Anda di halaman 1dari 27

ALERGI

Kelompok 2 - Kelas B
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
2014
Maria M. Adityo Nugroho
Martha Leica Natalia Yosephine
Ni Wayan Asti Saraswati Nisrina Hanifah
Masriadi Novi Dwimukti Ratnasari
Moudi Moe Nur Amany Burhan
Melati Ayu Nur Arsya Mugis
Kelompok Meliawati Nur Azmina
2: Michael Novendra Nur Silmi Istiqomah
Michelina Nikita Nurul Fadhilah Harahap
Michelle Lusia Palda Aptriany
M. Vesa Reza Piani Ananda
Muhammad Denthafajar Prasita Naraswari
Mutia Muchlisah R. Khairunisa Priskilla
Mutiara Caesarivana Utha Rachmatika Putri S
Mutiara Febriyanti Rr Adinda Diannerezky
Mynda Gustiwati
Definisi Alergi

Alergi  Respon imun spesifik yang tidak


diinginkan (hipersensitifitas) terhadap alergen
tertentu / reaksi antigen dan antibodi.
Antigen ini dinamakan alergen  Substansi
protein yang dapat bereaksi dengan antibodi,
tetapi tidak dapat membentuk antibodinya
sendiri.
Yang akan dibahas :
1. Hay Fever
2. Angioneurotic Edema
3. Stomatitis Medicamentosa
4. Stomatitis Venenata
1. Hay Fever

Hay fever  Timbulnya dan lama terjadinya


alergi berhubungan dengan adanya serbuk /
pollen dari tanaman tertentu atau makanan
tertentu mungkin karena bulu binatang atau
bahan pakaian (kontak spesifik alergen)

Hay Fever = Rhinitis alergi  Radang hidung


Etiologi

• Disebabkan debu rumah, serbuk sari dan spora


jamur yang terhirup.
• Terjadi pada keluarga berpenyakit alergi yang
sama atau alergi lain, seperti asma dan eczema

Cara mengetahui penyebab rhinitis alergi :


• Uji tusuk kulit dan pemeriksaan darah
• Riwayat penyakit dan pengamatan penderita
sendiri terutama terhadap lingkungannya
Tanda – tanda Hay Fever
1. Penimbunan berlebihan (congestion) dan edema
dari membran mukosa
2. Mata berair
3. Bersin – bersin/ batuk – batuk
4. Gatal sekali
5. Hidung dan mata gatal, berair dan sering disertai
dengan tenggorokan gatal dan berlendir
6. Gejalanya yang berat dapat mengganggu
penderita melakukan aktivitas sehari-hari
Diagnosis berdasarkan :

1. Gejala klinis yang spesifik


2. Waktu dan timbulnya alergi berhubungan
dengan adanya kontak dengan allergen
3. Faktor keturunan
4. Untuk mengetahui terhadap bahan apa
alerginya dapat digunakan skin test
Perawatan

• Antihistamin  dapat menghilangkan gejala


rhinitis ringan
• Obat tetes mata + adrenalin  menyempitkan
pembuluh darah dapat menghilangkan gejala
mata
• Dekongestan  menghilangkan gejala
sumbatan hidung
• Steroid  pencegah alergi
2. Angioneurotic
Edema

• Angioedema  Pembengkakan edematous


yang difuse pada jaringan lunak, umumnya
subcutaneous dan submucosa, dapat juga
mempengaruhi saluran pencernaan atau
saluran pernapasan ; kadang hasil  fatal.

• Angioedema = Quincke’s Disease / Giant


Urtikaria
Etiologi

• Penyebab yang paling umum adalah mast sel


degranulation
• Reaksi hipersensitif IgE-mediated disebabkan
oleh obat, makanan, tumbuh-tumbuhan, dll
• Reaksi alergi oleh kontak makanan, kosmetik,
pengobatan secara topikal, dan bahkan
dengan penggunaan rubber dams
Gambaran Klinis
• Karakteristik angioedema  serangan cepat
onsetnya sedang
• Jaringan bengkak dapat solitary atau multiple dan
umumnya  wajah, bibir, lidah, faring dan laring.
• Dapat juga melibatkan kulit  tangan, lengan,
kaki, alat kelamin dan bokong
• Tidak sakit
• Gatal dan dapat terlihat erythema.
• Pelebaran khas terjadi di atas 24 sampai 72 jam.
Tanda / Karakteristik
• Pembengkakan / edema yang berjalan cepat
(5 – 30 menit) dan dapat bertahan sampai 24
jam atau beberapa hari.
• Sebelum timbul pembengkakan, maka daerah
yang akan terserang terasa gatal gatal – gatal
dan panas.
• Daerah yang sering terkena yaitu kulit sekitar
mata, dagu, bibir dan lidah.
Diagnosis

• Jika penyebabnya alergi, diagnose


angioedema sering dibuat dari gambaran
klinis bersama dengan diketahuinya stimulus
antigenic, ketika muncul berbagai antigenic,
agent dapat mempersulit diagnose dan
melibatkan aturan makan serta test antigenic.
Perawatan
• Umumnya anti alergi peroral
• Mengenai laring  Epinephrine scr I.M / Kortikosteroid scr I.V dan
antihistamin / dapat juga dilakukan intubasi, trakheostomi / dapat
juga pemberian plasma freeze-dried (resiko tertular infeksi)
• Pada kasus ACE-inhibitor bukan IgE-mediated  tidak merespon
Kortikosteroid dan antihistamin
• Pada kasus deficiency C1-INH  tidak merespon kortikosteroid,
antihistamin dan obat adrenergik lainnya
• Serangan akut  Pemberian konsentrasi C1-INH dan obat inhibitor
esterase (aprotinin atau tranexamic acid)
• Medical profilaksis  pada pasien yang didiagnosis positif
angioedema
3. Stomatitis
Medicamentosa

Stomatitis Medikamentosa adalah stomatitis


alergi yang diinduksi secara sistemik sering
diakibatkan oleh alergi obat- obatan lewat
absorpsi atau alergi terhadap makanan tertentu.
Etiologi

• Makanan yang biasanya menjadi penyebabnya


adalah : ikan, coklat, kacang-kacangan, tomat,
buah citrun.
• Obat-obatan seperti : Sulfonamide, Penicilin,
Streptomisisn, Cloramfenicol, Tetrasiclin, dll.
Gejala dan tanda
• Erythema multiform,
• Lichenoid drug eruption,
• Angioedema,
• Erupsi vesikolobula,
• Sakit, erythematous, erosi, atau lesi ulser
• Mukosa yang tidak berkeratin terkena lebih
dahulu,
• Bentuk lesi tidak pasti dalam mulut,
• Permukaan Pseudomembranous necrotic bisa
terjadi
Diagnosis

• Obat penyebab dihilangkan, digunakan patch


test maka negative (-)
• History
• Pemeriksaan klinis
Manifestasi Sistemik

• Bisa berat dan dapat mengakibatkan kematian

Perubahan mukosa seperti:


• Myelosuppression
• Efek sitotoksik langsung pada epitel
• Xerostomia
• Perubahan mikroflora mulut
Differential Diagnosis

• Terbakar bahan kimia atau termal


• Erosive lichen planus
• Pemphigus vulgaris
• Mucous membrane (cicatricial) pemphigoid
• Erythema multiforme
• Acute herpetic gingivostomatitis
• Candidiasis
Perawatan

• Hentikan alergen
• Pemberian anti histamin
• Pemberian kortikosteroid topikal
4. Stomatitis
Venenata
Stomatitis kontak (stomatitis venenata) adalah
reaksi alergi pada membran mukosa mulut yang
terjadi akibat mukosa berkontak dengan agen
penyebab.
Etiologi

• Kontak langsung dengan bahan causative


meliputi: Lipstik, preparat tabir surya,
antiseptik, preparat eugenol, permen karet,
tablet isap antibiotik, obat kumur
dan pasta gigi.
• Kontak langsung dengan bahan restorasi gigi
dan kerangka gigi tiruan.
Gejala klinis
• Bersifat lokal dan biasanya lebih akut pada sisi yang
mengadakan kontak lebih lama dengan bahan
penyebabnya.
• Lesi berwarna merah karena edema, ada rasa terbakar dan
gatal.
• Bias terjadi ulkus bahkan nekrosis dari jaringan mukosa
pada kasus yang berat.

Gejala lain :
• Bibir tampak merah, pecah-pecah, membengkak, atau
kering dan rasa terbakar.
• Gingiva juga dapat menunjukkan tanda hipersensitivitas
lambat (Gingivitis sel plasma)
Perawatan

• Menghilangkan faktor penyebabnya


• jika ada ulkus dapat diberi bahan antimicrobial
untuk memperkecil kemungkinan infeksi
sekunder dan pemberian kortikosteroid
topikal untuk kasus yang parah, misalnya
disertai ulseratif dan eritema.