Anda di halaman 1dari 26

Kelompok 34 :

Audy M. Pongtiku (0130840026)


Deviona I. Macpal (0130840056)
Lies Triasi Situmorang (0130840141)
Meiriyani Lembang (0130840307)
Ni Nyoman Sidiasih (0130840179)
Romatua A. Panggabean (0130840210)
Hiperemesis Gravidarum
Hiperemesis Gravidarum

50–90% ibu hamil mengalami keluhan


mual dan muntah, biasanya disertai
hipersalivasi, sakit kepala, perut kembung,
dan rasa lemah pada badan  “morning
sickness”
Istilah ini kurang tepat karena 80% ibu hamil
mengalami mual dan muntah sepanjang hari
Definisi

Mual dan muntah terjadi pada kehamilan hingga usia


16 minggu. Pada keadaan muntah-muntah yang berat,
dapat terjadi dehidrasi, gangguan asam basa dan
elektrolit, dan ketosis; keadaan ini disebut hiperemesis
gravidarum
Diet Mikronutrien pada Kehamilan
 Pregnancy increases energy requirements by 300
kcal/day during the second and the third trimesters.
Lactation increases energy requirements by 500 kcal/day
Adverse Effects of Severe Nausea and
Vomiting on The Mother and Her Fetus
Significant morbidity to the mother might:
- Wernicke encephalopathy,
- splenic avulsion
- esophageal rupture,
- pneumothorax, and acute tubular necrosis
Infants born of women who had been admitted
for hyperemesis gravidarum are more likely to
be:
- low birth weight (LBW),
- small for gestational age (SGA),
- born prematurely, and have a 5-minute APGAR
< 7. Both maternal and fetal deaths are very
rare.
Epidemiologi
 Mual dan muntah terjadi dalam 50–90% kehamilan.
 Gejala dimulai 9–10 minggu, memuncak 11–13 minggu, dan berakhir
12–14 minggu.
 Pada 1–10% kehamilan, gejala dapat berlanjut melewati 20–22
minggu
 Hiperemesis berat yang harus dirawat inap terjadi dalam 0,3–2%
kehamilan.
 Hampir 25% pasien hiperemesis gravidarum dirawat inap lebih dari
sekali.
 Terkadang, kondisi hiperemesis terus-menerus dan sulit sembuh
membuat pasien depresi. Kasus ekstrim  ibu hamil ingin terminasi
kehamilan
Faktor Predisposisi
Peningkatan hormon-hormon pada kehamilan
berkontribusi terhadap terjadinya mual dan
muntah.
Beberapa faktor yang terkait dengan mual dan
muntah pada kehamilan antara lain:
1. Riwayat hiperemesis gravidarum pada
kehamilan sebelumnya atau keluarga
2. Status nutrisi; wanita obesitas lebih jarang
dirawat inap karena hiperemesis
3. Faktor psikologis: emosi, stress
Patofisiologi

 Faktor biologis: perubahan kadar hormon selama kehamilan


 peningkatan human chorionic gonadotropin (hCG)
menginduksi ovarium memproduksi estrogen  merangsang
proses sekresi saluran pencernaan atas  mual dan muntah
 Progesteron  menghambat motilitas lambung dan irama
kontraksi otot-otot polos lambung
 Peningkatan kadar hCG berasal dari sel-sel trofoblas memicu
kondisi hipertiroid
– karena bereaksi silang dengan Thyroid Stimulating
Hormone (TSH) mempengaruhi distensi dari saluran cerna
 Kehamilan ganda atau mola hidatidosa (kadar hCG lebih
tinggi) mengalami keluhan mual dan muntah yang lebih berat
Tanda dan Gejala
Mual dan muntah hebat
Berat badan turun > 5% dari berat badan
sebelum hamil
Dehidrasi
Pemeriksaan Penunjang

Tes β-hCG (+)


Elektrolit (hipokalemia, hiponatremia)
Analisa gas darah (asidosis metabolik)
Ketosis
Klasifikasi Hiperemesis Gravidarum

Tingkat I:
Muntah terus-menerus, nafsu makan dan minum ↓,
berat badan ↓ dan nyeri epigastrium. Pertama-tama
isi muntahan makanan, kemudian lendir beserta
sedikit cairan empedu, dan dapat keluar darah jika
keluhan muntah terusberlanjut. Nadi ↑ sampai
100x/menit, TD sistolik ↓.
PF: mata cekung, lidah kering, penurunan turgor
kulit, dan jumlah urin ↓
Tingkat II:
Memuntahkan semua yang dimakan dan diminum,
berat badan cepat ↓, dan ada rasa haus yang hebat.
Frekuensi nadi berada pada rentang 100-140 kali/menit
dan tekanan darah sistolik < 80 mmHg. Pasien
terlihat apatis, pucat, lidah kotor, kadang ikterus,
dan aseton serta bilirubin dalam urin.
Tingkat III:
Sangat jarang terjadi: muntah berkurang atau bahkan berhenti,
kesadaran pasien menurun (delirium sampai koma), ikterus,
sianosis, nistagmus, gangguan jantung, dan bilirubin dan
protein dalam urin.
Diagnosis
Keluhan muntah yang berat dan persisten tidak
selalu menandakan hiperemesis gravidarum
Indikator sederhana  awitan mual dan muntah
pada hiperemesis gravidarum biasanya dimulai
delapan minggu setelah hari pertama haid terakhir
 awitan trimester kedua atau ketiga menurunkan
kemungkinan
Pemeriksaan ultrasonografi perlu dilakukan untuk
mendeteksi kehamilan ganda atau mola hidatidosa
Differential Diagnosis of Nausea and
Vomiting in Pregnancy
Gastrointestinal causes
Genitourinary causes
Metabolic disease
Neurologic disorders
Pregnancy related conditions
Miscellaneous
Intervensi

Umum
Sedapat mungkin, pertahankan kecukupan
nutrisi ibu, termasuk suplementasi vitamin dan
asam folat di awal kehamilan
Anjurkan istirahat yang cukup dan hindari
kelelahan
Khusus (Tidak Dehidrasi)
 Bila perlu, 10 mg doksilamin + 10 mg vitamin B6 hingga 4
tablet/hari (misalnya 2 tablet saat akan tidur, 1 tablet saat pagi, dan
1 tablet saat siang).
 Bila belum teratasi, tambahkan dimenhidrinat 50–100 mg per oral
atau supositoria, 4–6 kali sehari (maksimal 200 mg/hari bila
meminum 4 tablet doksilamin/piridoksin), ATAU prometazin 5–10
mg 3–4 kali sehari per oral atau supositoria.
 Bila belum teratasi, berikan salah satu:
- Klorpromazin 10–25 mg per oral atau 50–100 mg IM tiap 4–6 jam
- Proklorperazin 5–10 mg per oral atau IM atau supositoria tiap 6–8
jam
- Prometazin 12,5–25 mg per oral atau IM tiap 4–6 jam
- Metoklopramid 5–10 mg per oral atau IM tiap 8 jam
- Ondansetron 8 mg per oral tiap 12 jam
Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan WHO
Khusus (Dehidrasi)
 Pasang kanula intravena dan berikan cairan sesuai dengan
derajat hidrasi ibu dan kebutuhan cairannya, lalu berikan:
- Suplemen multivitamin IV
- Dimenhidrinat 50 mg dalam 50 ml NaCl 0,9% IV selama 20
menit, setiap 4–6 jam sekali
 Bila perlu, tambahkan salah satu obat ini:
- Klorpromazin 25–50 mg IV tiap 4–6 jam
- Proklorperazin 5–10 mg IV tiap 6–8 jam
- Prometazin 12,5–25 mg IV tiap 4–6 jam
- Metoklopramid 5–10 mg tiap 8 jam per oral
 Bila perlu, tambahkan metilprednisolon 15-20 mg IV tiap 8 jam
ATAU ondansetron 8 mg selama 15 menit IV tiap 12 jam atau 1
mg/jam terus-menerus selama 24 jam
Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan WHO
Diet
Makan ketika lapar, tanpa memperdulikan
waktu makan normal
Makan sedikit tetapi sering
Banyak makan makanan kering atau hambar
Biskuit di pagi hari
Hindari makan makanan berlemak dan pedas
Jangan minum zat besi
Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spon CY. Williams Obstetric. 24nd ed. USA: McGraw-Hill
Companies; 2014
Komplikasi

Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spon CY. Williams Obstetric. 24nd ed. USA:
McGraw-Hill Companies; 2014
THANK YOU