Anda di halaman 1dari 38

ASKEP PADA ANAK DENGAN MASALAH

KESEHATAN SISTEM PERNAPASAN

BHP/PNEUMONIA ASMA TBC

Ikeu
Fazar
Reiza
Rizal
Pendahuluan

Gangguan sistem respirasi merupakan


gangguan yang menjadi masalah besar di
dunia khususnya Indonesia diantaranya
adalah penyakit pneumonia, TBC, dan
asma.
1. Pada tahun 2006, WHO mencatat bahwa Indonesia
merupakan negara dengan tingkat kejadian
pneumonia tertinggi ke-6 di seluruh dunia.

2. Sedangkan insiden TBC, WHO mencatat peringkat


Indonesia menurun ke posisi 5 dengan jumlah
penderita TBC sebesar 429 ribu orang. (WHO Global
Tuberculosis Control, 2010).

3. Dan insiden asma menurut WHO, sebanyak 100


hingga 150 juta penduduk dunia adalah penyandang
Asma.
I. BHP (Bronkopneumonia)/Pneumonia
1. Pengertian

Bronkopneumonia (BHP) disebut juga pneumonia


lobularis yaitu suatu peradangan pada parenkim
paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai
bronkiolus dan juga mengenai alveolus
disekitarnya, yang sering menimpa anak-anak dan
balita, yang disebabkan oleh bermacam-macam
etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda
asing.
Pneumonia merupakan proses inflamasi parenkim
paru yang terjadi pengisian rongga alveoli dan
eksudat, yang disebabkan oleh bakteri, virus,
jamur, dan benda – benda asing (Ardiansyah,
2012).
I. BHP (Bronkopneumonia)/Pneumonia
2. Penyebab

 Penyebab utamanya adalah microorganism


bakteri, virus dan jamur, dan benda-benda asing
lainnya.
– Bakteri : bakteri gram positif & streptococcus
pheumoniae
– Virus : influenza. Parainfluenza, adeno virus, dan
rinovirus. Lebih sering terjadi dibandingkan pneumonia
bakterial.
– atipikal: pheumonia mikoplasma.
 (Wong, 2013) Penyebab dari pheumonia dan
bronkopneumonia ini menurut usia dapat di
kelompokan sebagai berikut:

1) Neonatus : Grup B Streptococci, Gram Negative Enteric


Bacteria, Cytomegalovirus, Ureaplasma Urealyticum, Listeria
Monocytogenes, C Tracomatis.
2) Infan : Rsv, Para Influenza Virus, Influenza Virus, Adenovirus,
Meta Pheumovirus, S Pneumonia, H.Influinzae,
M.Pneumoniae , Mycobacterium Tuberculosis
3) Pra Sekolah : Rsv, Para Influenza Virus, Influenza Virus,
Adenovirus, Metapneumovirus, S.Pneumoniae, H.Influenzae,
M.Pneumoniae, M. Tuberculosis
4) Usia Sekolah : M.Pneumoniae, Clamidia Pneumonia,
M.Tuberculosis Dan Respiratory Virus.
I. BHP (Bronkopneumonia)/Pneumonia
3 . Patofisiologi
I. BHP (Bronkopneumonia)/Pneumonia
4. Gambaran Klinis
1) Peningkatan frekuensi napas
2) Demam dan menggigil
3) Nyeri dada akibat iritasi pleura
4) Sputum berwarna merah karat (untuk streptococcus
pheumoniae), merah muda (untuk staphylococcus aureus),
atau kehijauan dengan bau khas (untuk pseudomonas
aeruginosa).
5) Bunyi crakle,
6) Bunyi mengi
7) Keletihan
8) Dispnea
9) Hemoptisis
I. BHP (Bronkopneumonia)/Pneumonia
5. Peragkat Diagnostik
a. Pemeriksaan Darah
b. pemeriksaan radio graf (sinar x) dada

6. Komplikasi
a. Sianosis disertai hipoksia mungkin terjadi
b. Ventilasi mungkin menurun
c. Gagal napas dan kematian dapat terjadi pada
kasus ekstream
I. BHP (Bronkopneumonia)/Pneumonia
7. Penatalaksanaan
a. Antibiotic, terutama untuk pheumonia bakteri.
Pheumonia lain dapat diobati dengan antibiotic untuk
mengurangi resiko infeksi sekunder yang dapat
berkembang dari infeksi asal.
b. Istirahat
c. Hidrasi untuk mengencerkan sekresi
d. Teknik napas dalam untuk meningkatkan ventilasi
alveolus dan mengurangi resiko atelektasis.
e. Pemberian obat lain yang spesifik untuk
mikroorganisme yang di identifikasi dari hasil biakan
sputum.
I. BHP (Bronkopneumonia)/Pneumonia
8. ASKEP
A. Pengkajian

1. Identitas Klien : Nama klien, usia, agama, nama penanggung jawab dll
2. Keluhan utama : biasanya sesak nafas, batuk berdahak, demam, sakit
kepala
3. Riwayat penyakit dahulu:
Anak sering menderita penyakit saluran pernafasan bagian atas.
Riwayat penyakit campak/fertusis (pada bronkopneumonia).
munisasi
Ada alergi atau tidak
4. Riwayat Kesehatan Keluarga : TB, Asma, ISPA, ada penyakit keturunan
atau tidak
5. Pemeriksaan Fisik
6. Penegak diagnosis:
1. Pemeriksaan labolaturium
Leukosit 18.000 – 40.000 /
mm3.
Hitung jenis didapatkan
geseran ke kiri.
LED meningkat.
2. X – foto dada.
Terdapat bercak – bercak
infiltrat yang tersebar (bronko
pneumonia) atau yang meliputi
satu / sebagian besar lobus /
lbulus.
B. Diagnosa Keperawatan
• Kerusakan Pertukaran Gas berhubungan dengan
Gangguan pengiriman oksigen.
• Infeksi Resiko Tinggi Terhadap (penyebaran)
berhungan dengan Ketidakadekuatan pertahanan
utama.
• Ketdakefektifan bersihan jalan napas berhubungan
dengan pembentukan edema.

C. Intervensi Keperawatan
I. ASMA
1. Pengertian
 Asma merupakan suatu
keadaan dimana saluran
nafas mengalami
penyempitan karena
hiperaktivitas terhadap
rangsangan tertentu yang
menyebabkan peradangan
dengan manifestasi mengi
kambuhan, sesak nafas,
dan batuk terutama pada
malam hari dan pagi hari.
I. ASMA
2. Penyebab

Untuk sebab yang tidak jelas, anak-anak penderita


asma bereaksi terhadap rangsangan tertentu
(pencetus) dimaana anak yang dapat menderita asma
tidak bereaksi terhadap banyak pencetus yang
berpotensi, dan kebanyakan anak-anak bereaksi
hanya ke beberapa pencetus
Ada beberapa hal yang merupakan faktor
predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan
asma.
1. Faktor predisposisi : Genetik
2. Faktor Presipitasi (Pencetus )
a. Alergen: Seperti debu, bulu binatang, serbuk
bunga, spora jamur, bakteri dan polusi, Seperti
makanan dan obat-obatan, perhiasan, logam dan
jam tangan
b. Perubahan cuaca.
c. Stress.
d. Lingkungan kerja : laboratorium hewan, industri
tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas.
e. Olahraga atau aktifitas jasmani yang berat
I. ASMA
3. Patofisiologi
I. ASMA
4. Manifestasi Klinis

1. Dispnea yang bermakna.


2. Batuk, tertutama di malam hari.
3. Pernapasan yang dangkal dan cepat.
4. Mengi Peningkatan usaha bernapas,
5. Kecemasan
I. ASMA
5. Perangkat Diagnostik

Asma didiagnosis menggunakan spirometri, alat yang


mengukur dan mengidentifikasi penurunan kapasitas vital dan
penurunan laju aliran ekspirasi puncak (maksimum). Selama
serangan asmatik volume ekspirasi maksimum dan laju
maksimun ekspirasi menurun.
7. Penatalaksanaan
I. ASMA
1. Pengobatan dengan
6. Komplikasi (bronchodilator) untuk
membuka saluran udara dan
1. Pneumotoraks menghentikan paradangan
2. Asidosis respiratorik contoh khusus adalah
albuterol dan ipratropium.
3. Gagal napas
2. Alat inhalasi dan nebulizer
4. Kematian.
3. Cromolyn atau nedrocromil
obat inhalasi untuk keparahan
yang rendah
4. Bronchodilator jangka panjang
seperti salmeterol, leukotriene
modiefer, seperti zafirlukast
atau montelukast
I. ASMA
8. ASKEP
A. Pengkajian
1) Identitas klien
2) Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat keturunan, alergi
debu, udara dingin
3) Riwayat kesehatan sekarang : keluhan sesak napas,
keringat dingin.
4) Riwayat kesehatan keluarga.
5) Kaji Status mental : lemas, takut, gelisah
6) Faktor pencetus ; stress, latihan, kebiasaan dan rutinitas,
perawatan sebelumnya.
7) Kaji pengetahua anak dan orang tua tentang penyakit dan
pengobatan
8) Pemeriksaan Fisik
Cuping hidung, Keabnormalan struktur Thorax,
Contour dada simetris, Kulit Thorax
Hangat,/kering,/pucat atau tidak, distribusi warna
merata, RR dan ritme selama satu menit, Temperatur
kulit, vocal Premitus, Pengembangan dada,
Krepitasi, Massa, Edema suara pernapsan
Vesikuler, Broncho vesikuler, Hyper
ventilasi, Rochi, Wheezing.
8) Pemeriksaan penunjang
a. Spirometri untuk menunjukkan adanya obstruksi
jalan nafas.
b. Tes provokasi untuk menunjang adanya
hiperaktifitas bronkus.
c. Tes kulit untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig
E yang spesifik dalam tubuh.
d. Pemeriksaan radiologi umumnya rontgen foto
dada normal.
e. Analisa gas darah dilakukan pada asma berat.
f. Pemeriksaan eosinofil total dalam darah
g. Pemeriksaan sputum.
B. Diagnosa Keperawatan
1) Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan
dengan akumulasi mukus.
2) Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan
penurunan ekspansi paru.
3) Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
4) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
fisik.
5) Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya
berhubungan dengan kurangnya informasi

C. Intervensi Keperawatan
III. TUBERCULOSIS (TBC)
1. Pengertian

∩ Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang


menyerang parenkim paru-paru yang disebabkan
oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini juga
dapat menyebar kebagian tubuh lain seperti
meningen, ginjal, tulang dan nodus
limfe.(Somantri,2008).
∩ Biasanya ditularkan melalui inhalasi percikan
ludah (droplet), dari satu individu ke individu
lainnya, dan membetuk kolonisasi di bronkiolus
atau alveolus. Kuman juga dapat masuk ke tubuh
melalui saluran cerna, melalui susu tersemar yang
tidak dipasteurisasi, atau kadang-kadang lesi kulit.

∩ Mereka yang beresiko terpajan dengan basil adalah


mereka yang tinggal berdekatan dengan orang
terinfeksi aktif . kelompok ini antara lain tunawisma,
anggota keluarga pasien dengan tb, anak-anak ,
tenaga kesehatan yang merawat pasien TB.
III. TUBERCULOSIS (TBC)
2, Penyebab

∩ (Wim de Jong,2005) Penyebab tuberkulosis adalah


Mycobacterium tuberculosis. Ada dua macam
mikobakteria tuberculosis yaitu:
1) Tipe human basil tipe human bisa berada di
bercak ludah (droplet) penderita TBC
2) Tipe bovin basil tipe bovin berada dalam susu sapi
yang menderita mastitis tuberkulosis usus.
(Wong 2013) Anak-anak yang berisiko terkena
paparan TB:
– Anak-anak yang lahir atau yang orang tuanya lahir di
daerah dengan tingkat prevalensi tinggi (TB) di dunia
– Anak-anak sering terpapar orang dewasa yang
terinfeksi HIV, tunawisma, pengguna obat terlarang,
penghuni panti jompo, pekerja migran yang dipenjara
atau dilembagakan, atau pekerja migran.
– Anak-anak yang bepergian ke daerah dengan tingkat
prevalensi tinggi (TB) di dunia Indikasi ≥15 mm
– Anak-anak berusia 4 tahun ke atas tanpa faktor risiko
III. TUBERCULOSIS (TBC)
3. Patofisiologi
III. TUBERCULOSIS (TBC)
4. Gambaran Klinis Dengan perkembangan:
1) Demam 1) Meningkatkan laju
pernafasan.
2) Malaise
2) Perluasan paru-paru yang
3) Anoreksia buruk di sisi yang
4) Penurunan berat badan terkena.
5) Batuk (mungkin atau 3) Suara nafas yang
mungkin tidak hadir; berkurang dan retak.
berlangsung perlahan 4) Dullness to perkusi.
selama beberapa minggu 5) Demam terus-menerus
sampai mulut) 6) Generalized symptomp
6) Sakit dan paha di dada. 7) Pucat, anemia,
7) Hemoptysis (jarang kelemahan, dan
penurunan berat badan
terjadi)
III. TUBERCULOSIS (TBC)
5. Pemeriksaan Diagnostik

1) Pemeriksaan kulit positif /tuberkulin


2) Tuberculosis aktif didiagnosis dengan
pengumpulan sampel sputum
3) Teknik modular berdasarkan PCR yang
dihubungkan dengan elektroforesis, sequencig
(pengurutan gen), atau hibridasi yang digunakan
untuk mendeteksi mutasi gen/resistensi obat
4) Radiografi dada memperlihatkan pembentukan
tuberkel lama atau baru
III. TUBERCULOSIS (TBC)
6. Komplikasi

1) Penyakit yang parah dapat menyebabkan sepsis yang


hebat, gagal napas, dan kematian
2) Tb yang resisten terhadap obat dapat terjadi.
Kemungkinan galur lain yang resisten akan terjadi
III. TUBERCULOSIS (TBC)
7. Penatalaksanaan
1) Permberian terapi obat terdiri dari pemberian obat anti TB
(OAT) dan terapi pencegahan dengan INH profilaksis.
2) OAT kategori anak dalam bentuk KDT terdiri dari kombinasi
INH, Rifampisin dan Pirazinamid masing-masing 50mg,
70mg dan 150mg untuk fase intensif dan kombinasi INH
dan Rifampisin masing-masing 50mg dan 75mg untuk fase
lanjutan yang diberikan kepada anak sesuai dengan berat
badan anak tersebut.
3) Terapi pencegahan dengan INH diberikan kepada anak
balita yang kontak dengan pasien TB BTA positif tetapi tidak
terinfeksi TB dan anak yang terinfeksi TB tetapi tidak sakit
TB (profilaksi primer dan sekunder).
4) INH profilaksi diberikan dengan dosis 10mg/kgBB/hari
selama 6 bulan.
III. TUBERCULOSIS (TBC)
8. ASKEP
1. Pengkajian
 Identitas Klien: nama klien, nama orang tua, asal kota, nama
penanggung jawab dll.
 Keluhan utama : biasanya sesak napas, demam sub febris sd
febris 40-41 derajat celsius
 Riwayat kehamilan dan kelahiran
 Riwayat masa lampau : sakit batuk yang lama, ada benjolan
bisul pada leher, pernah berobat sebelumnya namun tidak
sembuh-sembuh,sudah pernah mendapat imunisasi BCG
atau tidak
 Riwayat penyakit sekarang : batuk, demam, sesak, terdapat
benjolan/ bisul di sekitar tempat kelenjar seperti leher,
inguinal, axial, dan sub mandibula
 Riwayat keluarga : adakah keluarga yang menderita TBC
 Riwayat kesehatan lingkungan dan sosial ekonomi :
lingkungan kumuh, polusi limbah, pemukiman ynag
padat , ventilasi rumah yang buruk, anggota keluarga
yang banyak, kondisi rumah.
 Pola fungsi kesehatan kebiasaan
 Pemeriksaan fisik
 Pemeriksaan Dignostik :
a. Uji Tuberculin
b. Foto Rotgen
c. Pemeriksaan Microbiologis,
2. Diagnosis Keperawatan :

 Diagnosa 1 :Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d


ketidakmampuan untuk mengeluarkan sekresi pada jalan
napas.(NANDA, 2013)
 Diagnosa 2 :Gangguan pertukaran gas b.d kongesti paru,
hipertensi pulmonal, penurunan perifer yang mengakibatkan
asidosis laktat dan penurunan curah jantung.(NANDA, 2013)
 Diagnosa 3 : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d
intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan
yang menurun.(NANDA, 2013)
 Diagnosa 4 :Resiko penyebaran infeksi b.d kurangnya
pengetahuan untuk mencegah paparan dari kuman
patogen.(soemantri, 2008) 1)
 Diagnosa 5 :Hipertemia b.d dehidrasi

3. Intervensi Keperawatan
TERIMAKASI
H