Anda di halaman 1dari 76

ILMU PENYAKIT MULUT

KELAS : B //
KELOMPOK1
Erika Asri 2012-11-061 Inesza Sylviane 2012-11-076
Famel Putri 2012-11-062 Intan Titi N. 2012-11-077
Fathia Dinda 2012-11-063 Irana Amalia 2012-11-078
Fauzi Razib 2012-11-064 Irene Alvionita 2012-11-079
Felicia Nonisha 2012-11-065 Irena Rizky 2012-11-080
Femita Rya 2012-11-066 Jannette Lazia 2012-11-081
Firda Khafillah 2012-11-067 Juwita Sulastry 2012-11-082
Fitriani Putri 2012-11-068 Kanya 2012-11-083
Gabriella Gloriana 2012-11-069 Kejora H. 2012-11-084
Galuh F. Hannum 2012-11-070 Kimmy 2012-11-085
Ghifari Ramadany 2012-11-071 Lee Suk Mo 2012-11-086
Gladys Rosalyn 2012-11-072 Lidia Putriyani 2012-11-087
Greta Simatupang 2012-11-073 Lidya Ardiyani 2012-11-088
Igay Rogaya 2012-11-074 Luciana Latifa 2012-11-089
Indirawati Putri 2012-11-075 Mahindra Mahayoda 2012-11-090

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)
1 • PENYAKIT AKIBAT TRAUMA MEKANIK

2 • PENYAKIT KARENA TRAUMA THERMAL

3 • PENYAKIT AKIBAT TRAUMA KIMIAWI

4 • PENYAKIT KARENA TRAUMA RADIASI

5 • LESI LESI PADA SAR


I. PENYAKIT AKIBAT
TRAUMA MEKANIK
Penyakit Akibat Trauma Mekanik
1. Linea alba 2.Morsicatio 3. Ulcus
Bucarum Traumatic
1. Linea Alba
• Linea alba adalah suatu perubahan yang sering
terjadi pada mukosa bukal.

• Perubahan yang terjadi terdiri atas garis putih


horizontal yang biasanya bilateral yang setinggi
dengan bidang oklusi gigi yang didekatnya. Garis
yang terbentuk lebih terlihat jelas pada mukosa
bukal yang berbatasan dengan gigi posterior.
Etiologi

• Tekanan : Musculus buccinatorius menekan mukosa


melalui cusp gigi posterior rahang atas ke dalam garis
oklusi

• Trauma friksional dan penyebab iritasi lainnya (bruxism)


Gambaran Klinis
• Bilateral dengan garis bergelombang
putih, horizontal, menimbul, panjang
bervariasi dengan lebar 1-2 mm pada
garis oklusi di mukosa bukal

• Biasanya ditemukan sepanjang regio


gigi molar dua sampai caninus pada
mukosa bukal

• Berkeratin

• Lebih sering terjadi pada individu


dengan reduced overjet pada gigi
posterior, dan terbatas pada rahang
yang bergigi.

• Tidak dapat dihapus

• Lesi ini jinak dan tidak berbahaya


PATOGENESIS
• Iritasi → Penebalan epitel (hiperkeratotik) → respon
gesekan pd gigi

TERAPI

• Tidak perlu perawatan

• Faktor penyebab dihilangkan


2. Morsicatio Buccarum
Morsicatio berasal dari bahasa latin yang berarti
gigitan. Morsicato buccarum atau menggigit pipi
adalah kebiasaan umum yang membuat
meningkatnya perubahan-perubahan mukosa.
Etiologi
trauma mekanik yaitu kebiasaan menggigit-gigit
kronis yang bisa mengakibatkan terbentuknya lesi
yang sering terletak di mukosa bukal dan juga
dapat terjadi pada mukosa labial dan batas lateral
lidah.
Gambaran Klinis
• Unilateral atau bilateral dan dapat terjadi pada semua usia.

• Pada awalnya plak-plak dan lipatan-lipatan putih sedikit menimbul,


tampak dalam pola difus menutupi daerah-daerah trauma.

• Cedera yang lebih hebat akan menimbulkan suatu respon hiperplastik


yang menambah besarnya plak.

• Pola garis atau menyebar, dengan daerah tebal dan tipis tampak
berdampingan.

• Eritema dan ulserasi traumatic yang bersebelahan.

• Mukosa tergigit biasanya terlihat pada mukosa pipi dan pada mukosa
bibir.
Patogenesis
• Trauma kronis kepada jaringan lunak
menyebabkan mekanisme pertahanan terjadi
pada tubuh. Jaringan merespon kepada gesekan
dengan memproduksi keratin dan menjadi lebih
tebal yang disebut hiperkeratosis. Tergantung
derajat dari trauma, jaringan juga mungkin
terjadi ulserasi dan erosi pada area trauma.
Manifestasi Rongga Mulut
• Tidak ada manifestasi dari morsicatio buccarum.

• Terapi : Tidak dibutuhkan penatalaksanaan


khusus untuk lesi ini, juga tidak terdapat
komplikasi dari perubahan mukosa yang terjadi.
3. Ulcus Traumatic

• Kehilangan lapisan epitelium.

• Lesi ulseratif umumnya ditemui


pada pasien dengan masalah
kesehatan gigi dan mulut

• Ulser didahului dengan


munculnya vesikel atau bula yang
memperlihatkan terjadinya
pemisahan jaringan epitel.
Etiologi
Trauma Fisik atau Mekanik

Faktor Iatrogenik

Trauma Thermal

Trauma Kimiawi

Terapi Radiasi dan Kemoterapi


Patofisiologi
• Mukosa oral terdiri dari lapisan epitel berlapis gepeng yang
tipis dan rapuh

• Epitel oral mempertahankan integritas struktural dengan


pembaharuan sel terus-menerus untuk menggantikan sel
yang membuka.

• Dengan pembaharuan sel yang berlangsung cepat,


penyembuhan luka akan cepat terjadi, namun kemungkinan
untuk mutasi sel dan kerusakan pada sel juga tinggi.

• Karena suplai darah yang melimpah dan terjadi kerapuhan sel


epitel, risiko untuk terjadinya infeksi, inflamasi, dan trauma
meningkat.
Patofisiologi
• Gejala ulser traumatik ini adalah sakit
ketidaknyamanan dalam 24 hingga 48 jam sesudah
trauma terjadi.

• Pada awalnya daerah eritematous dijumpai di perifer,


perlahan-lahan menjadi lebih muda karena proses
keratinisasi.

• Ulser ini akan sembuh dengan sendirinya dalam


waktu 10 hingga 14 hari apabila iritan penyebab
dihilangkan karena terjadi proses keratinisasi dan
pembaharuan sel-sel epitel mukosa oral.
Gejala Klinis
• Terdapat beragam derajat nyeri, kemerahan, dan
pembengkakan. Ulser ditutupi oleh eksudat
fibrinosa kuning-putih dan dikelilingi oleh
haloeritem.
• Tampak sebagai ulserasi akut dan nekrosis mukosa
dengan riwayat cedera yang mendahuluil

• Area yang terkena tampak nyeri dan eritem yang


berkembang menjadi ulser dalam beberapa jam
setelah cedera, dan memerlukan beberapa hari
untuk sembuh bergantung pada perluasan cedera.
Gambaran Klinis
• Acute reactive ulcers : inflamasi akut, memiliki berbagai
tingkatan rasa nyeri, kemerahan dan terdapat pembengkakan.
Ulser dilapisi dengan eksudat fibrin berwarna putih
kekuningan dan kemerahan di sekelilingnya.

• Chronic reactive ulcers : sedikit atau tanpa ada rasa nyeri.


Ulser dilapisi oleh membran berwarna kuning dan dikelilingi
oleh lapisan hiperkeratosis sehingga permukaan lesi keras.
Terlihat formasi bekas luka, dan infiltrasi sek inflamatori
kronik

• Benign chronic ulcers : biasa dikenal dengan traumatic


granuloma (traumatic ulcerative granuloma dengan stromal
eosinophilia). Pada umumnya dikaitkan dengan injuri mukosa
yang dalam. Ulser seperti kawah dengan diameter 1-2 mm.
Pemeriksaan Lab
• Tidak dibutuhkan, bila terdapat riwayat trauma yang
jelas pada area ulkus.
• Kultur mungkin diperlukan bila area tidak sembuh
atau bila berkembang pus, yang menunjukkan infeksi
sekunder.
• Biopsi harus dilakukan bila ulkus tidak sembuh pada
waktu 2 minggu.
• Biopsi tidak diperlukan bila etiologinya jelas. Namun,
bila biopsi dilakukan, mukosa akan menunjukkan
ulserasi dengan inflamasi akut dan kronis.
PENGOBATAN CARA PENGGUNAAN

Antisetik topical : Pengobatan


Chlorhexidine gluconate 0,2 %
Cara penggunaan: kumur selama 1 menit
sebanyak 10 ml
Waktu: 2x sehari selama masih terdapat
lesi sampai 2 hari setelah lesi sembuh

Povidon iodine 1 % Cara penggunaan: kumur selama 30 detik


sebanyak 10 ml
Waktu: 3-4x sehari
Analgesik topical : Cara penggunaan: kumur selama 1 menit
Benzydamine hydrochloride sebanyak 15 ml
Waktu: 2-3x sehari, tidak boleh lebih dari 7
hari
Kortikosteroid topical : Cara penggunaan: dioles tipis pada luka
Triamcinolone acetonide 0,1% Waktu: setelah makan dan sebelum tidur

Antibiotik topical : Cara penggunaan: larutkan 1 kapsul dalam


Chlortetracycline 10 ml air, kumur 3-5 menit
Waktu: 4x sehari namun tidak untuk terapi
jangka panjang
II. PENYAKIT KARENA
TRAUMA THERMAL
PENYAKIT KARENA TRAUMA THERMAL

Trauma thermal merupakan trauma yang


disebabkan karena berkontak dengan panas
sehingga menimbulkan luka bakar pada lidah
dan palatum

Pada umumnya, jejas yang ditimbulkan akibat


thermal food burns terletak pada palatum
maupun mukosa bukal bagian posterior.
Etiologi
Trauma termal atau luka bakar pada rongga mulut
sebagian besar disebabkan, karena :

• Makanan atau minuman yang panas

• Selain itu juga dapat terjadi secara iatrogenik,


yaitu Overheat instrument yang mengenai
mukosa (berkontaknya instrument dental yang
panas dengan mukosa).
Patogenesis
Pada awal terjadinya trauma termal akan terasa nyeri

Muncul area yang tidak nyeri, hangus, dan kekuningan disertai sedikit atau
bahkan tidak berdarah.

area tersebut akan mengalami nekrosis, karena banyak sel yang mati akibat
panas, dan mulai mengelupas bahkan bisa mengeluarkan darah.

Luka yang melibatkan makanan yang panas biasanya timbul pada palatum atau
mukosa lidah bagian posterior.
Manifestasi dalam rongga mulut

Lesi pada mukosa mulut akan terlihat berwarna


kemerahan (eritema) pada bagian tengah ulkus
dengan epitelium yang nekrosis pada bagian
tepinya

Pada umumnya, jejas yang ditimbulkan akibat


thermal food burns terletak pada palatum
maupun mukosa bukal bagian posterior.
Thermal burn Lesi luka bakar pada mukosa mulut
Terapi
• Prinsip penatalaksanaan trauma luka pada mukosa mulut adalah
menghilangkan iritan (penyebab trauma).

• Terapi suportif yang diberikan : memperhatikan kebersihan mulut,


penggunaan larutan kumur pembersih, anestesi bilasan seperti
lidokain 2%, Diphenhydramine, Kaopectate dapat digunakan setelah
pertama membilas mulut, juga dapat diberikan kortikosteroid topikal

• Terapi antibiotik (biasanya penisilin) diberikan untuk mencegah adanya


infeksi sekunder jika lesi yang terjadi parah dan dalam.
III. PENYAKIT AKIBAT
TRAUMA KIMIAWI
1. Chemical Burn
• Perubahan lesi putih nonkeratotik sering diakibatkan oleh
injuri kimia, ketika agen kimia berkontak dalam waktu
yang cukup lama.
• Etiologi aspirin
silver nitrate
formocresol
sodium hypochlorite
paraformaldehyde
dental cavity varnishes
acidetching materials
hydrogen peroxide.
Gambaran Klinis

• Lesi putih sampai timbul ulserasi dan nekrotik.


Lesi putih yang terbentuk merupakan superficial

• berisi jaringan nekrotik dan eksudat inflamatory


Terapi
• Terapi kausatif dengan menghilangkan faktor etiologi atau penyebab (trauma).

• Terapi simptomatik dengan pemberian obat kumur antiseptik seperti khlorhexidin


dengan analgesic dan bias dengan topikla anatesi.

• Terapi paliatif pada pasien ini dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik.

• Terapi suportif dapat berupa dengan mengkonsumsi makanan lunak. Jika lesi benar-
benar trauma, maka ulser akan sembuh dalam waktu 7-10 hari.

• Setelah pengaruh traumatik hilang, ulser akan sembuh dalam waktu 2 minggu, jika
tidak maka penyebab lain harus dicurigai dan dilakukan biopsi. Setiap ulser yang
menetap melebihi waktu ini, maka harus dibiopsi untuk menentukan apakah ulser
tersebut merupakan karsinoma (Bengel et al., 1989; Lewis & Lamey , 1998; Langlais &
Miller, 2000; Houston, 2009).
2. DRUG INDUCED
ULCERATION
Merupakan efek samping yang umum dari banyak
obat antineoplastik dan dapat hadir sebagai
mucositis (keadaan yang menyebabkan rasa sakit,
peradangan atau ulcerasi pada lapisan mulut, yang
bisa menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan)
yang melibatkan membran mukosa oral baik secara
lokal atau umum.
Etiologi
• Radioterapi untuk kanker-kanker kepala dan leher, yang
menggunakan chemotherapi dengan dosis tinggi

• Obat – obatan yang dikonsumsi seperti :


• Antineoplastics (obat yang bertujuan untuk menghancurkan sel-sel
maligna contohnya, methotrexate, 5-fluorouracil, doxorubicin, and
melphalan),
• Barbiturates (obat yang bertindak sebagai depresan sistem saraf
pusat, dan menghasilkan efek yang luas, dari sedasi ringan sampai
anestesi total)
• Tetracyclines (antibiotik)
• NSAIDs ( Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs adalah obat -
obatan yang sering digunakan sebagai obat bagi mengatasi nyeri
yang bersifat ringan sedang serta sebagai anti inflamasi contohnya,
indomethacin, salicylates, gold salts, naproxen),
• Kontak langsung dari obat yang mengandung aspirin, hydrogen
peroxide, atau phenol.
Gambaran Klinis

ULKUS ( luka terbuka pada permukaan kulit ).


Biasanya terjadi segera setelah awal kemoterapi,
puncaknya dalam waktu seminggu setelah penghentian
kemoterapi, dan perlahan-lahan dapat resolusi kecuali jika
diikuti oleh infeksi lain, perdarahan, atau terapi ulangan.
Patogenesis
KEMOTERAPI :
Adanya kematian sel akibat dari dalam reaksi kemo
atau radio-therapi  lapisan mucosal mulut menjadi
tipis, mudah mengelupas  menjadi merah 
meradang terbentuk ulser.

OBAT-OBATAN :
Mengganggu proses peresapan mukosa  proses
penghancuran mukosa  terbentuk ulcer.
Penatalaksanaan
• Menghilangkan faktor penyebab

• Lesi ini diperlakukan secara paliatif :


• Obat kumur ( Chlorhexidine gluconate )
• Anestesi topikal ( lidocain)
• Agen antimikroba
• Analgesik ( Gelclair )

• Menjaga OH
3. Stomatitis Venenata
• Stomatitis Venenata merupakan reaksi inflamasi
dari mukosa mulut sebagai hasil dari alergi
kontak dan edematus mukosa disertai sensasi
terbakar
Etiologi Stomatitis
Venenata
• Pasta gigi

• Antibiotik

• Obat kumur

• Anastesi lokal

• Tambalan gigi

• Permen karet
Gejala Stomatitis Venenata
• Bibir tampak merah, pecah-
pecah, membengkak, atau
kering dan rasa terbakar.

• Gingiva juga dapat


menunjukkan tanda
hipersensitivitas
lambat (Gingivitis sel
plasma)

• Merah karena edema

• Rasa terbakar dan gatal

• Ulcus
Manifestasi klinis
• Lipstik dan pelindung sinar matahari
menyebabkan bibir warna merah, bengkak,
pecah kering dan rasa terbakar
• Antiseptic, antibiotica yang dihisap, anastesi
topikal, eugenol dan obat kumur menyebabkan
rasa terbakar mukosa alveolar, dorsum lidah,
palatum ulcus dan pseudo membran
• Cobalt, mercuri, nikel dan perak menyebabkan
warna merah, ulcerasi dan rasa terbakar
Perawatan Stomatitis
Venenata
• Pembuangan alergen atau bahan penyebab
alergi untuk kasus yang ringan
• Penggunaan kortikosteroid topikal untuk kasus
yang parah, misalnya disertai ulseratif dan
eritema.
• Bila ada ulcus, diberi anti mikroba untuk
mencegah infeksi sekunder
• Anti histamin
IV. PENYAKIT KARENA
TRAUMA RADIASI
Penyakit Karena Trauma Radiasi
Dalam bidang kedokteran gigi, radiasi digunakan
dalam penegakan diagnosis juga terapi radiasi.

Namun, dapat mengakibatkan kumpulan atau


satuan penyakit akibat adanya paparan radiasi

Memberikan gambaran klinis spesifik menurut


daerah yang terpapar.
Penyakit Karena Trauma Radiasi

Etiologi
Karena paparan radiasi
Dipengaruhi oleh:
- Dosis radiasi
- Respon biologi.
Patogenesis Penyakit Karena Trauma Radiasi

Radiasi pada terapinya digunakan untuk membunuh sel-


sel kanker tetapi dapat merusak sel yang normal.
Seperti:
• Radiasi yang mengenai sel basal  Kerusakan membrane
mukosa mulut.
• Paparan radiasi ke kelenjar saliva  Sekresi kelenjar
berkurang.
• Menurunnya aliran saliva  Karies radiasi.
• Radiasi mengenai sel fibrolas di pulpa  Apoptosis
• Radiasi yang mengenai tulang  Rusaknya osteobla,
osteoklas, pembuluh darah dan jaringan sumsum tulang
 Derajat mineralisasi berkurang  osteoradionecrosis.
Manifestasi dalam Rongga
Mulut
1. Oral Mucositis
 Minggu kedua terapi: Sel mati,
membrane mukosa kemerahan dan
inflamasi.
 Jika terapi dilanjutkan: Pada
membrane mukosa terbentuk
lapisan ,membran yang putih
kekuning-kuningan (lapisan epitel
terdesquamasi).
Gambaran klinis Oral mucosisti
 Terjadi pada: mukosa bukal, ventral akibat terapi radiasi
lidah, palatum molle, dan dasar
mulut
Manifestasi dalam Rongga Mulut

2. Xerostomia
 Berkurangnya volume saliva.
 Beberapa minggu pertama
radioterapi, mulut akan menjadi
kering dan sakit, serta
pembengkakan dan nyeri.
 Menyebabkan hilangnya fungis
lubrikasi. Gambaran klinis Xerostomia
akibat terapi radiasi

3. Karies Radiasi
 Pola demineralisasi melintas gigi dan
menyebabkan kerusakan mahkota
gigi pada daerah servikal.
Manifestasi dalam Rongga Mulut

4. Efek pada benih gigi,

berupa:
o Gangguan kalsifikasi benih
gigi.
o Gangguan perkembangan
benih gigi.
o Gangguan erupsi gigi.

5. Osteonekrosis
 Terlihat gambaran lacuna pada
tulang kompak yang tampak
Gambaran radiografik dan 3D
kosong. pada osteonekrosis
Manifestasi dalam Rongga Mulut

6. Apoptosis
 Terjadi akibat dosis radiasi yang diterima ± 200 rad.
 Sel fibrolas dan sel-sel lain juga turut mati akibat efek radiasi.
 Apoptosis: Mekanisme biologis yang merupakan kematian sel
yang terprogram, yang dapat terjadi pada kondisi fisiologis
maupun patologis.
Penyakit Karena Trauma Radiasi
Terapi
Tergantung pada penyakit yang dialami

• Mukositis  Sembuh perlahan 2-3 minggu setelah terapi


dihentikan. Untuk menghilangkan rasa sakit dapat
diberikan steroid topical, seperti Triamcinolon 0,1%.
• Xerostomia:
 Perbanyak minum air.
 Berkumur air teratur.
 Mengunyah permen karet tanpa rasa.
 Pilocarpine, hydrochloride.
 Saliva buatan.

• Karies Radiasi  Menjaga OH dan dianjurkan


menggunakan gel berfluoride.
V. LESI LESI PADA SAR

SAR TIPE MINOR

SAR TIPE MAYOR

SAR TIPE
HERPETIFORMIS
Sar Tipe Minor:
• Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) atau dikenal dengan
aphtae, orang awam mengenalnya dengan istilah sariawan.

• Karakteristik Penyakit SAR


1. Ulser berulang yang menyakitkan di rongga mulut
2. Berbentuk bulat/oval
3. Dikelilingi inflamasi

• SAR dapat diartikan sebagai ulser berulang yang terbatas


pada rongga mulut dan muncul tanpa adanya pengaruh dari
penyakit sistemik.
Etiologi SAR :
• Stomatitis Aftosa Rekuren merupakan penyakit mulut
yang belum diketahui secara pasti penyebabnya, namun
ada beberapa faktor predisposisi:
1. Stress
2. Alergi makanan
3. Genetik
4. Trauma
5. Ketidakseimbangan hormonal
Diagnosa :
• Diagnosis SAR didasarkan pada gambaran klinis dari
ulser serta riwayat penyakitnya. Perhatian khusus pada:
1. Umur terjadinya
2. Lokasi
3. Lama (Durasi)
4. Frekuensi ulser
Pemeriksaan tambahan diperlukan seperti pemeriksaan
sitologi, biopsi, dan kultur bila ulser tak kunjung sembuh
Patogenesis
Tahap pekembangan SAR :
1. Tahap Premonitori, Terjadi 24 jam pertama perkembangan lesi
SAR. Akan terasa mulut terbakar dimana lesi akan muncul. Sel
sel mononuklear menginfeksi epitelium dan edema berkembang
2. Tahap pre-ulserasi, terjadi 18-72 jam pertama perkembangan
lesi SAR. Makula & papula berkembang dengan tepi eritematus.
Rasa nyeri meningkat.
3. Tahap ulseratif, selama beberapa hari – 2minggu. Papula
berulserasi dan ulser diselaputi oleh lapisan fibromembranous.
4. Tahap penyembuhan, terjadi pd hari ke 4-35. ulser ditutupi oleh
epitelium
1. SAR TIPE MINOR:
• Tipe minor (miculicz’s aphtae) mengenai sebagian besar
pasien 75% - 85%

• Ditandai dengan adanya ulser berbentuk bulat/oval,


dangkal, diameter 1-10mm

• Dikelilingi oleh pinggiran eritematous

• Tipe minor cenderung mengenai daerah non-keratin, yaitu


mukosa labial, mukosa bukal, dan dasar mulut.

• Tunggal atau kelompok yg terdiri dari 4-5 ulser dan sembuh


dalam waktu 10-14 hai tanpa meninggalkan bekas.
SAR Tipe Minor
Terapi dan Perawatan
• Terapi dilakukan secara simtomatik ditujukan untuk
mengurangi rasa sakit, memperpendek masa
perjalanan lesi, mengurangi jumlah dan besar ulser

• Diberikan antiseptik topikal dan anastesi yang


melindungi ulser dari gesekan.

• Diberikan salep untuk mengurangi rasa perih pada


kasus yang lebih berat.
2. SAR TIPE MAYOR

• Stomatitis aftosa rekuren merupakan suatu kondisi ulseratif pada mukosa rongga
mulut yang paling umum terjadi.
• Nama lain : Recurrent scarring aphtous ulcer, Major Aphtous Ulcer, Periadenitis
Mucosa Necrotica Reccurens, Penyakit Sutton.
• Diderita 10%-15% dari penderita SAR dan lebih parah dari SAR tipe minor.
Etiologi
Tidak diketahui, namun terdapat beberapa faktor predisposisi, yaitu :

1. Genetik : Berhubungan dengan peningkatan jumlah human leucocyte antigen (HLA). SAR
bersifat menurun dari orang tua.

2. Trauma Ulser : Karena tergigit saat berbicara, mengunyah, bruxism, akibat perawatan
gigi, makanan/minuman yang terlalu panas, dan gesekan sikat gigi.

3. Alergi : Karena sensifitas jaringan mulut terhadap beberapa bahan dalam pasta gigi, obat
kumur, lipstik, permen karet, bahan tambalan serta bahan makanan.

4. Stres : Individu dengan SAR memiliki tingkat kecemasan dan level kortisol yang lebih
tinggi dari rata-rata. Peningkatan hormon stress menyebabkan gluconeogenesis
meningkat.

5. Penurunan Hormon : Hormon yang berperan penting adalah hormon estrogen dan
progesteron
Etiologi
6. Gangguan Immunologi : Respon imun yang berlebihan pada pasien SAR sehingga menyebabkan
ulserasi lokal pada mukosa.

7. Defisiensi nutrisi dan vitamin : Defisiensi nutrisi terdiri dari defisiensi zat besi, asam folat, vitamin
B12, kombinasi asam folat dan zat besi, dan defisiensi ketiganya, vitamin B 1, B2 dan B6.

8. Infeksi Bakteri : Streptococcus sanguins dan s.mitis diduga berperan dalam patogenesis SAR.

9. Obat-obatan : Penggunaan obat-obatan: NSAIDS, beta blockers, agen kemoterapi dan nicorandil

10. Pasta Gigi dan Obat Kumur SLS : Menyebabkan epitel pada jaringan oral menjadi kering dan lebih
rentan terhadap iritasi.

11. Penyakit sistemik : Ditemukan pada beberapa penyakit : behcet’s, disfungsi neutrofil,
gastrointestinal, HIV-AIDS, dan sindroma sweet’s.

12. Merokok
Manifestasi Oral
• SAR diawali gejala prodormal rasa sakit dan terbakar selama 24-48 jam
sebelum terjadi ulser.
• Ulser besar, dalam dan tunggal
• Lesi berdiameter > 1 cm dan dapat mencapai hingga 5 cm
• Ulser berbentuk bulat atau oval
• Ulser berbatas jelas, tepi lesi meninggi berbentuk kawah, erythematous dan
mengkilat, yang menunjukan terjadinya edema
• Tertutup selaput pseudomembran kuning keabu-abuan
• Sakit dan keras bila dipalpasi
• Terjadi pada seluruh masticatory mukosa, daerah-daerah berkeratin dorsum
lidah atau gingiva
• Pertumbuhannya lambat
• Berlangsung selama 2 minggu atau lebih
• Lesi yang sembuh akan meninggalkan parut
Patogenesis
1. Tahap premonitori: Terjadi pada 24 jam pertama. Diawali gejala prodromal.
Secara mikroskopis sel-sel mononuklear akan menginfeksi epitelium, dan edema
akan mulai berkembang.

2. Tahap pre-ulserasi: Terjadi pada 18-72 jam pertama. Makula dan papula
berkembang dengan tepi eritematus. Intensitas rasa nyeri meningkat.

3. Tahap Ulseratif: Berlanjut selama beberapa hari hingga 2 minggu. Papula-papula


akan berulserasi dan diselaputi lapisan fibromembranous. intensitas rasa nyeri
berkurang.

4. Tahap penyembuhan: Terjadi pada hari ke - 4 hingga 35. Ulser ditutupi epitelium.
Semua lesi SAR menyembuh, meeninggalkan jaringan parut dan lesi baru
berkembang
Pengobatan
Untuk kasus ringan :

1. Topikal Amlexanox 5% adhesive base diaplikasikan pada ulser 4 kali sehari.

2. Topikal Chlorhexidine 0,12% atau 0,2% obat kumur atau 1% gel diaplikasikan 4 kali sehari.

3. Obat kumur chlorhexidine dapat membantu mempercepat penyembuhan SAR, namun dapat
menyebabkan diskolorasi warna gigi menjadi kecoklatan akibat pemakaian jangka panjang.

4. Topikal Kortikosteroid spray atau krim diaplikasikan pada ulser 4 kali sehari untuk mengurangi rasa
perih.

Untuk kasus sedang : Pemberian sistemik Kortikosteroid kapsul atau tablet oral 30-60 mg dan
pemberian sistemik Thalidomide tablet oral 50 mg.

Terapi tambahan : Terapi subtitusi vitamin Terapi dengan pemberian vitamin tersebut selama 3
bulan dapat menyembuhkan ulserasi dan rekuren berkurang.
3. SAR TIPE HERPETIFORMIS
• Istilah herpetiformis pada tipe ini dipakai karena
bentuk klinisnya (yang dapat terdiri dari 100
ulser kecil-kecil pada satu waktu

• Setiap ulser berbentuk bulat atau oval,


mempunyai diameter 0,5- 3,0 mm dan bila ulser
bergabung bentuknya tidak teratur.

• Stomatitis tipe ini sangat jarang terjadi, biasanya


sekitar 5 – 10 persen dari kasus SAR yang terjadi.
Etiologi dan Patogenesis

• Sampai saat ini etiologi dan patogenesis SAR masih


belum diketahui secara pasti.

• Namun kemungkinan penyebab ulser aftosa diduga


akibat kelainan imunologis (T-cell mediated), defek
mucosal healing (inhibisi oleh sitokin),
mikrobiologis (virus, bakteri).

• Walaupun demikian SAR bersifat multifaktorial,


yaitu terdapat beberapa faktor yang menjadi faktor
predisposisi penyakit ini.
Faktor predisposisi
• Genetik
• Defisiensi nutrisi (zat besi, asam folat,
atau vitamin B12)
• Trauma
• Stres
• Merokok
• Alergi makanan
• Hipersensitifitas terhadap obat kumur
sodium lauryl sulfate (SLS)
• Hormonal
• Penyakit sistemikgangguan imunologi
• Infeksi bakteri.
Gambaran klinis SAR
Tipe Hipertiformis
Diagnosa
• Untuk dapat menegakkan diagnosa yang tepat dari
SAR dapat dilakukan dengan cara melakukan
anamnesis dan pemeriksaan fisik.

• Biasanya pada anamnesis pasien akan merasakan sakit


pada mulutnya, tempat ulser sering berpindah –
pindah dan biasanya kejadiannya selalu berulang.

• Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan ulser pada


bagian mukosa mulut dengan bentuk yang oval
dengan lesi ±1 cm yang jumlahnya sekitar 2 – 6. Pasien
biasanya dalam keadaan demam ringan.
Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis dari stomatitis secara umum yaitu:

a. Masa prodromal

b. Stadium Pre Ulcerasi

c. Stadium Ulcerasi
Komplikasi
Stomatitis jarang menyebabkan komplikasi yang serius namun dapat
terjadi infeksi luas di daerah bibir dan rongga mulut seperti abses dan
radang. Yaitu:

1. Pola nutrisi : nafsu makan menjadi berkurang, pola makan menjadi


tidak teratur

2. Pola aktivitas : kemampuan untuk berkomunikasi menjadi sulit

3. Pola Hygiene : kurang menjaga kebersihan mulut

4. Terganggunya rasa nyaman : biasanya yang sering dijumpai adalah


perih.
Penatalaksanaan
a. Hindari makanan yang semakin memperburuk kondisi seperti cabai

b. Sembuhkan penyakit atau keadaan yang mendasarinya

c. Pelihara kebersihan mulut dan gigi serta mengkonsumsi nutrisi yang cukup

d. Hindari stress

e. Pemberian Atibiotik

f. Terapi
Terapi
• Untuk gejala lokal dengan kumur air hangat dicampur garam
(jangan menggunakan antiseptik karena menyebabkan iritasi) dan
penghilang rasa sakit topikal.

• Pengobatan jangka panjang yang efektif adalah menghindari


faktor pencetus. Terapi yang dianjurkan yaitu:

1) Injeksi vitamin B12 IM (1000 mcg per minggu untuk bulan


pertama dan kemudian 1000 mcg per bulan) untuk pasien dengan
level serum vitamin B12 dibawah 100 pg/ml, pasien dengan
neuropathy peripheral atau anemia makrocytik, dan pasien
berasal dari golongan sosioekonomi bawah.

2) Tablet vitamin B12 sublingual (1000 mcg) per hari. Tidak ada
perawatan lain yang diberikan untuk penderita RAS selama
perawatan dan pada waktu follow-up. Periode follow-up mulai
dari 3 bulan sampai 4 tahun.
Terapi
• Terapi farmakologis (dengan obat) :
- pada kasus ringan dapat diaplikasikan
obat topikal seperti orabase

• Terapi non-farmakologis (tanpa obat) :


- menjaga kebersihan mulut
- manajemen emosi (minimalisir stres)

• Terapi supportif :
perbanyak asupan makanan bergizi
khususnya yang mengandung B12 dan
zat besi seperti sayur-sayuran
THANK YOU