Anda di halaman 1dari 25

Stroke

Stroke adalah infark regional


kortikal, subkortikal atau pun
infark regional di batang otak
yang terjadi karena kawasan
perdarahan atau penyumbatan
suatu arteri sehingga jatah
oksigen tidak dapat disampaikan
kebagian otak tertentu.
Etiologi
stroke biasanya diakibatkan salah satu dari empat kejadian:

1. Trombosis (bekuan darah didalam pembuluh darah otak atau


leher
2. Embolisme serebral (bekuan darah atau material lain yang
dibawa ke otak dari bagian tubuh yang lain
3. Iskemia (penurunan aliran darah ke area otak
4. Hemoragi serebral (pecahnya pembuluh darah serebral dengan
perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak.
Akibatnya adalah penghentian suplai darah ke otak. Yang
menyebabkan kehilangan sementara atau permanen gerakan,
brpikir, memori, bicara atau sensasi.
(Brunner & suddarth)
Pathway
Post stroke

Kerusakan pusat gerakan motorik dilobus prontalis


(hemisphare/heniplaghia

gg. Mobiltas Mobilitas fisik Resiko jatuh


fisik

Tirah baring

Resiko kerusakan
integritas kulit
Manifestasi klinik
1. Stroke sementara
a. Tiba-tiba sakit kepala
2. Stroke ringan
b. Pusing, bingung
a. Beberapa atau semua dari gejala
c. Pandangan mata kabur (kehilangan
stroke sementara
ketajaman penglihatan pada
b. Kelemahan /kelumpuhan tangan
satu atau dua mata).
atau kaki
d. Kehilangan keseimbangan , lemah.
c. Bicara tidak jelas
e. Rasa kebal/kesemutan pada satu sisi
tubuh.

3. stroke berat
a. Semua manifestasi klinis atau beberapa dari segala stroke sementara dan
stroke ringan.
b. Koma jangka pendek (kehilangan kesadaran)
c. Kelemahan / kelumpuhan dari satu sisi tubuh.
d. Sukar menelan
e. Kehilangan kontrol terhadap pengeluaran air seni dan kotoran
f. Kehilangan daya ingat / konsentrasi perubahan perilaku, misalnya bicara tidak
menentu, mudah marah, tingkah laku seperti anak kecil.
Komplikasi
komplikasi stroke meliputi hipoksia serebral, penurunan aliran darah serebral dan
luasnya area cidera.
1. hipoksia serebral , diminimalkan dengan memberi oksigenasi darah adekuat ke
otak. Fungsi otak bergantung pada ketersediaan oksigen yang dikirimkan kejaringan.
Pemberian oksigen suplemen dan mempertahankan hemoglobia serta hematokrit pada
tingkat dapat diterima akan membantu dalam mempertahankan oksigenasi jaringan
2. Aliran darah serebral bergantung pada tekanan darah, curah jantung, da integritas
pembuluh darah serebral. Hidrasi adekuat (cairan intravena) harus menjamin
penurunan viskositas darah dan memperbaiki aliran darah serebral. Hipertensi atau
hipotensi ekstrem perlu dihindari untuk mencegah perubahan pada aliran darah serebral
dan potensi meluasnya area cedera.
3. Embolisme serebral , dapat terjadi setelah infark miokard atau fibrilasi atrium atau
dapat berasal dari katup jantung protestik. Embolisme akan menurunkan aliran darah
keotak dan selanjutnya mennurunkan aliran darah serebral. Distritmia dapat
mengakibatkan curah jantung tidak konsisten menghentikan trombus lokal. Selain itu,
distritmia dapat menyebabkan embolus serebral dan harus diperbaiki.
Pemeriksaan penunjang
· Pemeriksaan darah lengkap.
· Elektrokardiogram (EKG) dan enzim jantung
· CT/MRI kepala
· Ekokardiografi untuk mendeteksi sumber emboli dari jantung
· Pencitraan dupleks arteri karotis ekstrakranial dan arteri
vertebra memberikan informasi mengenai sumbatan arteri atau
sumber emboli.

(David Rubenstein.Kedokteran Klinis.Jakarta:Erlangga)


penatalaksanaan
Tindakan medis terhadap pasien stroke meliputi deuretik untuk
menurunkan edema serebral, yang memcapai tingkat maksimum 3
sampai 5 hari setelah infark serebral. Anti koagulan dapat diresepkan
untuk mencegah terjadinya atau memberatnya trombosis atau
embolisasi dari tempat lain. Dalam sistem kardiovaskular. Medikasi anti
trombosit dapat diresepkan karena trombosit memainkan peran sangat
penting dalam pembentukan trombus dan embolisasi.
Asuhan keperawatan
Pengkajian Post Stroke
I. Identitas
a. Nama Pasien : Ny. S
b. Usia : 68 th
c. Alamat : Jakarta
d. Pendidikan : SD
e. Tanggal masuk panti : 26/08/09
f. Jenis kelamin : Perempuan
g. Suku : Jawa
h. Agama : Kristen
i. Status perkawinan : Janda
j. Tanggal pengkajian : 02/06/14
II. Status kesehatan saat ini (PQRST)
wbs mengatakan gatal-gatal seluruh tubuh, kulit tampak merah-merah di
seluruh tubuh terutama dibagian tangan dan sekitar leher. Kaki kiri dan tangan
kiri wbs tidak bisa digerakan, ± 3 bulan yang lalu wbs pernah terjatuh saat akan
menjemur pakaian, wbs mengatakan kadang-kadang pusing.
III. Riwayat kesehatan masa lalu
Wbs mengatakan memiliki riwayat penyakit darah tinggi dan gula dari dulu,
mata sebelah kirinya tidak bisa melihat sejak kecil dan mata kanan masih bisa
melihat tapi tidak terlalu jelas.
IV. Genogram

Keterangan :
: laki-laki
: perempuan
: wbs
: meninggal
V. Pengkajian persistem
a. K.U
1. Tingkat kesadaran : compos mentis
2. GCS
3. TTV: TD: 110/70, N: 88x/mnt, RR: 20x/mnt S:36,2˚C
b. Integumen
Integritas kulit buruk, turgor kulit sudah mulai menurun, sudah mulai keriput
pada kulit, terdapat bekas luka dikubitus sejajar pinggul dengan derajat 1,
terdapat lesi di bagian tangan dan leher karna garukan, wbs mengatakan gatal
seluruh tubuh terutama bagian tangan dan leher, hiperpigmentasi pada area
tungkai keduanya.
c. Sistem hemopoetik
Pucat (-), sianosis (-), anemis (+) CRT ≤ 3 detik
d. Kepala
1. Rambut : warna rambut sudah berubah, potongan rambut hampir botak, kulit kepala tampak
kotor, ada gatal dan ada lesi.
2. Wajah : kulit wajah sudah tampak berkerut, wajah bulat ada bekas luka
3. Mata : bentuk mata simetris, kornea mata sedikit berkabut, penglihatannya hanya menggunakan sebelah
kanan karna mata yang sebelah kiri rusak atau buta dari kecil, konjungtiva anemis.
4. Telinga : bentuk simetris, kotor, terdapat lesi pada kedua telling karena digaruk, kedua telinga
masih mendengar jelas.
5. Mulut : mulut kotor, stomatitis (-), caries (+), gigi sudah tidak lengkap
6. Tenggorokan: nyeri menelan (-) dan pembesaran tyroid (-)
e. Leher
Pembesaran vena jugularis (-), pembesaran kelenjar getah bening (-), pembesaran kelenjar tyroid.
f. Payudara
Bentuk simetris dan benjolan (-), ekstraksi puting payudara.
g. Sistem pernafasan
Ekspansi dada simetris, batuk pilek (-), sesak (-), suara nafas vesikuler
h. Sistem kardiovaskuler
Bunyi jantung I & II normal, nyeri dada (-), murmur – gallop (-)
i.Sistem gastrointestinal
Nyeri tekan epigastrium (-), mual (-), muntah (-)
j. Sistem perkemihan
Wbs bed res, BAB dan BAK di pampers. BAB dab BAK tidak tentu
k. Sistem reproduksi
Wbs sudah menopause
l. Sistem muskuloskeletal
Rentang gerak terbatas pada ekstremitas sinistra, kekuatan otot melemah, wbs
tidak dapat bangun dari tempat tidur, karena kelemahan fisik akibat stroke yang
diderita oleh wbs.
Kekuatan otot :
1111 5555
1111 5555
m. Sistem persyarafan
Kesadaran composmentis, kejang (-), mulut tidak mencong sebelah kiri,
berbicara kurang jelas, ekstremitas sinistra hemiparase dan wbs kadang merasa
pusing.
n. Sistem endokrin
Pembesaran kelenjar tyroid (-), nafas tidak bau keton, RPD DM, hasil cek gula
109
VI. Pola aktivitas sehari-hari
Wbs bedrest, jadi kegiatan sehari-harinya hanya dihabiskan dikasur dan dalam
melakukan aktivitas minimal pun wbs dibantu dengan perawat. Wbs tidak
dapat berpartisipasi dalam melakukan kegiatan di panti.
VII. Pengkajian psikososial dan spiritual
a. Psikososial (kemampuan sosialisasi wbs saat ini, sikap wbs terhadap orang
lain, harapan wbs daalam berhubungan dan kepuasan wbs dalam
membina hubungan). Wbs sulit dalam bergaul dengan teman sekamarnya,
karena wbs hanya bedrest saja, tapi sebeumnya wbs mengatakan dapat
membina hubungan baik dengan teman sekamarnya. Wbs mengatakan
beragama kristen dan wbs berdoa setiap malam agar dilindungi.
b. Identifikasi masalah emosional
Masalah emosional positif
c. Spiritual
Wbs tidak dapat mengikuti kegiatan rohani di panti, wbs mengatakan hanya berdoa saja.
d. Konsep diri
Wbs mengatakan senang dan bersyukur akan keadaan dirinya saat ini. Wbs mengatakan bisa menerima keadaan
disaat ini.

VIII. Pengkajian status fungsional wbs


1. KATZ Indeks :
Ketergantungan untuk semua fungsi diatas
2. Modifikasi dari Barthel Indeks :
Nilai Barthel Indeks : 60 (ketergantungan Total)
3. Barthe Indeks Capacity:
Skor total : 0 ketergantungan total

XI. Pengkajian status mental gerontik


A. Menggunakan SPMSQ (Short Portable Mental Status Questioner)
Score : salah 6 maka interpretasinya adalah kerusakan intelektual sedang
B. Menggunakan MMSE (Mini Mental State Exam’s)
Score : jumlah score 12 interpretasi hasil : gangguan kognitif berat (0-17).
C. Menggunakan FMS ( Fall Morse Scale)
Kesimpulan : level resiko resiko tinggi ( implementasi standar pencegahan
jatuh)

X. Informasi Penunjang
Terapi medis :
1. Captropil 25mg
2. Piracetan 1200mg
3. Betason salep
4. Gentamisin salep
Data Fokus

Data Subyektif Data Obyektif

1. klien mengatakan kaki kiri dan 1. Klien terlihat tidak bisa menggerakkan
tangan kiri tidak bisa extremitas kiri
digerakkan 2. Klien terlihat bedrest
2. Klien mengatakan 3 bulan lalu 3. Kulit tampak merah merah seluruh tubuh
terjatuh saat menjemur di bagian tangan dan leher
3. Klien mengatakan gatal gatal 4. Turgor kulit menurun
seluruh tubuh 5. Kulit keriput
6. Terdapat decubitus sejajar panggul derajat
I
7. Lesi bagian lengan dan sekitar leher akibat
garukan
8. Bartel index : ketergantungan total
9. FMS : resiko jatuh tinggi
10. MMSE: gangguan kognitif berat
11. KS: Composmentis
12. TTV:
TD: 110/70, N: 88x/mnt, RR: 20x/mnt
S:36,2˚C
Analisa Data
No Data Problem Etiologi

1. DS : Kerusakan mobilitas Kerusakan


- klien mengatakan kaki fisik neuromuskuler post
kiri dan tangan kiri tidak stroke dan kekauan
bisa digerakkan sendi
- Klien mengatakan 3
bulan lalu terjatuh saat
menjemur
DO :
- Klien terlihat tidak bisa
menggerakkan
extremitas kiri
- Klien terlihat bedrest
- Bartel Index :
ketergantungan berat
No Data Problem Etiologi
2. DS : Kerusakan Imobilitas fisik
- Klien mengatakan gatal gatal integritas kulit
seluruh tubuh
DO :
- Kulit tampak merah merah
seluruh tubuh di bagian tangan
dan leher
- Turgor kulit menurun
- Kulit keriput
- Terdapat decubitus sejajar
panggul derajat I
- Lesi bagian lengan dan sekitar
leher akibat garukan
3. DS: Resiko jatuh Hemiparesis
- sebelah kiri
DO :
- Bartel index : ketergantungan
total
- Kms : resiko jatuh tinggi
Diagnosa keperawatan
1. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan
neuromuskuler post stroke dan kekuan sendi
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
imobilitas fisik
3. Resiko jatuh berhubungan dengan hemiparesis
sebelah kiri
Intervensi
Diagnosa Keperawatan NOC NIC

Kerusakan mobilitas fisik 1. Joint movement: active 1. Kaji keterbatasan


berhubungan dengan 2. Mobility level pergerakan sendi
neuromuskuler post stroke 2. Jelaskan pada klien tentang
dan kekuan sendi Kriteria Hasil: pengertian dan tujuan
1. Memahami tentang pengertian mobilisasi dini (latihan
dan tujuan mobilisasi dini aktif-pasif pasca stroke)
(latihan pasif-aktif pasca 3. Monitor adanya
stroke) ketidaknyamanan selama
2. Mendemonstrasikan garis aktivitas latihan
besar program mobilisasi dini 4. Lindungi klien dari trauma
3. Melakukan latihan sesuai selama latihan
jadwal secara teratur 5. Bantu klien melakukan
ROM aktif-pasif
6. Motivasi klien untuk
melakukan latihan sesuai
dengan jadwal dan secara
teratur
Diagnosa Keperawatan NOC NIC
Kerusakan integritas kulit 1. Tissue integrity: skin and 1. Anjurkan klien menggunakan
berhubungan dengan imobilitas mucous membranes baju longgar
fisik 2. Wound healing: primer dan 2. Hindari kerutan pada tempat
sekunder tidur
3. Jaga kebersihan kulit agar
Kriteria Hasil: tetap bersih
1. Integritas kulit yang baik bisa 4. Mobilisasi klien
dipertahankan 5. Monitor kulit akan adanya
2. Tidak ada lesi pada kulit kemerahan
3. Perfusi jaringan baik 6. Oleskan lotion/minyak pada
4. Menunjukkan terjadinya bagian kulit yang tertekan
proses penyembuhan lesi 7. Observasi lesi: lokasi,
karakteristik, warna.
8. Lakukan perawatan pada lesi
Resiko jatuh berhubungan dengan Risk Control 1. Kaji ulang adanya faktor-
hemiparesis sebelah kiri faktor resiko jatuh pada klien
Kriteria Hasil: 2. Lakukan modifikasi
1. Mengidentifikasi bahaya lingkungan agar lebih aman
lingkungan yang dapat (memasang pinggiran tempat
meningkatkan kemungkinan tidur)
jatuh 3. Ajarkan klien tentang upaya
2. Mengidentifikasi tindakan pencegahan cidera akibat jatuh
preventif atas bahaya tertentu (memasang penghalang tempat
tidur, menjauhkan benda
berbahaya)