Anda di halaman 1dari 38

PERDALIN

TUJUAN
Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan:

• Memahami konsep dasar Kewaspadaan Isolasi


• Memahami pelaksanaan kewaspadaan standar dan
kewaspadaan berdasarkan transmisi
• Memahami cara pencegahan penularan dari pasien
ke pasien ,terhadap diri sendiri dan kepada pengunjung RS
MASALAH DI YANKES
HAIs DI SELURUH DUNIA

PENCEGAHAN DAN
PENGENDALIAN LOS  , BIAYA  ,KERUGIAN RS
INFEKSI (PPI) & PS , KECACATAN,KEMATIAN
TUNTUTAN HUKUM, CITRA RS

KEWASPADAAN MEMUTUS MATA


ISOLASI RANTAI INFEKSI
• Suatu kegiatan manajemen dalam perencanaan ,
pelaksanaan dan pengawasan serta pembinaan dalam upaya
mencegah terjadinya infeksi di pelayanan kesehatan

• Melibatkan seluruh personil di pelayanan kesehatan


• Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
– Kewaspadaan Isolasi
• Kewaspadan Standar
• Kewaspadaan berdasarkan transmisi
– Surveilans
– Diklat
– Pencegahan Infeksi
– Penggunaan Antimikroba rasional
Rekomendasi dikategorikan sebagai berikut :

• Kategori I A :
Sangat direkomendasikan untuk seluruh rumah sakit, telah didukung penelitian dan
studi epidemiologi.
• Kategori I B :
Sangat direkomendasikan untuk seluruh rumah sakit dan telah ditinjau efektif oleh
para ahli di lapangan.
Dan berdasar kesepakatan HICPAC (Hospital Infection Control Advisory
Committee) sesuai dengan bukti rasional walaupun mungkin belum dilaksanakan suatu
studi scientifik.
• Kategori II :
Dianjurkan untuk dilaksanakan di rumah sakit. Anjuran didukung studi klinis dan
epidemiologik, teori rasional yang kuat, studi dilaksanakan di beberapa rumah sakit.
• Tidak direkomendasi :
Masalah yang belum ada penyelesaiannnya.
Belum ada bukti ilmiah yang memadai atau belum ada kesepakatan mengenai
efikasinya.
• 1877 (US) : Early Isolation Precaution ;
pemisahan pasien infeksi dengan
non infeksi
• 1890-1900 : Early Isolation Precaution ;
pemisahan pasien sesuai jenis
infeksi dan teknik aseptik
• 1910 : sistem kubikel, gaun, cuci tangan
aseptik,disinfeksi peralatan
• 1950 : RS Infeksi mulai ditutup kecuali TB
• 1960 : RS TB ditutup; TB di RSU di isolasi
• 1970 : Isolation Manual (CDC);
Teknik Isolasi

• 1975 : Isolation Manual direvisi


Strict Isolation,
Respiratory Isolation,
Protective Isolation,
Enteric Precaution,
Wound and skin Precaution,
Blood Precaution
Discharge Precaution
• 1983 :RS mengalami endemik & epidemikterhadap
multidrug resistance muncul patogen baru
(MRSA) peningkatan Isolation Precaution
pasien dirawat di ruang intensif
1981: Isolasi Manual 1983: Isolasi Guideline (CDC)

• Strict Isolation • Strict Isolation


• Respiratory Isolation • Contact Isolation
• Protective Isolation • Respiratory Isolation
• Enteric Precaution • TB Precaution.
• Wound and Skin • Enteric Precaution
Precaution • Drainage Secretion
• Discharge Precaution Protective
• Blood Precaution • Blood and Body Fluid
Precaution
• 1985 : Universal Precaution Epidemik HIV
Praktek Isolasi diubah secara dramatikal
menjadi Universal Precaution (UP) terhadap
Darah dan Cairan Tubuh,sehingga
diterapkan; sarung tangan,gaun,masker,
pelindung mata
• 1988 :Universal Precaution, darah sumber utama
HIV & HBV, waspada terhadap:
• darah, cairan tubuh (semen dan vagina),cairan
amniotic,cerebrospinal,peritoneal,pleural,synovial
• bukan feses, urine, sekret hidung,sputum, keringat, air
mata,muntah, kecuali terkontaminasi darah
Harus mencuci tangan setelah melepas sarung tangan
• 1987 : Body Substance Isolation (BSI)
di Seatle, Washington, San Diego, California;
berfokus terhadap darah, feses,
urine,sputum,saliva,wound drainage,
cairan tubuh lainnya, permukaan tubuh
yang basah dan lembab ditujukan kepada
semua pasien dengan menggunakan
sarung tangan
Tidak perlu cuci tangan setelah melepas
sarung tangan kecuali terkontaminasi

• 1990 : A new Isolation Guideline


Terdiri dari dua lapis:
1.Standard Precaution (gabungan UP& BSI)

2.Transmission Based Precaution


• 1996 :Standard Precaution ditujukan kepada
semua pasien tanpa mempertimbangkan
infeksi atau non infeksi
Standard Precaution meliputi
Kebersihan tangan,
Penggunaan APD (sarung tangan,masker, pelindung mata /
wajah, Gaun/apron),
Peralatan perawatan pasien,
Pengendalian lingkungan ,
Penanganan limbah,
Penanganan linen,
Kesehatan karyawan,
Penempatan pasien
• 1996 : Transmission Based Precaution
ditujukan pada pasien yang infeksi atau
diduga infeksi meliputi ;
Contact Precaution
Airborne Precaution
Droplet Precaution
• Tahun 2007
– Standard Precaution ditambah dengan
– Hygiene respirasi/Etika batuk
– Praktek menyuntik yang aman
– Praktek pencegahan untuk prosedur lumbal punksi

– Hospital Acquired Infection (HAI) menjadi


Healthcare Associated Infections ( HAIs)

– Cuci tangan menjadi kebersihan tangan


KEWASPADAAN ISOLASI

KEWASPADAAN STANDAR ( LAPIS PERTAMA )

Merupakan gabungan dari Universal Precaution dan


Body Substain Isolation
Waspada terhadap darah, cairan tubuh, sekresi dan
ekskresi kecuali keringat
Ditujukan kepada semua pasien tanpa memandang
infeksi atau tidak infeksi

KEWASPADAAN BERDASARKAN TRANSMISI ( LAPIS KEDUA )

Merupakan kewaspadaan tambahan


Ditujukan kepada pasien yang terinfeksi atau diduga infeksi
KEWASPADAAN
STANDAR

Peralatan
Kebersihan tangan perawatan
Penyuntikan pasien
yang aman

Penatalaksanaan
Penggunaan APD
Kebersihan linen
pernapasan/
Etika batik
Pengelolaan limbah Kesehatan
& benda tajam karyawan
Praktek lumbal
punksi
Pengendalian
lingkungan Penempatan pasien
Higiene sal nafas/Etika batuk

 Efektif menurunkan transmisi patogen


droplet melalui saluran nafas (influenza,
adenovirus, B pertusis, Mycoplasma
pneumoniae)

 Petugas dg infeksi sal nafas menjauhi


kontak langsung dg mengenakan masker
Kebersihan Pernapasan
dan
Etika Batuk
Untuk mencegah transmisi semua ISPA
(termasuk influenza,pasien dengan demam
/gejala saluran napas ) harus ditangani
sesuai dengan kebersihan pernapasan dan
etika batuk.
Kebersihan Pernapasan
dan
Etika Batuk
Meliputi:
 Menutup mulut & hidung saat batuk/ bersin;
 Pakai tisu, buang ke tempat sampah (kuning)
bila telah terkena sekret saluran napas dan
 Lakukan cuci tangan dg sabun /antiseptik dan&
air mengalir, alkohol handrub setelah kontak
dengan sekret
 Jaga jarak terhadap orang dg gejala ISPA dg
demam
Praktek menyuntik yang aman

Mencegah KLB akibat


 Pemakaian ulang jarum
steril untuk peralatan
suntik IV beberapa pasien
 Jarum pakai ulang
obat/cairan multidose
dapat menimbulkan infeksi
seperti BSI
Pencegahan Infeksi prosedur LP

• Masker harus dipakai klinisi saat melakukan


lumbal pungsi,anaestesi spinal
/epidural/pasang kateter vena sentral
• Cegah droplet flora orofaring,dapat
menimbulkan meningitis bakterial
KEWASPADAAN
BERDASARKAN TRANSMISI

Airborne/Udara Kontak Droplet/Percikan

TBC MRSA, VRE Avian Influensa, H1N1

Chicken pox Herpes Simplex Meningococcus

Masker N95/ Sarung tangan, Masker bedah,


Respiratorik Gaun pelindung mata dan
wajah
Kewaspadaan Transmisi kontak

Permukaan lingkungan dapat terkontaminasi melalui kontak dengan tangan pasien


atau petugas,gaun/alat /saputangan /tissue yang telah dipakai dan benda yang
terkontaminasi cairan tubuh

APD
sarung tangan
gaun
Lepaskan gaun sebelum meninggalkan ruangan !

Minimalisasi gerak pasien


Kontrol lingkungan:
cleaning & disinfeksi permukaan
terkontaminasi
Kewaspadaan transmisi droplet
• Penyakit menular lewat droplet ,ditularkan melalui batuk,bersin dan
berbicaradroplet kecil dan droplet besar
• Droplet:
– Percikan >5µm melayang di udara jatuh mengenai mukosa mata,
hidung atau mulut orang tanpa pelindung dan akan jatuh pada jarak <
1m

– Prosedur yang dapat menimbulkan aerosol mis


suction,bronkoskopi,nebulising,intubasi
• B pertussis,meningococcus,Avian Influenza, Streptococcus grup A
,Adenovirus ,H1N1
Kewaspadaan transmisi droplet
• Droplet besar dari sekret akan jatuh dipermukaan sekitar
pasien pada jarak < 1 m
• APD
masker bedah/medik
sarung tangan
gaun
• Batasi gerak pasien keluar R rawat
• Ruang terpisah,TT berjarak > 1m atau kohorting
• Cuci tangan tiap melepas APD
 Tindakan yang menimbulkan aerosol berhubungan dengan
meningkatnya risiko transmisi infeksi.
 Tindakan pada pasien ISPA (flu burung,influenza manusia,
SARS atau patogen baru penyebab ISPA) termasuk :
 intubasi
 resusitasi kardiopulmoner
 bronkoskopi
 pembedahan dengan peralatan kecepatan tinggi
 autopsi.
 Batasi petugas kesehatan untuk tindakan-tindakan tersebut
diatas
 Petugas yang terlibat HARUS memakai APD,
respirator partikulat./yang setara
Transmisi Jumlah droplet yg
Droplet mengandung
mikroba
berbicara 10
batuk 100
bersin keras 10 000
Pedoman kewaspadaan
transmisi airborne

• Tempatkan pasien di ruang dg ventilasi memadai


atau ruang dg 12 ACH (bila mungkin),pisahkan
dari pasien lain
• Pakai respirator partikulat saat memasuki ruang
dg risikotinggi,check tiap akan pakai
• Batasi gerak pasien,edukasi untuk etika
batuk,pakai masker bila keluar R rawat
Kewaspadaan transmisi airborne

• Tambahan Kewaspadaan Standard,diterapkan pd pasien dg


penyakit ditularkan melalui airborne

• Bila didapatkan infeksi virus/bakteri BARU,belum pernah


dilaporkanHARUS dijalankan kewaspadaan transmisi
airborne

• Transmisi droplet nuklei dapat terjadi mis


droplet & kontak erat pada Avian Influenza,H1N1
beberapa tindakan penghasil aerosol di ruangan dg ventilasi
kurang memadai
Kewaspadaan transmisi Airborne

Partikel kecil < 5mm mengandung mikroba


melayang/menetap di udara beberapa jam,
ditransfer sebagai aerosol melalui aliran udara
dalam ruangan /jarak lebih jauh dari 2 m

Mycobacterium TB,Campak,Cacar Air, Aspergillus sp,


tindakan yang menimbulkan aerosol pada suspek
TB,SARS (intubasi,suction, bronkoskopi)
Kewaspadaan transmisi Airborne

• APD
masker bedah (minimal)
respirator partikulat (mis N95)
sarung tangan
gaun
apron (menghadapi cairan jumlah
banyak)
• Kebersihan tangan
Kewaspadaan transmisi
udara/airborne

Penempatan pasien :
 Idealnya di R dengan tekanan negatif
 Pertukaran udara >12 x/jam,aliran udara
yang terkontrol
 Jangan gunakan AC sentral, bila
mungkin AC + filter HEPA
 Terpisah bila memungkinkan atau
kohorting

2-33
Kunci : kewaspadaan transmisi airborne

Harus selalu ditambahkan dg Kewaspadaan Standar:


 penanganan khusus udara/ventilasi dan penggunaan dari
respirator partikulat/N95/setara
 Ruang terpisah dg pengaturan ventilasi waspada transmisi
airborne,atau cohorting dengan penataan ventilasi yang
memadai;
 Batasi gerak pasien ,pasien pakai masker bedah bila akan
keluar ruang rawat ,
 Ruang dengan kewaspadaan transmisi airborne untuk segala
tindakan yang dapat menimbulkan aerosol.

WHO .ARD guideline,okt 2007


Tindakan yang menimbulkan aerosol

 Risiko transmisi infeksi meningkat.


 Pada pasien AI, SARS atau patogen baru penyebab
ISPA mis:
Intubasi,resusitasi cardiopulmoner,
bronkoskopi,pembedahan dengan peralatan
kecepatan tinggi ,otopsi.
 Batasi Petugas, yang terlibat ‘harus’memakai APD -
respirator partikulat

WHO .ARD guideline,okt 2007


• Kewaspadaan Isolasi mengalami perubahan

• Kewaspadaan Isolasi merupakan bagian dari


program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

• Kewaspadaan Isolasi terdiri dari dua lapis:


Kewaspadaan Standar dan Kewaspadaan
berdasarkan Transmisi

• Kewaspadaan Standar gabungan dari Universal


Precaution dan Body Substance Isolation
• Kewaspadaan Standar diaplikasikan kepada semua
darah, cairan tubuh, sekresi, ekskresi kecuali keringat
pasien tanpa memandang apakah terinfeksi atau tidak
terinfeksi

• Kewaspadaan berdasarkan transmisi merupakan lapis


kedua /tambahan dari kewaspadaan standar
diaplikasikan pada pasien yang terinfeksi atau diduga
infeksi