Anda di halaman 1dari 16

Paradigma Ilmu Pengetahuan Sosial

septilia Eva Puspahani

Naimatul
Hasanah
Assumptions about the Nature
of Social Science
Ontology: the branch of metaphysics dealing with the nature of being.

Epistemology: the theory of knowledge, especially with regard to its


methods, validity, and scope.

Human Nature: the general psychological characteristics, feelings, and


behavioral traits of humankind, regarded as shared by all humans.

Methodology: a system of methods used in a particular area of study or


activity
Nominalism vs. realism: the Anti-positivism vs. positivism:
ontological debate the epistemological debate

• Nominalism adalah doktrin yang • Antipositivism (atau interpretivism)


universal atau ide-ide umum yang adalah pandangan bahwa dunia
mana hanya berupa nama belaka sosial mungkin tidak sesuai dengan
tanpa realitas yang sesuai, dan metode penyelidikan yang sama
bahwa hanya objek tertentu yang seperti dunia alami; akademisi itu
ada; properti, angka, dan perangkat harus menolak empirisme dan
dianggap hanya sebagai fitur dari metode ilmiah dalam melakukan
cara mempertimbangkan hal-hal penelitian sosial
yang ada. • Positivism merupakan sistem filosofis
• Realism adalah doktrin yang yang berpendapat bahwa setiap hal
universal ada di luar pikiran; yang rasional dapta dibenarkan.
sebuah teori yang menolak Penegasan dapat diverifikasi secara
persepsi indra atau kognisi ada ilmiah atau dengan bukti logis atau
secara independen dari pikiran. matematis.
Ideographic vs. nomothetic
Voluntarism vs. determinism: theory: the methodological
the human nature debate debate

• Voluntarism adalah doktrin bahwa • Metode idiografis berfokus pada


"kehendak" adalah faktor dasar, kasus atau peristiwa individual ...
Menganggap bahwa manusia tidak untuk menghasilkan
bersifat bebas dan independen. pernyataan umum.
• Determinism adalah doktrin bahwa • Metode nomotetik, di sisi lain,
semua peristiwa, termasuk berupaya menghasilkan umum
tindakan manusia, pada akhirnya pernyataan yang menjelaskan pola
ditentukan oleh sebab-sebab sosial yang lebih besar, yang
eksternal pada yaitu, manusia membentuk konteks peristiwa
secara individu tidak memiliki terkait perilaku individu, dan
kebebasan, dan aktifitasnya pengalaman.
ditentukan oleh situasi dan
lingkungan tempat dia berada.
Assumptions about the Nature
of Social Science
Subjective Subjective
approach to approach to
social science social science

Nominalism Ontology Realism

Anti - Positivism Epistemology Positivism

Voluntarism Human
Nature Determinism

Ideographic Methodology Nomothetic


ASSUMPTIONS ABOUT THE NATURE
OF SOCIETY

The Order – Conflict Debate

By Parsons by Dahrendorf

The Order or Integration The Conflict or Coercion


Stability Change
Integration Conflict

Functional Co-ordination Disintegration

Concencus Coercion
The integration theory of society
(by Parsons)

Stability Setiap masyarakat adalah struktur atau


elemen yang relatif persisten dan stabil

Integrati Setiap masyarakat adalah struktur elemen


on yang baik

Functiona
Setiap elemen dalam masyarakat memiliki
l fungsi. Yaitu menjadikan atau berkontribusi
Coordinat pada pemeliharaannya sebagai suatu
ion sistem
Setiap struktur sosial yang berfungsi
Concen didasarkan pada konsensus nilai di antara
cus anggotanya
The conflict theory of society
(by Dahrendorf)

Setiap masyarakat di setiap titik tunduk


Change
pada proses perubahan

Setiap masyarakat memperlihatkan semua


Conflict titik pertikaian dan konflik.

Setiap elemen dalam sebuah sosial


Disintegra
tion memberikan kontribusi pada disintegrasi
dan perubahannya.

Setiap masyarakat didasarkan pada


Coercio paksaan anggotanya oleh yang lain
n
Regulation and Radical Change

The regulation-radical change dimension

The sociology of The sociology of RADICAL


REGULATION CHANGE
is concerned with: is concerned with:
The status quo Radical change
Social order Structural conflict
Consensus Modes of domination
Social integration and
Contradiction
cohesion
Solidarity Emancipation

Need satisfaction Deprivation

Actuality Potentiality
TWO DIMENSIONS: FOUR PARADIGMS
(Gibson Burrel dan Gareth Morgan, 1978)

Perpaduan dari dua dimensi dan teori tentang


masyarakat melahirkan empat paradigma:

FUNGSIONALIS INTERPRETiF

HUMANIS STRUKTURALIS
RADIKAL RADIKAL
TWO DIMENSIONS: FOUR PARADIGMS
(Gibson Burrel dan Gareth Morgan, 1978)

THE SOCIOLOGY OF RADICAL CHANGE

Radical Radical
Humanism Structuralism

SUBJECTIVE OBJECTIVE

Interpretism Functionalist
sociology sociology

THE SOCIOLOGY OF REGULATION


Paradigma Fungsionalis
• Dasar : pendekatan terhadap sosiologi regulasi dengan
menggunakan sudut pandang objektif.
• Pendekatan ini cenderung berasumsi bahwa dunia sosial terdiri dari
artefak empiris yang konkret dan hubungan yang dapat
diidentifikasi, dipelajari dan diukur melalui pendekatan yang berasal
dari ilmu alam
• Karakter dan ciri khas dari paradigma ini adalah fokus pada
penjelasan-penjelasan mengenai status quo, keteraturan sosial,
konsensus, integrasi sosial, solidaritas, pemenuhan kebutuhan dan
aktualisasi, berakar pada tradisi positivisme sosiologis.
• Dalam pendekatannya dengan ilmu sosial, cenderung realisme,
positivisme, determinisme dan nomothetic
Paradigma Interpretif
• Dasar : pendekatan terhadap sosiologi regulasi dengan pendekatan
subyektif.
• Karakteristik dan ciri khas dari paradigma interpretif ini menekankan
untuk memahami dunia apa adanya, untuk memahami dasar alam dunia
ilmu sosial pada level pengalaman subyektif, menjelaskan dalam dunia
kesadaran seseorang dan subjektivitas yang mana peneliti terlibat
langsung bukan sebgai pengamat.
• Asumsi dasar : Memandang dunia sosial sebagai proses yang diciptakan
oleh individu, bahwa dalam ilmu pengetahuan alam, masalah subyeknya
bersifat spiritual, bahwa ilmu pengetahuan terbentuk secara sosial dan
terjaga secara sosial
• Pendekatannya dengan ilmu sosial cenderung nominalisme, anti-
positivisme, voluntarisme dan ideographic
Paradigma Humanis Radikal
• Dasar : Paradigma yang dibentuk karena adanya kepedulian dalam
mengembangkan sosiologi perubahan radikal menggunakan sudut
pandang subjektif yang berpijak pada kesadaran manusia
• Karakteristik dan ciri khas : sebuah masyarakat penting membuang atau
melanggar batas-batas yang ada dalam pengaturan sosial.
• Asumsi dasar : bahwa realitas tercipta dan terpelihara secara sosial,
bahwa kesadaran manusia telah di kuasai atau dibelenggu oleh supra
struktur idiologis di luar dirinya yang menciptakan pemisah antara dirinya
dengan kesadarannya yang murni (alienasi), atau membuatnya dalam
kesadaran palsu (false consciousness) yang menghalanginya mencapai
pemenuhan dirinya sebagai manusia sejati.
• Pendekatannya terhadap ilmu sosial memiliki banyak kesamaan dengan
paradigma interpretif, yaitu memandang dunia sosial dari perspektif kaum
nominalis, anti-positivism, voluntarisme dan ideographic.
Paradigma Humanis Radikal
• Dasar : Paradigma yang dibentuk karena adanya kepedulian dalam
mengembangkan sosiologi perubahan radikal menggunakan sudut
pandang subjektif yang berpijak pada kesadaran manusia
• Karakteristik dan ciri khas : sebuah masyarakat penting membuang atau
melanggar batas-batas yang ada dalam pengaturan sosial.
• Asumsi dasar : bahwa realitas tercipta dan terpelihara secara sosial,
bahwa kesadaran manusia telah di kuasai atau dibelenggu oleh supra
struktur idiologis di luar dirinya yang menciptakan pemisah antara dirinya
dengan kesadarannya yang murni (alienasi), atau membuatnya dalam
kesadaran palsu (false consciousness) yang menghalanginya mencapai
pemenuhan dirinya sebagai manusia sejati.
• Pendekatannya terhadap ilmu sosial memiliki banyak kesamaan dengan
paradigma interpretif, yaitu memandang dunia sosial dari perspektif kaum
nominalis, anti-positivism, voluntarisme dan ideographic.
Paradigma Strukturalis Radikal
• Dasar : dimulai dari pandangan sosiologi perubahan radikal dari sudut
pandang objektif
• Karakteristik dan ciri khas : membahas isu-isu perubahan radikal,
emansipasi, dan kemampuan, analisis yang menekankan konflik structural,
dominasi, kontradiksi, dan pengambil alihan
• Asumsi dasar : hubungan-hubungan structural yang terdapat dalam
kenyataan sosial yang nyata.
• Pendekatan ilmiah yang dianut memiliki beberapa persamaan dengan
kaum fungsionalis, tetapi mempunyai tujuan akhir yang saling berlawanan.
sehingga pendekatannya cenderung realisme, positivisme, determinisme
dan nomothetic.
• Strukturalisme radikal menekankan bahwa perubahan radikal dibangun ke
dalam sifat dan struktur masyarakat kontemporer, dan mereka berusaha
untuk memberikan penjelasan tentang keterkaitan dasar dalam konteks
formasi sosial total.