Anda di halaman 1dari 14

STATISTIKA TEKNIK KIMIA

Perilaku Pirolisis dan Studi Kinetik Pada Residu Kulit


Kayu Eucalyptus Menggunakan Analisis
Termogravimetri

NAMA : ANDARI YUTA PALWA


NIM : 03031381720017
KELAS : D3 KE S1
ABSTRAK
Jurnal ini menjelaskan tentang kinetika dari Eucalyptus leaves (EL), Eucalyptus
bark (EB) and Eucalyptus sawdust (ESD). Dianalisa dengan menggunakan
analisis Termogravimetrik (TGA). Bahan Eucalyptus leaves (EL), Eucalyptus
bark (EB) and Eucalyptus sawdust (ESD) diperoleh dari Kota Guiping, provinsi
Guangxi, Cina. Bahan tersebut dikeringkan dibawah sinar matahari selama 30
hari untuk mendapatkan sampel bebas dari udara kering (ADB), setelah itu
sample dihancurkan dengan cara dogiling lalu diayak untuk mencapai ukuran
0,074 mm. sampel ini dikeringkan pada suhu 105◦C selama 48 jam untuk
mendapat analisa ultimat dan TGA. Tes analisis termogravimetri (TGA)
dilakukan pada Instrumen TGA dengan platinum crucibles. Sekitar 5,0mg dari
setiap sampel digunakan untuk semua TGA. Argon digunakan sebagai
pembersih gas dan dipertahankan pada laju aliran konstan 100
ml/menit. Tingkat pemanasan 10°C/menit dan 40°C/menit digunakan untuk
sampel EL, EB dan ESD dari suhu kamar temperatur hingga 800°C. Setiap
percobaan TGA diulang tiga kali untuk menghilangkan kesalahan.
ABSTRAK (ANALISA DATA)
Peneliti ingin menganalisa sifat dan kinetika pirolisis dari tiga jenis
residu Eucalyptus yaitu Eucalyptus Leaves (EL), Eucalyptus Bark
(EB), dan Eucalyptus Sawdust (ESD) dengan teknik
Thermogravimetric Analysis (TGA). Analisa sifat pirolisis residu
eucalyptus dengan cara peningkatan temperatur dengan heating rate
sebesar 10°C/min dan 40°C/min. Analisa kinetik pirolisis residu
eucalyptus memakai dua macam parameter, yaitu Gaussian DAEM
dan Discrete DAEM. Parameter Gaussisan DAEM digunakan untuk
menganalisa distributed centers (E0), standard deviations (σ), dan
pre-exponential factors (A) dari EL, EB, dan ESD. Parameter Discrete
DAEM digunakan untuk menganalisa activation energies dan pre-
exponential factors dari EL, EB, dan ESD. Kedua parameter
dibandingkan untuk menentukan parameter yang lebih baik untuk
dipakai pada studi kinetika biomassa. Variasi energi aktivasi versus
konversi yang dilakukan peneliti menunjukkan adanya perubahan
mekanisme selama proses pirolisis berlangsung.
ANALISIS DATA
Sampel proses pirolisis
1. Eucalyptus Leaves (EL)
2. Eucalyptus Bark (EB)
3. Eucalyptus saw-dust (ESD)
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik analisis termogravimetri.
Menggunakan 3 tahap pirolisis EL, EB, dan ESD dibagi dengan menggunakan metode
diferensial derivativ termogravimetri(DDTG). Pada tahap kedua yaitu pirolisis utama
dengan menggunakan sekitar 86,93% EL, 88,96% EB,dan 97,84% ESD. Variasi
energi aktivasi dengan konversi menyatakan perubahanmekanismesemala proses
pirolisis. Dengan menggunakan analis termogravimetri karena dianggap sebagai
teknikyang kuat untuk karakterisasi perilaku pirolisis dan studi kinetik.

Keterangan EL EB ESD
E0 141,15kj/mol 149,21kj/mol 175,79kj/mol
r 18,35kj/mol 18,37kj/mol 14,41kj/mol
A 1,15exp+10/s 4,34exp+10/s 7,44exp+12/s
TABEL 1
Menunjukkan hasil analisis yaitu Analisa ultimat,  Pada tabel Ultimate analisis, menunjukkan
Analisa proksimat dan komponen kimia pada limbah kandungan C, H, N, S, P, dan O pada masing –
eucalyptus EL, EB, dan ESD masing sampel. Berdasarkan tiga sampel yang
diuji, karbon (41.82%-49.75%) dan oksigen
(43.37%-52.76%) memiliki persentase yang
lebih besar daripada konten yang lainnya.
Kandungan yang memiliki persentase paling
Tabel 1 rendah yaitu Fosfor dengan persentase EL, EB,
dan ESD berturut-turut 0,13%, 0,06%, dan
0,03%. Sedangkan kandungan hidrogen
berkisar antara 4.85-5.77%.
 Pada tabel analisa proksimat menunjukkan nilai
dari MC (Moistute Content), VMC (Volatile
Meter Content) dan AC (Ash Content) dengan
referensi dari (ASTM D 3175-89), fc (Fixed
Carbon), dan LHV (Low Heating Value). Seperti
yang ditunjukkan pada tabel 1, Ketiga bahan
baku tinggi akan kandungan volatile (69.89-
77.73%) yang bisa dianggap cocok untuk
proses pirolisis, gasifikasi atau pembakaran.
Kadar air dari EL (4.26%) dan ESD (6.12%)
lebih tinggi dari pada EB ( 10.89%). Kadar air
yang rendah baik untuk teknik konversi termal.
Persentase terendah ditunjukkan pada Ash
Content yaitu sebesar 0.81%
 Pada komponen kimianya ESD memiliki nilai
hemiselulosa (24.74%) dan selulosa (33.89%)
yang lebih tinggi dari pada EL dan EB.
Sedangkan EL memiliki nilai hemiselulosa
(11.28%), selulosa (17.93%) dan lignin
(9.25%) yang paling rendah daripada EB dan
TABEL 2

1. Perubahan temperatur di puncak dan akhir dan penurunan persen


berat dari pirolisis tahap kedua pada EL, EB dan ESD akan terus
mengalami peningkatan dengan meningkatnya laju pemanasan.
2. Temperatur akhir paling tinggi didapatkan saat laju pemanasan
40°C/min terhadap pirolisis dari ESD dengan penurunan berat yang
diperoleh 97,84%
3. Laju pemanasan sangat berpengaruh terhadap perubahan temperatur
dan penurunan persen berat
TABEL 3
Menunjukkandata parameter-parameter gaussian DAEM
apakah cocok untuk mempirolisis ketiga sampel

1. Distribusi pusat energi aktivasi EL dan EB hampir mirip satu dengan yang lain
sedangkan ESD lebih tinggi .
2. Standar deviasi EL dan EB hampir sama yang menandakan memiliki
kecenderungan setiap data yang hampir sama.
TABEL 4
Menjelaskan tentang hubungan koefisien (𝑅2 ) antara data
eksperimental dan data kalkulasi

1. Analisa sifat pirolisis residu eucalyptus dengan cara peningkatan


temperatur dengan heating rate (laju pemanasan) sebesar
10°C/min dan 40°C/min.
2. Dari tabel menggambarkan heating rate (laju pemanasan)
berkaitan terhadap Gaussian DAEM dan Discrete DAEM.
ANALISA DATA GRAFIK 1

• Grafik A menunjukkan TG/DTG terhadap


perubahan temperatur yang terjadi
dimana garis putus-putus merupakan
DTG dari sampel EL,EB dan ESD
sedangkan garis solid menunjukkan TG
dari ketiga sampel.
• Pada grafik A ditunjukkan dengan
membagi 3 tahap dimana pada tahap 1
berlangsung dalam temperatur yang
rendah .
• Pada temperatur rendah akan
menghasilkan penurunan berat yang
rendah pula.
• Perilaku termal EL, EB dan ESD tahap
kedua kompleks dilihat dari puncak yang
saling tumpang tindih.
• Pada grafik B menunjukkan kurva
DTG/DDTG dari pirolisis daun Eucalyptus
terhadap perubahan temperatur.
ANALISA DATA GRAFIK 2

 Grafik ini menunjukkan hubungan antara persentase


TG/DTG dengan kenaikan temperatur pada tahap
pirolisis kedua pada laju pemanasan 10°C/min dan
40 °C/min.
 Data disajikan dengan menunjukkan hanya pada
laju pemanasan 10 °C/min dan 40 °C/min dimana
terjadi perubahan grafik TG/DTG yang signifikan
terhadap suhu yang berkisar antara 338.6 – 384.8
derajat celsius yang merupakan tempat terjadinya
peak.
 Data ini disajikan dalam bentuk diagram Scatter.
 Peak 2 dimana muncul pada kisaran temperatur
338.6 – 384.8°C merupakan peak utama dari kurva
DTG dan diyakini akan menjadi kontribusi utama
untuk dekomposisi selulosa.
 Meningkatnya tingkat panas mengubah karakteristik
temperatur ke nilai yang lebih tinggi tetapi tidak
mengubah profil DTG.
 Meningkatnya laju pemanasan mengarah pada
penurunan efek suhu secara serentak dan
meningkatnya efek panas.
 Meningkatnya efek panas menandakan bahwa
temperatur yang lebih tinggi dibutuhkan untuk
menghantikan proses dekomposisi.
ANALISA DATA GRAFIK 3

 Grafik 3 menjelaskan mengenai distribusi


Gaussian dan perbandingan antara
eksperimen dan simulasi.
 Gambar A menjabarkan data daun
Eucalyptus (EL)

 Gambar B menjabarkan data kulit kayu


Eucalyptus (EB)

 Gambar C menjabarkan data serbuk


gergaji Eucalyptus (ESD)

 Data disajikan dalam bentuk diagram


Scatter

 Hasil dari pembacaan data adalah


Gaussian DAEM besarnya konstan
dengan data eksperimen ketiga bahan
baku biomassa yang ditunjukkan dalam
grafik 3.
ANALISA DATA GRAFIK 4

• Grafik ini menunjukkan kinetika pirolisis


dengan parameter Discrete DAEM yang
menunjukkan energi aktivasi (Eα), faktor
pra-eksponensial (ln(A α)), dan fraksi
massa awal (fk,0) dari tiga jenis residu
yang diteliti yaitu (A) daun Eucalyptus,
(B) kulit kayu Eucalyptus, dan (C)
serbuk gergaji Eucalyptus .
• Data dikumpulkan dengan cara
membandingkan energi aktivasi (Eα)
dengan konversi yang dihasilkan dari
ketiga residu yang dipakai. Didapatkan
bahwa energi aktivasi dan faktor pra-
eksponensial dari ketiga sampel hampir
sejajar antara satu sama lain seiring
proses pirolisis berlangsung.
• Data disajikan dalam bentuk diagram
Scatter dimana di pakai 100 reaksi orde
satu untuk mendapatkan datanya.
ANALISA DATA GRAFIK 5

 Grafik ini menunjukkan perbandingan


antara data simulasi Discrete DAEM
dan data eksperimen terhadap residu
pirolisis pada daun Eucalyptus (A),
kulit kayu Eucalyptus (B) dan serbuk
gergaji Eucalyptus (C)
• Data didapatkan dengan cara
membandingkan temperatur dengan
konversi yang tersisa yang dihasilkan
dari ketiga residu tersebut.
Didapatkan bahwa perbandingan
temperatur dan konversi yang tersisa
dari ketiga sampel hampir sejajar
antara satu sama lain dan tidak
menunjukkan perbedaan secara
signifikan seiring terjadinya proses
pirolisis.
• Data disajikan dalam bentuk diagram
Scatter.
KESIMPULAN
 Sifat pirolisis dari Eucalyptus Leaves (EL), Eucalyptus Bark
(EB), dan Eucalyptus Sawdust (ESD) berbeda antara satu
sama lain.
 Proses pirolisis dapat dibagi menjadi tiga tahap di mana
Tahap 2 berkontribusi pada bagian pirolisis utama dengan
86,93-97,84% persentase weight loss.
 Kisaran suhu pirolitik EL, EB dan ESD adalah 143,8 -
578,5°C, 174,3 - 601,9°C dan 141,5 - 639,2°C.
 Kinetika pirolitik Gaussian DAEM menunjukkan kecocokan
yang baik dengan data eksperimen.
 Discrete DAEM dengan 100 reaksi orde satu lebih baik
daripada Gaussian DAEM untuk studi kinetik biomassa.
 Untuk pirolisis biomassa, variasi energi aktivasi versus
konversi mengungkapkan perubahan mekanisme reaksi.