Anda di halaman 1dari 151

ARIEL FAHRYANDI BINTAN

MITHA KUMALASARI
WEGA OLIVIA YUSUF
DEFINISI ASET TETAP
 Aset Tetap adalah harta kekayaan atau sumber daya
entitas bisnis (perusahaan) yang diperoleh serta
dikuasai dari hasil kegiatan ekonomi (transaksi) pada
masa yang lalu. aset tetap digunakan dalam jangka
panjang untuk menjalankan aktivitas operasional
usaha guna menghasilkan barang atau jasa.
Penggolongan aset tetap
 tanah : meliputi tanah yang digunakan sebagai tempat
berdirinya gedung dan fasilitas perusahaan lainnya
 Perbaikan tanah : meliputi jalan jalan di seputar lokasi
perusahaan yang dibangun perusahaan, tempat parkir,
pagar , dan saluran air bawah tanah
 Gedung : meliputi gedung yang digunakan untuk
kantor, pabrik, gudang, dan bangunan gedung lainnya
 Perlatan : meliputi peralatan kantor, perlatan pabrik,
mesin-mesin, kendaraan, dan mebel
Penentuan biaya perolehan aset
tetap
 Biaya perolehan aset tetap dapat dihitung dengan cara
menjumlah semua biaya yang diperlukan untuk
mendapatkan aset, dan biaya-biaya lain hingga aset
siap untuk digunakan
Contoh soal
 Gedung
 Hasil Tunai = 200 jt
 Biaya Balik Nama (AKTA) = 10 jt
 Biaya Asuransi 3 tahun pertama = 12 jt
 Biaya Pajak Penjualan – Pembelian = 5 jt
 Biaya Makelar = 1 jt
Hitung-hitungan
 Harga Pokok
 H Tunai = 200 jt
 Biaya Balik Nama = 10 jt
 Biaya Makelar = 1 jt
 Pajak Penjualan – Pembelian = 5 jt
 Biaya Perolehan = 216 jt
 Biaya Asuransi 3 tahun pertama tidak dimasukkan ke
dalam penghitungan biaya perolehan dikarenakan
asuransi dibayar SETELAH gedung menjadi hak milik
kita.
Jurnal
 Harga Perolehan
 Gedung Rp 216.000.000
 Kas Rp 216.000.000

 Biaya
 Asuransi Dibayar Dimuka Rp 12.000.000
 Kas Rp 12.000.000
Soal 2
 Beli Mesin
 H Tunai 100 jt
 B. Angkut Pembelian 1 jt
 PPN (10% dari Harga Tunai) 10jt
 Pemasangan + Perakitan 1 jt
 Perbaikan (setelah barang sampai ternyata karena
kelalaian tukang angkut, barangnya rusak),
mengeluarkan biaya 1 jt
Hitung-hitungan
 H. Tunai = Rp 100 jt
 B. Angkut Pembelian = Rp 1 jt
 PPN = Rp 10 jt
 Pemasangan & Perakitan = Rp 1 jt
 Biaya Perolehan = Rp 112 jt
Pembelian dengan menggunakan
wesel berbunga
 Dalam pembelian aset tetap, perusahaan biasanya
menggunakan wesel berbunga apabila ada pembelian
yang mencakup jumlah rupiah yang besar seperti:
pembelian rumah, kendaraan, mesin pabrik, dll
 biaya perolehan aset adalah jumlah kas yang
dibayarkan sebagai uang muka ditambah dengan nilai
nominal wesel.
 Biaya bunga wesel yang dibayar perusahaan
merupakan biaya pendanaan (financing cost) dan di
catat dalam pembukuan dengan mendebet akun
beban bunga
Pembelian dalam satu paket
(lump-sum)
 Lump-sum terjadi bila beberapa jenis aset dibeli
secara bersama dalamsatu transaksi, misalnya sebuah
pabrik sudah tidak digunakan lagi oleh perusahaan lain.
Pembelian ini meliputi: tanah,gedung,mesin-mesin,dan
mebel.
 Apabila terjadi pembelian secara paket, maka harga
beli borongan harus dialokasikan ke berbagai jenis aset.
 Cara yang paling umum untuki mengalokasikan harga
borongan adalah dengan mendasarkan pada harga pasar
masing-masing golongan aset yang tercakup dalam
pembelian tersebut.
Perolehan dengan membangun
sendiri
Biasanya perusahaan membangun sendiri aset yang
diperlukannya.
Misal: perusahaan membangun sendiri garasi atau
gudang tanpa memboronkannya pada pihak luar, melainkan
membeli material dan mencakup tukang sendiri dengan
menggunakan fasilitas perusahaan yang ada. Biaya perolehan
aset yang diperoleh dengan membangun sendiri terdiri dari:
harga material dan tenaga kerja yang dibayar perusahaan dan
biaya listrik, bahan bakar, dan depresiasi peralatan milik
perusahaan yang digunakan untuk pembangunan tersebut
dan terdapat biaya bunga apabila biaya pembangunan
berasal dari pinjaman pada pihak luar.
Pembelian Aset Tetap dengan Menukarkan
Surat Berharga
 I.e : Beli tanah harga pasar 1 milyar, tapi akan ditukar
dengan sb obligasi/saham.
 Jika apabila harga pasar surat berharga diketahui,
maka asumsi perolehan sama dengan harga pasar
Contoh
 Tanah Harga Pasar (FV) Rp 1 Milyar
 SB Saham 1000lb @ Rp 2 jt = Rp 2 Milyar

 Karena Harga Pasar SB diketahui


 Tanah Rp 2.000.000.000
 SB Saham Rp 2.000.0000.000
 Apabila Harga Pasar SB tidak diketahui
 Tanah Rp 1.000.000.000
 SB Saham Rp 1.000.000.000
Donasi
 H Perolehan AT = H Pasar AT
 Jurnal:
 Tanah Rp 1.000.000.000
 Modal Donasi Rp 1.000.000.000
Wesel Bunga
 Tanah Rp 1 M, UM Rp 100 jt, Sisanya dibayar dengan
wesel jatuh tempo 1 tahun dengan bunga 12%/tahun
 Transaksi Pembelian
 Tanah Rp 1.000.000.000
 Kas Rp 100.000.000
 Utang Wesel Rp 900.000.000
 Pelunasan
 Utang Wesel Rp 900.000.000
 B. Bunga Wesel Rp 108.000.000
 Kas Rp 1.008.000.000
Lump Sum
 Tanah + Gedung + Mesin Rp 300 jt
 H Pasar (FV)
 Tanah Rp 150 jt
 Gedung Rp 200 jt
 Mesin Rp 250 jt
Hitung-hitungan
Kelompok :
1.Iklil Muhibbin Al-Hamas
2.Melysia Dwina
3.Nur Syamsiyah
Pengertian Depresiasi
 Depresiasi adalah proses pengalokasian biaya
perolehan aset tetap menjadi beban selama masa
manfaatnya dengan cara yang rasional dan sistimatik.
Depresiasi adalah proses pengalokasian biaya
perolehan, bukan proses penilaian aset.
 Depresiasi terjadi karena selama masa pemakaian,
kemampuan suatu aset untuk menghasilkan
pendapatan dan jasa biasanya semakin menurun baik
secara fisik maupun fungsinya dikarenakan pemakaian
yang menyebabkan keausan
 Akumulasi Depresiasi adalah saldo yang
menggambarkan jumlah depresiasi yang telah
dibebankan pada periode-periode yang lalu, bukan
menggambarkan dana yang telah dihimpun.
 Faktor dalam perhitungan Depresiasi :
 Biaya Perolehan : semua pengeluaran yang dikeluarkan
untuk mendapatkan aset hingga aset siap digunakan.
 Masa Manfaat : atau umur aset adalah jangka waktu
pemakaian aset yang diharapkan oleh perusahaan dan dapat
dinyatakan dalam satuan Waktu, Unit aktivitas , dan satuan
hasil.
 Nilai Residu : atau Nilai Sisa adalah taksiran nilai tunai
aset pada akhir masa manfaat aset tersebut
METODE DEPRESIASI
DEPRESIASI KESELURUHAN
 Metode Garis Lurus : beban depresiasi periodik
sepanjang masa pemakaian aset adalah sama besarnya.
 Metode Saldo Menurun : Tarif depresiasi tetap sama
pasa setiap tahun, akan tetapi nilai buku setiap tahunnya
semakin menurun. Tarif depresiasi yang sering
digunakan adalah tarif metode garis lurus yang dikalikan
dua sehingga disebut metode saldo menurun ganda.
 Metode Satuan Hasil : Masa manfaat tidak dinyatakan
dalam satuan Waktu, tetapi menggunakan satuan hasil
produksi yang diharapkan dari aset dan sangat ideal
diterapkan pada mesin pabrik atau kendaraan.
 DEPRESIASI PER KOMPONEN, Yaitu : bahwa setiap
bagian yang signifikan dari aset tetap yang memiliki nilai
taksiran masa manfaat berbeda secara signifikan harus
didepresiasi secara terpisah. Misalnya : gedung perusahaan
berbeda komponen dengan perumahan dinas.
 Depresiasi dan pajak penghasilan : UU Pajak Penghasiln
mengijinkan perusahaan untuk mengurangkan beban
depresiasi dalam menghitung pajak penghasilan yang harus
dibayarnya.
 Revisi Depresiasi Periodik : Bila taksiran beban depresiasi
terlalu tinggi atau terlalu rendah, perusahaan harus
mengubah jumlah taksiran beban depresiasinya untuk
tahun ini dan tahun-tahun mendatang dan tidak mengubah
tahun yang telah lewat.
Contoh soal perhitungan Depresiasi
 Pada 02 Januari 2011, PT.BROMO membeli sebuah aset
tetap baru berupa kendaraan truk untuk kegiatan
operasional perusahaan dan semuanya dibayar secara
tunai. Hitunglah depresiasi setiap tahun dengan
menggunakan metode yang ada dan buatlah jurnalnya
dengan rincian sebagai berikut :
Harga Faktur Truk Rp 100.000.000,00
Biaya BPKB dan pemasangan bak Rp 30.000.000,00
Biaya Perolehan Rp 130.000.000,00
Taksiran Nilai Residu Rp 10.000.000,00
Taksiran Masa Manfaat 5 Tahun
Taksiran Satuan Hasil 100.000 km
(2011=15.000km; 2012=30.000km; 2013=20.000km;
2014=25.000km; 2015=10.000km)
Metode Garis Lurus
BIAYA PEROLEHAN - NILAI RESIDU = BIAYA PEROLEHAN DI DEPRESIASI
Rp 130.000.000,00 - Rp 10.000.000,00 = Rp 120.000.000,00

BIAYA PEROLEHAN : MASA MANFAAT = BEBAN DEPRESIASI PER TAHUN


DI DEPRESIASI (DLM TAHUN)
Rp 120.000.000,00 : 5 Tahun = Rp 24.000.000,00/ Tahun
Tabel Depresiasi – Metode Garis Lurus
PERHITUNGAN AKHIR TAHUN
Biaya Perolehan Di Tarif Depresiasi Per Akumulasi
Tahun Nilai Buku
Depresiasi Depr Tahun Depresiasi
2011 Rp 120.000.000 20% Rp 24.000.000 Rp 24.000.000 Rp 106.000.000
2012 Rp 120.000.000 20% Rp 24.000.000 Rp 48.000.000 Rp 82.000.000
2013 Rp 120.000.000 20% Rp 24.000.000 Rp 72.000.000 Rp 58.000.000
2014 Rp 120.000.000 20% Rp 24.000.000 Rp 96.000.000 Rp 34.000.000
2015 Rp 120.000.000 20% Rp 24.000.000 Rp 120.000.000 Rp 10.000.000

Biaya Perolehan Didepresiasi = Harga Perolehan – Nilai Sisa


Tarif Depresiasi = 100% : Taksiran masa manfaat
Depresiasi per Tahun = Biaya Perolehan Di depresiasi x Tarif Depresiasi
Akumulasi Depresiasi = Setiap tahun beban depresiasi ditambahkan
Nilai Buku = Biaya Perolehan – Akumulasi Depresiasi
Jurnal
 02 Jan 2011 Kendaraan Rp 130.000.000
Kas Rp 130.000.000,00
 31 Des 2011 Beban Peny. Kendaraan Rp 24.000.000
Akm. Penyusutan Rp 24.000.000
 31 Des 2012Beban Penyusutan Rp 24.000.000
Akm. Penyusutan Rp 24.000.000
 31 Des 2013Beban Penyusutan Rp 24.000.000
Akm. Penyusutan Rp 24.000.000
 31 Des 2014Beban Penyusutan Rp 24.000.000
Akm. Penyusutan Rp 24.000.000
 31 Des 2015Beban Penyusutan Rp 24.000.000
Akm. Penyusutan Rp 24.000.000
Metode Saldo Menurun Ganda
TARIF DEPR. SALDO MENURUN = (100% : masa manfaat )x2
= (100% : 5 ) x2
= 40 % setiap tahun

NILAI BUKU PADA AWAL TAHUN X TARIF SALDO MENURUN =BEBAN DEPR SETAHUN
Rp 130.000.000,00 X 40 % = Rp 52.000.000,00

TABEL DEPRESIASI – METODE SALDO MENURUN GANDA


PERHITUNGAN AKHIR TAHUN
tahun Biaya Perolehan Tarif Depr Depr per tahun Akm. Depr Nilai Buku
Depr
2011 Rp 130.000.000 40% Rp 52.000.000 Rp 52.000.000 Rp 78.000.000
2012 Rp 78.000.000 40% Rp 31.200.000 Rp 83.200.000 Rp 46.800.000
2013 Rp 46.800.000 40% Rp 18.720.000 Rp 101.920.000 Rp 28.080.000
2014 Rp 28.080.000 40% Rp 11.230.000 Rp 113.150.000 Rp 16.850.000
2015 Rp 16.850.000 40% Rp 6.850.000 Rp 120.000.000 Rp 10.000.000
Pada perhitungan Depr tahun terakhir menyesuaikan agar nilai sisa sama
dengan yang ditaksirkan (sebenarnya Rp6.740.000 dibulatkan ke atas )
Jurnal
 02 Jan 2011 Kendaraan Rp 130.000.000,00
Kas Rp 130.000.000,00
 31 Des 2011 Beban Peny Kendaraan Rp 52.000.000
Akm. Peny Kendaraan Rp 52.000.000
 31 Des 2012 Beban Peny Kendaraan Rp 31.200.000
Akm. Peny Kendaraan Rp 31.200.000
 31 Des 2013 Beban Peny Kendaraan Rp 18.720.000
Akm. Peny Kendaraan Rp 18.720.000
 31 Des 2014 Beban Peny Kendaraan Rp 11.230.000
Akm. Peny Kendaraan Rp 11.230.000
 31 Des 2015 Beban Peny Kendaraan Rp 6.850.000
Akm. Peny Kendaraan Rp 6.850.000
Metode Satuan Hasil
BIAYA PEROLEHAN : Total Satuan Hasil = BEBAN DEPRESIASI PER SATUAN
DI DEPRESIASI HASIL
Rp 120.000.000,00 : 100.000 km = Rp 1.200,00 / km

Beban Depresiasi X Hasil Produksi = Beban Depr Tahun yang


Per satuan Hasil Tahun yg bersangkutan bersangkutan
Rp 1.200,00 X 15.000 km = Rp 18.000.000,00

TABEL DEPRESIASI – METODE SATUAN HASIL


PERHITUNGAN AKHIR TAHUN
tahun Satuan hasil Depr per Depr per Tahun Akm. Depr Nilai Buku
produksi satuan hasil
2011 15.000 km Rp 1.200 Rp 18.000.000 Rp 18.000.000 Rp 112.000.000
2012 30.000 km Rp 1.200 Rp 36.000.000 Rp 54.000.000 Rp 76.000.000
2013 20.000 km Rp 1.200 Rp 24.000.000 Rp 78.000.000 Rp 52.000.000
2014 25.000 km Rp 1.200 Rp 30.000.000 Rp 108.000.000 Rp 22.000.000
2015 10.000 km Rp 1.200 Rp 12.000.000 Rp 120.000.000 Rp 10.000.000
Jurnal
 02 Jan 2011 Kendaraan Rp 130.000.000,00
Kas Rp 130.000.000,00
 31 Des 2011 Beban Peny Kendaraan Rp 18.000.000
Akm. Peny Kendaraan Rp 18.000.000
 31 Des 2012 Beban Peny Kendaraan Rp 36.000.000
Akm. Peny Kendaraan Rp 36.000.000
 31 Des 2013 Beban Peny Kendaraan Rp 24.000.000
Akm. Peny Kendaraan Rp 24.000.000
 31 Des 2014 Beban Peny Kendaraan Rp 30.000.000
Akm. Peny Kendaraan Rp 30.000.000
 31 Des 2015 Beban Peny Kendaraan Rp 12.000.000
Akm. Peny Kendaraan Rp 12.000.000
PERBANDINGAN ANTAR METODE
TAHUN METODE GARIS METODE SALDO METODE SATUAN
LURUS MENURUN GANDA HASIL
2011 Rp 24.000.000,00 Rp 52.000.000,00 Rp 18.000.000,00
2012 Rp 24.000.000,00 Rp 31.200.000,00 Rp 36.000.000,00
2013 Rp 24.000.000,00 Rp 18.720.000,00 Rp 24.000.000,00
2014 Rp 24.000.000,00 Rp 11.230.000,00 Rp 30.000.000,00
2015 Rp 24.000.000,00 Rp 6.850.000,00 Rp 12.000.000,00
Total Rp 120.000.000,00 Rp 120.000.000,00 Rp 120.000.000,00
DEPRESIASI PER KOMPONEN
CONTOH :
PT SINAR MAS membangun sebuah gedung kantor dengan total Rp 4.000.000.000,00 (tidak
termasuk biaya perolehan tanah) ditaksir memiliki masa manfaat selama 40 tahun dengan
asumsi perusahaan menggunakan metode garis lurus . Rp 320.000.000 di antaranya adalah
untuk membangun perumahan dinas dengan masa manfaat 5 tahun dan Rp 600.000.000
untuk perbaikan tanah dengan masa manfaat 10 tahun. Maka :
Biaya Perolehan gedung setelah disesuaikan :
(Rp 4.000.000.000 – Rp 320.000.000 – Rp 600.000.000) = Rp 3.080.000.000

Depresiasi gedung per tahun (Rp3.080.000.000 : 40) = Rp 77.000.000


Depresiasi Perumahan Dinas ( Rp 320.000.000 : 5 ) = Rp 64.000.000
Depresiasi perbaikan Tanah ( Rp 600.000.000 : 10 ) = Rp 60.000.000
Total depresiasi per komponen tahun pertama = Rp 201.000.000
REVISI DEPRESIASI PERIODIK
Misalnya : PT.BROMO pd tgl 1 Januari 2014, memutuskan untuk memperpanjang satu tahun
taksiran masa manfaat truk karena kondisinya masih cukup bagus. Perusahaan telah
menggunakan metode depresiasi garis lurus dan nilai buku saat itu Rp 58.000.000,00 (Rp
130.000.000- Rp 72.000.000) . Dengan demikian depresiasi per tahun yang baru akan menjadi
Rp 16.000.000. perhitungannya:

Nilai Buku per 1 Januari 2014 Rp 58.000.000


Dikurangi : Nilai Residu Rp 10.000.000
Biaya perolehan yang masih akan didepresiasi Rp 48.000.000
Taksiran sisa umur yang baru 3 tahun ( 2014-2016)
Depresiasi per tahun setelah direvisi
(Rp 48.000.000 : 3 ) Rp 16.000.000
Jurnal
 31 Des 2014 Beban Peny Kendaraan Rp 16.000.000
Akm. Peny Kendaraan Rp 16.000.000
 31 Des 2015 Beban Peny Kendaraan Rp 16.000.000
Akm. Peny Kendaraan Rp 16.000.000
 31 Des 2016 Beban Peny Kendaraan Rp 16.000.000
Akm. Peny Kendaraan Rp 16.000.000
REVALUASI ASET TETAP
 Menurut SAK ETAP yang berlaku di indonesia tidak
memperkenankan untuk perusahaan tanpa akuntan
publik,dan tidak juga memperkenankan peniaian
kembali atau revaluasi tetap karena SAK ETAP (15-15)
menganut penilaian aset biaya perolehan atau
pertukaran.
 Penyimpangan tersebut biasanya dilakukan atas
ketentuan pemerintah.
 Revaluasi dapat menyebabkan naik atau
penurunan aktiva tetap. Penilaian
kembali aktiva tetap dapat digunakan
sebagai sarana bagi pemerintah atau
direktrat jendal pajak untuk
meningkatkan penerimaan negara yang
berasal dari pajak badan.
 Sedangkan wajib pajak sendiri penilaian
aktiva dapat dijadikan sebagai sarana
untuk melakukan perencanaan
perpajakan untuk menghemat
pembayaran pajak penghasilan badan.
Metode penilaian aktiva
tetap menurut PSAK no.16
 Aktiva tetap yang dapat di Revaluas
 AT berwujud: Tanah,Bangunan<bukan Bangunan
untuk di jual
 AT ada di wilayah indonesia
 Revaluasi sebagian atau seluruhnya
 Nilai yang digunakan adalah nilai pasar atau nilai
wajar oleh penilai
 Selisih lebih setelah di kurangi rugi fiskal karena
pph 10%
 Selisih lebih revauasi dikompensasi dulu dengan
rugi fiska tahun berjalan dan tahun sebelumnya
Aktiva tetap yang dapat di
Revaluasi (lanjutan)
 Revaluasi gabungan pph final 10% diangsur 5 tahun
 Jika revaluasi dilakukan tidak pada akhir tahun maka
kerugian dihitung sampai dilakukannya revaluasi
 Penyusutan baru dilakukan saat dilakukan revaluasi
dengan dasar nilai baru
 AT yang direvaluasi tidak boleh dialihkan dalam
jangka 5 tahun
Contoh soal
 Pt Agung sedayu akan melaksanakan revaluasi atas aset
tetapnya yang bernilai buku RP 200.000.000 , dengan
umur 5 tahun,tanpa nilai residu.dengan menggunakan
asumsi metode depresiasi garis lurus ,maka pada akhir
tahun 1 perusahan membuat jurnal sebagai berikut:
Des .31 Beban Depresiasi RP.40.000.000
Akumulasi Depresiasi Aset tetap RP.40.000.000
(untk mencatat beban depresiasi tahun 1)
 Setelah membuat jurnal, aset tetap PT agungsedayu memiliki nilai buku
sebesar
 RP.160.000.000 (RP.200.000.000-RP.40.000.000). Pada akhir tahun 1,
appraisers menetapkan bahwa nilai wajar aset tersebut adalah RP.165.000.000
. Untuk melaporkan aset sebesar nilai wajarnya maka PT agung sedayu harus
mengeliminasi akun akumulasi Depresiasi aset tetap, menurunkan aset tetap
menjadi sebesar wajarnya,dan mencatat surplus Revaluasi Rp.5.000.000.

Des.31 Akumulasi Depresiasi Aset tetap Rp.40.000.000


Asete Tetap Rp. 35.000.000
Surplus Revaluasi Rp.5.000.000
(untk mencatat beban depresiasi tahun 1)
 Demikian PT agung Sedayu melakukan dua tahap
dalam tahun !, PT agung sedayu mencatat
depresiasi yang dihitung atas biaya perolehan
(Rp.200.000.000).perusahaan akan melaporkan
beban depresiasi dalam lspporan laba rugi sebesar
Rp. 40.000.000,kemudian mencatat revaluasi
dalam soal di atas surplus revaluasi berjumlah
Rp.5.000.000 ,yaitu selisih antara nilai wajar aset
(RP.165.000.000) dengan nilai buku aset sebelum
di revaluasi (Rp.160.000.000). Surplus Revaluasi
adalah salah satu contoh pos yan dilaporkan
sebagai laba kompresensif lain-lain. Selanjutnya
pada akhir tahun 1 akan di laporkan pada neraca:
 Aset tetap (Rp.200.000.000-RP.35.000.000) Rp.165.000.000
 Akumulasi Depresiasi – aser tetap 0
--------------------
Rp.165.000.000
_______________
Surplus Revaluasi (ekuitas) Rp.5.000.000

Seperti di atas ,RP.165.000.000 adalah dasar yang baru bagi aset yang
di revaluasi . Pt agung sedayu melapporkan beban depresiasi sebesar
Rp.40.000.000 dalam laporan laba rugi dan Rp.5.000.000 dalam laba
komprehensif lain. Dengan sumsi tidak ada perubahan taksiran
umur, maka depresiasi pada tahun ke @ akan menjadi RP. 41.250.000
(165.000.000:4)
Pengeluaran Selama Massa
Manfaat
Revaluasi aktiva tetap memang mempunyai manfaat
bagi perusahaan, diantaranya yaitu:
1. Dapat menciptakan performance of balance sheet
yang lebih baik, sebagai akibat
meningkatnya nilai aktiva dan modal;
2. Meningkatkan kepercayaan para pemegang saham,
karena kenaikan nilai aktiva
dapat dicatat sebagai tambahan nilai saham (saham
bonus);
3. Meningkatkan kepercayaan kreditur, sebagai
dampak membaiknya beberapa rasio
keuangan perusahaan, khususnya yang ditunjukkan
oleh debt to assets
ratio dan debt to equity ratio.
4. Penghematan pajak yang terjadi sebagai akibat
bertambah besarnya nilai
penyusutan aktiva, yang dapat memberikan
penghematan pajak sebesar 30% dari
nilai tambah penyusutan. Sementara keuntungan dari
revaluasi aktiva hanya
dikenakan pajak final sebesar 10%
Kesalahan-kesalahan penaksiran umur aktiva akan berakibat
kesalahan dalam menghitung beban depresiasi,Apabila
diketahui taksiran umur aktiva di buat dengan tidak benar
maka tindakan koreksi dapat dilakukan .
terdapat dua jurnal pertama jurnal untuk membenarkan
nilai buku :
 Apabila depresiasi tahun lalu telah lewat terlalu besar
maka jurnalnya sebagai berikut :
akumulasi depresiasi XXXXX
koreksi laba tahun lalu XXXXXX
 Apabila depresiasi tahun lalu telah lewat terlalu kecil
maka jurnalnya sebagai berikut
Koreksi laba tahun lalu XXXX
akumulasi depresiasi XXXX
Erma Dwi C. / 8 / D4 1D
M. Rizki Aditya / / D4 1D
Nikita Savira / 21 / D4 1D
Pelepasan aset tetap
 Pelepasan Aktiva merupakan kegiatan pengurangan
jumlah aktiva yang dilakukan perusahaan karena berbagai
alasan. Pertimbangan efisiensi telah menjadi acuan
penting dalam memutuskan kebijakan aktiva.
 Pada saat pelepasan terjadi, perusahaan harus mencatat
depresiasi untuk masa sejak dicatatnya depresiasi yang terakhir
sampai saat terjadinya penyelesaian.
 Perusahaan terlebih dahulu mencari nilai buku yaitu selisih
antara biaya perolehan suatu aset tetap dg akumulasi
depresiasinya Selanjutnya nilai buku dieliminasi dengan :
1. Mendebet (mengurangi) akumulasi depresiasi sejumlah
depresiasi yang telah dilakukan sampai dengan saat pelepasan
2. Mengkredit (mengurangi) akun aset tetap sebesar biaya
perolehan aset tetap yang bersangkutan.
Cara Pelepasan Aset Tetap
Aktiva tetap yang sudah habis masa guna atau umur ekonomisnya
atau mungkin mengalami kerusakan karena proses produksi, dan
DIHENTIKA CONTOH
tidak dapat diperbaiki lagi, perusahaan dapat mengambil
N SOAL
keputusan untuk membuang aktiva tetap tersebut.

Aktiva yang tidak terpakai lagi jika masih laku, maka perusahaan CONTOH
DIJUAL
dapat menjual aktiva tersebut SOAL

Aktiva yang sudah tidak terpakai, selain dibuang dan dijual, dapat
ditukar dengan aktiva tetap yang lain, baik dengan perushaan lain,
CONTOH
DITUKAR maupun ditukar yang baru dengan menambah uang /pembayaran.
SOAL
Aktiva tersebut dapat ditukar dengan aktiva sejenis maupun aktiva
lain
Contoh soal (Dihentikan –
depresiasi penuh)

 Biaya perolehan mesin 32.000.000


 Akm depresiasi 32.000.000
 Dengan kata lain mesin tersebut telah
didepresiasikan penuh
Jurnal dihentikan – depresiasi
penuh

 Jurnal
Akm depresiasi mesin 32.000.000
mesin 32.000.000
Contoh soal (Dihentikan –
depresiasi tdk penuh)

 Biaya perolehan mesin 180.000.000


 Depresiasi mesin 140.000.000
Jurnal Dihentikan – depresiasi tdk
penuh
 Jurnal
akm depresiasi mesin 140.000.000
kerugian penghentian pemakaian mesin 40.000.000
mesin 180.000.000
Contoh soal (Dijual)
Diketahui:
Tgl 1 juli 20111 PT mulia menjual mebel mebel
kantor yang memiliki biaya perolehan sebesar
60.000.000. Hasil penjualan mebel 16.000.000.
Pada tanggal 1 januari 2011 diketahui akm
depresiasi nya sebesar 41.000.000.Depresiasi
untuk 6 bulan di tahun 2011 (januari-juni)
sebesar 8.000.000. Tgl 1 juli perusahaan
memutahirkan akm depresiasi dg jurnal sbg
berikut
jurnal
beban depresiasi 8.000.000
akm depresiasi mebel 8.000.000

Menghitung laba-rugi
Biaya perolehan mebel 60.000.000
Akm depresiasi mebel(41.000.000 + 8.000.000) 49.000.000
Nilai buku 11.000.000
Hasil penjualan 16.000.000
Laba penjualan 5.000.000
Jurnal Dijual
 JURNAL - laba
Kas 16.000.000
Akm penyusutan mesin 49.000.000
Mebel kantor 60.000.000
Laba penjualan AT 5.000.000
JURNAL - rugi

Kas xxx
Akm penyusutan mesin xxx
rugi penjualan aset tetap xxx
mebel kantor xxx
Contoh Soal (Ditukar – rugi)
 PT Rajawali menukar truk bekas ditambah uang sejumlah Rp 170.000.000 dengan mobil
pick up. Truk bekas memiliki nilai buku Rp 420.000.000 (biaya perolehan Rp 640.000.000
dikurangi akumulasi depresiasi Rp 220.000.000. Nilai wajar truk adalah Rp 260.000.000

Menghitung biaya perolehan:


Nilai wajar truk bekas Rp 260.000.000
Kas yang dikeluarkan Rp 170.000.000
Biaya perolehan pick up Rp 430.000.000

Menghitung laba/rugi
Nilai buku truk bekas (Rp 640.000.000-Rp220.000.000) Rp 420.000.000
Nilai wajar truk bekas Rp 260.000.000
Kerugian Rp 160.000.000
Jurnal Ditukar - rugi
 JURNAL
pick up Rp 430.000.000
akm depresiasi truk Rp 220.000.000
kerugian pertukaran AT Rp 160.000.000
truk Rp 640.000.000
kas Rp 170.000.000
Contoh Soal (Ditukar – laba)
 PT Kencana menukar mobil lama ditambah kas sebesar Rp 30.000.000 dengan mobil
baru. Nilai buku mobil lama Rp 120.000.000 (biaya perolehan Rp 400.000.000 dikurangi
akm depreasiasi Rp 280.000.000. Nilai wajar mobil lama adalah Rp 190.000.000
 Menghitung biaya perolehan mobil baru
Nilai wajar mobil lama Rp 190.000.000
Kas yang keluar Rp 30.000.000
Biaya perolehan Rp 220.000.000

 Menghitung laba/rugi
Nilai wajar mobil lama Rp 190.000.000
Nilai buku mobil lama(Rp 400.000-Rp 280.000.000) Rp 120.000.000
Laba Rp 70.000.000
Jurnal ditukar -laba
 JURNAL
mobil (baru) Rp 220.000.000
Akm depresiasi - mobil RP 280.000.000
Mobil (lama) Rp 400.000.000
Laba Rp 70.000.000
kas Rp. 30.000.000
1. Dewa Endar (05)
2. Filda Ayu Marta (09)
3. Uci Puspita Sari (27)
DEFINISI
Aset Tak Berwujud adalah hak-hak istimewa, dan
keuntungan kompetitif yang timbul dari pemilikan aset
jangka panjang yang tidak memiliki substansi fisik
(tidak berujud) atau posisi yang menguntungkan guna
menghasilkan pendapatan.
Bersumber dari:
 Pemerintah
Akuisisi
Hak monopoli dari perjanjian kontrak
JENIS-JENIS ASET TAK BERUJUD
 HAK PATEN
Adalah hak khusus yang diberikan oleh pemerintah
kepada penerimanya untuk menghasilkan, menjual,
atau melakukan pengendalian lain atas suatu penemuan
dalam jangka waktu tertentu sejak hak tersebut
diberikan.
Biaya perolehan awal = harga tunai yang dibayarkan
untuk memperoleh hak paten
HAK CIPTA
Pemerintah adalah pemberi hak cipta yang memberikan hak ekslusif
kepada pemegangnya untuk memproduksi dan menjual barang-barang
hasil karya artistic dan penerbitan. Hak cipta biasanya diamortisasi
dalam jangka waktu yang pendek.

HAK MERK DAN NAMA DAGANG


Merek adalah kata, sebutan atau simbol yang mengidentifikasi sebuah
perusahaan atau produk. Biaya perolehannya adalah harga yang harus
dibayar untuk membeli hak tersebut.
 FRANCHISES DAN LISENSI
Franchises adalah suatu perjanjian kontrak antara
franchisor dengan franchisee.
Apabila perusahaan dapat mengidentifikasi biaya yang
berkaitan dengan pembelian suatu franchises atau
lisensi, maka biaya perolehan tersebut harus diakui
sebagai asset tak berujud.
 GOODWILL
Goodwill mercerminkan nilai semua keunggulan atribut
yang berkaitan dengan suatu perusahaan.
Contohnya:
a. Lokasi yang strategis
b. Relasi dengan pelanggan yang baik
c. Produk berkualitas tinggi
d. Karyawan yang terampil dan terlatih
e. Dll.
Gooodwil akan dicatat jika perusahaan dibeli secara
keseluruhan.
Goodwill adalah selisih harga beli dengan nilai wajar aset bersih

 RESEARCH DAN PENGEMBANGAN


Adalah pengeluaran-pengeluaran yang pada akhirnya bias
menghasilkan hak paten, hak cipta, proses produksi baru, dan
produk baru.
 PELAPORAN DALAM LAPORAN KEUANGAN
Didalam laporan keuangan aset-aset tetap dengan sumber-
sumber alam dilaporkan dalam satu kelompok. Sedangkan
aset tidak berwujud dilaporkan secara terpisah.
1. Dewa Endar (05)
2. Filda Ayu Marta (09)
3. Uci Puspita Sari (27)
DEFINISI
Aset Tak Berwujud adalah hak-hak istimewa, dan
keuntungan kompetitif yang timbul dari pemilikan aset
jangka panjang yang tidak memiliki substansi fisik
(tidak berwujud) atau posisi yang menguntungkan guna
menghasilkan pendapatan.
Bersumber dari:
 Pemerintah
Akuisisi
Hak monopoli dari perjanjian kontrak
Amortisasi aset tak berwujud dicatat dengan mendebet
Beban Amortisasi dan mengkredit aset tak berwujud yang
bersangkutan
Contoh jurnal amortisasi aset tak berwujud
Des.1 Beban Amortisasi-Hak Paten XXX
Hak Paten XXX

(untuk mencatat amortisasi hak paten)


JENIS-JENIS ASET TAK BERUJUD
 HAK PATEN
Adalah hak khusus yang diberikan oleh pemerintah
kepada penerimanya untuk menghasilkan, menjual,
atau melakukan pengendalian lain atas suatu penemuan
dalam jangka waktu tertentu sejak hak tersebut
diberikan.
Biaya perolehan awal = harga tunai yang dibayarkan
untuk memperoleh hak paten
HAK CIPTA
Pemerintah adalah pemberi hak cipta yang memberikan
hak ekslusif kepada pemegangnya untuk memproduksi
dan menjual barang-barang hasil karya artistic dan
penerbitan. Hak cipta biasanya diamortisasi dalam jangka
waktu yang pendek.

HAK MERK DAN NAMA DAGANG


Merek adalah kata, sebutan atau simbol yang
mengidentifikasi sebuah perusahaan atau produk. Biaya
perolehannya adalah harga yang harus dibayar untuk
membeli hak tersebut.
 FRANCHISES DAN LISENSI
Franchises adalah suatu perjanjian kontrak antara
franchisor dengan franchisee.
Apabila perusahaan dapat mengidentifikasi biaya yang
berkaitan dengan pembelian suatu franchises atau
lisensi, maka biaya perolehan tersebut harus diakui
sebagai asset tak berujud.
 GOODWILL
Goodwill mercerminkan nilai semua
keunggulan atribut yang berkaitan dengan
suatu perusahaan.
Contohnya:
a. Lokasi yang strategis
b. Relasi dengan pelanggan yang baik
c. Produk berkualitas tinggi
d. Karyawan yang terampil dan terlatih
e. Dll.
Gooodwil akan dicatat jika perusahaan dibeli secara
keseluruhan.
Goodwill adalah selisih harga beli dengan nilai wajar
aset bersih
 RESEARCH DAN PENGEMBANGAN
Adalah pengeluaran-pengeluaran yang pada akhirnya
bias menghasilkan hak paten, hak cipta, proses produksi
baru, dan produk baru.
Beban Research Rp. 1.000.000.000
Beban Pengembangan 500.000.000
Biaya Pengembangan 1.500.000.000
Kas Rp.3.000.000.000
(Untuk mencatat pengeluaran untuk research dan
pengembangan)
 PELAPORAN DALAM LAPORAN KEUANGAN
Didalam laporan keuangan aset-aset tetap dengan sumber-
sumber alam dilaporkan dalam satu kelompok. Sedangkan
aset tidak berwujud dilaporkan secara terpisah.
Contoh penyajian aset tetap dalam neraca
Kelompok:
Angel Fairy Deriztu
Nadya Rizky
Riky Febriansyah
Latihan 3-1

Rp
Harga Tunai Tanah 120.000.000
Rp
Kondisi Perantara 3.600.000
Rp
Biaya Balik Nama 900.000
Rp
Pembongkaran Gedung 6.000.000
Penjualan Hasil Rp
Bongkaran (1.200.000)
Biaya Pembongkaran Rp
Bersih 4.800.000
Rp
Biaya Peralatan Tanah 2.000.000
Rp
Pajak Bumi & Bangunan 6.000.000
Rp
Biaya Perolehan Tanah 137.300.000
Latihan 3-2
Metoda Nilai Jual Relatif / Nilai Jual Pasar

ASET TETAP HARGA JUAL RASIO BIAYA PEROLEHAN


Tanah Rp 100.000.000 10% Rp 80.000.000
Gedung Rp 650.000.000 65% Rp 520.000.000
Peralatan Rp 250.000.000 25% Rp 200.000.000
JUMLAH Rp 1.000.000.000 100% Rp 800.000.000
JURNAL

Tanah Rp 80.000.000
Gedung Rp 520.000.000
Peralatan Rp 200.000.000
Kas Rp 800.000.000
Anggota Kelompok :
Abdullah Huda (01)
Nada Qoribah F. (18)
Wiya Retno A. (30)
Latihan 3-3
• SOAL
 Tanggal 2 Januari 2011, PT. PRAMBANAN membeli sebuah mesin dengan harga
Rp.24.000.000 dengan termin 2/10, n/30. pembayaran dilakukan pada periode
potongan, termasuk pajak pertambahan nilai sebesar Rp.2.400.000. Perusahaan juga
membayar biaya pengangkutan sebesar Rp.1.200.000. Karena kelalaian karyawan,
mesin tersebut mengalami kerusakan ringan. Biaya untuk memperbaiki kerusakan
sebesar Rp.125.000. Biaya untuk pemasangan mesin berjumlah Rp.1.610.000 dan
mesin ini ditaksir punya umur ekonomis 5 tahun dengan nilai sisa Rp.2.000.000

1. Hitung Biaya Perolehan Mesin


2. Bila mesin mulai dipakai tanggal 4 Januari 2011, Hitung biaya depresiasi Tahun 1-5
 metode : a. Garis lurus
 b. Saldo menurun ganda
 3. Buat Jurnal utk mencatat depresiasi tahun 2012 dengan menggunakan metode
saldo menurun ganda.
JAWABAN
1. Biaya perolehan mesin
Harga Tunai Rp.24.000.000
karena menerima potongan Rp.24.000.000 x 2/100 = Rp.23.520.000

Pajak Pertambahan nilai Rp.2.400.000


Biaya Pengangkutan Rp.1.200.000
Biaya pemasangan mesin Rp.1.610.000 +
Biaya perolehan mesin Rp. 28.730.000
2. a) Metode Garis Lurus
= Biaya Perolehan – Nilai Residu : Masa manfaat
= Rp.28.730.000 – Rp.2.000.000
= Rp.26.730.000 : 5
= Rp.5.346.000 = Biaya Depresiasi / Tahun

Perhitungan Beban Akhir Tahun


Tahun
Tarif
Biaya Perolehan Depresiasi Akumulasi
Depresias Nilai Buku
Depresiasi Per Tahun Depresiasi
i
2011 Rp.26.730.000 20% Rp.5.346.000 Rp.5.346.000 Rp.23.384.000

2012 Rp.26.730.000 20% Rp.5.346.000 Rp.10.692.000 Rp.18.038.000

2013 Rp.26.730.000 20% Rp.5.346.000 Rp.16.038.000 Rp.12.692.000

2014 Rp.26.730.000 20% Rp.5.346.000 Rp.21.384.000 Rp.7.346.000

2015 Rp.26.730.000 20% Rp.5.346.000 Rp.26.730.00 Rp.2.000.000


0
b.) Saldo menurun ganda

Perhitungan Beban Akhir Tahun


Tahun
Tarif
Biaya Perolehan Depresiasi Per Akumulasi
Depresias Nilai Buku
Depresiasi Tahun Depresiasi
i
2011 Rp.26.730.000 40% Rp.10.692.000 Rp.10.692.000 Rp.18.038.000

2012 Rp.18.038.00 40% Rp.7.215.200 Rp.17.907.200 Rp.10.822.800

2013 Rp.10.822.800 40% Rp.4.329.120 Rp.22.236.320 Rp.6.493.680

2014 Rp.6.493.680 40% Rp.2.597.472 Rp.24.833.792 Rp.3.896.208

2015 Rp.3.896.208 40% Rp.1.558.483,2 Rp.26.392.275,2 Rp.2.000.000


3. Jurnal

Mesin Rp.28.730.000
Kas Rp.28.730.000

Beban Penyusutan Rp.10.692.000


Akm Penyusutan Rp. Rp.10.692.000
LATIHAN 3-4
 Pada tanggal 1 oktober 2011 PT Dieng membeli mobil dengan
harga Rp 42.000.000. mobil ini diperkirakan mempunyai umur 4
tahun dan dapat dikendarai sejauh 180.000km dengan nilai sisa
Rp 6.000.000. untuk tahun 2011 kendaraan ini dikendarai sejauh
16.000km, tahun 2012 sejauh 20.000km dan tahun 2013 sejauh
21.000km. Perusahaan melakukan tutup buku tiap tanggal 31
desember hitunglah :
1) Hitunglah biaya depresiasi untuk tahun 2011, 2012, 2013 dengan
menggunakan metode:
a. Garis Lurus
b. Saldo menurun ganda
c. Unit Produksi
2) Buatlah Jurnal untuk mencatat depresiasi tahun 2011 dengan
metode satuan hasil
1. a) metode Garis Lurus
= Harga Perolehan – Nilai Sisa
= Rp.42.000.000 – Rp.6.000.000
= Rp.36.000.000
Rp.36.000.000 : 180.000 km
= 200 km

2011 16.000 x 200 = Rp.3.200.000


2012 20.000 x 200 = Rp.4.000.000
2013 21.000 x 200 = Rp.4.200.000 +

Rp.11.400.000
b) Saldo menurun ganda

Perhitungan Beban Akhir Tahun


Tahun
Biaya Perolehan Tarif Depresiasi Per Akumulasi
Nilai Buku
Depresiasi Depresiasi Tahun Depresiasi

2011 Rp.36.000.000 50% Rp.18.000.000 Rp.18.000.00 Rp.18.000.000


0
2012 Rp.18.000.000 50% Rp.9.000.000 Rp.27.000.00 Rp.9.000.000
0
2013 Rp.9.000.000 50% Rp.4.500.000 Rp.31.500.000 Rp.4.500.000
c) Unit Produksi
2011 16.000 : 180.000 x Rp.36.000.000 = Rp. 3.200.000
2012 20.000 : 180.000 x Rp.36.000.000 = Rp. 4.000.000
2013 21.000 : 180.000 x Rp.36.000.000 = Rp. 4.200.000
3) MENGGUNAKAN METODE SATUAN HASIL

Rp 36.000.0000 : 180.000 KM = Rp 200

Perhitungan Beban Akhir Tahun


Tahun
Satuan Hasil Tarif Depresiasi Per Akumulasi
Nilai Buku
Produksi Depresiasi Tahun Depresiasi

2011 16.000 Rp 200 Rp.3.200.000 Rp.3.200.000 Rp. 38.800.000

2012 20.000 Rp 200 Rp.4.000.000 Rp. 7.200.000 Rp. 34.800.000

2013 21.000 Rp 200 Rp.4.200.000 Rp.11.400.000 Rp. 30.600.000


Jurnal
Nama Kelompok
 Dwinanda A S
 Filda Ayu
 Lailatul Mufida

LATIHAN 3-5 dan 3-6


a. Jurnal Pembelian
Harga Mesin Rp 50.000.000
Potongan Tunai (Rp 1.250.000)
PPn Rp 5.000.000
B. Pengangutan Rp 310.000
B. Pemasangan Rp 440.000 +
Biaya Perolehan Rp 54.500.000

3/1/11 Mesin Rp 54.500.000


Kas Rp 54.500.000
b. Jurnal Depresiasi Mesin
Harga Mesin Rp 50.000.000
Potongan Tunai (Rp 1.250.000)
PPn Rp 5.000.000
B. Pengangutan Rp 310.000
B. Pemasangan Rp 440.000 +
Biaya Perolehan Rp 54.500.000

Biaya Perolehan – Nilai Residu = Biaya Perolehan Mesin


Umur Manfaat
Rp 54.500.000 – Rp 2.500.000 = Rp 6.500.000
8
31/12/11 Beban Depresiasi Mesin Rp 6.500.000
Akm Depresiasi Mesin Rp 6.500.000
31/12/12 Beban Depresiasi Mesin Rp 6.500.000
Akm Depresiasi Mesin Rp 6.500.000
c. Jurnal Pengeluaran Reparasi Mesin
2/1/12 Mesin Rp 6.000.000
Kas Rp 6.000.000
Nilai Buku Mesin Rp 54.500.000 + Rp 6.000.000 = Rp 60.500.000

d. Jurnal Depresiasi th 2012


Biaya Perolehan Rp 54.500.000
Reparasi Mesin Rp 6.000.000
Akm Depresiasi Th 2011 (Rp 6.500.000)
Nilai Sisa (Rp 2.500.000)
bisya didepresiasi Rp. 51.500.000

Nilai Mesin = Biaya Depresiasi


Umur Ekonomis
Rp 51.500.000 = Rp 4.681.818,18
11
31/12/12 Beban Depresiasi Mesin Rp 4.681.818,18
Akm Depresiasi Mesin Rp 4.681.818,18
Truck A
Nilai Residu = Rp 150.000.000 x 10% = Rp 15.000.000
Beban depresiasi = Rp 150.000.000 – Rp 15.000.000 = Rp 27.000.000
5
Akumulasi Depresiasi = Rp 81.000.000
Rp 27.000.000
= 3 tahun

Truck B
Nilai Residu = Rp 180.000.000 x 10% = Rp 18.000.000
Beban depresiasi = Rp 180.000.000 – Rp 18.000.000 = Rp. 32.400.000
5
Akumulasi Depresiasi = Rp 81.000.000
Rp 32.400.000
= 2,5 tahun
a. Januari 1
Biaya Perolehan th 2011 Rp 150.000.000
Akm Depresiasi th 2011 (Rp 81.000.000)
Tambahan Box Rp 25.000.000
Nilai Residu (Rp 20.000.000)
Nilai Truck Rp 74.000.000

Nilai Truck = Biaya Depresiasi


Umur Ekonomis
Rp 74.000.000 = Rp 37.000.000
2
31/12/2011 Beban Depresiasi Truck Rp 37.000.000
Akm Depresiasi Truck Rp 37.000.000
b. Juli 1
Depresiasi 1 Januari 2011 – 1 Juli 2011
Rp. 32.400.000 x 6/12 = Rp 16.200.000
N.B Truck 1/1/2011 Rp 99.000.000
Depresiasi 1 Januari 2011 – 1 Juli 2011 (Rp 16.200.000)
NB Truck 1/7/2011 Rp 82.800.000
B. Overhaul Rp 25.200.000
NB Truck setelah overhoul Rp 108.000.000
Nilai Residu (Rp 18.000.000)
Nilai Truck Rp 90.000.000

Nilai Truck = Biaya Depresiasi


Umur Ekonomis
Rp90.000.000 = Rp 30.000.000
3
Depresiasi 1/7/2011 - 31/12/2011 = Rp 30.000.000 x 6/12 = Rp 15.000.000

31/12/2011 Beban Depresiasi Truck Rp 31.200.000


Akm Depresiasi Truck Rp 31.200.000
Haniif Shofyannanda Wahyudi (10)

Kunanti Windu Palupi (12)

Onia Vebry Ayu Damayanti (24)


Soal 3.6
Jan-06 Mesin Rp 7.800.000
Kerugian pemasangan mesin Rp 250.000
Kas Rp 8.050.000
(Mesin = Rp.7000.000 + Rp. 800.000 = Rp. 7.800.000)

Mar-07 Tanah Rp 129.000.000


Kas Rp 129.000.000
(Tanah = Rp. 110.000.000 + Rp. 15.000.000 + Rp. 4.000.000 = Rp. 129.000.000)

Mar-20 Tanah Rp 9.000.000


Kas Rp 9.000.000

Apr-10 Perbaikan Tanah Rp 16.500.000


Kas Rp 16.500.000
Harga Beli Rp 18.000.000
Potongan 2% x Rp. 18.000.000 Rp (360.000)
Pembelian Bersih Rp 17.640.000
PPN 5% x Rp. 17.640.000 Rp 882.000
Biaya pengangkutan Rp 478.000
Harga perolehan Rp 19.000.000

Jun-23 Mesin Rp 19.000.000


Kas Rp 19.000.000
Nop-01 Mesin Rp 27.000.000
Kas Rp 27.000.000
JURNAL PENYESUAIAN
Mesin A
- Tarif = 100% : 3 = 33,33 % x 2 = 66,66 %
- Penyusutan = 66,66 % x Rp.7.800.000 = Rp. 5.199.480

Mesin B
- Tarif = ( 100 : 10 ) x 2 = 20 %
- Penyusutan = 20 % x 6/12 x Rp. 19.000.000 = Rp. 1.900.000

Mesin C
-Tarif = ( 100 : 4 ) x 2 = 50 %
-Penyusutan = 2/12 x 50 % x Rp. 27.000.000 = Rp. 2.250.000

Perbaikan Tanah
-Tarif = ( 100 : 10 ) x 2 = 20 %
-Penyusutan = 9/12 x 20 % x Rp. 16.500.000 = Rp. 2.475.000

Des-31Beban Depresiasi Rp 11.824.480


Akumulasi penyusutan mesin Rp 9.349.480
Akumulasi penyusutan perbaikan tanah Rp 2.475.000
Soal 3.8
Apr-01Tanah Rp 2.130.000.000
Kas Rp 2.130.000.000
Tarif penyusutan peralatan = 100 % : 10 = 10 %
Biaya perolehan Rp 780.000.000
Akumulasi Depresiasi Gedung
(1/1/2008 – 31/12/11) 10 % x 4x
Rp. 780.000.000= Rp 312.000.000
(1/1/12 – 1/5/12) 10 % x 4/12 x
Rp. 780.000.000 = Rp 26.000.000
Rp (338.000.000)
Rp 442.000.000
Hasil Penjualan Rp 450.000.000
Laba penjualan Aset Tetap Rp 8.000.000
Mei-01Beban Depresiasi Rp 26.000.000
Akumulasi Depresiasi Peralatan Rp 26.000.000
Mei-01Kas Rp 450.000.000
Akumulasi Depresiasi Peralatan Rp 338.000.000
Peralatan Rp 780.000.000
Laba Penjualan Aset Tetap Rp 8.000.000
Biaya Perolehan Rp 400.000.000
Hasil Penjualan Rp 1.500.000.000
Laba penjualan aset tetap Rp 1.100.000.000

Jun-01Kas Rp 1.500.000.000
Tanah Rp 400.000.000
Laba penjualan aset tetap Rp 1.100.000.000

Jul-01Peralatan Rp 2.000.000.000
Kas Rp 2.000.000.000

Des-31Akumulasi Depresiasi Peralatan Rp 500.000.000


Peralatan Rp 500.000.000
Jurnal Penyesuaian
Gedung
Tarif = 100 : 50 = 2%
Penyusutan 2% x Rp. 28.500.000.000 Rp 570.000.000
Peralatan
Tarif = 100 : 10 = 10%
10% x (Rp. 48.000.000.000-Rp. 780.000.000-Rp.
Penyusutan 500.000.000) Rp 4.672.000.000

6/12 x 10% x Rp. 2.000.000.000 Rp 100.000.000

Rp 4.772.000.000

Rp 5.342.000.000

Des-31Beban Depresiasi Rp 5.342.000.000

Akumulasi Dep. Gedung Rp 570.000.000

Akumulasi Dep. Peralatan Rp 4.772.000.000


Neraca per 31 Desember 2012
Tanah Rp 5.730.000.000

Gedung Rp 28.500.000.000

Akumulasi Dep. Gedung Rp (12.670.000.000)

Rp 15.830.000.000

Peralatan Rp 48.720.000.000

Akumulasi Dep. Peralatan Rp (9.772.000.000)

Rp 38.948.000.000

Total Aset Tetap Rp 60.508.000.000


SOAL 3.1 Dhito Nur Aulia
 a. Tanah Rp 1,000,000
 Kas Rp 1,000,000
 (capital expenditures)

b. Biaya Reparasi Kendaraan bermotor Rp 120,000


 Kas Rp 120,000
 (revenue expenditures)

c. Mesin Rp 75,000
 Kas Rp 75,000
 (capital expenditure)

d. Gedung Rp 3,600,000
 Kas Rp 3,600,000
 (capital expenditures)

e. Mesin Rp 540,000
 Kas Rp 540,000
 (capital expenditures)

f. Mesin Rp 1,750,000
 Kas Rp 1,750,000
 (Capital expenditures)
g. Tanah Rp 1,300,000
Kas Rp 1,300,000
(Capital expenditures)

h. Biaya pemeliharaan gedung Rp 315,000


Kas Rp 315,000
(Revenue expenditures)

i. Gedung Rp 350,000
Kas Rp 350,000
(Capital expenditures)

j. Biaya pemeliharaan motor Rp 280,000


Kas Rp 280,000
(Revenue expenditures)

k. Biaya pemeliharaan gedung Rp 80,000


Kas Rp 80,000
(Revenue expenditures)

i. Tanah Rp, 7,400,000


Kas Rp 7,400,000
(Capital expenditures)
m. Mesin Rp 500,000
Kas Rp 500,000
(Capital Expenditure)
SOAL 3-2
HAL : 186-187
Keterangan Tanah Gedung Mesin Lain-Lain

a. Pembelian Rp 180.000.000
Tanah
b. Biaya Komisi Rp 9.200.000
(Tanah)
c. Biaya Balik Rp 2.000.000
Nama
d. Pembelian Rp 28.100.000
Mesin
e. Biaya Perataan Rp 2.100.000
(Tanah)
f. Biaya Honor Rp 4.700.000
Arsitektur
(Gedung)
g. Biaya Ijin Rp 400.000
(Gedung)
h. Biaya Rp 12.000.000
Pembongkaran
(Gedung Lama)
i. Biaya Premi Rp 120.000
Asuransi (Mesin)
Keterangan Tanah Gedung Mesin Lain-Lain
j. Biaya Rp 155.000.000
Kontraktor
(Gedung Baru)
k. Biaya Angkut Rp 240.000
(Mesin)
l. Biaya Rp 470.000
Penyiapan
Tempat (Mesin)
m. Biaya Rp 15.000.000
Pembuatan (perbaikan tanah)
Tempat Parkir
n. Biaya Rp 7.500.000
Pemasangan
(mesin)
o. Biaya Uji Coba Rp 950.000
(Mesin)

p. Biaya Reparasi Rp 55.000


& Pemeliharaan
(Mesin)
Keterangan Tanah Gedung Mesin Lain-Lain
Pendapatan (Rp 2.000.000)
(Pembongkar
an Gedung)
JUMLAH Rp 208.300.000 Rp 14.700.000 Rp 36.790.000 Rp 156.045.000
Latihan 3-4
1. Metode Garis Lurus
 Biaya Perolehan – Nilai Residu = Biaya Perolehan
Depresisasi
 Rp 89.000.000 – Rp 5.000.000 = Rp 84.000.000

 Tarif Depresiasi
 100%/5 = 20%
Tabel
TABEL DEPRESIASI - METODE GARIS LURUS
Perhitungan Akhir Tahun
Tahun
Biaya Perolehan Tarif Depresiasi Per Akumulasi Nilai Buku
Dipresiasi Depresiasi Tahun Depresiasi

2012 Rp84.000.000 20% 16800000 16800000 Rp72.200.000

2013 Rp84.000.000 20% 16800000 33600000 Rp55.400.000

2014 Rp84.000.000 20% 16800000 50400000 Rp38.600.000

2015 Rp84.000.000 20% 16800000 67200000 Rp21.800.000

2016 Rp84.000.000 20% 16800000 84000000 Rp5.000.000


2. Metode Jumlah Angka Tahunan
 Jumlah Angka Tahun (JAT) = n(n+1)/2
 = 5(5+1)/2
 = 15
 Biaya Perolehan – Nilai Residu = Biaya Perolehan
Depresisasi
 Rp 89.000.000 – Rp 5.000.000 = Rp 84.000.000
Tabel

AKUMULASI
TAHUN HITUNG-HITUNGAN DEPRESIASI DEPRESIASI NILAI BUKU

TAHUN I 5/15 X 84000000 28000000 28000000 Rp61.000.000

TAHUN II 4/15 X 84000000 22400000 50400000 Rp38.600.000

TAHUN III 3/15 X 84000000 16800000 67200000 Rp21.800.000

TAHUN IV 2/15 X 84000000 11200000 78400000 Rp10.600.000

TAHUN V 1/15 X 84000000 5600000 84000000 Rp5.000.000


3. Metode Saldo Menurun Ganda
100%
 Tarif Depresiasi = x2
𝑈𝑚𝑢𝑟 𝐸𝑘𝑜𝑛𝑜𝑚𝑖𝑠
100%
 = x2
5
 = 40%
Tabel
TABEL DEPRESIASI - METODE GARIS LURUS

Perhitungan Beban Akhir Tahun

Tahun
Nilai Buku
Biaya Perolehan Dipresiasi Tarif Depresiasi Per Akumulasi
(Nilai Buku Awal Th) Depresiasi Tahun Depresiasi
2012 Rp89.000.000 40% Rp35.600.000 Rp35.600.000 Rp53.400.000
2013 Rp53.400.000 40% Rp21.360.000 Rp56.960.000 Rp32.040.000
2014 Rp32.040.000 40% Rp12.816.000 Rp69.766.000 Rp19.224.000
2015 Rp19.224.000 40% Rp7.689.600 Rp77.465.600 Rp11.534.400
2016 Rp11.534.400 40% Rp6.534.400* Rp84.000.000 Rp5.000.000

*Menurut perhitungan pada akhir tahun 2016 depresiasinya


adalah Rp 11.534.400 x 40% = Rp 4.613.750
SOAL 3-5 HAL 189
PENERAPAN
METODE GARIS LURUS
SALDO MENURUN GANDA
METODE SATUAN HASIL
 METODE GARIS LURUS
 PT cangkuang,sebuah perusahaan yang memproduksi
keramik,membeli sebuah alat pemanas untuk digunakan dalam
usahanya.informasi yangberhubungan dengan perusahaan adalah
sebagai berikut :
Harga beli yang dibayarkan pada penjual Rp 10.600.000
Biaya Pengangkutan Rp 140.000
Biaya pemasangan Rp 260.000
Biaya Perolehan Rp 11.000.000
Taksiran Nilai Residu Rp 2.000.000
Taksiran manfaat 5 Tahun
Taksiran satuan Hasil 50.000 Jam
( Tahun 2010=1.050 Jam, Tahun 2011=8.200 Jam,dan
Tahun2012=9.600 Jam)
Biaya perolehan – Nilai Residu = Biaya prolehan depresiasi
Rp11.000.000 – Rp2.000.000 = Rp9.000.000

Biaya perolehan : Masa Manfaat = Beban Depres/Tahun


Di Depresiasi dlm (tahun)
Rp9.000.000 : 5 Tahun = Rp1.800.000/Tahun
Tabel Metode Garis Lurus
TABEL METODE GARIS LURUS

PENGHITUNGAN BEBAN AKHIR TAHUN

Biaya perolehan Tarif Depres


Tahun Akumlsi Depres Nilai Buku
Didepresiasi Depresiasi perTahun

8
2010 Rp9.000.000 12*20% Rp1.200.000 Rp1.200.000 Rp9.800.000

2011 Rp9.000.000 20% Rp1.800.000 Rp3.000.000 Rp8.000.000

2012 Rp9.000.000 20% Rp1.800.000 Rp4.800.000 Rp6.200.000

 Biaya Perolehan Didepresiasi = Harga Perolehan – Nilai Sisa


 Tarif Depresiasi = 100% : Taksiran masa manfaat
 Depresiasi per Tahun = Biaya Perolehan Di depresiasi x Tarif Depresiasi
 Akumulasi Depresiasi = Setiap tahun beban depresiasi ditambahkan
 Nilai Buku = Biaya Perolehan – Akumulasi Depresiasi
JURNAL
01 Mei 2010 Alat Pemanas Rp 11.000.000
Kas Rp 11.000.000
 31 Des 2010 Beban Penyusutan Rp 1.200.000
Akm. Penyusutan Rp 1.200.000
 31 Des 2011 Beban Penyusutan Rp 1.800.000
Akm. Penyusutan Rp 1.800.000
 31 Des 2012 Beban Penyusutan Rp 1.800.000
Akm. Penyusutan Rp 1.800.000
METODE SALDO MENURUN GANDA
TARIF DEPR. SALDO MENURUN = (100% : masa manfaat )x2
= (100% : 5 ) x2
= 40 % setiap tahun

NILAI BUKU PADA AWAL TAHUN X TARIF SALDO MENURUN


= BEBAN DEPR pertahun

TABEL METODE SALDO MENURUN GANDA

PENGHITUNGAN BEBAN AKHIR TAHUN

Biaya perolehan Tarif


Tahun Depres perTahun Akumlsi Depres NilaiBuku
Didepres Depres

8
2010 Rp11.000.000 12
*40% Rp2.933.333,33 Rp2.933.333,33 Rp 8.066.666,67

2011 Rp 8.066.666,67 40% Rp3.226.666,67 Rp6.160.000 Rp4.840.000

2012 Rp4.840.000 40% Rp1.936.000 Rp8.096.000 Rp2.904.000


 JURNAL
01 Mei 2010 Alat Pemanas Rp 11.000.000
Kas Rp 11.000.000
 31 Des 2010 Beban Penyusutan Rp2.933.333,33
Akm. Penyusutan Rp2.933.333,33
 31 Des 2011 Beban Penyusutan Rp3.226.666,67
Akm. Penyusutan Rp3.226.666,67
 31 Des 2012 Beban Penyusutan Rp1.936.000
Akm. Penyusutan Rp1.936.000
TABEL METODE SATUAN HASIL
 BIAYA PEROLEHAN : Total Satuan Hasil = BEBAN DEPRESIASI PER SATUAN
 DI DEPRESIASI HASIL
 Rp 9.000.000 : 50.000 JAM = Rp 180,00/JAM

 Beban Depresiasi X
Hasil Produksi = Beban Depr Tahun yang
 Per satuan Hasil Tahun yg bersangkutan bersangkutan
 Rp 180,00 X 1.050 JAM = Rp 189.000

TABEL METODE SATUAN HASIL

PENGHITUNGAN BEBAN AKHIR TAHUN

Depres per Akumlsi


Tahun Satuan Hasil produksi Depres perTahun Nilai Buku
jam Depres

2010 1.050 Rp180 Rp189.000 Rp189.000 Rp10.811.000

2011 8.200 Rp180 Rp1.476.000 Rp1.665.000 Rp9.335.000

2012 9.600 Rp180 Rp1.728.000 Rp3.393.000 Rp7.607.000


 JURNAL
01 Mei 2010 Alat Pemanas Rp 11.000.000
Kas Rp 11.000.000
 31 Des 2010 Beban Penyusutan Rp Rp189.000
Akm. Penyusutan Rp 189.000
 31 Des 2011 Beban Penyusutan Rp 1.476.000
Akm. Penyusutan Rp1.476.000
 31 Des 2012 Beban Penyusutan Rp 1.728.000
Akm. Penyusutan Rp 1.728.000
 Semakin besar beban, maka semakin kecil laba yang
diperoleh.
 2010Terletak pd metode s.o menurun ganda
Rp2.933.333,33
 2011 Terletak pd metode s.o menurun ganda
Rp3.226.666,67
 2012 Terletak pd metode s.o menurun ganda
Rp1.936.000
SOAL 3-7 Hanif S/10

1. MESIN : H.TUNAI = RP 28.000.000


B. ASURANSI & LAIN-LAIN = RP 400.000
B. PEMASANGAN & UJI COBA = RP 1.600.000

12-2-2012 MESIN RP 28.000.000


KAS RP 28.000.000

14-2-2012 MESIN RP 400.000


KAS RP 400.000

26-2-2012 MESIN RP 1.600.000


KAS RP 1.600.000

BIAYA PEROLEHAN = RP 28.000.000 + RP 400.000 + RP 1.600.000 = RP 30.000.000


2. ALOKASI BIAYA PEROLEHAN BERSAMA
(DALAM RIBUAN RUPIAH )

GOLONGAN HARGA % DARI % DARI BIAYA BIAYA


ASET PASAR TOTAL PEROLEHAN PEROLEHAN PER
HARGA GOLONGAN ASET
PASAR
TANAH RP 25% 25% X RP RP 100.000.000
110.000.000 400.000.000

BANGUNAN RP 62,5% 62,5% X RP RP 250.000.000


UTAMA 275.000.000 400.000.000

BANGUNAN RP 12,5% 12,5% X RP RP 50.000.000


TAMBAHAN 55.000.000 400.000.000

TOTAL RP 100% RP 400.000.000


440.000.000
JURNAL UNTUK SOAL NO.2

02-04-2012 TANAH RP 100.000.000


BANGUNAN RP 250.000.000
GUDANG RP 50.000.000
KAS RP 400.000.000
3.
*METODE SALDO MENURUN GANDA*
TARIF DEPRESIASI = 100% : 8 TAHUN X 2 = 25%

DEP. MESIN 2012 = 25% X RP 30.000.000 = RP 7.500.000


UNTUK 10 BULAN (MARET-DESEMBER) = RP 7.500.000 X 10/12
= RP 6.250.000

DEP. MESIN 2013 = 25% X RP 23.750.000 (RP 30 JT- RP 6,25


JT
= RP 5.937.500

*METODE GARIS LURUS*


DEP. BANGUNAN PER TAHUN = (RP 250 JT – RP 10 JT) : 20 TAHUN
= RP 12.000.000 PER TAHUN
2012 = RP 12.000.000 X 9/12 (karena 9 bulan)
= RP 9.000.000

2013 = RP 12.000.000
*METODE SALDO MENURUN GANDA*
TARIF = 100% : 8 TH X 2 = 25%

GUDANG 2012 = 25% X RP 50.000.000


= RP 12.500.000
UNTUK 9 BLN = RP 12.500.000 X 9/12
= RP 9.375.000

GUDANG 2013 = 25% X RP 40.625.000


= RP 10.156.250
JURNAL (UNTUK TAHUN 2012)
31-12-2012 BEBAN DEP. MESIN RP 6.250.000
AKM. DEPRESIASI BANGUNAN RP 6.250.000

31-12-2012 BEBAN DEP. BANGUNAN RP 9.000.000


AKM. DEPRESIASI BANGUNAN RP 9.000.000

31-12-12 BEBAN DEP. GUDANG RP 9.375.000


AKM. DEPRESIASI GUDANG RP 9.375.000
LATIHAN 3.9

 NAMA : DEWA ENDAR.P


 KELAS : 1D-AKUNTANSI MANAJEMEN
 ABSEN :5
Latihan 3.9
 Harga perolehan : Rp.75.000.000
 Akum.peny.mebel : Rp.(50.000.000)
 Nilai buku : Rp.25.000.000

A.) akum. Depr. Mebel Rp.50.000.000


kerugian penghentian Rp.25.000.000
Mebel Rp.75.000.000
Latihan 3.9
 Harga perolehan : Rp.75.000.000
 Akum.peny.mebel : Rp.(50.000.000)
 Nilai buku : Rp.25.000.000
 Harga jual : Rp.(21.000.000)
Rp.4.000.000
(R)

B.) kas Rp.21.000.000


akum dep.mebel Rp.50.000.000
Kerugian Penjualan Aset Tetap Rp.4.000.000
mebel Rp.75.000.000
Latihan 3.9
 Harga perolehan : Rp.75.000.000
 Akum.peny.mebel : Rp.(50.000.000)
 Nilai buku : Rp.25.000.000
 Harga jual : Rp.(31.000.000)
Rp.6.000.000 (L)
C.) kas Rp.31.000.000
akum dep. Rp.50.000.000
mebel Rp.75.000.000
Laba Penjualan Aset Tetap Rp.6.000.000
ARIEL FAHRYANDI BINTAN (3)
SOAL 3-10 HALAMAN 193
 PT MUTIARA MEMUTUSKAN UNTUK MENUKARKAN
MESIN LAMA DENGAN MESIN BARU DAN MEMBAYAR RP.
7.JT. PT MUTIARA TELAH MENYERAHKAN MESIN LAMA
DISERTAI PEMBAYARAN TUNAI SEBESAR RP 7JT. BIAYA
PEROLEHAN MESIN LAMA RP 62 JT DAN NILAI BUKU SAAT
DITUKARKAN RP 42 JT. HARGA PASAR MESIN LAMA RP 45
JT. BIAYA PENGANGKUTAN DAN PEMASANGAN MESIN
BARU YANG HARUS DITANGGUNG PT MUTIARA ADALAH
1,1 JT

 DIMINTA : BUATLAH JURNAL UNTUK MENCATAT


TRANSAKSI PERTUKARAN DIATAS, DENGAN ASUMSI
BAHWA TRANSAKSI TERSEBUT MEMILIKI SUBTANSI
KOMERSIAL
JAWABAN
“BIAYA PEROLEHAN MESIN BARU”
NILAI WAJAR MESIN LAMA : RP 45.000.000
KAS YANG DIKELUARKAN : RP 7.000.000
BIAYA PENGANGKUTAN DAN PEMASANGAN : RP 1.100.000

BIAYA PEROLEHAN MESIN (BARU) : RP 53.100.000


JAWABAN
 MENCARI LABA ATAU RUGI

NILAI WAJAR MESIN LAMA : RP 45.000.000


NILAI BUKU MESIN LAMA : RP 42.000.000

LABA PERTUKARAN: 3.000.000 ( KARENA NILAI WAJAR >


NILAI BUKU )
JAWABAN
 JURNAL

MESIN (BARU) RP 53.100.000


AKM. DEP. MESIN (LAMA) RP 20.000.000
MESIN (LAMA) RP 62.000.000
LABA PERTUKARAN RP 3.000.000
KAS RP 8.100.000

“AKM. DEP. MESIN (LAMA)” : BIAYA PEROLEHAN – NILAI BUKU


SAAT DITUKAR
: RP 62.000.000 - RP 42.000.000
: RP 20.000.000