Anda di halaman 1dari 13

Dissenting Opinions

(Resume BAB VI dari


Buku Kontroversi Hukuman Mati)

Oleh :
Fahmi Firmansyah (7420114131)
Sehabudin (7420114162)
Deya Naufal A (7420114128)
Rifki Firmansyah (7420114157)
PENGANTAR
Bahasan dalam BAB VI ini memaparkan
beberapa pendapat Hakim Konstitusi terhadap
perkara aquo.

Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997


tentang Narkotika
Sepanjang kata-kata ‘pidana mati atau’
terhadap Undang-undang Dasar Negara
Republik Indonesia
Tahun 1945
(UUD 1945)
PERMASALAHAN
Dalam perkara aquo terdapat warga negara
asing (WNA) memohon terhadap Mahkamah
Konstitusi bahwa Pasal 51 Ayat (1) huruf a UUMK
bertentangan dengan Pasal 28D Ayat (1) UUD 1945
karena pasal a quo menyatakan bahwa yang
mempunyai kualifikasi sebagai pemohon dalam
pengujian undang-undang terhadap UUD 1945
adalah perorangan warga negara Indonesia.
Maka dari itu menyebabkan pemohon yang
berstatus warga negara asing (WNA) tidak
mempunyai legal standing untuk melakukan
permohonan tersebut kepada Mahkamah.
Terhadap putusan Mahkamah
Konstitusi tersebut, empat orang
Hakim Konstitusi mempunyai
pendapat berbeda (dissenting
opinions), yaitu :
1. H. Harjono
2. H. Achmad Roestandi
3. H.M. Laica Marzuki
4. Maraurar Siahaan
Hakim Konstitusi H. Harjono
 Dalam pengujian undang-undang, sebuah putusan
Mahkamah bersifat erga ormes, artinya, apabila sebuah
undang-undang dinyatakan tidak mempunyai kekuatan
hukum mengikat.
 Hal demikian tidak hanya berlaku terhadap Pemohon
saja tetapi juga berlaku terhadap semua orang yang
dirugikan oleh undang-undang yang diuji yang termasuk
didalamnya adalah warga negara Indonesia.
 Materi undang-undang yang dimohonkan untuk diuji oleh
Pemohon WNA dalam perkara aquo adalah materi yang
berlaku baik untuk warga negara asing maupun untuk
warga negara Indonesia.
 Tetapi Mahkamah menolak hanya atas dasar
semata-mata Pemohonnya adalah WNA hal
demikian akan menimbulkan tertundanya
kepastian hukum
Berdasarkan pertimbangan tersebut
seharusnya Mahkamah memberikan status legal
standing kepada Pemohon WNA dalam kasus
aquo.
Pemberian status legal standing tersebut
dapat dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi
tanpa harus mengabulkan permohonan
pemohon untuk menyatakan Pasal 51 ayat (1)
UUMK sebagai bertentangan dengan UUD 1945
tapi cukup dengan melakukan penafsiran secara
luas terhadap Pasal 51 ayat (1) UUMK.
Hakim Konstitusi H. Achmad Roestandi
Analisis pada masalah konstitusional :
Pasal 28A UUD 1945 berbunyi: Setiap orang
berhak untuk hidup serta berhak untuk hidup
serta berhak mempertahankan hidup dan
kehidupannya.
Dalam Pasal 28I ayat (1) UUD 1945
ditegaskan hak hidup itu merupakan salah
satu hak asasi yang tidak dapat dikurangi
dalam keadaan apa pun. Dengan demikian
pembatasan yang dimungkinkan oleh Pasal
28J ayat (2) tidak bisa diberlakukan terhadap
hak hidup.
Tujuan utama dari pidana mati adalah
mencabut hak hidup seseorang dengan
sengaja. Oleh karena itu, secara terang
benderang bertentangan dengan Pasal 28A
juncto Pasal 28I ayat (1).
Instrumen Internasional.
Norma Agama pun memaparkan bahwa
dapat dilakukan hukuman mati terhadap
kasus Pembunuhan dan Perampokan.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut,
maka H. Achmad Roestandi berpendapat
bahwa permohonan para Pemohon aquo
seharunya dinyatakan dikabulkan.
Hakim Konstitusi H.M. Laica Marzuki
Ada beberapa pertimbangan menurut H.M Laica Marjuki
yg bisa dijadikan pertimbangan oleh mahkamah konstitusi
untuk mengambulkan seluruh permohonan para termohon (baik
WNA dan WNI) dalam perkara pengujian UU Narkoba -
sepanjang kata-kata pidana mati atau terhadap UUD 1945. yaitu :
 Jika merajuk terhadap pasal 51 ayat (1) hurup a UUMK memang
untuk para pemohon yg berwarga negara asing (*WNA) tdk dapat
mengajukan permohonan pengujian undang-undang akan tetapi
terhadap UU Narkoba yg dimohonkan pengujian itu terpaut dengan
hak untuk hidup (right too life) bagi setiap orang sebagaimana
dijamin oleh konstitusi ,pasal 28 a UUD 1945 dan pasal 28 I ayat (1)
UUD 1945.
 Maka sehartusnya ketentuan pasal 51 ayat (1) hurup a UU MK,
tidaklah dapat menghambat upaya permohonan pengujian pasal-
pasal undang-undang yang berkaitan dengan the matter of life and
death, termasuk bagi WNA di negara ini
 Konstitusi pun menjamin perlakuan yg sama bagisetiap orang di
hadapan hukum . Equality before the law
 Hidup adalah karunia allah, tdk dapat dicabut oleh siapaunpun
Hakim Konstitusi Maruarar Siahaan
Legal Standing
Menurut Pasal 16 ICCPR merumuskan bahwa
“everyone shall have the rights to recognition
everywhere as person before the law”, kata
everyone dan everywhere memperjelas bahwa
seorang manusia harus diakui haknya sebagai
pribadi hukum, sehingga memiliki hak-hak
hukum baik di negaranya maupun di negara lain
Seharusnya kewajiban konstitusional negra RI
untuk menjungjung tinggi kewajiban
internasional sebagaimana ditentukan dalam
ICCPR tersebut.
Khusus pemohon a quo menyangkut
pengujian UU NO. 22 Tahun 1997 tentang
Narkotika untuk menguji ancaman pidana
mati yang telah dijatuhkan terhadap
mereka dalam perkara terhadap pasal-
pasal dalam UUD 1945 mengenai hak
untuk hidup.
Hemat kami merupakan hak asasi yang
termasuk dalam ruang lingkup “setiap
orang” yang tidak terbatas hanya kepada
warga negara melainkan juga orang asing
(WNA).
Pokok Permohonan
Beberapa isntrumen yang relevan dan
penting untuk diperhatikan dalam proses
pengujian terutama dalam memahami
pengertian dalam UUD 1945
1. Cita hukum dalam pembukaan UUD 1945
sebagai pandangan hidup atau dasar
falsafah berbangsa dan bernegara
2. Pengaruh instrumen HAM Internasional
3. Hasil-hasil penelitian dan kajian ilmiah
secara kriminologi dan sosiologi tentang
tujuan daan falsafah pemidanaan.;