Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.

“S”DENGAN
GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKLETAL :
FRAKTUR HUMERUS
DI UNIT STO FRANSISKUS
RSU STO. ANTONIUS
PONTIANAK

O L E H : BELDI RINALDI
NIM – NRP UAP : 20110985-0911/ 2014/ A
Latar Belakang

Masalah muskuloskeletal, merupakan masalah


yang sering terjadi didalam kehidupan
manusia. Demikian halnya dengan fraktur.
Fraktur atau patah tulang dapat disebabkan
oleh trauma atau benturan keras dan juga
keadaan yang patologis.
Insiden

Berdasarkan data RSSA Tahun 2013. menurut jenis Kelamin yang paling
banyak menderita fraktur adalah laki-laki : 339 orang, sedangkan
perempuan 154 orang. Ini karena laki-laki lebih tinggi tingkat aktivitasnya
dan resiko kecelakaan pada pekerjaan laki-laki lebih sering, ditambah juga
laki-laki lebih mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi. Sedangkan
jumlah keluar hidup 489 orang dan meninggal tidak ada. Ini karena pada
kejadian fraktur cepat ditangani dan mendapat perawatan dan pengobatan
segera.
Alasan Mengambil Data Fraktur

Berdasarkan data dan penjelasan diatas penulis ingin mengetahui lebih


lanjut tentang perawatan pasien dengan fraktur sehingga penulis menyusun
laporan kasus yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Tn. S dengan
Gangguan Sistem Muskuloskeletal : Fraktur Humerus” Di Unit Sto.
Fransiskus RSU. Sto. Antonius Pontianak dan Dapat menerapkan Asuhan
Keperawatan Pada Tn. S dengan Gangguan Sistem Muskuloskeletal :
Fraktur Humerus.
Definisi

Fraktur humerus adalah fraktur yang terjadi pada tulang


humerus akibat jatuh ataupun trauma. (Brunner &
Suddarth, 2012 : 2372).

Adapun kesimpulan dari definisi diatas fraktur adalah rusak


atau terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai
jenis dan luasnya akibat jatuh ataupun trauma
Gambar Anatomi Fisiologi

Gambar 2.2
Anatomi Ektremitas Atas (R.Putz dan R. Pabts,(2010 : 262)
PATOFLOWDIAGRAM
Pengkajian
• Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan yang
memandang manusia sebagai makhluk yang utuh terdiri dari bio, psiko,
sosial, spiritual sesuai dengan konsep keperawatan yang memandang
manusia sebagai makhluk sosial.
• Sedangkan pada pengamatan kasus pada Tn. S ditemukan tanda dan
gejala yaitu : pasien mengalami nyeri pada punggung kaki kanan dan
bertambah nyeri apabila di gerakkan, skala nyeri 2 – 3, terdapat luka pada
punggung kaki kanan ditutupi verban dan tampak gips di kaki kanan.
Diagnosa Keperawatan

dari pengamatan kasus secara langsung pada Tn. S dengan Gangguan


Muskuloskletal : Fraktur Humerus, penulis merumuskan tiga diagnosa
keperawatan
1. Nyeri yang berhubungan dengan terputusnya kontinuitas fragmen tulang
2. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan rangka
neuromuskuler
3. resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan kerusakan kulit dan
prosedur infansif/ traksi tulang.
Rencana Keparawatan

• Rencana Keperawatan yang diberikan pada Tn. S. Disusun berdasarkan


prioritas masalah.
Adapun, Pada kasus Tn. S dengan Gangguan Sistem Muskuloskletal :
Fraktur Humerus perencanaan dibuat pada dasarnya untuk mengatasi
masalah-masalah yang muncul pada pasien seperti : Nyeri yang
berhubungan dengan kerusakan kontinuitas tulang, kerusakan mobilitas
fisik yang berhubungan dengan kerusakan kontinuitas tulang, resiko tinggi
infeksi yang berhubungan dengan kerusakan jaringan lunak.
Implementasi Keperawatan

• Implementasi merupakan tindakan nyata yang dilakukan


berdasarkan rencana yang sudah dibuat yang bertujuan untuk
merubah dan menghilangkan suatu masalah keperawatan.
• Implementasi untuk masalah keperawatan pertama sampai
keempat dilakukan dari tanggal 22 Mei 2014 sampai dengan
tanggal 24 Mei 2014, penulis tidak mengalami kesulitan yang
berarti dalam melaksanakan implementasi keperawatan. Hal
ini dikarenakan adanya fasilitas yang cukup pada unit
keperawatan serta kerja sama yang baik dengan perawat
ruangan dan keluarga pasien.
Evaluasi Keperawatan

• Berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan didapatkan bahwa ketiga


masalah keperawatan yang ada pada Tn. S teratasi sebagian ditandai
dengan Pasien mengatakan nyeri sudah berkurang lagi pada
punggung kaki kanan, pasien sudah mobilisasi secara bertahap
dengan ditempat tidur dengan dibantu perawat dan keluarga.
Keadaan luka baik, tampak kering dan tidak terlihat adanya tanda-
tanda infeksi. Pasien juga memahami cara perawatan luka di rumah
dan cara penggunaan alat bantu (Gips). Hal ini dikarenakan pada
saat penulis melakukan pengkajian pasien.
Evaluasi Keperawatan

• Berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan didapatkan bahwa ketiga


masalah keperawatan yang ada pada Tn. S teratasi sebagian ditandai
dengan Pasien mengatakan nyeri sudah berkurang lagi pada
punggung kaki kanan, pasien sudah mobilisasi secara bertahap
dengan ditempat tidur dengan dibantu perawat dan keluarga.
Keadaan luka baik, tampak kering dan tidak terlihat adanya tanda-
tanda infeksi. Pasien juga memahami cara perawatan luka di rumah
dan cara penggunaan alat bantu (Gips). Hal ini dikarenakan pada
saat penulis melakukan pengkajian pasien.
Kesimpulan

Setelah melakukan Asuhan Keperawatan selama 3 hari pada Tn.


S dengan Gangguan Sistem Muskuloskletal : Fraktur Humerus,
maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pasien yang dirawat
mengalami kemajuan kesehatan. Sebab pada saat dilakukan
evaluasi masalah nyeri, kerusakan mobilitas fisik, resiko tinggi
infeksi, teratasi sebagian. Tetapi pasien harus melanjutkan
perawatan di RS Santo Antonius Pontianak, untuk penyembuhan
yang lebih lanjut lagi. Dengan alasan tersebut maka dapat
disimpulkan bahwa Asuhan Keperawatan yang diberikan pada
pasien berhasil sebagian.
Saran

• Untuk Tim Kesehatan : agar kerjasama antara


tim kesehatan selalu dibina karena dengan
adanya kerjasama maka asuhan keperawatan
dapat diberikan secara optimal kepada pasien.
• Untuk Institusi Rumah Sakit umum Santo
Antonius : diharapkan dari pihak rumah sakit
untuk bisa menambah tenaga kerja terlatih di
ruang perawatan bedah agar sesuai dengan
standar jumlah pasien sehingga proses
keperawatan dapat berjalan dengan baik.