Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN KASUS

Sudden Deafness
Nurul Atika Putri
I4061162011

Pembimbing
dr. Muslim M. Amin, Sp.ThT-KL
PENDAHULUAN

 Sudden deafness didefenisikan sebagai kehilangan


pendengaran sensorineural yang lebih dari 30 dB
 Etiologi tuli mendadak masih belum diketahui secara pasti
 Prevalensi tuli mendadak 5-30 tiap 100.000 orang pertahun,
Distribusi laki-laki dan perempuan hamper sama dengan
puncak usia 50-60 tahun
ANATOMI TELINGA

 Telinga luar dan tengah berperan


dalam transmisi suara melalui
udara menuju telinga bagian
dalam yang berisi cairan. Pada
telinga dalam ini, terjadi
amplifikasi energi suara.
DEFINISI

 Sudden Deafness adalah tuli yang terjadi secara tiba-


tiba. Jenis ketuliannya adalah sensorineural.
 Para ahli otolaringologis mendefinisikan sebagai
penurunan pendengaran sensorineural 30db atau lebih,
paling sedikit tiga frekuensi berturut-turut pada
pemeriksaan audiometri, dalam waktu kurang dari tiga
hari.
EPIDEMIOLOGI

 terdapat sekitar 15.000 kasus per tahun kejadian tuli


mendadak di seluruh dunia.
 beberapa pasien pendengarannya bisa kembali normal
sebelum mendapat tindakan medis.
 Kasus tuli mendadak meningkat sesuai dengan
pertambahan umur, di Amerika Serikat terdapat 4,7 kasus
tuli mendadak per 100.000 penduduk yang berusia 20-30
tahun, dan 15, 8 kasus per 100.000 penduduk yang berusia
50-60 tahun.
ETIOLOGI
• Idiopatik
• Infeksi obat ototoksik :
• Trauma kepala  Salisilat
• pajanan bising yang keras  Kuinolon
• perubahan tekanan atmosfir  Loop diuretik
• penyakit autoimun  Aminoglikosida
• penyakit meniere
• masalah sirkulatorik
• neuroma akustik
PATOFISIOLOGI

 infeksi viral labirin, gangguan vaskuler labirin, ruptur membran


intrakoklear dan penyakit telinga dalam yang berhubungan
dengan imun.
 Penelitian terhadap penderita tuli mendadak menunjukkan
adanya suatu prevalensi sedang penyakit viral. Juga ditemukan
bukti serokonversi virus dan histopatologi telinga dalam yang
konsisten dengan infeksi virus.
 gangguan vaskular yang terjadi pada koklea, Koklea merupakan
suatu end organ karena suplai darahnya tidak ada kolateralnya.
DIAGNOSIS
Anamnesis
 Kehilangan pendengaran tiba-tiba berlangsung dalam waktu kurang
dari 3 hari
 Pusing mendadak (vertigo) merupakan gejala awal terbanyak dari tuli
mendadak
 Riwayat infeksi virus seperti parotis, mumps, campak, herpes zooster,
CMV, influenza B
 Riwayat penyakit metabolik seperti DM
 Telinga terasa penuh, biasanya pada penyakit meniere
 Riwayat berpergian dengan pesawat atau menyelam ke dasar laut
 Riwayat trauma kepala dan bising keras
PEMERIKSAAN FISIK

 Tes penala :
Rinne positif, Weber lateralisasi ke telinga yang sehat,
Schwabach memendek. Kesan : Tuli sensorieural
 Audiometri nada murni :
Tuli sensorineural ringan sampai berat.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Audiometri khusus
Tes SISI (Short Increment Sensitivity Index) dengan skor : 100% atau kurang dari
70%
 Tes Tone decay atau reflek kelelahan negatif. Kesan : Bukan tuli retrokoklea
 Audiometri tutur (speech audiometry)
SDS (speech discrimination score): kurang dari 100%, Kesan : Tuli sensorineural
 Audiometri impedans :
Timpanogram tipe A (normal) reflek stapedius ipsilateral negatif atau positif
sedangkan kolateral positif. Kesan : Tuli sensorineural Koklea
 BERA ( Brainstem Evolved Responce Audiometry)
Menunjukkan tuli sencori neural ringan sampai berat.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
 Hitung sel darah lengkap
 LED
 Faal Hemotasis dan faktor ENG ( Electtronistagmografi)
kuagalasi  Radiologi
 Kultur bakterik  Arteriografi
 Eletrolit pada kadar glukosa
 Kolesterol dan trigliserida
 Uji fungsi tiroid
 Tes autoimun seperti antibodi
antinuklear dan reumatic
TATALAKSANA

 total bed rest, untuk menghilangkan atau mengurangi stress yang


berpengaruh pada keadaan kegagalan neovaskular

 Vasodilatansia injeksi yang cukup kuat disertai dengan pemberian


tablet vasodilator oral tiap hari.

 Prednison 4x10 mg (2 tablet), tappering off tiap 3 harii

 Vitamin C 500 mg 1x1 tablet/hari

 Neurobion 3x1 tablet /hari

 Diit rendah garam dan rendah kolesterol

 Inhalasi oksigen 4x15 menit (2 liter/menit), obat antivirus sesuai virus


penyebab
DEFINISI PERBAIKAN PENDENGARAN PADA TULI
MENDADAK

 Dikatakan sembuh bila perbaikan ambang pendengaran


kurang dari 30 db pada frekuensi 250 hz,500 hz,1000 hz
dan di bawah 25 db pada frekuensi 4000 hz.
 Perbaikan sangat baik terjadi bila perbaikannya lebih dari
30 db pada 5 frekuensi
 Perbaikan baik bila rata-rata perbaikannya berkisar
antara 10-30 db pada 5 frekuensi
 Tidak ada perbaikan bila perbaikan kurang dari 10 db
pada 5 frekuensi
PROGNOSIS

 Prognosis tuli mendadak tergantung pada beberapa


faktorr yaitu : kecepatan pemberian obat, respon 2
minggu pengobatan pertama, usia, derajat tuli saraf,
dan adanya faktor-faktor predisposisi.
 Usia muda mempunyai angka perbaikan yang lebih
besar dibandingkan usia tua, tuli sensorineural berat dan
sangat berat mempunyai prognosis lebih buruk
dibandingkan dengan tuli sensorineural nada rendah
dan menengah.
PENYAJIAN KASUS
IDENTITAS

 Nama : Tn. B
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Usia : 86 tahun
 Pekerjaan :-
 Alamat : Jl. Raya Sagatani, Sijangkung
 Tanggal dikonsulkan : 6 Juli 2018
ANAMNESIS
 KELUHAN UTAMA
Penurunan pendengaran
 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien merupakan konsulan dari dokter spesialis bedah
dengan keluhan penurunan pendengaran. Keluhan
penurunan pendengaran dirasakan setelah pasien post
operasi vesicolitotomy. Pasien mengatakan telinga kanan dan
kiri tiba-tiba tidak dapat mendengar, awalnya pasien
merasakan seperti berdenging dan terasa tersumbat
kemudian pasien mengatakan pendengaran mulai menurun
dan tidak dapat mendengar lagi.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

 Riwayat telinga berair (-), nyeri telinga (-), mengorek-


ngorek telinga (-), trauma kepala (-)
 Pusing berputar (-), sakit kepala (-)
 Demam, batuk, dan pilek (-), riwayat bersin pagi hari (-)
 Riwayat mengkonsumsi obat-obatan jangka lama (-)
 Riwayat terpapar suara bising ditempat kerja dan jangka
waktu lama (-)
 Diabetes mellitus (+) diketahui saat masuk Rumah Sakit
 Hipertensi (+) Diketahui saat masuk Rumah Sakit
PEMERIKSAAN FISIK

 Keadaan Umum
 Kesadaran : Compos mentis
 Keadaan umum : Baik
 Tekanan darah : 160/80 mmHg
 Nadi : 86 x / menit
 Pernapasan : 20 x / menit
 Suhu : 36,6oC
STATUS GENERALIS

 Kepala : Normocephali
 Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
 Leher : Pembesaran KGB (-)
 Jantung : S1 S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
 Paru : SND vesikuler (+/+), rhonki (-), Wheezing (-)
 Abdomen : Tidak diperiksa
 Ekstremitas : Akral hangat, edema (-)
STATUS LOKALIS
PEMERIKSAAN PENUNJANG DISARANKAN

 Audiometri
 Timpanometri
 OAE
 BERA
DIAGNOSIS

Sudden Deafness
TATALAKSANA
 Non medikamentosa
• Hiperbarik Oksigen
 Medikamentosa
• Bed rest total
• O2 2-4 Lpm
• Inj Methylprednisolon 125 mg/12 jam (acc SP. PD) -> tappering
off selama 3 hari
• Inj Neurobion 2x1 amp
FOLLOW UP
Pasien dikonsulkan tanggal 6 Juli
2018  A: Sudden Deafness
 S: Pasien mengeluh penurunan  P : Injeksi Methylprednisolon
pendengaran tiba-tiba setelah 125 mg/12 jam -> acc
post op vesicolitotomy. Sp.PD
 O: Kesadaran : Compos Mentis, Injeksi mersibion 2x1 amp
GDS: 319 mg/dl, TD: 160/80
mmHg
Telinga :
AD : Liang Telinga Lapang,
membran timpani Intak,
cairan (-)
AS : Liang Telinga Lapang,
membran timpani Intak, cairan(-)
FOLLOW UP
7 Juli 2018
 S: Pasien mengeluh penurunan pendengaran mulai berkurang
 O: Kesadaran : Compos Mentis, GDS : 257 mg/dl, TD : 150/80 mmHg
Telinga :
AD : Liang Telinga Lapang, membran timpani Intak, cairan (-)
AS : Liang Telinga Lapang, membran timpani Intak, cairan (-)
 A: Sudden Deafness
 P : Injeksi Methylprednisolon 62,5 mg/8 jam
Injeksi mersibion 2x1 amp
FOLLOW UP
8 Juli 2018
 S: Pasien mengeluh penurunan pendengaran mulai membaik
 O: Kesadaran : Compos Mentis, GDS : 227 mg/dl, TD: 150/70 mmHg
Telinga :
AD : Liang Telinga Lapang, membran timpani Intak, cairan (-)
AS : Liang Telinga Lapang, membran timpani Intak, cairan (-)
 A: Sudden Deafness
 P : Injeksi Methylprednisolon 62,5 mg/12 jam
Injeksi mersibion 2x1 amp
FOLLOW UP
9 Juli 2018
 S: Pasien menngatakan penurunan pendengaran sudah tidak
dirasakan
 O: Kesadaran : Compos Mentis, GDS : 198 mg/dl, TD: 140/70 mmHg
Telinga :
AD : Liang Telinga Lapang, membran timpani Intak, cairan (-)
AS : Liang Telinga Lapang, membran timpani Intak, cairan (-)
 A: Sudden Deafness
 P : Methylprednisolon 2 x 4 mg
Injeksi mersibion 2x1 amp
PEMBAHASAN
 Dari anamnesis pasien dengan keluhan telinga kanan dan kiri tiba-tiba
tidak mendengar sejak pasien post operasi vesicolitotomy, sebelumnya
pasien merasakan tiba-tiba telinga seperti berdenging dan terasa
tersumbat kemudian tidak mendengar lagi, dimana Sudden Deafness ini
merupakan tuli yang terjadi secara tiba-tiba.
 Tuli mendadak bisa disebabkan seperti infeksi, trauma kepala, pajanan
bising yang keras, perubahan tekanan atmosfir, penyakit autoimun, obat
ototoksik, penyakit meniere, masalah sirkulatorik, neuroma akustik. Dari
anamnesa pasien tidak ditemukan adanya penyebab tersebut. Menurut
teori bahwa sebanyak 85% kasus tuli mendadak tidak diketahui
penyebabnya, sementara hanya 15% kasus yang dapat diketahui
penyebabnya dan kemungkinan pada pasien ini termasuk kasus tuli yang
tidak diketahui penyebabnya.
 Pada kasus ini terdapat beberapa faktor resiko yaitu diabetes
dan hipertensi. Pada diabetes terjadi peningkatan viskositas
darah yang mengurangi kecepatan aliran darah sehingga
memudahkan terbentuknya mikrotrombus. Pada hipertensi
terjadi penebalan endotel pembuluh darah sehingga lumen
pembuluh darah sempit dan berkurangnya kelenturan
pembuluh darah. Kondisi tersebut memudahkan terjadinya oklusi
pada pembuluh darah koklea yang merupakan pembuluh
darah kecil, end artery dan tidak mempunyai kolateral.
 Pemeriksaan anjuran yaitu audiometri dan BERA untuk
menentukan jenis tuli dan derajatnya, sementara timpanometri
dilakukan untuk menilai kondisi telinga tengah. Dan dianjurkan
pula OAE untuk menilai fungsi koklea secara objektif.
 Terapi yang diberikan yaitu terapi bed rest untuk
mengurangi stress yang besar pengaruhnya pada
keadaan kegagalan neurovaskular.
 Tujuan pemberian oksigen untuk memperbaiki
oksigenasi di koklea.
 Methylprednisolon diberikan karena kortikosteroid
merupakan obat anti inflamasi yang digunakan untuk
mengobati ketulian sensorineural mendadak idiopatik.
 Neurobion sebagai multivitamin
 Pada pasien dianjurkan terapi Hiperbarik Oksigen
dengan tujuan meningkatkan konsentrasi oksigen di
dalam darah.
PROGNOSIS
 Prognosis dan keberhasilan penatalaksanaan tuli mendadak
dipengaruhi oleh onset kehilangan pendengaran, ada
tidaknya vertigo, jenis audiogram pertama dan penyakit
sistemik.
 Pasien yang diberikan terapi dalam onset kurang dari 5 hari
mempunyai prognosis yang lebih baik dibandingkan onset
yang lebih dari 5 sampai 15 hari.
 Adanya vertigo mempunyai prognosis yang lebih buruk
dibandingkan tidak disertai vertigo, karena adanya vertigo
berarti kerusakan lebih luas yaitu mengenai sistem
keseimbangan, demikian juga dengan penyakit sistemik yang
memperberat kerusakan yang terjadi pada pembuluh darah
koklea.
KESIMPULAN
 Tuli mendadak bisa disebabkan oleh berbagai hal seperti infeksi,
trauma kepala, pajanan bising yang keras, perubahan tekanan
atmosfir, penyakit autoimun, obat ototoksik, penyakit meniere,
masalah sirkulatorik, neuroma akustik. Pada kasus ini terdapat
beberapa faktor resiko yaitu diabetes dan hipertensi. Kondisi
tersebut memudahkan terjadinya oklusi pada pembuluh darah
koklea yang merupakan pembuluh darah kecil, end artery dan
tidak mempunyai kolateral.
 Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, bahwa Tn. B, 86
tahun menderita sudden deafness. Pasien mendapat terapi non
medikamentosa dan medikamentosa meliputi : bed rest total,
oksigenasi, injeksi methylprednisolon 125mg/12 jam (tappering off),
dan injeksi mersibion 2x1 amp.
Terima kasih