Anda di halaman 1dari 13

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,

manasik haji adalah peragaan pelaksanaan


ibadah haji sesuai dengan rukun-rukunnya
(biasanya menggunakan Kakbah tiruan dan
sebagainya) : sebelum berangkat ke tanah suci,
jemaah calon haji melaksanakan manasik haji di
pemondokan.
Menurut bahasa, Ihram berasal dari kata ً‫أحرم يحرم إحراما‬
yaitu terlarang atau tercegah. Menurut istilah yaitu niat
untuk mengerjakan haji atau umroh bagi kaum muslimin
yang hendak menunaikan “Ibadah Haji ataupun Umroh” ke
Tanah suci Mekah. Dengan mengguna5kan pakaian Ihram
yaitu pakaian putih yang disebut juga pakaian suci. Ihram
bagi pria adalah pakaian yang bersifat unik dan spesifik
karena tidak boleh dijahit.
Wukuf artinya hadir dan berada di Arafah pada waktu
tertentu antara waktu dzuhur dan ashar. Wukuf adalah
kegiatan utama dalam ibadah haji. Bahkan, inti ibadah
haji adalah wukuf di Padang Arafah.

Thawaf ifadhah adalah di antara rukun haji yang mesti


dilakukan. Jika tidak melakukan thawaf yang satu ini,
maka hajinya tidak sah. Thawaf ini biasa disebut thawaf
ziyaroh atau thawaf fardh. Dan biasa pula disebut thawaf
rukn karena ia merupakan rukun haji.
Sa’i ialah berjalan dari buki Safa ke bukit Marwah dan sebaliknya,
sebanyak tujuh kali yang berakhir di bukit Marwah. Perjalanan dari
bukit Safa ke bukit Marwah dihitung satu kali dan juga dari bukit
Marwah ke bukit Safa dihitung satu kali.

Tahallul menurut bahasa adalah ‘menjadi boleh’ atau ‘diperbolehkan’.


Dengan demikian Tahallul ialah diperbolehkan, halal, keluar atau
membebaskan diri dari seluruh larangan atau pantangan selama
Ihram. Prakteknya adalah dengan mencukur sebagian atau seluruh
rambut di kepala atau menggunting sekurang-kurangnya tiga helai
rambut, khususnya bagi wanita.
Sementara wajib haji adalah kegiatan yang dilaksanakan
dalam berhaji jika ditinggalkan wajib membayar Dam
Isa'ah. Adapaun wajib haji antara lain:
• Ihram (Niat haji) dari Miqot

• Mabit di Muzdhalifah
Yang dimaksud dengan mabit adalah menginap atau
bermalam beberapa hari atau berhenti sejenak untuk
mempersiapkan segala sesuatu dalam pelaksanaan
melempar jamrah. Ibadah mabit termsuk salah satu wajib
haji. Tempat bermalam (mabit) ada di dua tempat
Muzdalifah dan Mina.
• Mabit di Mina

Mabit tahap kedua, dilaksanakan di Mina selama dua hari


(tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah) bagi yang mengambil Nafar Awal,
dan selama tiga hari (11,12, dan 13 Dzulhijjah) bagi yang
mengambil Nafar Akhir atau Nafar Tsani. Yang dimaksud Nafar
Awal adalah apabila jama'ah meninggalkan Mina pada tanggal 12
Dzulhijjah, dan disebut nafar awal karena jama'ah lebih awal
meninggalkan Mina kembali ke Makkah dan hanya melontar tiga
hari. Adapun yang dimaksud dengan Nafar Akhir atau Nafar Tsani
adalah apabila jama'ah melempar jamrah selama empat hari
(tanggal 10, 11, 12. dan 13 Dzulhijjah) dan menginap di Mina
selama tiga hari (11,12, dan 13 Dzulhijjah).
• Melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqobah
Jumrah artinya tempat pelemparan, yang didirikan untuk
memperingati saat nabi Ibrahim digoda oleh setan agar tidak
melaksanakan perintah Allah menyembelih putranya Ismail.
Tiga kali beliau digoda, tiga kali pula melontarkan batunya
kepada setan sebagaimana dipetintah dan dibimbing langsung
oleh malaikat.

• Thawaf Wada’ bagi yang akan meninggalkan Makkah


Thawaf ada’ adalah sebagai penghormatan terakhir pada
Masjidil Haram. Jadinya thawaf ini adalah amalan terakhir bagi
orang yang menjalankan haji sebelum ia meninggalkan
Mekkah, tidak ada lagi amalan setelah itu. Thowaf wada’ ini
wajib menjadi akhir amalan orang yang berhaji di Baitullah dan
ia tidak boleh lagi tinggal lama setelah itu. Jika ia tinggal lama
setelah itu, thowaf wada’nya wajib diulangi.
1. Persiapan Menuju Arafah (Meninggalkan Makkah)
pada tanggal 8 dzulhijjah
2. Wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah
3. Mabid di Muzdalifah
4. Mabid di Mina pada tanggal 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah
5. Melontar Jumroh Aqobah, Tahallul pada 10 Dzulhijjah
6. Tahallul awal pada tanggal 10 Dzulhijjah
7. Melontar Jumroh ‘Ula, Wustho, Aqobah pada tanggal
11,12,13 Dzulhijjah
8. Tawaf Ifadhah, waktu kegiatan ini tanpa dibatasi
9. Sa’i Haji
10.Tahallul Tsani manakala belum Tahallul di
Mina/Aqobah
Ma’had Sunan Ampel Al-Aly (MSAA) adalah ma’had
yang terdapat di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Setiap mahasiswa baru yang kuliah di UIN Maulana
Malik Ibrahim Malang ini diwajibkan untuk tinggal di
MSAA. Di MSAA terdapat banyak kegiatan salah
satunya adalah kegiatan manasik haji. Kegiatan
manasik haji ini di laksanakan pada musim haji.
Kegiatan ini sangat penting untuk mengenalkan
proses ibadah haji yang benar kepada mahasiswa.
Mahasiswa dibimbing bagaimana melaksanakan
proses manasik haji yang benar.
Kegiatan Manasik ini bertujuan melatih mahasantri
untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Karena dalam pelaksanaan manasik haji ini
dikhususkan agar mahasantri bisa meresapinya
dengan baik supaya keimanannya semakin
bertambah dan tidak mudah goyah. Apalagi di tengah
zaman yang sudah mulai rusak akidahnya ini
diperlukan benteng untuk mempertahankan
keimanan dari serangan tersebut. Salah satunya
dengan diadakannya kegiatan itu. Mahasantri
diharapkan mampu membentengi hatinya agar tidak
terpengaruh dengan arus luar yang merusak akidah
dan keimanannya selain itu kegiatan tersebut juga
do’a semoga kelak bisa melaksanakan ibadah haji
yang sesungguhnya.
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa
manasik haji itu selain untuk latihan sebelum
melaksanakan haji yang sesungguhnya, juga dapat
dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada
Allah SWT. Selain itu manasik haji juga dapat
mempertebal dan menambah keimanan kepada
Allah SWT.