Anda di halaman 1dari 21

TUGAS PENDIDIKAN BUDAYA ANTIKORUPSI

KASUS ANAS URBANINGRUM

NAMA KELOMPOK:
LILY AYU RIZKI (P1337420516003)
ARINI MILLATI (P1337420516007)
YUFITA WAHID H. (P1337420516012)
HESTINA AYU F. (P1337420516016)
BRAHMANTYA ARGA S. (P1337420516017)
DESI BUDIARTI (P1337420516021)
ELI ZASTIYA U. (P1337420516025)
PRATIWI KUSUMASTUTI W. (P1337420516029)
NAUFAL FAIS MAULIDIN (P1337420516031)
ERLIANA MARGALENA (P1337420516036)
Kasus
• Anas Urbaningrum keluar daiAngota KPU dan selanjutnya berkeinginan
untuk tampil menjadi Pemimpin Nasional yaitu sebagai Presiden RI.
Sehingga memerlukan kendaraan politik dan biaya yang sangat besar.
Untuk mewujudkan keinginan menjadi Presiden, Anas menggunakan
Partai Demokrat sebagai kendaraan politik dan duduk sebagai Ketua DPP
Bidang Politik sebagai tahap awal sebelum menjadi Ketua Umum Partai
Demokrat. Dengan kedudukannya tersebut beliau mempunyai pengaruh
yang besar untuk mengatur proyek-proyek pernerintah yang bersumber
dari APBN, ditambah lagi ketika beliau terpilih menjadi Anggota DPR RI
periode 2009-2014 serta ditunjuk scbagai Ketua Fraksi Partai Demokrat di
DPR RI. Dalam rangka menghimpun dana guna menyiapkan logistik, selain
bergabung dengan Permai Group (Anugerah Group) bersama M.
Nazaruddin, Anas juga membentuk kantong-kantong dana yang
bersumber dari proyek pemerintah dan BUMN, diantaranya dikelola oleh
Yulianis dan Mindo Rosalina Manulang (Proyek Kemendiknas dan
Kemenpora), Munadi Herlambang (proyek Pemerintah bidang Konstruksi
dan BUMN) dan Machfud Suroso (proyek di Unversitas Gedung pajak dan
Hambalang). Bahwa dalam pengurusan proyek yang dilakukan melalui
Permai Group. Anas mendapatkan fee antara 7%-22% yang disimpan di
brankas Permai Group. Disamping itu istri beliau Athiyah Laila (Komisaris
dan Pemegang Saham) dan Machfud Suroso bergabung dalam PT Dutasari
Citra Laras (PT DCL). Namun setelah terpilih menjadi anggota DPR RI, Anas
lantas keluar dari Permai Group.
Lanjutan

• Anas selaku Ketua Fraksi Partai Demokrat dalam rangka mengurus proyek-proyek
pemerintah yang dibiayai oleh APBN/APBNP 2010 dari Kemenpora dan Kemendiknas, ia
berkoordinasi dengan Nazaruddin dan Anggota Komisi X DPR-RI dari FP Demokrat yang
memiliki mitra dengan Kemenpora dan Kemendiknas. Terkait pengurusan proyek P3SON
Hambalang, Nazaruddin, Suroso, dan Wafid Muharam (Sesmenpora), saat itu menanyakan
tentang perkembangan proyek tersebut, Wafid menyatakan bahwa masih ada
permasalahan dalam pengurusan sertifikat tanah sehingga kemungkinan proyek ini baru
bisa dimulai setelah Menteri yang baru.
• 2009
• Pada akhir bulan Oktober, Andi Alfian Malarangeng (Menpora) melakukan pertemuan di
ruangannya dengan Nazaruddin, Mirwan Amir, Wafid, dan anggota Komisi X dari FP
Demokrat yaitu Angelina aticia Pingkan Sondakh dan Mahyudin membicarakan mengenai
kepemudaan, Sea Games, pembangunan P3SON di Hambalang dan sertifikat tanah
Hambalang. Dalam pertemuan tersebut Andi Mallarangeng meminta Wafid untuk menjalin
komunikasi yang intensif dengan Komisi X DPR RI
• Guna menyelesaikan sertifikat tanah Hambalang, Wafid meminta bantuan kepada
Nazaruddin yang kemudian disanggupi oleh Nazaruddin mengingat semula ia menginginkan
proyek tersebut. Kemudian Nazaruddin dibantu Ignatius Mulyono (anggota Komisi II DPR RI
FP Demokrat) melalui bantuan Anas. Selanjutnya Mulyono menghubungi Managam
Manurung (Sekertaris Utama BPN) melalui telepon agar membantu pengurusan sertifikt
tanah Hambalang.
Lanjutan kasus
• 2010 06 Januari 2010, Managam memberitahukan bahwa sertifikat sudah
selesai, selanjutnya Mulyono mengambil sertifikat tersebut berupa SK
Kepala BPN RI No: I/HP/BPN RI2010 tentang Pemberian Hak Pakai atas
nama Kemenpora atas tanah di Kabupaten Bogor Jawa Barat dan
menyerahkannya kepada Anas. Sehubungan keinginan Nazaruddin untuk
mengerjakan proyek tersebut, Agustus 2010 Mindo bertemu dengan M.
Arief Taufiqurrahaman (Manajer Pemasaran Divisi Konstruksi I di PT Adhi
Karya) meminta agar Arief untuk mundur dari proyek P3SON. Kemudian
Arief segera melapor kepada Teuku Bagus Mokhamad (Kadiv Konstruksi I
PT AK) yang selanjutnya menelepon Mahfud Suroso menyampaikan
bahwa Mindo masih "mengganggu" proyek mereka. Atas laporan tersebut
Mahfud Suroso lantas meminta bantuan Anas agar Nazaruddin mundur
dari proyek tersebut karena akan dikerjakan oleh PT AK.
• November 2010, dengan ditetapkannnya PT AK sebagai pemenang proyek
P3SON Hambalang. Nazaruddin memerintahkan Mindo agar menemui
Wafid supaya mengembalikan uang Permai Group Rp 10 milyar guna
keperluan mendapatkan proyek tersebut. Anas berperan dalam
pengurusan proyek-proyek yang dibiayai oleh APBN khususnya proyek-
proyek di perguruan tinggi Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendiknas untuk
kepentingan Permai Group, yang pengurusannya melalui anggota DPR-RI
dari FP Demokrat antara lain Nazaruddin, Mahyudi (Ketun Komisi X DPR
RI), Angelina Sondakh (Koordinator Banggar) yang di dalamnya terdapat
• pembagian fee proyek.
Kasus lanjutan
• Bahwa atas peran Anas dalam pengurusan proyek-proyek tersebut,
beliau menerima:
• Penerimaan uang sebesar Rp2,010 milyar dari PT Adhi Karya (PT AK),
• Penerimaan dari Nazaruddin (Permai Group) sebesar Rp84,516 milyar
dan USD 36.070 untuk keperluan persiapan pencalonan ketua umum
Partai Demokrat
• Penerimaan dari Nazaruddin (Permai Group) sebesar Rp30 milyar dan
USD 5.225.000 untuk keperluan pelaksanaan pemilihan Ketua Umum
Partai Demokrat;
• Penerimaan 1 unit mobil Toyota Harrier Nomor Polisi B15 AUD seharga
Rp670 juta;
• Penerimaan-penerimaan lain.
• Anas selaku Anggota DPR-RI mengetahui bahwa pemberian tersebut
untuk mengupayakan pengurusan Proyek Pusat Pendidikan, Pelatihan
dan Sekolah Olah Raga Nasional (P3SON) Hambalang di Kemenpora,
proyek-proyek di Perguruan Tinggi Dirjen Pendidikan Tinggi
Kemendiknas dan proyek-proyek lain yang dibiayai APBN yang
didapatkan Permai Group atau
• menurut pikiran pemberi, Anas dapat mengupayakan pengurusan
proyek-proyek tersebut
• TUGAS!
• Jelaskan apa saja bentuk/jenis korupsi berdasarkan UU
No.31/1999 Jo.UU No. 20/2001 Tentang Pemberantasan
Korupsi?
• Apakah dalam kasus tersebut terjadi suap, gratifikasi, dan
atau pemerasan?
• Jelaskan persamaan dan perbedaan gratifikasi, suap dan
pemerasan?
• Jelaskan mengapa pemahaman tentang pengelolaan,
pelaporan gratifikasi penting untuk tenaga kesehatan?
• Siapa saja pihak yang terlibat dalam kasus tersebut?
• Jelaskan apa yang menjadi penyebab terjadinya kasus
tersebut?
• Apa dampak dari kasus tersebut. Kaitkan dengan dampak
biaya sosial korupsi?
Jawaban no 1.
• Bentuk/jenis korupsi berdasarkan UU No.31/1999 Jo. UU No. 20/
2001
• Menurut perspektif hukum, defenisi korupsi secara gamblang telah
dijelaskan dalam 13 buah pasal dalam UU No. 31 Tahun 1999 jo UU
No. 20 Tahun 2001. Berdasarkan pasal-pasal tersebut, korupsi
dirumuskan ke dalam tiga puluh bentuk atau jenis tindak pidana
korupsi.
• Ketiga puluh bentuk atau jenis tindak pidana korupsi tersebut pada
dasarnya dapat dikelompokkan sebagai berikut :
• 1. Kerugian Keuangan Negara
• 2. Suap – menyuap
• 3. Penggelapan dalam jabatan
• 4. Pemerasan
• 5. Perbuatan curang
• 6. Benturan kepentingan dalam pengadaan
• 7. Gratifikasi
Jawaban no 2.
Dalam kasus tersebut terjadi Kasus Suap karena Anas selaku
anggota DPR-RI mengetahui bahwa pemberian tersebut untuk
mengupayakan pengurusan proyek pusat pendidikan, pelatihan
dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang di
Kemenpora, proyek-proyek perguruan tinggi dirjen pendidikan
tinggi Kemendiknas dan proyek-proyek lain yang dibayari
APBN yang didapatkan permai grup atau menurut pikiran
pemberi, Anas dapat mengupayakan pengurusan proyek
proyek tersebut.
Jawaban no 3
Jawaban no 4.
• Pemahaman tentang pengelolaan, pelaporan gratifikasi
penting untuk tenaga kesehatan karena secara tidak langsung
petugas kesehatan juga bekerja secara organisasi dan sangat
dekat dengan tindakan gratifikasi. Pemahaman ini sangat
penting bagi kami untuk mengetahui seperti apa gratifikasi
dan dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain. Menjadi
petugas kesehatan yang professional serta perduli pada semua
orang tanpa membeda-bedakan untuk menyelamatkan bangsa
ini dari ketidakadilan. Petugas kesehatan harus berani untuk
melaporkan tindakan gratifikasi agar tidak ada yang dirugikan.
Jawaban no 5.
• Pihak yang terlibat dalam kasus tersebut yaitu: Anas
Urbaningrum, M Nadzaruddin, Mahfud Suroso, Angelina
Patricia Pinkan Sondakh, Andi Alfian Malarangeng, Ignatius
Mulyono, Dedi Kusdinar, Wafid Muharam,
Jawaban no 6.
• Penyebab terjadinya kasus tersebut adalah
• Anas Urbaningrum berkeinginan untuk tampil menjadi
Pemimpin Nasional yaitu sebagai Presiden RI, sehingga
memerlukan kendaraan politik dan biaya yang sangat besar.
• Guna menyelesaikan sertifikat tanah Hambalang,
Jawaban no 7.
• Dampak dari kasus berkaitan dengan dampak biaya sosial
korupsi yaitu tertundannya pembangunan proyek P3SON
mengakibatkan kerugian besar untuk negara, dari proyek
tersebut sepintas hanya untuk kepentingan pribadi karena
para oknum koruptor mendapatkan bagian / “fee” yang
dibilang cukup besar dengan adanya fee untuk para oknum
akibatnya biaya untuk pembangunan menjadi tidak maksimal,
bisa saja bahan bangunannya menjadi diturunkan kualitasnya,
atau dengan kualitas yang sama namun negara harus
menambah jumlah anggaran yang akan memperbesar risiko
peningkatan hutang negara.
Kesimpulan
• Korupsi diantaranya kasus suap, gratifikasi dan pemerasan
yang kita bahas di kasus Anas Urbaningrum adalah suatu
tindakan penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan yang
sangat merugikan negara, korupsi ini menjadi permasalahan
utama terhadap kemajuan suatu negara, terutama bagi
negara-negara berkembang seperti Indonesia.
• Korupsi bisa dikatakan sebagai suatu kejahatan luar biasa,
karena tindakan mencuri uang negara ini akan berdampak
pada segala hal dalam sebuah negara yang berakibat pada
perlambatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, serta
dampak-dampak sosial, politik dan budaya. Tindakan ini
sangatlah tidak bermartabat serta tidak bertanggung jawab,
karena itulah pemberantasan dan pencegahan korupsi
haruslah menjadi prioritas paling utama bangsa indonesia saat
ini demi kemajuan dan kemakmuran bangsa.
Saran
Pemberantasan dan pencegahan terhadap korupsi harus kita
lawan secara bersama-sama, dukungan terhadap lembaga-
lembaga terkait sangatlah dibutuhkan bukan hanya dari
pemerintah tetapi juga dari masyarakatnya sendiri.
Terimakasih