Anda di halaman 1dari 14

”Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Keputusan

Petani Dalam Peremajaan (Replanting) Kelapa Sawit Di


Kabupaten Muaro Jambi”.
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
• Peremajaan (replanting) adalah penggantian suatu macam tanaman perkebunan, karena 
sudah tua atau tidak produktif dengan tanaman perkebunan yang sama dan dapat dilakukan secara 
selektif maupun menyeluruh. Terdapat beberapa pertimbangan dalam menentukan saat petani 
pekebun harus melakukan peremajaan. Pertimbangan dalam melakukan peremajaan antara lain 
adalah umur tanaman sudah tua (umumnya 19 - 25 tahun). Secara fisiologis tanaman tua seperti ini 
memiliki produktivitas yang semakin menurun, sehingga dipandang tidak lagi memberikan 
keuntungan secara ekonomis malah bisa merugi. Umumnya batas umur ekonomis yang digunakan 
sebagai patokan teknis untuk tanaman kelapa sawit rata-rata 25 tahun, namun tidak jarang umur 
ekonomis hanya mencapai 19 tahun.
• Pada umur tanaman tua ini produktivitas tanaman rendah (umumnya < 12 ton/ha/tahun tidak 
ekonomis atau rata-rata 1 ton/ha/bulan). Tanaman yang berproduksi rendah sebagai akibat dari 
umur tanaman sudah tua atau tumbuhnya kurang jagur dan dianggap kurang menguntungkan. 
Kesulitan pelaksanaan panen juga dijadikan sebagai pertimbangan dalam menentukan saat petani 
pekebun harus melakukan peremajaan kebunnya. Tanaman yang sudah tua umumnya memiliki 
pohon tinggi yang dapat menyulitkan saat pemanenan, sehingga efektivitas dan efisiensi panen 
menjadi rendah karena ongkos produksi menjadi mahal.  Kebun yang sudah tua kerapatan 
tanaman umumnya rendah, sehingga tanaman dengan kerapatan yang rendah tidak ekonomis untuk 
dikelola sehingga perlu diremajakan. Kemudian dari sisi perawatan terutama dalam pemupukan 
tanaman tua juga memerlukan dosis yang lebih besar sehingga biaya yang dikeluarkan juga besar
Tabel 1. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Kelapa Sawit di Provinsi Jambi Tahun 2010 –
2014
Produktivitas
Tahun Luas Panen (Ha) Produksi (Ton)
(Kg/Ha)
2010 513,959 1,392,293 3,462
2011 532,293 1,426,081 3,417
2012 589,340 1,472,852 3,398
2013 593,433 1,555,697 3,499
2014 662,846 1,571,535 3,024

Pada tabel 1 diatas menunjukkan adanya trend penurunan produktivitas kelapa sawit, hal tersebut
merupakan fenomena yang terjadi akibat umur dari tanaman kelapa sawit yang sudah tua. Tanaman kelapa
sawit pada umumnya berumur sampai 25 tahun dengan kondisi produksi yang optimal. Menjelang masa
peremajaan (replanting), biasanya tanaman akan memperlihatkan menurunnya
Tabel 2. Luas Areal, Produksi, Produktivitas Kelapa Sawit menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015
Sumber : Badan Pusat Statistik Jambi 2015

Luas Areal
Kabupaten/Kota Produksi (ton) Produktivitas (ton/ha)
(Ha)

Batanghari 87.378 272.112 3,855

Muaro Jambi 147.496 282.682 2,685

Bungo 76.124 168.092 3,082

Tebo 50.263 136.463 3,356

Merangin 59.144 176.751 3,859

Sarolangun 68.688 180.053 3,069

Tanjung Jabung Barat 124.597 298.724 2,809

Tanjung Jabung Timur 49.061 56.646 1,499

Kerinci 94 12 1,333

Sungai Penuh - - -

Jumlah 662.846 1.571.535 3,024


1.2 Rumusan Masalah
• Perkebunan sawit yang sudah berumur di atas 25 tahun seharusnya dilakukan 
peremajaan. Namun masih terdapat petani yang belum melakukannya terutama di 
Kecamatan Sungai Bahar. Petani memiliki keputusan sendiri mengenai kondisi usahatani 
kelapa sawit mereka. Peremajaan kebun yang dilakukan diharapkan mampu 
meningkatkan produktivitas serta pendapatan petani sawit. Biaya yang dikeluarkan pada 
saat peremajaan yaitu berupa investasi pada perkebunan tersebut tidak semahal pada saat 
melakukan pembukaan kebun baru.
• Usia tersebut perlu diperhatikan mengingat adanya umur ekonomis pada tanaman. Hasil 
penelitian di Marihat tahun 1985, tanaman kelapa sawit mulai berbuah umur 3 tahun, 
secara terus menerus meningkat hingga umur 12 tahun, pada umur tanaman berada pada 
9-12 tahun tercapai produksi maksimum. Pada umur 13 tahun ke atas terjadi penurunan 
rata-rata produksi, sedangkan umur ekonomis tanaman kelapa sawit yaitu 25 tahun.
• Berdasarkan uraian ditatas maka dapat dirumuskan masalah yang akan dikaji pada 
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Faktor apa saja yang melatarbelakangi petani dalam peremajaan (replanting) kelapa sawit 
di Kabupaten Muaro Jambi?
2. Bagaimana hubungan antara faktor-faktor terhadap keputusan petani dalam peremajaan 
(replanting)  kelapa sawit di Kabupaten Muaro Jambi?
1.3    Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian


1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi petani kelapa sawit 
melakukan peremajaan (replanting) di Kabupaten Muaro Jambi.
2. Bagaimana hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi 
pengambilan keputusan petani dalam peremajaan kelapa sawit di 
Kabupaten Muaro Jambi.
1.3.2 Kegunaan Penelitian
3. Sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan studi tingkat sarjana pada 
Fakultas Pertanian Universitas Jambi.
4. Sebagai bahan informasi dan masukan bagi pihak lain dalam bidang 
penelitian serupa.
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perkebunan Kelapa sawit
• Menurut Maruli (2014), industri perkebunan mulai berkembang di nusantara 
dalam bentuk-bentuk usaha perkebunan berskala besar awal abad ke-19. 
Berkembangnya usaha perkebunan pada masa-masa itu telah mendorong 
terbukanya wilayah-wilayah baru yang terpencil, berkembangnya sarana dan 
prasarana umum serta kolonisasi. Sejalan dengan perkembangan waktu, 
perkebunan memodernisasi dirinya dengan diterapkannya sistem manajemen 
yang lebih baik serta diaplikasikannya berbagai teknologi dibidang kultur teknis 
maupun pengolahan hasil.
• Di Indonesia dikenal tiga bentuk utama usaha perkebunan, yaitu Perkebunan 
Rakyat (PR), Perkebunan Besar Swasta (PBS), dan Perkebunan Besar Negara 
(PBN). Bentuk lain berupa pola-pola pengembangan perkebunan rakyat yang 
merupakan bentuk gabungan antara Perkebunan Rakyat dengan Perkebunan 
Besar Swasta atau Perkebunan Rakyat dengan Perkebunan Besar Negara.
2.2 Konsep Dasar Pengambilan Keputusan
• Menurut Stoner (2003) pengambilan keputusan adalah pemilihan diantara 
alternatif-alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu : (1) ada 
pilihan atas dasar logika atau pertimbangan; (2) ada beberapa alternatif yang 
harus dan dipilih salah satu yang terbaik; (3) ada tujuan yang ingin dicapai dan 
keputusan itu makin mendekatkan pada tujuan tersebut.
• Sementara itu menurut Salusu (2004), keputusan adalah sebuah kesimpulan yang 
dicapai sesudah dilakukan pertimbangan, yang terjadi setelah satu kemungkinan 
dipilih, sementara yang lain dikesampingkan. Adapun yang dimaksud dengan 
pertimbangan ialah menganalisis beberapa kemungkinan atau alternatif, sesudah 
itu dipilih satu diantaranya. Roger dan Shoemaker dalam Soekartawi (1986) 
mendefinisikan tentang proses pengambilan keputusan untuk melakukan adopsi 
inovasi yaitu proses mental dalam mengambil keputusan untuk menerima ide 
baru serta menegaskan lebih lanjut tentang penerimaan dan penolakan ide baru 
tersebut.
2.3 Program Peremajaan Kelapa Sawit
• Peremajaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menggantikan 
tanaman tua yang sudah tidak produktif dari segi ekonomis dengan tanaman 
baru atau penanaman ulang. Peremajaan tanaman didekati melalui teori 
pengganti (replacement) yaitu suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk 
mengganti benda-benda yang hilang karena susut atau rusak sampai pada 
keadaan sebelumnya atau seperti semula (Winardi, 1983).
• Menurut Edy et al. (2011) peremajaan adalah kegiatan pergantian tanaman 
tua atau tanaman tidak produktif dengan tanaman baru dengan tujuan 
memperbaiki produktivitas tanaman yang semakin menurun. Sejalan dengan 
pernyataan Iyung Pahan (2006) bahwa produksi/hektar merupakan 
pertimbangan kritikal bagi suatu keputusan untuk melakukan peremajaan. 
Dalam melakukan peremajaan perkebunan kelapa sawit rakyat perlu 
mempertimbangkan kelangsungan pendapatan petani selama masa 
peremajaan sehingga pemilihan teknik peremajaan sangat penting untuk 
dilakukan dengan tujuan memberikan alternatif pendapatan bagi petani 
selama melakukan peremajaan.
2.4 Penelitian Terdahulu
• Penelitian yang dilakukan Shinta Anggreany (2015) mengenai Penerapan 
Sistem Peremajaan Kelapa Sawit di Provinsi Jambi  menunjukkan bahwa 
faktor internal dan eksternal yang berhubungan dengan penerapan peremajaan 
kelapa sawit adalah pada aspek frekuensi kegiatan penyuluh dengan aspek 
teknik budaya. Petani yang mengetahui banyak hal tentang peremajaan 
tumpang sari justru tidak menerapkan sistem peremajaan tersebut, petani lebih 
memilih sistem underplanting yang dianggap paling sesuai dengan kondisi 
petani saat ini.
• Menurut Teri Ocki Prasakti (2007) dalam penelitiannya yang berjudul faktor-
faktor yang melatarbelakangi keputusan petani dalam mengusahakan komoditi 
karet di Desa Pasar Terusan Kecamatan Muara Bulian menunjukkan bahwa 
lahan menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi keputusan petani dalam 
mengusahakan karet. Status kepemilikan lahan di daerah penelitian adalah 
pemilik dan sekaligus sebagai penggarap dimana petani membuka lahan dan 
menebas sendiri lahan yang mereka miliki.
III METODE PENELITIAN
3.1Ruang Lingkup Pertanian
       Penelitian ini akan dilaksanakan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. 
Daerah ini di pilih dengan sengaja (purposive) dengan pertimbangan di 
daerah ini sebagian petani telah melakukan peremajaan kelapa sawit. Adapun 
objek penelitian ini adalah petani yang memiliki perkebunan kelapa sawit 
yang telah melakukan peremajaan dan petani yang belum melakukan 
peremajaan kelapa sawit. Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 01 Oktober 
2017 sampai 12 Januari 2018.
       
Adapun data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah :
1. Data petani sampel meliputi : nama, umur, pendidikan, jumlah anggota 
keluarga, dan luas lahan yang dimiliki
2. Data pelaksanaan peremajaan oleh petani di Kabupaten Muaro Jambi.
3. Faktor apa saja yang berhubungan dengan keputusan petani dalam 
peremajaan.
4. Data pendukung lainnya, yang berhubungan dengan penelitian ini.
3.2 Sumber dan Metode Pengumpulan Data/Informasi
3.2.1. Sumber Data/Informasi
• Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data skunder. Data 
primer dari hasil wawancara langsung dengan responden dan observasi yaitu metode 
pengamatan langsung kelokasi penelitian. Untuk melengkapi data primer juga 
dilakukan in depth interview dengan petani, tokoh masyarakat, pihak kecamatan, dan 
penyuluh. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari Dinas 
Perkebunan Provinsi Jambi, Dinas Perkebunan Kabupaten Muaro Jambi, Badan Pusat 
Statistik (BPS) serta data dari Kantor Desa, Kantor Kecamatan, dan instansi terkait 
lainnya.
• Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Data/informasi yang diperoleh 
dijadikan bahan analisis merupakan data/informasi utama dalam penelitian ini adalah 
responden dan informan. Sumber data dalam penelitian ini adalah  responden 
sedangkan informan hanya merupakan sumber data/informasi pelengkap. Responden 
dipilih secara sengaja (purposive) atas pertimbangan keterwakilan aspek permasalahan 
yang diteliti (Sitorus, 2004 dalam muchlis). Responden dan informan dinilai mampu 
memberikan data/informasi sesuai dengan kebutuhan penelitian.
3.3 Konsepsi Pengukuran
Untuk batasan konsep dan variable yang digunakan dalam penelitian ini, maka ada beberapa istilah yang 
dapat didefinisikan secara operasional sebagai berikut.
1. Petani sampel adalah petani swadaya yang telah melakukan dan belum melakukan peremajaan 
kelapa sawit dengan teknik underplanting di  Kabupaten Muaro Jambi.
2. Keputusan adalah pilihan yang dijatuhkan pada salah satu alternatif dari berbagai alternative yang 
tersedia. Keputusan disini adalah pilihan yang dihatuhkan petani dalam peremajaan (replanting) 
usahatani kelapa sawit.
3. Indikator faktor-faktor yang berhubungan dengan keputusan petani terhadap peremajaan kelapa sawit 
adalah :
a) Keputusan petani adalah pilihan yang telah dilakukan petani terhadap usahataninya. Keputusan 
petani diukur tinggi apabila petani telah melakukan peremajaan pada kebun kelapa sawitnya. 
Keputusan petani diukur rendah apabila petani belum melakukan peremajaan kelapa sawit 
miliknya.
b) Pengetahuan petani terhadap peremajaan diukur dengan skor (13-65)
                Kategori tinggi apabila 40-65
                Kategori rendah apabila 13-39
c) Akses informasi petani terhadap peremajaan diukur dengan skor (1-25)
                Kategori tinggi apabila 16-25
                Kategori rendah apabila 5-15
d) Kegiatan penyuluhan terhadap peremajaan diukur dengan skor (10-50)
                  Kategori tinggi apabila 31-50
                  Kategori rendah apabila 10-30
e) Modal, ketersediaan modal yang dimiliki petani diukur dengan skor (6-
30)
                  Kategori tinggi apabila 19-30
                  Kategori rendah apabila 6-18
f) Pendapatan petani diukur dengan skor (4-20)
                  Kategori tinggi apabila13-20
                  Kategori rendah apabila4-12
g) Pengalaman berusahatani diukur dengan skor (4-20)
                  Kategori tinggi apabila13-20
                  Kategori rendah apabila4-12