Anda di halaman 1dari 26

PERANAN HAM DALAM

KASUS HUKUMAN MATI,


ABORSI, EUTANASIA,
DAN GENOSIDA DI
DALAM ATAUPUN LUAR
NEGERI
Disusun oleh: Kelompok 3

1. Evita Maulidaturrahma (16521100)


2. Dea Sabila Putri Amanda (16521103)
3. Irfansyah (16521115)
4. Yusril Fahmi Nabu (16521122)
5. RR. Puspita Ratna Dewi (16521135)
6. Abdul Fath Satria Habibi (16521137)
7. Tri Wahyuni Tia (16521139)
8. Labbaika Salsabila Sulist (16521141)
PERANAN HAM DALAM
KASUS HUKUMAN MATI
Hukuman mati adalah suatu hukuman atau vonis yang
dijatuhkan pengadilan sebagai bentuk hukuman terberat
yang dijatuhkan atas seseorang akibat perbuatannya.

Saat ini Indonesia menerapkan ancaman hukuman mati


dalam sejumlah peraturan perundang – undangannya
seperti pada Kitab Undang – Undang Hukum Pidana
(KUHP), UU Narkotika, UU Anti Korupsi, UU Anti
Terorisme dan UU Pengadilan HAM.
Mengenai pelaksanaan eksekusi hukuman mati diatur
dalam Undang-Undang No.2/PNPS/1964 tentang Tata
Cara Pelaksanaan Pidana Mati yang dijatuhkan oleh
pengadilan di lingkungan peradilan umum dan militer.

Sedangkan tata pelaksanaannya diatur dalam Peraturan


Kapolri No.12 Tahun 2010 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Pidana Mati.
“Apakah hukuman mati itu melanggar hak asasi manusia
yang tidak bisa dikurangi?” seperti pada Pasal 28i ayat 1
UUD 1945 yang berbunyi :

“Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak


kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak
untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi
dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas
dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia
yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun”.

Pasal 28A sampai dengan 28J merupakan suatu bentuk


ketentuan – ketentuan hak asasi manusia di UUD 1945
yang ditambah saat amandemen kedua pada tahun 2000
dan menjadi terobosan terhadap pengakuan hak asasi
manusia.
Hanya 68 negara yang masih menerapkan praktik
hukuman mati, termasuk Indonesia, dan lebih dari
setengah negara-negara di dunia telah menghapuskan
praktik hukuman mati. Ada 88 negara yang telah
menghapuskan hukuman mati untuk seluruh kategori
kejahatan, 11 negara menghapuskan hukuman mati
untuk kategori kejahatan pidana biasa, 30 negara
negara malakukan moratorium (de facto tidak
menerapkan) hukuman mati, dan total 129 negara
yang melakukan abolisi (penghapusan) terhadap
hukuman mati.
Terdapat beberapa cara pelaksanaan hukuman mati:

* pancung kepala: Saudi Arabia dan Iran,


* sengatan listrik: Amerika Serikat
* digantung: Mesir, Irak, Iran, Jepang, Yordania,
Pakistan, Singapura
* suntik mati: Tiongkok, Guatemala, Thailand, AS
* ditembak dibalik tirai: Thailand, Vietnam
* tembak: Tiongkok, Somalia, Taiwan, Indonesia, dan
lain-lain
* rajam: Arab, Afganistan, Iran (khusus pelaku zina
yang sudah bersuami/beristri)
PERANAN HAM DALAM
KASUS HUKUMAN ABORSI
Menggugurkan kandungan atau dalam dunia
kedokteran dikenal dengan istilah “abortus”. Berarti
pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan
sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup
dari janin sebelum diberi kesempatan untuk
bertumbuh. Aborsi adalah masalah yang menstimulasi
diskusi sengit tentang moralitas, hak-hak wanita
ntuk mengontrol tubuh dan reproduksi mereka, dan
awal kehidupan.
Aborsi dilakukan oleh seorang wanita hamil - baik
yang telah menikah maupun yang belum menikah
dengan berbagai alasan. Akan tetapi alasan yang
paling utama adalah alasan-alasan yang non-medis
(termasuk jenis aborsi buatan / sengaja).

Ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan soal


aborsi & penyebabnya dapat dilihat pada:

- KUHP Bab XIX Pasal 229,346 s/d 349


- UU HAM, pasal 53 ayat 1(1)
- UU Kesehatan, pasal 75-77
 Kebijakan aborsi di Amerika

Pro Live berargumen bahwa setiap manusia termasuk


yang belum lahir memiliki hak untuk hidup, dan hak
seseorang untuk hidup merupakan bagian dari Hak
Asasi Manusia universal, sementara kelompok pro
choise beranggapan bahwa seorang perempuan berhak
menentukan pilihan atas tubuhnya, dan hak
menentukan pilihan adalah hak asasi manusia yang
harus dilindungi.
 Kebijakan aborsi di Indonesia

Aborsi dianggap ilegal kecuali atas alasan medis untuk


menyelamatkan nyawa sang ibu. Oleh karena itulah praktek
aborsi dapat dikenai pidana oleh negara.

Akan tetapi bisakah Indonesia digolongkan dalam kubu pro


live. Jawabnya bisa ya bisa tidak. Walaupun kebijakan
pemerintah Indonesia dengan melarang parktek aborsi
condong ke kubu pro live akan tetapi kebijakan lainnya
justru mendorong terjadinya praktek aborsi.

Diantaranya larangan bagi siswa/i yang masih duduk di


bangku sekolah dasar dan menengah untuk menikah.
Kebijakan inilah yang mendorong terjadinya praktek aborsi,
siswi yang hamil akan dikeluarkan dari sekolah dan dilarang
untuk melanjutkan studynya, selain oleh karena tekanan
orang tua, masyarakat dan lingku-ngan. Karena itulah aborsi
menjadi pilihan terbaik dari yang terburuk yang bisa diambil
oleh seorang remaja hamil diluar nikah.
PERANAN HAM DALAM
KASUS HUKUMAN
EUTANASIA
Euthanasia pada hakekatnya pembunuhan atas dasar
perasaan kasihan, sebenarnya tidak lepas dari apa
yang disebut hak untuk menentukan nasib sendiri
pada diri pasien.

Dilihat dari orang yang membuat keputusan


euthanasia dibagi menjadi:
 Voluntary euthanasia, jika yang membuat
keputusan adalah orang yang sakit
 Involuntary euthanasia, jika yang membuat
keputusan adalah orang lain seperti pihak keluarga
atau dokter karena pasien mengalami koma medis.
Eutanasia ditinjau dari sudut cara pelaksanaannya :

• Eutanasia agresif, disebut juga eutanasia aktif, adalah


suatu tindakan secara sengaja yang dilakukan oleh
dokter atau tenaga kesehatan lainnya untuk
mempersingkat atau mengakhiri hidup seorang pasien.
• Eutanasia non agresif, digolongkan sebagai eutanasia
negatif, yaitu kondisi dimana seorang pasien menolak
secara tegas dan dengan sadar untuk menerima
perawatan medis meskipun mengetahui bahwa
penolakannya akan memperpendek atau mengakhiri
hidupnya.
• Eutanasia pasif, dapat juga dikategorikan sebagai
tindakan eutanasia negatif, dilakukan dengan
memberhentikan pemberian bantuan medis yang dapat
memperpanjang hidup pasien secara sengaja.
Eutanasia ditinjau dari sudut pemberian izin :

• Eutanasia di luar kemauan pasien: yaitu suatu


tindakan eutanasia yang bertentangan dengan
keinginan si pasien untuk tetap hidup. Tindakan
eutanasia semacam ini dapat disamakan dengan
pembunuhan.
• Eutanasia secara tidak sukarela: hal ini terjadi
apabila seseorang yang tidak berkompeten atau
tidak berhak untuk mengambil suatu keputusan
misalnya statusnya hanyalah seorang wali.
• Eutanasia secara sukarela : dilakukan atas
persetujuan si pasien sendiri, namun hal ini juga
masih merupakan hal controversial.
Eutanasia Menurut Hukum di Beberapa Negara :

 Belanda : pada tanggal 10 April 2001 Belanda


menerbitkan undang-undang yang mengizinkan eutanasia.
Undang-undang ini dinyatakan efektif berlaku sejak tanggal
1 April 2002, yang menjadikan Belanda sebagai negara
pertama di dunia yang melegalisasi praktik eutanasia.
 Australia : negara bagian Australia, Northern Territory,
menjadi tempat pertama di dunia dengan UU yang
mengizinkan euthanasia dan bunuh diri berbantuan, meski
reputasi ini tidak bertahan lama. Tetapi bulan Maret
1997 ditiadakan oleh keputusan Senat Australia
 Belgia : parlemen Belgia telah melegalisasi tindakan
eutanasia pada akhir September 2002.
 Amerika : eutanasia agresif dinyatakan ilegal di banyak
negara bagian di Amerika.
 Indonesia : berdasarkan hukum di Indonesia maka eutanasia
adalah sesuatu perbuatan yang melawan hukum.
Beberapa Aspek Euthanasia :

 Aspek Hukum.
Dalam aspek hukum, dokter selalu pada pihak yang
dipersalahkan dalam tindakan euthanasia, tanpa melihat
latar belakang dilakukannya euthanasia tersebut.
 Aspek Hak Asasi.
Hak asasi manusia selalu dikaitkan dengan hak hidup,
damai dan sebagainya. Tapi tidak tercantum dengan jelas
adanya hak seseorang untuk mati. Mati sepertinya justru
dihubungkan dengan pelanggaran hak asasi manusia.
 Aspek Ilmu Pengetahuan.
Pengetahuan kedokteran dapat memperkirakan
kemungkinan keberhasilan upaya tindakan medis untuk
mencapai kesembuhan atau pengurangan penderitaan pasien
Euthanasia Dipandang Dari Aspek Hukum Indonesia :

Dokter dan keluarga yang memberikan izin dalam


pelaksanaan tindakan tersebut dapat dijeratkan
dengan pasal 345 KUHP dengan acaman penjara
selama-lamanya empat tahun penjara
PERANAN HAM DALAM
KASUS HUKUMAN
GENOSIDA
Genosida adalah sebuah pembantaian besar-besaran
secara sistematis terhadap satu suku bangsa atau
kelompok dengan maksud memusnahkan (membuat
punah) bangsa tersebut.

Didunia internasional, Genosida merupakan satu dari


empat pelanggaran HAM berat. Di Indonesia Genosida
diatur dalam UU no. 26 tahun 2000 tentang
pengadilan HAM yang dijelaskan pada Pasal 7 dan
Pasal 8.
 Contoh kasus yang terjadi di Indonesia

Pembantaian di Indonesia 1965–1966 (terkadang disebut sebagai


Genosida di Indonesia) adalah peristiwa pembantaian terhadap
orang-orang yang dituduh komunis di Indonesia pada masa setelah
terjadinya Gerakan 30 September di Indonesia. Diperkirakan lebih
dari setengah juta orang dibantai dan lebih dari satu juta orang
dipenjara dalam peristiwa tersebut. Pembersihan ini merupakan
peristiwa penting dalam masa transisi ke Orde Baru: Partai
Komunis Indonesia (PKI) dihancurkan, pergolakan mengakibatkan
jatuhnya presiden Soekarno, dan kekuasaan selanjutnya diserahkan
kepada Soeharto.

Sampai saat ini kasus Genosida(pembantaian) anggota-anggota


PKI ini masih kontroversial dan belum menemui titik terang akan
siapa dalang sebenarnya dari kasus ini karena minimnya informasi
sejarah tentang terjadinya G30S/PKI. Namun banyak para ahli
yang berpendapat bahwa yang menjadi pelaku dari kasus ini
adalah mantan presiden RI Soeharto.
 Contoh kasus genosida di dunia

Pembantaian di Rwanda, yang di dunia internasional juga dikenal


sebagai genosida Rwanda, adalah sebuah pembantaian 800.000
suku Tutsi dan Hutu moderat oleh sekelompok ekstremis Hutu
yang dikenal sebagai Interahamwe yang terjadi dalam periode 100
hari pada tahun 1994.

Peristiwa ini bermula pada tanggal 6 April 1994, ketika Presiden


Rwanda, Juvenal Habyarimana menjadi korban penembakan saat
berada di dalam pesawat terbang. Beberapa sumber menyebutkan
Juvenal Habyarimana tengah berada di dalam sebuah helikopter
pemberian pemerintah Perancis. Saat itu, Habyarimana yang
berasal dari etnis Hutu berada dalam satu heli dengan presiden
Burundi, Cyprien Ntarymira. Disinyalir, peristiwa penembakan
keji itu dilakukan sebagai protes terhadap rencana Presiden
Habyarimana untuk masa depan Rwanda. Habyarimana berencana
melakukan persatuan etnis di Rwanda dan pembagian kekuasaan
kepada etnis-etnis itu.
 Penyelesaian kasus genosida Rwanda

Konvensi Genosida mulai berlaku sejak tanggal 12 Januari 1952,


dan sudah diratifikasi oleh banyak negara seperti konvensi-
konvensi Jenewa, Konvensi Genosida memberikan kewajiban
mutlak untuk mengadili orang-orang yang bertanggung jawab
atas genosida.

Berbagai upaya mengakhiri kekerasan selalu saja gagal sampai


akhirnya dicapai kesepakatan gencatan senjata pada tahun
1992.Bernard Munyagishari, seorang pimpinan kelompok etnis
Hutu yang bertanggung jawab atas pembantaian massal di
Rwanda, ditangkap di Kongo. Munyagishari ditahan dan dibawa
ke Kinshasa, Ibu Kota Kongo. Dia dituduh memimpin milisi
Interahamwe yang terlibat dalam aksi perkosaan dan
pembunuhan massal terhadap etnis Tutsi. Dewan Keamanan PBB
sangat menyambut tertangkapnya Munyagishari dan
mengucapkan selamat terhadap otoritas yang berhasil dalam
kerja samanya dengan mahkamah internasional. Dewan Keamanan
PBB juga masih mencari beberapa buronan lainnya yang terkait
dalam kasus yang sama.
PERTANYAAN