Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN SKIZOFRENIA


DENGAN FOKUS STUDI PENGELOLAAN HARGA DIRI RENDAH
DI RSJ. PROF. DR. SOEROJO MAGELANG

Oleh:
Li’ana Fatimahtul Fitriah
NIM. P1337420516083

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN MAGELANG


JURUSAN KEPERAWATAN POLITEKNIK
KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2019
BAB I
Latar Belakang

HARGA DIRI
SKIZOFRENIA
RENDAH

Riskesdas :
RSJ Prof. dr. Soerojo Endang Pergiwa 2019 : 9
skizofrenia/psikosis di
Magelang 2018 : 2416
Indonesia, Jawa klien m.k harga diri rendah
klien skizofrenia dengan
Tengah peringkat ke-4 Studi pendahuluan : 3 klien
m.k harga diri rendah 467
: 9 per mil 2013 – m.k harga diri rendah
klien.
2018.

Klien yang mengalami harga diri rendah akan terus


menerus dalam perasaan bersalah, perasaan tidak
mampu dan tidak berharga, sehingga tidak bisa
mengenali aspek positif yang dimiliki.

Upaya untuk meningkatkan harga diri klien salah


satunya dengan terapi seni yang bersifat ekspresif
dengan menggunakan media seni untuk
mengekspresikan diri (Permatasari, Marat, dan
suparman, 2017).
BAB II Skizofrenia
Psikopatologi Faktor Faktor
predisposisi presipitasi

Sistem
Genetik Psikologis Gejala pemicu
neurobiologi

Anggota keluarga Tekanan Dopamin dan


menderita orang tua dan serotonin
skizofrenia teman hiperaktiv Stres internal
dan eksternal
Gejala negatif

Kurang Kegagalan Menarik diri


motivasi berulang dan dari
merasa tidak masyarakat
Rasa tidak mampu
percaya diri

HARGA DIRI
RENDAH
BAB III
Metode Penelitian
• Metode dekriptif
• Dua klien yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi
• Tempat dan Waktu
• Instrumen yang digunakan adalah format pengkajian jiwa, Rosenberg’s Self Esteem Scale, serta SOP menggambar.
• Analisa yang digunakan dengan membandingkan respon dari kedua klien sebelum dan sesudah dilakukan intervensi tindakan
BAB IV
Hasil Penelitian
NAMA : Ny. B A. Pengkajian NAMA : Ny. S
Umur : 43 tahun
Umur : 35 tahun
Alamat : Wonosobo
Alamat : Kendal
Agama : iIslam DS : Sdri. S mengatakan tidak
DS : Ny. B mengatakan merasa Agama : iIslam
Diagnosa : F. 20. 3 tidak berguna sebagai anak satu- mempunyai saudara setelah
Diagnosa : F. 20. 5
Skizofrenia Tak adiknya meninggal 5 tahun yang
satunya yang tidak bisa Skizofrenia Residual
Terinci lalu. Sdri. S merasa putus asa
membahagiakan orang tuanya
dan tidak bisa merawat anggota setelah orang tuanya bercerai
keluarganya, Ny. B merasa dan kemudian dirinya ditinggal di
kasihan dengan kedua orang panti Boja, sekarang Sdri. S tidak
tuanya yang harus merawat anak mengetahui keberadaan orang
serta cucunya yang masih kecil. tuanya, yang bertanggung jawab
Ny. B merasa malu dengan atas pengobatannya adalah
tetangga karena sering keluar paman.
masuk rumah sakit jiwa.
DO : Sdri. S tampak sering
melamun, murung, diam,
DO : Ny. B tampak sering dan menyendiri. Kontak
melamun, murung, diam, dan mata mudah beralih, klien
menyendiri. Kontak mata mudah tampak menunduk, bicara
beralih, klien tampak menunduk, lambat dengan nada suara
bicara lambat dengan nada suara pelan, kadang blocking,
pelan, skala Rosenberg’s Ny. B 13
(harga diri rendah). skala Rosenberg’s Sdri. S 12
(harga diri rendah).
C. Rencana Keperawatan

B. Diagnosa Keperawatan
- Bina hubungan saling percaya
dengan menggunakan prinsip
Berdasarkan analisis data komunikasi terapeutik
pengkajian dari Ny. B dan Sdri. S - Eksplorasi penyebab klien
dapat ditegakkan diagnosa mengkritik diri
keperawatan Harga Diri Rendah - Diskusikan kemampuan dan
Kronik. aspek positif yang dimiliki klien
- Kaji harga diri klien
menggunakan skala Rosenberg’s
- Selain aktivitas yang
direncanakan untuk klien adalah
identifikasi konsep diri klien
dengan menggunakan metode
menggambar.
D. Implementasi E. Evaluasi
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 5 hari terjadi
peningkatan harga diri pada Ny. B dan
Sdri. S. Namun peningkatan harga diri
pada Sdri. S tidak begitu signifikan
Tindakan yang dilakukan seperti yang terjadi pada Ny. B
dikarenakan perbedaan minat dari
pada tanggal 04 sampai 08 kedua klien serta sifat Sdri. S yang
Februari 2019 sesuai dengan mudah bosan dan menunjukkan
perilaku blocking saat dilakukan
rencana tindakan yang telah intervensi. Berdasarkan penilaian
disusun untuk masing- menggunakan skala Rosenberg’s
masing masalah didapatkan hasil pada hari pertama
skor pada Ny. B yaitu 13 setelah
keperawatan. diberikan tindakan menggambar terjadi
peningkatan skor menjadi 22.
Sedangkan pada Sdri. S skor yang
didapatkan pada hari pertama 12 dan
setelah diberikan kegiatan
menggambar selama 5 hari menjadi 17.
BAB IV
Pembahasan
Penyebab dari harga diri rendah pada Ny. B adalah karena merasa tidak berguna
sebagai anak satu-satunya yang tidak bisa merawat keluarga, Ny. B juga malu
dengan tetangga karena sering keluar masuk rumah sakit jiwa, sedangkan
penyebab harga diri rendah pada Sdri. S adalah dirinya merasa tidak punya
saudara setelah adiknya meninggal dan orang tuanya pergi meninggalkan klien di
panti setelah keduanya bercerai.

Sebelum diberikan kegiatan menggambar kedua klien tampak sering


melamun, lebih banyak menunduk, dan diam, sehingga peneliti
memberikan kegiatan menggambar yang bertujuan untuk mengekspresikan
tentang apa yang terjadi pada dirinya serta memberikan kesempatan
melakukan kegiatan pada klien untuk mengembangkan wawasan diri.

Hal yang menjadi penghambat dalam melakukan kegiatan menggambar pada


klien adalah menggambar bukan merupakan hobi Sdri. S sehingga peneliti
merasa kesulitan dalam memberikan intervensi pada Sdri. S dan Sdri. S hanya
menggambar berdasar kesukaannya saja, lain halnya dengan Ny. B yang hobi
menggambar sehingga Ny. B sangat antusias untuk melakukan kegiatan dan
gambar yang dihasilkan sesuai dengan harapan peneliti.

Selama menjalani kegiatan menggambar terdapat faktor pendukung yang


mempengaruhi terhadap jalannya kegiatan pada kedua klien. Selain reward dari
perawat dan teman-teman saat berjalannya kegiatan menggambar, dukungan keluarga
juga sangat berarti bagi klien dimana Ny. B dengan adanya pendampingan dari keluarga
membuat Ny. B menjadi lebih bersemangat untuk melakukan kegiatan, sedangkan Sdri.
S yang tidak dijenguk oleh keluarganya menjalankan kegiatan dengan kurang semangat.
LANJUTAN ...
Setelah diberikan kegiatan menggambar terjadi peningkatan
kemampuan pada kedua klien dalam melakukan kegiatan, dimana
Ny. B dan Sdri. S yang sebelumnya menutup diri, malu, dan hanya
diam menjadi mampu mengungkapkan dan menceritakan apa
yang dipikirkan melalui gambar yang dibuat sehingga peneliti
dapat menilai sejauh mana pencapaian klien dalam peningkatan
harga dirinya.

Hasil yang diperoleh peneliti dari penilaian Rosenberg’s Self-


Esteem Scale pada Ny. B dari skor 13 (harga diri rendah) menjadi
skor 22 (normal), sedangkan Sdri. S dari skor 12 (harga diri
rendah) menjadi skor 17 (normal) yang diukur pada hari pertama
dan hari terakhir.

Sebagaimana pendapat Mulyawan dan Agustina, (2018)


bahwa kegiatan menggambar dapat memancing stimulus
klien untuk mengingat aspek positif yang dimiliki serta
dapat melakukan kegiatan secara mandiri yang dibarengi
dengan pemberian reward pada klien.
BAB V
Kesimpulan

Kegiatan menggambar efektif dilakukan pada klien dengan


harga diri rendah karena klien yang sebelumnya diam, sering
menyendiri, dan melamun menjadi mampu mengekspresikan
perasaannya melalui media gambar, selain itu klien juga
menjadi mempunyai kegiatan yang dapat digunakan untuk
menghibur dirinya sehingga klien termotivasi untuk menjadi
lebih baik dan klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan
aspek positif yang dimiliki.
BAB V
Saran

• Diharapkan penelitian ini mampu membantu sebagai alternatif dalam


pemberian tindakan keperawatan pada klien harga diri rendah yang
Bagi perawat tidak mampu mengungkapkan perasaan dengan kegiatan menggambar.

• Bagi rumah sakit jiwa diharapkan hasil karya tulis ilmiah ini dapat
digunakan sebagai masukan dalam pengelolaan asuhan keperawatan
Bagi institusi pada klien skizofrenia dengan harga diri rendah.
RSJ

• Bagi peneliti selanjutnya diharapkan memperhatikan kriteria inklusi,


minat, serta kemampuan klien sebelum melakukan kegiatan sehingga
Bagi peneliti tindakan yang dilakukan lebih efektif.
lain
TERIMA KASIH 