terbentuk secara alami dan dapat dimanfaatkan baik pada kondisi aslinya atau
dilakukan penyesuaian.

b). Kolam buatan atau kolam non alami adalah kolam retensi yang dibuat sengaja
didesain dengan bentuk dan kapasitas tertentu pada lokasi yang telah direncanakan
sebelumnya dengan lapisan material yang kaku, seperti beton.
B. Fungsi Kolam Retensi
 Fungsi dari kolam retensi adalah untuk menggantikan peran lahan resapan yang
dijadikan lahan tertutup/perumahan/perkantoran maka fungsi resapan dapat
digantikan dengan kolam retensi. Fungsi kolam ini adalah menampung air hujan
langsung dan aliran dari sistem untuk diresapkan ke dalam tanah. Sehingga
kolam retensi ini perlu ditempatkan pada bagian yang terendah dari lahan.
Jumlah, volume, luas dan kedalaman kolam ini sangat tergantung dari berapa
lahan yang dialihfungsikan menjadi kawasan permukiman.
Penyebab Banjir di RSMH
Kota Palembang
Gambar Dokumentasi Banjir di parkir RSMH Kota Palembang.
Perencanaan Kolam Retensi
di RSMH Kota Palembang
Menurut Peraturan Tata Cara Membuat Kolam Retensi dan Polder (NSPM) yang
disusun oleh Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya, kolam
penampungan (Retention Basin) berfungsi untuk menyimpan sementara debit
sungai sehingga puncak banjir dapat dikurangi. Tingkat pengurangan banjir
tergantung pada karakterstik hidrograf banjir, volume kolam dan dinamika
beberapa bangunan outlet. Dimensi kolam penampungan ini didasarkan pada
volume air akibat hujan selama t menit yang telah ditentukan, artinya jika hujan
sudah mencapai t menit, maka pompa harus sudah dioperasikan sampai elevasi air
dikolam penampungan mencapai batas minimum. Untuk mengantisipasi agar
kolam penampungan tidak meluap melebihi kapasitasnya maka petugas yang
mengoperasikan pompa harus selalu siap pada waktu hujan. Suatu daerah dengan
elevasi muka tanah yang lebih rendah dari muka air laut dan muka air banjir di
sungai menyebabkan daerah tersebut tidak dapat dilayani oleh drainase sistem
gravitasi.
Tahapan perencanaan
kolam retensi
1. Analisis Hidrologi Untuk Perencanaan
Kolam Retensi
Data hidrologi adalah kumpulan keterangan atau fakta mengenai fenomena
hidrologi (Hydrologic Phenomena). Data hidrologi merupakan bahan informasi yang
sangat penting dalam pelaksanaan inventarisasi potensi sumber-sumber air,
pemanfaatan dan pengelolaan sumber-sumber air yang tepat dan rehabilitasi
sumbersumber alam seperti air, tanah dan hutan yang telah rusak. Fenomena
hidrologi seperti besarnya : curah hujan, temperatur, penguapan, lama penyinaran
matahari, kecepatan angin, debit sungai, tinggi muka air sungai, kecepatan aliran
dan konsentrasi sedimen sungai akan selalu berubah menurut waktu.
a. Penetapan periode ulang
Penetapan periode ulang untuk perencanaan kolam retensi berdasarkan luas
daerah tangkapan hujan dan tipologi kota berdasarkan Peraturan Menteri PU
No.12/PRT/M/2014 Tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan,
penetapan periode ulang berdasarkan luas daerah tangkapan hujan dan tipologi
kota, Kota Palembang termasuk dalam kategori Kota Metropolitan dan luasan
catchment area pada lokasi penelitian sebesar 46 Ha, maka periode ulang yang
digunakan 2-5 tahun.
Tabel Periode Ulang untuk Perencanaan Kolam Retensi.
b. Curah Hujan Harian Maksimum
Curah hujan harian maksimum akan digunakan dalam analisa banjir mengingat
banjir merupakan kejadian yang ekstrim. Data curah hujan yang digunakan berasal
dari stasiun Kenten milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dari
tahun 2007-2016.
Gambar 2. Curah Hujan Maksimum Tahunan
(Sumber: BMKG Kenten Kota Palembang)
c. Analisis Frekuensi
Dalam analisis frekuensi diperlukan seri data hujan yang
diperoleh dari pos penakar hujan. Analisis frekuensi ini
didasarkan pada sifat statistik data kejadian yang telah lalu
untuk memperoleh probabilitas besaran hujan di masa yang
akan datang. Dalam statistik dikenal beberapa parameter
yang berkaitan dengan analisis data yang meliputi rata-rata,
simpangan baku, koefisien variasi dan koefisien skewness.
Rekapitulasi Hasil Analisis Frekuensi Curah Hujan Rencana.
d. Uji Kecocokan Data

Dalam analisis hidrologi dibutuhkan pengujian parameter untuk


menguji kecocokan distribusi frekuensi sampel data terhadap
fungsi distribusi peluang yang diperkirakan dapat
menggambarkan atau mewakili distribusi frekuensi tersebut. \
e. Kurva IDF
Untuk menentukan debit banjir rencana (design flood) perlu didapatkan harga suatu
intensitas curah hujan terutama bila digunakan metode rasional. Intensitas curah hujan
adalah ketinggian curah hujan yang terjadi pada suatu kurun waktu di mana air tersebut
berkonsentrasi. Analisis intensitas curah hujan ini dapat diproses dari data curah hujan
yang telah terjadi pada masa lampau. Untuk menghitung intensitas curah hujan dapat
digunakan beberapa rumus empiris seperti rumus Talbot, rumus Sherman, rumus Ishiguro,
dan rumus Mononobe.

Rumus Mononobe :

2
𝑅24 24 3
𝐼= .
24 𝑡
Gambar Kurva IDF dengan Metode Mononobe.
f. Catchment Area
Citra satelit yang dikumpulkan meliputi kawasan lokasi studi bersumberkan data dari
Bappeda 2010 dan di perbaharui dengan pengunduhan tak berbayar dari Google
Earth tahun 2016 dengan resolusi 1 meter. Data citra satelit ini akan digunakan untuk
memperharui data penggunaan lahan yang telah dikumpulkan sebelumnya.

Dari hasil pengukuran luas fungsional lahan yang diperuntukkan sebagai kolam
retensi saat ini hanya tersedia ± 0,48 Ha namun pihak RSMH mengklaim luas
potensial sebesar 1 Ha dapat diusahakan dengan memindahkan komplek
perumahan karyawan yang berada di lokasi rencana.
Gambar Citra Satelit Lokasi Studi.
2. Simulasi Modelling Hidrolika dengan
software DUFLOW
Penelusuran/pemodelan banjir dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik hidrograf
outflow/keluaran, yang sangat diperlukan dalam pengendalian banjir (Stowa, 2012). Integrasi data
spasial dan atribut SIG digunakan untuk analisis spasial pada model hidrologi yang akan digunakan
dalam analisis hidrograf banjir yang akhirnya digunakan pada pembuatan model satu dimensi
wilayah penelitian.

Input program Duflow meliputi :

1. Kondisi awal debit atau ketinggian air pada jaringan drainase.

2. Kondisi batas hulu: inflow/debit limpasan air hujan di hulu catchment area

3. Kondisi batas hilir: level muka air pada outlet saluran

4. Jaringan drainase eksisting


Tujuan dari simulasi pemodelan hidrologi adalah untuk menganalisa kelayakan dari
rencana pembangunan kolam retensi komplek RSMH beserta jaringan drainase di
lokasi yang terdapat pada gambar sebelumnya. Hasil simulasi pemodelan
diharapkan dapat mengetahui seberapa efektif pengaruh penambahan kolam
retensi baru dan jaringan drainasenya terhadap penanganan permasalahan banjir
yang terjadi di lokasi studi.
Skematisasi rencana kolam retensi dan saluran drainase pada simulasi DUFLOW dapat
dilihat pada Gambar 5. Penambahan kolam retensi diwakili dengan pembuatan seksi
yang merepresentasikan luas kolam retensi yang tersedia sesuai dengan kolam retensi
yang dipakai adalah 1,5 Ha. Kondisi batas (boundary condition) yang digunakan pada
kondisi eksisting adalah level outlet saluran drainase yang mengarah ke Jalan Mayor
Salim Batu Bara sebagai downstream boundary condition dan debit limpasan rainfall-
runoff yang berasal dari intensitas hujan maksimum sebagai upstream boundary
condition. Untuk simulasi kondisi eksisting, contoh input data yang digunakan untuk
dimensi saluran didapatkan dari hasil survey lapangan. Output simulasi pemodelan
hidrologi kondisi eksisting lokasi studi menggunakan program DUFLOWberupa level muka
air kemudian diplotkan secara spasial dengan ArcGIS 10.3 untuk mendapatkan peta
sebaran limpasan permukaan.
Skematisasi Sistem Drainase dan Kolam Retensi pada DUFLOW
Karakteristik genangan banjir berupa luas dan kedalaman untuk skenario eksisting
diklasifikasikan ke dalam empat kelas kedalaman, antara lain; daerah bebas banjir
seluas 21,03 Ha, daerah banjir dengan kedalaman 0-1 mdpl seluas 13,18 Ha,
kedalaman 1- 1,5 mdpl seluas 8,12 Ha dan kedalaman 1,5-2 mdpl seluas 4 Ha.

Berdasarkan hasil survey, terdapat ±7 titik inlet berupa saluran permanen maupun
saluran nonpermanen/tanah yang mengarah ke lokasi kolam retensi rencana.
Saluran inlet eksisting memiliki dimensi yang bervariasi berkisar antara 0,2-1,2 meter.
Sedangkan lokasi outlet hanya terdapat pada 1 titik yang mengarah pada
pemukiman padat penduduk. Keterbatasan lokasi dan juga elevasi yang sulit pada
saat penentuan lokasi outlet kolam retensi juga beresiko terjadinya penyempitan
aliran yang berpotensi menimbulkan permasalahan baru pada pemukiman warga
yang dilewati jalur outlet.
Gambar Peta sebaran banjir kondisi eksisting.
Gambar Hasil simulasi luas kolam retensi (Ha) terhadap level muka air.
 Kedalaman kolam retensi yang digunakan pada saat simulasi yaitu 2 meter dengan luasan
bervariasi mulai dari 0,48 Ha-1,5 Ha. Daerah layanan/watershed untuk daerah studi
mencakup luasan ± 46 Ha. Debit maksimum limpasan yang diperoleh dari hasil pemodelan
Q = 0,2 m3/s sedangkan debit effluen IPAL yang dialirkan ke saluran drainase Q = 0,0021
m3/s tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap penambahan level muka air sehingga
dapat diabaikan.

 Berdasarkan Gambar 7, level muka air maksimum yang melampaui level tanggul kolam
setinggi +5 mdpl adalah kolam retensi dengan luasan 0,4 Ha. Kapasitas tampung retensi
dengan luas minimal 0,7 Ha cukup untuk melayani catchment area 46 Ha, namun perlu
dipertimbangkan untuk penambahan luas kolam retensi untuk mengantisipasi naiknya
limpasan permukaan. Dari hasil analisis spasial dan survey lapangan, diketahui bahwa
terdapat perbedaan elevasi yang cukup tinggi yaitu ±2m dari lokasi banjir menuju
kolamretensi. Perbedaan elevasi yang cukup ekstrem juga menjadi penyebab air tidak
dapat mengalir secara gravitasi dan akhirnya menggenang pada lokasi terendah seperti
lapangan parkir dan aula RSMH.
Gambar Layout kolam Retensi.
Gambar Potongan Melintang Kolam Retensi Rencana.
TERIMA KASIH