Anda di halaman 1dari 53

HAKEKAT PRAGMATIK

 Menurut Charles Moris (1938)


Pragmatik adalah mengkaji hubungan antara
tanda dengan penafsir (interpreters)
 Menurut Carnaf pragmatik adalah hubungan
konsep yang merpakan tanda dengan pemakai
tanda tersebut.
 Menurut Monteque, pragmatik adalah studi
indexical atau deictic atau pragmatik adalah
pemakaian bahasa yg menunjuk pada rujukan
tertentu menurut pemakaiannya.
 Menurut Leech (1983)
Pragmatik adalah;
- studies meaning in relation to speech
situation ‘mengkaji makna dalam kaitannya
dengan situasi tutur (konteks)’
- cabang ilmu bahasa yang mengkaji
penggunaan bahasa berintegrasi dengan tata
bahasa yang terdiri dari fonologi, morfoloi,
sintaksis dan pragmatik melalui semantik.
Yule (1996:3) memberikan 4 batasan mengenai pragmatik.

1. Pramatics is the study of speaker meaning ‘pragmatik adalah studi


makna/maksud penutur’, masudnya adalah pragmatik memfokuskan
pada kajian bgmn makna ujaran yg dikomunikasikan oleh penutur dan
bagaimana ujaran tsb. Diinterpretasikan oleh pendengar atau pembaca
2. Pragmatics is the study of contextual meaning, ‘ adalah studi tentang
makna konteks’ maksudnya pragmati kmelibatkan interpretasi apa yg
dimaksud orang dalam konteks tertentu dan bgmn konteks berpengaruh
pd apa yg dikatakan.
3. Pragmatics is the study of How more gets comunicated than is said
‘pramatik adalah membuat kesimpulan tentang apa yang dikatakan
dalam rangka memperoleh maksud penutur.
4. Pragmatik is the study of the expression of relative distance, pengertian
terakhir menjelaskan bahwa pembicara menentukan seberapa banyak
yg perlu dikatakan terkait dengan seperapa jauh atau dekat pendengar.
 Menurut Parker (1986)
Pragmatics is the study of how language is used to
communicate ‘ Pragmatik adalah studi bagaimana bhs
digunakan dalam komunikasi

Pragmatik adalah cabang linguistik yg mempelajari
struktur bhs secara eksternal yaitu terkait dengan
penggunaan bhs dalam komunikasi.
 Menurut Levinson (1983)
Pragmatik adalah kajian hubungan antara bahasa dan
konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa.
 Menurut Wijana (1996)
Pragmatik adalah studi kebahasaan yang terikat konteks
Menurut Rahmadi (2011:15) pragmatik merupakan kajian
yg menelaah makna wacana ditinjau dari segi konteks.
Menurut Barry (2008) pragmatik mengkaji
bentuk/struktur bhs dan penggunaan bhs dalam
komunikasi.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat
disimpulkan sebagai berikut.
1. Hubungan antara bahasa dengan konteks
merupakan dasar dalam pemahaman pragmatik.
2. Pengertian pragmatik berdasarkan pengertian di atas
dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
- pengertian pragmatik sebagai ilmu: cabang ilmu
bahasa yang mengkaji makna kaitannya dengan
konteks dan
- pragmatik sebagai ketrampilan berbahasa :
kemampuan menggunakan bahasa sesuai
dengan konteks.
OBJEK KAJIAN PRAGMATIK
 Yang menjadi objek kajian pragmatik adalah bahasa
dalam penggunaan (komunikasi). Oleh karena itu,
pragmatik memperhatikan prisip-prinsip penggunaan
bahasa. Menurut Lyons yang yang dikutip oleh
Levinson (1983) meliputi :
1. pengetahuan tentang peran dan status, yang
meliputi pembicara, mitra wicara dan kedudukan
relatif dari masing peran tsb.
2. penget. Mengenai ruang (tempat) dan waktu
pelaksanaan peristiwa tutur.
3. penget. Mengenai tingkatan formalitas peristiwa
tutur
4. penget. Mengenai bahasa pengantar
5. penget. Mengenai ketepatan pokok pembicaraan
6. penget. Mengenai ketepatan ‘bidang wewenang’
atau penentuan regiter bahasa.

Sehubungan dengan prinsip-prinsip di atas


dapat dikatakan bahwa pragmatik merupakan telaah
kemampuan pemakai bahasa untuk memasang dan
memilih kalimat sesuai dengan konteks, sehingga
mereka dapat menggunakannya dengan tepat tepat.
Pragmatik pada dasarnya memperhatikan
aspek-aspek komunikatif

 Menurut Noss dan Llamzon (1986)


dalam kajian pragmatik paling tidak ada 4
unsur pokok, yaitu hubungan antarperan,
latar peristiwa, topik dan media yang
digunakan.
 Sejalan dengan pendapat Lyons dan Noss
dan Lamzon, dalam kurikulum bahada
Indonesia 1984 dijelaskan secara eksplisit
bahwa pragmatik mengarah pada
kemampuan menggunakan bahasa dalam
komunikasi.
Pragmatik mengarah pada kemampuan
menggunakan bahasa dalam berkomunikasi
shg
perlu memperhatikan faktor-faktor penentu
tindak
komunikatif. Faktor-faktor itu meliputi:
 (1) siapa yang berbahasa dengan siapa,
 (2) untuk tujuan apa
 (3) dalam situasi apa
 (4) dalam konteks apa
 (5) jalur yang mana yang digunakan (lisan
atau
tulisan)
 (6) media apa yang digunakan
 (7) dalam peristiwa apa.
• Pragmatik sebagai bahan pelajaran atau ilmu,
bersumber pada beberapa disiplin ilmu lain
yang juga mengkaji bahasa dan faktor-faktor
yang bertalian dengan penggunaan bahasa.
Sumber kajian itu, adalah:
 Falsafah kebahasaan
 Sosiolinguistik1111
 Antropologi
 Etnografi
 Linguistik

11
 Sumber kajian dari falsafah kebahasaan yang terutama
digunakan pragmatik adalah Teori Tindak Bahasa
(Speech Acts) dan Implikatur Percakapan
(Conversational Implicature).
Teori Tindak Bahasa (Spech Acts) ada 3 sudut pandang,
yaitu:
 lokusi (locution)= suatu kalimat atau ujaran sebagai suatu
“proposisi” yang terdiri dari subjek/topik dan predika-
tor/komentar;
 ilokusi (illocution) = suatu kalimat atau ujaran sebagai
tindakan bahasa, umpamanya: menyuruh, memanggil,
menyatakan setuju, menyampaikan keberatan, dsb. Dan
 perlokusi (perlocution) = efek atau apa yang dihasilkan
dari kalimat atau ujaran pada pendengar atau
penerimaan pendengar atas ujaran tersebut.
12
Implikatur Percakapan (Conversational Implicature).
Terdapat 4 prinsip dasar kerjasama yang menjadi perangkat
aturan orang dalam berkomunikasi. Keempat prinsip tersebut
adalah:
 aturan kuantitas = bahwa ujaran yang wajar dalah komunikasi
ialah yang mengungkapkan hal-hal yang secukupnya, tidak
berlebihan, dan tidak kurang untuk menyampaikan informasi;
 aturan kualitas = bahwa apa yang diungkapkan itu adalah
benar;
 aturan relevansi = bahwa apa yang diungkapkan itu relevan
dengan situasi yang ada dalam dan sekitar berbahasa itu; dan
 aturan cara = bahwa yang diungkapkan ini adalah cukup jelas
dan tidak berdwimakna.

13
Bidang kajian pragmatik yang bersumber dari
sosiolinguistik meliputi:
 ragam bahasa (dialek, sosiolek, fungsiolek, dan
kronolek) yang dikaitkan dengan tujuan dan
situasi berbahasa.
 kemampuan komunikatif terutama yang
membicarakan konsep kesesuaian
(appropriacy) dari Hymes.
Kajian pragmatik yang bersumber dari
antropologi antara lain:
 unda usuk berbahasa;
 konteks situasi sebagai penentu makna
 faktor-faktor nonverbal

14
Dari bidang Etnografi akan dikaji:
 faktor-faktor sosiolinguistik dalam
berkomunikasi seperti pemeran serta , di
mana, kapan, topik (tentang apa), dsb.
Kajian pragmatik yang bersumber dari
linguistik terutama adalah:
 analisis wacana;
 teori deiksis

15
Samsuri menjelaskan bahwa pragmatik
mempelajari :
 (1) deiksis,
 (2) implikatur percakapan,
 (3) praanggapan dan
 (4) tindak berbahasa
Nababan (1987) ia menjelaskan bahwa
pragmatik mempelajari :
 (1) variasi bahasa,
 (2) tindak bahasa,
 (3) implikatur percakapan,
 (4) teori deiksis, dan
 (5) praanggapan.
Akmajian (1981) menyebutkan ada 4 lingkup
kajian pragmatik:
 (1) tindak bahasa,
 (2) praanggapan,
 (3) implikatur percakapan dan
 (4) struktur percakapan.

Levinson (1983) menyebutkan ada 5 hal yang


dikaji pragmatik:
 (1) deiksis,
 (2) implikatur percakapan,
 (3) praanggapan,
 (4) tindak bahasa dan
 (5) struktur percakapan.

 Menurutnya implikatur menempati posisi


penting a.l. (1) krn implikatur dpt
menjelaskan makna dr fenomena bahasa,
(2) implikatur dpt menjelaskan interpretasi
sebuah ujaran lebih drpd yg sebenarnya
dikatakan,
 Oleh para linguis Amerika, pragmatik sebagai
salah satu kajian bahasa dianaktirikan.
Terbitnya buku Language karya Leonard
Bloomfield seorang linguis Amerika aliran
struktural, pada tahun 1933 membatasi gerak
para linguis waktu itu untuk mengkaji bahasa
pada bidang struktural yang konkret. Aliran
struktural yang dipelopori oleh Bloomfield
sendiri pada waktu itu (sekitar tahun 1930-an
s.d.1950-an ) sangat berpengaruh. Kajian
bahasa yang utama dan paling konkret waktu
itu adalah fonologi.

18
 Bloomfield berangkat dari behaviorisme dalam
psikologi yang dominan di Amerika sejak 1920.
Menurut pandangan behaviorisme bahwa
tingkah laku manusia dapat diterangkan
berdasarkan situasi-situasi—bebas dari faktor-
faktor internal. Ujaran bisa dijelaskan dengan
kondisi-kondisi eksternal yang ada di sekitar
kejadiannya. Sejalan dengan aliran atau
pandangan behaviorisme dalam psikologi
inilah, kaum strukturalis menganggap bahwa
hal-hal yang tidak struktural atau tidak konkret
(semantik dan pragmatik) bukan merupakan
lahan linguistik.

19
 Bloomfield berangkat dari behaviorisme dalam
psikologi yang dominan di Amerika sejak 1920.
Menurut pandangan behaviorisme bahwa
tingkah laku manusia dapat diterangkan
berdasarkan situasi-situasi—bebas dari faktor-
faktor internal. Ujaran bisa dijelaskan dengan
kondisi-kondisi eksternal yang ada di sekitar
kejadiannya. Sejalan dengan aliran atau
pandangan behaviorisme dalam psikologi
inilah, kaum strukturalis menganggap bahwa
hal-hal yang tidak struktural atau tidak konkret
(semantik dan pragmatik) bukan merupakan
lahan linguistik.

20
 Perkembangan linguistik selanjutnya
menganut aliran kognitif dalam psikologi,
yakni ditandai dengan kemunculan teori
Tatabahasa Transformasi dari Noam
Chomsky melalui buku Syntactic
Structure (1957). Pada waktu itu,
Chomsky mengemukakan 2 istilah
dikotomis yaitu competence dan
performance. Linguistik membatasi
penelitiannya pada bidang kompetensi.
21
 Dalam perkembangannya, timbullah kesadaran di
kalangan linguis pada waktu itu bahwa tatabahasa
harus memasukkan semantik, bukan saja fonologi,
morfologi, dan sintaksis; meskipun masih hanya
mencakup kompetensi.
 Pembatasan kajian bahasa pada segi kompetensi dan
semantik ini dirasa tidak wajar bagi para linguis yang
ingin mengkaji pengaruh bahasa di masyarakat.
Beberapa linguis mulai terpengaruh karya filsuf-filsuf
seperti Austin (1962), Searle (1971), dan Grice (1964)
terutama dalam bidang pertuturan (speech acts). Oleh
sebab itu, timbullah perkembangan di bidang
semantik dan pragmatik dalam linguistik.

22
 Mengapa pragmatik muncul sebagai ilmu
yang otonom?
Ada dua alasan yang mendasari munculnya
pragmatik.
1. Adanya kesadaran para linguis untuk menguak
hakekat bahasa yang sebenarnya yaitu bagai-
mana bahasa digunakan dalam komunikasi.
2. adanya Rasa tidak puas terhadap analisis
bahasa /linguistik yang dilakukan oleh kaum
tradisional/struktural yang hanya mengkaji
bahasa secara formal, secara
fisik yang hanya dapat dilihat, diamati saja
sehingga bahasa dianalisis hanya pada aspek
bentuk saja, sedangkan aspek makna
diabaikan. Akibatnya permasalahan-
permasalahan bahasa yang hakiki
tidak dapat dipecahkan.
 Latar Belakang Sejarah Munculnya pragmatik
 Munculnya pragmatik diawali dari perkembangan
linguistik era :
1. Bloomfield, pada era ini kajian bahasa hanya
sebatas fonetik, fonemik dan sedikit morfologi.
Sintaksis pada masa ini dipandang sesuatu yang
abstrak yang jauh berada di luar jangkauan
mereka.
2. Chomsky tahun 50-an, ia mulai mengadakan
perubahan khususnya mengenai sintaksis. Ia
menemukan sentralitas sintaksis dalam kajian
bahasa, akan tetapi seperti halnya linguistik
tradisional / struktural masih memandang makna
sebagai sesuatu yang terlalu rumit untuk
dianalisis.
3. Katz pada tahun 60-an dan kawan-kawan mulai
. Mulai tahun ini , ia menemukan cara
mengintergrasikan makna dalam teori linguistik
sehingga keberadaan semantik mulai
diperhitungkan oleh para ahli bahasa.
4. Lakoff dan Ross pada th 1971 menegaskan
bahwa sintaksis tidak dapat dipisahkan dari
kajian pemakaian bahasa. Hal ini juga
dikemukakan oleh Leech (1983) bahwa dalam
pemakaian bahasa, tuturan-tuturan itu
akan berupa kalimat-kalimat. Secara tidak
langsung pada masa ini makna telah diakui
sebgai bagian yang tak terpisahkan dari bahasa,
maka sulit diingkari bahwa kalimat2 yg
digunakan untuk komunikasi selalu diikuti oleh
konteks. Hal ini menunjukan pentingnya
konteks dalam pemakaian bahasa.
.
5.Leech (1983), Kaswanti Purwa (1990)
menyatakan bahwa makna telah diakui sebagai
bagian yg tidak terpisahkan dari bahasa, maka
konteks pemakaian bahasa sangat penting
karena makna itu selalu berubah ubah
berdasarkan konteks pemakaian itu.
6.Firth menyatakan bahwa kajian bahasa tidak
dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan
konteks .
7.Halliday memandang studi bahsa sebagai
kajian tentang sistem tanda. Menurutnya
bahasa sistem makna yang membentuk budaya
manusia krn sistem makna berkaitan dengan
struktur masyarakat.
Kesimpulan:
Mulai dari Lakoff ke bawah kajian bahasa
sudah memperhitungkan konteks. Ini berarti
sudah mengarah pada kajian pragmatik.
Istilah pragmatik pertama kali muncul
digunakan oleh Charles Morris. Menurut
beliau, pragmatik merupakan salah satu
cabang dari ilmu tanda atau semiotics.
Cabang yang lain adalah semantik dan
sintaktik. Semantik adalah hubungan antara
tanda-tanda dengan objek , sintaktik
merupakan studi relasi formal tanda-tanda;
dan pragmatik mengkaji hubungan antara
tanda dengan penafsir (interpreters)
Pragmatik mulai dikenalkan di Indonesia
dalam kurikulum bahasa Indonesi tahun 1984
 Semantik  Pragmatik
- mempelajari makna - mempelajari makna
scr internal scr eksternal
- makna yg ditelaah - makna yg ditelaah
semantik adalah adalah makna
makna yang bebas konteks
konteks - makna yg menjadi
- makna yg menjadi kajian adalah
kajian adalah maksud
makna penutur (speaker
lingistik/semantik meaning)
- makna yg dikaji - makna yg ditelaah
bersifat diadis bersifat triadis
MAKNA INTERNAL DAN MAKNA EKSTERNAL

Contoh:
(1) Prestasi belajarnya sangat bagus sehingga ia
mendapatkan bia siswa.

(2) Ayah: “Bagaimana ulangan matematikamu,


Der?”
Dery: “Wah, hanya dapat 5, yah.
Ayah: “Bagus, besok nggak usah belajar,
main PS terus”.
Perbedaan titik sorot keberatan
pragmatik dan sosiolinguistik

Pragmatik Sosiolinguistik

 Pragmatik berkeberatan  Sosiolinguistik keberatan thd


thd analisis bahasa kaum konsep masyarakat kaum
struktural yang semata- struktural yg menganggap
mata mengkaji bahasa bahwa masyarakat itu
hanya berorientasi pada
homogen, ini dipandang
bentuk, hal-hal yg
terlalu abstrak dan ideal. Bagi
teramati, tanpa
mempertimbangkan sosiolinguistik masyarakat itu
bahwa satuan2 lingual bersifat hiterogen dan bahasa
itu hadir dalam konteks yang digunakan selalu
baik konteks yang menunjukkan berbagai variasi
bersifat lingual (co-text) bahasa akibat keragaman latar
maupun konteks yang belakang sosial budaya
bersifat ekstralingual penuturnya. Akibatnya wujud
berupa setting spatial, bahasa yg digunakan berbeda-
temporal. beda berdasarkan faktor sosial
dalam situasi pertuturan.
 Situasi tutur adalah situasi tertentu yg
selalu menyetai ketika berlangsungnya
peristiwa tutur atau komunikasi. Situasi
tutur sering juga disebut juga konteks.
 Sebagaimana telah dijelaskan di muka
bahwa pragmatik merupakan kajian
bahasa yg terikat konteks. Sebuah
tuturan dapat digunakan menyampaikan
beberapa maksud dan sebaliknya satu
maksud dapat disampaikan dengan
beraneka ragam tuturan.
Sehubungan dengan beraneka ragamnya
maksud yang mungkin dikomunikaskan oleh
penutur dalam sebuah tuturan kepada mitra
tutur, senantiasa harus dipertimbangkan
dalam studi pragmatik, yaitu : aspek-aspek
situasi tutur:
1. Penutur dan mitra tutur-
/penulis-pembaca.
Aspek yg berkaitan
dengan ini adalah usia, latar
belakang sosial ekonomi, jenis
kelamin, tingkat keakraban dll.
Contoh:
Dhika: “Hai, Wa, kapan datang?
Dewa: “Barusan”
Dhika: “Cepet mandi, kamu dah ditunggu
teman-teman untuk bakti sosial ke
Kulon Progo.
Dari percakapan di atas dapat dilihat bahwa
Dhika sebagai penutur, Dewa sebagai
mitra tuturnya mereka memiliki hubungan
yg sangat akrab. Hal ini dapat dilihat
kata2 yg digunakan banyak menggunakan
kata tdk baku.
Mereka memiliki penget sama dalam topik
pembicaraan. Tujuan utama pembicaan itu
yaitu untuk mengajak Dewa ikut dalam bakti
sosial.
2. Konteks tuturan
Konteks tuturan penelitian linguistik adalah
konteks dalam semua aspek fisik atau latar
belakang sosial yg relevan dengan tuturan
yang bersangkutan. Konteks dalam pragmatik
pada hakekatnya adalah semua latar belakang
pnget. Yg dipahami bersama oleh penutur dan
mitra tutur.
Contoh:
Agus: “Bu, Mas Edo kok belum pulang?
Ibu : “Sudah azan asar ta?
Agus: “Sudah sejak tadi.”
Tuturan di atas merupakan percakapan antara
Agus(anak) sebagai penutur dengan ibunya
sebagai mitra tutur. Jawaban ibu ketika ditanya
Agus terasa janggal, seolah-olah jawaban ibu
tidak memiliki hubungan dengan apa yang
ditanyakan Agus. Mengapa ibu justru
mengatakan tuturan seperti itu? Hal itu dilakukan
oleh Ibu karena Agus dan Ibu sudah memehami
konteks tuturan, yaitu bahwa Edo setiap pulang
selalu tepat azan asar dikumandangkan.
3. Tujuan tuturan
Bentuk-bentuk tuturan yg diutarakan
oleh penutur dilatarbelakangi oleh
maksud dan tujuan tuturan. Bentuk2 tuturan
yang bermacam2 dapat digunakan untuk
menyampaikan satu maksud atau
sebaliknya satu maksud dapat
diungkapkan dengan beraneka ragam
bentuk. Untuk tujuan/maksud
memerintah dapat dengan bentuk kalimat
perintah, kalimat berita dan kalimat
tanya.
4. Tuturan sebagai bentuk tindakan
atau aktivitas
Pragmatik berhubungan dengan tindak
verbal yg terjadi dalam situasi tertentu.
Dalam hubungannya dengan ini
pragmatik menangani bahasa dalam
tingkatan yg konkret di banding
tatabahasa. Tuturan sebagai entintas yg
konkret, jelas penutur dan mitra
tuturnya, serts waktu dan tempat
pengutaraannya.
5.Tuturan sebagai produk tindak verbal
Tuturan merupakan wujud dari tindak
verbal dalam pragmatik.
Contoh:
Bagus: “Dik Sof, mau ke mana?
Sofi : “Saya mau ke kampus, Mas.
Bagus: “Kalau begitu saya antar, ya?
Sofi : “Terima kasih. Saya bawa kendaraan
sendiri.
Tuturan antara Bagus dan Sofi di atas merupakan
produk tindak verbal dalam komunikasi. Penutur
dan mitra tutur saling merespon apa, siapa,
dimana, tujuan dan bagamana sebuah tuturan
terjadi dalam situasi tutur.
PERISTIWA TUTUR
Peristiwa tutur adalah serangkaian tindak
tutur yg terorganisasikan untuk mencapai
suatu tujuan (Suwita, 1994). Sementara
menurut Chaer peristiwa tutur adalah
berlangsungnya interaksi linguistik dalam
satu bentuk ujaran atau lebih yg
melibatkan dua pihak yaitu penutur dan
mitra tutur dengan satu pokok tuturan
dalam waktu, tempat, dan situasi
tertentu.
Terjadinya peristiwa tutur dalam suatu komunikasi
selalu diikuti oleh berbagai unsur yg tak terlepas dari
konteksnya. Menurut Dell Hymes ada beberapa syarat
terjadinya peristiwa tutur yg dikenal dengan akronim
SPEAKING . Ini kepanjangan dari:
1. Setting dan scene: setting berkenaan dengan
waktu dan tempat, scene berkenaan dengan
psikologis pembicara.
2. Participant, pihak-pihak yg terlibat dalam
pertuturan.
3. Ends, merupakan maksud dan tujuan tuturan
4. Act sequance, mengacu pada bentuk dan isi
ujaran.
5. Key, mengacu pada cara dan semangat seorang
penutur dalam menyempeiken pesan.
6. Instrumentalies, mengacu pada jalur bahasa yg
digunakan (lisan atau tulis).
7. Norm of interaction, mengacu pd norma atau
aturan dalam berinteraksi.
8. Genre, mengacu pada bentuk penyampaian suatu
pesan, apakah dalam bentuk puisi, prosa dsb.
Pengetian
Tindak tutur/tindak ujar (speech act) adalah
merupakan gejala individual yang bersifat
psikologis dan keberlangsungan ditentukan oleh
kemampuan bahasa si penutur dalam menhadapi
situasi tertentu.
Dalam tindak tutur lebih dilihat pada makna atau
arti tindakan dalam tuturan.
Contoh:Tuturan “Dingin sekali.” Tuturan ini dapat
memiliki bermacam2 makna /arti di berbagai
situasi yang berbeda.
Tindak tutur merupakan entitas yg bersifat
sentral dalam Pragmatik
Tidak Tutur Versi Austin
Tindak tutur muncul sebagai reaksi terhadap
‘descriptive fallacy’ yaitu pandangan bahwa kalimat
deklaratif selalu digunakan untuk mendeskripsikan
fakta yg hrs dilakukan secara benar atau salah
(Malmkjer, 2006:560). Padahal menurut Austin banyak
kalimat deklaratif yg tdk mendeskripsikan, melaporkan,
atau menyatakan apapun shg tdk bisa dinyatakan benar
salahnya.
Ada 2 jenis ujaran menurut Austin:
1. Tuturan konstantif: Jenis ujaran/tuturan yang
melukiskan suatu keadaan faktual yg isinya
boleh jadi merujuk ke suatu fakta atau kejadian
yg benar2 terjadi pada masa lalu.
2. Tuturan perfomatif: tuturan yg berimplikasikan
dengan tindakan si penutur sekalipun tdk dpt
ditentukan benar–salahnya.
1. Pembedaan tindak lokusi, ilokusi dan
perlokusi. Menurutnya setiap kali penutur
berujar, dia melakukan tiga tindakan secara
bersamaan, yaitu (a) tindak lokusi, (b) tindak
ilokusi dan(c) tindak perlokusi.
2. Akhirnya Austin mengklasifikasikan tindak
tutur menjadi tiga, yaitu
1. Lokusi: tindak fonik, tindak fatik, tindak
retik
2. Ilokusi: verdiktif,eksesrsif, komisif, behavitif
dan ekspositif
3. Perlokusi
 Pada dasarnya klasifikasi tindak tindak tutur
Searle sama dengan tindak tutur Austin. Yang
secara umum tindak tutur dibedakan menjadi
tiga, yaitu :
• 1. locutioner
• 2. Illocutioner
• 3. Pelocutioner
Selanjutnya, Searle memerinci tindak tutur menjadi 5 tindak
tutur, yaitu
(1) Tindak tutur representatif
(2) Tindak tutur direktif
(3) Tindak tutur komisif
(4) Tindak tutur ekspresif dan
(5) Tindak tutur deklaratif
• DALAM ANALISIS PRAGMATIK PEMAHAMAN KONTEKS
SANGAT DIPERLUKAN.
• MENGAPA? .KARENA UNTUK MENGANALISIS SATUAN-
SATUAN BAHASA DALAM SUATU TUTURAN DAPAT
DIJELASKAN BERTOLAK DARI PEMAHAMAN KONTEKS.
• LEECH (1989:13) MENGARTIKAN KONTEKS SEBAGAI
PENGETAHUAN LATAR BELAKANG TUTURAN YG SAMA2
DIMILIKI OLEH PENUTUR (n) DAN MITRA TUTUR (t) DAN
YG MEMBANTU t MENAFSIRKAN MAKNA TUTURAN (T)
DENGAN DEMIKIAN KONTEKS DPT MENGACU PADA T
SEBLM DAN SEUDAH T YG DIMAKSUD., MENGACU PD
KEADAAN SEKITAR YG BERKAITAN DENGAN
KEBIASAAN PARTISIPAN, ADAT ISTIADAT DAN BUDAYA
MASYARAKAT.
 Menurut Leech ( 1989:13) pragmatik adalah studi makna
kaitannya dengan situasi ujaran/situasi tutur (SU). Oleh
karena itu prasyarat yg diperlukan untuk melakukan
analisis pragmatik atas tuturan (T) termasuk T yg
bermuatan imlikatur (IP) adalah situasi ujaran yang
mendukung keberadaan suatu T dalam percakapan. Situasi
ujaran itu meliputi : (1) penutur (n) dan mitra tutur (t), (2)
konteks, (3) tujuan (4) tindak tutur atau tindak verbal, (5)
tuturan (T) sebagai produk tindak verbal, (6) waktu dan (7)
tempat.
 Untuk menganalisis tuturan (T) atau pemecahan masalah
membutuhkan inteligensi manusia yg dapat mencari dan
menemukan pilihan2 kemungkinan berdasarkan bukti
kontektual. Prosedur pemecahan masalah dapat
dipandang dari 2 sudut pandang yaitu: (1) dari sudut
pandang n (penutur), (2) sudut pandang t (petutur) . Dari
sudut pandang n dapat digunakan analisis cara-tujuan yg
menggambarkan keadaan awal, tengah dan akhir.
• Dari sudut pandang t Leech menawarkan pendekatan heuristik.
 Analisis Pragmatik dapat menggunakan 2 model
analisis, yaitu :
1. Dilihat dari sudut pandang n (penutur) dapat digunakan
Analisis Cara-Tujuan yg menggambarkan keadaan awal,
tengah dan akhir.
2. Dari sudut pandang t Leech menawarkan pendekatan
heuristik

Contoh analisis Cara-Tujuan


Dosen ketika mengajar mengatakan “Udaranya panas”.
Tuturan dosen di atas merupakan tindak tutur tidak langsung
(tindakan a) merupakan cara tindak untuk melakukan tindak
tutur lain (tindakan b) dengan mengujarkan Udaranya panas
yg SP-nya itu berilokusi menginformasikan fakta, n
mengimplikasikan kedalam satuan pragmatis (SP) itu ilokusi
yang meminta atau menyuruh t, tetapi berputar dulu dengan
mengujarkan T Udaranya panas sebagai tuturan tidak
langsung untuk sampai pada keadaan akhir yg menjadi
tujuan n mengujarkan T.
TL TPS TPK

TU
1 4
T
a c

2 b 3
Bagan 1. Analisis Cara-tujuan
Keterangan:
1= keadaan awal (n merasa panas)
2= keadaan tengahan pertama (t mengerti bhw n
ingin alat pendingin dinyalakan)
3= keadaan tengahan kedua (t mengerti bahwa n
ingin alat pendingin dinyalakan)
TU = Tujuan utama percakapan untuk mencapai
keadaan 4
TPK = tujuan untuk mentaati PK
TPS = tujuan untuk mentaati PS
TL = tujuan lain
a = tindakan n berupa T= udaranya panas
b = tindakan n berupa ilokusi
meminta/menyuruh
untuk menyalakan alat pendingin
c = tindakan menyalakan alat pendingin
 KONTEK PUN DAPAT MENGACU PADA KONDISISI FISIK,
MENTAL DAN PENGETAHUAN YG ADA DI BENAK n
MAUPUN t . UNSUR WAKTU DAN TEMPAT TERKAIT ERAT
DGN HAL2 TERSEBUT.
 KONTEKS SELALU MEMUAT TUJUAN YG HENDAK DICAPAI
OLEH n .
 TUJUAN DAPAT BERUPA TUJUAN PERSONAL YG
DICERMINKAN OLEH PROPOSISI (P) PADA T ATAU
BERUPA TUJUAN SOSIAL SEPERTI MENTAATI PRINSIP
PRAGMATIK YG BERUPA PRINSIP KERJA SAMA (PK)
DAN PRINSIP SOPAN SANTUN (PS). TUJUAN PERSONAL
LAZIMNYA DICAPAI MELALUI TUJUAN2 SOSIAL.
 DALAM HAL INI LEECH LEBIH TEPAT MEMAKAI ISTILAH
TUJUAN ATAU FUNGSI DARI PADA MEMAKAI MAKNA YG
DIMAKSUD n ATAU MAKSUD n MENGUCAPKAN
SESUATU,
 BERKAITAN ERAT DGN TUJUAN ADALAH TINDAK TUTUR,
TERUTAMA TINDAK ILOKUSI ATAU BIASANYA HANYA
DISEBUT ILOKUSI.
 TINDAK ILOKUSI ITU BERPERAN MENEGOSIASIKAN SUATU
P DI ANTARA n DAN t DALAM KOMUNIKASI.
 KONTEK PUN DAPAT MENGACU PADA KONDISISI FISIK,
MENTAL DAN PENGETAHUAN YG ADA DI BENAK n
MAUPUN t . UNSUR WAKTU DAN TEMPAT TERKAIT ERAT
DGN HAL2 TERSEBUT.
 KONTEKS SELALU MEMUAT TUJUAN YG HENDAK DICAPAI
OLEH n .
 TUJUAN DAPAT BERUPA TUJUAN PERSONAL YG
DICERMINKAN OLEH PROPOSISI (P) PADA T ATAU
BERUPA TUJUAN SOSIAL SEPERTI MENTAATI PRINSIP
PRAGMATIK YG BERUPA PRINSIP KERJA SAMA (PK)
DAN PRINSIP SOPAN SANTUN (PS). TUJUAN PERSONAL
LAZIMNYA DICAPAI MELALUI TUJUAN2 SOSIAL.
 DALAM HAL INI LEECH LEBIH TEPAT MEMAKAI ISTILAH
TUJUAN ATAU FUNGSI DARI PADA MEMAKAI MAKNA YG
DIMAKSUD n ATAU MAKSUD n MENGUCAPKAN
SESUATU,
 BERKAITAN ERAT DGN TUJUAN ADALAH TINDAK TUTUR,
TERUTAMA TINDAK ILOKUSI ATAU BIASANYA HANYA
DISEBUT ILOKUSI.
 TINDAK ILOKUSI ITU BERPERAN MENEGOSIASIKAN SUATU
P DI ANTARA n DAN t DALAM KOMUNIKASI.