Anda di halaman 1dari 38

Keselamatan kerja

atau Occupational
Safety, dalam
istilah sehari hari
sering disebut
dengan safety saja
secara filosofi diartikan sebagai
suatu pemikiran dan upaya untuk
menjamin keutuhan dan
kesempurnaan baik jasmaniah
maupun rohaniah tenaga kerja
pada khususnya dan manusia
pada umumnya serta hasil
budaya dan karyanya.
Dari segi keilmuan diartikan
sebagai suatu pengetahuan
dan penerapannya dalam
usaha mencegah
kemungkinan terjadinya
kecelakaan dan penyakit
akibat kerja.
Pengertian Kecelakaan Kerja
(accident) adalah suatu kejadian
atau peristiwa yang tidak diinginkan
datangnya tiba-tiba yang merugikan
terhadap manusia, merusak harta
benda atau kerugian terhadap
proses.
Pengertian
(Definisi) Tempat
Kerja dalam K3

OHSAS
Undang-Undang 18001:2007
No 1 Tahun 1970 Occupational
tentang Health & Safety
Keselamatan Management
Kerja System.
Pengertian
(Definisi) Tempat
Kerja menurut
Undang-Undang
No 1 Tahun 1970

tiap ruangan atau lapangan baik


terbuka atau tertutup, bergerak
maupun menetap dimana terdapat
tenaga kerja yang bekerja atau sering
dimasuki orang bekerja untuk keperluan
suatu usaha dan dimana terdapat
sumber atau sumber-sumber bahaya
Tempat Kerja menurut
Undang-Undang
No 1 Tahun 1970

Tempat kerja baik di darat, di permukaan air, di dalam tanah,


di dalam air maupun di udara yang berada di wilayah
kekuasaan hukum Republik Indonesia.

Tempat kerja dimana dibuat, dicoba, dipakai atau yang


menggunakan mesin, pesawat, alat, perkakas, peralatan
ataupun instalasi berbahaya atau dapat menimbulkan
kecelakaan, kebakaran ataupun peledakan

Dibuat, diolah, digunakan, dijual, diangkut ataupun disimpan


bahan atau barang yang dapat meledak, mudah terbakar,
menggigit, beracun, menimbulkan infeksi, ataupun bersuhu
tinggi.
Dikerjakan pembangunan (konstruksi), perbaikan,
perawatan, pembersihan ataupun pembongkaran rumah,
gedung atau bangunan lainnya termasuk bangunan
pengairan, saluran atau terowongan bawah tanah, dsb
atau dimana dilakukan pekerjaan persiapan.
Dilakukan usaha pertanian, perkebunan, pembukaan
hutan, pengerjaan hutan, pengolahan kayu ataupun hasil
hutan lainnya, peternakan, perikanan dan lapangan
kesehatan.

Dilakukan usaha pertambangan dan pengolahan emas,


perak, logam ataupun bijih logam lainnya, batu-batuan,
gas, minyak ataupun mineral lainnya baik di permukaan
maupun di dalam bumi ataupun di dasar perairan.
Dilakukan pengangkutan barang, binatang ataupun
manusia baik di darat, melalui terowongan, di
permukaan air, di dalam air maupun di udara.

Dikerjakan bongkar muat barang muatan pada kapal,


perahu, dermaga, dok, stasiun, ataupun gudang.

Dilakukan penyelaman, pengambilan benda ataupun


pekerjaan lain di dalam air.

Dilakukan pekerjaan dalam ketinggian di atas


permukaan tanah ataupun perairan.

Dilakukan pekerjaan di bawah tekanan udara ataupun


suhu udara yang tinggi ataupun rendah.
Dilakukan pekerjaan yang mengandung bahaya
tertimbun tanah, kejatuhan benda, terkena lemparan
benda, terjatuh ataupun terperosok, hanyut ataupun
terlempar.

Dilakukan pekerjaan dalam tangki, sumur ataupun


lubang.

Termasuk tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan,


halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian-
bagian (yang berhubungan) dengan tempat kerja
tersebut.
Pengertian
(definisi) tempat
kerja menurut
OHSAS 18001:2007

ialah lokasi manapun yang


berkaitan dengan aktivitas kerja di
bawah kendali organisasi
(perusahaan)
Statistik
Pengukuran
Kinerja K3

Salah satu kegiatan dalam penerapan


sistem manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja baik OHSAS
18001:2007 ataupun SMK3 PP
50/2012 adalah melakukan pengukuran
kinerja K3.
Pengukuran dapat dilakukan dengan metode
statistik yang bertujuan

 Mengidentifikasi naik turunnya (trend) dari suatu timbulnya


kecelakaan kerja
 Mengetahui peningkatan atau berbagai hal yg memperburuk
kinerja K3
 Membandingkan kinerja antara tempat kerja dan industri
yang serupa (T – Safe Score)
 Memberikan informasi mengenai prioritas
pengalokasian dana K3
 Memonitor kinerja organisasi, khususnya mengenai persyaratan
untuk penyediaan sistim/tempat kerja yang aman
Berdasarkan Peraturan Menteri
Statistik Tenaga Kerja No.03/MEN/1998
Pengukura tentang TATA CARA
n Kinerja K3 PELAPORAN DAN
PEMERIKSAAN KECELAKAAN
Perhitungan
Statistik
Kecelakaan
Kerja
Frequency Rate (Tingkat Keseringan)
•Menentukan tingkat keseringan kecelakaan kerja / insiden kerja per
1.000.000 (satu juta) jam kerja orang.
•FR = (Total Kasus Kecelakaan Kerja/Total Jam Kerja Orang) X 1.000.000

Severity Rate (Tingkat Keparahan)


•Menentukan tingkat hari kerja yang hilang karena kecelakaan kerja / insiden
kerja per 1.000.000 (satu juta) jam kerja orang.
•SR = (Total Hari Kerja Hilang karena Kecelakaan Kerja/Total Jam Kerja Orang)
X 1.000.000

Incident Rate (Tingkat Kejadian)


•Menentukan prosentase tingkat terjadinya kecelakaan kerja untuk tiap
tenaga kerja.
•IR = (Total Kasus Kecelakaan Kerja/Total Tenaga Kerja) X 100%
Average Time Lost Rate (Rata-rata Hilang Hari Kerja karena
Kecelakaan Kerja)
•Menentukan rata-rata hilangnya hari kerja karena kecelakaan kerja untuk
tiap kasus kecelakaan kerja.
•ATLR = (Total Hari Hilang karena Kecelakaan Kerja/Total Kasus Kecelakaan
Kerja).

Safe-T Score (Nilai Keselamatan Kerja)


•Menunjukkan tingkat perubahan (peningkatan/perubahan) kinerja K3 yang
berkaitan dengan kecelakaan kerja / insiden kerja.
•Safe-T Score = (FR(n) - FR(n-1))/FR (n-1)
•Keterangan:
oFR(n) = Nilai FR saat ini.
oFR(n-1) = Nilai FR waktu yang lalu.
oSTS antara +2,00 dan -2,00 tidak menunjukkan perubahan berarti.
oSTS diatas +2,00 menunjukkan keadaan memburuk.
oSTS dibawah -2,00 menunjukkan keadaan yang membaik.
Ratio Kekerapan Cidera (Frequency Rate)
Frekwensi Rate digunakan untuk mengidentifikasi jumlah
cidera yang menyebabkan tidak bisa bekerja per sejuta orang
pekerja. Ada dua data penting yang harus ada untuk
menghitung frekwensi rate, yaitu jumlah jam kerja hilang
akibat kecelakaan kerja (Lost Time Injury /LTI) dan jumlah
jam kerja orang yang telah dilakukan (man hours).
Jenis-jenis
penerapan
Statistik
dalam
Aspek K3 Angka LTI diperoleh dari catatan lama mangkirnya
tenaga kerja akibat kecelakaan kerja. Sedang jumlah
jam kerja orang yang terpapar diperoleh dari bagian
absesnsi atau pembayaran gaji.
Bila tidak memungkinkan, angka ini dihitung dengan
mengalikan jam kerja normal tenaga kerja terpapar,
hari kerja yang diterapkan dan jumlah tenaga kerja
keseluruhan yang beresiko.
Rumus : Frekwensi Rate
= (Jumlah cidera dgn hilang waktu
kerja x 1,000,000) / Total Person-
hours Worked
Atau
Statistik Pengukuran Kinerja K3

Soal :
Statistik Pengukuran Kinerja K3

2. Severity Rate ( SR )
• Pengertian : Angka yang menunjukan jumlah hari yang
hilang per satu juta jam kerja orang akibat kecelakaan
selama periode 1 tahun
Rumus :
Statistik Pengukuran Kinerja K3
Statistik Pengukuran Kinerja K3
Catatan
a. Standar Permenaker diatas dalam perhitungan
statistik sesuai dengan standar ILO dengan angka
1.000.000 = ( 50 minggu / tahun ) x ( 40jam / minggu)
x 500 pekerja.
b. Jumlah jam orang kerja adalah jumlah total jam kerja
karyawan selama 1 tahun ditambah jam kerja lembur
dikurangi absen.
c. Untuk menentukan kerugian hari efektif yang hilang
dalam sebuah kecelakaan, terdapat tabel konversi
pada lampiran 2 Permenaker 3/1998. Hari hilang =
STMB ( Sementara Tidak Mampu Bekerja ) + Konversi.
Statistik Pengukuran Kinerja K3

Catatan
d. Adapun standar perhitungan statistik versi OSHA (
Occupational Safety Health Administration ), USA adalah
sebagai berikut

e. Angka 200.000 = ( 50 minggu / tahun ) x (


40jam / minggu) x 100 pekerja.
Rerata Hilangnya Waktu Kerja
(Average Time Lost Rate/ALTR)

Ukuran indicator ini sering disebut juga ‘Duration Rate’


digunakan untuk mengidikasikan tingkat keparahan
suatu kecelakaan.
Dengan penggunaan ALTR yang dikombinasikan
denga Frekwensi Rate akan lebih menjelaskan hasil
kinerja program K3.
ALTR dihitung dengan membagi jumlah hari yang
hilang akibat kecelakaan dengan jumlah jam kerja
yang hilang (LTI).
Rumus : Average Time Lost Rate
= (Number of LTI x 1,000,000) / Total
Person-hours Worked
Atau
Average Time Lost Rate = ( Frekwensi
Rate) / Severity Rate
Soal :
Organisasi dengan tenaga kerja 500 orang, jumlah jam
kerja yang telah dicapai 1,150,000 juta jam kerja orang dan
Lost Time Injury-nya (LTI) sebesar 46.
Misalkan dari laporan Kecelakaan Kerja selama 6 bulan
diperoleh informasi sbb:
10 kasus hilang waktu kerja dalam 3 hari sekali = 30
8 kasus hilang waktu kerja dalam 6 hari sekali = 48
12 kasus hilang waktu kerja dalam 14 hari sekali = 168
4 kasus hilang waktu kerja dalam 20 hari sekali = 80
10 kasus hilang waktu kerja dalam 28 hari sekali = 280
2 kasus hilang waktu kerja dalam 42 hari sekali = 84
Total keseluruhan = 690 hari kerja hilang
Dengan demikian,
Incidence
Rate

Incidence rate digunakan untuk menginformasikan


kita mengenai prosentase jumlah kecelakaan yang
terjadi ditempat kerja

Rumus :
Incidence Rate = ( Jumlah Kasus x 100) / Jumlah tenaga
kerja terpapar
Frequency Severity Indicator (FSI)
Frequency Severity Indicator adalah kombinasi
dari frekwensi dan severity rate.

Rumus: FSI = ( Frekwensi Rate x Severity Rate) / 1,000


Contoh: Frekwensi Rate : Severity Rate : FSI
2 125 0,5
4 250 1,0
8 500 2,0

Nilai FSI ini dapat kita jadikan rangking kinerja antar bagian
di tempat kerja.
Safe-T Score
Safe T score adalah nilai indikator untuk menilai
tingkat perbedaan antara dua kelompok yang
dibandingkan. Apakah perbedaan pada dua
kelompok tersebut bermakna atau tidak. Dalam
statistik biasanya disebut sebagai t-test. Perbedaan ini
dinilai untuk membandingkan kinerja suatu
kelompok dengan kinerja sebelumnya. Hasil
perbedaan ini dapat dijadikan apakah terjadi
perbedaan yang mencolok atau tidak. Selanjutnya
dapat dipakai untuk menilai kinnerja yang telah kita
lakukan.
Rumus :
Safe-T Score =
(Frekwensi Rate Sekarang – Frekwensi Rate
Sebelumnya ) / ( ( Frekwensi Rate Sebelumnya)/
Juta jam kerja orang sekarang))

Interpretasi :
Score positif dari Safe T Score mengindikasikan jeleknya
record kejadian, sebaliknya score negatif menunjukkan
peningkatan record terdahulu.
Contoh :
Lokasi A
-----------------------------------
Tahun lalu
10 kasus kecelakaan
10,000 jam orang kerja
Frekwensi Rate = 1,000

Tahun ini -15 kasus kecelakaan


10,000 jam orang kerja
Frekwensi Rate = 1,500
Lokasi B
----------------------------------------
---------
Tahun lalu – 1000 kasus kecelakaan
1000,000 jam orang kerja
Frekwensi Rate = 1,000

Tahun ini – 1,100 kasus kecelakaan


1000,000 jam orang kerja
Frekwensi Rate = 1,000
Frekwensi rate untuk lokasi A meningkat 50%,
sedang pada B hanya 10%.
Apakah ada sesuatu yang salah dari salah satu
atau kedua data ini ?
Frekwensi Rate Sekarang – Frekwensi Rate Sebelumnya

Safe-T Score =
Frekwensi Rate Sebelumnya
Juta jam kerja orang sekarang
Lokasi A
Safe-T Score = (1,500 – 1,000)/ akar dari ( 1000/0.01) = 500/ 317 =
Safe-T Score = +1,58
Artinya peningkatan 50% jumlah kasus pada lokasi A termasuk
peningkatan yang tidak bermakna

Lokasi B
Safe-T Score = 1,100 – 1,000/ akar dari ( 1000/0.01) = 100/ 317
=Safe-T Score = +3,17
Artinya peningkatan 10% jumlah kasus pada lokasi ini ada
perbedaan yang bermakna, artinya ada sesuatu yang salah,
yang perlu mendapat perhatian.
TERIMA KASIH