Anda di halaman 1dari 47

ESENSI, MODEL, DAN STRUKTUR P3B

Kelas B
Kelompok 2 :
Lathifah Nuraini R 16312036
Irma Nur Fitriani 16312037
Atidira Darmesti 16312025
Wardina Marshufah F.A 16312045
OUTLINE
1. Terminologi Dalam P3B
2. Esensi P3B (Tax Treaty)
3. Model-Model Tax Treaty (P3B)
4. Cara Membaca Tax Treaty
5. Struktur P3B/Tax Treaty
6. Pasal-Pasal Tax Treaty dan Penjelasannya
7. Ketentuan Umum dalam P3B
8. Cakupan Tax Treaty
Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda
(P3B)

Perjanjian internasional di bidang perpajakan antar kedua negara guna


menghindari pemajakan ganda agar tidak menghambat perekonomian kedua
negara dengan prinsip saling menguntungkan antar kedua negara dan
dilaksanakan oleh penduduk antar kedua negara yang terlibat dalam
perjanjian tersebut.
A. Terminologi dalam P3B (Tax Treaty)

1. Istilah “person” meliputi orang pribadi, perusahaan, dan setiap kumpulan


dari orang-orang dan/atau badan-badan;
2. Istilah “company” berarti setiap badan hukum atau setiap entitas yang
diperlukan sebagai suatu badan hukum untuk tujuan perpajakan;
3. Istilah “Enterprise of a Contracting State” and “Enterprise of the other
Contracting State” masing-masing berarti suatu perusahaan yang dijalankan
oleh penduduk dari suatu negara pihak pada persetujuan dan suatu
perusahaan yang dijalankan oleh penduduk dari Negara Pihak lainnya yang
terikat perjanjian perpajakan;
Lanjutan...
4. Istilah “international traffic” berarti setiap pengangkutan
dengan kapal laut atau pesawat udara yang dioperasikan
oleh perusahaan dari suatu Negara Pihak pada
Persetujuan, kecuali jika kapal laut atau pesawat udara
tersebut semata-mata dioperasikan di antara tempat-
tempat di Negara Pihak lainnya yang terikat perjanjian
perpajakan;
5. Istilah Warga Negara atau “national” berarti :
a. Setiap orang pribadi yang memiliki kewarganegaraan
pada suatu Negara Pihak pada Persetujuan;
b. Setiap badan hukum, persekutuan, dan perkumpulan
yang mendapatkan status kewarganegaraannya
berdasarakn perundang-undangan yang berlaku di
suatu Negara Pihak pada Persetujuan;
Lanjutan...
6. 6.Istilah “competent authirity” (pejabat yang berwenang),
misalnya :
a. Di Indonesia : Mentri Keuangan atau wakilnya yang
sah;
b. Di china : Administrasi Perpajakan Negara (The State
Administration of Taxation) atau wakilnya yang sah;
c. Di Amerika Serikat : The Secretary of the Treasury)
atau wakilnya yang sah.
B. Esensi P3B (Tax Treaty)

 Tax Treaty adalah perjanjian perpajakan antara dua negara yang


dibuat dalam rangka meminimalisasi pemajakan berganda dan
berbagai usaha penghindaran pajak.
 Adanya P3B/tax treaty dilakukan dalam upaya mengeliminasi beban
pajak berganda yang disebabkan oleh hubungan ekonomi dari dua
yurisdiksi yang berbeda.
 Di dunia ini, ada dua model treaty yang sering dijadikan acuan dalam
menyusun suatu treaty, yaitu model OECD dan model PBB.
Lanjutan...
 Pasal atau ayat-ayat (article) yang terdapat dalam
sebuah tax treaty dikelompokkan menjadi empat
bagian besar, yaitu :
1. bagian yang mengungkapkan cakupan tax
treaty,
2. bagian yang mengatur minimalisasi
pengenaan pajak berganda,
3. bagian tentang pencegahan penghindaran
pajak, dan
4. bagian yang mencangkup hal-hal lainnya.
C. Model-model Tax Treaty (P3B)

 Negara-negara Eropa Barat dan Amerika Utara menggunakan OECD


Model, sedangkan negara-negara berkembang menggunakan UN
Model.
 Dalam suatu negara terdapat dua sumber hukum perpajakan :
1. Ketentuan yang ada dalam tax treaty, dan
2. Ketentuan yang ada dalam undang-undang perpajakan domestik
 Jika hak pemajakan telah diberikan kepada salah satu suatu negara
penjanji, maka ketentuan dalam undang-undang perpajakan
domestik yang seterusnya akan berlaku.
 Dalam hal terjadi benturan antara P3B dan undang-undang domestik,
maka yang superior adalah ketentuan dalam P3B.
Model-model Tax Treaty (P3B)

1. Model OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development)


Untuk negara-negara maju. Karena negara-negara tersebut adalah negara-
negara pengekspor modal maupun jasa, sehingga model ini lebih
mengedepankan pada asas domisili pada negara yang mendirikan jasa atau
menanamkan modal, dimana hak pemajakannya berada di negara domisili.

2. Model UN (United Nations/PBB)


Untuk kebutuhan negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Model ini
memberikan hak pemajakan yang lebih luas kepada negara sumber atas
penghasilan yang timbul dari wilayahnya, karena negara-negara tersebut
adalah negara-negara pengimpor modal maupun jasa, sehingga negara-negara
tersebut menjadi tempat sumber penghasilan.
Lanjutan...
3. Model United States (US Model)
Model income tax treaty 2016 menggabungkan rekomendasi Base
Erosion and Profit Shifting (BEPS) menurut OECD. Base Erision and
Profit Shifting (BEPS) adalah strategi perencanaan pajak (tax
planning) yang memanfaatkan gap dan kelemahan-kelemahan yang
terdapat dalam peraturan perundang-undangan perpajakan domestik
untuk “menghilangkan” keuntungan atau mengalihkan keuntungan
tersebut ke negara lain yang memiliki tarif pajak yang rendah atau
bahkan bebas pajak.

4. Model Indonesia
Mengombinasikan Model UN dan prinsip-prinsip pokok yang
terkandung dalam Undang-undangan perpajakan nasional.
D. Cara membaca Tax Treaty

 Pasal 7 – laba usaha


 Laba perusahaan dari suatu Negara Pihak pada Persetujuan hanya akan
dikenakan pajak di negara tersebut kecuali jika perusahaan tersebut menjalankan
usahanya di negara pihak lainnya pada persetujuan melalui suatu bentuk usaha
tetap yang berada disana. Apabila perusahaan tersebut mnejalankan usahanya
sebagai mana dimaksud diatas, maka atas laba perusahaan tersebut dapat
dikenakan pajak di Negara Pihak lainnya tetapi hanya atas bagian laba yang
berasal dari bentuk usaha tetap tersebut baik secara langsung maupun tidak
langsung.
 Untuk memudahkan membaca, caranya adalah:
 Kata-kata “of a Contracting State” (dari suatu negara Pihak pada Persetujuan)
diganti menjadi RRC (Republik Rakyat China)
 Kata-kata “that Contracting State” (di negara tersebut) diganti menjadi RRC
 Kata-kata “the other Contracting State” (di negara Pihak lainnya) di ganti
menjadi Indonesia.
E. Struktur P3B (Tax Treaty)

 Permufakatan kedua negara.


 Prang/badan yang merupakan penduduk salah satu atau kedua negara
terikat dan berlaku P3B.
 Pajak-pajak apa saja yang tunduk pada P3B, pada umumnya pajak
pendapatan dan pajak perseroan.
 Istilah yang mengandung perihal hukum.
 Bentuk usaha tetap.
 Harta tak bergerak.
 Laba perusahaan di suatu negara.
 Hubungan istimewa.
 Keuntungan dari pengoperasian kapal laut atau pesawat udara.
 Pajak atas dividen.
Lanjutan...
 Pajak atas bunga.
 Pajak atas royalti.
 Keuntungan karena pengalihan harta tak gerak.
 Pendapatan yang diterima seorang penduduk suatu negara
sehubungan dengan pekerjaan bebas atau pekerjaan lain yang
sifatnya sama.
 Pajak atas gaji, upah dan balas jasa lainnya yang berkenaan
dengan pekerjaan.
 Pendapatan para pengurus.
 Pendapatan seorang seniman penghibur.
 Pendapatan atas pensiunan.
 Kunjungan penduduk atau mahasiswa yang menerima
bantuan negara lainnya.
 Pengajar atau peneliti negara lain.
Lanjutan...
 Pendapatan lain-lain.
 Metode penghindaran pajak ganda.
 Bagian –bagian yang tidak diatur dalam pasa-pasal P3B.
 Tindakan-tindakan suatu negara yang tidak sesuai dengan
ketentuan.
 Pertukaran bahan keterangan yang diperlukan untuk
melaksanakan ketentuan-ketentuan persetujuan.
 Perjanjian yang menyatakan bahwa tidak ada pengaturan
khusus di bidang perpajakan yang menghalangi pemerintah
kedua negara membuat kebijakan.
 Pernyataan tentang hak-hak khusus anggota misi diplomatik
atau pegawai konsuler berdasarkan ketentuan hukum
internasional.
 Dimulainya P3B dan ratifikasi.
 Berakhirnya P3B.
F. Pasal-pasal Tax Treaty dan Penjelasannya

 Model UN
1. Subjek pajak, jenis pajak, istilah umum, penduduk (Pasal 1, 2, 3, dan 4 Tax Treaty)
2. Jenis-jenis Penghasilan :
– Laba Bentuk Usaha Tetap (Pasal 5 Tax Treaty)
– Laba hartaa tidak bergerak (Pasal 6 Tax Treaty)
– Laba usaha (Pasal 7 Tax Treaty)
– Laba usaha perkapalan dan penerbangan (Pasal 8 Tax Treaty)
– Dividen (Pasal 10 Tax Treaty)
– Bunga (Pasal 11 Tax Treaty)
– Royalty (Pasal 12 Tax Treaty)
– Harta bergerak (Pasal 13 Tax Treaty)
– Pendapatan lain-lain (Pasal 21 Tax Treaty)
– Kekayaan (Pasal 22 Tax Treaty)
Lanjutan... (Model UN)
3. Hal-hal yang terkait dengan pekerjaan :
– Pekerjaan bebas (Pasal 14 Tax Treaty)
– Pegawain swasta (Pasal 15 Tax Treaty)
– Direktur (Pasal 16 Tax Treaty)
– Artis dan atlet (Pasal 17 Tax Treaty)
– Pension (Pasal 18 Tax Treaty)
– Pegawai negeri (Pasal 19 Tax Treaty)
4. Hubungan istimewa (Pasal 9 Tax Treaty)
5. Metode penghindaran pajak :
– Penghapusal pajak (Pasal 23A dan Pasal 27 Tax Treaty)
– Pengkreditan pajak (Pasal 23B Tax Treaty)
Lanjutan... (Model UN)
6. Pendidikan dan pelatihan :
– Guru/peneliti (tidak diatur)
– Mahasiswa atau pelatihan karyawan (Pasal 20 Tax Treaty)
7. Ketentuan lain-lain :
– Nondiskriminasi (Pasal 24 Tax Treaty)
– Tata cara bersetujuan Bersama (Pasal 25 Tax Treaty)
– Pertukaran informasi (Pasal 26 Tax Treaty)
– Berlakunya perjanjian (Pasal 28 Tax Treaty)
– Berakhirnya perjanjian (Pasal 29 Tax Treaty)
Pasal-pasal Tax Treaty dan Penjelasannya

Model OECD
1. Subjek pajak, jenis pajak, istilah umum, penduduk (Pasal 1, 2, 3, dan 4 Tax Treaty)
2. Jenis-jenis Penghasilan
– Laba Bentuk Usaha Tetap (Pasal 5 Tax Treaty)
– Laba hartaa tidak bergerak (Pasal 6 Tax Treaty)
– Laba usaha (Pasal 7 Tax Treaty)
– Laba usaha perkapalan dan penerbangan (Pasal 8 Tax Treaty)
– Dividen (Pasal 10 Tax Treaty)
– Bunga (Pasal 11 Tax Treaty)
– Royalty (Pasal 12 Tax Treaty)
– Harta bergerak (Pasal 13 Tax Treaty)
– Pendapatan lain-lain (Pasal 21 Tax Treaty)
– Kekayaan (Pasal 22 Tax Treaty)
Lanjutan... (Model OECD)
3. Hal-hal yang terkait dengan pekerjaan
– Pekerjaan bebas (Pasal 14 Tax Treaty)
– Pegawain swasta (Pasal 15 Tax Treaty)
– Direktur (Pasal 16 Tax Treaty)
– Artis dan atlet (Pasal 17 Tax Treaty)
– Pension (Pasal 18 Tax Treaty)
– Pegawai negeri (Pasal 19 Tax Treaty)
4. Hubungan istimewa (Pasal 9 Tax Treaty)
5. Metode penghindaran pajak
– Penghapusal pajak (Pasal 23A dan Pasal 27 Tax Treaty)
– Pengkreditan pajak (Pasal 23B Tax Treaty)
Lanjutan... (Model OECD)
6. Pendidikan dan pelatihan
– Guru/peneliti (tidak diatur)
– Mahasiswa atau pelatihan karyawan (Pasal 20 Tax Treaty)
7. Ketentuan lain-lain
– Nondiskriminasi (Pasal 24 Tax Treaty)
– Tata cara bersetujuan Bersama (Pasal 25 Tax Treaty)
– Pertukaran informasi (Pasal 26 Tax Treaty)
– Berlakunya perjanjian (Pasal 28 Tax Treaty)
– Berakhirnya perjanjian (Pasal 29 Tax Treaty)
Pasal-pasal Tax Treaty dan Penjelasannya

Model Indonesia
1. Subjek pajak, jenis pajak, istilah umum, penduduk (Pasal 1, 2, 3,
dan 4 Tax Treaty)
2. Jenis-jenis Penghasilan
 Laba Bentuk Usaha Tetap (Pasal 5 Tax Treaty)
 Laba hartaa tidak bergerak (Pasal 6 Tax Treaty)
 Laba usaha (Pasal 7 Tax Treaty)
 Laba usaha perkapalan dan penerbangan (Pasal 8 Tax Treaty)
 Dividen (Pasal 10 Tax Treaty)
 Bunga (Pasal 11 Tax Treaty)
 Royalty (Pasal 12 Tax Treaty)
 Harta bergerak (Pasal 13 Tax Treaty)
 Pendapatan lain-lain (Pasal 22 Tax Treaty)
Lanjutan... (Model Indonesia)
3. Hal-hal yang terkait dengan pekerjaan
– Pekerjaan bebas (Pasal 14 Tax Treaty)
– Pegawain swasta (Pasal 15 Tax Treaty)
– Direktur (Pasal 16 Tax Treaty)
– Artis dan atlet (Pasal 17 Tax Treaty)
– Pension (Pasal 18 Tax Treaty)
– Pegawai negeri (Pasal 19 Tax Treaty)
4. Hubungan istimewa (Pasal 9 Tax Treaty)
5. Metode penghindaran pajak
– Penghapusal pajak (Pasal 23 dan Pasal 27 Tax Treaty)
– Pengkreditan pajak (Pasal 23 Tax Treaty)
Lanjutan... (Model Indonesia)
6. Pendidikan dan pelatihan
– Guru/peneliti (pasal 20 Tax Treaty)
– Mahasiswa atau pelatihan karyawan (Pasal 20 Tax Treaty)
7. Ketentuan lain-lain
– Nondiskriminasi (Pasal 24 Tax Treaty)
– Tata cara bersetujuan Bersama (Pasal 25 Tax Treaty)
– Pertukaran informasi (Pasal 26 Tax Treaty)
– Berlakunya perjanjian (Pasal 28 Tax Treaty)
– Berakhirnya perjanjian (Pasal 29 Tax Treaty)
G. Ketentuan Umum dalam P3B

 Seorang wajib pajak yang berdomisili di Indonesia dan memiliki penghasilan di


negara Indonesia tentu ajak dikenakan pajak. Selain itu, penduduk domisili
Indonesia juga harus menghitung kembali penghasilannya di seluruh dunia,
kemudian dikenakan pajak di Indonesia yang mana apabila pajak tersebut
dibayar di luar negeri bisa dijadikan sebagai pengurang PPh terutang di
Indonesia. Demkia juga dengan penduduk asing atau badan yang didirikan di
Indonesia dan memperoleh penghasilan dari negara Indonesia akan dikenakan
pajak juga.
 Apabila Penerapan itu tidak diatur, maka akan menimbulkan pemajakan
berganda yang sangat merugikan wajib pajak penerima penghasilan. Untuk
mengantisipasi hal tersebut, maka timbul perjanjian antarnegara yang terkait
dengan pajak penghasilan yang mencakup secara bilateral. Tiap negara memiliki
hak pemajakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan pajak nasional.
Namun, bila menyangkut hak pemajakan negara lain, maka pemerintah
Indonesia harus melakukan ratifikasi.
H. Cakupan Tax Treaty

 Uraian Singkat Isi Pasal-Pasal P3B


1. Orang atau Badan yang Tercakup dalam Persetujuan (Personal Scope): Istilah orang
atau badan meliputi orang pribadi, perseroan, dam setiap sekumpulan lain dari
orang atau badan yang diperlakukan sebagai badan hukum untuk tujuan
perpajakan. Sedangkan istilah negara pihak pada persetujuan adalah dua negara
yang melakukan perjanjian.
2. Pajak-Pajak yang Tecakup dalam Persetujuan (Taxes Control): Treaty ini berlaku
terhadap pajak atas penghasilan yang dikenakan oleh masing-masing negara, tanpa
memperhatikan cara pemungutannya. Untuk pajak tidak langsung, tidak diatur
dalam tax treaty.
Lanjutan...
3. Penduduk (Fiscal Residence): Dalam klausul ini memberikan
batasan tentang Penduduk suatu Negara Pihak pada Persetujuan
serta tie breaker rule. Tie breaker rule dibedakan menjadi dua,
yaitu:
1. Orang pribadi: penentuan tempat itnggal tetap, pusat
kepentingan pokok ekonomi dan sosial, tempat kebiasaan
untuk tinggal, kewarganeragaan, dan perjanjian antar-
otoritas perpajakan).
2. Selain orang pribadi.
Lanjutan...
4. Pajak-Pajak yang Tunduk pada P3B: P3B hanya mengatur pajak
badan, yaitu pajak penghasilan. Penghasilan tersebut berasal dari
active income dan passive income.
5. Permanent Establishment atau Bentuk Usaha Tetap (BUT) :
Klausul ini mengatur tentang seberapa jauh jangkauan suatu
negara dalam mengenakan pajak atas penghasilan yang
bersumber dari negara tersebut. Jika negara ingin menentukan
hak pemajakan suatu negara sumber, harus melihat apakah
perusahaan tersebut BUT atau tidak. Jika iya, maka harus
mengacu pada undang-undang negara dimana BUT tersebut
berkedudukan atau tergantung P3B antar negara.
Tipe BUT

 Tipe BUT
1. BUT Fasilitas Fisik: Timbul karena adanya fasilitas fisik, seprti gedung, kantor
perwakilan, pabrik, bengkel, dan lain-lain.
2. BUT Aktivitas: Timbul ketika adanya aktivitas yang melebihi batas waktu tertentu
(time test).
3. BUT Asuransi: Timbul ketika suatu perusahaan asuransi menerima premi atau
menanggung risiko di negara lain.
4. BUT Keagenan: Timbul jika terdapat agen di negara lain yang memiliki wewenang
untuk menghentikan kontrak atau mengurus barang dagang di negara lain. Dalam
klausul ini juga ditentukan kondisi dimana tidak dianggap sebagai BUT.
 Sewa atas Harta Tak Gerak
Pendekatan produksi dimanfaatkan untuk menentukan letak sumber penghasilan dari
harta tak bergerak, sewa atas harta tak bergerak yang terletak di Indonesia dianggap
bersumber di negara tersebut. Sebaliknya, sewa atas harta tak bergerak yang terletak
di luar Indonesia dapat dianggap bersumber selain di negara tersebut dan oleh
karenanya berhak atas kredit pajak luar negeri.
 Laba Perusahaan di Suatu Negara (Business Profits)
Klausul ini merupakan perluasan dari permanent establishment yang mengatur
tentang pengenaan ajak atas laba usaha milik penduduk suatu negara yang
bersumber dari negara treaty partner. Laba perusahaan suratu negara dikenakan
pajak di negara dimisili, kecuali jika negara tersebut memiliki BUT di negara
lainnya.

 Hubungan Istimewa (Associated Enterprises)


Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan atas pihak-pihak yang
memiliki hubungan istimewa. Apabila terjadi transaksi antara pihak-pihak di
kedua negara yang memiliki hubungan istimewa, akan ada kecenderungan di
mana harga transaksi yang disepakati bukan merupakan harga yang wajar.
 Keuntungan dari Pengoperasian Kapal Laut atau Pesawat Udara (Shipping, Inland
Waterways Transport and Air Transport)
Laba yang berasal dari pengoperasian pesawat udara dalam jalur lalu lintas internsional dapat
dikenakan pajak di negara domisili, kecuali jika kegiatan tersebut bersifat teratur, labanya
dikenai pajak di Indonesia dalam bentuk BUT.
Jika tempat pimpinan perusahaan dari pelayaran laut/sungai berada diatas kapal/perahu, maka
hal ini dianggap berada di negara dimana pelabuhan pangkalan dari kapal/perahu tersebut, jika
tidak ada, dianggap di negara dimana perusahaan yang mengoperasikan kapal/perahu tersebut
berkedudukan.
Jika tidak ada P3B, maka menurut undang-undang PPh, dikenakan PPh Pasal 15, dengan tarif
efektif 2,64% dari penghasilan bruto.
Dalam klausul ini umumnya diatur 2 alternatif:
• Memberikan hak pemajakan kepada negara tempat dimana manajemen efektif berada.
• Sama dengan alternatif pertama, dengan pengecualian untuk penghasilan dari
pengoperasian kapal laut yang hak pemajakannya diberikan kepada kedua negara sekaligus.
 Pajak Dividen, Bunga, Royalti
• Dividen : Klausul ini mengatur tentang pengenaan pajak atas penghasilan berupa dividen
dan tarif pajak maksimal yang dapat dikenakan di negara asal dividen tersebut yang
dibedakan menjadi dua, yaitu dividen portofolio (kepentingan investasi) dan dividen dari
penyertaan langsung (saham dengan kepentingan kontrol). Dalam tax treaty biasanya
tarifnya lebih kecil dibandingkan dengan tarif domestik.
• Bunga : Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan bunga yang diterima,
definisi bunga dan bahwa negara tempat bunga berasal (treaty partner) juga dapat
mengenakan pajak atas bunga tersebut. Juga mengatur tarif maksimal pemotongan
pajaknya.
• Royalti : Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan royalti, definisi royalti
dan mengatur bahwa negara tempat royalti berasal dapat mengenakan pajak sesuai
dengan tarif maksimal yang disepakati.
Dividen, bunga, dan royalti yang dibayarkan kepada subjek pajak luar negeri dapat dikenakan
pajak di negara sumber penghasilan. Jika tidak ada tax treaty, maka dikenakan PPh Pasal 26
dengan tarif efektif sebesar 20% dari penghasilan bruto.
 Keuntungan karena Pengalihan Harta Tak Gerak (Income from Immovable
Property)
Klausul ini mengatur tentang tentang penghasilan yang berasal dari harta tak
bergerak berupa keuntungan pemindahtangan harta termasuk penghasilan yang
bersumber dari pertanian atau perhutanan. Sedangkan keuntungan dari
pemindahtanganan kapal dan pesawat yang dioperasikan dalam jalur lalu lintas
internasional, hanya akan dikenakan pajak di negara tempat manajemen perusahaan
yang mengoperasikannya berada.
Seluruh tax treaty yang disepakati oleh Indonesia memberikan hak pemajakan atas
penghasilan dari immovable property kepada negara dimana immovable property
tersebut bedada. Khusus perjanjian Kuwait, hak pemajakan di negara dimana
immovable property berada, dikurangi 50%.
 Pajak atas Gaji, Upah, dan Balas Jasa Lainnya yang Berkenaan dengan
Perpajakan (Dependent Personal Services)
Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh orang
pribadi sehubungan dengan pemberian jasa yang ia lakukan di negara lain dalam
suatu hubungan kerja. Hal itu hanya akan dikenakan pajak di negara domisilinya.
Tapi, negara tempat orang tersebut berkerja, dapat mengenakan pajak dengan
syarat:
1. Orang pribadi yang bersangkutan berada di negara sumber melebihi time test
2. Penghasilan yang diterima oleh orang pribadi tersebut dibayarkan oleh pemberi
kerjanya.
3. Penghasilan tersebut tidak dibebankan kepada BUT.
Jika ketiga syarat tidak terpenuhi, berarti hak pemajakan berada di tangan negara
domisili.
Pendapatan yang Diterima Seorang Penduduk Suatu Negara Sehubungan dengan
Pekerjaan Bebas atau Pekerjaan Lain yang Sifatnya Sama (Independent Personal
Services)
Penghasilan ini hanya akan dikenakan pajak di negara domisili kecuali dalam hal
berikut, di mana penghasilan itu dapat juga dikenai pajak di negara Indonesia:
Jika ia mempunyai suatu tempat tertentu yang tersedia secara cara teratur
dipergunakan untuk menjalankan pekerjaan di negara Indonesia, penghasilan tersebut
dapat dikenakan pajak di negara Indonesia tetapi hanya bagian penghasilan yang
dianggap berasal dari tempat tertentu itu, atau
jika ia tinggal di negara Indonesia selama suatu masa atau masa-masa yang melebihi
183 hari dalam masa 12 bulan yang mulai atau berakhir pada satu tahun pajak
 Pendapatan Para Pengurus (Directors' Fees)
Pada dasarnya gaji, upah, imbalan dan pembayaran-pembayaran serupa para direktur
yang merupakan penduduk asing yang berkedudukan di negara Indonesia, dikenai
pajak di negara Indonesia. Pemajakan ini berbeda dengan prinsip pemajakan atas
penghasilan orang pribadi yang lain, sebagaimana diatur dalam klausul dependent
dan independent personal services yang menggunakan syarat jangka waktu
keberadaan sebagai alat untuk menentukan aspek pemajakan dan disesuaikan
dengan jenis kegiatan (pekerjaan) yang dilakukan oleh direktur tersebut.

 Pengajar atau Peneliti Negara Lain


Penghasilan yang diperoleh dosen atau guru semata-mata dari mengajar atau
melakukan penelitian berasal dari negara lain (bukan untuk kepentingan seseorang
atau badan atau orangf-orang atau badan-badan tertentu), dibebaskan
pemajakannya sepanjang sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam P3B
Pendapatan Seorang Seniman Penghibur dan Atlet (Artistes and Sportsmen)
Prinsip pemajakan yang diatur dalam klausul ini adalah negara tempat penghasilan
tersebut bersumber dapat mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima oleh
artis atau atlet dan juga berlaku meskipun penghasilan tersebut tidak langsung
dibayarkan kepada sang artis atlet (dibayarkan melalui pihak lain).

Pendapatan atas Pensiunan (Pensions)


Sebagian tax treaty mengatur bahwa penghasilan yang dibayarkan kepada penduduk
asing dari suatu hubungan kerja masa lalu dikenai pajak di negara tempat yang
bersangkutan menjadi penduduk pada saat pensiun. Pensiun yang dibayar atau
pembayaran-pembayaran lainnya dalam rangka program umum yang menjadi bagian
dari tunjangan sosial dari salah satu negara atau bagian ketatanegaraannya hanya
dikenai pajak di negara domisili.
 Kunjungan Penduduk atau Mahasiswa yang Menerima Bantuan Negara Lainnya
Penghasilan yang diperoleh penduduk yang belajar atau dalam pelatihan kerja yang
memperoleh penghasilan berasal dari negara domisili, tidak dikenakan pajak di Indonesia
sepanjang sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam P3B.

 Pendapatan Lain-Lain
Jenis-jenis penghasilan lainnya dari salah satu negara dari manapun asalnya, dan tidak tunduk
kepada pasal-pasal terdahulu dalam persetujuan ini hanya akan dikenakan pajak di negara
domisili, kecuali
terhadap pendapatan yang berasal dari harta tak bergerak,
jika penerima pendapatan itu merupakan penduduk dari negara menjalankan perusahaannya
dengan suatu BUT di negara lain, atau melakukan pekerjaan bebas dengan suatu tempat
tertentu di negara lain, dan
hak atau kekayaan sehubungan dengan mana pendapatan itu dibayar mempunyai hubungan
efektif dengan pendirian tetap atau tempat tertentu itu.
 Pendapatan Pegawai Negeri (Government Service)
Pada prinsipnya, hak pemajakan penghasilan yang diterima oleh para pegawai negeri
dan pensiunan pegawai negeri diberikan kepada negara tempat ia bekerja. Namun
demikian, apabila pegawai negeri atau pensiunan tersebut merupakan warga negara
dari salah satu negara dan sudah sejak awal menjadi penduduk di negara tersebut,
maka penghasilan yang diterimanya hanya dikenakan pajak di sana.
 Metode Penghindaran Pajak Berganda
Metode penghindaran pajak berganda yang digunakan dalam tax treaty
berdasar pada pengkreditan pajak untuk pajak yang dibayar di luar negeri,
pengurangan tarif pajak withoutholding tax dan pembebasan pajak untuk
diplomat atau konsuler. Pada umumnya manuver atau rekayasa yang
dilakukan oleh wajib pajak untuk menghindari pajak atau mengurangi beban
pajaknya atas penghasilan yang diperoleh dari suatu negara sumber adalah
dengan melakukan treaty shopping yang melibatkan dua atau lebih negara
di mancanegara termasuk special vehicle company atau conduit company.
 Bagian-Bagian yang Tidak Diatur dalam Pasal-Pasal P3B
Sepanjang disepakati oleh kedua negara dengan keputusan terpisah, meskipun tidak
diatur dalam tax treaty, namun tetap merupakan bagian dari P3B kedua negara dan
dapat diterapkan secara keseluruhan.

 Tindakan Tindakan Suatu Negara yang Tidak Sesuai dengan Ketentuan P3B
Dispute yang terjadi apabila terdapat tindakan negara yang tidak sesuai dengan P3B,
maka negara partner dalam treaty dapat mengajukan keberatan kepada negara
domisili untuk membahas lebih lanjut di tingkat pejabat yang berwenang dengan
negara yang terkait untuk mendapatkan penyelesaiannya.
 Ketentuan Lainnya
Non diskriminasi (Non-discrimination)
Suatu negara cara yang terikat tax treaty memiliki kewajiban untuk memberikan
perlakuan perpajakan yang sama untuk warga negaranya dan untuk mereka yang bukan
warga negaranya.
Perlakuan perpajakan yang sama ini mengandung arti bahwa dalam suatu kondisi yang
sama, pihak yang bukan warga negara dari suatu negara tidak boleh menanggung
kewajiban pajak yang lebih berat daripada yang ditanggung oleh warga negara dari
negara tersebut.
Mutual Agreement Procedure
Klausul ini mengatur tentang prosedur yang digunakan oleh kedua negara untuk
berkomunikasi dalam menyelesaikan berbagai perbedaan interpretasi atau dispute antara
pembayar pajak dengan otoritas pajak mengenai kasus perpajakan tertentu. Di satu sisi
klausul ini difasilitasi sebagai sarana bagi para pembayar pajak untuk mengutarakan
ketidaksetujuannya terhadap suatu perlakuan perpajakan yang menimbulkan pajak
berganda terhadapnya, dan di sisi lain otoritas perpajakan pun memiliki sarana untuk
memecahkan kesulitan yang timbul sebagai akibat dari perbedaan interpretasi atas suatu
ketentuan dalam sebuah tax treaty.
 Pertukaran Informasi (Exchange of Information)
• Pertukaran informasi dapat bersifat resiprokal dan dilakukan dalam bentuk
pertukaran informasi antara pejabat yang berwenang di Indonesia dan pejabat
yang berwenang di Negara Mitra atau Yurisdiksi Mitra, yang meliputi 1)
pertukaran informasi berdasarkan permintaan, 2) pertukaran informasi secara
spontan, dan/atau 3) pertukaran informasi secara otomatis.
• Manfaat dari pertukaran informasi ini ada empat, yaitu 1) untuk melaksanakan
ketentuan-ketentuan dalam tax treaty ini atau untuk melaksanakan undang-
undang pajak nasional masing-masing negara, 2) mendapatkan informasi terkait
pemenuhan kewajiban perpajakan wajib pajak, 3) mencegah penyalahgunaan
P3B oleh pihak yang tidak berhak, 4) salah satu senjata dalam menanggulangi
praktik-praktik penyelundupan atau penggelapan pajak.
Pernyataan tentang Hak-Hak Khusus Pejabat-Pejabat Diplomatik dan Konsuler
Berdasarkan Ketentuan Hukum Internasional (Member of Diplomatic Missions and
Consular Posts)
Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan yang diberikan kepada anggota
dari suatu misi diplomatik dan konsulat. Tidak ada sesuatu pun dalam persetujuan
ini yang akan mempengaruhi hak-hak istimewa di bidang fiskal dari para pejabat
diplomatik atau pejabat konsuler sebagaimana diatur dalam peraturan umum dari
hukum internasional maupun dalam ketentuan-ketentuan dalam persetujuan
persetujuan khusus. Jadi, meskipun anggota korps diplomatik atau konsulat
mendapatkan penghasilan yang bersumber dari negara tempat mereka bertugas,
negara tersebut tidak dapat mengenakan pajak atasnya.
 Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda P3B
Persetujuan ini bertujuan menghilangkan pengenaan pajak berganda internasional
dan mencegah terjadinya penghindaran pajak. Dalam penjelasan Pasal 32A UU PPh
yang mengatur hal ini menjelaskan bahwa perjanjian perpajakan berlaku sebagai
perangkat hukum yang berlaku khusus uu pajak penghasilan tidak berlaku jika di
dalam perjanjian perpajakan diatur lain.

 Berlakunya Persetujuan (Entry Into Force)


Persetujuan suatu tax treaty dimulai dari penandatanganan oleh kedua otoritas
yang berwenang dan dilanjutkan dengan ratifikasi antarnegara. Lalu, dilakukan
pertukaran dokumen-dokumen ratifikasi. Setelah pertukaran dokumen ratifikasi ini
selesai dilakukan maka tax treaty pun dapat diberlakukan. Dalam hal ini Ditjen Pajak
mengeluarkan surat edaran tentang disepakatinya treaty dengan suatu negara dan
saat berlaku efektifnya.
 Berakhirnya Persetujuan (Termination)
Klausul ini mengatur tentang saat berakhirnya sebuah tax treaty. Tax treaty dapat
berakhir setelah periode tertentu yang telah disepakati oleh kedua negara. Salah
satu negara dapat mengakhiri sebuah tax treaty dengan cara mengadakan
pemberitahuan terlebih dahulu secara tertulis melalui saluran diplomatik tentang
penghentian treaty, yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai
dengan yang telah disepakati.
THANKYOU
Any Question?