Anda di halaman 1dari 15

Aspek klinis HIV/AIDS dan

pengkajian bio, psiko, spiritual


dan kultural pasien HIV

Sundari Nurul Ulfah Hidayah


1117032
S1 - Keperawatan 2B
Virologi HIV
Virology Ilmu yang
mempelajari
tentang virus

Ilmu yang
mempelajari
virus HIV. Virology HIV

Virus HIV termasuk RNA virus genus Lentivirus (lenti= lambat)


golongan Retrovirus famili Retroviridae. Spesien HIV-1 dan HIV-2
merupakan penyebab infeksi HIV pada manusia.
(Soedarto.2010.Virologi Klinik. Jakarta : Sagung Seto)
Transmisi HIV
Ada dua tipe HIV yang menyebabkan AIDS yaitu
HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 bermutasi lebih cepat
karena replikasi lebih cepat.
O HIV masuk ke dalam tubuh dengan 2 cara
 Penetrasi permukaan mukosa
 Inokulasi langsung melalui darah
O Masuk sebagai virus bebas atau sel yang
terinfeksi HIV
O HIV dapat ditransmisikan dari virus ke sel atau
sel ke sel
Terdapat 3 fase perjalanan alamiah terkait dengan transmisi hiv
O Fase I: rentan/kerentanan tubuh sudah terinfeksi hiv, namun
jika dilakukan tes antibody untuk mengetahui keberadaan HIV,
hasilnya (-). Pada fase ini penderita sangat mudah menularkan
HIV.
O Fase II: masa laten, di dalam tubuh terdapat HIV namun
penderita tidak menunjukan gejala apapun, jika dilakukan tes
antibody hasilnya (+). Berlangsung selama 1-6 bulan, mengalami
perubahan patologi seperti pembesaran kelenjar.
O Fase III: masa klinis, virus menghancurkan sistem imun penderita
dan penderita (+) mengidap AIDS
(Kemenkes RI.2015.Pedoman pelaksanaan penularam HIV dan
sifilis dari ibu ke anak bagi tenaga kesehatan. Hal 9)
Modus Penularan HIV
Virus ini ditularkan melalui darah, cairan kelamin (sperma dan
cairan vagina), dan Air Susu Ibu/ ibu kpd bayinya (Gordon &
Gordon, 2004).
Penularan ke janin selama kehamilan melalui plasenta yang
terinfeksi, ke bayi melalui darah/ cairan genital saat persalinan
dan melalui ASI pada masa laktasi.
(Kemenkes RI.2015.Pedoman pelaksanaan penularam HIV
dan sifilis dari ibu ke anak bagi tenaga kesehatan. Hal 7)

HIV hanya dapat ditularkan bila terjadi kontak langsung kulit


yang luka/ mukosa dengan darah atau cairan tubuh
(Notoatmodjo, 2007).
RESIKO DAN KERENTANAN
Risiko (risk) : suatu peluang / kemungkinan potensi kerugian yang
ditimbulkan oleh bahaya disuatu wilayah dalam kurun waktu tertentu.

Kerentanan (vulnerability): keadaan atau kondisi yang dapat mengurangi


kemampuan untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi bahaya atau
ancaman.

Kondisi atau karakteristik geologis, biologis hidrologis, klimatologis,


geografis, sosial, budaya, politik. Ekonomi dan teknologi pada suatu
wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan
mencegah, meredam, mencapai kesiapan dan mengurangi kemampuan
untuk menghadapi dampak buruk bahaya tertentu. UU No 23 Tahun 2007.
Pengkajian bio, psiko, spiritual
dan kultural pasien HIV
Pengkajian bio
Secara imunologis, sel T yang terdiri dari limfosit T-helper , disebut
limfosit CD4+ akan mengalami perubahan baik secara kuantitas
maupun kualitas. HIV menyerang CD4+ baik secar a langsung
maupun tidak langsung.
Virus HIV yang telah berhasil masuk dalam tubuh
pasien, juga menginfeksi berbagai macam sel, terutama
monosit,makrofag, sel-sel mikroglia di otak, sel – sel hobfour
plasenta, sel-sel dendrit pada kelenjar limfe, sel- sel epitel pada
usus, dan sel langerhans di kulit. Efek dari infeksi pada sel
mikroglia di otak adalah encepalopati dan pada sel epitel usus
adalah diare yang kronis (Stewart, 1997).
Gejala-gejala klinis yang ditimbulkan akibat infeksi tersebut
biasanya baru disadari pasien setelah beberapa waktu lamanya
tidak mengalami kesembuhan. Pasien yang terinfeski virus HIV
dapat tidak memperlihatkan tanda dan gejala selama bertahun
tahun. Sepanjang perjalanan penyakit tersebut sel CD4+
mengalami penurunan jumlahnya dari 1000/ul sebelum
terinfeksi menjadi sekitar 200 – 300/ul setelah terinfeksi 2 –
10 tahun (Stewart, 1997).
Pengkajian Psiko
Reaksi Proses Psikologis Hal-hal yang biasa
dijumpai

Shock (kaget, goncangan Merasa bersalah, marah, Rasa takut, hilang akal,
batin) tidak berdaya frustasi, rasa sedih,
susahm acting out.
Mengucilkan diri Merasa cacat dan tidak Khawatir menginfeksi
berguna, menutup diri orang lain, murung
Membuka status secara Ingin tahu reaksi orang Penolakan, stress,
terbatas lain, pengalihan stress, konfrontasi
ingin dicintai
Status khusus Perubahan keterasingan Ketergantungan,
menjadi manfaat khusus, dikotomi kita dan mereka
Perbedaan menjadi hal (semua orang dilihat
yang istimewa, sebagai terinfeksi HIV
dibutuhkan oleh yang dan direspon seperti itu),
lainnya. over identification.
Reaksi Proses Psikologis Hal-hal yang biasa
dijumpai
Perilaku Komitmen dan kesatuan Pemadaman, reaksi dan
mementingkan kelompok, kepuasan kompensasi yang
orang lain memberi dan berbagi berlebihan
perasaan sebagai
kelompok
Penerimaan Integrasi status positive Apatis, sulit berubah
HIV dengan identitas
diri, keseimbangan antara
kepentingan orang lain
dengan diri sendiri, bisa
menyebutkan kondisi
seseorang
Respon Psikologis (penerimaan diri)
terhadap Penyakit
ada lima tahap
reaksi emosi seseorang terhadap penyakit, yaitu:
1. Pengingkaran (denial )
2. Kemarahan (anger )
3. Sikap tawar menawar (bargaining )
4. Depresi
5. Penerimaan dan partisipasi
(Kubler, Ross, 1974)
Pengkajian spiritual
Respons Adaptif Spiritual
O Menguatkan harapan yang realistis kepada
pasien terhadap kesembuhan
O Pandai mengambil hikmah
O Ketabahan hati
Nursalam (2011)
Pengkajian Kultural
Faktor budaya berkaitan juga dengan
fenomena yang muncul. Contohnya dimana
banyak ibu rumah tangga yang “baik - baik”
tertular virus HIV /AIDS dari suaminya yang
sering melakukan hubungan seksual selain
dengan istrinya.
Hal ini disebabkan oleh budaya permisif yang
sangat berat serta sebagian besar perempuan
tidak memiliki pengetahuan akan bahaya yang
mengancamnya.
Kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk
menanggulangi masalah HIV /AIDS Selama ini adalah
melaksanakan bimbingan sosial pencegahan HIV /AIDS,
pemberian konseling dan pelayanan sosial bagi penderita HIV
/AIDS yang tidak mampu. Selain itu adanya pemberian
pelayanan kesehatan sebagai langkah antisipatif agar
kematian dapat dihindari, harapan hidup dapat ditingkatkan
dan penderita HIV /AIDS dapat berperan sosial dengan baik
dalam kehidupanya.
(Nursalam, N. 2011. Asuhan Keperawatan Pada Pasien
Terinfeksi HIV/AIDS .Jakarta: Salemba Medika)
TERIMA KASIH