Anda di halaman 1dari 40

Presentasi kasus

Ketuban pecah dini


dan
IUD Insitu

Oleh:
Ghiffari A A Gumelar,dr
ANAMNESIS
Keterangan Umum

Nama Pasien : Ny. I


Usia : 31 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Keluhan Utama : keluar air-air

Anamnesis Khusus :
Pasien wanita hamil 21-22 minggu datang dengan keluhan
keluar air-air yang disertai lendir sejak 6 jam sebelum masuk
rumah sakit. keluhan disertai dengan mulas yang dirasakan
hilang timbul. Pasien merasa bahwa janin dalam
kandungannya bergerak aktif.
• Keluhan tidak disertai demam, nyeri ketika berkemih dan
menjadi sering berkemih. Riwayat keputiha ketika hamil. .
Riwayat BAB 1-2x sehari, normal. Nafsu makan pasien baik,
pasien makan 3x/hari. Tidak terdapat riwayat penyakit darah
tinggi, kencing manis, astma dan alergi obat pada pasien dan
keluarga. Pasien hanya menggunakan alat kontrasepsi IUD.
Riwayat Menstruasi
 Menarch : 13 tahun
 Siklus haid : teratur, 28 hari
 Lamanya haid : 7 Hari
 Banyaknya : 2x ganti pembalut/hari
 Dismenorrhea : tidak ada
 HPHT : 10 oktober 2018
 Taksiran Lahir : 17 juli 2019
 Usia Kehamilan : 21-22 minggu
Riwayat Obstetrik
G3P2A0
1. perempuan, 11 tahun, Aterm, BBL 3600 gram, melahirkan
secara spontan dibantu oleh bidan
2. Perempuan, 5 tahun, Aterm, BBL 3200 gram, melahirkan
secara spontan dibantu oleh bidan
3. Kehamilan sekarang

Riwayat KB
IUD
PEMERIKSAAN
FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : composmentis
Tanda Vital
 Tekanan Darah : 110/70 mmHg
 Nadi : 80 x/m
 Respirasi : 22 x/m
 Suhu : 36.7 oC
Kepala
Mata : Konjungtiva Anemis -/-
Sklera Ikterik -/-
Leher : KGB tidak teraba, JVP tidak meningkat
Thoraks : Bentuk gerak simetris
Cor : BJ I & II murni regular
Pulmo : VBS kanan = kiri, Rh -/- Wh -/-
Abdomen : Cembung Obstetrik
Hepar : sulit dinilai
Lien : sulit dinilai
Ekstremitas :
Akral dingin, CRT > 2 detik, edema -/-
Status Obstetrikus
TFU: 24 cm
 Pemeriksaan Leopold: sulit teraba
 DJJ : 142x/menit
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Hemoglobin : 8,6 g/dL
Eritrosit : 4,46 juta/dL
Leukosit : 17.470 ribu/dL
Hematokrit : 26 %
Trombosit : 455.000/dL
Diagnosa
G3P2A0 gravida 21-22 minggu kpd + IUD insitu + anemia
TATALAKSANA
Infus RL
Ceftriaxone 1x 2gr iv
Sulfa ferosus 2x1
PROGNOSIS
Prognosis Ibu
• Quo ad vitam : Ad bonam
• Quo ad functionam : Ad bonam

Prognosis Bayi
• Quo ad vitam : dubia Ad bonam
• Quo ad functionam : dubia ad bonam
TERIMAKASIH
TINJAUAN
PUSTAKA
Ketuban pecah dini

• Definisi
• Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya
selaput ketuban sebelum terjadinya persalinan. Ketuban
pecah dini dapat terjadi pada atau setelah usia gestasi 37
minggu dan disebut KPD aterm atau premature rupture of
membranes (PROM) dan sebelum usia gestasi 37 minggu
atau KPD preterm atau preterm premature rupture of
membranes (PPROM).
Klasifikasi

KPD Preterm KPD pada Kehamilan Aterm


• Ketuban pecah dini preterm Ketuban pecah dini/ premature
( vaginal pooling , tes nitrazin rupture of membranes (PROM)
dan, tes fern atau IGFBP-1 (+) adalah pecahnya ketuban
pada usia <37 minggu dengan vaginal pooling, tes
• KPD sangat preterm pecah nitrazin dan tes fern (+), IGFBP-1
ketuban UK 24- 34 minggu (+) pada usia kehamilan ≥ 37
• KPD preterm UK 34- 37 minggu.44
minggu.
Faktor risiko

• Riwayat ketuban pecah dini pada kehamilan sebelumnya


• Infeksi traktus genital
• Perdarahan antepartum
• Merokok
Anamnesis dan pemeriksaan fisik

• Sejak kapan keluar air-


air? • Pemeriksaan dalam
• Berapa banyak? • BJA
• Usia kehamilan?
• Taksiran persalinan?
Pemeriksaan penunjang

• USG : mengetahu jumlah cairan ketuban


• Lab: nitrazin , tes fern, IGFBP-1
Penatalaksanaan

KEMENKES RI
• >34 minggu:
• o Lakukan induksi persalinan dengan oksitosin bila tidak ada kontraindikasi.
• • 24-33 minggu:
• o Bila terdapat amnionitis, abrupsio plasenta, dan kematian janin, lakukan persalinan
segera.
• o Berikan deksametason 6 mg IM tiap 12 jam selama 48 jam atau betametason 12 mg IM
tiap 24 jam selama 48 jam.
• o Lakukan pemeriksaan serial untuk menilai kondisi ibu dan janin.
• o Bayi dilahirkan di usia kehamilan 34 minggu, atau di usia kehamilan 32-33 minggu, bila
dapat dilakukan pemeriksaan kematangan paru dan hasil menunjukkan bahwa paru sudah
matang (komunikasikan dan sesuaikan dengan fasilitas perawatan bayi preterm).
• • <24 minggu:
• o Pertimbangan dilakukan dengan melihat risiko ibu dan
janin.
• o Lakukan konseling pada pasien. Terminasi kehamilan
mungkin menjadi pilihan.
• o Jika terjadi infeksi (korioamnionitis), lakukan
tatalaksana korioamnionitis
Magnesium MAGNESIUM SULFAT IV:
Untuk efek neuroproteksi pada PPROM Bolus 6 gram selama 40 menit dilanjutkan infus
< 31 minggu bila persalinan 2 gram/ jam untuk dosis pemeliharaan sampai
diperkirakan dalam waktu 24 persalinan atau sampai 12 jam terapi
jam
Kortikosteroid BETAMETHASONE:
untuk menurunkan risiko sindrom 12 mg IM setiap 24 jam dikali 2 dosis
distress pernapasan Jika Betamethasone tidak tersedia, gunakan
deksamethason 6 mg IM setiap 12 jam
Antibiotik AMPICILLIN
Untuk memperlama masa laten 2 gram IV setiap 6 jam dan
ERYTHROMYCIN
250 mg IV setiap 6 jam selama 48 jam, dikali 4
dosis diikuti dengan
AMOXICILLIN
250 mg PO setiap 8 jam selama 5 hari dan
ERYTHROMYCIN
333 mg PO setiap 8 jam selama 5 hari, jika
alergi ringan dengan penisilin, dapat digunakan:
CEFAZOLIN
1 gram IV setiap 8 jam selama 48 jam dan
ERYTHROMYCIN
250 mg IV setiap 6 jam selama 48 jam diikuti
dengan :
CEPHALEXIN
500 mg PO setiap 6 jam selama 5 hari dan
ERYTHROMYCIN
333 mg PO setiap 8 jam selama hari
Jika alergi berat penisilin, dapat diberikan
VANCOMYCIN 1 gram IV setiap 12 jam
selama 48 jam dan
ERYTHROMYCIN
250 mg IV setiap 6 jam selama 48 jam diikuti
dengan
CLINDAMYCIN
300 mg PO setiap 8 jam selama 5 hari
IUD DALAM KEHAMILAN
IUD (Intra Uterine Device)
= AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)

Jenis : 1. AKDR CuT-380A


2. NOVA-T
3. Misera
Cara kerja :
1. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopi
2. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri
3. Mencegah sperma dan ovum bertemu
4. Mencegah implantasi telur dalam uterus
KEUNTUNGAN KERUGIAN
- Memiliki efektifitas yang sangat tinggi - Perubahan siklus haid umumnya pada 3 bulan
pertama
- Dapat efektif segera setelah pemasangan - Haid lebih lama dan banyak
- Tidak mempengaruhi hubungan seksual - Perdarahan (spotting) antar menstruasi
- Tidak ada efek samping hormonal - Nyeri selama 3-5 hari setelah pemasangan ,
perdarahan hebat saat haid hingga menyebabkan
anemia
- Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI - Perforasi dinding uterus
- Metode jangka panjang - Penyakit radang panggul (pada perempuan
dengan IMS)
- Tidak ada interaksi dengan obat-obatan
- Setelah pengangkatan klien akan langsung subur
- Dapat dipasang segera apabila tidak terjadi infeksi
Pemasangan IUD

1. Persiapan uiiiiii3 IUD


2. Persiapan IUD
3. Tindakan pemasangan IUD
Waktu Pemasangan
• Kapan saja dalam siklus haid selama yakin tidak hamil
• Hari 1-7 siklus haid
• Pemasangan setelah persalinan : boleh dipasang dalam waktu 48 jam setelah
persalinan, dan dapat pula dipasang setelah 4 minggu sampai 40 hari pasca
persalinan
• Setelah keguguran atau aborsi : dalam 7 hari terakhir, boleh dipasang jika
tidak ada infeksi.
• Selama 1-5 hari setelah senggama tidak terrlindungi
INDIKASI KONTRAINDIKASI
- Usia reproduktif - Sedang hamil
- Menginginkan kontrasepsi jangka panjang - Pendarahan dari vagina yang tidak diketahui
penyebabnya
- Setelah melahirkan dan tidak menyusui - Sedang mengalami infeksi alat genital
- Setelah mengalami abortus tetapi tidak adanya - Tiga bulan terakhir mengalami abortus septik
infeksi, resiko rendah IMS, tidak ingin metode atau PRP
hormonal, tidak menyukai mengingat-ingat, tidak
menghendaki kehamilan setelah 1-5 hari
sengggama
- Risiko rendah IMS - Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau
adanya tumor jinak rahim
- Tidak ingin metode hormonal - Menderita TBC pelvic
- Tidak suka mengingat-ingat - Ukuran rongga rahim < 5 cm
- Tidak menghendaki kehamilan setelah 1-5 hari - Penyakit trofoblast ganas
senggama
- Kanker alat genital
IUD dalam kehamilan

• Efek samping :
1. Risiko keguguran
2. Kehamilan ektopik
3. Kelahiran prematur
4. Kehamilan dengan infeksi
• Kehamilan tanpa melepas IUD
Bisa meningkatkan potensi berbahaya untuk ibu dan janin. Resiko keguguran
pada kehamilan dengan IUD bisa meningkat lebih dari 50 persen. Sementara jika
IUD diambil pada awal kehamilan maka resiko keguguran juga bisa naik hingga
20 persen.
• Kapan IUD harus diambil saat hamil?
Ketika ibu hamil mengalami tanda hamil ektopik maka IUD harus segera diambil
dan tindakan untuk menyelamatkan ibu harus dilakukan secara darurat. Namun
jika ibu ingin menjaga kehamilan maka IUD sebaiknya diambil maksimal sampai
usia kehamilan mencapai 12 minggu. Jika kehamilan ibu sudah mencapai usia
lebih dari 12 minggu maka resiko keguguran bisa meningkat di trimester kedua.
Penanganan
• Periksa hamil/tidak,bila tidak hamil IUD jangan dilepas,lakukan
konseling dan selidiki penyebab amenorea,bila hamil sarankan
untuk melepaskan AKDR apabila talinya terlihat dan hamil lebih
kurang dari 12 minggu. Bila benang tidak terlihat dan kehamilan
lebih dari 12 minggu AKDR jangan dilepas.
• Pastikan hamil/tidak tanyakan apakah IUD terlepas. Periksa
talinya di dalam saluran endoserviks dan kavum uteri,bila tidak
ditemukan lakukan USG
• Bila ada efek samping tersebut pertimbangkan dan inform
concern kepada ibu
TERIMAKASIH