Anda di halaman 1dari 66

STANDART

DIAGNOSIS
KEPERAWATAN
INDONESIA
Oleh :
Heru Wahyudi, 2017

Heru Wahyudi 2017 1


Proses Keperawatan

 Berpikir Kritis mengenai bagaimana peran perawat


PROSES KEPERAWATAN
 Proses Keperawatan ???

Heru Wahyudi 2017 2


 Lydia pertama kali memberikan konsep keperawatan
th’50
 Yura dan Wals th’67 membagi proses keperawatan
menjadi :
1. Pengkajian
2. Planning
3. Implementasi
4. Evaluasi

Heru Wahyudi 2017 3


EVOLUSI DIAGNOSA KEPERAWATAN

 Awalnya mengacu pada penyakit atau


model medis
 Mc. Farland & Mc.Farlane diagnosa
keperawatan muncul pertama kali th 1950
 Fry mengusulkan keperawatan akan
menjadi kreatif dengan merumuskan
diagnosa keperawatan dan
mengindividualisasikan rencana asuhan
keperawatan
Heru Wahyudi 2017 4
 Tahun 1955 ANA mencoret diagnosis keperawatan shg
perawat mjd enggan menggunakan label diagnosa
keperawatan
 Handerson dan Abdellah mendorong untuk penggunaan
diagnosa keperawatan

Heru Wahyudi 2017 5


 National Council of State Boards of Nursing tahun 1982
1. Pengkajian
2. Diagnosis
3. Perencanaan
4. Implementasi
5. Evaluasi

Heru Wahyudi 2017 6


 Pada tahun 1973 konferensi nasional I melakukan sistem
klasifikasi diagnosa keperawatan
 Pada tahun 1982 terbentuk NANDA (the North American
Nursing Diagnosis Assosiation) untuk mengembangkan
memperbaiki taksonomi diagnostik keperawatan

Heru Wahyudi 2017 7


 Diagnosa keperawatan pertama kali dimasukkan ke
dalam Standard of Nursing Practice ANA tahun 1971
 Pada tahun 1980 dan 1994 ANA mendukung diagnosa
keperawatan tentang respon manusia thd masalah
kesehatan aktual atau potensial.
 26 Desember 2016 PPNI merilis SDKI sebagai diagnose
keperawatan yang sesuai dan relevan di Indonesia

Heru Wahyudi 2017 8


Tahap-tahap Proses Keperawatan
TAHAP KEGIATAN TAHAP
1. Pengkajian a. Pengumpulan data 1. Pengkajian
b. Menentukan diagnosa 2.Diagnosa
kep keperawatan
2. Perencanaan c. Menentukan skala 3. Perencanaan
(Intevensi prioritas (Intevensi
d. Menyusun tujuan
e. Menyusun rencana
tindakan keperawatan

3. Pelaksanaan f. Melaksanakan tindakan 4. Pelaksanaan


(Implementasi) kep (Implementasi)

4. Evaluasi g. mengevaluasi hasil 5. Evaluasi


tindakan
Heru Wahyudi 2017 9
DIAGNOSA KEPERAWATAN
 ‘Diagnosis keperawatan merupakan suatu
penilaian klinis mengenai respon klien
terhadap masalah kesehatan atau proses
kehidupan yang dialaminya baik yang
berlangsung actual maupun potensial.
 Diagnosis keperawatan bertujuan
mengidentifiasi respon klien individu, keluarga
dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan
dengan kesehatan. (PPNI, 2017)

Heru Wahyudi 2017 10


Persyaratan Diagnosa Keperawatan yg
baik ialah :

1. Perumusan harus jelas dan singkat dari respon klien


terhadap situasi atau keadaan yg dihadapi.
2. Spesifik dan akurat/pasti.
3. Merupakan pernyataan dari penyebab berupa
hubungan sebab akibat.
4. Memberi arahan pada askep
5. Dapat dilaksanakan oleh perawat
6. Mencerminkan keadaan kesehatan klien

Heru Wahyudi 2017 11


Hal-hal yg Perlu Diperhatikan :

1. Orientasi : klien , keluarga dll


2. Bersifat aktual,dan atau resiko
3. Dapat diatasi dengan intervensi
keperawatan
4. Menyatakan masalah kesehatan individu
keluarga, masyarakat sera faktor faktor
penyebab timbulnya masalah tersebut.

Heru Wahyudi 2017 12


(Bifocal clinic nursing model-Lynda Juall C,1985)

Treatment-related Evironmental
Pathophysiologic Personal Maturational

Respon manusia

Potensial Komplikasi Model Keperawatan/Ruang


lingkup kerja

Collaborative problem Nursing Diagnosis


Heru Wahyudi 2017 13
 Dari Gambar diatas maka dapat kita bedaan
masalah keperawatan menjadi 2 yaitu :
1. Diagnosa Keperawatan
2. Masalah Kolaboratif : berisi masalah medis yg
kita angkat dalam diagnosa keperawatan
sehingga dapat diantisipasi adanya
komplikasiyg mungkin terjadi.

Heru Wahyudi 2017 14


Jenis Diagnosa Keperawatan
(Carpenito, 2013, Perry & Potter, 2013)

1. Diagnosis Aktual
Diagnosis ini menggambarkan respon klien terhadap kondisi kesehatan atau
proses kehidupan yang menyebabkan klien mengalami masalah kesehatan.
Tanda mayor dan minor dapat ditemukan dan di validasi pada klien.
2. Diagnosis Resiko
Diagnosis ini menggambarkan respon klien terhadap kondisi kesehatan atau
proses kehidupan yang menyebabkan klien beresiko mengalami masalah
kesehatan. Tidak ditemukan tanda mayor dan minor, namun klien memiliki
factor resiko.
3. Diagnosis Promosi Kesehatan
Diagnosis ini menggambarkan adanya keinginan dan motivasi klien untuk
meningkatkan kondisi kesehatannya ke tingkat yang lebih baik atau optimal.

Heru Wahyudi 2017 15


Komponen Diagnosis
Keperawatan
1. Masalah / Problem
 Masalah merupakan label diagnosis
keperawatan yang menggambarkan inti
dari respon klien terhadap kondisi
kesehatan dan proses kehidupannya.
 Label Diagnosis terdiri dari Deskriptor
atau penjelas dan Fokus Diagnostik.
Heru Wahyudi 2017 16
Deskriptor
No DESKRIPTOR DEFINISI
1 Defisit Tidak cukup, tidak adekuat
2 Disfungsi Tidak berfungsi secara normal
3 Efektif Menimbulkan efek yang diinginkan
4 Gangguan Mengalami hambatan atau kerusakan
5 Lebih Berada diatas nilai normal atau yang diperlukan
6 Penurunan Berkurang baik dalam ukuran jumlah maupun
derajat
7 Rendah Berada di bawah nilai normal atau yang
diperlukan
8 Tidak efektif Tidak menimbulkan efek yang diinginkan
9 Intoleransi Tidak toleran / mampu melaksanakan yg
Heru Wahyudi 2017 seharusnya dilakukan. 17
Contoh deskriptor

No Deskriptor Fokus Diagnostik


1 Tidak Bersihan jalan nafas
Efektif
2 Gangguan Pertukaran gas
3 Penurunan Curah jantung
4 Intoleransi Aktifitas
5 Defisit Perawatan diri

Heru Wahyudi 2017 18


2. Indikator Diagnostik
a. Penyebab/Etiology merupakan factor factor yang
mempengaruhi perubahan status kesehatan. Etiology
dapat mencakup 4 kategori :
a. Fisiologis, biologis atau psikologis.
b. Efek terapi/tindakan.
c. Situasional (lingkungan atau personal).
d. Maturasional.

b. Tanda (sign) dan Gejala (symptom). Tanda merupakan


data objektif yang diperoleh dari hasil pemeriksaan
fisik, laboratorium, dan prosedur diagnostic,
sedangkan gejala merupakan data subyektif yang
diperoleh dari hasil anamneses.
Heru Wahyudi 2017 19
 Mayor : tanda/gejala ditemkan sekitar 80% - 100%
untuk validasi diagnosis. Merupakan data utama yang
memberikan dasar dalam penentuan diagnosis dengan
tingkat interpretasi yang spesifik.
 Minor : tanda dan gejala tidak harus ditemukan,
namun jika ditemukan dapat mendukung penegakan
diagnosis.

c. Faktor resiko : merupakan kondisi atau situasi


yangdapat meningkatkan kerentanan klien mengalami
masalah kesehatan.
Heru Wahyudi 2017 20
Proses penegakan diagnosis keperawatan (PPNI, 2017)

Analisa 1.Bandingkan dengan nilai normal.


Data 2.Kelompokkan data

Identifikasi Masalah aktual, resiko dan


masalah atau promosi kesehatan

Perumusan 1.Aktual : masalah b.d


diagnosis penyebab d.d
tanda/gejala
2.Resiko : masalah d.d
factor resiko.
Heru Wahyudi 2017
3.Promkes : masalah d.d
21

tanda/gejala
1. Analisis Data
A. Bandingkan data dengan nilai normal. Data dari pengkajian
dibandingkan dengan nilai normal dan identifikasi tanda gejala yg
bermakna ( significant cues)
B. Kelompokkan data :kelompokkan berdasarkan pola kebutuhan dasar
yg meliputi : respirasi, sirkulasi, nutrisi/cairan, eliminasi,
aktifitas/istirahat, neurosensory reproduksi/seksualitas,
nyeri/kenyamanan, integritas ego, pertumbuhan/perkembangan,
kebersihan diri, penyuluhan/pembelajaran, interaksi social dan
keamanan/proteksi. Dapat dilakukan secara deduktif maupun
induktif
INDUKTIF : memilah data sehingga membentuk pola.
DEDUKTIF : menggunakan kategori pola kemudian mengelompokkan
data.

Heru Wahyudi 2017 22


2. Identifikasi masalah

 Identifikasi sebagai :
AKTUAL.
RESIKO
PROMKES
 PERNYATAAN MASALAH MERUJUK PADA
LABEL DIAGNOSIS…

Heru Wahyudi 2017 23


Kegiatan dlm Analisa Data :

1. Validasi data : menetukan data yg telah dikaji apakah


susah benar-banar betul. Caranya dengan me recheck
ataupun cross chec ulang data di pengkajian.
2. Organisasi data : mengelompokkan data berdasarkan
pembagian kebutuhan dasar manusia.
3. Identifikasi Pola : menentukan masalah dan
kemungkinan penyebab dari data yg telah
dikelompokkan sebelumnya.

Heru Wahyudi 2017 24


Latihan !
 Seorang anak masuk IRD RS Ponorogo dengan
kondisi sesak nafas klien mengatakan sangat
sulit bernafas dan ini adalah serangan yang
kedua dalam 1 bulan ini, klien anak kelas 2 SD,
dari hasil pemeriksaan didapatkan wajah pucat
bentuk wajah moonface, bibir biru, auskultasi
nafas ronchi dan wheezing, ada kontraksi otot
bantu nafas dan otot perut, akral dingin
berkeringat, ascites, kulit pucat mengkilap,
edema kaki, CRT 5 detik, T; 110/70 mmHg, RR :
32 x/men, N:120 x/men, S ; 36.8 C pola nafas
kusmaull.

 Lakukan analisa data !


Heru Wahyudi 2017 25
Data Penunjang Problem Etiology
DS : klien mengatakan sangat sulit Perfusi Kurangnya
bernafas dan ini adalah serangan perifer tidak suplai
yang kedua dalam 1 bulan ini.
efektif oksigen
DO : wajah pucat bentuk wajah
moonface, bibir biru, auskultasi
nafas ronchi dan wheezing, ada
kontraksi otot bantu nafas dan otot
perut, akral dingin berkeringat,
ascites, kulit pucat mengkilap,
edema kaki, CRT 5 detik, T; 110/70
mmHg, RR : 32 x/men, N:120
x/men, S ; 36.8 C pola nafas
kusmaull.

Heru Wahyudi 2017 26


3. Perumusan diagnosis keperawatan
1. Three part : digunakan pada diagnosis AKTUAL
Masalah berhubungan dengan penyebab dibuktian dengan tanda
gejala.
Contoh :“ Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan
spasme jalan nafas dibuktikan dengan batuk tidak efektif, sputum
berlebih, mengi, dispnu, gelisah”
2. Two part : digunakan pada diagnosis RESIKO dan PROMKES.
1. Diagnosis resiko : masalah dibuktikan dengan factor resiko.
Contoh : resiko aspirasi dibuktikan dengan tingkst kesadaran
menurun.
1. Diagnosis Promkes : masalah dibuktikan dengan Tanda Gejala
Contoh : KESIAPAN PENINGKATAN ELIMINASI URIN DIBUKTIKAN DENGAN
PASIEN INGIN MENINGKATKAN ELIMINASI URIN, JUMLAH DAN
KARAKTERISTIK
Heru Wahyudi 2017 URIN NORMAL. 27
MENENTUKAN SKALA PRIORITAS
Dasar prioritas yg digunakan ialah meninjau secara
bertingkat ancaman yg terjadi meliputi:
1. Ancaman kehidupan
2. Ancaman kesehatan
3. Persepsi tentang kesehatan dan keperawatan a.l:
1. Sumber daya dan sumber dana.
2. Peran serta klien.
3. Prinsip ilmiah dan kebijakan

Heru Wahyudi 2017 28


 Apabila ternyata semua diagnosa yg ada ber sifat sama, maka kita akan
memprioritaskan berdsarkan kecepatannya dengan melihat apakah
diaognosa tersebut masuk kategori:
1. Segera :Mengancam keselamatan diri maupun lingkungan secara aktif.(exp:
bleeding)
2. Urgen : ancaman lambat dan tidak beresiko tinggi
3. Non Urgen : masalah timbul secara perlahan dan dapat ditolerir oleh klien
sendiri.

Heru Wahyudi 2017 29


PERBEDAAN DIAGNOSA MEDIS DAN
DIAGNOSA KEPERAWATAN
DIAGNOSA DIAGNOSA MEDIS
KEPERAWATAN

1. Befokus pada respon klien 1. Berfokus pada factor-faktor yg


terhadap penyakit. bersifat pengobatan dan
2. Orientasi pada kebutuhan penyembuhan penyakit.
individu. 2. Orientasi pada keadaan
3. Berubah sesuai perubahan patologis.
respon. 3. Cenderung tetap mulai sehat
4. Mengarah pada fungsi s/d sembuh
mandiri. 4. Mengarah kepada tindakan
medik yg sebagian dapat
dilimpahkan kepada perawat.
Heru Wahyudi 2017 30
KATEGORISASI SDKI
Fisiologis Psikologis Perilaku Relasional Lingkungan

Kebersihan Interaksi
Keamanan
Nyeri dan dan Proteksi
Respirasi Diri Ssosial
kenyamanan

Penyuluhan
dan
Sirkulasi Integritas Ego Pembelajaran

Pertumbuhan
Nutrisi dan
dan
Cairan
perkembangan

Eliminasi

Aktifitas dan
Istirahat

Neurosensori

Reproduksi dan
seksualitas
Heru Wahyudi 2017 31
Kategori
Fisiologis

Heru Wahyudi 2017 32


Sub kategori : Respirasi 6 diagnosis

D.0001 Bersihan jalan nafas tidak efektif

D.0002 Gangguan penyapihan ventilator

D.0003 Gangguan pertukaran Gas

D.0004 Gangguan ventilasi spontan

D.0005 Pola nafas tidak efektif

D.0006 Resiko aspirasi


Heru Wahyudi 2017 33
Sub Kategori Sirkulasi 11 diagnosis
D. 0007 Gangguan sirkulasi spontan
D. 0008 Penurunan curah jantung
D. 0009 Perfusi perifer tidak efektif
D. 0010 Risiko gangguan sirkulasi spontan
D. 0011 Risiko penurunan curah jantung
D. 0012 Risiko perdarahan
D. 0013 Risiko perfusi gastrointestinal tidak efektif
D. 0014 Risiko perfusi miokard tidak efektif
D. 0015 Risiko perfusi perifer tidak efektif
D. 0016 Risiko perfusi renal tidak efektif
D. 0017 Risiko perfusi serebral tidak efektif
Heru Wahyudi 2017 34
Sub Kategori Nutrisi dan
Cairan 22 diagnosis
D. 0018 Berat badan lebih
D. 0019 Defisit nutrisi
D. 0020 Diare
D. 0021 Disfungsi motilitas ganstrointestinal
D. 0022 Hipervolemia
D. 0023 Hipovolemia
D. 0024 Ikterik neonates
D. 0025 Kesiapan penngkatan keseimbangan cairan
D. 0026 Kesiapan peningkatan nutrisi
D. 0027 Ketidakstabilan kadar gula darah

Heru Wahyudi 2017 35


D.0028 Menyusui efektif
D.0029 Menyusui tidak efektif
D.0030 Obesitas
D.0031 Risiko berat badab lebih
D.0032 Risiko deficit nutrisi
D.0033 Risiko disfungsi motilitas gastrointestinal
D.0034 Risiko hypovolemia
D.0035 Risiko ikterik neonatus
D.0036 Risiko ketidakseimbangan cairan
D.0037 Risiko ketidakseimbangan elektrolit
D.0038 Risiko ketidakstabilan kadar gula darah
D.0039 Risiko syok
Heru Wahyudi 2017 36
Sub Kategori Eliminasi 13 diagnosis
D. 0040 Gangguan elimnasi urin
D. 0041 Inkontinensia fekal
D. 0042 Inkontinensia urin berlanjut
D. 0043 Inkontinensia urin berlebih
D. 0044 Inkontinensia urin fungsional
D. 0045 Inkontinensia urin reflek
D. 0046 Inkontinensia urin stress
D. 0047 Inkontinensia urin emergensi
D. 0048 Kesiapan peningkatan eliminasi urin
D. 0049 Konstiupasi
D. 0050 Retensi Urin
D. 0051 Risiko Inkontinensia urin emergensi
D. 0052
Heru Wahyudi 2017
Risiko konstipasi 37
Sub kategori Aktifitas dan
Istirahat 8 diagnosa
D.0053 Disorganisasi perilaku bayi
D.0054 Gangguan mobilitas fisik
D.0055 Gangguan pola tidur
D.0056 Intoleransi aktifitas
D.0057 Keletihan
D.0058 Kesiapan peningkatan tidur
D.0059 Risiko disorganisasi perilaku bayi
D.0060 Risiko intoleransi aktifitas
Heru Wahyudi 2017 38
Sub Kategori Neurosensori 8 diagnosis
D. 0061 Disrefleksi otonom
D. 0062 Gangguan memori
D. 0063 Gangguan menelan
D. 0064 Konfusi akut
D. 0065 Konfusi kronis
D. 0066 Penurunan kapasitas adaptif
intracranial
D. 0067 Risiko disfungsi neurovaskuler
perifer
D. 0068 Risiko konfusi akut
Heru Wahyudi 2017 39
Sub Kategori Reproduksi dan
Seksualitas 5 diagnosis
D. 0069 Disfungsi seksual
D. 0067 Kesiapan persalinan
D. 0071 Pola seksual tidak efektif
D. 0072 Risiko disfungsi seksual
D. 0073 Risiko kehamilan tidak dikehendaki

Heru Wahyudi 2017 40


KATEGORI
PSIKOLOGIS

Heru Wahyudi 2017 41


Ssub kategori Nyeri dan
Kenyamanan 6 diagnosis
D. 0074 Gangguan rasa nyaman
D. 0075 Ketidaknyamanan pasca partum
D. 0076 Nausea
D. 0077 Nyeri akut
D. 0078 Nyeri kronis
D. 0079 Nyeri melahirkan

Heru Wahyudi 2017 42


Sub kategori Integritas Ego 26
diagnosis
D. 0080 Ansietas
D. 0081 Berduka
D. 0082 Distress spiritual
D. 0083 Gangguan citra tubuh
D. 0084 Gangguan identitas diri
D. 0085 Gangguan persepsi sensori
D. 0086 Harga diri rendah kronis
D. 0087 Harga diri rendah situasional
Heru Wahyudi 2017 43
D. 0088 Keputusasaan
D. 0089 Kesiapan peningkatan konsep diri
D. 0090 Kesiapan peningkatan koping keluarga
D. 0091 Kesiapan peningkatan koping komunitas
D. 0092 Ketidakberdayaan
D. 0093 Ketidak mampuan koping keluarga
D. 0094 Koping defensive
D. 0095 Koping komunitas tidak efektif
D. 0096 Koping tidak efektif

Heru Wahyudi 2017 44


D. 0097 Penurunan koping keluarga
D. 0098 Penyangkalan tidak efektif
D. 0099 Perilaku kesehatan cenderung
beresiko
D. 0100 Risiko distress spiritual
D. 0101 Risiko harga diri rendah kronis
D. 0102 Risiko harga diri rendah situasional
D. 0103 Risiko ketidakberdayaan
D. 0104 Sindrom pasca pasca trauma
D. 0105 Waham

Heru Wahyudi 2017 45


Sub kategori Tumbang 3 diagnosis

D. 0106 Gangguan tumbuh kembang


D. 0107 Risiko gangguan pertumbuhan
D. 0108 Risiko gangguan perkembangan

Heru Wahyudi 2017 46


Kategori
perilaku
sub kategori kebersihan diri 1
diagnosis

D. 0109 Defisit perawatan diri

Heru Wahyudi 2017 47


Sub kategori penyuluhan dan
pembelajaran 8 diagnosis
D. 0110 Defisit kesehatan komunitas
D. 0111 Defisit pengetahuan
D. 0112 Kesiapan eningkatan manajemen
kesehatan
D. 0113 Kesiapan peningkatan pengetahuan
D. 0114 Ketidakpatuhan
D. 0115 Manajemen kesehatan keluarga tidak
efektif
D. 0116 Manajemen kesehatan tidak efektif
D. 0117
Heru Wahyudi 2017
Pemeliharaan kesehatan tidak efektif
48
Kategori
RELASIONAL

Heru Wahyudi 2017 49


Sub kategori Interaksi Sosial 11
diagnosis
D. 0118 Gangguan interaksi social
D. 0119 Gangguan komunikasi verbal
D. 0120 Gangguan proses keluarga
D. 0121 Isolasi social
D. 0122 Kesiapan peningkatan menjadi orang tua
D. 0123 Kesiapan peningkatan proses keluarga
D. 0124 Ketegangan peran pemberi asuhan
D. 0125 Penampilan peran tidak efektif
D. 0126 Pencapaian peran menjadi orang tua
D. 0127 Risiko gangguan perlekatan
D. 0128
Heru Wahyudi 2017 Risiko proses pengasuhan tidak efektif
50
Kategori
LINGKUNGAN
Heru Wahyudi 2017 51
Sub kategori keamanan dan proteksi
21 diagnosis
D. 0129 Gangguan integrtias kulit/jaringan
D. 0130 Hipertermia
D. 0131 Hipotermia
D. 0132 Perilaku kekerasan
D. 0133 Perlambatan pemulihan pasca bedah
D. 0134 Risiko alergi
D. 0135 Risiko bunuh diri
D. 0136 Risiko cedera
Heru Wahyudi 2017 52
D. 0137 Risiko cedera pada ibu
D. 0138 Risiko cedera pada janin
D. 0139 Risiko gangguan integritas kulit/jaringan
D. 0140 Risiko hipotermia
D. 0141 Risiko hipotermia perioperative
D. 0142 Risiko infeksi
D. 0143 Risiko jatuh
D. 0144 Risiko luka tekan
D. 0145 Risiko mutilasi diri
D. 0146 Risiko perilaku kekerasan
D. 0147 Risiko perlambatan penyembuhan
pascabedah
D. 0148 Risiko termoregulasi tidak efektif
Heru Wahyudi 2017 53
D. 0149 Termoregulasi tidak efektif
Tugas Baca !!!

 Buku SDKI untuk mengetahui:


1. Definisi.
2. Penyebab.
3. Gejala tanda mayor.
4. Gejala tanda minor.
5. Kondisi klien terkait.

Heru Wahyudi 2017 54


 Seorang wanita dirawat di ruang bedah RS PASTI
BAYAR setelah mengalami patah tulang femur dextra
1/3 distal. Pasien mengeluh sulit menggerakkan
ektremitas kanannya, kekuatan otot 2 pada kaki
kanan dan 5 pada kaki kiri dan tangan, pasien
mengatakan berat badannya turun 15 kg gerakan lutut
terbatas, nafsu makan menurun, sariawan, diare
,sendi kaku, gerakan tidak teroganisasi, nyeri saat
bergerak, terlihat jejas biru pada femur dextra 1/3
distal, enggan melakukan pergerakan, pasien bila
makan langsung muntah, kram perut,cemas saat
bergerak dari hasil lab menunjukkan albumin 2,5
mg/dl dan rontgen ditemukan fraktur komplit femur
dextra.
Heru Wahyudi 2017 55
PERENCANAAN

Perencanaan dalam proses keperawatan


lebih dikenal dengan rencana asuhan
keperawatan (NCP) atau renpra yg
merupakan tahap selanjutnya setelah
pengkajian dan diagnosa keperawatan.

TUJUAN
1. Sebagai alat komunikasi antar perawat
maupun dengan team kesh lainnya.
2. Untuk meningkatkan kesinambungan
askep.
3. Mendokumentasikan proses dan kriteria
hasil hasil askep yg akan dicapai.

Heru Wahyudi 2017 56


KEGUNAAN

1. Sebagai penghubung kebutuhan pasien.


2. Untuk menjelaskan intervensi keperawatan yg harus
dilaksanakan.
3. Untuk meningkatkan praktek keperawatan sehingga
mendapatkan pengartian yg lebih jelas tentang
prinsip proses perawatan.
4. Menjadi dasar pendekatan yg sisematis terhadap
askep.

Heru Wahyudi 2017 57


LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN

1. Menetapkan urutan prioritas diagnosa.


2. Menetukan tujuan Askep.
3. Menentukan rencana tindakan / intervensi

Heru Wahyudi 2017 58


MENENTUKAN TUJUAN ASKEP

 Tujuan adalah hasil yg diinginkan dari askep yg


diharapkan dapat dicapai bersama pasien, serta
direncanakan untuk mengurangi masalah yg telah
diidentifikasi dalam diagnosa keperawatan.

Heru Wahyudi 2017 59


HAL-HAL YG PERLU DIPERHATIKAN :

1. Berdasarkan masalah / diagnosa.


2. Merupakan hasil akhir yg ingin dicapai.
3. Harus objektif atau merupakan tujuan
operasional langsung
4. Tujuan perawatan sesuai dengan tujuan pasien.
5. Mencakup tujuan jangka panjang dan pendek.
6. Mencakup kriteria keberhasilan sebagai evaluasi.
7. Menjadi pedoman dari perencanaan tindakan
keperawatan.

Heru Wahyudi 2017 60


KRITERIA RUMUSAN TUJUAN

1. Spesific : Berfocus pada masalah


2. Measurable : Dapat diukur
3. Available : Dapat dilaksanakan.
4. Realistik : Nyata
5. Time : ada batasan waktu

Heru Wahyudi 2017 61


Tujuan dijabarkan dalam Kriteria-Standart :

1. Berhubungan dengan tujuan


2. Bersifat khusus terdiri atas Kriteria dan
Standart
3. Hasilnya dapat dilihat, didengar, diraba
dan diukur oleh orang lain.
4. Dinyatakan dengan istilah positif
(merupakan nilai normal)
5. Kriteria adalah indikator
6. Standart adalah tingkat pelaksanaan yg
diharapkan dalam mencapai tujuan.
Heru Wahyudi 2017 62
 Kriteria dalam merencanakan :
1. Memakai kata kerja yg tepat.
2. Dapat dimodifikasi
3. Bersifat spesifik (what,who,where,when,how and how much)

 Jenis-jenis / kategori tindakan yg harus ada pada rencana tindakan ialah


:
1. Observasi / monitoring
2. Terapi/tindakan mandiri keperawatan
3. Health Education
4. Kolaborasi

Heru Wahyudi 2017 63


Faktor-faktor yg diperhatikan dalam penulisan rencana
tindakan :

1. Dalam bentuk kalimat instruksi.(ringkas, tegas, tepat


dan mudah dimengerti)
2. Dibuat oleh tenaga keperawatan.
3. Dalam bentuk tertulis dg bahasa yg mudah dimengerti
4. Diarsipkan : sebagai alat tanggung jawab dan
tanggung gugat

Heru Wahyudi 2017 64


Perencanaan
N Tgl Dx Kep Tujua Kriteria Rencana Tindakan Rasional TT
o n Standart
Kekuranga caira Turgor
1 n cairan n dan baik,
1. observasi TTV
dan elektr nadi 60- setiap shift.
elektrolit olit 90x/m,
b.d intake terpe mata 2. berikan obat =-
kurang dan nuhi tdkcowo
out put dala ng, diare obatan untk
berlebihan m berhentii
s/s . wakt , minum
mengatasi diare.
u2 2
Turgor
jelek, nadi jam liter/hari,
3.Berikan infus 20
150x/m, muntah tpm.
mata berhenti,
cowong, wajah 4. ajarkan pasien
diare tdk
50x/hari, pucat.te untuk menjaga
nsi 90-
minum ½
gelas /hari, 120/60-
kebersihan
muntah 5 90 lingkungan.
x/hr, wajah mmHg,
pucat.tensi S 36-
90/50 37C.
mmHg, S
38,5C.

Heru Wahyudi 2017 65


Terima Kasih

Heru Wahyudi 2017 66