Anda di halaman 1dari 29

INFLASI DI

EKONOMI
KONVESIONAL
Prakhasa Putra Pascasukma
Riza Nurfidia Febriant
I Gusti Agung Arya
Adityadharma
Devi Garinda Putri
Mifta Aulia
Sisi Saqila
Fajar Amyus Efie
Pengertian Inflasi dalam Teori
Konvensional

– Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik


secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau
dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut
meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari
harga barang-barang lain, Boediono (1982: 155). Dalam praktek,
inflasi dapat diamati dengan mengamati gerak dari indek harga.
Tetapi di sini harus diperhitungkan ada tidaknya suppressed
inflation (inflasi yang ditutupi).
Penyebab Inflasi

– Akibat inflasi secara umum adalah menurunnya daya beli masyarakat


karena secara riil tingkat pendapatannya juga menurun. Jadi, misalkan
besarnya inflasi pada tahun yang bersangkutan naik sebesar 5%
sementara pendapatan tetap, maka itu berarti secara riel pendapatan
mengalami penurunan sebesar 5% yang akibatnya relatif akan
menurunkan daya beli sebesar 5% juga, Putong (2002: 254).
– Inflasi disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat
yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi
atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibar adanya
ketidaklancaran distribusi barang.
Ciri-ciri inflasi:
– Harga barang dan jasa naik secara terus-menerus
– Jumlah yang beredar melebihi kebutuhan
– Jumlah barang relatif sedikit
– Nilai uang (daya beli uang) turun
Teori Inflasi

A. Teori Kuantitas
– Teori ini mengacu pada persamaan pertukaran dari Irving Fisber,
yaitu MV=PT. Menurut teori ini, terdapat tiga penyebab naiknya
harga barang secara umum yang cenderung akan mengarah pada
inflasi, yaitu sebagai berikut:
1. Jika dalam perekonomian, jumlah uang beredar (M) dan transaksi
barang produksi (T) relative tetap, harga (P) akan naik jika sirkulasi
uang atau kecepatan perpindahan uang (V) dari satu tangan ke
tangan yang lain berlangsung cepat (masyarakat terlalu konsumtif).
2. Jika dalam perekonomian, kecepatan perpindahan uang (V) dan
transaksi barang produksi (T) tetap, kenaikan harga disebabkan oleh
terlalu banyaknya uang yang dicetak dan diedarkan ke masyarakat.
3. Jika dalam perekonomian, kecepatan perpindahan uang (V) dan
jumlah uang beredar (M) tetap, kenaikan harga disebabkan oleh
turunnya transaksi barang produksi (T) secara nasional.
– Dengan demikian, persentase kenaikan harga hanya akan sebanding
dengan kenaikan jumlah uang beredar atau sirkulasi uang, tetapi
tidak terhadap jumlah produksi nasional.
B. Teori Keynes
– Menurut teori ini, inflasi terjadi karena masyarakat hidup
di luar batas kemampuan ekonominya. Teori ini
menfokuskan bagaimana persaingan dalam
mendapatkan penghasilan antargolongan masyarakat
dapat menimbulkan permintaan agregat yang lebih besar
daripada jumlah barang yang tersedia.
C. Teori Strukturalis
– Teori ini disebut juga teori inflasi jangka Panjang. Teori ini menyoroti
sebab-sebab inflasi yang berasal dari kelakuan struktur ekonomi.
Dengan demikian, pertambahan barang-barang produksi ini terlalu
lambat disbanding dengan perumbuhan kebutuhannya sehingga
menaikkan harga bahan makanan dan kelangkaan devisa. Hal ini
berakibat pada kenaikan harga-harga barang lain sehingga terjadi
inflasi yang relative berkepanjangan jika pembangunan sektor
penghasilan bahan pangan dan industry barang ekspor tidak
ditambah
Tingkat Inflasi

– Faktor ekonomi dan non-ekonomi yang diperkirakan mempengaruhi tingkat


inflasi di negara kita antara lain dapat diidentifikasi berikut ini:
1. Adanya peningkatan jumlah uang beredar. Peningkatan jumlah uang beredar
ini di Indonesia disebabkan antara lainoleh peristiwa:
– Kenaikan harga migas di luar negeri
– Meningkatnya bantuan luar negeri
– Masuknya modal asing, khususnya investasi portofolio di pasar uang
– Meningkatnya anggaran pemerintah secara mencolok
– Depresiasi nilai rupiah dan gejolak mata uang konvertibel
2. Adanya tekanan pada tingkat harga umu, yang dapat dipengaruhi
oleh kejadian-kejadian berikut ini:
– Penurunan produksi pangan akibat musim kering yang
berkepanjangan
– Peningkatan harga komoditas umum secara mendadak
– Pencabutan program subsidi BBM
– Kenaikan harga BBM yang mencolok
– Kenaikan tarif listrik
3. Kebijakan pemerintah dalam mendorong kegiatan ekspor non-
migas; maupun kebijakan lainnya yang bersifat distortif seperti antara
lain:
– Lonjakan inflasi setelah dikeluarkannya kebijakan devaluasi
– Kebijakan tata niaga yang menciptakan pasar yang oligopolistis dan
monopolistis
– Pungutan-pungutan yang dikenakan dalam perjalanan lalu lintas
barang dan mobilitas tenaga kerja
– Kebijakan peningkatan tingkat upah minimum regional
4. Peningkatan pertumbuhan agregat demand yang dipicu oleh
perubahan selera masyarakat, atau kebijakan pemberian bonus
perusahaan dan faktor spekulatif lainnya:
– Pemberian bonus THR mendekati jatuhnya Hari Raya
– Pemberian bonus prestasi perusahaan
– Perkembangan pusat belanja yang ekspansif dengan mematikan
fungsi keberadaan pasar tradisional di lokalitas tertentu
Rumus Menghitung Inflasi

• In adalah inflasi,
• IHKn adalah harga konsumen tahun
dasar (dalam hal ini nilainya 100,
• IHKn-1 adalah indeks harga konsumen
tahun berikutnya.
• Dfn adalah GNP atau PDB deflator
tahun berikutnya,
• Dfn-1 adalah GNP atau PDB deflator
tahun awal (sebelumnya).
Jenis Inflasi

1. Berdasarkan sifatnya. Berdasarkan sifatnya inflasi dibagi menjadi 4


kategori utama, Putong (2002: 260), yaitu:
– Inflasi merayap/rendah (creeping Inflation), yaitu inflasi yang
besarnya kurang dari 10% pertahun.
– Inflasi menengah (galloping inflation) besarnya antara 10-30%
pertahun.
– Inflasi berat (high inflation), yaitu inflasi yang besarnya antara 30-
100% pertahun.
– Inflasi sangat tinggi (hyper inflation), yaitu inflasi yang ditandai oleh
naiknya harga secara drastis hingga mencapai 4 digit (di atas 100%).
2. Berdasarkan sebabnya inflasi dibagi menjadi 2, Putong (2002: 260), yaitu:
– Demand Pull Inflation. Inflasi ini timbul karena adanya permintaan keseluruhan yang
tinggi di satu pihak, di pihak lain kondisi produksi telah mencapai kesempatan kerja
penuh (full employment), akibatnya adalah sesuai dengan hukum permintaan, bila
permintaan banyak sementara penawaran tetap, maka harga akan naik.
– Cost Push Inflation. Inflasi ini disebabkan turunnya produksi karena naiknya biaya
produksi (naiknya biaya produksi dapat terjadi karena tidak efisiennya perusahaan, nilai
kurs mata uang negara yang bersangkutan jatuh / menurun, kenaikan harga bahan baku
industri, adanya tuntutan kenaikan upah dari serikat buruh yang kuat dan sebagainya).
3. Berdasarkan asalnya inflasi dibagi menjadi 2, Putong (2002: 260),
yaitu:
– Inflasi yang berasal dari dalam negeri terjadi akibat adanya deficit
anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru
dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi
mahal.
– Inflasi yang berasal dari luar negeri, terjadi sebagai akibat naiknya
harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi
barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor
barang.
Dampak Inflasi

1. Bila harga barang secara umum naik terus-menerus, maka


masyarakat akan panik, sehingga perekonomian tidak berjalan
normal, karena di satu sisi ada masyarakat yang berlebihan uang
memborong barang, sementara yang kekurangan uang tidak bisa
membeli barang, akibatnya negara rentan terhadap segala macam
kekacauan yang ditimbulkannya.
2. Sebagai akibat dari kepanikan tersebut maka masyarakat cenderung
untuk menarik tabungan guna membeli dan menumpuk barang
sehingga banyak bank di rush, akibatnya bank kekurangan dana dan
berdampak pada tutup atau bangkrut, atau rendahnya dana investasi
yang tersedia.
3. Produsen cenderung memanfaatkan kesempatan kenaikan harga
untuk memperbesar keuntungan dengan cara mempermainkan
harga di pasaran, sehingga harga akan terus menerus naik.
4. Distribusi barang relatif tidak adil karena adanya penumpukan
dan konsentrasi produk pada daerah yang masyarakatnya dekat
dengan sumber produksi dan yang masyarakatnya memiliki
banyak uang.
5. Bila inflasi berkepanjangan, maka produsen banyak yang
bangkrut karena produknya relatif akan semakin mahal sehingga
tidak ada yang mampu membeli.
6. Jurang antara kemiskinan dan kekayaan masyarakat semakin
nyata yang mengarah pada sentimen dan kecemburuan ekonomi
yang dapat berakhir pada penjarahan dan perampasan.
7. Dampak positif dari inflasi adalah bagi pengusaha barang-barang
mewah (highend) yang mana barangnya lebih laku pada saat
harganya semakin tinggi (masalah prestise).
8. Masyarakat akan semakin selektif dalam mengkonsumsi, produksi
akan diusahakan seefisien mungkin dan konsumtifisme dapat
ditekan.
9. Inflasi yang berkepanjangan dapat menumbuhkan industri kecil
dalam negeri menjadi semakin dipercaya dan tangguh.
10. Tingkat pengangguran cenderung akan menurun karena
masyarakat akan tergerak untuk melakukan kegiatan produksi
dengan cara mendirikan atau membuka usaha
Perkembangan Inflasi di
Indonesia
Faktor utama yang menjadi penyebab timbulnya inflasi di Indonesia, yaitu:
1. Jumlah uang beredar
– Menurut sudut pandang kaum moneteris jumlah uang beredar adalah factor
utama penyebab timbulnya inflasi di Indonesia. Sejak tahun 1976 presentase
uang kartal yang beredar (48,7%) lebih kecil dari pada presentase jumlah uang
giral yang beredar (51,3%). Sehingga, mengindikasikan bahwa telah terjadi proses
modernisasi di sektor moneter Indonesia. Juga, mengindikasikan bahwa semakin
sulitnya proses pengendalian jumlah uang beredar di Indonesia, dan semakin
meluasnya monetisasi dalam kegiatan perekonomian subsistence, akibatnya
memberikan kecenderungan meningkatnya laju inflasi.
2. Defisit Anggaran Belanja Pemerintah
– Seperti halnya yang umum terjadi pada negara berkembang, anggaran belanja pemerintah
Indonesia pun sebenarnya mengalami defisit, meskipun Indonesia menganut prinsip
anggaran berimbang. Defisitnya anggaran belanja ini banyak kali disebabkan oleh hal-hal
yang menyangkut ketegaran struktural ekonomi Indonesia, yang acapkali menimbulkan
kesenjangan antara kemauan dan kemampuan untuk membangun.
– Selama pemerintahan Orde Lama defisit anggaran belanja dibiayai dari dalam negeri dengan
pencetakan uang baru, mengingat orientasi kebijaksanaan pembangunan ekonomi yang
inward looking policy, sehingga menyebabkan tekanan inflasi yang hebat. Tetapi sejak era
Orde Baru, deficit anggaran belanja ini ditutup dengan pinjaman luar negeri yang relatif
aman terhadap inflasi
3. Faktor-faktor dalam Penawaran Agregat dan Luar Negeri
– Kelambanan penyesuaian dari faktor-faktor penawaran agregat terhadap peningkatan
permintaan agregat ini lebih banyak disebabkan oleh adanya hambatan-hambatan
struktural yang ada di Indonesia. Harga bahan pangan merupakan salah satu penyumbang
terbesar terhadap tingkat inflasi di Indonesia. Hal ini antara lain disebabkan oleh ketegaran
structural yang terjadi di sektor pertanian sehingga menyebabkan inelastisnya penawaran
bahan pangan. Ketergantungan perekonomian Indonesia yang besar terhadap sector
pertanian, yang tercermin oleh peranan nilai tambahnya yang relatif besar dan daya serap
tenaga kerjanya yang sedemikian tinggi serta beban penduduk yang cukup tinggi,
mengakibatkan harga bahan pangan meningkat pesat. Umumnya, laju penawaran bahan
pangan tidak dapat mengimbangi laju permintaannya, sehingga sering terjadi excess
demand yang selanjutnya dapat memunculkan inflationary gap.
Pengendalian Inflasi di
Indonesia
– Pemerintah Indonesia lebih senang menggunakan instrumen
moneter sebagai alat untuk meredam inflasi, misalnya dengan open
market mechanism atau reserve requirement. Tetapi perlu diingat,
bahwa pendekatan moneter lebih banyak dipakai untuk mengatasi
inflasi dalam jangka pendek, dan sangat baik diterapkan peda
negara-negara yang telah maju perekonomiannya, bukan pada
negara berkembang yang masih memiliki structural bottleneck. Jadi,
apabila pendekatan moneter ini dipakai sebagai alat utama dalam
mengendalikan inflasi di negara berkembang, maka tidak akan dapat
menyelesaikan problem inflasi di negara berkembang yang umumnya
berkarakteristik jangka panjang
Cara Mengatasi Inflasi
Ada tiga cara untuk mengatasi inflasi suatu negara atau daerah, diantaranya:
1. Kebijakan moneter yaitu pengendalian inflasi dengan cara mengendalikan jumlah uang
yang beredar di masyarakat. Ada empat cara, yaitu:
a) Politik diskonto (discount policy), yaitu politik bank sentral untuk memengaruhi jumlah
peredaran uang dengan cara menaikkan dan menurunkan tingkat suku bunga bank. Ketika
inflasi tinggi maka masyarakat diimbau untuk menabungkan uangnya di bank agar jumlah
uang beredar menurun dengan cara menaikkan tingkat suku bunga.
b) Politik pasar terbuka (open market operation), yaitu dengan jalan menjual surat-surat
berharga (berupa Sertifikat Bank Indonesia).
c) Politik kredit selektif, yaitu dengan cara memperketat atau mempersulit pemberian kredit
pada masyarakat.
d) Politik sanering, yaitu dengan cara penyehatan kembali nilai uang.
2. Kebijakan fiskal, yaitu kebijakan pemerintah untuk
mengatur anggarannya. Ada tiga cara, yaitu:
– Menaikkan tarif pajak,
– Menekan pengeluaran pemerintha,
– Meminjam dana dari masyarakat.
3. Kebijakan sektor riil, yaitu melakukan program-program nyata untuk
mengendalikan harga dan produksi secara langsung ada lima cara, yaitu:
a) Menurunkan subsidi pemerintah,
b) Menaikkan atau meningkatkan hasil produksi,
c) Mengusahakan peredaran barang dalam negeri menjadi lebih banyak, bisa
dari meningkatkan kapasitas produksi atau melakukan impor dari luar negeri,
d) Adanya kebijakan upah,
e) Menetapkan harga maksimal (price roof) untuk barang-barang tertentu.
TERIMAKASIH
pertanyaan

– Jihan : bottle neck itu apa? Kenapa tidak cocok diterapkan di Negara
berkembang?
– Jessica : apakah masyarakat akan tetap membeli barang mewah ketika inflasi?
Kenapa menguntungkan pengusaha mewah?