Anda di halaman 1dari 17

Statin Use and Ocular

Inflamm atory Disease Risk


Jacob J Yunker, Gerald McGwin Jr, and Russell W Read

Journal Reading – RS MATA Dr.YAP


Oleh:
Roy Kristian P. / 411000
Ferni / 41100083
Dyanasti P.S. / 41100085
TUJUAN
• Mengevaluasi efek pengobatan statin peroral
pada Ocular Inflammatory Disease (OID).
METODE
• Retrospektif - case control
• Data diambil dari RM pasien Birmingham Veterans Affairs Medical
Center.
• Semua pasien laki – laki yang didiagnosis OID dalam 5 tahun
terakhir diikutsertakan dalam penelitian ini.
• 10 subjek kontrol (tanpa OID) disesuaikan usianya dengan pasien
dengan OID.
• Peresepan statin pada semua subjek masih dipertanyakan. Selain
itu juga terdapat informasi mengenai beberapa penyakit komorbid
yang menyertai.
• Conditional logistic regression digunakan untuk menghitung odds
ratios (Ors) dan 95% confidence intervals (CIs) untuk risiko
perkembangan OID dalam konteks penggunaan statin, pengaturan
kondisi komorbid.
HASIL
• 92 insiden OID berhasil diidentifikasi. Terdapat
trend terhadap penurunan risiko terjadinya
OID baru pada pasien yang mengkonsumsi
statin dengan pasien yang tidak
mengkonsumsi statin (OR 0.50, 95% CI 0.20 to
1.23, p = 0.13).
• Semakin lama durasi pengobatan statin,
semakin besar efeknya.
KESIMPULAN
• Konsumsi statin peroral kemungkinan
berhubungan dengan penurunan risiko
perkembangan OID.
• Penurunan risiko ini meningkat seiring
bertambahnya durasi konsumsi statin.
• Perlu dilakukan studi kasus yang lebih besar
untuk menyimpulkan efektivitas statin dalam
menurunkan insiden OID.
KONSUMSI STATIN DAN RISIKO
OCULAR INFLAMMATORY
DISEASE
Journal Reading – RS MATA Dr.YAP
Oleh:
Roy Kristian P. / 411000
Ferni / 41100083
Dyanasti P.S. / 41100085
LATAR BELAKANG
• Uveitis merupakan inflamasi dari traktus uvea.
• Uveitis merupakan penyebab terbanyak
komplikasi penyakit mata yang selanjutnya
menyebabkan penurunan penglihatan.
• Amerika mengestimasi rentang insiden uveitis
adalah mulai dari 25.6 sampai dengan 52 kasus
per 100,000 orang per tahun. Sedangkan
prevalensi uveitis adalah mulai dari 69 sampai
dengan 115 kasus per 100.000 orang.
• Skleritis adalah inflamasi pada sklera. Hampir sama dengan uveitis,
keduanya sering disebabkan oleh penyakit autoimun.
• Skleritis dan uveitis  Ocular Inflammatory Disease (OID)
• Pengobatan OID meliputi kostikosteroid atau immunomodulator
dan steroid. Antimetabolit sering digunakan setelah pengobatan
kortikosteroid dan terbukti efektif pada dua per tiga pasien. obat
alkilasi diketahui lebih efektif tetapi resiko atau efek samping yang
menyertainya lebih besar.
• Statin atau 3-hydroxy-3-methylglutaryl coenzyme A reductase
inhibitors bermanfaat terhadap penurunan morbiditas dan
mortalitas kardiovaskular. Di samping itu, statin diketahui
mengurangi aterosklerosis melalui jalur antiinflamasi.
• Beberapa studi menganjurkan bahwa efek dari statin
mungkin dapat menngobati gangguan autoimun
sistemik.
• Berbagai studi telah meneliti mengenai dampak statin
pada beberapa penyakit mata termasuk age-related
macular degeneration, glaukoma dan retinopati
diabetika. Meskipun cara kerja statin dalam mengobati
penyakit mata belum diketahui secara pasti, penelitian
ini dilakukan untuk melihat dampak potensial
penggunaan statin pada OID dengan melakukan
beberapa mekanisme dimana statin mampu
mengurangi respon inflamasi.
RESULT
• Terindentifikasi 92 angka kejadian OID
• Rerata umur antara kedua kelompok berekuivalen
• Kelompok dengan OID memiliki diabetes dan
hipertensi
• Tabel 2. karateristik penggunaan statin antara
kelompok OID dengan subjek kontrol.
• Analisis stratifikasi untuk efek komorbiditas (ischemic
heart disease, cerebrovaskular disease, lipid
metabolism disorder, hypertension, diseases of the
arteries, arterioles, dan capillaries and
diabetes)berhubungan antara penggunaan statin dan
OID tidak signigikan.
DISCUSSION
• STATIN MEMPUNYAI EFEK ANTIINFLAMASI PADA MATA
– Menghinbisi aktifasi Rho guanosine triphosphatase (GTP ase),
yang merupakan molekul utama sel endotel berperan dalam
migrasi limfosit.
– Menghambat interaksi antara leukosit dan sel endotel
– Mencegah transmigarasi leukosit di vaskular, melewati blood-
retinal barrier.
– Menghinbisi pembentukan radikal bebas dari sel endotel.
– Mengurangi sitokin inflamasi IL-6, IL-8 dan TNF.
– Mengurangi aktivasi sel T melalui inhibisi aktivitas GTPase.
– STATIN berfungsi dalam menstabilkan blood ocular dan blood
retinal barrier, menghambat mediator inflamasi dan sel
aktivator inflamasi untuk masuk ke dalam bilik depan mata,
cavitas vitreous, dan jaringan retina.
DISCUSSION
• PENGARUH STATIN TERHADAP HEWAN COBA DENGAN UVEITIS
(EAU  Experimental Autoimmune Uveitis) SUDAH DITELITI.
– Atorvastatin oral tidak mempunyai pengruh yang signifikan terhadap
sitokin inflamasi (10 mg/kg/day).
– Artovastatin dan lovastatin oral mempunyai efek terapetik yang
signifikan. Lovastatin parenteral (20mg/kg/day) menghambat proses
patologi ocular, kebocoran vaskular retina, dan infiltrasi leukosit ke
retina.
– Artovastatin oral(10 mg/kg/day) dan lovastatin (2 mg/kg/day)
intraperitoneal mempunyai efek terapetik.
DOSIS STATIN YANG DIBUTUHKAN UNTUK MEMPUNYAI EFEK
ANTIINFLAMASI LEBIH BESAR DIBANDINGKAN DENGAN DOSIS RUTIN
UNTUK PENGOBATAN HIPERLIPIDEMIA.
Contoh :atorvastatin 1,14 mg/kg/day (9x lipat lebih kecil)
DISCUSSION
• Studi saat ini memiliki banyak keterbatasan.
1. Database terdiri dari populasi veteran
tua,dan penelitian ini seluruhnya terbatas
pada subjek laki-laki.
2. Diagnosa OID dibuat oleh beberapa dokter
dengan standar yang berbeda-beda.
3. Bisa saja terjadi miscoding (ICD -9CM)
4. Pasien yang mendapatkan resep statin tetapi
tidak dimasukkan ke dalam rekam medis.
DISCUSSION
CONCLUSION
• Data yang disajikan menunjukkan adanya reduksi positif terhadap
risiko kejadian OID pada pasien yang menggunakan statin.
• Reduksi semakin nyata dengan meningkatnya durasi penggunaan
statin.
• Secara statistik efek penggunaan statin terhadap OID tidak
mencapai signifikan (p: 0,13)
• Reduksi ganda pada risiko dengan kecenderungan nilai p secara
statistik tidak memiliki arti tetapi berkaitan secara klinis.
• Untuk sepenuhnya menjawab pertanyaan mengenai efek statin
pada pasien yang berisiko terkena OID dibutuhkan evaluasi dengan
database yang lebih besar dan dalam jangka waktu penelitian yang
lebih lama.
• Perlu dilakukan randomized clinical trial untuk mengetahui apakah
tambahan statin dalam pengobatan mampu mencegah terjadinya
OID.
METHODS
• The Birmingham Veterans Affairs Medical Center (BVAMC) merupakan fasilitas kesehatan tingkat III di Alabama
dengan jumlah tempat tidur 134 buah.
• Kriteria Inklusi:
– Semua pasien yang setidaknya pernah satu kali berobat ke BVAMC dalam periode 1 Januari 1997 – 31 Desember 2001.
• Kriteria Eksklusi:
– Wanita
– pasien yang didiagnosis OID sebelum periode observasi (1997 – 2001)
• Data yang dibutuhkan:
– Demografik (usia, jenis kelamin, ras)
– Riwayat penyakit pasien

• Data klinis berisi deskripsi setiap diagnosis yang ditegakkan di BVAMC. Semua diagnosis dikode sesuai
International Classification of Diseases, Ninth Revision, Clinical Modification (ICD-9CM).
• Data pengobatan berisi informasi mengenai setiap obat yang diresepkan setiap kunjungan pasien.
• Kedua data ini tidak hanya diambil dari tahun 1997- 2001 melainkan seluruh data sejak kunjungan pasien pertama
kali di BVAMC.
• IRB BVAMC telah menerima dan menyetujui pengumpulan data dan analisis untuk kepentingan penelitian.
• Semua metode yang digunakan menurut HIPAA guidelines.
• Data – data ini dikunci selama periode waktu yang sudah ditetapkan dan tidak ada penambahan data dalam
populasi.
STUDY DESIGN
• Pada suatu populasi diadakan sebuah studi demgan metode nested – case control. Diagnosis ditetapkan sesuai
ICD–9CM seperti yang tertera pada tabel. Informasi pada tanggal diagnosis OID ditegakkan akan diterima dan
kemudian dikembalikan, ditetapkan sebagai tanggal penunjuk.
• Karena studi ini meneliti hubungan antara penggunaan statin dan insidens OID, maka pasien yang didiagnosis OID
sebelum masa observasi (1997 – 2001) merupakan kriteria eksklusi. Kontrol dipilih acak dari studi populasi yang
tidak didiagnosis OID sampai dengan masa observasi berakhir. Supaya dapat diperhitungkan sebagai kontrol yang
memenuhi syarat, kontrol tersebut harus memiliki pengalaman berobat di BVAMC dengan kasus yang sesuai
sebelum atau pada saat tanggal penunjuk ditetapkan.
• Sepuluh kontrol dipilih untuk setiap kasus dan disesuaikan usianya (±1 year). Setiap kontrol ditetapkan sesuai
tanggal penunjuk dari kasus yang sesuai.
• Adanya peresepan statin (atorvastatin, cerivastatin, fluvastatin, pravastatin, simvastatin, lovastatin) pada data
resep diragukan. Hanya resep yang diisi sebelum tanggal penunjuk pada setiap kasus dan kontrol yang dapat
diperhitungkan.
• Pasien dibagi menjadi pengguna statin dan bukan pengguna statin. Pengguna statin selanjutnya akan dibagi
menjadi pengguna baru dan pengguna lama dimana pengguna baru merupakan pasien yang diresepkan statin 6
bulan sebelum tanggal penunjuk sedangkan pengguna lama merupakan pasien yang diresepkan statin > 6 bulan
sebelum tanggal penunjuk.
• Informasi pada kondisi yang ada didapat dari data klinis: ischemic heart disease (ICD-9CM kode 410-414),
cerebrovascular disease (ICD-9CM kode 430-438), lipid metabolism disorders (ICD-9CM kode 272), hypertension
(ICD-9CM kodes 401-405), diseases of the arteries, arterioles, and capillaries (ICD-9CM kode 440-448), dan
diabetes (ICD-9CM kode 250). Untuk kepentingan analisis, hanya diagnosis tersebut yang dicatat dan
diperhitungkan.